Labels

Ho[S]tel (29) Jelajah Dunia (58) Jelajah Negeri (57) Kuliner (17) Tentang Ariy (1) Thoughts (46) Tips dan Tricks (87)
Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Monday, November 6, 2023

Pengalaman Menang Menulis di Kwikku (Part 2)

Kwikku menurut saya platform menulis digital yang keren, sosial medianya para penulis dan sebuah "ekosistem" yang baik untuk mereka yang ingin belajar menulis. Di Kwikku saya menemukan tempat dengan orang-orang yang membuat saya tidak merasa aneh. Banyak dari mereka merupakan penulis-penulis handal, meskipun tak sedikit juga penulis fiksi pemula seperti saya. Saya juga berkenalan dan saling support terkait aktivitas menulis dengan beberapa anggotanya.

Yang membuat Kwikku "hidup" menurut saya salah satunya karena platform ini kerap mengadakan kompetisi, baik kompetisi tahunan yang hadiah totalnya ratusan juta, maupun kompetisi kecil-kecil yang hadiahnya di angka lebih kecil. Ini yang membuat para penulis bersemangat untuk berkarya. Saya pribadi menilai, cara belajar menulis yang bagus salah satunya adalah mengikuti lomba. Hal ini karena kita akan terpacu untuk menyelesaikan tulisan dan mematuhi aturan-aturan sebagai syarat lomba. Ini tentu mau tidak mau membuat kita akan lebih disiplin menyelesaikan tulisan. Di sisi lain, kompetitor yang banyak dan piawai menulis membuat kita terpacu untuk menghasilkan tulisan terbaik.

Saya mengikuti sejumlah kompetisi tahunan di Kwikku yang hadiah totalnya sampai setengah miliar itu! tapi alhamdulillah semua gagal. Tetapi saya suka saat juri-juri menyampaikan alasan-alasan mereka dalam menentukan pemenang, yang biasanya disampaikan dalam live pengumuman pemenang. Dari beberapa kali kompetisi tahunan itu saya mulai belajar apa sih yang sebenarnya dimaui juri? Tulisan yang bagaimana yang diinginkan? Saya coba serap ilmu-ilmu yang dibagikan para juri, yang menurut saya ini penting sebagai amunisi menghadapi kompetisi berikutnya.

Hingga akhirnya, 2023, jreeeng ... Kwikku dan Falcon Pictures kembali menggelar kompetisi tahunannya yang berhadiah 500 juta itu. Bagian anehnya (sumpah tidak bohong!) sebelum diumumkan tentang kompetisi 500 juta 2023 itu saya sudah berangan-angan satu hal, "Mbok sesekali dikasih tema. Lebih bagus lagi kalau temanya kerusuhan 1998". Ini serius, saya memikirkan itu. Hal ini karena saya memiliki ide untuk membuat novel berlatar kerusuhan 1998 dan saya merasa peristiwa 1998 itu seksi sekali kalau dibikin novel. Banyak aspek-aspek dramatis yang bisa digarap. Tetapi perlu digarisbawahi, bukan berarti saya hepi dengan peristiwa itu lho ya! Saya sedih bila mengingatnya, tetapi menjadikan sebagai inspirasi menulis novel akan membangun memori kolektif kita bahwa ada peristiwa itu dan jangan sampai hal itu kembali terjadi di negara kita. 

Ehhh ... lha kok di luar dugaan, Suatu hari, Kwikku  dan Falcon Pictures mengumumkan bahwa kompetisi 500 juta 2023 akan mengambil tema #SepotongKisahdiBalik98. Haduuh! itu kayak pertanda sebenarnya, kok kayak pikiran saya kebaca ya? Ini kayak kebetulan yang sangat saya tunggu. Gassss, kudu ikut! Saya excited banget!

Oya, untuk kompetisi kali ini bukan script film kayak sebelumnya, juga bukan novel. Lebih tepatnya adalah novela. Bagi saya ini lebih memudahkan karena nggak dikejar jumlah kata yang berjibun. Saya akhirnya memulai penulisan novela yang ingin saya submit di kompetisi ini. Oya, novela itu jumlah katanya tak sepanjang novel, namun lebih panjang dari cerpen. Semacam cerita bersambung kalau dulu jaman majalah masih hits. Novela yang saya submit adalah "Rahasia Rasri". Kisah seorang pemuda yang mencari ayahnya, yang akhirnya membuka sebuah rahasia besar tentang ibunya. Sudah yakin banget bahwa ini akan menjadi tulisan bagus yang pernah saya tulis. Butuh waktu lama juga karena saya harus "melemparkan diri" ke masa saya kuliah di tahun 1998 untuk mengingat aspek-aspek penting di jaman itu, sebagai pelengkap novela saya. Sekitar 2 bulanan akhirnya kelar ini novela. 

Novela "Rahasia Rasri" kelar sekitar awal bulan Juli. Sementara batas akhir pendaftaran kompetisi adalah awal Agustus, jadi masih cukup banyak waktu. Di tengah-tengah kekosongan waktu ini, eh lha kok ndilalah muncul ide baru untuk ditulis. Sayangnya itu sudah masuk minggu kedua bulan Juli, padahal minggu ketiga bulan Juli saya sudah terlanjur beli tiket pesawat untuk traveling hinggal awal Agustus. Mana sempat dalam seminggu selesai? Tapi ya sudah, ditulis aja, mau selesai atau tidak saya nothing to lose. Karena toh saya sudah submit satu novela.

Setelah "Rahasia Rasri" kelar, dimulailah penulisan novela kedua saya untuk kompetisi ini. Saya menulisnya alhamdulillah lancar banget, karena ide dan struktur tulisannya kayak sudah tertata di benak saya. Akhirnya dalam waktu satu minggu kelarlah novela kedua saya "Sepatu untuk Jenderal" untuk saya submit ke kompetisi ini. Jadi akhirnya, saya submit dua dan tentu saja berharap menang meskipun  tidak pede sih. Habis itu, saya lupa dengan kompetisi ini ... iya lupa, karena saya asyik traveling ke Ipoh, Malaysia dan Ayutthaya, Thailand selama sekitar 12 hari. Mungkin juga karena saya nothing to lose, sudah sering gagal, akhirnya jadi tidak terlalu kepikiran dan tak ada beban. Bahkan saya tidak menunggu-nunggu waktu pengumuman, eh tiba-tiba aja sudah bulan Oktober dan Kwikku plus Falcon Pictures mengumumkan bahwa tanggal 13 Oktober pukul 16.00 WIB akan ada live pengumuman pemenang Kompetisi Menulis 500 Juta Kwikku #SepotongKisahdiBalik98.  

Mau tahu perasaan saya pas hari pengumuman? Degdegan? enggak, Santai banget. Kayak, yaudahlah ya ... nggak mungkin menang ini. Saat pengumuman itu berlangsung, saya lagi rebahan di kamar dan tidak ada niat untuk menyaksikan pengumuman. Tapi kemudian ternyata penasaran juga hahaha. Ya sudah akhirnya buka laptop, mulai mengikuti pengumuman tapi sambil tetep rebahan, jadi kayak lagi dengerin radio.

Pola yang sama selalu dilakukan Kwikku dan Falcon, yaitu tak bertele-tele dalam mengumumkan hasil kompetisi. Saya suka yang begini. Padahal dengan total hadiah segede itu, perusahaan lain mungkin bakal bikin lomba dengan pengumuman pakai seremonial hihihi. Tapi Kwikku dan Falcon Pictures kayak humble dan simple banget. Mereka live wawancara para juri tentang gambaran karya peserta secara keseluruhan dan kenapa mereka memilih karya tertentu sebagai jagoan (menurut saya menarik disimak karena ini ilmu banget bagi saya). Oya, jurinya kali ini keren-keren: Dee Lestari, A. Fuadi, Okky Madasari, Luluk HF dan Erisca Febriani. Tak bertele-tele, akhirnya diumumkanlah para pemenang itu. Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun 2023 ini diambil 20 novela terpilih dan tidak ada juara 1,2, 3. Jumlah naskah peserta secara keseluruhan kata penyelenggara mencapai 1.000 lebih naskah. Nah, makin nggak yakin menang kan ya? Pertama diumumkan 10 novela favorit: urutan 1 ... urutan 2 ... urutan 3 ... kebuka tuh cover-nya satu-satu. Nggak ada novela saya hahaha. Lalu sampai urutan 8 ... kemudian urutan 9 ... eh, lha kok "Sepatu untuk Jenderal" nyantol! Astagaaaa ... nggak percaya banget saat moderatornya mengumumkannya di urutan ke-9! Alhamdulillah banget, meskipun nggak sampai jingkrak-jingkrak, tapi itu sumpah bikin kaget.


Baru setelah 10 cerita favorit, diumumkan pula 10 cerita favorit para juri. Rasanya tak bisa digambarkan senengnya. Apalagi kalau mencermati cerita-cerita lain yang terpilih, duh ... dari judulnya saja sudah bagus-bagus. Cover-nya keren-keren dan cover saya sederhana saja dibikin pakai Canva wakakaka (meskipun tak masuk penilaian). Kok bisa ya "Sepatu untuk Jenderal" kepilih? Padahal saya mengerjakannya tak seberat mengerjakan "Rahasia Rasri. Entahlah, hanya para juri dan Tuhan yang tahu. Yang pasti sudah hepi, akhirnya saya tembus juga menjadi pemenang di kompetisi tahunan Kwikku dan Falcon Pictures ini. Kerja keras saya untuk terus belajar menulis seperti terbayar. Rasa percaya diri saya tumbuh. Di sisi lain, hepi juga karena menerima hadiah Rp 25 juta hihihi. Bohong kalau saya tidak hepi dengan hadiahnya.

Kalau ditanya resep menangnya apa? Saya tidak tahu. Tetapi kalau soal "menulis" ini memang sudah kecintaan saya sejak sekolah. Jadi, menurut saya, kalau kita melakukan sesuatu, berkarya, dengan sepenuh hati dan cinta, soon or later akan ada hasilnya. 

Kalau kamu suka menulis, bergabunglah dengan platform menulis digital Kwikku, karena sekali lagi ini adalah platform keren buat belajar menulis. Oya, tulisan kamu juga bisa dimonetisasi di platform ini. Oke, sekian dulu cerita pengalaman saya. Terima kasih sudah menyimak!


Ariy

Saturday, October 28, 2023

Pengalaman Menang Kompetisi Menulis di Kwikku (Part 1)

Sejak novel saya "Yu Limbuk" menang di kompetisi menulis Storial bertema "Comfort Food" untuk kategori "Premis Terbaik" pada 2020, semangat saya untuk terus mengasah kemampuan menulis semakin menggebu-gebu. Ini bukan soal hadiahnya ya. Hadiah dari platform menulis digital Storial waktu itu bahkan nggak cukup buat traktir teman-teman hihihi. Tapi, entahlah ... itu kayak memberikan keyakinan pada diri sendiri bahwa saya memiliki kemampuan menulis. Selama ini nggak pede meskipun secara akademik saya lulusan Sastra Indonesia.

Sayangnya Storial kemudian hilang karena kesulitan finansial. Padahal platform itu menurut saya adalah salah satu platform menulis terbaik di Indonesia. Akhirnya saya mencari platform lain yang sekiranya bisa menampung hasrat menulis saya yang menggebu-gebu. Berjodohlah saya dengan Kwikku. Awalnya agak aneh juga mendengar nama Kwikku. Tapi kan tak kenal maka tak sayang ya? akhirnya setelah mengenalnya, saya merasa cocok berkarya di sini. Ditambah Kwikku ini sering bikin kompetisi menulis. Belajar menulis lewat kompetisi menurut saya salah satu cara terbaik.

Di Kwikku, saya sudah mendapatkan enam badge sebagai tanda saya pernah mengikuti enam kompetisi mereka. Kompetisi pertama, kalah. Kedua, ketiga, hingga keempat, tak berhasil juga. Nah, baru kelima kalinya, akhirnya naskah saya tembus menjadi pemenang.

Tahun 2022 kemarin Kwikku menggelar kompetisi menulis cerpen dengan dua tema sekaligus. Tema besarnya adalah "Spill Your Stories", lalu dibagi lagi menjadi dua tema yaitu "My Stupid Boss" dan "The Story Next Door". Saya awalnya tidak ingin ikut kompetisi ini. Tapi di last minute, akhirnya ikut juga dan submit di dua kategori sekaligus. Saya menyadari bahwa di Kwikku berjubel penulis-penulis yang berbakat. Itulah kenapa ya nothing to lose. Mau menang Alhamdulillah, nggak menang ya anggap saja sebagai proses belajar.

Eh, lha kok ndilalah, pas pengumuman, dua naskah saya masuk menjadi pemenang. Masing-masing di kategori berbeda, yaitu "Mukini & Mukidi" di kategori "The Story Next Door" dan "Greta Si Nenek Sihir" di kategori "My Stupid Boss." Akhirnya, jebollllll juga! Seneng banget karena sudah lama pengen memenangkan kompetisi di Kwikku. 


Beberapa kali sempat tidak percaya kalau dua cerpen saya menang. Setelah sekian lama berjuang, dapat satu aja sudah happy. Tapi ini dikasih kemenangan dua sekaligus, ya Alhamdulillah! Kemenangan ini juga menjadi suntikan energi luar biasa bagi saya untuk terus menulis. 

Beberapa teman bertanya apa tips biar bisa menang kompetisi menulis. Sejujurnya saya tidak tahu. Wong saya nulis ya ngalir saja, nggak ada beban. Nggak kepikiran teknis harus gini-gini, harus gitu-gitu, harus ini itu. Nggak sama sekali. Saya biarkan pikiran saya lepas bebas. Tetapi satu hal, saya memang sangat hati-hati perkara "kebersihan naskah". Bayangin aja, juri harus menyeleksi banyak naskah, ketika tiba baca naskah saya sudah typo sana sini. Langsung ditendang dong. Itulah kenapa saya selalu melakukan self-editing baik tulisan maupun substansi cerita, berulang, itupun pas sudah submit ternyata masih ada yang lepas! Huahauhahaha. 

Apapun, saya berterima kasih pada karakter-karakter saya: Mukini, Mukidi dan Greta. Gara-gara mereka saya bisa menang dan traktir teman-teman dari hasil hadiah Kwikku. Berharap mereka akan menjelma dalam bentuk buku. Semoga ... 

Next story ...  menang lagi! Tungguin ceritanya.

Friday, March 10, 2017

Review Film Trinity, The Nekad Traveler (waspadalah: mengandung spoiler)

Film Trinity, The Nekad Traveler  sukses membikin saya login kembali ke blog ini, setelah sekian tahun (serius, saya lama tidak update blog ini, mungkin hampir dua tahun ini on-off nggak jelas, dua bulan kadang hanya posting satu!). Tapi tangan saya gatal untuk segera menulis review dan saya tidak punya media lain yang lebih pas selain di blog. Akhirnya ngeblog lagi deh gara-gara Trinity!

Jadi banyak yang sudah tahu saya berteman dengan Trinity. Saya mengenalnya sudah sekitar delapan tahun karena kami berada di bawah penerbit yang sama. Kami dulu sering melakukan talkshow bareng di beberapa kota. Pernah jalan bareng juga. Pernah sekamar berdua (waks!), tetapi setelah itu lebih banyak terhubung via group Whatsapp. Saya ingin memulai review dengan kejujuran ini, supaya kemudian tidak ada yang bisik-bisik di belakang "ah elu kan emang temennya"...berpikir saya tidak fair...subjektif...dan lain sebagainya. Tapi apapun, saya yakin tidak ada sebuah penilaian atau review yang benar-benar objektif juga. Semua soal selera, soal minat, soal kata hati kan? Jadi mari dibawa santai saja kayak di pantai...yuk mulai...

Saya nonton film ini tanggal 7 Maret, saat Gala Premiere di Solo Paragon Mall, Solo. Dapat jatah enam tiket dari Trinity. Saya bawa tiga teman yang selama ini aktif di kegiatan grup jalan-jalan yang saya bentuk, serta dua teman wartawan yang nyaris tidak peduli dengan jalan-jalan atau mengenal sosok Trinity. Di acaranya, saya ketemu dua orang teman travel blogger lainnya.

Tiga teman yang aktif jalan-jalan dan saya sudah membaca buku-buku The Naked Traveler tentunya. Dua teman wartawan, mereka belum pernah membaca buku-buku Trinity. Kami berangkat dengan misi yang sama: bersenang-senang dan akan menikmati filmnya.

Bagi saya pribadi, saat akan melihat film yang berdasarkan buku, saya berusaha melepaskan diri dari bukunya. Saya tidak ingin membandingkan secara sengaja. Kalau pun kadang saat menontonnya tiba-tiba ingat bukunya, itu terjadi begitu saja. Kenapa saya tidak ingin membandingkan? Karena bagi saya, buku dan film adalah produk yang berbeda. Kalau kemudian hasilnya beda ya harus maklum. Buku sepenuhnya kuasa sang penulis, film lebih ribet karena menjadi sebuah proyek gotong-royong antara sutradara, penulis skenario, penata artistik, belum lagi campur tangan pemodalnya yang tentu akan dominan, dan lain sebagainya...dan lain sebagainya. Bahkan kadang si penulis bukunya tidak terlibat lagi ketika sebuah buku beralih rupa ke dalam film. Selain itu, saya pikir ada aspek-aspek teknis lain yang musti dipenuhi dalam mewujudkan sebuah film dan tidak ada dalam produksi sebuah buku. Selain juga ada resep-resep berbeda dari sisi marketing. Salah satu yang paling gampang menurut saya adalah di film harus ada romance. Apalagi kalau target penontonnya remaja. Duh, resep Hollywood wajib dimasukkan: romance !

Nah, dengan semangat itu, saya mencoba untuk membersihkan pikiran dari banyak prasangka sebelum nonton The Nekad Traveler. 

Tetapi, tak urung, sempat juga terpikir beberapa hal, apa yang akan muncul dalam film The Nekad Traveler ya? Karena setahu saya, di bukunya, Trinity ini nggak  keliatan ada romantis-romantisnya. Semua tentang bagaimana dia mengeksplorasi sebuah destinasi dengan segala kisah di dalamnya dan serunya cara mencapai ke sana, Nyaris tak pernah menyentuh remeh temeh soal cinta di bukunya. Dia juga pernah bilang suka ngilu baca novel romantis. Bahkan, buku keroyokan kami TraveLove, semua bicara cinta lawan jenis, dia sukses nyuri perhatian ambil betapa cintanya dia pada sang ayah. Nah, lho! Jadi mau bicara cinta seperti apa di filmnya? Itu kalau bicara cinta ya...

Saya juga membayangkan, menjadikan buku The Naked Traveler  ke dalam film adalah suatu kerja keras dari awal. Karena The Naked Traveler itu plotnya pendek-pendek. Mau dijadikan cerita panjang dibutuhkan rekonstruksi dari awal. Membangun benang merah yang tentu tidak bisa dibikin-bikin karena bukunya berdasarkan kisah nyata perjalanan penulisnya. Belum lagi destinasi di bukunya Trinity itu seabrek dan jauh-jauh. Nggak tekor tuh produser kalau bener-bener merealisasikan? at least 30 persen destinasi di buku aja udah berat. Jadi filmnya akan seperti apa?

Karena capek mikir, saya memutuskan untuk duduk manis di bioskop dan tidak perlu rewel banyak tanya. Lalu jeng-jengggg.... wajah ayu Maudy Ayunda tiba-tiba memenuhi layar bioskop. Memperkenalkan dirinya. Ayuneeee...rek !! Lalu mengalir dengan gambaran aktivitasnya sebagai mbak-mbak kantoran dengan pilihan-pilihan sulit antara memilih pekerjaan kantor atau jalan-jalan. Mbak-mbak yang suka dadakan memanfaatkan waktu liburnya yang sempit sebaik-baiknya demi libido travelingnya. Lalu tiba-tiba, sudah berada di Lampung. Bertemu seorang newbie traveler dan berkisah tentang beda traveler dan turis. Naik ke anak Krakatau, balik lagi ke Lampung dan bertemu dengan Paul (Hamish Daud)...karakter yang sudah saya tebak akan disisipkan untuk memenuhi "resep Hollywood" tadi. Kepala saya masih "tuing-tuing" muncul tanda tanya.

Perkenalan antara Paul dan Trinity sangat kaya di gambar, tapi miskin di dialog. Agak garing saat Paul tanya Trinity, "Kamu traveler?" dan diiyakan, lalu Paul juga menegaskan "Saya juga traveler". Setahu saya, seorang yang bener-bener suka traveling tidak akan mengklaim dirinya traveler juga.

Tapi dimaafkan gara-gara adegan berikutnya yang dengan spontannya Trinity nanya Paul "Boleh minta nomor kamu nggak?" Hahahaha. Itu dialog biasa tapi sumpah bikin ngakak. Saya nonton ini berasa Trinity sesungguhnya ngejogrok di depan saya. Di kehidupan sesungguhnya, dia itu suka tanpa tedeng aling-aling kalau ngomong. Suka nyeplos. Sampai saya kalau ketemu suka deg-degan. Kali ini bakal ditodong Trinity pertanyaan apa ya? Kira-kira bisa jawab gak ya?

Yang follow Twitter Trinity masih ingat dong gimana kalau dia balas pertanyaan tentang itinerary atau hal-hal teknis terkait traveling: "Googling!" Hahahaha. Itu dia banget!


Sampai di sini, saya melihat Maudy mulai kerasukan Trinity. Tetapi sampai di sini pula, saya belum tahu mau dibawa kemana ini plot. Apakah akan ngubek-ubek cinta-cintaan Trinity-Paul atau bagaimana? Dan sejujurnya, di titik ini, saya belum merasa terhibur. Gambar-gambarnya emang indah sih. Dan berhasil bikin teman di samping saya mulai berbisik "Kayak film dokumenter".

Tapi demi Trinity, saya sabar kok. Kan baru beberapa menit film main. Nggak boleh main prasangka dulu. Dan benar saja, berikutnya harapan saya mulai membumbung. Entah kenapa, penampilan Farhan dan Cut Mini sebagai bapak dan ibunya Trinity yang cuma sekian menit saja itu malah jadi appetizer sesungguhnya. Bukan Hamish bukan pula Maudy. Bahkan Cut Mini tanpa dialog panjang aja sudah bikin geli. Tampangnya, yak ampun...plonga-plongo kalau kata orang Jawa hahaha. Mohon maaf, ini penilaian bukan merujuk pada sosok Ibu-nya Trinity yang diperankan oleh Cut Mini. Tetapi saya mengenal sosok Cut Mini dalam beberapa film memang sudah lucu.



Dan setelah itu, seperti tidak terkontrol, film ini membuat mata saya nggak jadi ngantuk karena ada Ayu Dewi yang berperan sebagai Bu Boss-nya Trinity, serta munculnya dua temen Trinity si Yasmin dan Nina, serta sepupunya yaitu Ezra yang diperankan Babe Cabita. Dari sinilah kemudian plot mulai terlihat bangunannya. Rencananya tiga sahabat dan satu sepupu ini mau backpacking  ke Filipina, selain bagi Trinity sendiri perjalanan tersebut adalah ajang pembuktian diri serta misi merealisasikan bucket list-nya. Tetapi belakangan baru sadar kalau cuti Trinity habis. Dari sinilah kemudian konflik dibangun.

Konflik pertama adalah Trinity vs Bu Boss, konflik kedua Trinity vs Travelmates-nya. Di antara konflik inilah muncul kembali Paul (yang kemudian jadi konflik ketiga). Setidaknya tiga layers itu yang saya tangkap sebagai jalan untuk menyampaikan "pesan" sesungguhnya dari film ini.

Yang pasti, kebanyakan konflik itu diselesaikan dengan cara lucu yang bikin ngakak. Ada bagian saat backpacking  di Filipina kalau dibikin lebih gila lagi, pasti bakal seru. Saya sudah membayangkan road trip ala Film Hangover. 

Hanya di bagian Paul yang menurut saya agak bikin ngantuk. Untungnya, Maudy di bagian itu lagi cantik-cantiknya hehehehe. Impas.

Saya nggak mau cerita apa dan bagaimana konflik diselesaikan. Nanti kebanyakan spoiler. Yang pasti, banyak pertanyaan-pertanyaan saya terjawab. Tentang akan menjadi seperti apa buku The Naked Traveler dialihrupa ke dalam film. Well, jawabannya ini sebenarnya film tentang Trinity. Bukan film tentang buku The Naked Traveler. Bila sudah begitu, tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana membentuk cerita panjang. Karena bagi saya, sosok Trinity itu sendiri adalah kisah seru yang tidak akan habis kalau diceritakan. Dia adalah sosok inspiratif, lebih dari cukup untuk diambil kisahnya jadi materi sebuah film. Mau dibikin sekuel kedua? Tinggal ambil pas dia ambil S2 atau keliling dunia. Mau diambil sekuel ketiga? Tinggal nunggu dia menemukan pasangan jiwa dan menikah...eh...nganuh...

Sekadar poin-poin yang gatel banget ingin saya bagi juga:

1. Maudy aura cantiknya keluar banget. Dia sudah berusaha cukup keras untuk mendalami karakter Trinity dan patut diapresiasi. Dalam beberapa scene dia berhasil bikin saya sontak mikir "Ini Trinity banget!"

2. Hamish Daud, penting nggak penting. Tapi untuk pertimbangan tertentu saya tidak mempersoalkan kehadirannya. Secara akting so..so aja sih karena karakter yang dimainkannya kan emang adem tanpa emosi. Secara "kehadiran", iya...pasti dia bikin cewek-cewek muda berbondong-bondong ke bioskop dan jejeritan "Babaaaang...Babaaang." Dan menurut saya, itu bukan kontribusi yang kecil bagi kesuksesan film ini secara jumlah penonton nantinya.

3. Ayu Dewi dan Babe Cabita stealing the show. Karakter asli keduanya emang udah seru. Asal dikasih dialog-dialog yang pas aja, sudah...keluar gilanya !

4. Gambar-gambarnya memanjakan mata. Khususnya Ramang-ramang Makassar dan Karst Maros. Sukses bikin ngiler.

5. Dan terima kasih yang sebesar-besarnya telah memasukkan "Satu Bintang di Langit Kelam"-nya Rida Sita Dewi yang dinyanyikan ulang Maudy sebagai soundtrack film ini. Sungguh ini membayar beberapa komplain saya di awal tulisan tadi. Hehehehe.

Selepas nonton Gala Premiere, pukul 02.04 WIB saya sudah dijapri Trinity di Whatsapp  dengan dua pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini pula yang saya sebar ke teman saya lainnya yang ikutan saya nonton Gala Premiere. Inilah jawaban-jawab kami:

Pertanyaan Trinity: 

- Satu kata yang menggambarkan film The Nekad Traveler menurut kamu?
- What do you take from The Nekad Traveler ?

Saya: 
  • Fun
  • Sejak masih muda, kamu tahu benar siapa dirimu dan apa maumu. Visioner. Dan pesan ini penting bagi anak muda sekarang. Mungkin itulah real passion. Bukan melakukan sesuatu karena ikut-ikutan teman, atau ikut-ikutan tren.
Wida (wartawan, belum pernah baca buku TNT atau mengenal Trinity):
  • Inspiratif
  • Menginspirasiku untuk melihat indahnya Indonesia dengan keberagamannya.
Inoel (wartawan, belum pernah baca buku TNT atau mengenal Trinity):
  • Menghibur...hahahaha (lebih dari satu kata ya?)
  • Kalau soal travelingnya, aku kurang ngerti. Tetapi aku lebih melihat pesan-pesan soal friendship dengan segala ego yang menyertainya. Gitu aja sih.
Joko (hobi baca buku, sudah baca TNT, giat di aktivitas literasi):
  • Amazing
  • Bikin semangat kerja untuk dolan.
Yona (Mbak-mbak kantoran yang hobi traveling. Sudah baca buku TNT):
  • Dunia itu indah (lho kok korupsi dua kata).
  • Pesan film ini, jangan cuma di rumah saja.
Yoga (pelajar SMA, sudah baca buku TNT):
  • Awesome
  • Mumpung masih muda rugi kalau nggak traveling.
Aji (travel blogger, sudah mengenal sepak terjang Trinity):
  • Kentang !!
  • Nanggung. Apalagi buat yang sudah baca bukunya sampai akhir. Harus ada sekuelnya sih. Kemasannya bagus. Beberapa adegan lucunya juga asik, gak garing. Anyway, tolong tanyain ke Trinity, itu mantan bosnya kalau lihat filmnya gimana? aku yakin pasti kesel banget lihat dirinya diperanin Ayu Dewi hahahaha.
Begitulah. Meskipun banyak spoiler-nya, tetapi saya yakin yang selama ini udah baca buku TNT masih akan penasaran dan berlanjut nonton keseruan filmnya. Btw, semoga saya sudah terlihat cukup fair dalam memberikan review. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Trinity "You can't please everyone."  Yess, setuju...semua kembali ke masing-masing (selera) penonton. Apapun, saya sudah bangga dengan pencapaianmu, Mbakyu !

Salam,

Ariy and the gank 



Sunday, September 27, 2015

Buku Baru : TNT Anthology 2 (Seri Horror)


Dear Journer,

Kabar gembira nih yang nunggu The Naked Traveler (TNT) Anthology-nya Trinity. Karena mulai akhir September ini sudah dibuka pre-order buku TNT Anthology 2, seri horor. Yohooo....dan lebih serunya, saya juga nyumbang tulisan di sono hihihihi....pokoknya cihuiiii banget :).

Sedikit ngulik tentang buku ini, sebenernya sudah dibahas saat masuk tahun 2015 kalau nggak salah. Saat itu saya ditawari sama penerbit Bentang Pustaka, mau nggak ikut berkontribusi di buku TNT Anthology 2 ? Langsung aja saya sambar "Mauuuukkkk..." selama temanya saya bisa memenuhi. Seneng banget ditawari lagi, setelah di TNT Anthology 1 saya juga ikut nyumbang tulisan.

Nah, untuk seri kali ini temanya horror. Awalnya saya bingung juga, selama saya traveling, yang bener-bener horror, dapet penampakan, ya belum pernah. Tetapi saya inget satu pengalaman saat di Semarang yang bikin merinding. Nah, cerita itulah yang saya sodorkan. Awalnya juga ragu, apakah tulisan itu bakal memenuhi syarat. Lalu ngobrol sama Trinity, dia menyemangati dan bilang konsep cerita saya bisa masuk. Ya sudah...kirim dah ke penerbit.

Proses pengerjaannya juga nggak mudah. Bolak-balik revisi. Saya bikin ceritanya panjaaaaaang...ternyata karena keterbatasan halaman, musti dipotong banyaaak banget. Bingung motongnya, karena kalau kebanyakan dipotong, efek seremnya hilang. Namun, setelah melalui perjuangan panjang, kelar juga tulisan saya, dan langsung di-urek-urek ACC !!

Di sini, selain the one and only Trinity, ada saya, Cipu, Indohoy, Jenny Jusuf, Yovita, Rini Raharjanti, Susan @Pergidulu, Rocky, dan @Vabyo. Tuh kan, beberapa nama terkenal nongkrong di sana. Beruntung banget kan saya hehehehe. Totalnya, ada 11 cerita mencekam dari 10 traveler. Kalau ngeliat preview final draft-nya...gory banget ! Gak yakin deh saya bisa baca buku ini malam-malam di malam Jumat Kliwon lagi hahahaha. So, buat kamu yang demen buku horror, segera siapin diri buat menyerbu di toko buku terdekat yak. Buruaaaan...karena biasanya kalau ada nama Trinity, cepet habis ! :)
Salam,

Ariy

Wednesday, September 23, 2015

Kena PHP Air Asia

Dear Journo,

Hari ini dapet SMS tanda cinta dari Air Asia. Isinya macam gini:

Dear Mr Ariyanto, your Airasia flight QZ 376 with booking No MHS1XN from Solo (SOC) to Singapore (SIN) on Tuesday, November 17, 2015 has been cancelled. Please check your email for more details. Thank you.
Sungguh menyejukan hati hahaha. Mampus dah! Tetapi sebelum marah-marah, saya cek dulu email. Ternyata opsinya adalah mencari tanggal lain tanpa kena additional charges, yang kedua adalah uang yang udah buat bayar masuk di credit shell, jadi deposit buat beli tiket lain, yang ketiga adalah refund.

                                                      foto: www.harismibrahim.wordpress.com


Ini problem saya:

1. Saya benci sekali SMS dan email pemberitahuan dari mereka yang TIDAK MENGGUNAKAN kata "MAAF". Membacanya saja saya sudah melihat arogansi maskapai itu. Iya emang ada kata thank you for your understanding. Tetapi intinya tetap, kita sebagai penumpang musti ngertiin mereka, bahkan saat mereka membuat kesalahan dan tidak meminta maaf. (Ya Allah, saya galak bener ya?) hihihi.

2. Apa semacam ini ya nasib yang dapet tiket promo? selama bertahun-tahun hubungan saya dengan Airasia (saya sudah naik maskapai ini mungkin puluhan kali), sudah tiga kali kena pembatalan penerbangan AirAsia. Pertama, saat mau ke Chiang Mai, rute Solo - Kuala Lumpur dibatalin padahal ada penerbangan lanjutan ke Chiang Mai keesokan harinya. Otomatis akan hangus. Tetapi saya dapat ganti tiket penerbangan berikutnya tanpa bayar sama sekali. Kasus pertama ini bisa langsung ditangani karena pembatalan terjadi last minute saat saya sudah di bandara sehingga langsung bisa gebrak meja. Kedua, penerbangan Jogja-Jakarta batal karena Gunung Merapi meletus. Dan saya maklum dengan alasan ini. Saya juga dapat pesawat pengganti. Ketiga, ya kasus sekarang ini...Solo-Singapore, penerbangan saya dua bulan yang akan datang, dibatalkan. Dua bulan lho ya...tanpa disebutkan alasan. Kalau memang persoalan teknis, mosok dua bulan nggak bisa diantisipasi ??? curiga saya sih, nggak memenuhi kuota, dan dipastikan merugi (apalagi dollar tembus Rp 14.700) terus avtur mahal, akhirnya dibatalin nggak peduli calon penumpang teriak apa. Menurut saya sih, ini model siap promo tapi nggak siap rugi. 

3. Sekarang saya kebingungan. Pertama, dulu saya ambil tiket Solo-Singapore ini jujur karena ada promo. Makanya langsung booking aja, dan besok paginya saya juga sudah beli tiket Tiger Air rute Singapore - Ho Chi Minh City. Artinya, kalau saya batal berangkat tanggal 17 November itu, maka tiket saya Tiger Air juga akan hangus. Total jenderal, sejuta lebih bakal menguap. Bagi saya yang traveler dhuafa begini, duit segitu mah gede atuh. Kalau memang nggak serius promo, jangan PHP dong. Tau gini, saya kan bisa ke HCMC via Kuala Lumpur aja, atau direct dari Jakarta yang mungkin ada yang murah. Sekarang kan saya nggak ada pilihan.

4. Hari ini saya sudah layangkan e-form untuk refund ke Airasia. Dapat dipastikan saya harus keluar extra money untuk cari tiket pengganti. Dan sudah tidak mungkin mengambil rute Solo-Singapore karena yang dibatalin itu adalah satu-satunya penerbangan di tanggal 17 November. Saya sudah ngulik mencoba geser ke kota yang deket dengan Solo, Yogyakarta - Singapore, damn...sudah sejuta aja. Jakarta-Singapore banyak, murah meriah Rp 300.000-an, tapi saya juga harus naik kereta dulu ke Jakarta supaya tetep murah. Dan itu akan sangat melelahkan, selain juga saya harus mengambil tiket kereta satu hari sebelum keberangkatan (pasti keluar uang lagi buat makan di Jakarta, transportasi ini itu ke bandara, nginep, bla bla bla.). Kenapa nggak ambil kereta di tanggal 17 November terus langsung terbang ke Singapore ? karena jadwal kereta tanggal 17 tidak cocok dengan jadwal pesawat. Dapat dipastikan saya bakal ketinggalan pesawat kalo ambil tiket kereta tanggal 17. Duh.

See, ribet kan hidup saya?

Lanjutin nomer 4, kemungkinan saya akan melipir ke Kuala Lumpur dulu. Ini untuk mendapatkan harga yang murah. Kemungkinan Solo/Jogja - Kuala Lumpur, terus malemnya bertolak ke Singapore. Awalnya saya merencanakan bertolak ke Singapore pakai kereta dari Kuala Lumpur. Tapi saya cek online, tidak tersedia tiket kereta di tanggal 17 itu. Jadi sepertinya pesawat lebih aman, selain KL-Singapore banyak tiket murah. Selisih dengan direct flight AirAsia Jogja - Singapore sejauh ini masih Rp 200.000-an. Gak tau kalau ntar berubah lagi. 

Intinya, dari persoalan pembatalan ini, memang sangat merepotkan saya. Dan yang kayak gini management AirAsia mana mau peduli kan? Ya kalau saya duit banyak mah, tinggal maen bayar aja, kayak orang susah aja lu Ri hihihi...tapi kenyataannya ya emang saya traveler dhuafa. Bikin promo mah emang mainannya Airasia, tetapi dulu memang mereka perkasa, saat dollar belum setinggi ini, dan mungkin aspek lain soal ekonomi yang saya nggak ngerti. Tetapi sekarang? Yakin mau bikin promo free seat terus ? atau tiket Rp 100.000-an semua rute ? Yakin dengan kondisi ekonomi sekarang ini? Dari kasus seperti ini, saya belajar satu hal, jangan (lagi) tergiur tiket promo, karena bisa jadi mau untung malah buntung !

salam,

Ariy

Sunday, September 13, 2015

Pra-Indochina Trip (Vietnam-Kamboja-Thailand-Myanmar)

Dear Journo,

Dua kali sudah rencana trip saya ke Vietnam batal semua. Pertama, gara-gara ada kerjaan dadakan, yang kedua, karena uang saku harus digunakan untuk keperluan lain yang mendesak. Akhirnya menyimpan keinginan itu dalam hati.
Vietnam menjadi negara yang ingin saya kunjungi karena saya teracuni komik favorit saya, yaitu Tintin. Bagi angkatan tua macam saya, pasti dong kenal karakter ini. Selain Vietnam, Tintin di Tibet juga sangat nancep di kepala saya (duuuh...kapan bisa ke Tibet). Sementara itu, Tintin yang episode di China...well, setidaknya saya sudah mengunjungi China juga. Tintin menjadi karakter yang seperti representasi dari diri saya. Tintin yang seorang jurnalis ( yeap, saya juga mantan jurnalis hihihi), suka traveling (sama lagi), dan rambutnya cepak (sekarang saya juga  potong cepak, niru dia) hihihi. Temen saya, Alan, sampai bilang, sekarang saya "Tintin banget" hehehe.

                                                                    www.ebay.com
Bagi saya, namanya mimpi ya harus dijaga, dan soon or later harus direalisasikan. Nah, nggak ada angin nggak ada hujan, sekitar sebulan yang lalu tiba-tiba ada temen japri saya. Ngajak jalan lagi, well...sebenernya saya tahun ini memang merencanakan jalan lagi (setelah hibernasi lama), cuma belum tahu kapan dan kemana. Nah, temen saya ini ngajak ke India sekitar bulan November tahun ini. Saya oke saja, tetapi kelar mantengin skyscanner, saya langsung salim minta pamit saja. Gila aja, harga tiket pesawat round-trip sampai 6 yutaaaa!! Total jenderal bisa 10 yutaaaaan tuh buat lain-lainnya.

Putus asa mau kemana, karena tujuan terbatas (baca duit terbatas), jual diri buat beli tiket pesawat pun sudah pasti nggak laku, akhirnya saya kembali inget mimpi saya ke Vietnam. Ya sudah, tidak ada India, Vietnam pun jadi. Pas saya tawarin ke temen, dia oke dengan ketentuan berlaku macam promo-promo itu. Rencananya berempat, dua sudah mundur, akhirnya hanya tinggal berdua. Parahnya lagi, temen saya sudah pernah ke Vietnam. Piye jal ?

Akhirnya, kami kompromi. Dan inilah rute yang akan kami jalani nanti :

Solo (Jakarta) - Singapura (terbang)
Singapura - Ho Chi Minh City (terbang)
Ho Chi Minh City - Pnom Penh, Kamboja (bus)
Pnom Penh - Seam Reap (naik bus)
Seam Reap - Poipet (bus)
Poipet - Aranyaprathet, Thailand (naik tuktuk kayaknya)
Aranyaprathet - Bangkok (kereta)
Bangkok - Chiang Mai (kereta/bus)
Chiang Mai - Tachileik (bus)
Balik ke Chiang Mai lagi - Bangkok (kalo nggak capek bakal naik kereta/bus)
Bangkok - Jakarta
khusus saya, Jakarta - Solo naik kereta.

Tiket Solo - Singapura sudah di tangan, dapet Rp 100.000 doang pake Airasia. Tiket Singapura - HCMC dapet Rp 650.000 sekian dengan Tigerair. Terus tiket baliknya Bangkok - Jakarta yang rada mahal, udah dapet sekitar Rp 1,1 juta. Itu pun sudah promo. Total jenderal untuk pesawat saja hampir Rp 2 juta. Untungnya, saya barusan dapet honor nulis ikut buku keroyokannya Trinity, jadi ya kebayar. Alhamdulillah. Maklum sekarang saya kerja buat diri sendiri bukan mas-mas kantoran macam dulu, nggak bisa ngarepin gaji hehehehe. 

Nah, sebenernya problem awal adalah teman saya sudah pernah ke Vietnam. Sementara saya malah sudah dua kali ke Chiang Mai, Bangkok, Tachileik. Yang kami belum pernah kunjungi adalah Kamboja. Setelah melalui diskusi yang panjang, dan berusaha memendekkan ego, akhirnya sepakat dengan rute di atas. Highlight alias gongnya nanti adalah, kami akan menikmati Lantern Festival di Chiang Mai !! Ihiirrr, dua kali saya ke Chiang Mai nggak pernah dapet ini festival.

Kalau bagi saya pribadi, saya juga ngarep banget ke Killing Fields Museum di Kamboja. Selain itu, saya juga sangat tertarik dengan sejarah Vietnam. Maklum, sejak SD saya menikmati kisah-kisah tentang perang Vietnam, bagaimana warga vietnam tinggal di bawah tanah, ada rumah sakitnya pula. Saya bacanya di Majalah Intisari, berseri-seri dan keponya luar biasa sampai lupa makan lupa mandi. Deg-degan, itu kenapa bisa bertahan hidup di bawah tanah ya? Terus nggak ada yang kena claustrophobia ya? Ribuan orang lho hidup di bawah tanah, sembunyi dari perang. Nah, cerita dahsyat ini bener-bener merasuk di otak saya.

Sementara teman saya pengen banget ke Mui Ne, Vietnam di mana di sono ada Sand Dunes, semacam gurun pasir gitu deh. Kami akan mempertimbangkan dengan sangat untuk berkunjung ke Mui Ne ini. Perjalanan akan berlangsung selama 12 hari. Responsnya langsung pada "Gilaa! mundur aja deh kalau 12 hari". Kalau temen saya masih orang kantoran, kalau saya? Orang bebas. Asal kerjaan bisa diatur, ya berangkat aja atuh. Tidak ada target khusus dari perjalanan ini. Karena banyak teman yang nanya, mau bikin buku lagikah? Well, target utama saya mau fun aja. Kalau kemudian nanti muncul ide bikin buku, dan itu pun kalau penerbit mau, ya tidak ada salahnya. Tetapi sampai saat ini, belum ada rencana bikin buku apapun.

Doakan semoga berjalan lancar dan menyenangkan ya....sekarang giliran kamu, punya mimpi traveling kemana ? :)

Regards,

A

Saturday, August 15, 2015

Hotel Quickly, Aplikasi Booking Hotel Buat yang Suka Dadakan

Dear Journo,

Setelah sekian abad sekian tahun tidak menjamah blog ini, hari ini tiba-tiba saya ketemplokan jin entah dari mana untuk menulis lagi. Yessss, akhirnya saya kembali waras hihihi. Nah di posting perdana setelah lama nyungsep, saya mau berbagi cerita soal aplikasi Hotel Quickly (HQ), bagi yang suka traveling geradak-geruduk nggak persiapan, termasuk soal cari kamar hotel.

Saya termasuk telat sih pakai HQ. Baru ngeh setelah ada teman yang merekomendasikan aplikasi ini. Gara-garanya saya ambil hotel di kawasan Stasiun Tugu, Yogyakarta dengan harga Rp 250.000 per malam, padahal hotel kecil dan ya begitulah kondisinya. "Dengan duit segitu, bisa dapet hotel bintang yang bagus" racun teman saya mulai menyebar.



Baru dari situ kemudian saya mengenal HQ. Download aplikasinya dari Play Store. Nah, setelah daftar, maka kita dapat kode promo. Kode promo ini yang bisa kita share ke teman kita, kalau ada yang menggunakan kode promo kita untuk booking hotel, maka akun kita akan dapat point senilai Rp 170.000. Jadi permainannya gini...eh, prosedurnya gini: kita buka aplikasi, pilih negara, pilih kota, lalu akan muncul penawaran kamar-kamar hotel-hotel bintang dengan diskon bahkan sampai 70%....iya saya nggak salah nulis kok, 70%, meski nggak semua ya. Nah kamar yang tersedia adalah untuk tanggal inap hari H saat booking dan H+1 saat booking, iya sangat last minute. Sebelum itu nggak akan muncul penawaran kamar. Jadi nggak bisa booking jauh-jauh hari. 

Lalu, sebagai pemilik akun baru, maka di booking hotel pertama kali, kita bisa menggunakan kode promo teman (cari yang udah punya HQ), maka kita akan dapat potongan lumayan gede (plus nyumbang temen Rp 170.000 yang kode promonya kita pakai). Pembayarannya pakai kartu kredit yang sudah kita daftarkan di aplikasi atau menggunakan paypal.

Mudah kan? Bagi saya pribadi sangat terbantu. Karena saya sering banget jalan ke luar kota secara dadakan, nggak mikirin mau nginep di mana. Tau-tau udah bingung aja nggak dapat kamar hotel yang sesuai budget. Kali pertama pakai HQ, saya menggunakan di Whizz Hotel Semarang. Weekend saya dapat harga Whizz Rp 200.000, itu harga setelah dapat diskon sekitar 20% dan pakai kode promo Rp 53.000. Sudah termasuk breakfast ya. Pulangnya, saya masih dapat voucher dari Whizz senilai Rp 50.000. Lumayan.
Yang kedua, saya menggunakan di Jogja, dapat Midtown Express dengan harga Rp 100.000 per malam, tanpa breakfast. Itu menurut saya harga terkeren karena hotelnya juga lumayan bagus (untuk ukuran saya). Yang ketiga pakai HQ, saya menggunakan untuk menginap di Citradream Hotel di Semarang, dapat harga Rp 255.000. 

Saya pernah dengar sih, ada yang takut pakai kartu kredit karena dibobol dan segala macem. Sejauh ini, saya tidak mengalami masalah. Saya merasa sangat terbantu, karena sekarang enteng aja mau keluar kota, tinggal klik dadakan, udah dapat kamar dengan harga reasonable di hotel berbintang. Bagi Anda yang punya mobilitas seperti saya, suka dadakan, suka go show hotel, cobalah HQ. Oya, ini aplikasi bisa digunakan untuk hotel di seluruh dunia. Makanya, segera pasang di smartphone Anda. Jangan lupa, pertama booking, pakai kode promo saya ya...pleaseee hihihi. Ini kode promo saya:

AARIY22


Oya, Anda juga bisa dapat reward instan dengan membagikan kode promo Anda di Facebook sebesar Rp 10.000 sekali per bulan. Dan di Twiiter juga Rp 10.000 sekali per bulan. Bagikan juga dengan kontak Anda, maka Anda akan mendapatkan Rp 60.000 sekali per sepanjang masa. Hahaha, saya sudah seperti juru bicara HQ. Nggak kok, tulisan ini bukan bagian dari endorsement HQ. Saya cuma ingin berbagi sesuatu yang (mungkin) bermanfaat bagi traveler yang tipenya seperti saya.

Selamat mencoba yaaa...

Ariy

Sunday, December 21, 2014

Gathering Backpacker Jogja-Solo-Semarang [Joglosemar]


Dear Journer,

Lama nggak update blog, ampuni saya hihiihi. Karena memang lagi ada banyak hal yang dilakukan di dunia nyata. By the way, salah satu oleh-oleh dunia nyata saya, akan saya bagi di posting kali ini. Jadi ceritanya setelah sekian lama saya membentuk grup di Facebook yaitu : Backpacker Joglosemar [Jogja-Solo-Semarang], saya ingin ngadain Kopdar lagi. Dulu pernah sih ketemu nggak resmi, sekitar tahun 2010. Tetapi setelah itu lama nggak ngadain Kopdar. Oya, grup ini tidak membatasi anggotanya asal Jogja, Solo dan Semarang saja lho. Malah banyak yang dari kota-kota lain.

Dengan jumlah member sekarang mencapai 4.650 lebih...and still counting, rasanya tak muluk-muluk ada keinginan kopdar. Sebelumnya sih emang banyak posting di wall yang nanya kapan diadain kopdar. Tetapi belum benar-benar ditanggapi. Tipikal orang Indonesia, lebih banyak keinginan tapi susah diajak mewujudkan hihihi. 

Suatu saat saya iseng, ingin ngetes sejauh mana sih respons member untuk kopdar. Dan ini bukan hal yang mudah sodara-sodara. Ngajak meeting awal aja susah banget. Responsnya di wall sih banyak, tapi kalau sudah dicarikan hari atau tanggal, ada aja yang lepas. Sampai suatu saat saya udah tentukan hari, sudah saya private message yang pada respons, eh ternyata nggak mengerucut. Ya sudah, saya hampir nyerah. Tetapi kemudian tiba-tiba pas hari H meeting pra acara, ada yang ngabarin telah meluncur ke TKP meeting. Yang meluncur ini namanya Rakhmat asal Tangerang. Akhirnya, gara-gara Rakhmat pula terselenggara meeting pra gathering. Meeting ini hanya dihadiri saya, Rakhmat, Ika dan Mas Joko. Berempat kami sepakat bahwa gathering tetap harus dilaksanakan berapapun jumlah yang datang. Ika yang paling semangat. Thanks Ika hihihi.

Dari meeting pra acara itu, akhirnya jalan menuju gathering semakin terang. Berikutnya, secara dadakan saya undang beberapa teman yang berada di sekitar Solo untuk ngumpul suatu malam. Meski dadakan dan dihantui hujan, malam itu terkumpullah beberapa teman di Wedangan Gower, Stadion Sriwedari. Saya sangat mengapresiasi kehadiran mereka. Terima kasih: Yuli [Sukoharjo], Mbak Titin [Karanganyar], dan teman-teman dari Solo seperti Bayu, Mas Yosh, Mas Sen, dan tentu saja nggak ketinggalan Mas Joko, Rakhmat, dan Ika.


Meeting di Wedangan Gower ini menghasilkan kesepakatan bahwa acara akan dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2014, hari Sabtu, start jam 09.00 WIB. Awalnya mengagendakan city tour Kota Solo dengan mengggunakan Bus Wisata Werkudara, lalu piknik bareng di Taman Balekambang. Tetapi ternyata setelah kontak dengan pengelola Bus Wisata Werkudara, jam 09.00 WIB Bus Werkudara sudah fully booked, termasuk yang jam 12.00 WIB. Kami hanya bisa ikut yang jam 15.00 WIB. Melihat kondisi ini, agenda acara diubah, piknik dulu mulai jam 11.00 WIB, lalu sorenya city tour keliling Kota Solo dengan menggunakan Bus Wisata Werkudara.

Respons yang pengen ikut ternyata lumayan. Meski nggak luar biasa juga jumlahnya bila dibandingkan jumlah anggota yang ribuan itu hehehehe. Paling salut sama anak-anak Jogja yang semangat sekali, sehingga membuat kami yang di Solo tak kalah semangatnya untuk menyelenggarakan acara ini. Terima kasih buat anak-anak Jogja, seperti Ocie, Dita, Ayun, Widy, Ryndo, Tyas. Terima kasih juga untuk anak-anak yang lain seperti Mas Fauzi, Mas Toni, Ade, Bakti, Estoe. Maka siang itu, terkumpullah anak-anak yang doyan backpacking mewakili Solo, Jogja, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, dll. Sayangnya tidak ada perwakilan dari Semarang, karena satu-satunya anak Semarang yang akan ikut, akhirnya batal datang.

Bagi saya, Ika dan Mas Joko, yang malem sebelum hari H ngumpul untuk membahas persiapan, jumlah yang datang sudah cukup melegakan. Kami bahkan awalnya mikir, "Jangan-jangan jumlah doorprize akan jauh lebih banyak dari jumlah yang datang" hahaha...eh tetapi emang benar, meski yang datang melebihi ekspektasi, tetapi doorprize yang kami sebar pun juga banyak. Jadi semua dapat hihihi.


Piknik siang itu di Taman Balekambang, yang alhamdulillah cerah banget padahal sehari sebelumnya hujan hampir 24 jam, berlangsung meriah. Banyak banget makanan lho. Dita yang sekolah masak dan Ocie, memasakkan kami chicken wing, nugget, nasi goreng, dan makanan lain. Terus Ayun bawa brownies. Belum lagi Ika khusus masak smoked beef, dan yang nggak disangka adalah Mas Toni yang bawa cemilan banyak, termasuk cemilan dari China. Oya, nggak lupa juga Mas Fauzi mewakili Solo membawa makanan khas Solo yang lezat yaitu....Serabi Nototsuman ;}

Ngomong-ngomong soal doorprize, emang banyak banget banget. Terutama sumbangan dari Mas Yosh yang bawa banyak banget gantungan kunci, kaos, tas, payung, sampai mug. Sementara saya bawa kaos, buku-buku karangan saya, dan teh dari Jepang. Terus masih ada doorprise buku karangan Ayun. Semua yang datang kebagian doorprize lho....seruuuu...

Kami banyak sharing tentang traveling. Tepatnya saya, Ryndo, Ika, sedikit tambahan dari Ayun dan Mas Toni, karena yang lain lebih banyak diem sih hahahaha. Lain kali sesi sharing harus banyak ngobrol ya kakak-kakak. Mungkin karena baru kenal, jadi masih pada malu. Dalam sesi itu, saya cerita awal berdirinya grup serta aturan nggak boleh buka lapak alias dagang di wall grup. Tetapi kalau pas Kopdar mau dagang boleh kok hihhihi. Selain itu, juga perkenalan masing-masing yang datang, serta berbagi pengalaman traveling. Siang itu, kami mendapatkan banyak teman dan tepatnya keluarga baru.

Setelah kenyang makan-makan dan sharing, tiba saatnya city tour Kota Solo. Rutenya adalah dari Taman Balekambang kami jalan dulu ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo tempat garasi Werkudara. Lalu mulailah kami keliling, menyusuri Jl Slamet Riyadi sebagai jalan protokol, melewati beberapa spot wisata seperti Museum Radya Pustaka, Taman Sriwedari, Museum Batik Danar Hadi, lalu melewati kawasan Gladag di mana spot ini ada pusat kuliner Galabo, Keraton Kasunanan Surakarta, Pasar Klewer, Kampung Batik Kauman, lalu melewati titik nol di kawasan Pasar Gedhe, meluncur hingga ujung timur Kota Solo, tepatnya di Taman Satwa Taru Jurug. Di titik ini, penumpang yang duduk di bangku atas, wajib tukar dengan penumpang di bangku bawah.

Bus Wisata Werkudara pun kembali melaju berbalik arah menuju ke titik nol lagi, lalu berhenti di Benteng Vastenburg. Di lokasi ini, penumpang dipersilakan turun untuk berfoto. Kami pun tidak menyia-nyiakan:


Dari Benteng Vastenburg, kami lalu menyusuri Jl Kapten Mulyadi - Jl Veteran - hingga balik menuju ke Dinas Perhubungan Kota Solo. Kelar city tour, masih lanjut dengan foto-foto dong. Oya, beberapa teman setelah foto-foto harus cabut pulang. Tetapi yang masih gabung, lanjut untuk makan di Cafe Wedangan 2, samping GOR Manahan sampai malem. 

Habis dari sini, kayaknya udah kecapekan semua, jadi sepakat diakhiri setelah sebelumnya merencanakan untuk jalan lagi kapan-kapan, termasuk mau jalan bareng ke Sekaten, Semarang, Jogja, dan kota-kota lain. Bagi orang Solo sih gampang ya, habis itu pulang istirahat. Tetapi temen-temen Jogja harus berjuang lagi untuk pulang nunggu Prameks di stasiun hahahaha...terima kasih buat semangatnya ya...

Tidak sia-sia teman-teman Solo mempersiapkan semua. Cuaca juga sangat mendukung. Next time, kami berharap teman-teman Semarang dan kota lain akan bergabung. Tunggu ya cerita kumpul-kumpul kami berikutnya. Buat yang belum gabung, dan pengen gabung, join aja di grup Facebook: Backpacker Joglosemar. Saya tunggu yaaa...

Regards,

Ariy

Thursday, October 23, 2014

Kudeta di Kereta




                                                          Foto: www.kereta-api.co.id
Kereta api termasuk salah satu alat transportasi favorit saya. Apalagi untuk jarak jauh, saya lebih memilih menggunakan kereta api daripada bus. Kalau naik kereta api, berasa lapang dan lega saja. Belum lagi bisa jalan-jalan di gerbong kalau kaki pegal. Tetapi karena saya termasuk traveler on budget, jadi naiknya pun kelas ekonomi atau maksimal bisnis. Seumur-umur, baru sekali naik kereta eksekutif. Lagian, harga tiket kereta eksekutif sekarang bersaing dengan pesawat, jadi kalau pun ada duit lebih mending naik pesawat.
            Sebagai pengguna kereta api sejak jaman jebot, saya ngerasain gimana kereta api dulu -menurut saya- tidak manusiawi. Desak-desakan, panas, kalau pun ada kipas angin ada aja yang nggak nyala, dengan segala tetek bengek bawaan penumpang (plus kalau ada yang masuk angin, campuran bau rheumason dan aroma sarapan yang keluar lagi..yaiks). Sekarang banyak sekali kemajuan yang dicapai pihak pengelola transportasi jenis ini di negeri kita. Beberapa “produk” terbaru mereka pun selalu ingin saya coba. Waktu muncul kereta api ekonomi ber-AC seperti KA Gajahwong atau KA Bogowonto, saya pun juga mencobanya. Jauh lebih manusiawi. Ademnya dapet, bersihnya juga. Sejauh ini, penasarannya cuma satu, naik KA Gajayana jurusan Jakarta – Malang via Yogyakarta yang kata temen, itu paling mahal. Terakhir saya cek, harganya sampai Rp 560.000! *dadah-dadah*
            Nah, kalau berbicara tentang reformasi di bidang perkeretaapian yang mulai jalan, saya melihat persoalan mendasar adalah mentalitas penumpang. Kalau bicara ini, udah pusing rasanya. Kalau kata orang tua, ngurusi anake wong akeh ki yo kudu sabar. Ngurusin anak orang banyak itu butuh kesabaran. Nyaris sama dengan persoalan lain yang terkait antrean, susah ngajak orang Indonesia antre tertib di loket. Antre masuk ke gerbong (ngapain rebutan kalau kursi kita sudah bernomor?), dan lain sebagainya-dan lain sebagainya.
            Soal kursi ini memang sangat menjengkelkan. Pengalaman saya naik kereta api (beberapa kali dengan beberapa jenis kereta) selalu kursi saya diserobot orang. Kok bisa? Ya karena saya pikir semua tiket sudah bernomor kursi, pastilah masuk ke gerbong kapan pun nggak akan ada masalah. Saya paling males kalau mau naik gerbong harus berebutan, sikut-sikutan, sampai ada yang kejengkang. Makanya, biasanya setelah longgar, saya baru masuk. Tapi ternyata strategi ini salah. Selalu saja kursi saya dipakai orang.
            Kenapa kursi menjadi penting? Karena ini menjadi kunci nyaman nggaknya perjalanan saya berkereta. Biasanya nyari kursi yang dekat jendela, biar bisa merem dengan sukses, atau kalau lagi galau bisa sok-sok menerawang ke luar jendela dengan iringan music mellow di headset ala-ala scene film romantis hihihi. Kalau eksekutif, ambil seat  A atau D. Tapi kalau ekonomi, ambil aja seat A atau E. Tetapi ya itu tadi, selalu ada orang yang main serobot. Satu kali pernah naik KA Gaya Baru Malam Selatan (ekonomi) dan dapat kursi satu bangku bertiga. Waktu liat tiket ternyata dapat kursi A, udah lega aja rasanya. Artinya, saya bakal duduk di dekat jendela, meskipun harus empet-empetan sebangku bertiga dengan dua penumpang lain. Masuklah saya ke gerbong, dan seperti sudah ketebak, ada manusia sudah teronggok di kursi saya.
            “Mas…ini 15 A? Kursi saya,” towel saya ke seorang pemuda kurus item yang sok pura-pura tidur. Dia diem aja, nggak mencoba buka mata.
            “Mas…ini kursi saya,” kali ini saya tepuk pundaknya.
       Dia berlagak ngolet merenggangkan tangan. Yaelah, ini kereta kan baru mau berangkat, bagaimana bisa dia sok udah nyenyak tidur.
           “Sama saja, Mas,” jawab dia tanpa memandang.
         “Beda Mas, itu kursi saya yang Anda pakai,” kata saya sambil menyodorkan tiket menunjukkan bukti bahwa dia udah nyerobot. Eh dia langsung merem aja tanpa mendengarkan omongan saya. Akhirnya dengan dongkol, saya banting pantat di samping dia. Sekarang saya terpaksa duduk di kursi 15 B, karena tak berapa lama duduk penumpang lain di 15 C. Posisi saya diapit pemuda kurus belagu itu dan ibu-ibu gemuk. Sesak sekali secara badan saya juga gede. Itu berlangsung selama 12 jam-an sampai saya terbebas di Stasiun Purwosari Solo.
            Peristiwa itu pelajaran banget. Setelah itu, saya ikuti ritmenya. Ayo aja kalau memang mau sikut-sikutan masuk gerbong. Asal bukan orang tua, ayo aja. Next trip dengan kereta api ekonomi, saya berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kursi A tercinta. Setengah lari saya mencoba mendapatkan apa yang menjadi hak saya. Giliran sampai di gerbong yang bener, yaelah…sudah ada yang menduduki ! Sial.
            Dan seperti dejavu, peristiwa di KA Gaya Baru Malam Selatan terjadi lagi. Saya dengan bersungut-sungut harus merelakan kursi di samping jendela. Untungnya, kursi ini bukan untuk bertiga tapi berdua saja. Kali ini yang menduduki adalah laki-laki separuh baya dan pas saya datang gayanya sudah sok tidur lelap saja. “Tidur” adalah modus yang sering digunakan biar tidak diusir. Ini justru memunculkan ide untuk mengambilalih hak saya. Perjalanan panjang, saya berharap dia sekali atau dua harus pergi ke toilet. Di saat itulah saya akan melakukan pengambilalihan kekuasaan atas kursi A.
            Benar juga, sepertiga perjalanan saya lihat dia berdiri, minta jalan ke toilet. Saya singkirkan kaki yang menghalangi jalannya dengan ogah-ogahan. Begitu dia berjalan ke toilet, langsung saya merangsek ke kursi dia yang berada di dekat jendela. Setelah itu pura-pura tidur nggak peduli setan lewat.
            Pas orang itu balik dari toilet, beberapa kali dia menowel pundak saya. Mungkin mau minta balik kursinya. Tapi sorry man…ini kursi yang telah kau rebut. Saya diam dan pura-pura tertidur sampai perjalanan berakhir di Jakarta. Pasti tuh orang gondok sekali dan nyesel udah ke toilet. Yes!! Kudeta berhasil !!