Wednesday, August 9, 2017

Nginep Simple dan Bersih ala Brothers Inn Babarsari Jogja (Review)

Ada teman saya yang suatu kali bertanya, kalau saya nulis review tentang hotel yang saya inapi gitu dibayar alias di-endorse nggak sih sama pihak hotel? Untungnya, sebagian besar saya tidak di-endorse sama pihak hotel. Saya bayar sendiri, dan tentu saja review saya akan lebih fair. Seingat saya, cuma sekali saya di-endorse oleh hotel, yaitu dari The Papandayan Hotel, Bandung. Selebihnya, bener-bener bayar dan penilaian independen.

Pertanyaan dia wajar, karena sekarang ini banyak review bayaran. Sah-sah saja bagi travel blogger di-endorse dan tidak dosa. Tetapi bagi dia sebagai pembaca yang ingin mendapatkan "kesaksian" yang jujur, kadang merepotkan. "Yang sering saya baca, kebanyakan penilaiannya jadi bias. Mungkin penulisnya nggak enak sama pihak hotel karena sudah mendapatkan kompensasi," ujar dia.

Bagi saya, sejujur-jujurnya "kesaksian", tetap aja itu subyektif dari kacamata penulis. Jadi memang kadang soal selera dan preferensi ini agak merepotkan dalam hal review. Panjang ya prolognya hahahaha...nggak, saya cuma ingin menggarisbawahi, soal selera ini semoga dipahami sebelum membaca review saya.

Seperti halnya saya sangat berselera dengan hotel yang minimalis dan kamar sempit. Ini soal selera, selain soal sayang aja bayar mahal untuk hotel hehehe. Yang lain pada ribut ingin kamar luas, kok saya malah cinta kamar sempit.

Nah, kali ini yang mewakili selera saya ini adalah Brothers Inn, di Babarsari, Yogyakarta. Pekan lalu saya menginap di sini dan saya membukanya dengan kata puas! Sebagai traveler on budget, anggaran menjadi pertimbangan saya untuk memilih hotel. Baru kemudian soal penampakan hotel, kemudian lokasi.

                                                                                              Foto: booking.com
Saya mendapatkan kamar ini dengan harga Rp 232.000 dari Traveloka. Kemudian karena saya memilih "bayar di hotel", harganya sekitar Rp 250.000 udah termasuk tax. Saya ambil juga karena penampakannya sepertinya menjanjikan.

Pertimbangan kedua soal lokasi. Babarsari adalah lokasi yang cukup saya kenal. Lokasinya belum masuk Jogja banget, tepatnya di Jl Babarsari 47, Yogyakarta. Kalau dari Bandara Adisucipto ke arah kota, sebelum masuk fly over Janti belok kanan (jalan samping Ayam Goreng Suharto masuk aja) atau muter dulu di bawah fly over. Lokasinya juga di sekitar kampus-kampus...beuuh...banyak banget resto, coffee shop, distro, warung burjo, Indomart, Alfamart (sampingnya pas juga lagi dibangun supermarket ini). Belum lagi deket dengan Sahid J-Walk dan J-Walk Mall. Ke Ambarukmo Plaza (Amplaz) pun juga tak jauh, meski tak sepelemparan kolor (kata temen saya, frasa "sepelemparan kolor" wajib ada di setiap tulisan saya).

Cara ke sana bagaimana? Sejak ada Gojek atau transportasi online lainnya, sepertinya paragraf tentang "how to get there" harus dihilangkan.

Sekarang mari kita ubek-ubek dalemannya. Saat tiba, proses check in sangat mudah. Tetapi saya lihat resepsionisnya kayaknya baru. Jadi kurang lancar dalam memproses, meski bagi saya sama sekali bukan masalah. Misalnya nih, cara menggesek kartu dia masih bingung, terus dibetulkan temannya (supervisor?). Lalu saat saya harus membayar deposit Rp 50.000, saya tidak mendapatkan tanda terima. Saya "oke" saja, tetapi saya pikir ini nanti di belakangnya bermasalah nggak ya? So far, proses check in cepet.

Saya dapat kamar 202, harga itu sudah termasuk dengan sarapan. Lift  tidak menggunakan access card system, hanya untuk pintu kamar saja. Pas masuk, saya lihat kamarnya emang sempit, luasnya 15 meter persegi. Tapi bagi saya cukup nyamanlah. Single bed mojok di deket jendela yang menggunakan gorden tarikan ke atas bawah itu (nggak tau namanya hehee). View-nya lumayan.

                                                                               Foto: dari Xiaomi Redmi-ku

Begitulah penampakannya. Bantal satu, dengan bed sepertinya masih baru, karena kayaknya ini hotel juga baru. Colokan listriknya di dekat bed komplet lho, satu colokan kaki dua dan satu colokan kaki tiga ada di sisi bed. Satu colokan kaki dua di meja mungil itu. Dua botol air mineral ukuran small, dua gelas, TV kabel dengan channel internasional yang...entahlah, saya hanya suka FOX Movie, lainnya tidak menarik.

Bagusnya, meski kamar sempit, tetapi karena penataan interiornya tepat, maka masih ada ruang cukup (di depan meja itu) untuk ibadah salat bagi muslim. Kelengkapan lainnya? lemari terbuka, dengan satu hanger baju dan rak (dua?). Tidak ada brankas barang berharga, tidak ada sandal hotel.

Lari ke kamar mandi, ada toiletries standar yaitu satu sabun hotel bulet sama satu botol kecil sampo, sikat gigi dan pastanya sebiji. Handuknya cuma satu (warna cokelat, kali biar nggak cepet kotor). Di sini juga ada colokan lagi. Shower-nya oke, hanya saja saya sempat kebingungan dengan krannya, biasanya untuk air panas kran digeser kanan (warna merah), dan dingin ke kiri (warna biru). Tetapi saya kurang memperhatikan warna, ternyata memang posisinya dibalik, yang panas ke kiri. Di sesi mandi pertama saya melewatkan air panas hehehehe. Sesi mandi berikutnya baru ngeh.

Saya tidak mengerti soal bangunan, tetapi yang saya tahu, suara luar sangat jelas terdengar sampai kamar. Untungnya saya bukan tipe orang yang tidak bisa tidur kalau nggak tenang. Mau seramai pasar malam ya hayuk aja...ngorok tetep.

Untuk sarapan, saya keluar jam 07.00 WIB. Yang terhidang saat itu adalah sayur sawi (wuenaaak) serta telur balado (telur rebus lalu digoreng dengan bumbu), kerupuk udang kecil, udah itu aja makanannya. Minuman ada kopi, teh atau air putih. Buahnya semangka. Tanggapan saya? Alhamdulillah, biasanya nggak dapet sarapan malah hehehe.

                                                                                               Foto: booking.com
Oya, Wifi-nya lumayan kenceng. Secara umum, saya memberikan 8 (dalam standar saya sebagai traveler on budget ). Kalau ke Jogja, tentu saja saya akan dengan senang hati untuk datang ke sini lagi.

Nah, bagian check out ini saya kan mau ambil deposit, eh masnya yang orangnya sama saat saya check in mendadak amnesia "Bisa minta tanda pembayaran depositnya Pak?" Badalaaaa...kemarin saya sudah ingatkan lho. Sekarang kok diminta.

Spontan saya jawab, "Lha kemarin saya minta nggak dikasih, Mas. Katanya nggak apa-apa nggak usah." Untungnya masnya nggak ngeyel, jadi proses ambil deposit dan check out berjalan lancar dan cepat.

Kalau Anda orangnya nggak rewel dan nrimo kayak saya hahaha, hotel ini nyaman dan simple, dan bersih...kata terakhir ini yang saya suka. Kelemahannya bagi traveler adalah memang lokasinya tidak di tengah kota, tetapi bukan di pinggir yang sepi gitu juga. Monggo kalau mau mencoba. Semoga berguna ya pengalaman saya ini :)

Salam,

Ariy 

2 comments:

Nasirullah Sitam said...

Nah ini yang perlu ditekankan, nggak semua hotel yang kita inapi itu endore. Jadi cukup kita sendir yg tahu apakah itu gratisan ato bayar sendiri.

Ariy said...

@Nasirullah Sitam : pertanyaan teman beralasan sih. Karena review sendiri dalam terjemahan bebasnya adalah laporan kritis terhadap satu subjek untuk kepentingan evaluasi. Yang kerap terjadi, endorsement melupakan soal kritik dan evaluasi karena memang bagi pihak klien itu adalah campaign untuk produk mereka, sementara di sisi lain pereview terbelah antara jujur dan nggak enak sama klien. Sementara pembaca ekspektasinya adalah mendapatkan informasi jujur. Begitulah.