Saturday, August 30, 2014

Tiket Menuju Mimpi



“My mom told me to follow my dreams, so I  took a nap”

Separah itu saya waktu itu. Tipikal orang yang menghabiskan waktu untuk bekerja, pulang dan tidur. Padahal saya sebenarnya punya banyak mimpi sejak saya SMA atau bahkan lebih muda dari itu. Tapi saya tidak pernah percaya diri untuk mengejar mimpi saya, lalu memilih tidur. Iya, tidur...literally.

Dalam keluarga saya, tidak ada yang benar-benar sedang menjalani mimpi mereka. Tidak ada satupun. Saya bahkan sangsi mereka punya mimpi. Saat itu, semua sibuk untuk mencari uang untuk kelangsungan hidup. Kami tidak mengenal traveling dan hanya sekali dua ikut rekreasi bareng warga kampung, itu pun maksimal ke Yogya. Saya mungkin yang sering kelayapan ke luar kota sendiri atau bersama teman kalau ada sedikit uang sisa. Hampir sebagian besar hidup kami dihabiskan untuk bekerja. Kami tidak pernah punya uang sisa untuk traveling secara independen, karena bahkan bisa makan saja sudah bersyukur sekali. Bapak saya almarhum hanya seorang pensiunan veteran yang mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa dari pemerintah. Ibu saya (saya bangga dengan beliau) meski sudah tua masih sibuk cari nafkah dengan jualan alat-alat rumah tangga di pasar tradisional. Jadi jangan tanya apa kami punya uang untuk traveling, karena bahkan waktu sisa kami pun hanya habis untuk tidur – bekerja – tidur lagi.

Dibanding adik dan kakak-kakak, hanya saya mungkin yang memiliki banyak mimpi “liar”. Sejak SMA, atau bahkan lebih muda dari itu, saya mempunyai dua cita-cita besar. Pertama, saya ingin menjadi penulis. Kedua, saya ingin naik pesawat terbang ke luar negeri. Saya tidak pernah mengatakan mimpi saya kepada siapapun, karena malu. Malu diejek, “Orang miskin aja banyak maunya!” 

Soal menulis, memang menjadi hobi saya sejak kecil. Sementara soal naik pesawat terbang ke luar negeri, itu akibat racun dari kesukaan saya nongkrong di perpustakaan. Saya bisa berjam-jam membaca aneka buku dan majalah luar negeri di Perpustakaan Daerah, sampai petugas mengingatkan saya bahwa jam kunjung sudah habis.

Tetapi tahun demi tahun, hidup saya mulai mengalami perbaikan. Pertengahan 2009, saat saya sudah bekerja di sebuah koran lokal, mimpi saya untuk menulis buku dan terbang ke luar negeri masih saya simpan rapat-rapat. Daripada uangnya untuk beli tiket pesawat yang dalam benak saya waktu itu masih sangat mahal, saya memilih membeli motor baru secara kredit.

Sampai suatu saat, seorang teman di kantor menyodori saya sebuah tiket pulang pergi Yogyakarta-Singapura dari Air Asia bekerja sama dengan Singapore Tourism Board. Saya seperti terjengkang dari kursi. Ini serius? Saya bahkan belum punya paspor tapi langsung mengiyakan saja pemberian itu. Itu bakal menjadi perjalanan luar negeri saya yang pertama. Saya urus semua persyaratannya, dan semua sepertinya indah di awal. Sayangnya, ending-nya saya gagal berangkat karena tidak memperoleh izin libur. Saat itu langsung nge-drop!

Tetapi tiket Air Asia yang hangus itu tidak sepenuhnya mubazir. Itulah tiket saya sebenarnya untuk menuju impian saya. Dari situ saya mulai mengenal Air Asia, mengikuti setiap perkembangannya dan berjanji pada tahun itu juga saya harus terbang ke luar negeri dengan biaya saya sendiri. Tiket Air Asia yang hangus itu membukakan mata saya bahwa semua orang bisa terbang karena harganya memang tidak semahal perkiraan saya. Hanya sekitar tiga bulan kemudian saya mampu mewujudkannya. Saya simpan gaji bulanan saya, ditambah tunjangan hari raya, ditambah lagi menjelang akhir tahun itu saya mendapatkan cuti besar satu bulan namun gaji tetap dibayar full di muka. Saya sudah kegirangan...berasa ingin teriak...I am King of The World !! :)

Alhamdulillah. Saat itu juga saya booking tiket Air Asia rute Yogyakarta – Singapura, Kuala Lumpur – Chiang Mai, Bangkok – Penang, Kuala Lumpur – Solo. Ini adalah perjalanan sebenarnya yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya menuliskan perjalanan backpacking ke empat negara itu (saya sempat mampir ke Myanmar melalui jalur darat) dalam empat tulisan berseri di koran lokal tempat saya bekerja. Tulisan itu mendapatkan respons bagus dari pembaca, banyak yang terinspirasi dan ingin mewujudkan mimpinya ke luar negeri dengan low budget seperti saya. Tulisan itu jugalah yang mengobarkan semangat saya untuk mewujudkan mimpi saya. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita benar-benar punya keinginan kuat untuk mewujudkannya.

Euforia itu baru awal, karena saya harus tetap fokus pada mimpi saya yang lain. Keberhasilan perjalanan saya keliling empat negara dengan low budget membuat saya yakin, bahwa saya mampu melakukan perjalanan lainnya. Tuhan menjawab mimpi saya. Sebuah kompetisi menulis yang digelar sebuah penerbit nasional dan saya semangat sekali mengikuti. Saya harus membuat proposal untuk perjalanan ke sebuah negara dengan budget rendah. Tanpa adanya Air Asia, mustahil saya bisa mewujudkan proposal itu. Saya membuat proposal perjalanan berbiaya rendah ke China, dan lagi-lagi doa saya terkabul! Saya salah satu yang dipilih penerbit untuk mewujudkan mimpi saya terbang ke China dan membuat buku saya sendiri! Mimpi saya komplet dijawab serius oleh Tuhan satu persatu. Saya masuk ke China dari Kuala Lumpur – Guangzhou dan keluar dari China dari Chengdu – Kuala Lumpur, semua dengan harga tiket promo Air Asia. Saya bahkan tidak percaya jalan saya sejauh ini.

Sejak itu, hidup saya berubah total. Saya mengambil risiko untuk meninggalkan pekerjaan saya. Menjalani hidup sebagai penulis perjalanan, sementara di waktu senggang saya juga mencari duit dari menjadi travel planner, membantu mereka yang ingin ke luar negeri dengan harga murah karena hal itu bukan hal yang mustahil sejak ada Air Asia. Dalam hitungan jarak, sudah tidak terhitung berapa kilometer saya terbang bersama Air Asia

Bila ingat itu, dengan latar belakang kehidupan keluarga yang secara finansial kacrut berat, siapa sangka saya akan menjalani mimpi saya seperti sekarang ini? Keluarga saya bangga dengan saya. Di keluarga kami, sampai saat tulisan ini saya buat, hanya sayalah satu-satunya yang pernah naik pesawat (bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya terbang), dan...hanya saya pula satu-satunya yang pernah keluarga negeri. Kebanggaan keluarga saya bertambah, karena sekarang ini saya sudah menulis sebelas buku perjalanan, tulisan pernah dimuat di media lokal maupun nasional, beberapa kali di wawancara media, hingga menjadi pembicara dalam berbagai talkshow untuk berbagi pengalaman saya. 

Jadi kalau Anda bertanya bagaimana Air Asia mengubah hidup saya? Air Asia bukan lagi mengubah hidup saya, tetapi sudah menjungkirbalikkan hidup saya...dari seorang yang tidur dengan mimpinya, menjadi seorang yang sedang menjalani mimpi-mimpinya.

So, when your mom told you to follow your dreams...pack your backpack and go catch your dreams !!

2 comments:

thinkosphere said...

tahniah bro.. :)

Hanggono Okamura Silitonga said...

AA menjadi turning point from zero to hero yah

EPIC !