Wednesday, December 2, 2015

"Ditahan" Imigrasi Singapura (bagian 1)

                                                                          Photo : www.moodiereport.com

Saya ingin membuka tulisan ini dengan kalimat, "Nasib saya tak seindah Bandara Changi"

Melas ya? Iya. Sangat. Hahahahaha. Sampai sekarang saya masih sering geli sendiri mentertawakan kesialan yang saya alami. Jadi begini, ternyata posting saya yang berjudul "Kena PHP AirAsia" masih berbuntut panjang. Sedikit kilas balik, saya mendapatkan tiket promo AirAsia dari Solo (SOC) menuju ke Singapura (SIN) untuk penerbangan tanggal 17 November 2015. Tetapi kemudian dibatalkan secara sepihak oleh pihak AirAsia. Berikut kutipan SMS mereka:

Dear Mr Ariyanto, your Airasia flight QZ 376 with booking No MHS1XN from Solo (SOC) to Singapore (SIN) on Tuesday, November 17, 2015 has been cancelled. Please check your email for more details. Thank you.
Nah, Anda bisa membaca kisah selengkapnya soal pembatalan itu di posting saya sebelumnya. Singkat kata, karena saya sudah telanjur membeli tiket lanjutan dari Singapura menuju Ho Chi Minh City (HCMC) Vietnam untuk tanggal 18 November (keesokan harinya), maka saya mau tidak mau dan bagaimanapun caranya harus menuju ke Singapura pada tanggal 17 November. Saya memiliki beberapa opsi, antara lain menuju Yogyakarta kemudian terbang ke Singapura; menuju Jakarta kemudian terbang ke Singapura; atau melalui Kuala Lumpur untuk kemudian terbang ke Singapura. Harga tiket via Yogyakarta tembus angka Rp 1 jutaan (padahal tiket lama saya yang dibatalkan hanya seharga Rp 100.000), sementara kalau via Jakarta saya harus naik kereta dulu ke Jakarta (kalau naik pesawat sama juga boong, berat di ongkos juga). Sementara kalau naik kereta ke Jakarta, jadwalnya tidak pas, sehingga saya harus menginap semalem (tambah biaya hotel, belum makan, belum transport menuju bandara). Dari tiga opsi itu, saya memilih mengambil tiket Solo-Kuala Lumpur - Singapura.

Dan tiket Solo-Kuala Lumpur - Singapura pun terbeli dengan harga total jenderal Rp 600.000-an (lebih bagus daripada Yogyakarta - Singapura). Tetapi ternyata keputusan saya ini berbuntut panjang. Dari awal saat saya bilang saya akan menuju Singapura melalui Kuala Lumpur, beberapa teman sudah menanyakan, kenapa harus lewat Kuala Lumpur ? Itu karena mereka belum tahu soal kasus pembatalan pesawat itu. Di sisi lain, kalau saya mau sadar, sebenarnya itu mungkin pertanda juga...sesuatu akan terjadi....jeng jeeeeeng....

Tanggal 17 November 2015 tiba. Perjalanan saya dari Solo - Kuala Lumpur dengan AK 357 berangkat dari Solo pukul 08.50 WIB lantjar djaja bahagia sejahtera, dan tiba di Kuala Lumpur pukul 12.15 waktu setempat. Di Kuala Lumpur pun saya tidak ada problem, semua berjalan dengan cepat, mudah. Saya transit di sini sekitar 5 jam, sebelum melanjutkan penerbangan ke Singapura. Yuhuuuuuuu !!! *sampai di sini masih girang tuh, super excited juga membayangkan besok ke Vietnam*
KLIA2 adalah bandara yang cukupanlah bagusnya. Tetapi sejujurnya saya lebih menyukai jaman-jaman pakai LCCT. Banyak kenangan sih di sana hehehe, selain juga banyak tempat tempat duduk buat rebahan bentar. Kalau di KLIA2 ini pelit tempat duduk. Di sini saya makan dulu di food court-nya, habis sekitar 12 RM atau berapa, lupa. Intinya, semua berjalan normal, nggak ada perasaan apapun...

Pukul 18.35 waktu Kuala Lumpur, pesawat AK 719 membawa saya terbang Bandara Changi Singapura.. Sekitar pukul 19.40 waktu setempat, saya sudah mendarat di Changi. Rencananya, saya akan bertemu dengan teman dari Jakarta di sini, sebelum keesokan harinya terbang ke HCMC, Vietnam. Pesawat mendarat di Terminal 1, Bandara Changi. Sampai di sini pun nggak ada problem. Sumpah lancar!

Oya, ini adalah kali keenam saya masuk ke Singapura. Tidak ada dalam sejarahnya, lima kali ke Singapura, ada masalah dengan imigrasi. Banyak yang takut saat pertama kali masuk ke Singapura, dengan paspor masih perawan. "Nanti ditanya-tanya apa ya?" "Petugasnya galak nggak ya?"
Pertama kali saya memerawani paspor ya ke Singapura, tahun 2009. Kala itu petugasnya super nice !! Saya hanya ditanya apa keperluan saya ke Singapura? Saya jawab "Traveling", dan dia membalas dengan senyum "Welcome to Singapore"...lalu dengan cepat menyetempel paspor saya...dooookkkk !!!

Itu tahun 2009. Tahun-tahun berikutnya, empat kali ke sana, semuanya super lancar. Tidak ada yang namanya dicurigai dan lain sebagainya. Makanya, nggak salah dong kalau yang keenam kalinya ini saya cukup pede bahwa semua akan baik-baik saja....iya dong??? eh iya nggak sih?

Turun dari pesawat, saya menyusuri Terminal 1, untuk menuju ke bagian passport control. Malam itu cukup sepi, antrian di passport control juga nggak banyak. Saya? masih dengan perasaan seneng, mood yang bagus juga. Saya ambil satu line dari beberapa line yang ada. Biasanya nih...saya suka memilih-milih meja imigrasi mana yang akan saya tuju. Saya biasanya menghindari petugas imigrasi babe-babe tua atau ibu-ibu tua. Nggak tau, di benak saya tua itu bawel. Saya nggak mau berurusan lama-lama di meja itu. Selain itu, saya juga profiling dulu...mana petugas yang auranya menyenangkan, senyum, dan yang penting bekerja cepat nggak bawel. 

Itu bekal saya...dan saya memilih line ini....sebuah jalur yang akan menuju ke meja imigrasi dengan petugas seorang cewek agak muda serupa Aishwarya Rai, si bintang Bollywood. Sepertinya dia ramah. Oh iya, dia juga manis. Sebelum-sebelum saya juga dapet stempel cepat...pasti saya juga akan mengalami hal yang sama bukan?

Lalu tibalah giliran saya...maju deh.

Serahin paspor.

Dia tengak-tengok tuh paspor.

Lalu di-scan.

Lalu meraih telepon (atau memencet tombol...saya agak lupa).

Lalu diam. Serupa tengak-tengok ke arah lain. 

Saya diam. Menunggu.

Dan tidak berapa lama, seorang laki-laki berpakaian sipil menghampiri saya setelah sebelumnya mengambil alih paspor dari si Aishwarya itu. Dia lalu menggiring saya menjauh dari meja....lho??? Lho?? kenapa ? ada yang salah ????

Saya mencoba untuk tenang, meskipun dalam hati saya sudah teriak-teriak "Matiiih dah...matiiih!". Saya sudah tahu, something wrong ini. Saya ikuti langkah laki-laki itu. Dia mempersilakan saya berhenti di sebuah pintu warna kuning (atau oranye, entahlah. Orang gugup sering mendadak buta warna soalnya). Jadi kalau Anda akan masuk area passport control di Terminal 1, maka ruangan itu tepatnya berada di sebelah kiri meja-meja imigrasi. Ruangan kecil, mojok. 

Laki-laki itu kemudian mengetuk pintu, dan seorang petugas perempuan yang gemuk dan serupa emak-emak, berseragam imigrasi (biru dongker), keluar. Lalu berbicara dengan laki-laki itu sebelum kemudian menggiring saya masuk ke ruangan itu sambil berteriak meracau....Di jemarinya yang gemuk-gemuk tergenggam paspor saya.

"Indon lagiiii...Indon lagiiiii...." diikuti semacam sumpah serampah yang saya nggak ngerti.

Saya terdiam di ruangan itu. Sebuah ruang sempit berukuran sekitar 3 x 7 meter dan disekat tiga bagian. Sempit sekali, karena di sana ada sekitar 15 orang lainnya yang bernasib seperti saya...entah menunggu apa. Saya mulai nervous.....

Ya Tuhan, jangan kirim saya balik ke Indonesia...saya kan belum sampai Vietnam...

To be continued..... 

5 comments:

tereCya said...

What??? Ke Singapura juga bisa ada kejadian ditahan dan masih dampak dari php airasia? Duh penasaran dengan kisah lanjutannya kak Ari..

MacGyver said...

tidak sabar menanti kelanjutan ceritanya

cipu said...

Waduh jadi penasaran ada apa nih mas Ariy? Ayo ditunggu lanjutan ceritanya

Nasirullah Sitam said...

Bisa jadi kali ini mas dikira TKI :-)
Ditunggu selanjutnya :-D :-D

ericka said...

Jiaaaaaaah mas Ariiiiyyy ... udahh tegaaangg bacanyaaa eehh to be continued hahahah
aduuuhh ada apakaah mas dirimu? Salut sampai sekarang masih berkelana hihihi .. jadi pingin aku berkelana lagi hahaha

Ditunggu yaaaa critanyaa, tag aku donng di FB hihihi
Sungguh mati aku Penasaraaaan!

Pria tampan yang jadi rebutan
hahaha