Thursday, August 25, 2011

Pulau Sempu & The Hidden Lagoon (Tips jelajah Sempu)


Ke Malang tanpa ke Pulau Sempu sepertinya nggak afdol. Inilah pulau yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi perbincangan traveler domestik di forum-forum dunia maya mau tuturan antarsatu komunitas traveler ke komunitas traveler lainnya. Inilah pulau yang disebut-sebut Phi Phi Island-nya Indonesia. Phi Phi Island adalah pulau indah di selatan Thailand dan menjadi setting film box office-nya Leonardo Di Caprio yaitu “The Beach”.  Dan hari kedua, seharian penuh saya akan mengeksplorasi pulau ini.
                        Di Sempu, kita akan menemukan laguna tersembunyi yang masih perawan, yang tak kalah indahnya dengan Phi Phi Island. Pulau Sempu sebenarnya adalah kawasan konservasi atau suaka alam yang melindungi kekayaan hayati dan ekosistemnya. Sehingga memang secara infrastruktur, masih belum tersedia secara baik, khususnya untuk tujuan wisata komersial. Mereka yang ingin mengunjungi Pulau Sempu harus mendapatkan izin dan mengisi surat pernyataan. Kebanyakan yang datang ke sana adalah anak muda, dengan keperluan pendidikan pecinta alam.
Bagaimana cara menuju ke Pulau Sempu:
Menuju ke Pulau Sempu menggunakan transportasi umum sangat mudah sebenarnya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah waktu. Kita akan banyak membuang waktu bila menggunakan transportasi umum, mengingat angkutan umum selalu ngetem atau menunggu penumpang penuh tanpa batas waktu. Bahkan sampai harus menunggu 2 jam !! seriously, benar-benar wasting time.
Untuk itu, bila memang niat menggunakan transportasi umum seperti yang saya lakukan, maka Anda harus berangkat pagi-pagi sekali. Oya, hari kedua saya sudah pindah hotel, ke Hotel Emma, sebelah utara stasiun, masih di Jl Trunojoyo (baca bagian penginapan). Pagi-pagi benar setelah menitipkan barang, karena check in baru bisa dilakukan siang hari, saya mencegat Angkot tepat di seberang hotel. :
1.      Cari Angkot dengan kode yang memiliki huruf G untuk jurusan Terminal Gadang. Tarif antara Rp 2.500,00 – Rp 3.000,00
2.      Di Terminal Gadang, cari colt L-300 jurusan Turen. Mudah sekali mendapatkannya, begitu turun di Gadang akan banyak yang menawari kita angkutan menuju ke Turen. Tarif Gadang – Turen Rp 4.000,00.
3.      Di Turen, ambil Angkot jurusan ke Pantai Sendang Biru. Di sinilah biasanya titik terlama menunggu penumpang. Namun bila Anda beruntung menemukan Angkot yang sudah penuh, bisa langsung jalan. Tarifnya sekali jalan Rp 12.000,00.
4.      Begitu sampai Pantai Sendang Biru, kita segera mencari perahu menyeberang ke Pulau Sempu yang sudah tampak di depan mata. Rata-rata perahu menerapkan tarif sekali pulang pergi Rp 100.000,00. Bayar di muka, lalu kita minta nomor handphone pemilik perahu. Kita bisa janjian jam berapa akan dijemput kembali, bila terlambat kita bisa memberitahu lewat HP.

TIPS
1.      Saya sarankan bila ke Pulau Sempu datang secara berkelompok. Selain lebih menyenangkan, juga akan ramah di kantong dan tidak wasting time. Misalnya nih, untuk Angkot Turen – Sendang Biru, kita bisa langsung carter sehingga tidak direcoki penumpang lain atau ngetem terlalu lama. Pulangnya, dari Sendang Biru ke Turen, kita tinggal minta dijemput. Demikian juga untuk perahu, dengan berkelompok, kita tinggal sharing Rp 100.000,00 dibagi dengan teman lain.
2.      Pantai Sendang Biru adalah titik terakhir kita menemukan air tawar. Di Pulau Sempu, kita tidak akan menemukan air tawar, sehingga kita harus membawa bekal air minum. Tidak cukup satu botol, tetapi lebih dari itu, karena perjalanan sangat berat dan akan banyak menguras tenaga.
3.      Sarapanlah sebelum melakukan perjalanan ini. Jangan meremehkan kondisi rute di Sempu, karena ini akan benar-benar di luar dugaan Anda, apalagi bagi Anda yang awam dengan petualangan alam liar.
4.      Bila Anda tidak menginap (camping) di Pulau Sempu, dan berniat pulang sore harinya, siap-siap bawa bekal minimal lampu senter. Antisipasi bila Anda kemalaman di dalam hutan menuju kembali ke Pantai Sendang Biru.
5.      Bila dalam rombongan Anda tidak ada orang yang pernah ke Sempu sebelumnya, disarankan untuk menyewa penunjuk jalan yang biasanya ditawarkan di bagian perizinan (biasanya warga sekitar) dengan tarif sekitar Rp 100.000,00.
6.      Pakailah sandal gunung yang mengikat sempurna kaki. Sandal jepit dapat dipastikan akan mudah putus karena medan berat. Bisa juga menggunakan sepatu hiking yang kuat melindungi kaki.
                        Saya datang ke Sempu dengan menggunakan transportasi umum bersama empat orang traveler yang saya kenal dari situs traveler. Kami sepakat melakukan perjalanan ke Sempu bersama. Berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB dari Terminal Gadang. Namun waktu kami habis di Turen, sehingga sekitar pukul 11.00 WIB baru berangkat menuju ke Pantai Sendang Biru.
                        Karena tak ingin kemalaman, kami langsung tancap gas begitu sampai Pantai Sendang Biru langsung saja menyeberang setelah sebelumnya mengurus surat izin di pengelola dengan membayar Rp 10.000,00. Perjalanan menyeberangi laut sekitar 10-15 menit sangat menyegarkan. Tapi jangan senang dulu, karena perjalanan sebenarnya baru akan dimulai beberapa saat lagi.
                        Di perairan dangkal ujung utara pulau itu kami turun. Air setinggi lutut, dan di depan kami banyak traveler lain yang menunggu jemputan perahu untuk pulang. Perjalanan sebenarnya pun di mulai. Batu-batu karang tajam, lumpur, air, akar pohon yang kadang terpotong tajam, menyambut saya. Perjalanan sepanjang kurang lebih 2 km ini benar-benar berat. Kami sengaja tidak menyewa penunjuk jalan karena dua orang di kelompok kami pernah datang ke sini. Tujuan kami adalah hidden lagoon, sebuah kolam besar indah yang dikelilingi batu karang yang menahan Segara Anakan masuk bebas, dan di sisi lain adalah daratan pulau ini.
                        Dan kami salah jalur. Kami yang harusnya bergerak lurus, justru ambil jalur belok kiri. Setelah berjalan satu jam lebih, kami berhenti di sebuah pantai indah dengan karang yang menghalang sebagian ombak Segara Anakan ke pantai. Tapi ini bukan tujuan kami. Lemas sudah. Tetapi bagi kami, bonus tersesat ini tak kalah indahnya. Beberapa saat kami menikmati pantai itu, sebelum akhirnya kembali ke garis awal, dan memulai perjalanan ke hidden lagoon sebenarnya. Rute yang kami lalui bukanlah jalan datar dan bisa dilalui dengan bersiul. Bukan. Ini sebuah rute berat, dengan jebakan lumpur, tajamnya karang, akar pohon yang menyandung kaki, naik turun, pohon tumbang, dan lain sebagainya. Karang akan mudah menyayat telapak kaki kita, demikian juga duri tajam dan akar-akar yang terpotong tajam. Tetapi perjalanan berat antara satu setengah hingga dua jam ini akan terbayar sempurna bila kita sampai di kolam tersembunyi itu. Luar biasa.
                        Di pasir lembut kita bisa merebahkan badan, kita juga bisa langsung berenang di perairan dangkal yang dilindungi karang melingkar. Hanya ada beberapa lubang yang membuat air laut masuk ke kolam raksasa itu. Luar biasa menakjubkan. Bila Anda ingin bermalam, pasti akan lebih menyenangkan lagi. Camping di pinggir pantai dengan kolam pribadi buatan alam yang indah ini.    Seharian itu, saya terpesona dengan keindahan Sempu dengan hidden lagoon-nya, serta bonus satu pantai perawan entah apa namanya atau mungkin bahkan belum dinamai, dan tentu saja Pantai Sendang Biru. Sekitar pukul 21.00 WIB saya sudah tiba lagi di Kota Malang. Malam itu, saya menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel.

TIPS
Segala keperluan traveler sudah tersedia di titik Pantai Sendang Biru, mulai rumah makan, kamar mandi untuk ganti, hingga persewaan sepatu boot antiselip. Di Pulau Sempu Anda tidak bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan itu, karena pulau ini adalah pulau konservasi. Untuk itu, penuhilah kebutuhan Anda sejak awal.
Resume hari kedua jalan-jalan di Malang:
Dari Malang kota Terminal Gadang Turen Pantai Sendang Biruà menuju Pulau Sempu untuk hiking dan menikmati hidden lagoon balik ke Malang kota à makan malam di lesehan depan Stasiun Kota Baru Malang.






*Tulisan ini ada di salah satu bab buku saya, "Travelicious Surabaya, Malang dan Madura: Jalan Hemat Jajan Nikmat."

2 comments:

ericka said...

Mas.. kalo disempu apa pasti banyak orang yang kesana?

kira2 kalau mau camping disana aman gak ya?

hehe thanks

Ariyanto said...

sejauh ini sih aman. Temen2ku, ada cewek2nya juga, pada camping di sana. Cari aja pas weekend, jadi banyak barengannya