Saturday, June 18, 2011

Laki-Laki Libya [penolong 2]

Terjebak di Guangzhou selama Tahun Baru China 2010 adalah situasi yang tak terelakkan. Sudah sejak jauh-jauh hari saya diingatkan untuk beli tiket in advance, tapi tidak juga melakukan. Bagi saya, beli in advance atau tidak sama saja, tidak bisa booking online, kalau tidak booking online harus mengantre mengular yang panjangnya luar biasa, bak ular kehilangan ekornya, karena ekornya entah berada di ujung mana halaman stasiun itu. Maka, berharap keajaiban bahwa orang baik pasti ada di mana-mana...nikmatilah Guangzhou lebih lama.

Malam itu, saya berpikir untuk makan di suatu kawasan Taojin. Di sana ada beberapa rumah makan muslim yang cukup murah dan enak. Saya makan di sana sebelumnya bersama Dani Fulop, teman saya dari Hongaria. Menuju ke Taojin dari apartemen Pietro Mincuzzi, teman Italia saya, harus menggunakan kereta api bawah tanah. Cukup cepat, tak lebih 15 menit, dan saya selalu merindukan hangatnya saya menuruni eskalator menuju stasiun bawah tanah. Teman saya dari Jakarta yang berjilbab, mengikuti saja kemana tujuan saya. 
Keluar dari stasiun kereta api bawah tanah di Taojin, kami berjalan kaki beberapa saat menuju rumah makan yang saya tuju. Malam dan buliran hujan masih menjadi teman akrab kami. Wilayah Taojin memang banyak warga muslim. Selain dari China sendiri, banyak warga dari Timur Tengah tinggal di kawasan ini. Banyak dari mereka yang sukses berdagang. Tak heran saya melihat banyak orang-orang dengan hidung mancung berkeliaran.
Kami berjalan di belakang dua orang anak laki-laki keturunan timur tengah yang bermain klethekan benang diikat senar layang-layang. Entah mainan apa itu, tapi satu benang membuat membebat kaki saya dan langkah saya berhenti. Lalu, laki-laki ini berteriak kepada kedua anak itu, dan kedua anak itu berhamburan sambil cekikikan. 

Malam tetap dingin dan buliran hujan masih juga luruh. Tak peduli keribetan kami.

"Assalamualaikum..." laki-laki itu menyapa. Wajahnya khas timur tengah, tapi sangat kasual dan modern. Celana jeans biru, jaket kulit hitam necis. Kali ini saya tidak berprasangka baik. Saya sudah waswas saja. Malam, kadang terlalu sempurna menyembunyikan niat jahat seseorang.

"Salam," jawab saya. Teman saya berjilbab berdiri di samping saya. 
"Are you moslem?" tanya dia demi melihat teman saya yang berjilbab. Saya mengangguk. Dan tak butuh hitungan menit, dia menghampiri kami, dan menyalami saya. "Hey brother...nice to meet you," bahasa Inggris standar keluar dari mulutnya.

Sejujurnya, saya khawatir. Saya sudah membayangkan scene-scene di film Hollywood ber-setting di jalanan The Bronx. Nah, mereka kan selalu memanggil musuh atau kawan dengan brother juga. Tetapi, saya tanggapi saja standar. Toh mau apa juga dia, ini jalanan ramai, polisi atau sekuriti juga mudah ditemui. Teriak saja keras-keras, maka sirene polisi akan menyahut dengan kencengnya. Tapi kalau dia tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menempelkan di dada saya, sambil berbisik "Give me your money. Slowly !" gimana coba? Sekali teriak, pisau di angan-angan saya itu pasti akan segera menghujam.


Okay, stop it !!

Tiba-tiba saja dia sangat akrab. Dia bertanya kemana tujuan kami, saya bilang kami akan mencari makanan halal. Lalu dia menunjuk rumah makan yang saya maksud. Saya bilang, iya saya pernah ke sana. Lalu dia kembali menegaskan "We're brother!" dan saya jawab "Sure !" berulang-ulang. Dia bilang, dia ada keperluan tertentu, dan tidak bisa menemani. Tapi mungkin dia akan menemani kami makan.

Well, baiklah.

Kami berpisah. Saya sedikit lega, karena pikiran-pikiran buruk itu hilang sudah. Kami memasuki rumah makan itu. Seperti kemarin, saya kembali menemukan wajah-wajah lucu anak pemilik warung. Berusia antara 7 hingga 15 tahun. Anak perempuan sipit berjilbab, anak laki-laki sipit berkopiah. Demikian juga kedua orang tuanya. Semua mengenakan jeans, dan atasannya adalah jaket warna-warni tebal. Seperti biasa, saya memesan mi ayam serta nasi goreng ala China. Susah bagi saya mendeskripsikan jenis makanan kami, karena saya tidak terlalu mengenal bahan makanan yang dimasak itu, kecuali mi, nasi, ayam, dan beberapa sayuran entah apa. Kami menikmatinya. Sampai...

"Hello my friends...." laki-laki muda berjaket kulit itu tiba-tiba hadir sebagai orang ketiga.

Saya, sejujurnya senang making friends. Siapapun itu, di mana pun itu. Tetapi saya berharap perkenalan yang lebih wajar daripada saling sapa di jalan, di cuaca dingin dan hujan. Sejujurnya, saya selalu berprasangka buruk dengan segala kebetulan. Tetapi laki-laki itu sudah berada di depan meja kami. Hebatnya, teman perempuan saya ingin kencing dan minta ditunjukkan di mana toilet. Rumah makan itu tidak memiliki toilet. Mereka berdua kemudian keluar, dan saya menunggu dengan hati dag dig dug, sambil melototi dua piring makanan yang hampir habis.
Skenario terburuk adalah, teman saya akan dilucuti perhiasan dan duitnya. Maka setelah itu, kami akan menuju ke kantor polisi. Atau kalau teman saya ikhlas, kami akan pulang ke apartemen Pietro seperti tidak terjadi sesuatu apapun.

Cukup lama, sampai kemudian saya menemukan keduanya sudah di depan saya. Huaaaaaaah....what the heck !!.  Baiklah, kita sudahi ini. Usai makan, saya semakin parno saja saat laki-laki itu, yang kemudian mengenalkan diri sebagai orang Libya, menawarkan apartemennya bagi kami. Saya terdiam antara ingin menerima tawaran itu dan mempertimbangkan bahwa kami baru kenalan beberapa jam lalu di sudut jalan di Taojin. Di sisi lain, jatah kami tinggal di apartemen Pietro juga sudah hampir habis, mengingat Pietro akan menampung tamu lainnya dan kamarnya akan dipakai.

Teman saya perempuan memberi tanda, berani mengambil risiko. Baiklah, kami akan lihat apa sebenarnya yang dimaui laki-laki Libya ini. Kami sepakat akan tinggal di apartemennya. Kami akan diantar ke apartemen Pietro dengan naik taksi (hal yang tabu kami lakukan karena mahal) untuk mengambil barang-barang kemudian menuju ke apartemen laki-laki Libya ini. Laki-laki Libya itu berkeras membayar makan malam kami, yang bahkan dia tidak menyentuh satu biji beras pun di nasi goreng yang kami pesan.

Beberapa jam kemudian, kami sudah tiba di apartemen laki-laki Libya itu. Megah, besar, penuh kaca, penuh guci, dan bau uang di arealnya, Orang Kaya !! Lalu kami masuk ke dalam apartemen laki-laki Libya itu. Lukisan Mesir terpampang di dinding, gorden indah menjuntai menutup jendela kacanya. Indah. Ada tiga kamar, saya dan teman mendapatkan masing-masing satu kamar.

Tetapi parno saya belum juga hilang. Sampai....

Beberapa waktu kemudian dia mengingatkan kami untuk sholat. Lemes saya. Langsung saya seperti disambar kereta api. Glek. Saya diam tak bisa berkata apa-apa. Demi Allah, orang yang mengajak saya sholat, pasti bukanlah orang jahat yang akan membahayakan kami, seperti angan-angan busuk di otak saya.

Saya bersiap mengambil air wudhlu di toilet pribadinya yang sangat bersih. Tetapi dia menarik saya keluar dari apartemen, dan menyuruh saya diam di dekat tangga di luar apartemennya. "Wait a second" kata dia. Saya cuma diam seperti kebo dicucuk hidungnya. Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar membawa baskom berisi air hangat, untuk saya berwudhlu. Kata dia, membersihkan diri untuk menghadap Tuhan tidak boleh dilakukan di toilet. Toilet itu kotor, sebersih apapun kondisinya. Saya terdiam.

Kebaikannya seakan mengalir deras tanpa bisa saya cegah.

Sebuah toblerone big size diberikan buat saya dan teman saya. Lalu kami dipersilakan bila ingin memasak, tersedia telur, roti ala timur tengah yang entah apa namanya, daging, dan lain sebagainya. Kami berbincang akrab malam itu. Saya, seperti sudah lupa bahwa kami baru bertemu beberapa jam lalu. Dia sudah seperti teman sepermainan di kampung saya. Sementara teman saya, juga sangat menikmati kebaikan laki-laki Libya itu.

Besoknya, kami bangun pagi. Rencananya, dia akan mengantarkan kami menuju ke stasiun kereta api untuk berangkat menuju ke Kota Nanning, Provinsi Guandong. Dia, bertanya kepada saya, apakah saya mau menerima pemberiannya? satu buah kaos lengan panjang warna biru muda dan syal penghangat tubuh keren warna biru bergaris hitam sudah siap diberikan kepada saya. Saya menerima itu, karena sepertinya dia ingin sekali saya menerimanya.

Siang itu, dengan taksi (yang lagi-lagi dia bayar), kami diantar ke stasiun kereta api. Meluncur tak pernah henti kata-kata terima kasih dari saya maupun teman saya.
"Jangan lupa sholat," pesan laki-laki Libya itu kepada kami.

Lalu saya tahu, ribuan ucapan terima kasih tidak pernah cukup untuk membalas kebaikan dia. Tak juga mampu menghapus prasangka buruk saya ke dia sebelumnya. Saya juga tahu, adalah hak prerogatif Tuhan untuk mengirimkan malaikatnya dalam bentuk apapun, pun orang berwarga negara manapun. Dan saya beruntung menemukan satu, berwarga negara Libya.

2 comments:

AieSha said...

masyaallah, tak sangka baik betul lelaki tu... beruntung kamu Ariy diketemukan dengan dia..

Ariyanto said...

dan saya sudah kehilangan kontak dengannya :(