Saturday, October 10, 2020

Setelah Sekian Lama...

Gila, saya bahkan nyaris lupa punya blog ini.

Sampai kemudian pas goleran nggak ada kerjaan dan main laptop, inget dengan blog ini. Mengingat kembali apa yang pernah terjadi dengan hidup saya melalui blog ini terasa sangat menyenangkan. Jadi kayak kembali saat masih SD, ingetnya main mulu...problem terberat hanyalah PR matematika!

Kemana saja saya? Saat ini posisi di Solo setelah melepas kerjaan di Semarang. Kalau traveling, saya tidak ingat kapan persisnya terakhir jalan saking kelamaan nggak jalan. Tetapi terakhir kali saya jalan ke luar negeri adalah ke Vietnam - Kamboja- Thailand (lagi). Vietnam dan Kamboja adalah salah satu keinginan saya sejak lama untuk mampir ke sana. Kalau Thailand, memang selain pijakan untuk balik Indonesia atas nama tiket murah, juga karena pengen nyantai di ujung perjalanan di Chiang Mai.

Dulu, saya tidak menyangka akan sejauh ini. Inget sekali saat masih kerja di koran, tiba-tiba telepon di meja saya bunyi. Seorang teman menawari saya tiket pp Solo-Singapore gratis dan voucher SGD 100. Saya iyain itu. Super excited, karena saya belum pernah ke luar negeri. Itu tahun berapa ya, sekitar awal 2009 kalau nggak salah. Tiket akhirnya hangus karena saya terlalu banyak pertimbangan, maklum belum pernah ke luar negeri. Tapi voucher belanja bisa kepakai pada kunjungan saya pertama ke Singapore. Pada akhirnya, saya tetap berangkat di bulan Oktober tahun 2009. Sejarah perjalanan pertama saya adalah: Singapore sebagai negara pertama yang saya kunjungi, lalu Malaysia, Thailand, serta Myanmar. Sekarang alhamdulillah sudah tambah China, Vietnam, Kamboja. Kalau ke Singapore dan Malaysia sudah bolak-balik, karena pernah jualan trip juga. Kalau Thailand sudah tiga kali. Nggak pernah kepikiran sebelumnya bakal jalan ke luar negeri.

Kalau dalam negeri sepertinya terakhir kali ke Lombok atau Lasem (?) saya lupa-lupa ingat mana yang lebih dulu. Setelah itu saya lebih banyak di Solo. Ngapain? ya nggak ngapa-ngapain. Hidup kan tidak melulu soal traveling. Ya ada kerja, berkumpul sama keluarga, nongkrong sama temen, goleran di rumah. Tapi emang, orang berubah, prioritas berubah, persoalan baru, dan lain sebagainya. Demikian juga saya.

Tetapi memang ada titik balik dalam hidup saya, terkait soal aktivitas di dunia traveling dan bagaimana saya memandangnya. Sejak sebelum perjalanan ke Vietnam dan Kamboja, saya sudah merasa ada yang salah dengan apa yang saya lakukan. Saya seperti melakukan traveling untuk target tertentu, misalnya untuk konten buku, blog, atau sekadar berbagi di sosial media. Dan itu mulai membuat saya "capek". Kadang esensi jalan-jalan buat bener menikmati perjalanan juga ilang. Memang tidak semua, tapi di kasus saya sering terjadi.

Sebelum ke Vietnam dan Kamboja, seseorang menghubungi saya dengan penawaran yang mungkin kalau ditawarkan waktu saya lagi excited dengan traveling pasti saya terima. Tetapi dia datang di saat yang tidak tepat: saat saya merasa "capek". 

Jadi ada lomba membuat semacam rencana perjalanan ke Eropa. Saya dihubungi penyelenggara untuk ikut, dengan iming-iming akan dimenangkan. Saya bilang nggak bisa dong. Lalu yang bersangkutan bilang, ya sudah nggak usah jadi peserta tapi bikin rencana perjalanan nanti akan di-ACC. Tentu ini masih terkait lomba, yang entah bagaimana caranya mungkin akan dikemas sedemikian rupa seolah bagian dari lomba? entahlah. Yang jelas saya menolak. Saat diiming-imingi USD 1.000 sebagai uang saku pun saya menolak. Ada beberapa alasan:

1. Nafsu traveling saya lagi rendah.

2. Sejujurnya saya bukan orang yang pengen ke Eropa (saat itu...dan saat ini), karena realistis saja, meskipun dapat uang saku, bakal keluar duit sendiri juga. Sementara saya lagi nabung dan butuh modal untuk usaha yang sudah mulai jalan. Jadi sudah beda prioritas. Sudah mikir, sayang juga ya duit segitu hanya habis buat sekian hari doang.

3. Harus bikin buku, dengan konsekuensi saya jalan pun nggak menikmati karena sibuk cari data, observasi, kumpulin foto, dan lain sebagainya, pulang pun masih dikejar target. Saya sudah bikin beberapa buku traveling, mungkin karena itulah sudah berkurang excitement-nya.

Bagi traveler lain mungkin kesempatan itu bakal disambar dengan suka cita. Anggap aja dapat tiket pp gratis ke Eropa dengan uang saku itu, Tapi ya itu, saya sendiri sudah "capek". Ini sebenarnya peluang bagi traveler lain ya. Jadi sekadar gosip nih, penyelenggara ini kenal baik dengan saya. Tetapi berdasarkan pengalaman, kalau bikin lomba traveling susah sekali menemukan orang yang komitmen untuk menyelesaikan kewajibannya (karena kebetulan travelingnya harus independen alias jalan sendiri). Pernah nih, dulu bikin lomba, sudah nemu pemenang, sudah ditransfer duit untuk melakukan perjalanan, eh anaknya menghilang. Duit nggak balik, kewajiban sebagai pemenang tidak dijalankan. Nah, lho...

Makanya mereka rada-rada waswas kalau bikin lomba. Kebetulan karena saya pernah menang, ngerjain tugas dengan tuntas tunai lunas, mereka seneng. Tapi ya itu tadi, kebetulan saja sekarang lagi "capek".

Sebelum ke Vietnam dan Kamboja itu pun saya mendapatkan undangan untuk ngisi acara di Balaikota Bandung (itu yang dibilang panitia dari sebuah universitas di Bandung). Semacam talkshow traveling bareng Jebraw Jalan-Jalan Men. Dengan yakin saya menolak. Karena memang saya tahu diri, sudah mulai jarang traveling dan merasa rada kurang relevan dengan dunia pertravelingan sekarang. Padahal teman-teman menyemangati "Kamu tuh masih relevan."  Okelah, taruhlah saya ngerti bagaimana cara traveling on budget, ngakalinya, dan lain sebagainya. Tetapi jam terbang saya kan juga nggak banyak. Di luar sana, banyak banget yang jam terbang tinggi. Jadi ya saya pikir, cukuplah yang kemarin-kemarin itu. Kecuali, ada kecualinya nih...kecuali ada momentum saya meluncurkan buku baru dan saya cerita soal buku itu. Nah, kalau begitu lain cerita ya. Kekuatan saya emang saya lebih banyak bikin buku. Tetapi kalau jam terbang traveling, banyak yang jauh lebih tinggi.

Di tengah rasa "capek" itulah, saya dapet rejeki dari usaha yang saya rintis. Kebetulan karena longgar, saya pun jalan menuntaskan keinginan saya untuk traveling Vietnam dan Kamboja. Tidak ada target. Pokoknya dua minggu yang bodo amat yang penting saya happy. Hidup saya memang bebas, nggak ada bos atau kantor yang ngatur, keluarga yang "terserah kamu asal nggak merugikan keluarga", tidak ada penerbit yang menunggu naskah setelah perjalanan, no credit card....saya waktu itu memang mulai meminimalisasi ini (Alhamdulillah 2018 saya benar-benar tidak punya Credit Card lagi). Saya pernah sih begini, dua minggu di Kuala Lumpur nggak ada tujuan, cuma menikmati tinggal di sana, lebih banyak ongkang-ongkang, kalau pengen ya jalan ke tujuan wisata. 

Saya benar-benar mengenolkan hidup saya. Menikmati saja. Sudah. Dan ternyata itu menyenangkan! Pulang ke Indonesia pun lebih rileks, beda dengan dulu kalau pulang traveling langsung bingung ngerapiin foto, milih foto, update blog, update sosmed. Yang kali ini saya setel kendo kalau kata orang Jawa. Dibikin santai, nulis di blog pun ya jaraknya mungkin sudah lama dari saat pulang traveling dan sesempetnya aja, atau kalau nggak pengen ya nggak usah ditulis. Banyak materi yang tidak saya tulis. Kalau sosmed lebih simple, nggak butuh banyak effort, beda dengan blog.

#Ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang menjadikan ngeblog sebagai pekerjaan dan hajat hidup mereka. Kebetulan memang saya tidak menjadikannya sebagai pekerjaan. 

Ya begitulah. Sejak itu saya tidak ingin punya target ini itu. Meskipun kemudian ada aja teman yang bilang "Makanya nggak sukses." atau "Gimana mau kaya kalau kayak gitu." Dan lain sebagainya. Terserah sih karena perspektif orang macam-macam, pun pendapatnya. Kalau saya, merasa nyaman dan aman dengan hidup saya, bagi saya itu sudah termasuk sukses. Dunia ini kan macam-macam, yang kaya tapi bunuh diri juga ada. Yang kaya merasa hampa juga ada. Yang miskin merasa bahagia pun ada. Memakaikan baju kita ke orang lain belum tentu pas, kadang kedodoran atau kadang kesempitan. Kenapa? ya karena beda ukuran. Begitulah hidup.

#Sudah tidak jalan-jalan lagi?

Itu pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke saya. Nggak salah sih karena kebanyakan yang nanya adalah teman yang saya kenal dari dunia traveling. Ya jawaban saya standar aja, ya masak iya orang hidup nggak pakai jalan-jalan? iya tentu masih jalan-jalan, meskipun tipis-tipis misalnya. Tapi bukan traveling yang kemudian jadi kewajiban dan "kewajiban". Kalau ada duit dan pengen jalan ya traveling, kalau nggak ada duit ya nggak usah maksa sampai ngutang buat traveling, atau nguras tabungan yang sebenarnya buat tujuan lain. Emang pernah ngutang buat traveling? Lha emang credit card bukannya utang juga ya? Kan dulu pernah pake credit card juga. *Habis ini dirajam pemakai credit card. Nggak sih, konteks ini bener-bener buat diri saya sendiri, mengingat saya pekerja informal, ya menurut saya nggak usah main credit card. Noted: saya bukan pejuang antiriba, jadi nyantai aja.

Mungkin karena semakin tua ya jadinya berubah. Sekarang saya menyibukkan diri untuk menjalankan usaha. Kadang pengen jalan, tapi malasnyaaaa...kalau sudah goleran di kamar apalagi. Nulis tetap lanjut, tetapi memang saya ingin melepas citra sebagai travel writer. Saya lulusan Sastra Indonesia yang dulu kuliah diajarin nulis, jadi sepertinya nggak bakal jauh-jauh dari hal itu. Emang kesukaan saya sebenernya di nulis, kemudian karena terbuka kesempatan nulis soal traveling ya udah diambil. Tetapi, pada dasarnya nulis dulu, travelingnya belakangan. Sekarang lagi belajar nulis novel, memanfaatkan platform digital semacam Storial, Kwikku, dan lain-lain, Carilah kalau kebetulan punya akun di sana, akun saya @ariy.

Begitulah curhat saya...

Setelah sekian lama, apa kabarmu? Semoga sehat-sehat saja di masa-masa berat sekarang ini. Nahan diri buat nggak traveling dulu kali ya...

Salam.

Ariy

Sunday, April 8, 2018

Jalan-jalan ke Lasem Part 2: dari Rumah Batik Bu Kiok, Hingga Tegel Fabriek Lie Thiam Kwie

Melanjutkan cerita di postingan sebelumnya, setelah mengunjungi Kuil Cun An Kiong dan Rumah Candu, di hari yang sama kami mengeksplorasi Lasem, Kabupaten Rembang, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Rumah Batik Bu Kiok. Sebenarnya jarak antara satu rumah dengan rumah lain tidak terlalu jauh. Di sepanjang jalan menuju ke Rumah Batik Bu Kiok, kami melihat sejumlah rumah-rumah kuno yang keren-keren, dengan pintu-pintu kecil maupun besar yang vintage banget. Sudah kebayang ini lokasi paling cocok buat setting film berlatar belakang sejarah gitu. 

Rumah Batik Bu Kiok
Dengan model rumah yang dikelilingi tembok tertutup dan pintu rapat di tengah, Rumah Batik Bu Kiok ini masih terjaga bener keasliannya. Saking aslinya, banyak perabotan yang sudah moprol alias rusak berat masih dipajang. Tapi menurut saya itulah kerennya. Kalau cari yang baru dan bagus mah banyak, kalau yang begini kan susah. Apalagi asli dari jaman jebot. 



Begitu masuk, seketika saya seperti dilempar ke masa lampau (mulai kumat!). Menghirup debu apeknya. Memandang foto buramnya. Mencermati setiap retakan pigura, brodolan rotan di kursinya, hingga menapaki ubinnya yang kuno dan berdebu. Semua benda seperti bercerita tentang kejayaan pemilik rumahnya, setiap persoalan yang pernah ada di hidup mereka, kegembiraan di masanya, menceritakan waktu dan masa. Ndak tau ya, masuk di dalamnya saya seperti tengah menyusun sendiri cerita di benak saya. Jadi dulu pasti begini, jadi mungkin ini adalah itu, jadi begini, jadi begitu, ono ini ono unu kucrut kalau kata Mbak Iis Dahlia. Kadang saya lebay dengan menyusun dialog sendiri antara gambar perempuan dengan lelaki di foto. Kebiasaan bikin fiksi kebawa. 

Dalam satu pikiran, kadang tiba-tiba saya berandai-andai seperti berubah menjadi Tan Peng Liang, musisi dan juga pedagang tembakau Kiau Seng dari Semarang yang datang ke Lasem mau mencari Tinung. Karakter-karakter di film Cau Bau Kan itu memang sering langsung nyantol di benak saat masuk ke rumah Tionghoa Peranakan. Tapi soal scene ngejar Tinung ke rumah itu nggak ada kok di film. Itu khayalan saya.

Oya, kami masih ditemani Mas Pop. Nah, dari ruang depan ini, kami diajak ke bagian belakang rumah melalui lorong sempit di samping rumah. Temboknya di-labur atau cat kapur putih. Khas tembok lawas. Begitu masuk ke dalam, ada beberapa ibu-ibu sepuh dan separuh baya yang tengah membatik. 

Omong-omong soal batik, di Rumah Batik Bu Kiok ini setiap pembatik hanya mengerjakan satu motif saja selama bertahun-tahun lho. Saat saya tanya kenapa? Ya memang sudah begitu dari dulu. Duh, saya berharap ada alasan yang lebih seru. Tetapi dalam hemat saya sih, itu untuk spesialisasi ya. Jadi ibaratnya membatik sambil merem pun jadi saking jagonya mereka membatik satu motif selama bertahun-tahun. Saya sempat mendapat cerita beberapa motif batik Lasem. Tapi saya lupa mencatat, karena sibuk melihat proses membatik yang dilakukan ibu-ibu ini. Yang saya tahu, batik Lasem memiliki motif yang masih belum terdokumentasi dengan baik. Beberapa di antaranya seperti kupu-kupu, burung hong, serta berbagai bunga. Beberapa lokasi sentra batik memiliki motif kawung juga. Satu hal, motif batik Lasem sangat dipengaruhi budaya Tionghoa Peranakan. Hal ini tampak dalam akulturasi simbol-simbol Tionghoa-Jawa.




Batik produksi di Rumah Batik Bu Kiok dipasarkan ke Surabaya. Tetapi tidak tahu dipasarkan dengan cara apa, karena semua sudah di-handle oleh ahil waris Bu Kiok. Jadi mereka hanya tahu bekerja, lalu mengirimkan hasilnya, dan dibayar per hari. Mereka tidak boleh menjual batik ke wisatawan. Itu awalnya. Namun karena banyak permintaan dari wisatawan, akhirnya mereka minta izin untuk menjual batik buatan mereka ke wisatawan. Ternyata diperbolehkan. Kalau mau pesen bisa lho. Harga Rp 1.250.000 per lembar batik. Namun harus pre order dan selesai sekitar sebulan. Tidak semua orang boleh pesan. Yang bisa pesan adalah mereka yang pernah datang ke sini secara langsung. Nah!

Roemah Oei
Berikutnya kami mengunjungi Roemah Oei yang lokasinya hanya sepelemparan kolor dari Rumah Batik Bu Kiok. Cuma, Roemah Oei lokasinya lebih strategis karena di pinggir jalan besar. Nothing much to see di sini karena meskipun ini juga rumah kuno, namun sudah mengalami renovasi besar-besaran. Pemiliknya adalah generasi ketujuh Keluarga Oei, seorang pedagang besar di Lasem pada jamannya. Namun, lokasi ini menurut saya cukup menarik di sisi lain. Pertama, pemiliknya visioner banget, dia sudah menangkap peluang bahwa Lasem akan menjadi destinasi seksi, khususnya wisata heritage.


Saya sempat berbincang-bincang dengan pemiliknya. Diajak ke belakang rumah, di sana dia sedang membangun semacam homestay yang bagus dan bertingkat. Dalam beberapa bulan ke depan, bangunan bagus itu direncanakan akan beroperasi. Mereka juga akan memasukkan homestay mereka ke agen booking hotel daring. Yang mau ke Lasem, catet deh...Homestay Roemah Oei.



Kedua, mereka juga menjadikan halaman depan rumahnya yang rindang menjadi cafe. Di samping gerbang utamanya yang menghadap jalan terdapat semacam warung atau tempat pegawai melayani para pengunjung cafe. Sementara itu di bagian halaman dalam terdapat beberapa tempat duduk, kebanyakan kursi seng ala jaman dulu yang kerap dipakai untuk resepsi pernikahan, serta beberapa meja panjang. Banyak anak-anak muda setempat yang memanfatkan cafe ini untuk berkumpul. Nah, yang lebih istimewa lagi menurut saya adalah es sirup kawista-nya. Sirup kawista sendiri masih asing di telinga saya, makanya saya langsung nyoba. Rasanya segar seperti bersoda. Agak kecut dan manis. Enak diminum untuk menghalau panasnya Lasem. Roemah Oei menurut saya cocok untuk break di sela-sela city tour. 

Tegel Fabriek Lie Thiam Kwie:
Saat ada daftar kunjung ke pabrik tegel Lie Thiam Kwie, saya langsung bersemangat. Saya pecinta tegel atau ubin-ubin lawas yang banyak saya temui di bangunan-bangunan tua atau bangunan cagar budaya. Ornamennya yang cantik, colorful, menawan hati. Hal itu yang awalnya terbayang di benak saya. Lalu berangkatlah kami ke sana.


Tetapi sampai di sana, agak sedikit keluar dari ekspektasi saya. Yang saya lihat sih memang ada bekas-bekas pabrik ini menggarap tegel-tegel lama. Tetapi yang dikerjakan sekarang adalah membuat paving block  model baru. Jadi kurang menarik. Tetapi mungkin ini mereka lakukan agar terus bisa bertahan di tengah kemajuan jaman ya. 

Lokasi pabrik tegel ini luas banget. Kelihatan banget ini pemiliknya dulu kaya raya. Rumah utama di kunci, tidak bisa masuk. Hanya kita bisa masuk ke area teras bagian belakang rumah utama. Di sini masih bisa kita lihat beberapa contoh tegel yang pernah mereka bikin pada masa lalu. Digeletakkan sekenanya, yang membuat saya ingin mengambil dan merawatnya hahahaa. Jiwa cemolong saya tiba-tiba birahi. Maksud saya, itu kan "penanda sejarah", kenapa tidak dirawat atau di-display lebih layak? Ya nggak tahu juga sih, mungkin memang ahli warisnya mau move on melanjutkan hidup di jaman sekarang, dan masa lalu biarlah masa lalu...(bacanya sambil nyanyi ya?)



Di bagian belakang ini terdapat halaman luas dengan pohon-pohon tinggi. Lalu masuk lagi ke dalam ada ruangan besar yang menjadi tempat produksi tegel yang sekarang berubah menjadi tempat produksi paving block.

Museum Nyah Lasem:
Perjalanan berikutnya, kami diajak Mas Pop, menuju ke Museum Nyah Lasem. Udah kebayang betapa serunya. Kami diajak memasuki sebuah rumah lawas yang terkunci, dengan rumput halamannya sudah tinggi, beberapa tanaman merayap di pintu depan atau pagar. Lho? mana museumnya ?

Ternyata ini adalah rumah milik pribadi, yang kalau boleh saya sebut adalah cikal bakal museum. Jadi ada keinginan dari ahli waris pemilik rumah ini yang ingin mendokumentasikan barang-barang peninggalan yang dimilikinya ke dalam sebuah museum. Tetapi memang kelihatan masih dalam tahap penyempurnaan.





Di dalam rumah ini terdapat beberapa ruang yang di dalamnya dipasang beberapa koleksi milik pribadi pemiliknya. Belum banyak sih, beberapa di antaranya mata uang, surat-surat korespondensi dagang, perangko, serta beberapa fotokopian berkas. Meskipun disebut museum, tidak ada pengelolaan khusus. Makanya saya pikir ini lebih ke cikal bakalnya sih. Tidak banyak yang bisa kita lihat, tak banyak cerita, dan saya masih penasaran kenapa namanya Museum Nyah Lasem. Don't get me wrong, saya tidak mau nyinyir, karena apapun itu saya tetap menikmati setiap detil kunjungan saya di rumah ini dan mengapresiasi pemiliknya yang ingin mendirikan sebuah museum. Untuk masuk ke sini tidak ada loket, karena kami diajak oleh Mas Pop sebagai pemegang kunci rumah. 

Oya, di rumah samping dari Museum Nyah Lasem ini juga ada semacam selasar yang disekat beberapa kamar yang disewakan. Harganya murah meriah lho, hanya Rp 50.000 per malam (kalau belum naik ya...cek lagi). Cocok yang memiliki jiwa pemberani dan tangguh hahahah dan tak mengenal "lambaikan tangan tanda menyerah". 

Perjalanan kami dipungkasi di Museum Nyah Lasem karena hari sudah mulai beranjak sore. Rencananya setelah dari Lasem kami akan menuju ke Pantai Karang Jahe, masih di Rembang juga. Sebelum ke Pantai Karang Jahe, kami sempatkan mampir makan lontong tuyuhan. Karena ini saya nulisnya malem-malem dan pas lagi laper tapi males keluar, saya skip cerita tentang lontong tuyuhan ya. Takut makin laper.

Dari seharian kami jalan-jalan ke Lasem, ini beberapa point yang mungkin berguna bagi Anda yang merencanakan ke Lasem:

1. Datang berkelompok akan lebih baik karena bisa patungan bayar guide. Seperti saya sebutkan di tulisan awal, guide adalah aspek penting dalam jalan-jalan ke Lasem karena Lasem itu value-nya di cerita sejarahnya. Okelah, dirimu mungkin bisa bilang "googling kan bisa". Iya bisa. Tetapi problemnya, spot-spot yang kita masuki di sana adalah rumah-rumah perseorangan. Guide adalah orang yang dipercaya pemilik rumah untuk "membukakan pintu" bagi wisatawan. Itu bukan hal mudah dan kita harus apresiasi. Setiap rumah di sini punya cerita, dan seorang guide membantu kita mentransfer informasi tersebut dari ahli waris dan data-data lainnya. Itu pekerjaan yang patut diapresiasi dengan cara kita menggunakan jasa mereka. Lagian, kalau mau datang sendiri juga nggak gampang kok. Kalau nggak dikunci pintu depannya, ya ketemu anjing penjaga. Nah lho!

2. Untuk efisiensi waktu, buat daftar spot yang akan dikunjungi. Kalau kebanyakan, coret yang sekiranya hampir sama. Pilih beberapa spot yang berbeda, variatif. Khususnya ini yang cuma oneday trip kayak kami. Kalau punya waktu banyak sih, silakan monggo saja mau berapa spot.

3. Lasem itu panas. Maklum pesisir kan. Makanya pakai kaos aja, yang simple-simple, adem, menyerap keringat. Cuaca panas di Lasem bisa jadi alasan menggunakan kacamata hitam keren kita lho....hehehe. Alih-alih takut dibilang nggaya. 

4. Bawa duit cash yang cukup deh. Karena lokasi ATM juga jarang. Bawa duit pecahan juga, misalnya lima ribuan, sepuluh ribuan, untuk donasi di tempat yang akan kita kunjungi. Bensin juga di-full tank ya. Takutnya kayak Mas Pop, guide kami yang kehabisan bensin hahaha. Peace, Mas Pop!

5. Lainnya apa ya? Tanya aja deh di comment kalau memang ada yang mau ditanyakan. 

Akhirnya, tunai sudah janji bakti saya untuk menuliskan cerita jalan-jalan ke Lasem. Dari tulisan saya ini, kalau ditanya apakah saya mau balik lagi ke Lasem kalau ada kesempatan? Saya bilang MAU. Artinya, bagi saya sebagai pecinta heritage, Lasem itu menawan. Anda pecinta heritage juga? Ya sudah, rencanakan segera ke sana. 


Cheers,

Ariy

Monday, April 2, 2018

Jalan-jalan ke Lasem Part 1: Kuil Cu An Kiong dan Kisah Dahsyat Rumah Candu

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian persiapan jalan-jalan ke Lasem, jalan-jalan kali ini ditemani oleh guide asal Lasem, yaitu Mas Pop dari HeritagePop. Percayalah, tanpa guide, jalan-jalan ke Lasem itu nggak bakal dapat feel-nya. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari internet, tetapi ada hal-hal yang internet tidak bisa lakukan. Nanti bakal tahu apa itu.

Jadi kami janjian ketemu dengan Mas Pop di Kuil Cu An Kiong. Begitu mobil kami sudah masuk ke  jalur Pantura Lasem, GPS langsung bisa menemukan lokasi kuil. Kuil Cu An Kiong mudah dicapai meskipun kami sedikit kebablasan gara-gara GPS-nya rada menyesatkan. Di Kuil Cu An Kiong inilah kami bertemu dengan Mas Pop yang super ramah dan humoris. Di sini kami juga dikenalkan sama Pak Gandor, beliau ini adalah guide khusus yang rencananya akan mendampingi kami di Kuil Cu An Kiong dan Rumah Candu.

Kuil Cu An Kiong

Mudah sekali menemukan kuil ini, karena lokasinya tidak jauh dari jalan pantai utara, yang melintas di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Semakin mudah karena warnanya yang ngejreng: shocking pink !! Kuil ini berada di Jl Dasun No. 19, Lasem, dan konon merupakan kuil tertua di Jawa dan sempat menjadi persinggahan Laksamana Cheng Ho.


Gerbang Kuil Cu An Kiong


Penampakan Kuil Cu An Kiong dari depan. Abaikan manusianya
Menurut penuturan Pak Gandor, ada rekannya yang sempat pergi ke Den Haag, Belanda dan mampir ke sebuah museum khusus Indonesia. Di sana dia menemukan ada peta Lasem yang bertuliskan tahun 1477. Pada peta itu tercantum juga Kuil Cu An Kiong. Hal ini berarti pada saat itu kuil ini sudah eksis.

Lokasi kuil ini memang strategis karena berada di dekat Sungai Lasem (seberangnya). Hal ini yang membuat banyak saudagar yang bersandar di pantai untuk mampir ke sini dengan menggunakan perahu melalui akses sungai ini. Tak terkecuali, konon, Laksamana Cheng Ho juga. Tuan rumah kuil ini adalah Makco Thian Siang Sing Bo atau Dewa Laut. 

Gerbang Kuil Cu An Kiong difoto dari sisi dalam
Di Indonesia, dari beberapa kuil yang saya pernah datangi, ini salah satu kuil yang menarik. Kecil, namun interiornya cukup indah, disamping warna catnya yang jambon itu. Pada bagian dalam kuil ini yang menarik perhatian saya diurutkan dari ranking satu menurut selera saya adalah: lukisan dinding, ubin, lukisan kayu, serta tiang. Saya tidak tahu maknanya di balik pemilihan motif, arti lukisan, arti tulisan di tiang, dan lain sebagainya. Butuh waktu banyak untuk mengulik semua itu. Tetapi saya yakin ada maknanya di balik keindahan yang ditampilkan.






Nah, kalau menurut saya, jika Anda ingin jalan-jalan ke Lasem, saya sarankan untuk mampir ke sini. Kuil Cu An Kiong ini bisa menjadi tujuan pertama sebelum kemudian kita pindah ke Rumah Candu yang jaraknya cuma sepelemparan kolor dari kuil ini. Oya, Kuil Cu An Kiong ini dulu pernah digunakan untuk syuting film "Cau Bau Kan". Ke Rumah Candu ini kita harus bareng dengan Pak Gandor sebagai guide khusus karena memang kuncinya yang pegang beliau. 

Rumah Candu:

Nah, mulai tahu kan kenapa kita butuh guide ? selain memang mereka yang cukup mengerti cerita di balik peninggalan sejarah ini, sebagian besar tempat menarik di sini memang masih milik perseorangan, terkunci, atau kalau terbuka setidaknya kita harus kula nuwun atau bersama dengan orang yang sudah kenal akrab dengan penghuni atau pengelolanya. 

Seperti di Rumah Candu yang memang lokasinya dikelilingi tembok dan kalau kita sendirian jalan-jalan ke Lasem pun susah untuk nemu. Ini semacam rumah biasa (yang dikosongkan), namun dalam sejarahnya menyimpan cerita yang luar biasa.

Selamat Datang di Rumah Candu
Rumah Candu adalah rumah milik Liem Kim Siok. Rumah yang dikelilingi tembok dengan pintu rapat ini memang tidak lagi berpenghuni. Hanya kadang beberapa tamu berkunjung dan menginap di sini ditemani pengelolanya. Halamannya luas dan begitu masuk kita akan disambut gonggongan anjing. Ada dua ekor anjing yang menjaga rumah tersebut. Ada yang sudah mati juga karena digigit ular. Kata Pak Gandor, halaman samping dan belakang yang banyak ditumbuhi pohon jati itu memang banyak ular kecil-kecil, hijau tetapi mematikan. Langsung saya mengkeret.

Rumah Candu biasa disebut juga Rumah Lawang Ombo. Rumah ini menjadi saksi pusat penyelundupan candu atau opium di Jawa. Sungai Lasem yang mengalir tak jauh dari rumah ini menjadi akses penyelundupan dari kapal ke darat. Ada jalur tikus berupa terowongan yang berada di belakang rumah yang menghubungkan dengan lokasi dekat sungai. Terowongan inilah sebagai jalan untuk memasok candu ke dalam rumah. Mantapsss ya. 


Mulut terowongan sebagai akses penyelundupan candu


Konon sekitar tahun 1880, pemilik rumah yaitu Liem Kim Siok adalah seorang syahbandar yang juga melakukan kegiatan menyelundupkan candu dari Tiongkok. Candu-candu ini konon ditukar dengan senjata untuk digunakan melawan penjajah Belanda. Jadi sebenarnya dari cerita ini pun terlihat peran etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda pun ada. 

Menurut cerita Pak Gandor, aksi penyelundupan ini sempat tercium Belanda. Mereka pun melakukan pengecekan ke Rumah Candu namun tak menemukan apapun. Cuma saat sampai di belakang rumah mereka menemukan area kuburan pribadi di sana. Pemilik bercerita bahwa kuburan itu adalah kuburan mereka yang terkena penyakit menular. Mendengar itu, Belanda langsung kabur dari lokasi. Padahal sebenarnya kuburan itu adalah kuburan kosong, yang sengaja dibuat untuk mengelabui Belanda...pfiuuhhh...what a story ya !

Halaman belakang rumah yang terdapat kuburan palsu

Salah satu sudut Rumah Candu
Oya, rumah ini sekarang sudah berpindah ke tangan perseorangan. Pak Gandor sempat bercerita tentang pernah ada anak cucu keturunan Liem Kim Siok yang mengunjungi lokasi, tujuannya untuk mencari makam leluhurnya tersebut. Tetapi setelah itu saya tidak terlalu menyimak apakah kuburannya ketemu atau tidak, karena saya sudah terdistraksi hawa rumah itu yang rada gimana. Nah, tantangan juga nih, kalau ada yang memang punya nyali dan terbiasa dengan "teman-teman tak kasat mata", boleh kok nginap di sini. Ada satu ruangan khusus yang memiliki kamar tidur bisa dipakai untuk menginap. Kalau saya sudah melambaikan tangan tanda menyerah saja ya.

Kata Pak Gandor, Rumah Candu ini pernah menjadi lokasi syuting acara tv yang serem-serem itu. Beberapa pengunjung yang punya indera ke enam juga banyak yang bisa melihat atau bahkan berkomunikasi dengan "teman-teman tak kasat mata" itu. 

Ini Pak Gandor. Beliau sedang bercerita sambil nakut-nakutin kita. 
Meskipun saya belum menuliskan semua tempat mana saja yang saya kunjungi di Lasem, namun saya sudah bisa memastikan, Rumah Candu ini adalah highlight trip saya kali ini. Bukan tampilan fisiknya yang indah atau instagramable karena memang jauh dari itu, tetapi lebih dari itu saya mendapatkan pengetahuan baru yang keren, cerita yang luar biasa di balik keberadaan Rumah Candu. Saya sudah pesimistis akan mendapatkan cerita yang lebih kuat dari Rumah Candu pada spot berikutnya. Kita lihat saja entar di part 2 dan apakah Anda akan sependapat dengan saya.

Setelah mendapatkan cerita banyak dari Pak Gandor yang super ramah. Kami menutupnya dengan foto-foto bersama dan saya dalam hati berdoa agar tidak ada penampakan nyempil di foto bersama ini. Selanjutnya kami berpamitan dengan tangisan haru karena harus berpisah dengan Pak Gandor (kalimat yang terakhir ini bohong). Terima kasih Pak Gandor atas keramahan, cerita-cerita supernya, serta teh botol dinginnya yang gratis :)

Sampai jumpa di part  2 ya. Cheers.

Ariy

Friday, March 23, 2018

Merencanakan Trip ke Lasem (Persiapan)

Dalam beberapa tahun terakhir nama "Lasem" memang berseliweran di benak saya, sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi. Semakin tergelitik untuk ke sana karena nama Lasem cukup hits wara-wiri di sosial media. Ya maap, saya anaknya baperan...lihat begituan langsung pengen hahaha.

"Begituan" maksudnya apa? Sebenarnya tidak semua yang hits bisa menarik perhatian saya. Pertama adalah soal ketertarikan. Kalau memang tidak sesuai minat saya, ya nggak kepengen. Yang kedua soal budget, ya kalau memang mahal ya enggak akan saya datangi. Namanya juga traveler kere kan. Tetapi soal Lasem ini berbeda. Saya sangat teramat digelitik karena tawaran "antik", "lawas", "jadul", "heritage", "sejarah" dan lain sebagainya itu yang kerap melekat di belakang nama Lasem. Itulah maksud "begituan" tadi.

Beberapa kali ide untuk jalan bareng ke sana muncul di sela acara nongkrong bareng di wedangan. Tetapi beberapa kali pula wacana tinggalah wacana. Yang enggak tahan malah sudah mblirit ke sana duluan. Nah, wacana kembali muncul di akhir 2017. Namun, saya menolak karena rencananya pas bareng dengan tahun baru. Maaf deh, tahun baru saya di rumah aja duduk manis daripada terjebak di keriuhan yang menggilaaaa. Awal 2018 kembali muncul wacana, dan kayaknya akan dieksekusi secara cepat. Setidaknya saya mendorong ini segera terealisasi supaya tidak menguap lagi. Ada sekitar 10-an teman yang direncanakan akan ikut.

Rapat Paripurna Trip Lasem. Saya yang ganteng kiri belakang

Singkat cerita, disepakati opsi awal tanggal : 3 atau 10 atau 17 Maret. Semuanya di hari Sabtu. Saya sih mendorong tanggal 3 Maret biar segera terselesaikan, lalu hidup akan kembali berjalan dan mikirin hal lain seperti...cari jodoh misalnya.

Setelah itu dibentuklah grup WA khusus trip Lasem yang akan dibubarkan bila trip rampung. Jujur, saya suka grup sementara begini karena grup WA yang permanen lebih banyak menimbulkan konflik. Nah, dimulailah mengerucutkan spot yang akan dikunjungi, sharing transportasi dan akomodasi, dan lain sebagainya. Trip pun telah disepakati tanggal 3 Maret. Setidaknya inilah beberapa hal yang kami bahas sebelum trip:

Transportasi

Kami menyadari sekali bahwa Lasem adalah kecamatan kecil di sebuah kabupaten kecil yaitu Rembang. Maka transportasi dalam kotanya akan menjadi masalah bagi kami yang berombongan. Jadi akan lebih baik dan efisien kalau memakai kendaraan sendiri untuk ke sana, sehingga mobilitas terjamin. Jangan lupa, Lasem adalah kawasan pesisir yang panasnya bisa buat goreng telor ceplok (lebay sih). Yakin mau jalan kaki dari satu spot ke spot lain? Bisa sih naik ojek kalau sendirian. Bukannya saya manja, saya sudah biasa city tour jalan kaki. Tetapi kalau ada pilihan lain yang realistis dan lebih bagus, pantang ditolak.

Untuk menuju ke Lasemnya, bisa menggunakan angkutan umum yaitu bus. Kita asumsikan naik dari Semarang ya sebagai kota besar utama yang mudah untuk pijakan awal. Nah dari Semarang, silakan langsung ke Terminal Terboyo, lalu pilih bus jurusan Surabaya (Jawa Timur), misalnya PO Indonesia, Jaya Utama, dll. Tiket sih kata temen more less Rp 30.000-an, minta diturunin di Masjid Jami Lasem. Jarak Semarang-Lasem lumayan juga, 120 km-an, dengan cuaca puanaaas (semangaat!). Kalau sudah sampai Lasem, tinggal keliling naik ojek. Saya lupa dan tidak terlalu memperhatikan apakah di Lasem ada becak atau tidak. 

Keputusannya: kami sewa mobil lengkap dengan sopir yang kebetulan teman sendiri dan BBM-nya. Dari sekitar 10-an yang awalnya akan ikut, hanya tersisa 7 orang. Alhasil, satu mobil cukup. Kami rencananya menginap semalam. Sewa mobil per 12 jam adalah Rp 250.000, sopir Rp 250.000, BBM sekitar Rp 300.000-an komplet. Karena teman sendiri, hitungan jam ini pun diabaikan. Total jenderal untuk dua hari satu malam kami bayar Rp 1 jutaan yang dibagi 7 orang. Reasonable !

Hotel: Menginap menjadi pilihan karena jaraknya yang lumayan. Beberapa adalah anak Solo, sisanya anak Sukoharjo, Boyolali dan Semarang. Kami tidak ingin waktu habis di jalan, maka menginap menjadi pilihan. Berangkat diputuskan tanggal 3 Maret (Sabtu pagi), menginap semalem di Rembang atau Kudus, lalu Minggu pagi berangkat ke Lasem.

Kami memutuskan hotel jaringan karena standarnya jelas. Banyak hotel ditawarkan di sekitar Lasem, tetapi nggak tahu kenapa rate-nya kok sudah tinggi ya, hampir sama kayak hotel jaringan. Padahal fasilitas belum tentu bagus. Sempat ingin menginap di penginapan yang berupa rumah lawas di Lasem, tetapi kena veto teman yang takut tidur di penginapan lawas. Akhirnya diputuskan ambil hotel jaringan. Pilihan pertama Fave Hotel Rembang. Tetapi pada akhirnya mbelok ke @HOM Hotel Kudus. Dua-duanya hotel jaringan yang secara fasilitas jelas, rate-nya juga masuk ke budget kami yaitu per malam Rp 300.000-an.

Berapa kamar yang kami ambil untuk 8 orang (termasuk sopir)? Dua kamar saja cukup!! Kami bener-bener ngirit, karena toh hanya istirahat beberapa jam saja. Satu kamar untuk keputren (cewek), satu kamar lagi untuk kasatrian (cowok). Padahal ceweknya cuma dua. Lha gimana mbaginya dong? dua orang cowok lainnya menyaru jadi cewek gabung di keputren dan tidur harus pakai daster (yang terakhir ini saya bohong dan siap dikutuk Tuhan). Kamar yang kami ambil adalah twin bed, terus kami bongkar posisi bed jadi luas dan cukup berempat. Nggilani dan kemproh pokoknya! 

Kalau yang datang sendiri, banyak kok penginapan murah mulai Rp 50.000-an. Mau yang spooky juga ada kalau butuh teman Nonik-Nonik Lasem jaman dulu. Pas kita di sana, ada pengusaha setempat juga lagi bikin semacam hostel untuk traveler on budget. Ke depannya akomodasi bakal semakin mudah. 


Guide: Kami sangat menyadari ngetrip ke Lasem itu bukan hanya soal berkunjung ke tempat A, pindah ke tempat B, jepret sana jepret sini. Tetapi lebih dari itu, ke Lasem harus ngerti cerita di balik eksistensinya, sejarahnya, masa lalunya, dan lain sebagainya. Karenanya menjadi tidak menarik kalau kami melewatkan soal "cerita" ini dan memilih foto-foto di bangunan-bangunannya untuk dipajang di sosial media. Dahsyatnya Lasem itu yang story behind eksistensinya. Untuk kepentingan itulah kami membutuhkan guide.

Kami sepakat menggunakan guide Mas Pop dari HeritagePop (ini IG-nya). Kami urunan untuk membayar jasanya. Ndak usah disebutin di sini ya, japri langsung aja ke yang bersangkutan. Setelah oke, kami mendapatkan daftar tempat yang akan dikunjungi. Beberapa kami coret karena memang ngirit waktu. Nah, ada dua tempat yang menurut kami menarik dan wajib dikunjungi tetapi harus mengeluarkan kocek untuk membayar guide khusus. Ini guide di luar Mas Pop ya...hanya khusus di dua tempat. Kami sepakat untuk memakainya atas rekomendasi Mas Pop juga. 

Biaya Lain-lain: Biaya lain-lain ini di luar makan minum selama di perjalanan ya. Misalnya yang penting nih, donasi ke penghuni rumah-rumah yang akan dikunjungi. Namanya donasi ya monggo saja mau berapa. Misalnya nih kita mengunjungi rumah yang masih ada aktivitas membatiknya, nah kita kumpulin duit buat para pembatik. Ya kisarannya di angka Rp 5.000 - Rp10.000 per wisatawan lalu dikumpulin, lalu serahin semuanya ke mereka biar mereka membagi sendiri.

Hal-hal di atas adalah persiapan awal sebelum ke Lasem. Iya memang ini itu ono ini sangat banyak. Makanya kalau barengan begini akan menjadi lebih murah (selain nyaman dan seru). Oya, jangan lupa pakai pakaian yang simple-simple aja, yang nyerap keringat, karena panas tiada tara akan menyambut kita. Nggak ding, ya panas-panas biasa kayak di wilayah pesisir begitulah. Paling butuh bekal minum lebih dari biasanya saja.

Setelah semua beres, akhirnya tanggal 3 Maret pun tiba. Meeting point kami adalah Stasiun Purwosari Solo pukul 06.00 WIB. Di sini untuk yang Solo dan Sukoharjo berkumpul. Berikutnya menjemput putri asli Boyolali yang sejak pukul 04.00 WIB sudah berdandan dan pasang idep hahaha. Setelah itu bablas ke Semarang menjemput tuan putri satunya sebelum bablas ke Kudus. 

Tim Horeks siap berangkat
Itu sedikit tips untuk memulai mempersiapkan trip ke Lasem yang semoga berguna untuk membayangkan apa yang akan Anda hadapi saat ingin ke Lasem. Cerita berikutnya langsung kita akan bahas apa-apa saja yang kita lakukan dan kunjungi selama menjelajah Lasem yang bagi saya...cuaaantiiikk banget! Penasaran kan? tunggu aja :)

Cheers,

Ariy

Wednesday, February 28, 2018

Saphai Pae Hostel, Penginapan Murah Nan Keren di Bangkok (Review)

Judulnya memang sudah spoiler banget. Tak apalah. Ini bentuk apresiasi saya akan kerennya hostel yang satu ini dan pengen banget bisa berbagi ke pembaca. Jadi, traveling saya ke luar negeri yang terakhir saya sempat mampir ke Bangkok sebelum terbang balik ke Jakarta. Nah, di Bangkok ini saya nemu hostel yang emang menurut saya nyaman banget. Namanya adalah Saphai Pae Hostel. Bentukannya dari luar semacam ini:

                                                                                Foto: hostelz.com
Tuh kan, dari luar sudah menjanjikan banget. Menguning. Ini hotel saya nemunya di booking.com dan menjadi persinggahan saya setelah menempuh perjalanan darat dari Siem Reap, Kamboja, menuju ke Bangkok, Thailand. Sempat nyasar mencari hostel ini karena saya naik minivan dan diturunkan di kawasan Pratunam, namun akhirnya nemu juga setelah (terpaksa) naik taksi untuk sampai ke hostel ini. Padahal, hanya sepelemparan kolor dari hostel ini ada stasiun BTS (sky train). Cuma karena nggak tahu aja sih.

Begitu buka pintu kacanya, mak clessss...dingin menyergap dan itu keringat yang nempel di jidat dan badan berasa menguap semua. Ini adalah oase setelah berpayah-payah mencari lokasi hostel ini (karena bego sih) dengan menggendong backpack. Pemandangan sedap langsung terpampang di depan mata. Kelihatan banget ini hostel dikelola dengan cara yang sangat baik. Interiornya eye catching banget dengan warna dominan kuning Seperti ini:

                                                                                     Foto: expedia.co.uk
Front office-nya keren. Lobby-nya dilengkapi beberapa sofa empuk, tempat duduk, rak-rak dengan buku-buku traveling, dan terdapat sejumlah unit komputer untuk mengakses internet secara gratis. Petugasnya banyak dan sangat membantu. Selain itu juga ramah-ramah. Karena saya berdua dengan teman, kami memilih kamar twin bed dengan sharing bathrooms. Saya lupa-lupa ingat berapa saya bayar, tapi sekitar Rp 300.000-an per kamar. Jadi kalau dihitung per kepala ya Rp 150.000-an. Tetapi harga ini sangat reasonable mengingat fasilitas yang diberikan.

Mohon maaf, kebetulan foto-foto saya hilang saat laptop rusak beberapa waktu lalu, sehingga saya ambilkan foto-foto online yang kira-kira seperti pengalaman yang saya dapatkan waktu menginap di hotel ini. Nah, kamar twin bed yang saya dapatkan adalah kamar yang cukup luas dengan dua tempat tidur yang nyaman dan lega. Saya mendapatkan kamar di lantai atas yang bisa diakses dengan lift. Kamar ini memiliki jendela kaca lebar ke arah jalan utama. AC-nya super dingin, ruangannya sangat bersih, ada loker dua buah dan meja kecil dan TV, hanger baju, dengan pintu menggunakan access card. Kira-kira penampakan kamar saya waktu itu adalah semacam ini:

                                                                                   Foto: budgetplaces.com
Nah, kelihatan nyaman kan? di sini disediakan handuk bersih, selimutnya juga tebel. Kamar yang tersedia di sini antara lain kamar female dorm dengan kapasitas 6-8 orang, mix dorm hingga 10 orang, sampai yang private kayak saya dan juga ada family room kapasitas 4 orang. 

Di Saphai Pae Hostel inilah saya "ngamuk". Setelah beberapa hari jalan tanpa sempat nyuci, baju berkeringat diangin-anginin dan dipakai lagi, maka ini tempat jadi pelampiasan saya. Kenapa? Karena di sini disediakan tempat laundry sekaligus seterika baju. Waduh, jiwa babu saya langsung muncul untuk mengerjakan ini itu. Langsung singsingkan lengan baju deh. Begini tampilan ruang laundry-nya:

                                                   Foto: saphaipae-hostel.bangkokhotel24.com
Untuk mengoperasikannya gampang. Kita tinggal siapkan koin 10 Baht. Kalau nggak punya, bisa nuker di resepsionis. Nah, resepsionis ini juga jualan sabun cuci dengan harga 10 Baht. Setelah itu, tinggal masukin koin ke mesin, masukin baju kotor, mainkan! Sekitar sejam baju-baju udah kering. Kalau mau seterika juga ada, langsung aja di seterika di tempat ini. 

Oya selain di lobby, di sini juga terdapat semacam ruang bersama untuk nyantai di mana tersedia televisi dan sofa. Kalau suka bersosialisasi, bisa memanfaatkan ruangan ini untuk berkenalan dengan backpacker lain yang menginap di sini.

Sekarang masuk ke soal yang penting: toilet! Meskipun hostel ini dari luar tampak kecil, namun ternyata luas. Toiletnya juga luas dan terpisah antara cowok dan cewek. Terus, wastafelnya banyak, shower-nya juga dan yang penting bersih dan tidak bau. Emang di sini semuanya sharing bahtroom, tapi jangan khawatir karena di sini tidak ada antrean panjang, bahkan cenderung lengang. Mungkin karena rasio jumlah tamu dengan toilet diperhitungkan ya. Begini kira-kira tampilannya:

                                                                                        Foto: fnetravel.com
Oya, harga yang saya bayar sudah termasuk sarapan. Sarapannya standar sih, kayak bread toast, telur ceplok begitu, terus minumannya jus. Tapi sangat lumayan lho. Restoran tempat makannya juga di-setting keren, jadi nyaman banget buat makan ala-ala sinetron dan dibikin sok romantis hahaha.

                                                                                       Foto: cleartrip.com
Apalagi ya? Oya, kalau kebetulan jam stay kita sudah habis dan kita mau nitip backpack sambil jalan-jalan, ada ruangan khusus semacam gudang untuk left luggage, yang bisa kita gunakan untuk naruh barang. Pas saya nitipin backpack, di sana sudah banyak banget backpack-backpack dari traveler yang dititipin. 

Terus lokasinya di mana? Hostel keren ini berada di 35 Surasak Road Silom, Bangrak, Bangkok 10500. Nah, kalau mau ke sini pakai sky train (BTS) turun aja di Surasak Station, ntar tinggal jalan kaki sekitar 200-an meter atau sekitar 5 menitanlah. Ada dua stasiun yang bisa menjangkau lokasi ini, tetapi yang paling dekat memang Surasak Station. Satu stasiun lagi adalah Saphan Taksin BTS Station yang jaraknya 600 meter. Berada di area jalan besar, kita mudah mendapatkan kebutuhan sehari-hari karena 7-Eleven juga nggak jauh. Kalau mau ke Surasak Station pasti lewat 7-Eleven.

                                                                         Foto: blog.roodo.com
Saya pribadi sangat puas tinggal di sini karena meskipun hostel, menurut saya ini kelasnya udah hotel dengan keuntungan lebih. Bersih, nyaman dan fasilitasnya komplet-plet yang bahkan tidak ditemui di hotel. Memang soal lokasi agak jauh dari kota, misalnya untuk ukuran ke MBK dari hostel ini sekitar 5 km. Tetapi jarak itu masih nyaman untuk dijangkau mengingat transportasinya juga mudah. Nah, kalau ada rencana jalan-jalan ke Bangkok, butuh yang nyaman dan seru, coba deh Saphai Pae Hostel, Tulisan ini bukan endorsement, jadi murni pendapat pribadi saya. Selamat mencoba.

Cheers,

Ariy

Monday, February 26, 2018

Kerennya Langit Bangkok dari Cloud47 Rooftop Bar

Nyaris semua traveling saya on budget. Kenyataannya memang saya tidak memiliki banyak duit untuk melakukan ini itu, pergi ke ini itu, yang sekiranya menguras kantong lebih dalam. Tetapi juga bukan berarti saya berpayah-payah, berdarah-darah selama traveling, kayak yang pernah ditudingkan beberapa orang ke saya. Saya tetap enjoy dengan gaya traveling saya, dengan duit seadanya. 

Itu juga yang saya katakan ke teman saya saat kami akan melakukan traveling bareng. Bahwa saya bukan orang yang akan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan saya atau sesuatu yang tidak saya suka. Artinya, kalau ada yang mau traveling bareng saya ya harus bisa menerima gaya saya. Tetapi bukan berarti juga bahwa dia harus ngikut gaya saya ya. Saya terbuka sekali misalnya traveling bareng, terus ternyata travelmate saya mau melakukan sesuatu dan saya nggak cocok, ya nggak papa silakan lakukan. Bahkan bukan tidak mungkin misalnya saya stay di hostel, travelmate pengen tinggal di hotel yang bagus, ya silakan. Kita split dulu, ntar tinggal diatur aja jalan barengnya. Menurut saya itu cukup fair.

Ini juga yang terjadi saat jalan bareng dengan teman saya di Bangkok, Thailand. Teman saya pengen banget mencoba salah satu skybar atau rooftop bar, apapun dan di mana pun di Bangkok yang penting nyoba satu. Saya bilang ke dia, itu bukan gaya traveling saya. Uang adalah salah satu pertimbangan utama. Pertimbangan kedua, saya tidak cukup nyaman dengan suasana club atau bar. Jadi saya memang nyaris tidak pernah ke tempat-tempat itu. Saya tidak ngebeer (ini jadi bahan guyonan teman-teman yang saya temui dalam beberapa traveling), saya tidak suka ke club meskipun beberapa kali pernah (rada terpaksa). Saya cukup menikmati jalan di wet market atau blusukan di kampung. Pokoknya anaknya memang tidak seru kalau diajak jalan gaul. Yeah, that's me anyway...suka atau tidak suka.

Nah, tapi kali ini saya takluk. Saya kasihan dengan teman saya yang lagi ngidam hehehe. Ya sudah berangkat. Bukan soal ditraktirnya, tetapi memang tidak merasa nyaman saja. Tetapi teman saya janji tidak akan lama di sana. Baiklah. Setelah membuat daftar beberapa skybar, akhirnya diputuskan untuk menuju ke Cloud47 rooftop bar. Teman saya melakukan reservasi melalui telepon sebelum kami berangkat.

Klaimnya sih ini sebagai "The Largest Rooftop Bar in Bangkok". Lokasinya berada di puncak United Center Office Tower, tepatnya di lantai 47. Itulah kenapa pakai nama Cloud47. Gedung ini (mungkin) yang paling tinggi di Silom Rd. Gampang sih menuju ke Silom, bisa pakai skytrain, kalau sudah sampai di kawasan Silom lihat gedung yang paling tinggi dan cari gedung berlogo merah bertulis "United Center". Awalnya begitu nemu gedung ini merasa sudah sampai. Ternyata belum. Jadi gedung tempat Cloud47 berada di bagian belakang, sementara akses utama berada di gedung bagian depan yang isinya selain perkantoran juga ada beberapa kafe. Tinggal cari pintu belakang dari gedung bagian depan, lalu kita akan masuk ke pintu depan gedung bagian belakang. Nah bingung kan? hehehe.



Setelah kebingungan, kami akhirnya menemukan pintu belakang gedung utama, dan langsung dihubungkan ke pintu depan gedung kedua yang ada di belakang. Tetapi di sini pun tidak ada tanda-tanda kami menemukan akses masuk ke Cloud47, sebelum akhirnya kami berinisiatif bertanya kepada dua orang gadis yang berada di semacam akses gedung itu. Ternyata mereka ini adalah petugas pintu masuk menuju ke Cloud47. Setelah dicek reservasi, kami mendapatkan stempel di pergelangan tangan, sebelum petugas itu memberikan akses dengan ngetap access card di enter gate kayak di MRT itu.

Langsung masuk lift menuju lantai 47. Kejutan pertama adalah saat kita keluar dari lift, atmosfer sudah berubah. Udah di-set up macam suasana masuk club begitu. Dan Club47 ini berada di atap dengan pemandangan terhampar adalah kesibukan Kota Bangkok. Haduuuh...seger ini mata!

Interiornya dominan putih. Saat kami datang, baru segelintir tamu yang ada di sana. Pegawainya juga masih banyak yang prepare ini itu. Maklum, buka baru jam 05.00 sore, dan kami masuk beberapa saat setelah buka. Kursi-kursi kotak dengan meja kaca bertebaran. Satu pojok terdapat semacam small stage yang mungkin untuk live music. Kursi-kursi di pinggir menjadi favorit karena di sana kita bisa nemu pemandangan yang paling keren.


Datang saat menjelang sunset mungkin bisa menjadi pilihan waktu yang bagus. Dan jangan pulang sebelum malam, karena pemandangan saat hari sudah gelap pun tak kalah eloknya. Terus apa yang disajikan di sana? Kalau berpikir bahwa tempat ini mahal, mungkin pikiran Anda akan sama dengan pikiran saya. Tetapi setelah sampai di sana, yak ampuuuun...murce! Duit seratus ribuan saja sudah cukup untuk berdua. Di sini beer saja cuma 160 Baht udah dapet, atau sekitar Rp 60.000-an lah. Kalau saya, karena saya kampungan a.k.a udik, saya milih es kelapa muda yang disajikan dengan satu kelapanya langsung. Lupa harganya berapa, tetapi nggak lebih dari Rp 50.000!


Nah, kalau pengen sesuatu yang berbeda saat traveling ke Bangkok, Thailand, kayaknya jelajah skybar akan menjadi pengalaman yang seru dan menghasilkan foto-foto keren (kalau gape motret ya...nggak kayak saya yang kacrut banget kalau motret). Ada banyak skybar dengan karakteristik macem-macem untuk ditawarkan. Banyak situs online yang sudah mengupasnya, jadi kita tinggal menyesuaikan saja dengan ketertarikan kita. Kalau bagi saya sih sudah cukup sekali saja, asal tahu dan pernah. Saya lebih memilih jalan-jalan di pasar tradisional macam emak-emak (teteup) dan tiba-tiba menemukan makanan seru atau aneh saat menjelajahinya :).

Cheers,

Ariy

Saturday, February 24, 2018

Pengalaman Nginep di Citihub Hotels Yogyakarta (Review)

Akhir pekan ini menginap lagi di Yogyakarta karena ada meeting. Awalnya dikasih Hotel 1001 Malam yang ada di Sosrowijayan yang deket dengan Jl Malioboro (free cancellation). Cuma karena ingin nyoba yang lain, akhirnya saya batalin.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya memilih ambil kamar di Citihub Hotels yang ada di Jalan Gejayan. Saya tahu Jalan Gejayan, dan beberapa kali nginap di Hotel Edelweis, salah satu hotel yang cukup bagus di jalan itu, tetapi memang saya tidak tahu persis di sisi mana Citihub. Pertimbangan ngambil Citihub adalah karena meeting-nya di Grand Mercure Hotel jadi bakal lebih dekat (daripada dari Malioboro). 

Dari Stasiun Tugu saya meluncur pakai Go-jek ke hotel. Dan ini kemudian baru menyadarkan saya bahwa selain lumayan jauh, Jalan Gejayan itu cukup panjang. Nah, Citihub Hotels berada di salah satu ujung jalan itu yang menjauh dari lokasi Grand Mercure tempat saya meeting. Saya pikir cuma sepelemparan kolor saja. Jadi soal lokasi saya sudah failed ! Yang kedua, Jalan Gejayan yang sisi ini maceeeeet. Nggak siang nggak malam, dan hanya dini hari yang bener-bener lapang. Driver Go-jeknya sampai minta maaf karena perjalanan tidak lancar.  Ini failed kedua.

                                                                            foto: citihubhotels.com
Singkat kata, saya tiba di sana. Saya booking hotel ini dengan menggunakan Traveloka. Proses check in berjalan lancar. Tetapi kita harus deposit Rp 200.000 (really?). Rada kaget aja deposit segede itu untuk budget hotel. Biasanya paling Rp 50.000 atau paling parah Rp 100.000. Ya, meskipun bakal dibalikin, tetapi menurut saya terlalu besar. 

Saya dapat kamar 202 yang satu lantai dengan resepsionis. Di awal saya masuk kamar, access card lancar jaya, kecuali saat dimasukkan untuk power listrik. Saya coba berulang nggak bisa. Akhirnya manggil petugas hotel dan bisa!

Setelah meletakkan barang-barang, saya inspeksi kamar dulu. Ada dua botol air mineral dengan label Citihub dan dua mug keramik. Kemudian di meja juga terdapat keranjang lucu dengan dua handuk yang terlipat rapi dan dimasukkan dalam plastik bersegel. Oke, so far so good. Berikutnya masuk ke kamar mandi. Nggak ada toiletries, nggak ada sabun batangan maupun sabun cair. Cuma toilet paper dan dua gelas di meja wastafel. Udah. Saya sudah gondok duluan. Dengan harga Rp 300.000 lebih, masak nggak ada perlengkapan mandi? Saya tanyakan ke resepsionis dan begini jawabnya:

"Untuk booking di Traveloka hanya room only Pak. Kalau Bapak ingin toiletries, kami sediakan tetapi tambah Rp 10.000."

I said no. Karena meskipun itu cuma Rp 10.000, tetapi saya lebih baik ke Indomart yang ada di dekat hotel. Itu lebih membuat saya puas karena tidak merasa "Diporotin lebih dalam". Di hotel lain, room only biasanya tidak termasuk sarapan (dan ini saya memang menyadari benar), tetapi perlengkapan mandi yang tak seberapa harganya itu tetap disediakan. Bahkan di Cabin Hotel yang sangat sangat budget dan nginep bisa dihitung beberapa jam saja mereka kasih sabun dan sampo cair, perlengkapan mandi, cokelat, dan souvenir gantungan kunci saat check in!

Inspeksi berikutnya adalah shower. Air cukup bagus, cuma untuk menyesuaikan air panas dan dinginnya agak butuh waktu lama. Setelah itu saya cek AC, nyala bagus dan cukup dingin. Next adalah TV. Saya nyalain dan tidak ada saluran TV kabel. Hanya beberapa saluran nasional yang itu pun gambarnya tidak jelas.

                                                                             Foto: citihub hotels.com
Setelah istirahat, saya sempat keluar untuk beli peralatan mandi di Indomart di dekat hotel. Baliknya, saya coba buka kamar berulang-ulang nggak bisa. Kartunya ngadat lagi. Saat resepsionis mencoba membantu, sama juga...gagal. Tidak bisa terbuka. Baru kemudian dipanggilkan petugas lainnya dan berhasil. Kemudian diberi access card duplikat. Malamnya setelah meeting, saya balik ke hotel dan lagi-lagi pintu tidak bisa dibuka. Baru kemudian dibantu petugas bisa terbuka. 

Kalau dirangkum kelemahannya sih begini:

1. Tidak tersedia perlengkapan mandi, kalau mau minta nambah Rp 10.000.
2. Tidak ada saluran tv internasional (kabel).
3. Oya, nggak tahu kenapa handuknya berbau apek.
4. Access card beberapa kali ngadat.
5. WIFI ada, tapi sinyalnya ya begitulaaah.
6. Lokasi kalau untuk berwisata agak jauh sih dari Malioboro, meskipun masih di kota. Terus jalan di depannya macet.
7. Deposit kebanyakan: Rp 200.000.

Kelebihannya (biar adil):
1. Kondisi kamar hotel cukup bersih.
2. Tempat tidur dan perlengkapannya cukup enak.
3. Staf hotel yang ramah dan sigap membantu.

Kesimpulan: kalau bagi saya dibanding kelas dan fasilitasnya, Citihub Hotels Gejayan overpriced sih untuk harga lebih dari Rp 300.000. Dengan nominal sekian, kita bisa mendapatkan hotel yang lebih bagus di Jogja dan fasilitas lengkap. Bahkan dengan harga di bawah itu. 

Cheers,

Ariy