Labels

Ho[S]tel (29) Jelajah Dunia (58) Jelajah Negeri (57) Kuliner (17) Tentang Ariy (1) Thoughts (46) Tips dan Tricks (87)
Showing posts with label Jelajah Negeri. Show all posts
Showing posts with label Jelajah Negeri. Show all posts

Sunday, April 8, 2018

Jalan-jalan ke Lasem Part 2: dari Rumah Batik Bu Kiok, Hingga Tegel Fabriek Lie Thiam Kwie

Melanjutkan cerita di postingan sebelumnya, setelah mengunjungi Kuil Cun An Kiong dan Rumah Candu, di hari yang sama kami mengeksplorasi Lasem, Kabupaten Rembang, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Rumah Batik Bu Kiok. Sebenarnya jarak antara satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu jauh. Di sepanjang jalan menuju ke Rumah Batik Bu Kiok, kami melihat sejumlah rumah-rumah kuno yang keren-keren, dengan pintu-pintu kecil maupun besar yang vintage banget. Sudah kebayang ini lokasi paling cocok buat setting film berlatar belakang sejarah gitu. 

Rumah Batik Bu Kiok
Dengan model rumah yang dikelilingi tembok tertutup dan pintu rapat di tengah, Rumah Batik Bu Kiok ini masih terjaga bener keasliannya. Saking aslinya, banyak perabotan yang sudah moprol alias rusak berat masih dipajang. Tapi menurut saya itulah kerennya. Kalau cari yang baru dan bagus mah banyak, kalau yang begini kan susah. Apalagi asli dari jaman jebot. 



Begitu masuk, seketika saya seperti dilempar ke masa lampau (mulai kumat!). Menghirup debu apeknya. Memandang foto buramnya. Mencermati setiap retakan pigura, brodolan rotan di kursinya, hingga menapaki ubinnya yang kuno dan berdebu. Semua benda seperti bercerita tentang kejayaan pemilik rumahnya, setiap persoalan yang pernah ada di hidup mereka, kegembiraan di masanya, menceritakan waktu dan masa. Ndak tau ya, masuk di dalamnya saya seperti tengah menyusun sendiri cerita di benak saya. Jadi dulu pasti begini, jadi mungkin ini adalah itu, jadi begini, jadi begitu, ono ini ono unu kucrut kalau kata Mbak Iis Dahlia. Kadang saya lebay dengan menyusun dialog sendiri antara gambar perempuan dengan lelaki di foto. Kebiasaan bikin fiksi kebawa. 

Dalam satu pikiran, kadang tiba-tiba saya berandai-andai seperti berubah menjadi Tan Peng Liang, musisi dan juga pedagang tembakau Kiau Seng dari Semarang yang datang ke Lasem mau mencari Tinung. Karakter-karakter di film Cau Bau Kan itu memang sering langsung nyantol di benak saat masuk ke rumah Tionghoa Peranakan. Tapi soal scene ngejar Tinung ke rumah itu nggak ada kok di film. Itu khayalan saya.

Oya, kami masih ditemani Mas Pop. Nah, dari ruang depan ini, kami diajak ke bagian belakang rumah melalui lorong sempit di samping rumah. Temboknya di-labur atau cat kapur putih. Khas tembok lawas. Begitu masuk ke dalam, ada beberapa ibu-ibu sepuh dan separuh baya yang tengah membatik. 

Omong-omong soal batik, di Rumah Batik Bu Kiok ini setiap pembatik hanya mengerjakan satu motif saja selama bertahun-tahun lho. Saat saya tanya kenapa? Ya memang sudah begitu dari dulu. Duh, saya berharap ada alasan yang lebih seru. Tetapi dalam hemat saya sih, itu untuk spesialisasi ya. Jadi ibaratnya membatik sambil merem pun jadi saking jagonya mereka membatik satu motif selama bertahun-tahun. Saya sempat mendapat cerita beberapa motif batik Lasem. Tapi saya lupa mencatat, karena sibuk melihat proses membatik yang dilakukan ibu-ibu ini. Yang saya tahu, batik Lasem memiliki motif yang masih belum terdokumentasi dengan baik. Beberapa di antaranya seperti kupu-kupu, burung hong, serta berbagai bunga. Beberapa lokasi sentra batik memiliki motif kawung juga. Satu hal, motif batik Lasem sangat dipengaruhi budaya Tionghoa Peranakan. Hal ini tampak dalam akulturasi simbol-simbol Tionghoa-Jawa.




Batik produksi di Rumah Batik Bu Kiok dipasarkan ke Surabaya. Tetapi tidak tahu dipasarkan dengan cara apa, karena semua sudah di-handle oleh ahil waris Bu Kiok. Jadi mereka hanya tahu bekerja, lalu mengirimkan hasilnya, dan dibayar per hari. Mereka tidak boleh menjual batik ke wisatawan. Itu awalnya. Namun karena banyak permintaan dari wisatawan, akhirnya mereka minta izin untuk menjual batik buatan mereka ke wisatawan. Ternyata diperbolehkan. Kalau mau pesen bisa lho. Harga Rp 1.250.000 per lembar batik. Namun harus pre order dan selesai sekitar sebulan. Tidak semua orang boleh pesan. Yang bisa pesan adalah mereka yang pernah datang ke sini secara langsung. Nah!

Roemah Oei
Berikutnya kami mengunjungi Roemah Oei yang lokasinya hanya sepelemparan kolor dari Rumah Batik Bu Kiok. Cuma, Roemah Oei lokasinya lebih strategis karena di pinggir jalan besar. Nothing much to see di sini karena meskipun ini juga rumah kuno, namun sudah mengalami renovasi besar-besaran. Pemiliknya adalah generasi ketujuh Keluarga Oei, seorang pedagang besar di Lasem pada jamannya. Namun, lokasi ini menurut saya cukup menarik di sisi lain. Pertama, pemiliknya visioner banget, dia sudah menangkap peluang bahwa Lasem akan menjadi destinasi seksi, khususnya wisata heritage.


Saya sempat berbincang-bincang dengan pemiliknya. Diajak ke belakang rumah, di sana dia sedang membangun semacam homestay yang bagus dan bertingkat. Dalam beberapa bulan ke depan, bangunan bagus itu direncanakan akan beroperasi. Mereka juga akan memasukkan homestay mereka ke agen booking hotel daring. Yang mau ke Lasem, catet deh...Homestay Roemah Oei.



Kedua, mereka juga menjadikan halaman depan rumahnya yang rindang menjadi cafe. Di samping gerbang utamanya yang menghadap jalan terdapat semacam warung atau tempat pegawai melayani para pengunjung cafe. Sementara itu di bagian halaman dalam terdapat beberapa tempat duduk, kebanyakan kursi seng ala jaman dulu yang kerap dipakai untuk resepsi pernikahan, serta beberapa meja panjang. Banyak anak-anak muda setempat yang memanfatkan cafe ini untuk berkumpul. Nah, yang lebih istimewa lagi menurut saya adalah es sirup kawista-nya. Sirup kawista sendiri masih asing di telinga saya, makanya saya langsung nyoba. Rasanya segar seperti bersoda. Agak kecut dan manis. Enak diminum untuk menghalau panasnya Lasem. Roemah Oei menurut saya cocok untuk break di sela-sela city tour. 

Tegel Fabriek Lie Thiam Kwie:
Saat ada daftar kunjung ke pabrik tegel Lie Thiam Kwie, saya langsung bersemangat. Saya pecinta tegel atau ubin-ubin lawas yang banyak saya temui di bangunan-bangunan tua atau bangunan cagar budaya. Ornamennya yang cantik, colorful, menawan hati. Hal itu yang awalnya terbayang di benak saya. Lalu berangkatlah kami ke sana.


Tetapi sampai di sana, agak sedikit keluar dari ekspektasi saya. Yang saya lihat sih memang ada bekas-bekas pabrik ini menggarap tegel-tegel lama. Tetapi yang dikerjakan sekarang adalah membuat paving block  model baru. Jadi kurang menarik. Tetapi mungkin ini mereka lakukan agar terus bisa bertahan di tengah kemajuan jaman ya. 

Lokasi pabrik tegel ini luas banget. Kelihatan banget ini pemiliknya dulu kaya raya. Rumah utama di kunci, tidak bisa masuk. Hanya kita bisa masuk ke area teras bagian belakang rumah utama. Di sini masih bisa kita lihat beberapa contoh tegel yang pernah mereka bikin pada masa lalu. Digeletakkan sekenanya, yang membuat saya ingin mengambil dan merawatnya hahahaa. Jiwa cemolong saya tiba-tiba birahi. Maksud saya, itu kan "penanda sejarah", kenapa tidak dirawat atau di-display lebih layak? Ya nggak tahu juga sih, mungkin memang ahli warisnya mau move on melanjutkan hidup di jaman sekarang, dan masa lalu biarlah masa lalu...(bacanya sambil nyanyi ya?)



Di bagian belakang ini terdapat halaman luas dengan pohon-pohon tinggi. Lalu masuk lagi ke dalam ada ruangan besar yang menjadi tempat produksi tegel yang sekarang berubah menjadi tempat produksi paving block.

Museum Nyah Lasem:
Perjalanan berikutnya, kami diajak Mas Pop, menuju ke Museum Nyah Lasem. Udah kebayang betapa serunya. Kami diajak memasuki sebuah rumah lawas yang terkunci, dengan rumput halamannya sudah tinggi, beberapa tanaman merayap di pintu depan atau pagar. Lho? mana museumnya ?

Ternyata ini adalah rumah milik pribadi, yang kalau boleh saya sebut adalah cikal bakal museum. Jadi ada keinginan dari ahli waris pemilik rumah ini yang ingin mendokumentasikan barang-barang peninggalan yang dimilikinya ke dalam sebuah museum. Tetapi memang kelihatan masih dalam tahap penyempurnaan.





Di dalam rumah ini terdapat beberapa ruang yang di dalamnya dipasang beberapa koleksi milik pribadi pemiliknya. Belum banyak sih, beberapa di antaranya mata uang, surat-surat korespondensi dagang, perangko, serta beberapa fotokopian berkas. Meskipun disebut museum, tidak ada pengelolaan khusus. Makanya saya pikir ini lebih ke cikal bakalnya sih. Tidak banyak yang bisa kita lihat, tak banyak cerita, dan saya masih penasaran kenapa namanya Museum Nyah Lasem. Don't get me wrong, saya tidak mau nyinyir, karena apapun itu saya tetap menikmati setiap detil kunjungan saya di rumah ini dan mengapresiasi pemiliknya yang ingin mendirikan sebuah museum. Untuk masuk ke sini tidak ada loket, karena kami diajak oleh Mas Pop sebagai pemegang kunci rumah. 

Oya, di rumah samping dari Museum Nyah Lasem ini juga ada semacam selasar yang disekat beberapa kamar yang disewakan. Harganya murah meriah lho, hanya Rp 50.000 per malam (kalau belum naik ya...cek lagi). Cocok yang memiliki jiwa pemberani dan tangguh hahahah dan tak mengenal "lambaikan tangan tanda menyerah". 

Perjalanan kami dipungkasi di Museum Nyah Lasem karena hari sudah mulai beranjak sore. Rencananya setelah dari Lasem kami akan menuju ke Pantai Karang Jahe, masih di Rembang juga. Sebelum ke Pantai Karang Jahe, kami sempatkan mampir makan lontong tuyuhan. Karena ini saya nulisnya malem-malem dan pas lagi laper tapi males keluar, saya skip cerita tentang lontong tuyuhan ya. Takut makin laper.

Dari seharian kami jalan-jalan ke Lasem, ini beberapa point yang mungkin berguna bagi Anda yang merencanakan ke Lasem:

1. Datang berkelompok akan lebih baik karena bisa patungan bayar guide. Seperti saya sebutkan di tulisan awal, guide adalah aspek penting dalam jalan-jalan ke Lasem karena Lasem itu value-nya di cerita sejarahnya. Okelah, dirimu mungkin bisa bilang "googling kan bisa". Iya bisa. Tetapi problemnya, spot-spot yang kita masuki di sana adalah rumah-rumah perseorangan. Guide adalah orang yang dipercaya pemilik rumah untuk "membukakan pintu" bagi wisatawan. Itu bukan hal mudah dan kita harus apresiasi. Setiap rumah di sini punya cerita, dan seorang guide membantu kita mentransfer informasi tersebut dari ahli waris dan data-data lainnya. Itu pekerjaan yang patut diapresiasi dengan cara kita menggunakan jasa mereka. Lagian, kalau mau datang sendiri juga nggak gampang kok. Kalau nggak dikunci pintu depannya, ya ketemu anjing penjaga. Nah lho!

2. Untuk efisiensi waktu, buat daftar spot yang akan dikunjungi. Kalau kebanyakan, coret yang sekiranya hampir sama. Pilih beberapa spot yang berbeda, variatif. Khususnya ini yang cuma oneday trip kayak kami. Kalau punya waktu banyak sih, silakan monggo saja mau berapa spot.

3. Lasem itu panas. Maklum pesisir kan. Makanya pakai kaos aja, yang simple-simple, adem, menyerap keringat. Cuaca panas di Lasem bisa jadi alasan menggunakan kacamata hitam keren kita lho....hehehe. Alih-alih takut dibilang nggaya. 

4. Bawa duit cash yang cukup deh. Karena lokasi ATM juga jarang. Bawa duit pecahan juga, misalnya lima ribuan, sepuluh ribuan, untuk donasi di tempat yang akan kita kunjungi. Bensin juga di-full tank ya. Takutnya kayak Mas Pop, guide kami yang kehabisan bensin hahaha. Peace, Mas Pop!

5. Lainnya apa ya? Tanya aja deh di comment kalau memang ada yang mau ditanyakan. 

Akhirnya, tunai sudah janji bakti saya untuk menuliskan cerita jalan-jalan ke Lasem. Dari tulisan saya ini, kalau ditanya apakah saya mau balik lagi ke Lasem kalau ada kesempatan? Saya bilang MAU. Artinya, bagi saya sebagai pecinta heritage, Lasem itu menawan. Anda pecinta heritage juga? Ya sudah, rencanakan segera ke sana. 


Cheers,

Ariy

Monday, April 2, 2018

Jalan-jalan ke Lasem Part 1: Kuil Cu An Kiong dan Kisah Dahsyat Rumah Candu

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian persiapan jalan-jalan ke Lasem, jalan-jalan kali ini ditemani oleh guide asal Lasem, yaitu Mas Pop dari HeritagePop. Percayalah, tanpa guide, jalan-jalan ke Lasem itu nggak bakal dapat feel-nya. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari internet, tetapi ada hal-hal yang internet tidak bisa lakukan. Nanti bakal tahu apa itu.

Jadi kami janjian ketemu dengan Mas Pop di Kuil Cu An Kiong. Begitu mobil kami sudah masuk ke  jalur Pantura Lasem, GPS langsung bisa menemukan lokasi kuil. Kuil Cu An Kiong mudah dicapai meskipun kami sedikit kebablasan gara-gara GPS-nya rada menyesatkan. Di Kuil Cu An Kiong inilah kami bertemu dengan Mas Pop yang super ramah dan humoris. Di sini kami juga dikenalkan sama Pak Gandor, beliau ini adalah guide khusus yang rencananya akan mendampingi kami di Kuil Cu An Kiong dan Rumah Candu.

Kuil Cu An Kiong

Mudah sekali menemukan kuil ini, karena lokasinya tidak jauh dari jalan pantai utara, yang melintas di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Semakin mudah karena warnanya yang ngejreng: shocking pink !! Kuil ini berada di Jl Dasun No. 19, Lasem, dan konon merupakan kuil tertua di Jawa dan sempat menjadi persinggahan Laksamana Cheng Ho.


Gerbang Kuil Cu An Kiong


Penampakan Kuil Cu An Kiong dari depan. Abaikan manusianya
Menurut penuturan Pak Gandor, ada rekannya yang sempat pergi ke Den Haag, Belanda dan mampir ke sebuah museum khusus Indonesia. Di sana dia menemukan ada peta Lasem yang bertuliskan tahun 1477. Pada peta itu tercantum juga Kuil Cu An Kiong. Hal ini berarti pada saat itu kuil ini sudah eksis.

Lokasi kuil ini memang strategis karena berada di dekat Sungai Lasem (seberangnya). Hal ini yang membuat banyak saudagar yang bersandar di pantai untuk mampir ke sini dengan menggunakan perahu melalui akses sungai ini. Tak terkecuali, konon, Laksamana Cheng Ho juga. Tuan rumah kuil ini adalah Makco Thian Siang Sing Bo atau Dewa Laut. 

Gerbang Kuil Cu An Kiong difoto dari sisi dalam
Di Indonesia, dari beberapa kuil yang saya pernah datangi, ini salah satu kuil yang menarik. Kecil, namun interiornya cukup indah, disamping warna catnya yang jambon itu. Pada bagian dalam kuil ini yang menarik perhatian saya diurutkan dari ranking satu menurut selera saya adalah: lukisan dinding, ubin, lukisan kayu, serta tiang. Saya tidak tahu maknanya di balik pemilihan motif, arti lukisan, arti tulisan di tiang, dan lain sebagainya. Butuh waktu banyak untuk mengulik semua itu. Tetapi saya yakin ada maknanya di balik keindahan yang ditampilkan.






Nah, kalau menurut saya, jika Anda ingin jalan-jalan ke Lasem, saya sarankan untuk mampir ke sini. Kuil Cu An Kiong ini bisa menjadi tujuan pertama sebelum kemudian kita pindah ke Rumah Candu yang jaraknya cuma sepelemparan kolor dari kuil ini. Oya, Kuil Cu An Kiong ini dulu pernah digunakan untuk syuting film "Cau Bau Kan". Ke Rumah Candu ini kita harus bareng dengan Pak Gandor sebagai guide khusus karena memang kuncinya yang pegang beliau. 

Rumah Candu:

Nah, mulai tahu kan kenapa kita butuh guide ? selain memang mereka yang cukup mengerti cerita di balik peninggalan sejarah ini, sebagian besar tempat menarik di sini memang masih milik perseorangan, terkunci, atau kalau terbuka setidaknya kita harus kula nuwun atau bersama dengan orang yang sudah kenal akrab dengan penghuni atau pengelolanya. 

Seperti di Rumah Candu yang memang lokasinya dikelilingi tembok dan kalau kita sendirian jalan-jalan ke Lasem pun susah untuk nemu. Ini semacam rumah biasa (yang dikosongkan), namun dalam sejarahnya menyimpan cerita yang luar biasa.

Selamat Datang di Rumah Candu
Rumah Candu adalah rumah milik Liem Kim Siok. Rumah yang dikelilingi tembok dengan pintu rapat ini memang tidak lagi berpenghuni. Hanya kadang beberapa tamu berkunjung dan menginap di sini ditemani pengelolanya. Halamannya luas dan begitu masuk kita akan disambut gonggongan anjing. Ada dua ekor anjing yang menjaga rumah tersebut. Ada yang sudah mati juga karena digigit ular. Kata Pak Gandor, halaman samping dan belakang yang banyak ditumbuhi pohon jati itu memang banyak ular kecil-kecil, hijau tetapi mematikan. Langsung saya mengkeret.

Rumah Candu biasa disebut juga Rumah Lawang Ombo. Rumah ini menjadi saksi pusat penyelundupan candu atau opium di Jawa. Sungai Lasem yang mengalir tak jauh dari rumah ini menjadi akses penyelundupan dari kapal ke darat. Ada jalur tikus berupa terowongan yang berada di belakang rumah yang menghubungkan dengan lokasi dekat sungai. Terowongan inilah sebagai jalan untuk memasok candu ke dalam rumah. Mantapsss ya. 


Mulut terowongan sebagai akses penyelundupan candu


Konon sekitar tahun 1880, pemilik rumah yaitu Liem Kim Siok adalah seorang syahbandar yang juga melakukan kegiatan menyelundupkan candu dari Tiongkok. Candu-candu ini konon ditukar dengan senjata untuk digunakan melawan penjajah Belanda. Jadi sebenarnya dari cerita ini pun terlihat peran etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda pun ada. 

Menurut cerita Pak Gandor, aksi penyelundupan ini sempat tercium Belanda. Mereka pun melakukan pengecekan ke Rumah Candu namun tak menemukan apapun. Cuma saat sampai di belakang rumah mereka menemukan area kuburan pribadi di sana. Pemilik bercerita bahwa kuburan itu adalah kuburan mereka yang terkena penyakit menular. Mendengar itu, Belanda langsung kabur dari lokasi. Padahal sebenarnya kuburan itu adalah kuburan kosong, yang sengaja dibuat untuk mengelabui Belanda...pfiuuhhh...what a story ya !

Halaman belakang rumah yang terdapat kuburan palsu

Salah satu sudut Rumah Candu
Oya, rumah ini sekarang sudah berpindah ke tangan perseorangan. Pak Gandor sempat bercerita tentang pernah ada anak cucu keturunan Liem Kim Siok yang mengunjungi lokasi, tujuannya untuk mencari makam leluhurnya tersebut. Tetapi setelah itu saya tidak terlalu menyimak apakah kuburannya ketemu atau tidak, karena saya sudah terdistraksi hawa rumah itu yang rada gimana. Nah, tantangan juga nih, kalau ada yang memang punya nyali dan terbiasa dengan "teman-teman tak kasat mata", boleh kok nginap di sini. Ada satu ruangan khusus yang memiliki kamar tidur bisa dipakai untuk menginap. Kalau saya sudah melambaikan tangan tanda menyerah saja ya.

Kata Pak Gandor, Rumah Candu ini pernah menjadi lokasi syuting acara tv yang serem-serem itu. Beberapa pengunjung yang punya indera ke enam juga banyak yang bisa melihat atau bahkan berkomunikasi dengan "teman-teman tak kasat mata" itu. 

Ini Pak Gandor. Beliau sedang bercerita sambil nakut-nakutin kita. 
Meskipun saya belum menuliskan semua tempat mana saja yang saya kunjungi di Lasem, namun saya sudah bisa memastikan, Rumah Candu ini adalah highlight trip saya kali ini. Bukan tampilan fisiknya yang indah atau instagramable karena memang jauh dari itu, tetapi lebih dari itu saya mendapatkan pengetahuan baru yang keren, cerita yang luar biasa di balik keberadaan Rumah Candu. Saya sudah pesimistis akan mendapatkan cerita yang lebih kuat dari Rumah Candu pada spot berikutnya. Kita lihat saja entar di part 2 dan apakah Anda akan sependapat dengan saya.

Setelah mendapatkan cerita banyak dari Pak Gandor yang super ramah. Kami menutupnya dengan foto-foto bersama dan saya dalam hati berdoa agar tidak ada penampakan nyempil di foto bersama ini. Selanjutnya kami berpamitan dengan tangisan haru karena harus berpisah dengan Pak Gandor (kalimat yang terakhir ini bohong). Terima kasih Pak Gandor atas keramahan, cerita-cerita supernya, serta teh botol dinginnya yang gratis :)

Sampai jumpa di part  2 ya. Cheers.

Ariy

Friday, March 23, 2018

Merencanakan Trip ke Lasem (Persiapan)

Dalam beberapa tahun terakhir nama "Lasem" memang berseliweran di benak saya, sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi. Semakin tergelitik untuk ke sana karena nama Lasem cukup hits wara-wiri di sosial media. Ya maap, saya anaknya baperan...lihat begituan langsung pengen hahaha.

"Begituan" maksudnya apa? Sebenarnya tidak semua yang hits bisa menarik perhatian saya. Pertama adalah soal ketertarikan. Kalau memang tidak sesuai minat saya, ya nggak kepengen. Yang kedua soal budget, ya kalau memang mahal ya enggak akan saya datangi. Namanya juga traveler kere kan. Tetapi soal Lasem ini berbeda. Saya sangat teramat digelitik karena tawaran "antik", "lawas", "jadul", "heritage", "sejarah" dan lain sebagainya itu yang kerap melekat di belakang nama Lasem. Itulah maksud "begituan" tadi.

Beberapa kali ide untuk jalan bareng ke sana muncul di sela acara nongkrong bareng di wedangan. Tetapi beberapa kali pula wacana tinggalah wacana. Yang enggak tahan malah sudah mblirit ke sana duluan. Nah, wacana kembali muncul di akhir 2017. Namun, saya menolak karena rencananya pas bareng dengan tahun baru. Maaf deh, tahun baru saya di rumah aja duduk manis daripada terjebak di keriuhan yang menggilaaaa. Awal 2018 kembali muncul wacana, dan kayaknya akan dieksekusi secara cepat. Setidaknya saya mendorong ini segera terealisasi supaya tidak menguap lagi. Ada sekitar 10-an teman yang direncanakan akan ikut.

Rapat Paripurna Trip Lasem. Saya yang ganteng kiri belakang

Singkat cerita, disepakati opsi awal tanggal : 3 atau 10 atau 17 Maret. Semuanya di hari Sabtu. Saya sih mendorong tanggal 3 Maret biar segera terselesaikan, lalu hidup akan kembali berjalan dan mikirin hal lain seperti...cari jodoh misalnya.

Setelah itu dibentuklah grup WA khusus trip Lasem yang akan dibubarkan bila trip rampung. Jujur, saya suka grup sementara begini karena grup WA yang permanen lebih banyak menimbulkan konflik. Nah, dimulailah mengerucutkan spot yang akan dikunjungi, sharing transportasi dan akomodasi, dan lain sebagainya. Trip pun telah disepakati tanggal 3 Maret. Setidaknya inilah beberapa hal yang kami bahas sebelum trip:

Transportasi

Kami menyadari sekali bahwa Lasem adalah kecamatan kecil di sebuah kabupaten kecil yaitu Rembang. Maka transportasi dalam kotanya akan menjadi masalah bagi kami yang berombongan. Jadi akan lebih baik dan efisien kalau memakai kendaraan sendiri untuk ke sana, sehingga mobilitas terjamin. Jangan lupa, Lasem adalah kawasan pesisir yang panasnya bisa buat goreng telor ceplok (lebay sih). Yakin mau jalan kaki dari satu spot ke spot lain? Bisa sih naik ojek kalau sendirian. Bukannya saya manja, saya sudah biasa city tour jalan kaki. Tetapi kalau ada pilihan lain yang realistis dan lebih bagus, pantang ditolak.

Untuk menuju ke Lasemnya, bisa menggunakan angkutan umum yaitu bus. Kita asumsikan naik dari Semarang ya sebagai kota besar utama yang mudah untuk pijakan awal. Nah dari Semarang, silakan langsung ke Terminal Terboyo, lalu pilih bus jurusan Surabaya (Jawa Timur), misalnya PO Indonesia, Jaya Utama, dll. Tiket sih kata temen more less Rp 30.000-an, minta diturunin di Masjid Jami Lasem. Jarak Semarang-Lasem lumayan juga, 120 km-an, dengan cuaca puanaaas (semangaat!). Kalau sudah sampai Lasem, tinggal keliling naik ojek. Saya lupa dan tidak terlalu memperhatikan apakah di Lasem ada becak atau tidak. 

Keputusannya: kami sewa mobil lengkap dengan sopir yang kebetulan teman sendiri dan BBM-nya. Dari sekitar 10-an yang awalnya akan ikut, hanya tersisa 7 orang. Alhasil, satu mobil cukup. Kami rencananya menginap semalam. Sewa mobil per 12 jam adalah Rp 250.000, sopir Rp 250.000, BBM sekitar Rp 300.000-an komplet. Karena teman sendiri, hitungan jam ini pun diabaikan. Total jenderal untuk dua hari satu malam kami bayar Rp 1 jutaan yang dibagi 7 orang. Reasonable !

Hotel: Menginap menjadi pilihan karena jaraknya yang lumayan. Beberapa adalah anak Solo, sisanya anak Sukoharjo, Boyolali dan Semarang. Kami tidak ingin waktu habis di jalan, maka menginap menjadi pilihan. Berangkat diputuskan tanggal 3 Maret (Sabtu pagi), menginap semalem di Rembang atau Kudus, lalu Minggu pagi berangkat ke Lasem.

Kami memutuskan hotel jaringan karena standarnya jelas. Banyak hotel ditawarkan di sekitar Lasem, tetapi nggak tahu kenapa rate-nya kok sudah tinggi ya, hampir sama kayak hotel jaringan. Padahal fasilitas belum tentu bagus. Sempat ingin menginap di penginapan yang berupa rumah lawas di Lasem, tetapi kena veto teman yang takut tidur di penginapan lawas. Akhirnya diputuskan ambil hotel jaringan. Pilihan pertama Fave Hotel Rembang. Tetapi pada akhirnya mbelok ke @HOM Hotel Kudus. Dua-duanya hotel jaringan yang secara fasilitas jelas, rate-nya juga masuk ke budget kami yaitu per malam Rp 300.000-an.

Berapa kamar yang kami ambil untuk 8 orang (termasuk sopir)? Dua kamar saja cukup!! Kami bener-bener ngirit, karena toh hanya istirahat beberapa jam saja. Satu kamar untuk keputren (cewek), satu kamar lagi untuk kasatrian (cowok). Padahal ceweknya cuma dua. Lha gimana mbaginya dong? dua orang cowok lainnya menyaru jadi cewek gabung di keputren dan tidur harus pakai daster (yang terakhir ini saya bohong dan siap dikutuk Tuhan). Kamar yang kami ambil adalah twin bed, terus kami bongkar posisi bed jadi luas dan cukup berempat. Nggilani dan kemproh pokoknya! 

Kalau yang datang sendiri, banyak kok penginapan murah mulai Rp 50.000-an. Mau yang spooky juga ada kalau butuh teman Nonik-Nonik Lasem jaman dulu. Pas kita di sana, ada pengusaha setempat juga lagi bikin semacam hostel untuk traveler on budget. Ke depannya akomodasi bakal semakin mudah. 


Guide: Kami sangat menyadari ngetrip ke Lasem itu bukan hanya soal berkunjung ke tempat A, pindah ke tempat B, jepret sana jepret sini. Tetapi lebih dari itu, ke Lasem harus ngerti cerita di balik eksistensinya, sejarahnya, masa lalunya, dan lain sebagainya. Karenanya menjadi tidak menarik kalau kami melewatkan soal "cerita" ini dan memilih foto-foto di bangunan-bangunannya untuk dipajang di sosial media. Dahsyatnya Lasem itu yang story behind eksistensinya. Untuk kepentingan itulah kami membutuhkan guide.

Kami sepakat menggunakan guide Mas Pop dari HeritagePop (ini IG-nya). Kami urunan untuk membayar jasanya. Ndak usah disebutin di sini ya, japri langsung aja ke yang bersangkutan. Setelah oke, kami mendapatkan daftar tempat yang akan dikunjungi. Beberapa kami coret karena memang ngirit waktu. Nah, ada dua tempat yang menurut kami menarik dan wajib dikunjungi tetapi harus mengeluarkan kocek untuk membayar guide khusus. Ini guide di luar Mas Pop ya...hanya khusus di dua tempat. Kami sepakat untuk memakainya atas rekomendasi Mas Pop juga. 

Biaya Lain-lain: Biaya lain-lain ini di luar makan minum selama di perjalanan ya. Misalnya yang penting nih, donasi ke penghuni rumah-rumah yang akan dikunjungi. Namanya donasi ya monggo saja mau berapa. Misalnya nih kita mengunjungi rumah yang masih ada aktivitas membatiknya, nah kita kumpulin duit buat para pembatik. Ya kisarannya di angka Rp 5.000 - Rp10.000 per wisatawan lalu dikumpulin, lalu serahin semuanya ke mereka biar mereka membagi sendiri.

Hal-hal di atas adalah persiapan awal sebelum ke Lasem. Iya memang ini itu ono ini sangat banyak. Makanya kalau barengan begini akan menjadi lebih murah (selain nyaman dan seru). Oya, jangan lupa pakai pakaian yang simple-simple aja, yang nyerap keringat, karena panas tiada tara akan menyambut kita. Nggak ding, ya panas-panas biasa kayak di wilayah pesisir begitulah. Paling butuh bekal minum lebih dari biasanya saja.

Setelah semua beres, akhirnya tanggal 3 Maret pun tiba. Meeting point kami adalah Stasiun Purwosari Solo pukul 06.00 WIB. Di sini untuk yang Solo dan Sukoharjo berkumpul. Berikutnya menjemput putri asli Boyolali yang sejak pukul 04.00 WIB sudah berdandan dan pasang idep hahaha. Setelah itu bablas ke Semarang menjemput tuan putri satunya sebelum bablas ke Kudus. 

Tim Horeks siap berangkat
Itu sedikit tips untuk memulai mempersiapkan trip ke Lasem yang semoga berguna untuk membayangkan apa yang akan Anda hadapi saat ingin ke Lasem. Cerita berikutnya langsung kita akan bahas apa-apa saja yang kita lakukan dan kunjungi selama menjelajah Lasem yang bagi saya...cuaaantiiikk banget! Penasaran kan? tunggu aja :)

Cheers,

Ariy

Tuesday, January 30, 2018

Pengalaman Nginap di Sumi Hotel Semarang (Review)

Weekend kemarin menyempatkan diri kembali ke kampung halaman kedua saya, tak lain tak bukan adalah Semarang. Kota ini menjadi kota yang menempati salah satu ruang di hati saya hahahaha...itu bahasa melankolisnya. Pertama, karena ibu angkat saya adalah asli Semarang. Kedua, saya sendiri pernah menjadi salah satu "warganya", meski cuma setahun.

Sebenarnya weekend kemarin adalah perjalanan bisnis. Setelah sibuk "jualan" di PLN Jatingaleh, Telkom, dan KPP Pratama, saya memutuskan untuk tidak pulang, sementara teman saya langsung pulang bareng sopir. Saya pengen melepas kangen dengan kota ini semalam.

Pengennya nginep di lokasi yang strategis, dan hanya dua kemungkinan: di daerah Pemuda atau di daerah Simpang Lima. Oya, rata-rata saat jalan dan nginep di hotel saya selalu memilih hotel yang di kisaran bintang 2-3. Tidak pernah lebih dari itu kecuali ada promo. Tak jarang saya memakai yang model hotel kabin yang kata temen saya adalah kos-kosan yang menyaru menjadi hotel.

Bagi saya yang penting nyaman dan masuk budget. Saya selalu menekan budget untuk kamar hotel tidak boleh lebih dari Rp 300.000. Karena harga itu sudah cukup memenuhi kenyamanan dalam standar saya.

Di Semarang, kalau nggak Whiz Hotel, ya Hotel Citra Dream yang menurut saya cukup nyaman. Sempet juga nyoba Olympic Hotel tetapi bagi saya kurang nyaman. Ada juga Fave Hotel, Neo, dll. Kadang harganya masuk, kadang tidak.

Nah, kemarin sempet tengak-tengok di Traveloka, ada hotel yang belum pernah saya kenal. Namanya Sumi Hotel. Saya tertarik karena harganya masuk, sementara...lokasinya...beuuuh, bagus banget! Lokasi. Lokasi. Lokasi. Ini pertimbangan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk booking.

                                                                                           Foto: traveloka.com

Sumi Hotel Semarang berada di Jalan Gajah Mada No. 129. Jadi kalau mau saya gambarin bagusnya lokasi ini adalah begini:

- Jalan kaki semenit aja dari Masjid Raya Baiturrahman.
- Jalan kaki semenit saja dari Citraland (Ciputra Mall - mana sih yang bener namanya?)
- Sepelemparan kolor* dari Simpang Lima (*Diksi titipan Mbak Restiana yang harus selalu ada di setiap posting tulisan saya).
- 300 meter dari E-Plaza.
- 300 meter dari Simpang Lima Plaza.
- Seberangnya ada Indomaret Point 24 jam
- Cari makan gampang, lesehan, nasi kucing, sampai kuliner Simpang Lima.

Begitu kerennya lokasi hotel ini karena benar-benar di jantung kota. Kalau misalnya Anda wisatawan, mau ke Lawang Sewu atau Kota Lama pun gampang. Banyak becak atau bisa juga naik Go-jek. Terus gimana dengan fasilitasnya? Standar sih, tetapi sudah cukup nyaman bagi saya. Saya ambil yang Deluxe Twin Bed...tinggal itu doang yang ada. Kurang sreg sih, karena sendirian ada dua bed. Jadi kadang kalau kebangun malam sering nengok, yang lagi tidur di bed samping siapa ya? Hihhh.

Foto: traveloka.com

Kamarnya bersih, simple, dua botol air mineral, TV kabel yang tangkapan gambarnya bagus nggak kayak kebanyakan hotel meski channel-nya tak banyak amat. AC mayan dingin, kamar mandi oke, tapi kayaknya kaca pecah di wastafel kamar 222 musti diganti deh. Diperbaiki seadanya dan masih fungsional sih, tapi dilihat enggak banget. Air panas oke juga, shower juga deresnya kayak hujan air mata habis diputus pacar...oke banget!

Terus, ini kan kamar twin bed ya, sayangnya toiletries-nya cuma buat satu orang. Jadi bisa dipastikan, kalau saya bawa temen, maka kami akan gantian pake sikat gigi...hiiiiiihhhh! hahahaha. Wifi-nya ya sekadar oke sih, tidak kenceng, tapi juga tidak letoy. Colokan listrik ada dua. Sayangnya satunya model kaki tiga. Tapi kok ya ndilalah, charger HP saya kok berkaki tiga juga. Maka untuk sementara travel universal adaptor saya yang segede tahu bakso saya istirahatkan dulu. Mungkin pihak hotel mengantisipasi tamu asing. Tetapi menjadi useless kalau yang nginep lebih banyak tamu lokal dan harus rebutan satu colokan.

Sarapan? Nggak pake. Karena memang pas ambil kamar ini nggak termasuk sarapan. Kalau mau nambah Rp 50.000 bisa kok buat sarapan. Tapi saya lebih suka jajan di luar, nebus kangen makan tahu gimbal.

Dengan harga Rp 250.000-an, menurut saya reasonable sih. Karena sekali lagi, lokasinya bener-bener bagus jadi memudahkan wisatawan kalau mau kemana-mana. Soal kekurangan-kekurangan itu bagi saya masih bisa ditoleransi. Jadi kalau misalnya mau ke Semarang dengan budget yang tidak banyak, cari hotel, coba Sumi Hotel. Btw, saya tidak di-endorse oleh pihak hotel dan tulisan ini bukan iklan (lagian kalau iklan kok ditulis komplit kekurangannya). 

Oya, saya agak geli dengan nama hotel ini di awal. Karena jadi teringat Mbak Sumi (yati) tetangga saya di Solo hehehe. Tetapi setelah saya googling, ini ternyata jaringan hotel yang sudah punya cabang di Jakarta dan Surabaya. Jadi sayanya aja yang katrok. Oke, semoga berguna bagi yang mau ke Semarang :)

regards,

Ariy

Sunday, August 20, 2017

Jelajah Heritage: Kesederhanaan Candi Sambisari

Baru pertama kali saya menyambangi Candi Sambisari. Gara-garanya saya sering naik motor Jogja - Solo dan kerap melihat papan petunjuk di kiri jalan ke arah Candi Sambisari. Sampai suatu saat, saya iseng belokin motor mengikuti papan petunjuk tersebut.

Candi Sambisari mudah dicapai dari Jogja, sekitar 4,3 km dari Bandara Adisucipto. Petunjuknya gampang, dari Bandara Adisucipto lurus aja arah Solo. Paling mudah adalah menggunakan petunjuk gapura Kompleks TNI AU (ini satu-satunya yang paling mudah untuk petunjuk) yang posisinya ada di kanan jalan. Nah, di seberang pas nanti ada gapura jalan kampung dengan petunjuk ke arah Candi Sambisari, masuk aja sekitar 1 km. Lurus aja, nyebrang selokan Mataram masih lurus. Hingga ketemu kompleks Candi Sambisari.

Lokasi kompleks Candi Sambisari berada menjorok di dalam tanah.


Area kompleks Candi Sambisari sendiri berbentuk kotak persegi, dan berada di kedalaman yang saya belum nemu info berapa dalamnya. Bentuknya candinya sederhana tetapi terawat rapi. Dengan semacam tembok luar mengelilinginya. Kemudian tembok lapis kedua sebelum kita bertemu dengan tiga candi yang tidak sempurna, baru kemudian kita menemukan candi utama.

Dalam keterangan di lokasi, Candi Sambisari merupakan candi yang diperkirakan dibangun pada abad IX, yang terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966. Saat itu sang petani tengah mencangkul tanah milik warga bernama Karyowinangun dan cangkulnya membentur batu ukir yang merupakan reruntuhan candi. Oleh Kantor Arkeologi kemudian dilakukan penggalian dan rekonstruksi yang selesai pada bulan Maret tahun 1987. 




Berdasarkan arsitektur dan bentuk ornamen, Candi Sambisari memiliki kemiripan dengan Candi Prambanan, yang berlatar keagamaan bersifat Siwaistis. Terdapat patung-patung Dewa Hindus, kemudian juga terdapat Lingga dan Yoni di dalam candi utama. Lingga adalah salah satu perwujudan Dewa Siwa, sementara Yoni adalah perwujudan dari Sakti yang merupakan isteri Siwa. 




Selain itu juga terdapat patung Durga Mahisasuramardhini (Utara), Ganesa (Timur), Agyasta (Selatan), serta Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga pintu.

Bila Anda suka arkeologi ataupun sejarah, candi ini patut untuk didatangi. Waktu saya mengunjungi candi ini kebetulan bulan Agustus di mana ada kebijakan untuk menggratiskan tiket masuk. Tetapi menurut informasi, di hari biasa tiketnya cuma Rp 2.000 (atau mungkin lebih?), yang pasti harga tiketnya masih ramah di kantong. Kalau bingung, dari Jogja bisa memakai Go-Jek, more less sekitar Rp 30.000-an. Lokasinya kira-kira di pertengahan dari Jogja ke Prambanan. 

Selamat menjelajah,

Ariy

Friday, August 11, 2017

Jelajah Heritage: Candi Plaosan Kidul - Klaten, Jawa Tengah

"Orang tua selalu berbicara soal masa lalu, anak muda selalu berbicara masa depan", itu yang saya ingat dari omongannya si Ajie, salah satu travelmate saya menjelajah Medan, Danau Toba, hingga Bukit Lawang. Sepertinya tepat sih, saya memang sudah tua hahahaha.

Saya selalu suka hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, sejarah, kota lama, barang antik, mantan...eh. Pokoknya apapun yang lawas dan mbladhus hihihi. Termasuk saya suka menikmati candi yang satu ini. Nggak cuma masa lalu dong, ini benar-benar masa yang sangat lalu.

Candi Plaosan, dua kali sudah saya ke sini. Tinggal nambah sekali bakal dapat hadiah sabun colek. Dua kali itu saya mampir sembari pulang dari Jogja menuju Solo. Kalau pas berangkat mampir nggak enak, musti muter. 

Di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memang banyak candi. Tapi memang yang paling cantik adalah Candi Prambanan, baru kemudian (menurut saya) adalah Candi Plaosan ini. Yang ketiga adalah mantan. Candi Ratu Boko.

Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, dan masuk Kabupaten Klaten. Inget ya, Klaten...bukan Jogja. Lokasinya sekitar 4,2 km dari Candi Prambanan. Kalau dari Bandara Adisucipto Yogyakarta sekitar 16 kilometer. 

Candi Plaosan terdiri dari dua areal, yaitu Candi Plaosan Kidul dan Plaosan Lor. Yang jadi tujuan biasanya Candi Plaosan Kidul alias Selatan. Memang kalau dari arah jalan masuk, yang kelihatan langsung yang Candi Plaosan Kidul. Begitupun saya, ke sana ya selalu ke Candi Plaosan Kidul.



Sejarah soal candi ini simpang siur dan banyak versi. Saya nanya adik saya yang sarjana sejarah dan ikut komunitas pecinta sejarah pun juga bilang hal sama. Jadi memang soal keabsahan sejarah yang akan saya kutip bisa saja diragukan. 

Salah satu versi menyebut bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan pada jaman Mataram Kuno (Abad IX). Kalau mereka yang menjadi bagian generasi 90-an, pasti langsung "ting!" mendengar nama raja itu. Hehehehe. Iya, ingatan saya langsung terlempar pada sandiwara radio "Tutur Tinular" (Saur Sepuh ya? yang ada Rakai Pikatan?) hahaha. Tapi generasi millenials mungkin nggak ngeh, jadi lupakan.

Nah soal versi ini didukung oleh pakar, yaitu De Casparis, mengacu pada prasasti Cri Kahulunan (842 M). Menurut prasasti itu, candi ini dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan yang beragama Buddha. yang bergelar Pramodhawardani (puteri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra). Nah, padahal kalau Mataram Kuno kan Hindu. Makanya tak heran ada representasi arsitektur dari Hindu dan Buddha di candi ini.


Dalam candi-candi Buddha terdapat kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil), nah itu pula yang ada di candi ini. Soal sejarah ini silakan Anda googling atau mencari referensi yang lebih valid, itu kalau memang ingin mempelajari lebih jauh.

Salah satu yang saya suka dari kawasan candi ini adalah tidak terlalu terkomersialisasi. Mungkin karena kalah pamor dari Candi Prambanan yang tak jauh dari lokasi Candi Plaosan. Nah, karena kalah pamor itu, tidak terlalu banyak pengunjung. Lebih enak untuk mengeksplorasi, motret-motret nggak terlalu keganggu.



Kawasan ini juga tertata sangat rapi. Selain candi-candi besar, terdapat sejumlah candi kecil, dengan lorong-lorong yang membuat imajinasi saya terlempar ke jaman masa lalu. Membayangkan ini sebuah kampung, kemudian ada jalan setapaknya dan sebagainya dan sebagainya. Ada satu areal yang dibangun seperti panggung dengan arca-arca mengelilinginya. 


Areal reruntuhan yang lumayan besar menurut saya justru memberi kesan magis. Keren. Oya, dua kali ke sini selalu pas weekend, dan alhamdulillah kondisinya selalu lengang. Mau motret tanpa bocor, bisa banget. Ini beda banget dengan Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang kalau kita motret (khususnya bagi saya yang amatir) selalu aja bocor ada pengunjung lain in frame. 

How to get there: Cara ke sini gampang. Untuk wisatawan yang stay di Jogja, naik aja TransJogja turun di halte Prambanan. Dari sini cari ojek ke Plaosan (karena masuknya lumayan jauh, jalan kaki gempor juga). Saya perkirakan ojek pangkalan sekitar Rp 15.000-an. 

Saya tidak tahu ada Gojek sampai sini nggak, tapi bisa dicoba untuk hunting Gojek. Kalau naik Gojek dari Bandara Adisucipto (16 km), sekitar Rp 33.000. Kalau naik motor sewaan, gampang. Sampai ke Candi Prambanan tinggal lurus aja arah Solo, nggak jauh sekitar sekilo mungkin ya...pokoknya nanti kiri jalan ada papan petunjuk untuk belok kiri ke Candi Plaosan. Nah, kalau udah masuk jalan ini, luruuuusss aja sampai nemu papan petunjuk lagi (kanan jalan). Kalau sudah nemu, belok kanan...maka ketemu sudah.

Tiket masuk berapa? Rp 3.000 perak tanpa tiket. Muriiiih, mengingat parkir motor aja Rp 2.000. Jam buka saya tidak tahu karena memang lokasinya sangat terbuka, berbeda dengan candi lain. Tapi ada pos satpamnya, jadi mungkin pagi-sore. 

Oya, di sini fotografer sering hunting sunset yang konon indah bener, mengingat sekitarnya adalah persawahan. Selain itu, Pemkab Klaten juga punya agenda tahunan Festival Candi Kembar. Pas saya ke sana, kanan kiri jalan menuju ke candi ini sudah terpasang spanduk jadwal festival ini. Saya lupa nyatet, monggo googling saja ya hehhehehe.

Selamat menjelajah :)

Ariy

Thursday, October 22, 2015

Pengalaman Buruk dengan Agoda

Dear Journer,

Sebenernya ini kasus sudah beberapa bulan lalu. Tetapi saya tetap ingin sharing di sini, semoga saja bisa menjadi warning bagi yang lain. Ceritanya, beberapa bulan lalu saya lagi ada urusan di Jogja, dari pagi sampai malam. Karena males pulang ke Solo, saya akhirnya spontan berpikir untuk stay overnight di Jogja. 

Nah, karena nggak persiapan mau nginep di mana, saya pun ngulik beberapa situs hotel booking. Agak ribet sih, karena dadakan. Kalau harga cocok, hotelnya enggak. Atau harga cocok, hotel cocok, lokasi jauh. Setelah pertimbangan banyak aspek, saya akhirnya memilih booking kamar di Hotel Omahkoe, yang berada di Jl Dewanto No 99, Maguwoharjo, Jogja, tepatnya di dekat bandara. Harga yang ditawarkan waktu itu cukup murah, nggak sampai Rp 200.000. Setelah mantap, saya akhirnya booking melalui www.agoda.com.


Saya relatif jarang menggunakan agoda. Pernah sekali dua kali saja menggunakan situs ini. Sekarang ini lagi seneng-senengnya pakai HotelQuickly. Dulu saya suka pakai www.hostelbookers.com atau www,hostelworld,com, juga lumayan sering pakai www.booking.com karena bisa bayar ntar pas menginap.

Nah, dengan agoda kali ini, saya tidak mengalami kesulitan selama proses booking. Kelar booking, saya pun meluncur ke alamat hotel. Waktu itu sudah cukup malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Sampai di sana, saya langsung menuju ke resepsionis, yang ditemui oleh seorang laki-laki muda. Setelah mendengarkan keperluan saya, laki-laki itu terdiam beberapa saja.

"Jadi begini, Pak...Bapak bukan orang pertama yang datang malam ini membawa bukti telah booking kamar melalui agoda. Tetapi mohon maaf sekali, saya perlu sampaikan bahwa semua kamar sudah penuh," kata laki-laki muda itu dengan sopan.

"Apa?? Kok bisa ? ini saya ada bukti kok kalau transaksi sudah diproses pakai kartu kredit," jawab saya. Si resepsionis terdiam.

"Iya, Pak...seharian ini saya banyak dimarahi orang karena kasus seperti Bapak. Kami sudah mengkontak agoda untuk menutup booking bagi hotel kami. Tetapi mereka terus membuka penawaran," jawab si resepsionis.

"Lha terus nasib saya gimana, Mas? Ini saya ke sini juga ngojek. Ojeknya udah pergi tuh. Mau cari hotel lain susah. Padahal kartu kredit saya sudah terkonfirmasi bayar lho," ujar saya memelas.

Saya bertahan di depan meja resepsionis meskipun laki-laki itu sudah terlihat menyerah, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Saya tidak mungkin mencari hotel lain, karena lokasi ini berada di pinggiran, selain saya juga tidak punya transportasi.

Entah mungkin  karena kasihan atau apa, si resepsionis akhirnya membuka suara "Pak, ini kebetulan ada yang membatalkan kamar satu. Kalau Bapak bersedia, bisa dipakai," kata dia. Waaah, langsung deh saya iyakan. Sementara si resepsionis sedang menyelesaikan administrasi, saya menunggu di depannya. Tak berapa lama sebuah mobil masuk. Bapak-bapak muda dengan kopornya langsung merapat ke resepsionis.

"Masih ada kamar, Mas," kata si laki-laki itu kepada resepsionis. 
"Maaf, kamar penuh Pak," jawab si resepsionis.

Saya lega sekali. Kalau telat beberapa saat saja, pasti kamar pengganti untuk saya bakal disamber orang. Nah, setelah proses administrasi selesai, saya diizinkan masuk ke kamar "pengganti". Saya kaget, karena kamarnya tidak teratur, bantal sprei seperti dipasang seadanya. Ya sudah masih beruntung saya bisa tidur malam ini, bagaimana dengan yang lain?
Dari peristiwa itu, sekarang saya agak waswas untuk booking melalui agoda. Saya bayangkan kalau saya tidak mendapatkan kamar pengganti: kartu kredit sudah membayar kamar, tapi kamar tidak tersedia, lalu saya harus mengurus komplain ke call center agoda (Jakarta...itu kalau ada), pulsa habis buat telp yang belum tentu segera dapat solusi. Itu pun kalau bisa refund entah butuh waktu berapa lama....hiiiih....membayangkan saja ogah. Pasti ribet!

Alhasil, mau tidak mau saya harus menikmati kamar pengganti yang seadanya itu daripada ngurus refund. Well, shit happens sometimes.... :)

Salam,

Ariy

Sunday, October 4, 2015

Review : Midtown Xpress Hotel (Jogja)

Dear Journer

Menurut saya kekuatan Midtown Xpress Hotel yang (cuma) bintang dua ini adalah di design arsitektur dan interiornya, modern contemporary design, dengan kamar yang cozy. Saya waktu menginap di sini mendapatkan harga Rp 100.000 (tanpa breakfast) dari Hotel Quickly. Wow banget kan? Awalnya saya pikir malah bintang tiga lho, karena penampakan dari luarnya emang bagus.

                                                  foto: id.hotels.com
Berada di kawasan Demangan, dengan tebaran rumah makan, resto, distro, cafe, dan lain sebagainya. Selepas maghrib, suasana di tempat ini ramai.
Lokasi:
Berada di Jl Cendrawasih No 19, Demangan, Yogyakarta, hotel ini terletak 8 km dari Bandara Adisoetjipto, sekitar 1.5 km dari Ambarukmo Plaza (Amplaz), Saphire Square (0.7 km), dan lain sebagainya...tapi kalau ke Malioboro ya lumayan jauh sih, bisa naik TransJogja, tapi jalan dulu di depan Saphire Square...mayan gempor. Ke stasiun juga lumayan jauh. Cara satu-satunya ya naik taksi seperti diriku :).

Fasilitas:
Kamar berjendela tidak dimiliki semua hotel. Di sini, jendelanya tinggi, sinar matahari masuk sempurna. Setidaknya ini di kamar yang saya tempati. Yang lain? standar aja: TV Kabel, AC tentu saja, sandal hotel, coffee maker lengkap dengan pilihan kopi, teh dalam bentuk sachet.

Untuk toiletries pun standar, dengan kamar mandi bersekat kaca dengan shower (Alhamdulillah) lancar jaya. Secara umum, saya tidak memiliki celah untuk mengkritik fasilitasnya, karena emang untuk kelas bintang 2 dan dalam standar saya ya tidak ada masalah lagi.


                                                                                 foto: www.booking.com


                                                                            foto: www.tripadvisor.com

Saya suka hotel jaringan, karena mereka sepertinya memiliki standar yang jelas dalam aturan, fasilitas, pelayanan, dan lain-lain. Jadi kalau saya mau ke Midtown Xpress Jogja atau Midtown Xpress Surabaya misalnya, ya sama saja standarnya. Yang jadi perhatian saya lebih kepada lokasi...lokasi....lokasi. Bagi yang ke Jogja mau ke Keraton, Malioboro, atau spot wisata lain, ya harus punya kendaraan, atau bisa naik taksi. Tetapi kalau Anda tidak ada problem dengan kendaraan, Midtown Xpress Jogja bisa jadi pilihan, karena lokasinya masih di dalam kota.

Selamat mencoba,

Ariy