Tuesday, April 10, 2012

First Time Traveler, kuncinya niat dan nyali

foto: travelinsurance.org.uk
Bukan sekali dua kali saya mendengar kekhawatiran traveler soal melakukan perjalanan solo traveling, atau bahkan ada teman sekalipun, bahwa mereka tetap saja takut untuk memulai perjalanan itu. Kebanyakan adalah first time traveler. Banyak aspek yang membuat mereka takut, mulai bagaimana nanti kalau tersesat, bagaimana cara mencari hotel/hostel, bagaimana nanti kalau begini...bagaimana nanti kalau begitu. Beberapa pertanyaan lucu yang disampaikan ke saya,  yang muncul akibat kekhawatiran berlebihan itu, misalnya:

"Mas, di Thailand ada jambret nggak? Bagaimana nanti kalau saya dijambret ?"

"Bagaimana kalau saya dirampok saat dalam perjalanan?"

"Mas, di Amphawa ada toilet nggak sih? Takutnya nggak ada, kacau kalau pas diare."

Kenyataannya, kebanyakan first time traveler bahkan sudah membeli aneka guide book sebelum memulai perjalanan mereka. Kenyataan lainnya, mereka juga sudah melakukan riset di internet, googling, dan lain sebagainya. Tetapi semua bekal itu sepertinya tidak cukup untuk membuat mereka tenang memulai perjalanan.

Saya ingin cerita dulu tentang perjalanan saya ke China tahun 2010 lalu. Dari rangkaian perjalanan itu, saya tiba di Kunming, ibukota Provinsi Yunnan, China. Saya menginap di Cloudland Youth Hostel, dan memilih kamar dorm. Dalam dorm yang berisi dua tempat tidur bertingkat itu, terdapat seorang warga Negara Amerika Serikat, satu cewek Jepang, dan saya. Satu tempat tidur lagi kosong, sebelum keesokan harinya diisi traveler lokal dari Beijing.
Saya akan bercerita soal Robin, 23 tahun, cewek asal Amerika Serikat yang satu kamar dengan saya. Dalam satu kesempatan, kami ngobrol saling bertukar makanan. Lalu saya tanya dengan siapa dia traveling?

"Saya traveling sendirian. Menyenangkan. Saudara laki-laki saya sekarang sedang traveling juga. Tapi dia berada di Eropa," cerita Robin.

Umur 23 tahun, cewek, sendirian bermil-mil jauhnya dari rumah. Robin bukanlah cewek pertama yang saya kenal. Sebelumnya saya juga mengenal Sandra Wittwer yang tinggal di rumah saya selama tiga hari. Dia adalah cewek asal Swiss yang melanglang buana sendirian dengan tas punggung segede bagong. Terakhir saya chatting dengan dia, Sandra tengah berada di wilayah South America.

Saya banyak membaca referensi, kemudian membandingkan dengan fakta di lapangan. Dalam hemat saya, memang mentalitas traveler Indonesia (mungkin Asia), lebih lambat matangnya. Mungkin banyak aspek yang mempengaruhinya. Di luar negeri, umur 18 tahun mungkin sudah harus berpisah dari orang tuanya, dan agak aneh melihat orang umur 20 tahun ke atas masih tinggal bersama orang tua.Di Indonesia? sudah beranak pinak pun tidak masalah tinggal di rumah orang tua.

Sikap mandiri kita, menurut saya memang telat. Ini pula yang mempengaruhi mentalitas traveler kita. Saya cukup terkejut saat tahu ada teman yang baru pertama kali naik bus antarkota saat dia semester akhir kuliah. Saya sendiri merasa terlambat, meskipun sejak kuliah saya sudah mbolang ke sana ke mari di kota Jawa Tengah. Perjalanan ke luar negeri saya yang pertama bahkan baru terjadi 2009 lalu. Dalam hal ini faktor utama penghambatnya adalah finansial.

But still, perjalanan ke luar negeri pertama saya adalah perjalanan yang membuat saya gugup. Saya harus mengumpulkan keberanian setengah tahun lebih, riset tiga bulan sebelumnya, dan itu pun belum mampu menghapuskan gugup saya. Jadi menurut saya, kalau kemudian banyak first time traveler cemas, ya wajar saja. Kita tidak biasa jalan jauh, tiba-tiba harus melakukan perjalanan di mana kita hanya mampu mengandalkan kekuatan diri kita.

Pada akhirnya, semua itu berujung pada NIAT dan NYALI. Percayalah, travel writer seperti saya mungkin hanya akan memberikan motivasi, inspirasi dan menjadi penyaksi serta "kelinci percobaan" bahwa perjalanan yang akan dilakukan pembacanya aman-aman saja. Karena kalau untuk alasan info, Google akan menjawab semua. Bahkan ketika seluruh travel writers di Indonesia dikumpulkan, kekuatan mereka tidak akan mampu mengalahkan Google.

Lalu bagaimana saya mengatasi kegugupan mempersiapkan perjalanan pertama saya? jawabnya adalah : DON'T LISTEN, JUST GO! Saya ingat sekali saat pertama kali mau ke luar negeri, kumpulan artikel yang saya googling justru semakin membuat saya gugup dan banyak informasi yang saling bertentangan. Misalnya saat saya ingin membuat visa China, info yang saya dapatkan di internet serem-serem euy. Yang ditolak-lah, yang harus mempersiapkan rekening Rp 20 juta untuk ditunjukkanlah, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Yang saya lakukan kemudian adalah, membuktikan sendiri dengan mencoba mengurusnya. Saya tutup kuping dan mata saja, biar kenyataan yang berbicara. Dan bagaimanakah kenyataannya? Oh...indah sekali. Saya hanya harus membawa paspor asli dan dua pasfoto, bayar murah, dan jadilah visa China saya dalam seminggu saja.

Itu analogi sederhana bahwa terlalu banyak pertimbangan tidak akan membawa Anda kemana-mana. WORRYING GETS YOU NOWHERE !. Segala cerita serem, permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diwaspadai, ditanggulangi. Riset perlu, bahkan harus. Ini prinsip utamanya. Setelah riset, ya dibikin santai saja hingga keberangkatan. Fokuslah pada kesenangan yang akan Anda peroleh dalam perjalanan nanti, bukan persoalan yang akan timbul. Energi negatif akan membawa Anda ke hal negatif. Percaya atau tidak, teman saya yang bertanya apakah di Thailand ada jambret atau tidak, sepulang dari Thailand cerita bahwa dia kecopetan. Nah lho???  percaya tidak percaya kan? So, stay positive. 

Saya pernah ditanya, pernahkah mengalami persoalan di jalan? saya bilang pernah. Tetapi apakah itu membuat saya jera untuk traveling? Tidak. Banyaknya pengalaman, buruk atau bagus, bagi saya adalah souvenir terindah untuk diceritakan kepada teman dan keluarga. Bukan berarti saya menginginkan kejadian buruk akan menimpa saja, tetapi saya melihat dari perspektif berbeda, bahwa dalam sebuah kejadian buruk pasti ada hikmah yang bisa diambil.

Jadi kalau Anda suka traveling dan mengaku itu adalah hobi Anda, atau passion Anda, maka tidak ada waktu untuk khawatir akan sebuah perjalanan sepanjang semua persiapan dilakukan secara rapi, punya niat dan nyali. Percayalah, setelah perjalanan pertama, maka selanjutnya akan terasa jauh lebih mudah dan jauh lebih menyenangkan. Dan kata kunci dari traveling adalah "Menyenangkan". Fokus pada itu.

Traveling is a good place to find yourself. Anda akan terkaget-kaget ternyata diri Anda lebih kuat dari apa yang Anda perkirakan, atau Anda akan menemukan betapa lemahnya diri Anda. So, pack your backpack now !!

regards,

A

7 comments:

dodo said...

Salam kenal....
Saya bukan traveler, saya mikir enakan juga nyantai2 di rumah, ngapain repot2 ke t4 lain dan ga nyaman.. haha.. mungkin karena sekarang saya kerja jauh dari rumah dan kangen rumah..

Tapi setelah baca post anda, saya jadi pengen juga coba berpetualang ke tempat baru... Saya memang pernah jalan2, tapi kurang menyenangkan... mungkin dengan melakukan tips2 dari anda akan mengubah cara pandang saya ttg traveling.. hehe... Saya pengen coba jalan2 keliling indonesia.. hehe..

Ariy said...

Wah saya tersanjung Mas, Anda sudi mampir. Oya Mas, menurut saya...malah seharusnya panjenengan pulang dari luar negeri segera bikin buku sendiri hehehe. Pasti akan memberikan kontribusi yang positif bagi traveler kita. Sekarang di negara mana mas?

dansapar said...

Salam kenal. saya suka tulisan ini, mas. terlebih endingnya itu, "Traveling is a good place to find yourself."

Secara tidak sadar, emang ada sesuatu ingin dicari saat saya melakukan perjalanan, bisa jadi yg ingin saya cari seperti apa yg mas tulis itu.

Ariy said...

@Dansapar maksih sudah berkunjung. Iya, you find yourself. And me too :)

ditaindrihapsari said...

Super, nih, tulisannya. Bisa bikin first time traveler jadi makin semangat buat jalan :D

Kalau saya suka "worrying gets u nowhere!" haha. Iya, kekhawatiran ada di tempat asing apalagi sendiri pasti wajar banget, ya. Takut diapa2in sama org *udah suudzon duluan haha. Tapi bersyukur berkat cerita2 travel writer bisa numbuhin nyali kalo jalan sendiri ternyata asik bgt dan gak perlu terlalu khawatir.

Thanx :D

elfarizi said...

"Fokuslah pada kesenangan yang akan Anda peroleh dalam perjalanan nanti, bukan persoalan yang akan timbul. "

Great quote..
Sebaiknya quote ini disebarkan dimana-mana, di tempat wisata terutama... agar orang orang lebih melek travelling..
hehe

Salam ransell :)

LanyRh said...

Hai mas Ariy, tulisane muantep!

Sdikit curcol nih, dulu aku ngalamin juga yang namanya 'kuatir', sampe sekarangpun masih sering bgitu juga.
Tapi ga tau juga ya, yang namanya traveling itu rasanya ngalir aja. Macam rasa takut sama action traveling itu ada di dua koper yg beda, ga saling berhubungan.
Alhasil, tiap ada sdikit libur, temen2 pada ga percaya liat aku ada di rumah tenang2.

Sampai ketemu, entah di mana yah ;-)