Monday, March 18, 2013

Tuhan Mencintai Orang-Orang yang Suka Menulis

Judul itu merepresentasikan betapa murah hatinya Tuhan kepada saya. Bagi beberapa orang, tulisan ini nanti mungkin akan terkesan berlebihan. But hey, itulah yang saya suka dari nge-blog, bahwa saya bisa menulis sekehendak saya tanpa ada campur tangan pemodal seperti di jurnalistik, tanpa ada interupsi. Kalaupun ada komen, itu pun via moderasi heheehe...

Saya bersyukur, setelah sebelumnya deg-degan setengah mati, bersamaan dengan meluncurnya buku ke delapan saya, travelogue ketiga saya (yang bukan antologi bareng-bareng penulis lain), buku terbaru saya "Nomadic Heart". Sebelum buku ini meluncur, dalam proses menulisnya saya memang santai sekali, ibarat curhat, tulisan saya berloncatan dengan lancarnya. Tetapi deg-degan muncul saat ada penerbit menawarkan diri untuk menerbitkannya. Tambah deg-degan karena saya sangat tidak pede. Karena banyak di dalam tulisan ini menunjukkan sudut pandang saya tentang sesuatu hal, problem pribadi saya dengan orang-orang di lingkungan saya, dan lain sebagainya. Tetapi kemudian saya sanggupi untuk menerbitkannya. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan promo di social media.

Lega. Karena buku saya mendapatkan sambutan positif. Setidaknya yang saya tahu. Meskipun di sisi lain, saya juga harus siap bila ada yang mengkritik habis-habisan atau menghujat seperti buku saya sebelumnya. Saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Tugas menyenangkan semua orang sudah diambil alih oleh Walter Elias "Walt" Disney :) melalui tokoh-tokoh kartunnya. So, saya selalu bilang ke diri saya, ini bukan buku untuk semua orang. Itu juga yang kemudian saya sampaikan ke orang-orang.

Di luar dugaan, saya mendapatkan banyak respons positif. Beberapa hari setelah beredar di toko-toko buku di Indonesia, saya sudah mulai mendapatkan komentar positif tentang buku ini. Beberapa di antaranya resensi-resensi di blog maupun di media, termasuk juga di www.goodreads.com. 


Di goodreads, seperti yang bisa dibaca di link: http://www.goodreads.com/book/show/17382495-nomadic-heart

Dini Novita Sari menuliskan:
"Ketika kejengahan saya tentang koar-koar mengenai traveling dari para pelakunya di media sosial mulai meradang, buku ini menjadi pelipurnya. Bagi saya, buku ini jujur, tidak berlebihan, dan tanpa tedeng aling-aling. So if u need to find an honest and humble  travelogue, all i can say... Nomadic Heart is good. :)

Resensi lengkap Dini bisa dibaca di link berikut ini: http://dinoybooksreview.wordpress.com/2013/03/03/nomadic-heat-by-ariy/

Selain Dini Novita Sari, di link goodreads tersebut juga ada komentar dari Dian Ruzz yang menuliskan :
"Sebuah kisah perjalanan yang tidak hanya berisi kisah tentang kaki yang melangkah, mata yang melihat, lidah yang merasa, telinga yang mendengar, tetapi juga tentang hati yang belajar dan berbicara. Nice book "



Ada juga komentar Maya Indah : "Saya suka sampulnya.. saya suka tulisannya.. Nomadic heart, menurut saya, salah satu buku yang sebaiknya dibaca untuk mereka yang sedang melakukan kontemplasi diri, untuk mereka yang ingin melihat sisi lain dari sebuah traveling"

Resensi lengkap Nomadic Heart dari Maya bisa dibaca di blog-nya :
http://chiemayindah.wordpress.com/2013/03/16/nomadic-heart/

Selain dari link goodreads, beberapa blog juga mengupas Nomadic Heart:
  • The Escaped Traveler ( http://escaped-traveler.blogspot.com/2013/03/book-review-nomadic-heart.html ) yang mengungkapkan "Membacanya kita tidak akan pernah bosan. Hati kita diajak mengembara bersama setiap rangkaian kata-katanya. Bahasa yang cukup ringan dengan pilihan kata yang tepat menjadikan buku ini lebih 'renyah'.Penulisan travel quotes di sela-sela paragraf juga menjadi faktor pendukung yang memberikan nilai tambah bagi cerita itu sendiri"
  • AcapTrip  ( http://acaptrip.wordpress.com/2013/03/12/mengutip-inspirasi/ ) yang mengungkapkan  
  • "Nomadic Heart telah resmi menjadi buku yang statusnya sama dengan dua buku yang saya sebut sebelumnya, sumber inspirasi sekaligus favorit sepanjang masa. Sekilas memang terlihat sederhana, tapi dalam kesederhanaan itu pembaca bisa menemukan cerita yang unik, menarik, bahkan mengharukan. Bagi saya, justru dalam kesederhanaan itu, saya bisa banyak belajar, itu manfaat yang terpenting.
Seorang pembaca juga menuliskan pandangannya di www.kompas.com : http://oase.kompas.com/read/2013/03/12/00270780/Menikmati.Hidup.dengan.Cara.Berbeda


Saya juga mendapatkan mention dari pembaca yang merasa terwakili oleh cerita saya.:

1.  @identityono Currently reading latest book, Nomadic Heart. I do really feel about measurement and they-are-not-the-same-frequency-with-me. :-)

2. Benar sekali. Terima kasih kembali karena saya menjadi lebih mengapresiasi berbagai arti serta tujuan dari "penjelajahan".

3. Gak nyesel sedikitpun gue resign. Ada paragraf superkeren di Nomadic Heart-nya hal 16 :) 

4.  Kak aq baru selese baca Nomadic heart dan itu keren!!!

...dan banyak mention lainnya. Seorang teman yang wajahnya jauh dari kata sendu, SMS saya dan mengatakan "hampir nangis baca bab Sekulkas Cokelat dari Swiss". Atau seorang teman lain yang menyatakan hati memang tidak bisa dibohongi. Aku suka Nomadic Heart.

Saya sendiri tidak menyangka akan mendapatkan sambutan hangat seperti itu. Yang saya lakukan hanyalah menulis dengan jujur sesuai dengan apa yang hati saya ingin katakan. Beberapa hal sebenarnya sangat personal, dan saya agak ragu mengungkapkannya. Tetapi teman saya yang penulis terkenal itu - Trinity - pernah bilang ke saya, kalau nulis jangan jaim. Dan inilah saya, mencoba menelanjangi diri dalam buku Nomadic Heart. Satu hal yang sering dikritik orang tentang buku ini adalah : kurang tebal. Hehehe...kalau saya bisa mengarang indah tentu akan saya bikin lebih tebal. Sayangnya Nomadic Heart adalah buku non-fiksi.

Ada juga komentar soal bau-bau fiksi di dalam buku ini. Well, saya mengakui dalam beberapa diksi, kalimat, ada "nilai rasa tertentu" yang saya mainkan. Tetapi substansinya tidak berbeda. Untuk menjadi sebuah buku, saya harus memikirkan kenikmatan pembaca dalam mengeja setiap kata dan kalimat. Dalam kehidupan nyata, mungkin kata dan kalimat meluncur dengan lugas. Tetapi dalam sebuah karya tulis (termasuk karya sastra misalnya) perlu kita pikirkan aspek-aspek estetik merangkai aksara supaya sebuah cerita menjadi indah. Non fiksi pun bisa diberlakukan semacam itu, tanpa keluar dari cerita aslinya. Ini sama saja dengan mengangkat sebuah kisah hidup seseorang ke dalam film, akan banyak aspek-aspek sinematografi yang tentu hal itu tidak muncul di dunia nyata.

Masukan demi masukan, yang bukan hanya sekadar pujian, akan membuat saya semakin rajin belajar dan menambal lubang-lubang kelemahan saya. Terima kasih untuk pujian yang banyak. Sekarang saya pede untuk menulis. Dan saya juga menemukan resep supaya sebuah tulisan disukai: menulislah dengan hati. Karena konon yang keluar dari hati, akan sampai ke hati juga :).

Akhirnya....oke sekarang Anda boleh mengambil tas plastik kresek. Mari muntah bersama-sama hahaha demi melihat saya pamer :)

Regards,

Ariy

4 comments:

DIAN Rustya said...

Kata Nagacentil, plastik kresek itu tidak ramah lingkungan #Eh

Sepakat dengan "apa yang berasal dari hati juga akan sampai ke hati". *inget bagian tentang Sven*

Sepertinya aku akan menambah panjang jumlah resensi Nomadic Heart, tapi tulisannya masih tersimpan di draft sejak 2 minggu yang lalu :)

Ariy said...

hahaha...kalo gak pake kresek, ntar bocor lagi heheheh.

Ami Jasmine said...

Selamat siang Mas Ari.


Salam kenal,namaku Ami.
Aku suka banget dengan kalimat "Tuhan mencintai orang yang suka menulis."
Btw,kalau ada waktu mampirlah sejenak ke http://wwwamijasmine.blogspot.com
Sukses selalu untuk Mas Ari.
Wassalam.......

Ariy said...

Terima kasih Mbak Ami Jasmine sudah mau mampir ke blog saya :)