Saturday, January 25, 2014

Melacak Jejak Hanzel & Gretel di Museum Batik Danar Hadi Solo

Dear Journer, 

Mungkin dari kalian pernah dengar cerita tentang Hanzel and Gretel? Dongeng asal Jerman ini sudah mendunia, selain buku, juga sudah divisualisasikan dalam film layar lebar. Terbit tahun 1812, Dongeng ini memikat hati anak-anak dunia karena kisah sedih dua saudara yang berakhir bahagia. 

Sedikit flashback, ini adalah kisah kakak adik yang ditinggal mati ibunya, lalu harus tinggal dengan ayahnya yang seorang tukang kayu serta ibu tirinya yang jahat. Saat kemarau panjang menerpa, kehidupan semakin berat. Untuk makan saja susah. Si ibu tiri berinisiatif membuang Hanzel and Gretel ke dalam hutan. Percobaan "membuang" anak ini baru berhasil pada aksi kedua. Cerita kemudian fokus pada petualangan dua anak itu di dalam hutan, hingga bertemu penyihir kanibal. Kisah berakhir bahagia, saat kedua anak itu berhasil melarikan diri dari penyihir kanibal, mendapatkan harta karun, yang kemudian dituntun oleh roh ibu kandung yang menyaru menjadi angsa untuk kembali ke rumah bertemu ayah tercinta.

Berkembang di Eropa, cerita ini tentu juga menyatu dalam kehidupan masyarakat Belanda yang sempat menjajah Indonesia. Lalu Belanda masuk ke Indonesia, tinggal bersama pribumi, bahkan banyak di antaranya belajar membatik. Dari sinilah kemudian cerita Hanzel and Gretel tertuang di dalam kain-kain batik. Saya menemukan kain-kain batik ini di Museum Batik Danar Hadi, Solo, masuk dalam koleksi batik periode 1840-1910, yang pembuatnya merupakan perempuan-perempuan Indo-Belanda. Warna-warna batiknya pun lebih cerah dengan berbagai variasi warna, mulai cokelat, biru, merah dan warna-warna lainnya. Motifnya mulai dari motif buketan (kembang-kembang), hingga motif tematik, termasuk cerita Hanzel & Gretel tadi. Kita bisa mengikuti alur cerita berdasarkan gambar yang tertuang dalam kain. Selain Hansel & Gretel, kita juga bisa menemukan batik dengan motif Snow White Sleeping Beauty, hingga cerita dari negeri China.


Bagi saya, Museum Batik Danar Hadi tidak membosankan. Berdiri indah di sebuah kompleks bangunan bergaya Jawa Kolonial berhalaman luas yaitu Dalem Wuryaningratan, museum ini dimiliki oleh pengusaha batik yaitu Santosa Doellah. Dialah pemilik brand batik Danar Hadi yang banyak memiliki cabang di kota-kota besar di Indonesia. Di museum ini kita juga bisa menemukan batik-batik dari Keraton Kasunanan Surakarta, Mangunegaran, Kasultanan Yogyakarta, Paku Alaman, dengan berbagai motif. Mulai batik mahal untuk kalangan raja-priyayi, hingga batik untuk abdi dalem. Mulai motif batik untuk melamar, pernikahan, hingga pemakaman. Termasuk di dalamnya terdapat koleksi batik yang terpengaruh budaya India dan China. Dari lokal, kita bisa menikmati batik Pekalongan, Madura, Lasem, Banyumas, Ciamis, Cirebon, Garut, Tulungagung, Kudus, selain tentu saja batik Surakarta dan Yogyakarta. 

Selain terdapat show room di bagian depan, Anda juga bisa melihat langsung proses produksi batik tulis di bagian belakang museum. Kita bisa melihat proses pembuatan batik, mulai harga Rp 300.000 hingga jutaaan. Kalau kemahalan, kita bisa beli souvenir berbahan batik, misalnya gantungan kunci, dengan hanya Rp 10.000-an saja. 

Menikmati Museum Batik Danar Hadi seakan waktu berjalan cepat. Karena dari setiap lembar kain ini seperti memiliki cerita unik untuk dikulik. Jangan khawatir, ada guide yang akan menjelaskan semua tentang koleksi-koleksi di sini. Harga tiket masuknya kalau dulu sih masih Rp 25.000, cek lagi mungkin sudah naik ya. Pokoknya, kalau ke Solo, rugi deh kalau nggak datang ke sini. Memang tiketnya bagi kalangan budget traveler rada mahal ya...tapi bagi saya sendiri, sangat worth it dengan pengetahuan yang saya dapatkan dari berkunjung ke sana.



Transportasi:
Dari Stasiun Purwosari silakan naik BST (busway) dari halte depan stasiun, lalu turun di halte Hotel Novotel (Ngapeman) persis di depan museum. Dari Stasiun Balapan naik becak aja, sekitar Rp 10.000-an ke Museum. 
PS: di bagian koleksi museum, dilarang memfoto. Jadi kamera hanya berguna saat di showroom dan rumah produksi batik di bagian belakang.
Selamat jalan-jalan :)

Ariy


2 comments:

alan nobita said...

g bisa bayangin motifnya hazel - Gretelnya kayak apa? mesti g boleh di foto y mas?

Ariy said...

Iya Lan, gak boleh motret hihihi. Kamera gak boleh digunakan di dalam museum.