Labels

Ho[S]tel (29) Jelajah Dunia (58) Jelajah Negeri (57) Kuliner (17) Tentang Ariy (1) Thoughts (46) Tips dan Tricks (87)
Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Sunday, March 2, 2014

Wisata Kuliner di Pasar Blauran Surabaya

Dear Journer,

Salah satu yang menarik dari traveling adalah saat saya berburu makanan khas atau makanan tradisional suatu daerah. Tempat saya berburu makanan khas macam-macam, mulai dari tempat mangkal resminya, food court, sampai blusukan di pasar tradisional.

Surabaya menjadi salah satu tempat yang menurut lidah saya, cocok buat kulineran. Teman saya yang asli Surabaya mengatakan, saya harus ke Pasar Blauran kalau ingin kulineran di Surabaya. Maka ke sanalah saya untuk berburu makanan nikmat. Pasar Blauran gampang dijangkau. Seingat saya, saya naik bus Damri dari Tunjungan Plaza terus langsung turun di Pasar Blauran (buat orang asli Surabaya, bantu benerin ya kalau keliru hihihi, soalnya lupa-lupa inget).

Di Pasar Blauran ini, Anda bisa mengeksplorasi makanan-makanan khas atau makanan tradisional yang mungkin tidak bisa Anda temukan di tempat lain. Jajan pasar banyak, termasuk kue-kue basah atau juga oleh-oleh khas. 

Lontong Cap Go Meh



Lokasi pusat kuliner Pasar Blauran ada di lantai bawah pasar. Karena laper berat, hari itu saya ingin makan yang mengenyangkan. Pilihan saya jatuh kepada Lontong Cap Go Meh. Kebetulan memang saya belum pernah mencobanya. Tetapi saat merasakannya, saya pikir saya pernah makan. Itu kayak lontong opor ayam yang biasa saya makan juga. Saya pribadi cocok.

Tetapi ternyata, porsi Lontong Cap Go Meh yang disajikan tidak membuat perut saya kenyang. Plus cuaca Surabaya yang panas, akhirnya saya memilih untuk menikmati jenang (bubur) campur. Sebenarnya ini di Solo, kota kelahiran saya pun banyak, tetapi emang biasanya hanya ada di pasar tradisional. Bedanya, kalau di Solo disajikan tidak pakai es (meskipun banyak juga yang sekarang berinisiatif menyajikannya dengan es). Jenang yang disajikan mulai dari jenang sumsum (putih), jenang grendul (cokelat), jenang mutiara (merah), jenang ketan hitam (hitam), dan disajikan dengan cendol, santan dan es.






Hari itu, semakin kenyang dan segar tentu saja. Sebenarnya masih ada aneka makanan khas lain, semua terpampang di papan menu yang tertera di tiap-tiap tempat jualan. Oya, sebenarnya untuk kulineran di Surabaya, selain di Pasar Blauran Anda juga bisa datang ke Pasar Genteng untuk berburu makanan berbahan dasar hasil laut, yang cocok buat oleh-oleh, seperti kerupuk udang. Kenikmatan lain berwisata kuliner di pasar tradisional adalah harga makanannya yang relatif terjangkau. Jadi kalau lagi di Surabaya, jangan lupa mampir ke Pasar Blauran.

Cheers,

Ariy

Sunday, January 26, 2014

Icip-icip Gudeg Pawon Yogya

Dear Journer,

Kalau nyebut Yogya (atau Jogja terserah) pasti keingetnya Gudeg, masakan berbahan utama buah nangka muda ini. Di kota ini emang banyak versi gudeg dan tentu saja kalau nanya orang Jogja akan mendapatkan jawaban tergantung selera. Seringnya saya ke Jogja membuat saya tertarik untuk mencoba beberapa "versi" gudeg. Salah satu yang sering disebut teman saya yang asli Jogja adalah Gudeg Pawon. Nah, kali ini saya akan ajak Anda mencicipi Gudeg Pawon.

Dianter Bayu (thanks Bay !) udah mau jam 12 malam saya menuju ke Jl Janturan No 36-38, di daerah Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Jangan tanya arah ke saya ya, karena saya nggak ngerti sama sekali dan pasrah sama Bayu :). 

Lokasinya agak masuk ke jalan (gak gede tapi bukan gang), lalu masuk ke gang dikit, di sebuah rumah. Konon kalau sudah sampai Janturan, kita nanya orang aja juga udah bakal tau di mana Gudeg Pawon berada. 

Nah, begitu sampai di depan sebuah rumah, kita langsung masuk ke dalam...lho kok saya langsung masuk ke dapur. Ternyata inilah keistimewaannya, jadi kita akan makan di dapur pemiliknya. Ada meja (gak banyak sih) yang bisa dipakai buat makan tepat di sebelah yang masak. Inilah kenapa kemudian gudeg ini terkenal sebagai Gudeg Pawon (=dapur). Waktu itu bukanya larut banget, jam 23.30 WIB. 

Saat saya sampai di sana udah penuh orang. Setelah memesan, baru ketahuan kalau daging ayamnya udah habis. Yaelah...baru buka saja sudah habis.Waktu itu saya dan Bayu hanya kebagian gudeg dengan jerohan ayam atau dengan telur. Akhirnya dua itu yang kami pesan.

Gudeg Pawon jenisnya bukan gudeg kering, ada kuahnya meski nggak banyak. Bicara enak atau tidak tentu sangat selera ya. Secara rasa, saya suka Gudeg Pawon ini, yang tidak terlalu manis. Tetapi secara umum, saya suka gudeg yang kering tanpa kuah. 







Sayangnya, gudeg yang kering biasanya terlalu manis buat lidah saya. Lalu bagaimana dengan harga? Kalau soal harga, menurut saya sih standar deh, nggak mahal banget, tapi juga nggak murah. Dengan uang Rp 20.000 cukuplah buat memesan nasi gudeng dengan lauknya (telur atau ayam). 

Nah, kalau Anda pecinta gudeg, setidaknya Anda harus memasukkan Gudeg Pawon dalam list Anda. Kalau pun bukan selera Anda, setidaknya kehadirannya membawa warna baru dalam kancah pergudegan di Jogja *aseeem...ane ngemeng apaan sih ini hihihi*

Selamat mencicipi yak :)

Ariy

Nikmatnya Selat (Kuliner Kota Solo)


Dear Journer,

Malam saya posting ini, lagi dingin-dinginnya. Dingin yang membuat perut saya tiba-tiba lapeerr...lalu keingetlah sama makanan yang satu ini. Yuks mari kita makan-makan.
Oke, kali ini kita akan menikmati Selat Solo. Udah pernah denger? atau malah udah pernah mencicipi? Kalau belum, yuk mari kita kupas tuntas....

Selat Solo konon adalah makanan hasil modifikasi lidah bule yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa. Makanan ini terkesan mewah (dan emang jaman saya kecil dulu, Selat jadi salah satu makanan mewah karena harganya yang relatif mahal). Dari komposisi dulu, makanan ini bahannya adalah daun selada, acar mentimun, wortel, kacang buncis, tomat segar, kentang (baik rebus maupun goreng dipakai semua), daging sapi (atau kadang diganti galantin-yaitu daging cincang yang dicampur bahan roti). Kuahnya cokelat seperti semur, serta ditambah telur pindang dan mayones.

Rasa gurih manisnya didapat dari kuah kaldu yang pekat itu. Kemudian bercampur dengan rasa segar dari acar mentimun dan sayuran segarnya. Maka tak heran kalau banyak juga yang menyebut ini sebagai Selat Segar. Karbohidrat yang bikin kenyang bisa kita dapatkan dari kentang rebus yang dipotong dadu dan kenyang goreng yang diiris tipis-tipis memberikan efek crunchy. Tapi tidak semua versi ada kentang gorengnya sih (kayak digambar itu nggak ada). 

minumnya es gula asem :)
Kalau cerita Ibu saya, dulu Selat hanya dikonsumsi orang kaya atau setidaknya pas ada hajatan sebagai pengganti nasi. Priyayi-priyayi Jawa mengadopsi ini dari masakah Belanda saat pengaruh kolonial masuk ke Indonesia di masa penjajahan. Lalu dengan sedikit penyesuaian dimodifikasi dan disesuaikan lidah Jawa.

Di manakah kita bisa mendapatkan Selat di Solo? :

a. Selat Bambang: langganan saya sejak dulu. Berada di utara Taman Sriwedari. Barat Pengadilan Negeri Surakarta ada jalan, samping jalan ada gang, masuk aja. Ada tulisannya Selat Bambang (belakang Resto Obonk persis).

b. Selat Vien: ini termasuk pendatang baru yang cukup laris. Sebenarnya nggak baru-baru amat sih. Dulu sebelum terkenal, saya sering makan di sini, sebuah kios kecil dan sempit di Jl Hasanuddin. Lalu tiba-tiba sekarang menjadi besar dan menyewa lokasi bagus di sebelah barat kios lama, tepatnya di Jl Hasanuddin no 115. Cukup dekat dari Stasiun Balapan (ke arah barat, naik becak paling Rp 5000).

c. Selat di RM Kusuma Sari: ini rumah makan yang tergolong legend di Solo. Lokasinya di Jl Yos Sudarso, berada di sekitar perempatan Nonongan. Ada dua dan berdekatan.

d. Selat Mbak Lies : baru juga enggak, tapi lawas banget juga nggak. Berada di Jl Yudistira No 2, Serengan. Dekat rumah saya hihihi. Masuk gang, dan memang kalau bagi pendatang agak susah sih menemukannya. 

e. Selat RM Es Masuk: dulu berada di Jl Yos Sudarso, tetapi sekarang pindah di Kampung Gajahan (barat Alun-alun Kidul)

Nah, yang khusus menjual Selat semacam Selat Bambang, Vien, Mbak Lies, biasanya juga punya spesialisasi lain yaitu jual gado-gado. Kadang ada juga menu yang khas yaitu sup matahari, etc. Minumannya paling segar adalah es gula asem atau es beras kencur....wuiih....slrrppp. Harganya sih nggak mahal kok sekarang ini, more less  Rp 10.000, naik turunlah :). Udah ngiler? Mongggo mampir ke Solo :)

Cheers,

Ariy

Thursday, January 9, 2014

Segarnya Ice Cream Uncle Singapore

Dear Journer,

Saya baru sadar banyak sekali materi perjalanan saya yang belum terdokumentasikan di blog ini. Saat muncul pertanyaan-pertanyaan dari pembaca, baru saya ngeh...ahh iya! Seperti misalnya saya sudah ke Singapore berkali-kali, ada mungkin lima kali, tetapi minim sekali cerita perjalanan ke Singapore di blog ini. Kebanyakan sih karena saya malas mencatat hal-hal detail penunjang tulisan, selain juga harus bongkar-bongkar file foto. Tetapi mulai 2014 ini, saya akan mulai nyicil satu persatu apa yang mungkin bisa saya bagi buat Anda.

satu-satunya foto...dan blur !! :)
Untuk kesempatan awal, saya akan cerita tentang es krim yang terkenal se-Singapore huehehe. Bukan es krim lezat di kedai keren, tapi es krim dari gerobak dorong yang tersebar di beberapa sudut kota di Singapore. Namanya "Ice Cream Uncle". Entah kenapa disebut es krim sang paman :), saya pun enggak pernah nanya meski punya teman orang asli Singapore, atau juga nggak mau repot-repot googling.

Tiga lokasi tempat saya beli Ice Cream Uncle ini adalah di sisi Singapore River dekat Cavenagh Bridge, salah satu jembatan tertua di tengah kota Singapore. Lokasi kedua adalah di belakang Bugis Street. Sedangkan lokasi ketiga adalah di area Merlion. Mungkin ada juga lokasi lain, tetapi saya belum nemu. Harganya standar, yaitu 1 SGD. Menurut saya tidak mahal, karena rasanya yummy dan seger banget.

Jadi potongan es krimnya dibelah dengan pisau, seukuran batu bata dibagi tiga, lalu dijepit dengan dua buah roti kering tipis (semacam biskuit). Ada aneka rasa, tinggal pilih saja, mulai durian, cokelat, strawberry, dan lain sebagainya.
Cara menyajikannya ya cuma dibungkus plastik dan langsung deh kita santap.Di tengah cuaca Singapore yang panas, es krim ini menjadi penambah semangat buat jalan-jalan karena kesegarannya (bahasanya lebay banget kayak iklan tipi hihii).

Sementara itu, penjualnya kebanyakan adalah orang jompo. Awalnya dulu saya pikir penjualnya setidaknya laki-laki meskipun sudah jompo. Tetapi kemudian saya menemukan juga penjual yang perempuan jompo. Lebih dari itu, baguslah mereka masih bisa produktif di usia yang sudah sepuh.


Soal rasa, saya tidak meragukan memang enak. Dengan bentuk batangan, teksturnya tetap lembut dengan rasa yang pas, tidak manis banget juga. Efek crunchy -nya kena pas kita menggigit lempeng biskuit penjepit es krimnya. Di gerobak-gerobak dorong ini, mereka juga menjual aneka minuman kaleng atau botol, baik dingin atau tidak. Jadi kalau ada kesempatan jalan ke Singapore, jangan lupa icip-icip "Ice Cream Uncle". Murah meriah, lezat, dan menyegarkan...criiiiing !!  :))

Cheers,

Ariy

Thursday, December 26, 2013

Restaurant Tip Top ~ Resto Legendaris di Medan



Dear Journer, 

Kota Medan bagi saya menawarkan kenikmatan berwisata kuliner. Melting pot bagi banyak budaya membuat kota ini memiliki keragaman kuliner yang pantas dicoba.
Nah, kali ini saya akan ajak Anda ke restaurant tua yang melegenda di Kota Medan, yaitu Restaurant Tip Top. Saya salah satu penyuka restaurant-restaurant tua macam Toko Oen Malang, Toko Oen Semarang,  Rumah Makan Adem Ayem di Solo, dan lain sebagainya. Nah, untuk Medan, ada Restaurant Tip Top.

Java Ice Cream
Restaurant ini berdiri sejak 1934, yang di awal eksistensinya melayani para ekspatriat di jaman kolonial, yaitu mereka yang tinggal di Medan. Saat ini, resto ini banyak dikunjungi wisatawan asing maupun domestik yang tengah berkunjung ke Medan. Dari luar, restaurant yang berada di kawasan Kesawan ini tampil sederhana dan terlihat rada kuno. Tetapi itulah daya tariknya. Terlihat veranda yang diatur sedemikian rupa, sehingga saat makan kita bisa menikmati lalu lalang orang di Jalan Kesawan, atau sebaliknya, orang juga mudah melihat kita. Tetapi meskipun begitu, kenyamanan tetap masih kita rasakan saat makan di sana.

        
Banana Pancake Tip Top

Beberapa karyawannya juga mengenakan pakaian putih dengan peci, mengingatkan kita akan kostum jadul. Memang tidak semua sih.  Kursinya model kursi lawas dari jalinan rotan. Di bagian dalam mebelernya ada yang terbuat dari kayu juga. Dengan langit-langit lumayan tinggi, ruangannya menjadi cukup adem di tengah udara Medan yang panas.
Sorbet

Restaurant Tip Top buka dari jam 11.00 - 14.00 WIB, kemudian tutup, lalu buka lagi dari jam 18.00 WIB hingga 22.00 WIB. Restaurant ini terkenal dengan es krimnya, serta beberapa kue-kue khasnya. Namun masih menyajikan juga menu-menu lain yang variatif. Memang bukan pilihan utama para backpacker  terkait harganya. Namun sebenarnya banyak menu yang harganya masih reasonable sih, sekitar Rp 10.000-an gitu. Sepotong es krim misalnya, ada kok yang harganya Rp 10.000. Menu lainnya, ada Vienna Coffee, segelas kopi yang dicampur es krim mocca dihargai Rp 15.000.
Sarsaparilla Badak
Makanan-makanan berat seperti nasi goreng atau bestik dihargai Rp 20.000-an. Yang suka minuman sarsaparilla macam saya, bisa nyoba Sarsaparilla Badak hanya Rp 8.000, sambil makan pancake pisang Tip Top seharga Rp 15.000-an. FYI, harga yang saya sebut adalah yang berlaku pada tahun 2012, jadi mungkin sekarang naik-naik dikit. 

Selain ada ruangan ber-AC, di sini juga disediakan wifi,  jadi pas banget buat ngadem. Kalau memang budgetnya mepet dan lagi traveling bareng teman, saya sarankan pilih menu yang bervariasi lalu saling cicip hihihi. 

Tetapi bagi saya pribadi, harga di Tip Top tidak lebih mahal dibandingkan dengan harga makanan di tempat kuliner lain di Medan. Secara umum, untuk kulineran memang Medan agak sedikit lebih mahal buat para budget traveler. Tetapi menurut saya, ke Medan kalau belum ke Restaurant Tip Top belum afdol meskipun sedikit nguras kantong. Gak papa, sekali kali ini hehehehe. Lokasinya juga sangat strategis, di kawasan kota lama Kesawan, di mana banyak bangunan-bangunan keren buat hunting foto. Habis hunting foto, panas dan capek, langsung diobati dengan segelas Sarsaparilla Badak....slrrrpp, dijamin hilang hausnya :).

Cheers,

Ariy

Sunday, July 14, 2013

Sotong Masak Hitam (Kuliner Khas Pesisir Utara Jawa)

Hey Journer,

Kali ini saya ajak Anda untuk mencicipi salah satu kuliner, yang menurut saya mantap. Kali ini kita akan ngomongin soal Sotong. Ini adalah salah satu bahan makanan laut yang banyak ditemukan di daerah pesisir utara Jawa. Mungkin di daerah lain di wilayah pesisir Jawa juga mengenalnya, namun karena kebetulan sekarang saya berdomisili di Semarang, ya ngomongnya sekitar-sekitar sini.

Saya kenal nama "Sotong" sebenarnya sejak lama. Waktu di Solo, saya punya beberapa teman dari Tegal, Pekalongan, yang sering membicarakan ini. Kebetulan pas di Semarang, saya menemukannya sendiri, dan setelah mencicipi....kok wueeenak ya :).


Oke, sebelumnya saya mau jelasin dulu apa itu Sotong. Ini hasil saya belajar, kalo salah mohon dikoreksi. Jadi begini, teman-teman saya sering mengatakan Sotong itu Cumi. Pun saat saya diajak teman ke sebuah warung makan di kawasan Sampangan, Semarang, teman saya bilangnya "Yuk cari cumi". Namun, ternyata Sotong itu berbeda dengan Cumi. Kalo di wikipedia, Sotong itu adalah "ikan" nus. Binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Bentuknya pipih, sementara kalau cumi berbentuk silinder. Nah, kalau Sotong, memiliki cangkang batu kapur yang keras, sementara cumi lunak. Inilah kenapa, saat saya makan Sotong Masak Hitam, rasanya kadang campur kayak nemu batu pipih, kriuk-kriuk :).

Yang khas dari Sotong adalah Sotong Masak Hitam, yaitu memasaknya dengan mencampur tintanya. Penampilannya jadi rada aneh sih, tapi saya kok tertariknya. Jadi di warung tempat saya beli, baskom tempat masakan Sotong ini isinya kayak aspal. Serius, hitam, pekat, lengket, hehehe. Konon justru tintanya itu pula yang membuat Sotong lebih gurih. Ini karena mengandung asam glutamate. Itu kata orang ya. Sebagai makanan, Sotong juga mengandung banyak sumber vitamin, karena konon mengandung vitamin B1, B2, B12, dan lain sebagainya. Tetapi ya itu...yang perlu diwaspadai adalah, Sotong mengandung kolesterol tinggi. Jadi hati-hati ya yang punya masalah dengan ini.


Sotong Masak Hitam paling enak dimasak pedas, berpadu dengan gurih. Tidak ada bau amis sama sekali, rasanya kenyal nyaris seperti cumi dan kadang ada kriuk-kriuknya (mungkin masih ada sisa cangkang yang kebawa). Sotong Masak Hitam pas banget buat lauk nasi putih.

Jangan lupa, kalau lagi main di pesisir utara Jawa (atau daerah lain di pinggir pantai mungkin?) coba cari Sotong yak...

regards,

A

Wednesday, February 13, 2013

Toko Oen Semarang

Hey Jouner,

Dalam waktu yang lumayan lama, saya saat ini tengah bekerja di Semarang. Ini bukan pekerjaan tetap sebenarnya, hanya kontrak beberapa bulan. Tak hanya satu, saya ambil dua jobs di dua kantor berbeda di Semarang. Dulu saya pernah menulis tentang follow your passion, tidak lagi jadi mas-mas kantoran. Saya sudah melakukan itu, dan bukan berarti sekarang saya menelan ludah sendiri dengan kerja kantoran lagi. 
Nah kerjaan saya ini dua-duanya enak. Satu kerjaan membuat saya bisa jalan-jalan keliling Jawa Tengah, sesuatu yang jarang saya lakukan secara rutin setiap pekan. Pernah dalam satu hari saya menempuh perjalanan Semarang - Tegal - Brebes - Purwokerto - Sleman - Klaten - Kebumen - hollaaaa....hahaha. Emang pake sopir pribadi sih dan sopirnya jago banget. Bener-bener sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Di pekerjaan ini saya juga nggak harus ngantor setiap hari lho. Bagaimana kerjaan kedua? well, kerjaan kedua sebenernya kantoran. Kantornya gedung seberang Lawang Sewu yang kesohor itu. Tapi lagi-lagi, saya beruntung, saya tidak harus ngantor 9-5. Saya boleh ngantor sejam dua jam, sisanya saya selesaikan pekerjaan secara online. Kata temen yang partner saya di kantor ini, orientasi kerja adalah "hasil", terserah bagaimana saya melakukannya. Hmm...enak kan.
Nah, karena kerjaannya sangat fleksibel, saya jadi punya banyak waktu luang untuk jalan-jalan. Biasanya sore-sore saya luangkan waktu untuk jelajah Semarang. Seperti weekend kemarin, sore-sore saya bingung nih mau kemana, karena kebetulan Sabtu itu saya tidak balik ke Solo. Tiba-tiba inget ada Toko Oen, legend-nya rumah makan itu, punya cabang di Semarang. Dan, cabangnya itu berada di Jl Pemuda, sama dengan kantor saya. Meluncurlah saya ke sana. 
Toko Oen....hmmm, saya jadi teringat Toko Oen di Malang yang pernah saya singgahi pula. Jadi saya sudah punya sedikit gambaran akan berada di toko seperti apa. Toko Oen Semarang berada di Jl Pemuda No 52. Kalau Anda bukan orang Semarang, sebenarnya gampang saja mencapainya. Dari depan Lawang Sewu (pasti dong Anda ke Semarang juga ke lokasi ini), susuri saja Jl Pemuda yang berada di sisi luar Lawang Sewu. Lurus saja, sampai menemukan Supermarket Sri Ratu, nah Toko Oen tepat di seberang Sri Ratu. Tokonya agak kecil di pojok.

Toko Oen, Jl Pemuda, Semarang
Sedikit cerita tentang Toko Oen, awalnya toko ini memulai usaha di tahun 1910 di Yogyakarta. Usaha toko roti ini dijalankan oleh Ny Liem Gien Nio, isteri dari Tuan Oen Tjoen Hok. Sayangnya, toko aslinya di Yogyakarta hanya bertahan hingga tahun 1937. 
Berikutnya, justru cabang yang berkembang, yaitu di Jakarta dari tahun 1934 - 1973, Malang (1936 - sekarang) dan Semarang (1936 - sekarang). 
Tahun 1922, dari awalnya hanya toko roti, mulai merambah jual ice cream dan menyediakan makanan menu Belanda, China dan Indonesia. Yang menonjol adalah, bangunan-bangunan yang dipakai selalu bangunan kuno model Belanda. Di Semarang, bangunan Belanda yang digunakan dulunya dibeli dari pemiliknya yang orang Inggris. Dulu lokasi ini disebut Jl Bodjong 52, sebelum berubah menjadi Jl Pemuda.

Interior Toko Oen Semarang
Dibanding Toko Oen di Malang, Toko Oen di Semarang lebih modern interiornya. Lantainya sudah keramik, dan bukannya ubin model kuno. Kursinya meski model lawas, tapi seperti buatan baru (macam model kursi Betawi), beda dengan di Malang yang kita masih bisa menemukan kursi berbahan karet sulur atau juga ada kursi kuno rendah bahan anyaman bambu. 
Di sini juga sudah ada AC, meski kemoderenannya ditutup dengan semacam lemari kayu berongga, sehingga tidak kelihatan AC-nya.
Tapi nuansa kunonya masih tidak berkurang jauh kok. Saya suka masuk ke pintu depannya yang kecil, seperti kedai-kedai di luar negeri yang saya lihat di film-film hehehe. Bagian lain yang saya suka adalah bagian penjualan langsung kue-kue basah maupun kering. Dengan toples-toples gede dan kunonya.


Bagaimana dengan makanannya? saya dari awal sangat tergoda untuk mencoba es krimnya. Sama kayak yang saya lakukan di Malang. Nah, sebelum memesan, coba lihat daftar harga es krimnya dulu.

Harga es krim mulai dari Rp 13.000 hingga yang literan Rp 184.000. Bingung juga kalau saya disuruh memilih mana yang harus saya cicipi. Sementara budget saya juga terbatas.
Akhirnya, saya minta rekomendasi dari si embak yang nyodorin buku menu. Kata dia, yang paling terkenal adalah Tutti Frutti. Mata saya langsung ngulik buku menu, dan menemukan harga Rp 28.500 untuk baris Tutti Frutti. Batin saya sih, hmmm....mahal juga.
Tapi kepalang basah sudah masuk ke sini, kenapa nggak nyoba. Akhirnya saya pesan satu Tutti Frutti. Yang lain saya bayangin dulu aja deh, berat di ongkos soalnya. Nggak butuh waktu lama, Tutti Frutti pesanan saya pun sudah terhidang di meja saya. Beginilah tampilannya, paduan warna cokelat yang membungkus bagian putih dengan topping semacam irisan buah-buah kering.

Ice Cream Tutti Frutti

Bagian es krim yang cokelat itu lembut banget, lumer di mulut. Bagian putihnya yang agak keras dengan rasa buah segar. Enak sih menurut saya. Nah, satu es krim sudah, kini giliran bingung mau mesan makannya. Saya lebih tertarik makan ringan. Dan saya nanya lagi nih, mana yang rekomen buat dicoba. Mbak-mbaknya nunjuk ke Poffertjes, selain ada daftar lain seperti Loenpia, Resoles, Kroket, Bitterballen, Calamari Fritti. Saya tertarik Poffertjes, karena memang belum pernah tau penampakan dan rasanya. Kata temen saya orang Belanda, Poffertjes itu di Belanda sana barang biasa dan banyak ditemui. Nah, dalam daftar menu itu, Poffertjes-nya ada dua, yang plain  Rp 14.000 satu porsi, Poffertjes Campur (Cokelat + Keju ) Rp 17.000, dan Poffertjes Keju Rp 18.000. Saya milih yang terakhir.

Poffertjes Keju

Poffertjes itu bagi saya serupa bola-bola serabi dengan isinya lembut, rasanya sedikit tawar kalau menurut saya. Tidak terlalu gurih, tidak juga manis. Nah, topping -nya bisa macam-macam, inilah yang memberi rasa pada Poffertjes itu. Satu porsi terdiri dari 12 buah, dan disajikan panas-panas. Katanya si embak, emang kalau ada pesanan baru dibikin. Jadi masih panas dan segar. Lumayan banyak untuk seorang. Saya pun hanya berhasil menghabiskan separuhnya, sisanya bawa pulang ke kos.
Sebenarnya masih pengen nyoba yang lain juga, tapi apa daya dompet sudah ngambek dibuka hehehe. Akhirnya hanya dua itu doang yang saya coba. Ntar kalau gajian, mau mampir lagi. Pokoknya, kalau main ke Semarang, jangan lupa mampir ke Toko Oen. Seakan masuk mesin waktu, kalau saya berimajinasi, pasti Toko Oen ini dulu menjadi tempat hengot favorit opa oma Belanda jaman dulu ya :).

Regards,

A

Sunday, February 10, 2013

Es Conglik Versi Semawis


Hey, Journer
Ini janji saya untuk membandingkan es puter Semarang yang legendaris, yaitu Es Conglik, antara versi Es Conglik Simpang Lima di tulisan sebelumnya, dengan Es Conglik versi Semawis. Weekend kemarin, akhirnya saya menemukan es ini di Semawis, pusatnya kuliner di Pecinan Semarang.

Dari tampilannya saja, Es Conglik di Semawis lebih atraktif dan membuat saya tertarik mencoba, mengingat - sekali lagi saya tegaskan - saya pecinta segala es :). Topping-nya yang aneka rupa membuat tampilan Es Conglik versi Semawis lebih menarik dibandingkan dengan versi Simpang Lima yang polosan atau maksimal diberi meses saja. Pada Es Conglik versi Semawis, topping yang ditawarkan antara lain mutiara, agar-agar, roti tawar potong dadu, meses, kelapa muda, serta untuk yang rasa durian dicemplungin satu biji durian :). Kita bisa memilih isi topping yang akan menemani es puter utamanya. Basic-nya, es puternya hampir sama dengan yang di Simpang Lima, namun serutannya lebih lembut.

Secara rasa, tentu Es Conglik versi Semawis lebih menggoda. Es puternya yang lebih lembut, akan bermain di lidah ditemani kenyalnya mutiara (yang bila dingin memang akan lebih mengeras), kemudian ada kenyalnya agar-agar, dan topping lainnya. Sementara versi duriannya yang ada biji durian, membuat kita menikmati rasa dan harum durian aslinya.

Secara harga, memang harga Es Conglik versi Semawis lebih mahal yaitu Rp 15.000 per porsi (satu mangkuk agak kecil). Sementara di Es Conglik Simpang Lima hanya Rp 10.000 per porsi. Bagi saya, lebih baik saya mengeluarkan Rp 15.000 tapi puas, daripada Rp 10.000 tapi nyesel.

Nah, kalau sudah begitu, pilihan di tangan Anda. Selamat mencoba,

regards,

A






Monday, January 7, 2013

Es Conglik Semarang, Legenda yang Biasa Saja

Hey Journer, 

Sejak tiga bulan terakhir saya berdomisili di Semarang, saya selalu penasaran dengan yang namanya "Es Conglik". Dari namanya yang banyak dibicarakan orang, kayaknya seruuu banget mencicipinya. Apalagi pas googling nemu foto-fotonya yang ciamik, es puter dengan topping warna-warni seru. FYI, saya adalah pecinta es. Mulai dari es buah sampai es krim. Dari yang kuno sampai yang moderen. Kalau es puter, saya paling demen dengan "es krim ndeso" yang sampai saat ini masih eksis di Kota Solo (baca "es krim ndeso" di bagian lain di kolom "kuliner"). Saya juga lumayan suka dengan es krim soda di Medan. 

Nah, ekspektasi saya soal "Es Conglik" pun semakin gede. Ada dua incaran saya, yaitu yang di pusat kuliner Semawis dan yang di Simpang Lima. Nah akhirnya saya nemu yang di Simpang Lima dulu, yang cukup relatif dekat dengan kos. Letaknya di belakang Hotel Ciputra, depan Klinik Meditama, Jl KH Ahmad Dahlan...nah...komplet tho :). Pertama ke sini siang-siang menjelang sore gitu, dan nggak buka. Katanya bukanya habis maghrib. Next day, akhirnya nemu juga. Pas datang, hanya ada saya doang yang beli. Sempet nggak yakin, bener nggak ini warung tenda Es Conglik yang legendaris itu? Akhirnya masuk juga.

Kemudian mulai memesan nih. Ada dua tabung panjang khas es puter sebanyak empat buah. "Ada empat rasa, durian Rp 15.000, sedangkan kelapa - leci dan cokelat masing-masing Rp 10.000," kata mbaknya yang jual menerangkan.

Sebenarnya saya tertarik yang durian, karena saya penggemar buah ini. Tetapi memang sebelum berangkat, saya sudah niat beli dua porsi dengan rasa berbeda. Cuma demi melihat harganya, maka saya ambil porsi murah dulu, mau lihat seberapa banyak sih seporsi itu. Daaaan...si mbaknya mengambil satu lepek (piring kecil untuk tatakan gelas) dan menuangkan serutan es rasa kelapa. Tidak pakai scoop es krim, tapi kayak kayu serupa centong tapi lebih besar dan panjang. Dan beginilah tampilannya:

Es Conglik rasa kelapa

Lho? kok bentuknya nggak cantik? nggak seperti yang ada di foto-foto yang saya googling? Saya sempat protes lho "Mbak, kok nggak ada topping-nya? Cuma gini doang?" Demi itu, saya pun membatalkan pesan es rasa duriannya. Porsinya dikit banget soalnya, selain penampilannya bikin selera saya turun beberapa level. "Kalau mau topping, yang rasa cokelat Mas," jawab si mbak. Karena penasaran, saya pesan lagi seporsi yang cokelat. Sudah membayangkan akan menemukan es puter dengan topping menggunggah selera. Mungkin si mbak ini akan mengeluarkan materi topping dari laci mejanya...atau dari dompetnya...hasyaaah....Dan inilah Es Conglik rasa cokelat dengan topping....meses!! 

Es Congklik rasa cokelat



Punahlah sudah harapan saya mendapatkan Es Congklik cantik seperti yang saya temukan di banyak blog-blog di internet. Baiklah, sekarang saatnya mencoba rasanya. Dan inilah penilaian saya:

1. Teksturnya tidak lembut, cenderung kasar dan kadang saya menemukan semacam "prongkol" dalam bahasa Jawa-nya, alias es yang masih membatu, belum terserut dengan sempurna.

2. Untuk rasa kelapa, isi kelapa mudanya sedikit, jadi kurang terasa rasa kelapanya. Sementara rasa cokelat tertolong oleh remahan meses sebagai topping-nya.

3. Porsinya kecil dan menurut saya harganya cukup mahal.
4. Tampilannya mengecewakan.

Lalu untuk alasan apa Anda mencoba Es Congklik? :

1. Sejarahnya: Es Congklik menjadi legendaris karena sejarah yang menyertainya. Konon, pelopornya dulu adalah kacung pada jaman Jepang. Conglik dari kata "Kacung Cilik". Lalu saat Jepang hengkang dari Bumi Pertiwi, dia membantu usaha pembuatan es puter ini sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.

2. Mengingat sejarahnya yang panjang, banyak diomongin orang, dan menjadi salah satu yang dibanggakan orang Semarang, ya kalau sudah jauh-jauh ke sini kenapa nggak coba, meskipun memang tidak perlu berharap banyak soal rasa.

Sampai tulisan ini saya buat, saya belum tahu apakah Es Congklik di Simpang Lima ini adalah turunan yang sama dengan Es Conglik aslinya. Besok rencananya mau jajan Es Congklik yang di Semawis, dan berharap berbeda dengan yang di Simpang Lima. Kalau memang lebih enak dan tampilannya lebih keren, saya berjanji akan mengulas dengan obyektif dengan memberikan penilaian positif.

Tunggu yaa....

Saturday, July 28, 2012

Pancake Durian (Medan)

Suasana di Durian House
Aneka makanan berbahan dasar durian menjadi salah kuliner yang pantas diburu di Medan, misalnya saja Pancake Durian. Namun, saat kita tiba di Medan, mungkin akan terbengong-bengong demi melihat dua potong Pancake Durian yang memang relatif mahal. Bila ingin cari yang agak miring, Anda bisa menuju ke Durian House. Inilah tempat yang menjadi tujuan awal pertama kali saat ingin mencicipi Pancake Durian. Nah, Pancake Durian di Durian House relatif lebih murah harganya. Dua potongnya, atau satu kemasan kotak plastic kecil, dihargai hanya Rp 7.500, untuk satu kotak berisi 10 biji, dijual Rp 80.000. Buat oleh-oleh, ini lebih ekonomis. Tetapi memang tidak bisa bertahan lama. Di tempat lain bisa tiga kali lipatnya. Pancake Durian di sini bentuknya hampir sama dengan satu biji durian itu sendiri, dengan tanpa pewarna, sekilas kita seperti menikmati durian asli. Kulit pancakenya tipis dan lembut, dengan rasa durian yang dominan. Not bad-lah. 
Pancake Durian
Variasi lainnya, cobalah pie durian yang harga sedikit lebih murah. Pie durian satu bijinya Rp 6.500. Produk-produk lainnya misalnya Bolu Gulung Durian dijual Rp 40.000 – Rp 50.000 per platnya, Brownies Durian Rp 40.000. Selain itu mereka juga punya produk turunan lainnya, seperti Lempok Durian, Dodol Durian yang harganya di kisaran Rp 10.000.
 
§     Durian House
Jl Krakatau No 43-43 A, Medan
Telp : 061- 6629546

Pancake Durian Nelayan
Durian House menjadi pilihan ekonomis untuk mendapatkan pancake durian. Tetapi kalau Anda punya budget lebih, dan ingin pancake yang lebih nendang juga rasanya, silakan langsung menuju Rumah Makan Nelayan, yang ada di Merdeka Walk atau di Sun Plaza. Beda pancake durian di Nelayan dengan di Durian House, adalah kulit pancake di Nelayan berwarna hijau muda dari campuran daun pandan, dan sedikit lebih tebal (meski bagi kami masih tetap tipis) sehingga kita bisa membelah dua tanpa lengket. 
Lapisan lain adalah krim sebelum kita menikmati daging durian asli di dalamnya. Rasanya memang lezat, maklum harganya untuk dua potong (satu porsi) adalah Rp 25.000. Oya, Rumah Makan Nelayan ini juga terkenal dengan Chinese food-nya. Dim Sum hingga kwetiaw, dan makanan Chinese  lainnya komplet, dengan harga Rp 20.000 ke atas satu porsinya. Bila Anda penikmat makanan lezat, ini salah satu tempat yang pantas Anda kunjungi, meski harganya memang relatif lebih mahal.
§