Wednesday, August 10, 2011

Backpacking itu tidak asal jalan, tapi perlu skills

Saya ingat sekali saat seorang teman menyebut "backpacker" yaitu orang yang melakukan "backpacking" sebagai sesuatu yang valuenya tidak sembarangan, sehingga dalam ungkapan dia tersirat, kalau kita sudah pernah berkelana, berpetualang, maka belum bisa kita menyebut diri kita sebagai backpacker. Seakan itu tahta tertinggi pencapaian seorang traveler. Duh.

Versi saya? Saya tidak setuju dengan kalimat itu atau opini dia. Tidak ada standar seseorang bisa/boleh/berhak menyebut dirinya backpacker. Ini hanya cara kita menikmati perjalanan, jadi bukan soal mencari gelar. Jadi tidak perlu ribet memikirkan apakah kita backpacker atau bukan. Saya pribadi sering merasa risih saat orang menyapa saya dengan embel-embel bahwa saya seorang backpacker. Bukan. Kenalkan, nama saya Ari, kerjaan saya nulis buku dan menikmati hidup dengan  cara saya (termasuk traveling). Saat saya melakukan perjalanan, bolehlah orang menyebut saya backpacker, tapi saat saya melakukan kegiatan sehari-hari saya, ya saya kembali menjadi Ari, orang yang kerjaannya nulis buku dan menikmati hidup dengan cara saya (termasuk traveling). "Backpacker" itu bukan  label kayak orang naik haji, pulang dari Tanah Suci gelar haji itu melekat selamanya. Bukan begitu cara kerjanya, setidaknya menurut saya.

Nah, kok saya jadi sewot? Iya, suka sebel saja dengan orang-orang yang sirik dengan berkata seolah-olah saya dengan sengaja menyebut diri saya backpacker handal. Padahal menurut dia saya belum berhak. Oh tidaaak. Saya tidak gila gelar, julukan, etc. Lihat saja di buku saya, apakah saya mencantumkan gelar sarjana saya? Tidak. Jadi soal disebut saya backpacker atau bukan ya bodo amat. Kan yang melabeli itu bukan saya, tapi orang lain. Jadi ya whatsoever atuh !!
Keuntungan punya blog tuh gini nih. Mau nulis tips pun bisa curcol dulu tanpa orang bisa menginterupsi. Hahahaha. Baiklah, ini bagian seriusnya. Jadi, bagi Anda yang mau backpacking, ada banyak aspek yang mungkin perlu Anda persiapkan, terkait keamanan diri, harmonisasi alam-manusia, serta kenyamanan. Dalam banyak hal yang terjadi dalam backpacking saya, ada skills yang menurut saya harus dimiliki Anda yang ingin melakukan backpacking. Sangat relatif, tetapi setidaknya ini menurut saya:

1. Anda harus menjadi orang yang memiliki kontrol diri yang kuat, tidak panikan. Menurut saya ini bisa dilatih kok. Hal ini menurut saya penting, misalnya Anda kehilangan sesuatu, dompet, uang, paspor, atau yang lainnya, Anda harus bersikap tenang. Pergi ke kantor polisi terdekat dan melaporkan musibah yang menimpa Anda. Antisipasi tentu penting, tapi kadang sudah diantisipasi pun kita masih sial ya. Ketenangan adalah modal yang kuat untuk mendapatkan solusi dari setiap masalah Anda. 
Contoh yang saya alami:
  • Backpacking pertama saya yang melintas dari Singapura ke Malaysia overland dengan menggunakan Kereta Api (KA) membuat saya tertahan agak lama di imigrasi Malaysia. Saya ditanya macam-macam, masuk lewat mana? kenapa memilih naik kereta api? pulang kapan? di Kuala Lumpur tinggal di mana? plus tatapan tidak mengenakan dari petugasnya. Cukup lama saya menjalani pemeriksaan ini. Harus marah? Tidak perlu. Marah hanya akan membuat saya mengalami masalah lain. Petugas itu hanya menjalankan tugas, termasuk menjaga kemungkinan masukknya pekerja ilegal dari Indonesia, yang mungkin saja itu saya.
  • Saat naik bus dari Chiang Mai menuju ke Tachileik, Myanmar, saat berada di toilet, pintu toilet digedor-gedor dari luar. Saat saya keluar, ternyata tentara Thailand sudah berada di depan pintu. Bertanya kepada saya dengan bahasa yang tidak saya pahami. Yang bisa saya lakukan adalah menyerahkan paspor saya untuk diperiksa. Selesai, habis itu dia pergi. Terganggukah saya? pastinya. Marah? gak berani, dia bawa senjata :)
  • Di Imigrasi Bangkok, backpack saya yang segede bagong ditahan. Saya diminta (dengan dibentak-bentak) membuka semua backpack saya. Duh apalagi ini, padahal sudah rapi sekali saya packing. Baru kemudian ketahuan saya yang bego. Ada korek api gas bergambar naga yang saya beli di Nanning, China, terselip di bagian paling bawah backpack saya. Korek api gas tidak boleh masuk ke dalam pesawat. Oleh-oleh buat kakak ipar saya itupun harus lenyap masuk ke kotak imigrasi. Marah? pengen bangeeeeet. Tapi gak berani hahaha.
2. Kemampuan navigasi, mengingat arah, adalah salah satu kemampuan yang bisa kita latih supaya tidak tersesat. Membawa peta adalah penting, mempelajari calon medan juga perlu. Tetapi kadang tersesat juga. Saya pribadi tidak pernah benar menentukan arah mata angin. Peta selalu saya bawa, tetapi tersesat masih juga. Salah satu hal yang saya lakukan adalah mengingat gedung. Ini sangat berguna supaya kita tidak tersesat. Setiap intersection, blok, atau belokan tertentu, saya selalu menghapalkan gedung-gedung tertentu. 

3. Kemampuan survival adalah hal lain yang penting. Apa yang akan Anda lakukan saat tiba-tiba migrain Anda kumat di tengah jalan-jalan? Itu terjadi pada saya. Migrain saya bukan sembarang migrain, kadang bisa sampai pengen tepar, muntah-muntah, kayak mau pingsan. Untung di kantong saya ada aspirin. Atau saat mencoba makanan baru, perut gak cocok, mencret-mencret, apa yang Anda lakukan? Ahh...untung saya bawa obat sakit perut. Kok serba untung? Nah, ini untung bukan sembarang untung. Ini karena saya mempersiapkan segala sesuatunya sebagai bagian dari cara bertahan hidup. Plester antiluka, minum vitamin sebelum berangkat dan saat berangkat, adalah hal penting lainnya. Tapi saya pernah kena apesnya juga. Gara-gara nginep di bandara LCCT yang super dingin, saya masuk angin. Di Chiang Mai, Thailand, esok harinya, saya diantar teman ke klinik untuk beli obat. Oughhh...BIG NO NO !!.
Kemampuan survival tidak cuma soal keselamatan, tetapi juga makanan. Jangan pernah mengentengkan sarapan, meskipun sedikit. Saya, meskipun nggembel, tetap makan teratur tiga kali sehari. Minuman dalam kemasan juga selalu nangkring di salah satu bagian backpack saya. Selain semua hal itu, saya juga sudah siap nomor polisi, rumah sakit, nomor kontak teman-teman yang kemungkinan bisa saya hubungi saat situasi darurat.

4. Beretika. Ini salah satu hal yang tak kalah penting. Beretika terhadap alam, jangan merusak, jangan nyampah sembarangan. Beretika terhadap budaya, menghormati budaya setempat. Beretika terhadap aturan, kalau memang aturan suatu daerah/negara berbeda, ya ikuti aturan itu atau kita terkena masalah.

5. Manajemen keuangan. Kemampuan ini juga penting. Karena bila salah perhitungan, para gembel seperti saya bisa-bisa terdampar di negeri antah berantah entah di mana, tanpa minum tanpa makan. Di awal, saat duit masih penuh, banyak, jangan lapar mata. Jangan asal beli barang bagus dan murah. Ada setan di perut dan mata Anda, jangan asal mencoba makanan baru. Karena siapa tahu, Anda sedang kesetanan dan pada akhir perjalanan menjadi manusia paling menderita gara-gara duit habis hahahahah. Hati-hati benar memanage keuangan Anda.

Itu sedikit tips kecil dari saya. Semoga berguna dan selamat berpetualang.

regards,

A



9 comments:

midikus said...

masukan buat ane yg belum nyoba :D nice.

Ariyanto said...

hahaha...met nyoba. Pasti nagih

agustinriosteris said...

hahahahaha saya selalu bermasalah di bagian manajemen keuangan

henry said...

mantapsss... thx kang infonya sangat bermanfaat.

Ariy said...

makasih Kang Henry sudi mampir :)

sigit.raners said...

mantapsss tipsnya.

sigit.raners said...

tipsnya mantap semoga ini bermanfaat buat saya.

Unknown said...

Aku dari dulu pengen traveling sendiri tapi ga dibolehin ortu. Padahal udah 25 tahun :(
Nice info mas :)

Ariy said...

Thanks Sigit sudah mampir.
@Unknown: harus membuktikan ke ortu, bahwa kita bisa menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Pasti dibolehkan nantinya. Mereka melarang karena khawatir kita tidak bisa bertanggung jawab membawa diri. Makasih sudah mampir