Monday, January 7, 2013

Es Conglik Semarang, Legenda yang Biasa Saja

Hey Journer, 

Sejak tiga bulan terakhir saya berdomisili di Semarang, saya selalu penasaran dengan yang namanya "Es Conglik". Dari namanya yang banyak dibicarakan orang, kayaknya seruuu banget mencicipinya. Apalagi pas googling nemu foto-fotonya yang ciamik, es puter dengan topping warna-warni seru. FYI, saya adalah pecinta es. Mulai dari es buah sampai es krim. Dari yang kuno sampai yang moderen. Kalau es puter, saya paling demen dengan "es krim ndeso" yang sampai saat ini masih eksis di Kota Solo (baca "es krim ndeso" di bagian lain di kolom "kuliner"). Saya juga lumayan suka dengan es krim soda di Medan. 

Nah, ekspektasi saya soal "Es Conglik" pun semakin gede. Ada dua incaran saya, yaitu yang di pusat kuliner Semawis dan yang di Simpang Lima. Nah akhirnya saya nemu yang di Simpang Lima dulu, yang cukup relatif dekat dengan kos. Letaknya di belakang Hotel Ciputra, depan Klinik Meditama, Jl KH Ahmad Dahlan...nah...komplet tho :). Pertama ke sini siang-siang menjelang sore gitu, dan nggak buka. Katanya bukanya habis maghrib. Next day, akhirnya nemu juga. Pas datang, hanya ada saya doang yang beli. Sempet nggak yakin, bener nggak ini warung tenda Es Conglik yang legendaris itu? Akhirnya masuk juga.

Kemudian mulai memesan nih. Ada dua tabung panjang khas es puter sebanyak empat buah. "Ada empat rasa, durian Rp 15.000, sedangkan kelapa - leci dan cokelat masing-masing Rp 10.000," kata mbaknya yang jual menerangkan.

Sebenarnya saya tertarik yang durian, karena saya penggemar buah ini. Tetapi memang sebelum berangkat, saya sudah niat beli dua porsi dengan rasa berbeda. Cuma demi melihat harganya, maka saya ambil porsi murah dulu, mau lihat seberapa banyak sih seporsi itu. Daaaan...si mbaknya mengambil satu lepek (piring kecil untuk tatakan gelas) dan menuangkan serutan es rasa kelapa. Tidak pakai scoop es krim, tapi kayak kayu serupa centong tapi lebih besar dan panjang. Dan beginilah tampilannya:

Es Conglik rasa kelapa

Lho? kok bentuknya nggak cantik? nggak seperti yang ada di foto-foto yang saya googling? Saya sempat protes lho "Mbak, kok nggak ada topping-nya? Cuma gini doang?" Demi itu, saya pun membatalkan pesan es rasa duriannya. Porsinya dikit banget soalnya, selain penampilannya bikin selera saya turun beberapa level. "Kalau mau topping, yang rasa cokelat Mas," jawab si mbak. Karena penasaran, saya pesan lagi seporsi yang cokelat. Sudah membayangkan akan menemukan es puter dengan topping menggunggah selera. Mungkin si mbak ini akan mengeluarkan materi topping dari laci mejanya...atau dari dompetnya...hasyaaah....Dan inilah Es Conglik rasa cokelat dengan topping....meses!! 

Es Congklik rasa cokelat



Punahlah sudah harapan saya mendapatkan Es Congklik cantik seperti yang saya temukan di banyak blog-blog di internet. Baiklah, sekarang saatnya mencoba rasanya. Dan inilah penilaian saya:

1. Teksturnya tidak lembut, cenderung kasar dan kadang saya menemukan semacam "prongkol" dalam bahasa Jawa-nya, alias es yang masih membatu, belum terserut dengan sempurna.

2. Untuk rasa kelapa, isi kelapa mudanya sedikit, jadi kurang terasa rasa kelapanya. Sementara rasa cokelat tertolong oleh remahan meses sebagai topping-nya.

3. Porsinya kecil dan menurut saya harganya cukup mahal.
4. Tampilannya mengecewakan.

Lalu untuk alasan apa Anda mencoba Es Congklik? :

1. Sejarahnya: Es Congklik menjadi legendaris karena sejarah yang menyertainya. Konon, pelopornya dulu adalah kacung pada jaman Jepang. Conglik dari kata "Kacung Cilik". Lalu saat Jepang hengkang dari Bumi Pertiwi, dia membantu usaha pembuatan es puter ini sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.

2. Mengingat sejarahnya yang panjang, banyak diomongin orang, dan menjadi salah satu yang dibanggakan orang Semarang, ya kalau sudah jauh-jauh ke sini kenapa nggak coba, meskipun memang tidak perlu berharap banyak soal rasa.

Sampai tulisan ini saya buat, saya belum tahu apakah Es Congklik di Simpang Lima ini adalah turunan yang sama dengan Es Conglik aslinya. Besok rencananya mau jajan Es Congklik yang di Semawis, dan berharap berbeda dengan yang di Simpang Lima. Kalau memang lebih enak dan tampilannya lebih keren, saya berjanji akan mengulas dengan obyektif dengan memberikan penilaian positif.

Tunggu yaa....

2 comments:

Andrian S Putra said...

saya pas ke semarang juga nyoba es conglik di simpang lima mas. udah jalannya lumayan jauh, rasanya gak "wah" kayak yang diomongin orang2 di internet -__-
dikira saya aja yg ngerasa gitu hahaha

agustinriosteris said...

yaaa.... mungkin yang bikin mahal adalah kamu makan es yang dimakan orang-orang Indonesia pada jaman penjajahan jepang hahhahhaha