Monday, February 10, 2014

Pencurian Tulisan

Dear Journer,

Semalem TL saya ribut soal adanya pencurian foto teman, yang dipakai oleh sebuah travel agent yang menurut saya amatiran, untuk mengisi blog travel agent itu. Teman saya mempersoalkan karena yang bersangkutan tidak izin sama sekali. "Padahal kalau mau izin make aja pasti dikasih. Tinggal masukin sumbernya di artikel itu," keluh teman saya.

Masih ingat juga dong kasus kompetisi foto-nya Samsung yang barusan heboh? Ada yang mendaftarkan foto hasil "nyolong" milik orang lain. Parahnya pencuri ini menang kompetisi !! Hadeuh....bagi pemilik aslinya, saya tahu gimana perasaannya. Pasti gondok, bete, dan merasa terdzolimi banget. Saya tahu perasaan orang itu? Tahu darimana ? Okay, saya juga pernah menjadi korban, meskipun bukan foto saya yang dicuri (karena kebetulan saya bukan orang yang pinter motret). Tapi problemnya sama sih, hak atas kekayaan intelektual kita dilanggar.

Sekitar tiga tahun lalu, seorang teman memberi kabar bahwa sebuah majalah terkenal menggunakan artikel di buku saya. Artikel itu persis banget, hanya diberi tambahan sedikit bagian paragraf awal dan penutup di bagian akhir. Tetapi body text-nya persis. Mungkin yang ngutip malas mengedit. Parahnya, artikel itu tidak dilengkapi sumber, yaitu buku saya. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung nyari majalah itu dan memang benar, itu artikel saya. Bagi saya sebagai penulis, saya merasa dicurangi, dan parahnya ini dilakukan oleh media besar. Saya tidak mempersoalkan bila ada orang yang ingin menggunakan tulisan saya, tetapi setidaknya disebutkan sumbernya. Nah, apalagi ini sebuah majalah yang menurut saya pasti orientasinya bisnis. Kecuali majalah itu majalah gratisan (meskipun tetap harus mencantumkan sumber). Tidak mau terus terbakar amarah, saya lalu melakukan ini:

1. Pastikan benar-benar bahwa tulisan yang ada di majalah adalah tulisan yang sama dengan tulisan saya. Hal ini supaya saya tidak hanya disebut nge-klaim tanpa bukti. Selain itu supaya mereka tidak ngeles.

2. Setelah yakin bahwa itu benar-benar tulisan saya yang mereka pakai tanpa izin atau menyebutkan sumber, maka saya mencari kontak redaksi. Surat resmi via pos mungkin bisa dilakukan, tetapi kecepatannya tentu akan kalah dengan surat elektronik (e-mail). Maka saya menggunakan e-mail untuk melayangkan protes. Sasaran saya adalah pemimpin redaksi (Pimred). Yeap, bagi saya yang pernah 6 tahun di media, menembak target pimpinan biasanya akan lebih cepat direspons, meskipun saya tahu tulisan itu muncul karena peran editornya.  Tetapi dalam e-mail itupun saya CC ke e-mail editornya.

3. Saya tulis e-mail dengan model merekonstruksi apa yang menjadi keberatan saya dengan pointer-pointer. Mulai dari kapan majalah yang saya persoalkan terbit, di halaman berapa, rubrik apa. Lalu akan saya kuliti lagi di bagian mana saya merasa tulisan saya digunakan. Detail di sini sangat penting, supaya mereka tahu kita tidak main-main. Contohnya:
"Pada rubrik...di halaman...paragraf....baris...tertulis...bla...bla...bla....tulisan tersebut sama dengan tulisan yang ada di buku saya yang berjudul....halaman...paragraf....baris...yang tertulis..bla...bla...blaa..."

4. Begitu seterusnya sampai semua hal yang saya merasa keberatan terakomodasi di surat keberatan itu. Oya, tulis dengan bahasa sopan dan tidak marah-marah. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya orang yang tau etika di saat saya sedang mempersoalkan etika mereka. Dalam surat semacam ini, saya harus mencantumkan di dalamnya, tentang tindakan apa yang saya inginkan. Saya dalam kasus ini hanya menuntut mereka meminta maaf dan membuat ralat dalam edisi berikutnya, mencantumkan sumber artikel itu yaitu buku saya.

5. Tulis subject e-mail dengan jelas, tegas, tapi sopan. Misalnya : SURAT KEBERATAN ATAS ARTIKEL...Setelah semua komplit, tinggal saya kirim.

Tidak butuh waktu lama, saya lupa, tapi tidak sampai dua hari, saya mendapatkan balasan dari Pemred-nya. Beliau meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Dan selanjutnya, editor akan menindaklanjutinya. Saya menerima permintaan maaf dari Pemred-nya secara legawa. Tetapi saya agak heran dengan e-mail dari editornya, yang masih saja ngeles dengan menyatakan bahwa memang mereka biasa mengutip berbagai sumber untuk artikel di majalah itu.

Come on....apakah dengan mencantumkan "Dirangkum dari berbagai sumber" lalu Anda merasa bebas mengambil materi apapun, milik siapapun, tanpa izin dan tanpa mencantumnya nama pemiliknya? Kalau saya mau protes, dalam artikel yang memakai tulisan saya itu bahkan tidak ada sumber sama sekali, seolah redaksi mereka yang menuliskannya. Tapi ahh....sudahlah, saya tidak mau memperpanjang. 

Akhirnya saya tunggu sampai bulan berikutnya di mana edisi mereka terbit. Dan memang benar, akhirnya ada ralat di halaman / rubrik sama, dengan mencantumkan sumber tulisan. Saya tidak minta ganti rugi? Tidak. Bagi saya, langkah yang saya lakukan hanyalah ingin memberikan pelajaran ETIKA kepada mereka saja. Apalagi mereka adalah pekerja media, yang dalam asumsi saya pasti memiliki pendidikan dan pengetahuan bagus terkait persoalan hak atas kekayaan intelektual seseorang. Mereka ini pelaku di industri kreatif masak tidak tahu sih?

Selain itu, saya tahu persis, meminta maaf atas kesalahan, bagi perusahaan besar apalagi media, mungkin levelnya lebih berat daripada mengeluarkan duit yang "tidak seberapa" untuk menyelesaikan persoalan. Kenapa ? Karena saat meminta "maaf", itu harus dilakukan secara terbuka di medianya, di mana publik akan tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Lebih berat lagi bila itu terkait soal "menggunakan tulisan orang lain tanpa izin", wah berat itu...akan mengganggu kredibilitas mereka sebagai sebuah media besar. Itu persoalan integritas SDM mereka, dan akhirnya integritas perusahaan juga. Makanya saat mereka sudah meminta maaf, saya bisa menerima hal itu dengan legawa. Karena saya tahu, pasti berat bagi mereka.

Saya juga tidak mau lebih dalam menyulitkan editornya, karena dengan e-mail saya itupun, pasti dia sudah kena masalah dari boss-nya. Saya pikir, e-mail saya akan membukakan mata bagi semua orang yang terlibat dalam persoalan ini, maupun bagi orang lain saat saya berbagi tulisan ini, bahwa penting untuk menghargai hak atas kekayaan intelektual seseorang.

regards,

Ariy

3 comments:

DIAN Rustya said...

Poin ke-4-nya keren!
Menegur tentang etika dengan beretika (^_^)

sari widiarti said...

tulisan merupakan hak kekayaan intelektual. Media besar bisa berbuat begitu ya.. hmmmm..

semoga bisa jadi pelajaran.. :)

Ariy said...

terima kasih semua telah berkunjung ke blog saya :)