Tuesday, July 30, 2013

She's a Man (cerita tentang ladyboy di Thailand)

"I spent the night with a gorgeous Thai girl who turned out to be a gorgeous Thai boy!" seru Daniel Cleaver.

Saya selalu ingat line di sekuel film Brigdet Jones: The Edge of Reason itu saat traveling ke Thailand. Ada satu scene di mana Daniel Cleaver yang diperankan HUgh Grant, kalang kabut saat mengetahui "cewek" Thailand seksi yang dikencaninya berubah jadi cowok alias cewek jadi-jadian.

Thailand identik dengan banyak hal kuat, salah satunya adalah lady boy. Ini adalah sebutan bagi perempuan transeksual alias aslinya cowok. Banyak juga yang menggunakan istilah Sheman atau Shemale. Intinya sama saja. Dan di Thailand, memang jumlahnya banyaaak...hehehe.

Transeksual, waria, bencong, atau apa pun itu sebutannya sudah akrab di dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi isu dunia sejak lama karena masih banyak pro dan kontra menanggapi eksistensi mereka. Thailand menjadi salah satu surganya Ladyboy karena di sini mereka mendapatkan penerimaan yang luas dari masyarakat. Dan...Ladyboy di Thailand tuh cantik-cantik, sehingga orang sering menyangka mereka adalah cewek sungguhan. Stigma yang melekat memang negatif, mereka selalu dihubungkan dengan aktivitas dunia malam, baik di Indonesia maupun di Thailand. Namun, tahukah Anda...di Thailand banyak Ladyboy yang lebih beruntung karena ternyata gender ketiga ini mampu menempati posisi-posisi sosial yang cukup lumayan, meski tidak bisa disebut bagus-bagus amat.

Suatu saat di tahun 2009, saya traveling ke Chiang Mai, Thailand. Menginap di rumah teman saya, Sakayawat Wongrattanakamon, yang seorang travel writer dan penyanyi di Thailand. Saya memanggilnya dengan Paul, nickname yang lebih mudah untuk diucapkan. Suatu malam, Paul mengajak saya makan malam bersama beberapa temannya di sebuah restoran milik seorang artis yang cukup punya nama di Thailand. Kebetulan artis ini juga temannya Paul. Restorannya bagus, makanannya enak, mulai dari ikan, ayam hingga kodok goreng, heheheh. Tetapi yang memesona saya bukanlah makanan. Melainkan toiletnya. Di sini ada toilet khusus yang dipersembahkan dalam rangka menghargai keberadaan gender ketiga yaitu para ladyboy. Toiletnya ada tiga: male - shemale - woman. Hehehehe, artinya toilet untuk laki-laki, toilet untuk transeksual dan toilet untuk wanita. Dan posisi toilet transeksual pun berada di tengah, mungkin disesuaikan ya....separuh laki-laki separuh wanita. Bagi orang Thailand, hal itu bukan mengejutkan lagi dan dianggap hal biasa.

"Saya memang menyediakan toilet itu untuk mereka, karena kami menghargai kehadiran mereka," ungkap Si Artis pemilik restoran itu, Lanna Commins, kepada saya. Dia meminta saya untuk masuk mengecek, seperti memahami apa yang ada di benak saya.

"Kayak apa, ya toiletnya?"

"Apa menggunakan urinoir juga layaknya toilet pria?"
"Wah pasti tersedia cermin untuk dandanm ya?"

Itu yang berkecamuk di benak saya, dan saya tersenyum-senyum simpul ke arah Lanna. "Silakan cek saja sendiri," kata Lanna mempersilakan saya. Saya cuma menggelengkan kepala. Takut euy...gimana kalau pas saya masuk, ternyata ada ladyboy  di dalam, lalu mereka berteriak-teriak dengan suara berat dan garang? Hahaha.

Lain lagi pengalaman saya saat menggunakan bus dari Chiang Mai ke Bangkok. Saat itu, 17 Oktober 2009, saya naik bus ke Bangkok bersama Paul dengan tiket seharga masing-masing 518 Baht atau sekitar Rp 155.000 kala itu. Berangkat dari Arcade Bus Terminal, Chiang Mai sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Bus yang saya tumpangi adalah bus double decker alias bus tingkat. Saya mendapatkan kursi di atas dan cukup nyaman. Bagusnya bus di Thailand ini adalah ada semacam pramugari dan pramugara yang melayani para penumpang. Sebelum berangkat, seorang pramugari yang sudah cukup umur namun masih terlihat canti dan rapi melayani para penumpang. Membagikan makanan dalam dus dan air mineral.

Beberapa saat kemudian bus berangkat, dan ternyata pramugari dan pramugaranya berganti. Dua orang cowok dan cewek melayani kami para penumpang. Saya terpesona dengan pramugari bus yang baru ini. Sejak awal keberangkatan, saya sudah tertarik kepada wanita ini...."Something wrong with this lady..." saya selalu pengen melihatnya, dia sedikit bicara, tetapi senyumannya selalu tersungging. Gayanya anggun, cantikkah? Tidak. Wajahnya cukup banyak jerawat, dengan make-up tebal dan terlihat seperti belang karena wajahnya putih sementara lehernya lebih cokelat. Gayanya elegan dengan rok selutut ketat warna biru muda dan atasan blazer plus sepatu hak tinggi. Sampai kemudian tiba di pemberhentian pertama, misteri itu terkuak sudah.

"Ladies and gentleman, 15 minutes for break..."  kata pramugari itu. Ya Allah Ya Rabb! Benarkah suara itu? besoaaaar dan ngebass! Bagaimana mungkin perempuan seanggun itu memiliki kualitas suara seperti vokalisnya Metallica si James Hetfield? Hahahaha. Inilah kenapa saya dari tadi merasa seperti ada yang ganjil dengan pramugari ini. Tetapi meskipun begitu, saya amati, cara dia bekera, berkomunikasi dengan rekan kerjanya di pool bus, sangat cair. Bahkan tidak terlihat kecanggungan, Memang sih, gayanya lebih centil dari cewek-cewek lainnya.

Sejak Usia Dini

Paul bilang, kita tidak perlu heran, karena keberadaan transeksual di Thailand hampir bukan masalah lagi secara nasional. Demi itu, saya jadi tidak heran saat membaca berita kalau PC Air, sebuah maskapai penerbangan baru di Thailand yang melayani rute lintas Asia menerima pramugari transeksual. Hal ini dilakukan setelah menerima lebih dari 100 surat lamaran dari para ladyboys  untuk menjadi pramugari mereka. Terbukti juga, langkah ini justru menjadi promosi gratis maskapai itu, karena ini untuk pertama kalinya di dunia sebuah maskapai penerbangan memiliki pramugari transeksual. Banyak media besar dunia kemudian memberitakannya. Empat orang ladyboys beruntung mendapatkan posisi sebagai pramugari di maskapai itu, dan mereka cantik-cantik!
Empat pramugari transeksual PC Air. - photo: Reuters
 Beberapa hari setelah di Bangkok, saya dan Paul makan siang di sebuah restoran Jepang. "What do you think about her?" kata Paul sambil menunjuk ke kasir restoran itu. Hmmm....cantik sangat, light skin, dengan tubuh ramping, make-up natural, rambut legam lurus panjang.

"She's a man," kata Paul kalem.

"Haaaah?? Are you kidding me?" Paul mengangguk kalem menjawab kekagetan saya. Damn, saya langsung patah hati mendengar penjelasan Paul. Restoran ini memang restoran favorit dia, jadi dia tahu banyak soal restoran ini. Saat di kasir, dia berbincang akrab. Baiklah...perempuan cantik ini pasti akan banyak mematahkan hati laki-laki...hehehe.

Nah, bukan kebetulan kalau kemudian di restoran itu datang serombongan gadis-gadis jadi-jadian, masih muda, sekitar usia anak SMP di Indonesia. Tapi jangan tanya soal penampilan, mereka sudah berani dress-up, memakai make-up tebal, baju seksi dan genjreng, wig-wig aneka warna itu. Dari sini saya menyadari, seperti halnya dunia perempuan sesungguhnya, ada kelas-kelas di mana seorang perempuan bergaya classy, elegan, dan beberapa lainnya bergaya asal-asalan cari perhatian, sampai murahan. Nah di dunia transeksual ternyata ada juga. Kasir restoran Jepang tadi saya sebut bergaya classy, sementara ladybots ABG ini adalah versi gagalnya, hihiihi.

Herannya, seperti hanya saya yang memandang keheranan terus menerus ke arah mereka. Sampai salah satu dari mereka matanya mendelik ke arah saya, saya baru berhenti memperhatika. Hahaha, takut sumpah.

"Itulah efek dari penerimaan transeksual di Thailand yang luas. Laki-laki kecil pun berani dress-up dan ber-make-up  tebal seperti perempuan. Next time, kamu akan bisa lihat ada sekolah, junior high school juga memiliki toilet shemale di bagian lain negara ini," tutur Paul kalem. []

  •  PS: cerita ini ada di buku saya "Norak-Norak Bergembira" terbitan Pastel Books.

Saturday, July 27, 2013

Apa yang boleh kita ambil saat menginap di hotel?

Hey, journer

Kali ini saya ingin menulis, tepatnya sih menyarikan dari sumber lain, selain juga menambah tulisan dari pengalaman pribadi, tentang menginap di hotel. Berangkat dari pertanyaan sederhana yang mungkin juga pernah terlintas di benak Anda saat menginap di hotel. Apa yang boleh kita ambil saat menginap di hotel? tanpa kita kena charge atau dituduh nyuri?

laundry bag
Beberapa kali nginep di hotel bintang (yang nyaris sebagian besar gratisan), saya merasa banyak sekali pernak-pernik hotel yang kata orang Jawa "cemolong" :). Dari kata "Colong" ditambahan imbuhan "Ce", alias sangat menggoda hati untuk membawanya pulang: :)  (mencurinya ?). Mulai dari sandal hotel, tas laundry, tas koran, selimut, jubah mandi, handuk, toiletries (sabun, shampoo, conditioner, etc), wadah toiletries, bolpen, asbak, notepaper, vas bunga, bantal, selimut, lukisan...sampai resepsionisnya yang cantik hahahaha....banyaaaaakkkk.....

Nah, sebenarnya mana saja sih yang bisa kita bawa pulang dan bukan masuk dalam kategori barang terlarang sehingga saat kita ambil kita tidak dituduh nyolong? Berdasarkan situs hotels.about.com, berikut barang-barang yang boleh kita bawa:

toiletries
 a. Toiletries : seperti shampoo, conditioner, body lotion, sabun, dan beberapa perlengkapan mandi lainnya boleh kita bawa, karena barang-barang ini tidak bisa digunakan oleh tamu berikutnya yang akan menempati kamar kita. Termasuk pula di dalam kategori ini adalah alat cukur, sikat gigi, dan lain sebagainya.


b. Sandal hotel juga biasanya merupakan complimentary alias bisa kita bawa pulang karena tidak bisa digunakan oleh tamu berikutnya. Faktanya, sandal hotel yang modelnya selop warna itu sebenarnya murah kok, pergi aja ke Lotte Mart, harganya sekitar Rp 2.000 perak per pasang :). Jadi silakan dibawa buat kenang-kenangan dan penanda kalau kita pernah nginep di hotel bintang :).

c. Tas laundry yang lucu juga boleh. Lumayan lho, saya bisa pakai ini berulang-ulang untuk mengemas laundry saya. Nggak perlu gonta-ganti tas plastik kresek, selain modelnya juga bagus.

d. Stationary : semacam bolpen berlogo hotel, notepaper, pensil, postcards, amplop, itu semua boleh juga dibawa.

Nah, barang-barang lain, terlarang untuk dibawa. Seperti misalnya handuk, jubah mandi, asbak, sprei, dan lainnya tidak boleh dibawa pulang. Kalau dibawa pulang, maka Anda akan dikenai extra charge. Saya pernah nginap dengan seorang teman kantor, kebetulan ada jatah dari kantor. Saya nggak tahu kalau teman saya bawa pulang handuknya. Beberapa hari kemudian, kantor ditelp pihak hotel kalau ada handuk yang hilang di kamar yang kami tempati. Hadeeuh...malunya. Semprul benar teman saya, karena bos saya sempet marah-marah "Memalukan!". Sebenarnya, beberapa hotel bintang menjual barang-barang itu kalau Anda ingin memilikinya. Anda bisa menanyakan di resepsionis. Bahkan beberapa hotel bintang bagus bahkan melayani pembelian secara online melalui situs resmi mereka. Oya, ada pula yang mungkin bingung, bagaimana dengan makanan dan minuman? Biasanya yang merupakan complimentary alias gratis adalah air mineral dalam botol yang tersedia di meja. Kemudian di hotel bagus, ada pula makanan dan buah-buahan. Asal jangan ngambil yang di mini bar yak, itu kena charge. 

Nah, kalau sudah tahu begini, kita nggak perlu lagi bingung mana yang halal dan mana yang haram untuk dibawa pulang saat kita menginap di hotel. Semoga berguna.

Regards,

A

Wednesday, July 17, 2013

Tunggu Keseruan Buku Berikutnya Yak

Dear Journer

Apa kabar? semoga baik dan puasanya lancar (buat yang lagi puasa). Buat yang lagi liburan, semoga liburannya khusyuk yak huehehe. Alhamdulillah, sekarang saya lagi sibuk-sibuknya kejar deadline untuk buku berikutnya. 

"Hah? buku berikutnya? Serius ?" nah, biasanya kayak gitu respons orang kalau saya cerita saat ini tengah menyelesaikan buku. Setelah itu, respons selanjutnya bisa macam-macam, ada yang bilang selamat, tetapi ada juga yang bilang "ngejar setoran?" hahahaha...saya sambut semuanya dengan positif saja, meskipun kadang ada yang kesannya sinis. Mau dibilang kejar setoran, mau dibilang apapun, saya alhamdulillah, yang penting nulis, nulis, dan nulis. Menjadi produktif, positif dan kreatif. Itu jauh lebih penting bagi saya. 

Yeap saat ini saya tengah menyelesaikan proses akhir penyusunan buku traveling terbaru saya. Naskah sih sudah beres, sudah pada tahap editing, setting, dan targetnya bulan Agustus bisa terbit. Ini akan menjadi buku kesembilan saya, alhamdulillah banget berkah Ramadan. Nggak tahu kenapa, biasanya pas Ramadan saya selalu mendapat berkah dengan munculnya buku baru. Jadi puasa bisa nggak terasa karena sibuk nulis.

Yang pasti lagi, buku kesembilan saya ini akan tampil dengan keseruan. Sangat jauh berbeda dengan Nomadic Heart yang emosional, meledak-ledak, rada-rada serius, beberapa bilang menye-menye. Nah, buku terbaru ini lebih fun, ringan, kayak nonton film-nya Dono Warkop sambil makan pop corn, neguk Cola, pake baju warna-warni sambil sesekali ngemut lolipop :) ..huehehehe. Judulnya apa? sengaja saya keep dulu, takutnya nanti di last minute ganti judul...bisa berabe :). Ini sedikit clue-nya:


Oya, buku ini saya tulis bersama teman saya, Sony Kusumasondjaja. Idenya sudah ada sejak Februari 2012, dan sempat saya lontarkan ke Sony saat itu, waktu kami bertemu di Kuala Lumpur. Tetapi kemudian baru dijabarkan dalam konsep yang lebih jelas dan mulai pengerjaannya setelah saya ngobrol dengan pihak penerbit, dalam hal ini B-First (Bentang Pustaka).

Mohon doa restunya, semoga target Agustus bisa terbit dan berjalan lancar. Jangan lupa beli. Tapi kalau pun minjam atau ngintip baca di toko buku pun juga nggak papa kok, soalnya saya juga sering melakukan hehehe. Yang penting jangan membajak atau beli buku bajakan :).

Oke, segitu dul update-an saya. 

Cheers,

A

Sunday, July 14, 2013

Sotong Masak Hitam (Kuliner Khas Pesisir Utara Jawa)

Hey Journer,

Kali ini saya ajak Anda untuk mencicipi salah satu kuliner, yang menurut saya mantap. Kali ini kita akan ngomongin soal Sotong. Ini adalah salah satu bahan makanan laut yang banyak ditemukan di daerah pesisir utara Jawa. Mungkin di daerah lain di wilayah pesisir Jawa juga mengenalnya, namun karena kebetulan sekarang saya berdomisili di Semarang, ya ngomongnya sekitar-sekitar sini.

Saya kenal nama "Sotong" sebenarnya sejak lama. Waktu di Solo, saya punya beberapa teman dari Tegal, Pekalongan, yang sering membicarakan ini. Kebetulan pas di Semarang, saya menemukannya sendiri, dan setelah mencicipi....kok wueeenak ya :).


Oke, sebelumnya saya mau jelasin dulu apa itu Sotong. Ini hasil saya belajar, kalo salah mohon dikoreksi. Jadi begini, teman-teman saya sering mengatakan Sotong itu Cumi. Pun saat saya diajak teman ke sebuah warung makan di kawasan Sampangan, Semarang, teman saya bilangnya "Yuk cari cumi". Namun, ternyata Sotong itu berbeda dengan Cumi. Kalo di wikipedia, Sotong itu adalah "ikan" nus. Binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Bentuknya pipih, sementara kalau cumi berbentuk silinder. Nah, kalau Sotong, memiliki cangkang batu kapur yang keras, sementara cumi lunak. Inilah kenapa, saat saya makan Sotong Masak Hitam, rasanya kadang campur kayak nemu batu pipih, kriuk-kriuk :).

Yang khas dari Sotong adalah Sotong Masak Hitam, yaitu memasaknya dengan mencampur tintanya. Penampilannya jadi rada aneh sih, tapi saya kok tertariknya. Jadi di warung tempat saya beli, baskom tempat masakan Sotong ini isinya kayak aspal. Serius, hitam, pekat, lengket, hehehe. Konon justru tintanya itu pula yang membuat Sotong lebih gurih. Ini karena mengandung asam glutamate. Itu kata orang ya. Sebagai makanan, Sotong juga mengandung banyak sumber vitamin, karena konon mengandung vitamin B1, B2, B12, dan lain sebagainya. Tetapi ya itu...yang perlu diwaspadai adalah, Sotong mengandung kolesterol tinggi. Jadi hati-hati ya yang punya masalah dengan ini.


Sotong Masak Hitam paling enak dimasak pedas, berpadu dengan gurih. Tidak ada bau amis sama sekali, rasanya kenyal nyaris seperti cumi dan kadang ada kriuk-kriuknya (mungkin masih ada sisa cangkang yang kebawa). Sotong Masak Hitam pas banget buat lauk nasi putih.

Jangan lupa, kalau lagi main di pesisir utara Jawa (atau daerah lain di pinggir pantai mungkin?) coba cari Sotong yak...

regards,

A

Tamasya Murah Berkualitas (@ Paduan - Lifestyle Magazine)


Paduan - Lifestyle Magazine Edisi 17 - 2013 memuat beberapa tips sederhana saya tentang backpacking. Backpacking saat ini memang menjadi alternatif liburan bagi mereka yang duitnya cekak. Bagaimana tetap bisa liburan berkualitas, tetapi minim anggaran.

Point utama yang saya sampaikan di artikel itu adalah : semua orang bisa jadi backpacker. Tidak perlu ijazah. Tidak perlu menunggu ditasbihkan oleh traveler yang sudah handal. Asalkan Anda mau sedikit meluangkan waktu untuk mempelajari hal-hal basic yang dibutuhkan dalam perjalanan backpacking.

"Semua orang bisa jadi backpacker, apabila dia melakukan perjalanan atau traveling dengan budget minim, itu sudah bisa disebut backpacker," (kalimat saya yang dikutip Paduan-Lifestyle Magazine).

Beberapa hal sederhana yang saya sampaikan untuk Anda yang baru akan belajar backpacking (ini khususnya ke luar negeri) adalah:

1. Pilih negara yang mudah untuk dikunjungi. Mudah dalam arti tidak perlu visa, misalnya seperti negara-negara di Asia Tenggara.

2. Pilih negara yang bisa ditempuh dengan penerbangan langsung dari Indonesia. Ini akan jauh menghemat budget.

3. Bila mungkin, cari tiket promo penerbangan.

4. Cari informasi sebanyak-banyaknya melalui internet, buku panduan, atau tanya ke orang yang pernah mengunjungi negara tersebut. Utamanya soal do's dan don'ts saat mengunjungi negara itu. Ini yang saya sebut riset. Proses ini memegang peranan penting.

5. Penginapan bisa memakai hostel (bukan hotel) yang relatif murah, utamanya yang memiliki kamar model asrama (dorm), dengan satu kamar beberapa orang.

6. Kumpulkan informasi, lalu pilah dan dibuat itinerary atau rencana perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Misalnya mau kemana, berapa hari, dan lain sebagainya.

7. Buat estimasi budget dengan backup 10% atau lebih terserah kemampuan masing-masing. Dana taktis ini jangan diotak-atik kecuali kepepet.

8. Kumpulkan niat segede-gedenya, dan semangat "buat bersenang-senang" sebanyak-banyaknya. Jangan ambil pusing dengan hal-hal negatif, fokus di hal-hal positif.

Perencanaan yang matang dalam backpacking akan menentukan berapa banyak duit kita akan keluar. Semakin matang, semakin irit. Semakin tidak matang, akan muncul beberapa hal di luar dugaan yang pada akhirnya mungkin akan bikin boros.Semoga yang sederhana tetap berguna.

Regards.

A
PS- seneng diwawancara. Sayangnya, nama ane kurang hurup "i" hohoho

Tuesday, July 9, 2013

Jogja Fashion On The Street

Hey Journer,

Akhir pekan lalu, tepatnya tanggal 7 Juli, saya jalan-jalan ke Jogja. Niat awalnya sih, sebelum puasa pengen sedikit resfreshing, dan Jogja bahkan tidak ada dalam list saya. Rencananya memang tidak akan jauh-jauh dari Semarang dan Solo. Ada ide pengen menghabiskan waktu di Salatiga, menikmati kota di mana jam 9 malam turun kabut, menyeruput hangatnya wedang ronde di depan Hotel Grand Wahid....huehehe. Tapi batal...batal. Saya memutuskan untuk ke Jogja, karena kebetulan ada teman yang akan bertemu saya.

Minggu siang, begitu sampai di Jogja, saya diantar teman ke Jalan Malioboro, rencananya sih saya mau ngadem sebentar di KFC Malioboro sambil menyelesaikan kerjaan (sial nggak sih, lagi jalan masih kejar deadline). Sementara teman saya ada urusan sebentar. Saya pun turun di depan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang ada di kawasan Jalan Malioboro. Eh...denger marching band main, tengoklah saya ke sana. Ternyata saya beruntung, karena hari itu akan ada karnaval Jogja Fashion On The Street. Ini adalah puncak acara Jogja Fashion Week. Beruntunglah saya. Untung juga saya bawa kamera. Jiwa fotografer amatiran saya pun muncul huehehe. Ini dia oleh-oleh saya dari Jogja.




Ternyata saat itu, sebelum digelar karnaval yang berangkat dari Kantor Dinas Pariwisata, juga akan digelar lebih dulu Lomba Tata Rias Fantasi. Cukup menarik, karena nyaris semua peserta berupaya semaksimal mungkin untuk menampilkan yang terbaik dari konsep yang mereka angkat. Karena saya lagi seneng belajar motret, maka saya banyakin fotonya. Mohon maaf kalau ada yang blur, gak fokus, atau secara teknis fotografi saya melakukan "dosa". Maklum, saya benar-benar buta fotografi :). 

damn, i love this one!



those eyes !


Dari sekian banyak peserta, nggak tau kenapa saya suka salah satu peserta, yang tampil beda dengan konsep lebah-nya. Konsep beda, lucu, meskipun warna yang ditampilkan nggak ngejreng, tapi saya tertarik banget dengan karakter anaknya. Begitu disuruh MC keluar untuk tampil, langsung bergaya lincah dan luwes, menirukan lebah yang terbang ke sana-kemari. Duh, jadi pengen bawa dia pulang hihihihi... ini nih si favorit saya:


My fave! she's cute huh :)

...and....."the ladies"... :). Hooray !!



Jogja memang meriah dengan keberagamannya. Sementara para peserta lomba tata rias fantasi menyelesaikan tahapan penilaian, berikutnya para peserta karnaval pun mulai bersiap dan berbaris rapi. Dibuka dengan marching band yang terus menerus memainkan lagu andalan "Yogyakarta"-nya Kla Project !! Oughhh...saya berasa kembali ke jaman-jaman pacaran di SMA huehehe... (yakin gak jomblo?). Penilaian saya, nice choice !! Saya berasa berada di ruang dan waktu yang berbeda....Indonesia Bagian Yogyakarta. Atmosfernya dapet banget, romantisnya kena. 

Karnaval ini menghadirkan perwakilan dari sekolah-sekolah di Yogyakarta, akademi, universitas, hingga kelompok-kelompok dan komunitas Jogja yang memang beragam dan sangat kreatif.
Mereka menampilkan berbagai konsep, dari yang kental dengan budaya Jawa, menampilkan sendratari di jalan, budaya Jepang, hingga pakaian-pakaian kontemporer yang saya yakin butuh banyak malam untuk mendapatkan konsep, serta butuh banyak hari untuk mewujudkannya dalam pakaian.
Tak ketinggalan kehadiran perwakilan dari Red Batik Solo Community yang pernah tampil dalam Solo Batik Carnival, sumbangan untuk sang saudara tua Yogyakarta. Bukan karena saya orang Solo, tetapi kontestan dari dari Red Batik Solo Community memang terlihat sangat serius dan tampil optimal dengan kehebohan kostum maupun perangkat pendukungnya. Mereka mampu mencuri perhatian pengunjung dan fotografer. Maklum, peserta Solo Batik Carnival memiliki jam terbang cukup tinggi, antara lain pernah tampil di Chingay Festival di Singapore dan TongTong Festival atau pasar malam besar di Den Haag, Belanda.

persembahan Red Batik Solo Community untuk Jogja Fashion On The Street







Lihat foto-fotonya aja gemes kan kalo nggak nonton? Hihihihi. Yess, saya beruntung. Sebagai catatan saja, sebenarnya Jogja Fashion On The Street tidak jauh berbeda dengan Solo Batik Carnival, Semarang Night Carnival, atau sesepuh festival macam gini yaitu Jember Fashion Carnival. Secara materi hampir sama konsepnya, hanya perbedaannya tentu pada kualitas para pesertanya dalam menampilkan "efek wow" melalui kreativitasnya. Saya belum pernah melihat Jember Fashion Carnival, tapi konon bagus, dan ini juga yang memberi inspirasi festival-festival serupa di kota lain. Namun catatan saya, secara kreativitas...Solo Batik Carnival emang lebih jempol dibanding Semarang Night Carnival maupun Jogja Fashion On The Street. Namun menurut saya, secara keberagaman materi, Jogja Fashion On The Street lebih beragam dan tidak membosankan. Semarang Night Carnival masih harus belajar banyak soal kreativitas dan keberagaman materi ini. Tetapi nih...Semarang Night Carnival lebih heboh namun dengan managemen penonton yang bagus dibanding Solo dan Jogja. Di Solo, pesertanya memang kreatif, tapi ampuuuun dah...jangankan mau motret, mau nonton aja susaaaaahhhh...penonton susah diatur, panitia juga kurang sigap me-manage penonton, Sementara kalau di Jogja, memang penonton tidak teratur juga, tapi yang nonton di Jogja gak banyak, relatif lega dan gampang motret. Buktinya? fotografer amatir seperti saya bisa dapetin foto-foto di atas hueheue.

Ada satu hal yang sempat membuat saya berpikir saat saya melihat kenapa karnaval di Jogja ini tidak terlalu berjubel penonton, seakan warga tidak heboh menyambutnya. Saya pernah nanya seorang supir taksi, Jogja lagi ada acara apa? Jawab dia panjang dan lebar, dan menarik ! ini dia:

"Jangan tanya Jogja ada acara apa mas. Saban hari pasti ada aja acara. Kerjaan utama orang Jogja itu kan tampil, berkesenian, bikin karnaval, pawai...gitu."
Lalu saya dapat kesimpulan sendiri mengapa sepanjang Jogja Fashion On The Street berlangsung, banyak warga Jogja yang seolah tidak "gumunan" alias tidak terkaget-kaget, tidak heran, tidak merasa wow, dan kesannya mereka biasa aja. Penonton di pinggir jalan juga tidak berjubel, bahkan lega. Kebanyakan yang nonton juga wisatawan, baik asing maupun lokal. Saya pikir, ya orang Jogja mungkin sudah biasa lihat yang semacam-semacam ini, jadi tidak terlalu tertarik. Itu asumsi saya. :).

Lebih dari itu, saya terhibur dengan adanya Jogja Fashion On The Street. Cukup mampu membuat wisatawan terhibur. Hari Minggu itu saya juga sangat beruntung karena saya bertemu dengan salah satu tokoh yang saya kagumi, tokoh yang membuat saya ingin belajar bagaimana sukses menjadi seorang pebisnis. Nggak nyangka lho saya bertemu dia di Jogja. Siapa dia ?

Eugene Harold Krabs a.k.a Mister Krabs 
si pemilik Restoran Krusty Krab !!!


Huehehe...Jogja memang istimewa. Jalan-jalan dadakan saya akhir pekan kemarin berlangsung cukup sukses dan menyenangkan. Berikutnya, dalam satu bulan saya akan banyak bengong bego dulu di kos, karena sudah puasa. Oya, selamat menunaikan ibadah puasa buat Anda yang menjalankan. Ketemu lagi di lain cerita jalan-jalan saya :)

Regards,

A