Thursday, September 22, 2016

Serunya Menyeberang Perbatasan Antarnegara (Crossing Borders)

Pengalaman melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat bagi saya adalah pengalaman yang rasanya ngeri-ngeri sedap.
                                                                                      foto: sanfelipe.com.mx

Ngeri karena saya selalu waswas akan mendapatkan persoalan, sedap karena memang biasanya di perbatasan antarnegara ini akan muncul pengalaman seru. Lebih seru lagi karena biasanya backpacking dengan melintas suatu negara melalui jalur darat akan banyak temennya dari negara-negara lain.

Berikut beberapa pengalaman saya melintas perbatasan dua negara melalui jalur darat. Semoga pengalaman yang sedikit ini bisa memberikan gambaran bagi Anda yang pengen mencoba keseruan traveling melalui jalur darat (overland). Ini hanya sekadar sharing pengalaman gambaran lintas perbatasan, karena banyak hal yang sudah berubah sekarang ini, termasuk lokasi yang pindah. Anda pasti akan memiliki cerita sendiri bila ingin mencobanya. 
  • Perbatasan Singapura - Malaysia: melintasi perbatasan Singapura - Malaysia adalah pengalaman pertama saya lintas batas negara. Itu juga saya lakukan saat saya ke luar negeri pertama kali, yaitu di tahun 2009. Waktu itu tidak terlintas ketakutan sama sekali, karena lebih banyak rasa penasaran dan senengnya mengingat baru pertama kali menginjak negeri orang. Saya menggunakan transportasi kereta, yaitu KA Senandung Malam No 12, yaitu dari Stasiun Kereta Api Tanjong Pagar Singapura yang berada di Keppel Road (sejak 1 Juli 2011 berhenti beroperasi dan pindah ke Stasiun Kereta Woodlands) - menuju ke KL Sentral Train Station, Kuala Lumpur. Dengan percaya diri beli tiket kereta secara go show. Harga tiket waktu itu 34 SGD (kurang lebih Rp 230.000,- kurs saat itu), sementara kalau dari Malaysia - Singapura pake kurs ringgit yang jatuhnya cuma seratus ribuan. Di Tanjong Pagar ini ada petugas imigrasi dari Malaysia, serta ada juga petugas imigrasi Singapura. Saat kita akan naik ke gerbong kereta, bawaan kita akan dicek...backpack saya dibuka, dikeluarin semua isinya...duuuh padahal susah packing-nya, lalu dicek satu-satu barang apa yang kita bawa, setelah dirasa beres dan nggak ada yang mencurigakan diserahkan kembali ke kita. Maka akan tampaklah pemandangan para calon penumpang melipat baju dan menata satu-satu untuk dimasukkan ke dalam koper atau backpack. Sudah seperti penjual baju di pasar malam menggelar lapak dagangan. Petugas imigrasi di titik ini tidak akan menyetempel paspor kita, tetapi hanya memberikan tanda bahwa kita masuk ke Malaysia menggunakan kereta api. Terus pemeriksaannya di mana? Kereta akan membawa kita ke Woodlands Train Checkpoint. Nah di sinilah penumpang akan keluar dari kereta, mengantri untuk distempel imigrasi Singapura dan secara sah kita keluar dari Singapura. Secara umum, melintasi perbatasan Singapura - Malaysia melalui jalur darat sangat muda bagi saya. Tidak ada pengalaman serem sama sekali. Cuma pas packing pengecekan barang bawaan sebelum masuk ke kereta aja yang bikin deg-deg seerrrr saking banyaknya antrean dan terus liat jam karena kereta akan segera berangkat. Karena saya nggak bawa barang-barang aneh, ya lancar saja.
  • Perbatasan Thailand - Myanmar: Dua kali saya melintasi perbatasan Thailand - Myanmar yaitu tahun 2009 dan 2011, tepatnya di ujung utara Thailand atau di ujung selatan Myanmar. Border town -nya untuk sisi Thailand adalah Mae Sai, kota kecil yang berada di Provinsi Chiang Rai (paling utara), sementara sisi Myanmar adalah Tachileik, keduanya dibatasi oleh sungai. Yang serem di sini sebenarnya bukan di pemeriksaan imigrasinya, tetapi lebih pada pemeriksaan tentara di daerah Thailand sebelum memasuki kota perbatasan. Dua kali distop pemeriksaan tentara dengan senjata lengkap yang masuk ke dalam bus-bus yang menuju kota perbatasan. Gayanya songong dan diserem-seremin (emang serem sih hehehe). Tetapi kalau kita pegang paspor, aman kok. Pengalaman ini pernah saya tulis di buku The Naked Traveler Anthology-nya Trinity yang seri pertama. Pemeriksaan memang dilakukan untuk merazia imigran gelap dari Myanmar. Bagi sebagian warga Myanmar, menyeberang ke Thailand adalah bagian dari "Thailand Dream" untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Kalau sudah sampai di kota perbatasannya sih aman saja. Nah, begitu sampai di kota perbatasan Mae Sai, kita masuk ke pemeriksaan imigrasi di Thailand, lalu tinggal nyeberang aja jembatan dengan jalan kaki, lalu akan tampak gapura warna biru (entah kalau sekarang sudah dicat warna lain). Di sana akan semacam pos ronda kecil yang ternyata adalah itulah pos imigrasi di mana paspor kita akan dicap dan ditinggal. Lha kok ditinggal? ini juga sempat membuat saya khawatir, karena kalau jalan ke luar negeri saya paling ogah berpisa sama paspor. Tetapi setelah diberi penjelasan, akhirnya saya mengerti. Di perbatasan ini mereka hanya akan memberikan waktu sehari hingga 14 hari, dengan syarat paspor ditinggal di imigrasi. Beuuh...serem kali kalau harus berpisah dengan paspor 14 hari. Lagian mau ngapain di Tachileik 14 hari. Saya memilih seharian aja jalan-jalan di sini. Sebelum kemudian keluar lagi di sisi lain pos imigrasi, lalu mengambil paspor kita yang sudah distempel Myanmar lalu masuk ke pos di mana ada imigrasi Thailand untuk stempel masuk ke Thailand. Proses di imigrasi sangat mudah dan cepat dan serem karena berhadapan dengan tentara bersenjata lengkap. Di sini, mata uang Baht maupun Kyat Myanmar dua-duanya dihargai, jadi bisa digunakan dua-duanya. Perbatasan ini juga paling populer sebagai lokasi untuk memperpanjang izin tinggal atau bisa disebut Visa Run. Artinya, misalnya nih saya kan WNI, mendapatkan izin tinggal gratis selama 30 hari di Thailand, nah di hari terakhir saya tinggal menyeberang saja ke Myanmar, mau sejam dua jam nggak masalah, lalu kembali ke Thailand...nah saya akan mendapatkan izin tinggal baru lagi selama 30 hari berikutnya. Begitu.
  • Perbatasan Vietnam - Kamboja : Kota perbatasan untuk sisi Vietnam adalah Moc Bai, sementara untuk sisi Kamboja adalah Bavet. Saya menyeberangi perbatasan ini dari Moc Bai menuju Bavet dengan menggunakan bus yang membawa saya dari Ho Chi Minh. Ini adalah perbatasan yang paling populer untuk lintas Vietnam - Kamboja, meskipun ada dua perbatasan lain yang bisa dilalui menggunakan jalur darat dan jalur sungai. Tetapi perbatasan Moc Bai - Bavet inilah yang digunakan bus-bus utama penghubung Vietnam-Kamboja. Moc Bai berada di Provinsi Tay Ninh, sementara Bavet berada di Provinsi Svay Rieng. Tetapi sebenarnya, identifikasi kota-kota perbatasan ini tidak terlalu berguna karena kita bahkan tidak menyadari kita sedang berada di mana. Semua sudah diurus oleh operator bus, kita duduk manis, nyerahin paspor, turun di gedung perbatasan, lalu dapat stempel in - out Vietnam dan Kamboja...lalu taraaaaa....kita sudah sampai di Kamboja. Kebanyakan pelintas batas di sini adalah warga Vietnam dan Kamboja, bolak-balik. Kalau turis emang banyak juga, tetapi tidak terlihat antrean sebanyak warga lokal mengingat semua sudah diurus operator bus. Bagi saya ini sedikit menguntungkan karena tidak ada masalah, tetapi di sisi lain kurang seru juga, ibarat cerita...kurang unsur dramanya wakakakaka. Oya, di sini masih bisa sih pakai mata uang Vietnam Dong, tetapi karena sudah saya habisin pas di Ho Chi Minh dan hanya sisa dua lembar untuk koleksi, akhirnya dengan rela hati saya kencing di toilet imigrasi dengan bayar pakai US$ 1. Iyak benar sodaraaa...kencing seharga Rp 13.000 !! Hahahaha...welcome to America  Cambodia !!
  • Perbatasan Kamboja - Thailand : Bagi saya perjalanan lintas negara paling seru dan sedikit melelahkan adalah saat melintas batas Kamboja - Thailand. Saya berangkat dari Siem Reap dengan menggunakan bus yang tiketnya saya beli seharga US$15. Ingat, harga itu akan membawa saya sampai ke Bangkok. Jarak antara Siem Reap ke kota perbatasan Kamboja - Thailand yaitu Poipet adalah 152 km atau kalau perjalanan darat sekitar 3 jam. Opsi dari Siem Reap ke Poipet adalah menggunakan taksi, tapi mehong booo...US$25 !! Bisa langsung jatuh miskin kan...pulang ke Indonesia ngesot. Awalnya saya akan mengambil opsi naik bus atau apapun ke Poipet lalu nyebrang perbatasan - naik kereta api dari Aranyaprathet (kota perbatasan di sisi Thailand) ke Bangkok. Tetapi kemudian batal, karena hanya ada kereta pukul 06 pagi dan jam 2 siang, yang pagi nggak mungkin kekejar, sementara jam 2 siang nunggunya lama dan menghabiskan waktu. Padahal harga tiketnya murah hanya 48 Baht atau sekitar US$ 1.6 saja! seru kan kalau bisa kereta-keretaan. Opsi bus akhirnya saya ambil, berangkat dari Siem Reap dini hari, subuh sudah sampai di Poipet. Suasana masih gelap...dengan wajah-wajah bantal mayoritas bule di bus saya. Oya, bus yang saya tumpangi ini adalah bus tua tapi cukup nyaman dan pakai AC. Untuk perjalanan 3 jam dari Siem Reap ke Poipet cukuplah. Bus ini menjemput saya di depan lokasi agen travel penjual tiketnya di Siem Reap. Nah, di dalam bus sebelum sampai ke perbatasan, kita akan diberi sticker bulat...punya saya merah. Di tempel di dada, ada juga yang ditempel di pundak, lengan...terserah. Setelah itu kita dilepas bus begitu saja di Poipet...tidak dikasih tahu apapun, pokoknya turun aja...lhaaa ??? Iya akhirnya saya ngikut arus aja bule-bule bertas punggung segede bagong yang sama bingungnya dengan saya. Demi melihat loket antrean imigrasi (yang letaknya kecil nyempil di pojokan gate), kami pun ikut ngantre. Antrean panjang beberapa baris. Petugas imigrasinya tua-tua, beberapa agak lama, beberapa cukup cepat. Di sini yang agak lama di antre sih, tapi giliran pemeriksaan paspor ya cukup cepat. Nggak ditanya macem-macem. Lepas dari sini, langsung lurus aja menuju ke gedung imigrasi Thailand yang jaraknya sekitar 200 meteran dari loket imigrasi Kamboja. Jangan lupa, sebelum masuk ke dalam gedungnya nanti akan ada petugas dengan meja kecil dan tumpukan kertas di jalan menuju ke pintu gedung imigrasi, nah...mintalah kertas itu, itu adalah kartu kedatangan imigrasi Thailand. Saya sempet terlewat ini, karena tidak menyadari. Muter balik deh...ambil kartu. Setelah masuk ke gedung imigrasi...taraaaaa...bersiaplah menyanyi..."ulaar naga panjangnya...bukan kepalaang...menjalar-jalar selalu kian kemariiii..duduudu..." Iya antrean panjang, satu line saja tetapi mengular belak-belok...nah di bagian paling depan baru dipecah ke beberapa loket petugas imigrasi. Saya mengantre satu jam lebih di sini, berbaur dengan turis asing dan warga lokal. Di sinilah banyak drama terjadi. Yang saya tahu, beberapa orang Kamboja terpaksa mental ditolak masuk. Yang dicurigai bermasalah langsung digiring ke pojokan atau meja khusus. Wajah-wajah pucat, wajah-wajah sedih, petugas imigrasi membentak-bentak, terlihat di depan mata. Serem juga...sambil membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya. Saya dibuat sebel dengan seorang pemuda tengil (sepertinya warga Kamboja) yang dari bagian paling belakang melipir ke depan pelan-pelan memotong antrean. Banyak yang tidak menyadari ini, tetapi saya amati sejak awal kedatangan. Sikapnya mencurigakan dan tampak resah. Dan nggak tau dari mana, tiba-tiba saja dia sudah di depan lho!! sial !!  Pas giliran dia diperiksa di loket imigrasi, agak lama, ditanya macam-macam, sampai kemudian dia digiring ke ruang khusus...wakakakak...sebelum kemudian saya lihat dengan wajah kecewa dia balik ke arah pintu masuk alias balik ke sisi Kamboja. Ditolak masuk !!  Selain si penerobos antrean tadi, saya lihat turis asing lancar-lancar saja yang membuat saya lega. Sampai ada dua turis asing (pasangan) yang berada sekitar tiga antrean di depan maju ke loket. Yang cewek maju ke loket A, yang cowok maju ke loket B. Yang cewek kelar lebih dulu, sambil menunggu di belakang loket (entry gate Thailand), yang cowok masih diperiksa paspornya...sampai kemudian...taraaaaa...petugas imigrasi yang menghadapi si cowok menolak paspor yang disodorkan. Kenapa ? Karena paspor si cowok ternyata fotonya adalah cewek wakakakakak...jadi mereka salah pegang, si cewek pegang paspor si cowok, si cowok pegang paspor si cewek. Lha kok si cewek lolos? Ya karena petugas satunya memeriksa sambil merem! Hahaha. Tetapi menurut saya kasus itu nggak akan panjang, meskipun mereka digiring masuk ke meja interogasi, karena keduanya datang bersama sebagai pasangan dari negara yang sama. Lha iya, wong pacaran. Saya dan dua orang bule dari Australia sempat ngobrolin tentang ini. Terus bagaimana nasib saya? Untung saja saya lancar jayaaaa...langsung aja main stempel. Nah, karena memang masuk melalui jalur darat, saya tidak mendapatkan izin tinggal 30 hari, tetapi hanya dua minggu saja (bisa dibaca distempelnya). Untung saya rencananya di Thailand hanya seminggu doang, jadi cukuplah. Keluar dari gedung imigrasi ini, kita langsung disambut dengan asongan khas Thailand. Pertanyaan saya adalah, bagaimana cara saya ke Bangkok ? Naik apa? Kan katanya US$15 adalah tiket Siem Reap - Bangkok. Sementara saya baru sampai di kota perbatasan ? Saya tidak mau mikir panjang dulu karena saya harus buru-buru ke toilet, pengen kencing. Nah, toiletnya berbayar 10 Baht. Kelar dari toilet, celingukan nih...mana ya bus yang akan membawa saya ke Bangkok? Ngga tahu nama busnya lagi, tiket juga entah kabur di mana. Pas lagi celingukan, ada pemuda yang berteriak keras ke arah saya...."Hey...red sticker !! Red sticker !!" Saya menoleh ke arahnya, dan dia menunjuk ke arah saya...baru kemudian saya sadar, di dada saya tertempel stiker bulat warna merah. Saya samperin dia, kemudian dia memperkenalkan diri sebagai orang yang akan membawa saya ke Bangkok dengan menggunakan minivan. Saya digiring ke minivan, dan ternyata sudah ada beberapa penumpang lain yang di sana. Berbeda dengan bus, minivan yang ini bener-bener bikin sengsara...disumpel-sumpelin kayak dagangan aja. Saya duduk di belakang berempat dan dua di antaranya adalah bule Australia berbadan gede. Jangan harap bisa selonjor atau rebahan enak. Tetapi saya merasa lebih beruntung mengingat tubuh saya kecil, karena bagi bule itu, minivan ini jauh lebih menyiksa. Sekitar 4 jam kemudian saya sudah berada di tengah Kota Bangkok. Pertanyaannya, bagaimana penumpang bus lainnya yang tadi bareng saya? Siapa yang akan membawa mereka ke Bangkok ? Well, akan ada minivan lain yang menjemput. Yang penting jangan sampai stiker bulatnya hilang !

Segala perasaan tidak pasti, insecure, ketakutan, excited, yang berkumpul menjadi satu itulah yang saya rasakan sebagai perasaan seru. Saya lumayan kecanduan untuk melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat dengan segala keseruannya. Sebelumnya, saya sempat berpikir untuk masuk ke Hanoi (Vietnam) dari Nanning (saat saya backpacking ke China), tetapi saya batalkan karena saat itu saya tidak punya waktu mengingat perjalanan dengan bus cukup lama. Rencana saya berikutnya sih ingin lintas negara dari Thailand ke Laos. Lagi ngumpulin duit, soalnya selain kismin, juga sudah tidak ada sponsor lagi hihihi. Doakan yaaa nemu duit sekoper...amiin.

Nah, kapan giliran kamu?

Thursday, September 1, 2016

Keajaiban Khmer (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 6 Habis)


22 November 2015

Pagi itu sopir tuktuk saya sudah menjemput di hotel. Masih pagi buta dan Si Bajuri masih pakai baju yang sama kayak semalem. Mungkin dia bahkan belum pulang ke rumah. Kami sudah sepakat bahwa kami akan membayar US$ 15 kepada Si Bajuri untuk mengantarkan kami ke area Angkor Wat yang lokasinya sekitar 5 km dari pusat kota Siem Reap. Harga itu untuk trip seharian - dari Subuh dan kelar sekitar pukul 14.00-an. Saya melihat Si Bajuri ini sopir yang baik. Nggak tau, feeling saja. Dia selalu berusaha membuka omongan dengan menjelaskan hal-hal yang kami lalui di jalan. Kalau soal harga, saya sudah baca beberapa testimoni, ya rata-rata emang paket dari kota ke Angkor Wat sekitar US$ 15 itu. Nah, Tuktuk ini kayaknya bisa dipakai bertiga deh, meskipun rata-rata dipakai berdua, jadi cukup irit kalau mau patungan.

Tuktuk kami berjalan menembus pagi buta yang masih gelap. Penerangan minim, jalan sepi lengang dari kendaraan, udara sejuk, mewarnai perjalanan itu. Selepas itu, di jalur utama ke arah Angkor Wat mulai banyak TukTuk lain yang bermunculan, dari belokan, dari sudut hotel, dari sudut penginapan, beriringan seperti tengah ada parade TukTuk. Mereka membawa penumpang seperti kami, turis asing, yang rata-rata bule. 

Saya suka keheningan sesaat dan udara sejuk pagi itu. Setelah beberapa saat, TukTuk yang kami tumpangi beriringan dengan TukTuk lain, memasuki sebuah area dengan halaman cukup luas. Di sana bergantian TukTuk ini menurunkan penumpang. Dalam beberapa detik kami sudah dihadapkan pada kerumunan orang banyak, turis-turis kulit putih bercampur wajah-wajah Asia dan lain sebagainya, sementara para sopir TukTuk ribet mengatur diri karena area tersebut dipakai untuk ngedrop turis. Di depan kami ada bangunan berkaca lebar dengan  lubang jendela...inilah loket untuk membeli tiket masuk ke Angkor Wat. Para pengunjung pun antre memanjang ke belakang. Ada sekitar 5-10 loket yang dibuka dan semuanya full antrean. Suasana di depan loket seperti layaknya antrean penonton konser musik. Bedanya, banyak wajah-wajah bantal yang nongol, termasuk yang nulis. Maklum, bangun langsung ngabur ke sini hehehe.


Jadi setiap loket dijaga oleh dua orang petugas, yang kebetulan di antrean saya adalah petugas cewek. Satu petugas duduk di balik bilik loket kaca yang posisinya hampir sejajar dengan kepala para pengantre, sementara satu petugas lagi berdiri di depan loket. Yang di luar bilik inilah yang akan mengarahkan kita untuk berfoto. Ada semacam kamera kecil di depan loket untuk memfoto kita. Sempet ditanya dari negara mana, lalu kita diambil gambar....cekrekkk !! tak butuh waktu semenit Angkor Pass sudah jadi. Setelah itu dengan angot-angotan...rasanya beraaaat banget...saya melepas US$ 20 saya ke mereka...hiks.

Tiket yang saya beli adalah tiket one day visit, berlaku untuk waktu 05.30 AM - 05.30 PM. Ada sih paket beberapa hari, tetapi menurut saya, satu hari saja cukup...mahaaaaal!! (belakangan saya berubah pikiran, kayaknya di Angkor Wat selamanya juga woke). Nah, setelah beli tiket selesai, langsung deh cari Si Bajuri yang ternyata dari tadi sudah mengamati dari jauh antrean saya. Tanpa banyak cingcong...melajulah TukTuk Si Bajuri.

Salah satu bagian yang saya suka adalah, jarak antara loket dengan candi utama itu lumayan jauh. Subuh itu, TukTuk membawa kami membelah jalan lebar dan lengang dengan kanan-kiri adalah pohon-pohon tua dan superbesar serasa melayu membelah botanical garden. Lampu-lampunya hanyalah lampu taman bolam kuning, yang membuat suasana semakin serem sendu. Udara sejuk sekali. Beberapa kali kami melewati pesepeda, yang beberapa di antaranya sendirian...berani juga ya. Mereka adalah turis yang memilih menuju Angkor Wat sambil berolahraga. Sebenarnya ide bagus juga untuk berangkatnya, tapi kalau pulang pasti sangaaat panas. Keadaan masih gelap hingga saya sampai di depan central structure atau bangunan pusat candi. Struktur utama candi memiliki denah semacam di bawah ini (yang saya comot dari wikipedia). Bagian biru adalah kanal lebar yang mengelilingi kompleks candi. Tetapi dari awal saya sampai, saya tidak bisa mengenali struktur utama ini saking gelapnya. Iya, tidak ada penerangan di area ini (kecuali di lokasi parkir yang lokasinya di luar area). Saat Si Bajuri melepas saya, saya sendiri tidak tahu mau kemana. Beberapa orang berpencar ke berbagai arah, tetapi saya memutuskan untuk mengikuti rombongan paling banyak menuju ke satu titik, ternyata memang kami melewati jalanan batu sekitar 50 meter menyeberangi kanal menuju pintu utama (lihat garis krem bagian kiri). Beberapa orang dengan name tag terkalung di leher membawa senter untuk memeriksa tiket kita. Sampai di sini saya belum menemukan Angkor Wat seperti bayangan saya. 


Nah, central structure sendiri dinding luarnya berukuran 1.024 x 802 meter dengan ketinggian 4.5 meter, dikelilingi halaman terbuka sepanjang 30 meter dan parit sepanjang 190 meter. Akses ke candi adalah sisi barat - menyeberang kanal - bertemu gapura (yang ada pada setiap arah mata angin) - kemudian kita akan masuk ke area halaman di mana kanan kiri ada beberapa candi kecil serta reruntuhannya. 

Hingga di area ini situasi masih gelap...Matahari seperti masih belum mau bersua dengan kami. Nah, kebanyakan turis - yang makin lama makin bejibun - menuju ke arah kiri di mana kita akan bertemu semacam danau yang cukup luas. Kenapa mereka ke sini? Jadi kami ini kan sedang menunggu sunrise, nah salah satu view terindahnya nanti adalah saat bayangan candi memantul di permukaan air danau...begitu. Sebenarnya googling di internet pun bakal menemukan ratusan foto semacam ini dari mereka yang pernah berkunjung. Tetapi emang paling seru kalau menjadi saksi mata langsung ya.

Saat semburat Matahari dari arah timur muncul, saya segera menyadari bahwa jumlah turis yang berada di sekitar danau saja mungkin sudah ribuan. Belum mereka yang masih dalam perjalanan ke sini. Serem...saya jadi ingat pelajaran SD yang menyebutkan salah satu budaya Jepang menyembah Matahari...nah, kami ini seperti tengah menunggu Dewa Matahari muncul...berkumpul di pinggir danau. Tetapi ini hanya seperti saja yaa...yang terjadi kan kami hanya ingin menikmati ciptaan Tuhan.
  • Di area sekitar danau ini banyak anak kecil lokal yang berkeliaran menawarkan kopi. Mereka hanya membawa semacam daftar menu. Lalu kita bisa memesan kopi, setelah itu mereka akan berlari ke sisi lain (semacam warung) untuk mengambilkan kopi pesanan kita. Saya sih tidak memesan jadi tidak tahu harganya berapa. Hebatnya, dalam kondisi gelap gitu, mereka bisa cepat kembali ke kerumunan orang dan menemukan pemesan kopinya lho.


Cukup lama kami menunggu Matahari muncul. Lama-lama saya bosan dan memilih untuk berjalan ke sisi lain. Pagi itu langit agak mendung, tetapi pada akhirnya Matahari tetap menyeruak dari balik punggung candi utama. Saya justru lebih tertarik dengan ribuan orang yang berkumpul di tepi danau...para sunrise hunters. Paduan langit mendung, rumput hijau, danau segar, dan bule-bule ini mengingatkan pada imajinasi di benak saya tentang Woodstock Festival, terus berandai-andai  ada Santana main di sini, seperti saat dia tampil di Woodstock tahun 1969 (di mana saya bahkan belum direncanakan lahir).

Hal pertama itulah yang membuat pandangan saya terhadap Siem Reap yang awalnya "kok cuma gini" menjadi "wah bakal ada kejutan apalagi ya?". Iya soalnya di hari pertama saya memasuki Kamboja sehari sebelumnya, saya belum mendapatkan kesan serunya. Apalagi ditambah biaya hidup yang menurut saya kok ya mahal.

Setelah Matahari bersinar, saya mulai menemukan bayangan konstruksi besar sebuah kompleks candi, Para turis mulai bergerak memasuki bangunan utama candi dan saya merasa seperti sedang berada di India (efek banyak nonton film India). Ini kompleks candi megah dengan lorong-lorong indah, dengan pilar-pilar cantik, dengan segala reruntuhannya. Di sela-selanya, kita akan melihat monyet-monyet berkeliaran di tempat yang menjadi kediamannya. Tontonlah The Jungle Book movie...ini benar-benar seperti kerajaannya King Louie, Gigantopithecus, monyet raksasa setinggi 10 kaki yang menahan Mowgli karena ingin diajari membuat red flower alias bunga api. Atau mungkin film ini yang memang mendapatkan inspirasi membangun setting kerajaan King Louie dari Angkor Wat? Entahlah. 






Seperti halnya saya mengagumi Candi Borobudur atau Candi Prambanan, saya selalu berpikir satu hal (yang mungkin mewakili pikiran orang awam lainnya), bagaimana mungkin di jaman itu di mana teknologi belum ada, orang bisa membangun bangunan semewah ini ya? Yes, menurut saya ini sangat mewah. Angkor Wat sendiri adalah sebuah kuil yang dibangun pada jaman pemerintahan Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-XII dan memakan waktu pembangunan hingga 30 tahun. Pembangunan dilakukan untuk meletakkan Gunung Meru sebagai pusat dunia dan menjadi tempat tinggal para dewa-dewi Hindu. Nah, jadi sebenarnya saya ini tengah bertamu di kediaman para dewa hehehehe.

Sekitar pukul 09.00 AM, saya sudah mulai bertanya-tanya, lalu di mana ya candi-candi yang dibebat akar pohon gede-gede yang tersulur dari atas itu? Iya, kalau kita googling dengan kata kunci "Siem Reap" atau "Angkor Wat" yang muncul adalah itu. Belum lagi kalau nonton film Lara Croft : Tomb Raider-nya Angelina Jolie, pasti di benak kita sudah muncul bayangan beda tentang Angkor Wat. Jadi ternyata begini, central structure adalah salah satu bagian dari Angkor Wat...di luar itu, area Angkor Wat itu sangat luas dengan berbagai candi yang salah satunya dipakai untuk setting filmnya Angeline Jolie itu yang diberi nama Angkor Thom. 

Si Bajuri yang kami temui di parkiran tampak memasang muka yang ramah saat saya keluar dari central structure. Dia langsung menyiapkan TukTuknya untuk berkeliling lagi ke lokasi lain yang pada akhirnya benar-benar seperti bayangan saya tentang Siem Reap. Lokasinya saling berjauhan dan kayaknya nggak mungkin deh jalan kaki, karena waktunya tidak akan cukup. Berkeliling area Angkor Wat sangat menyenangkan karena kita seakan masuk di mesin waktu...pohon-pohon tinggi dan tua, bangunan candi, reruntuhan, dan (bagusnya) steril dari bangunan modern, sangat-sangat membuat saya melupakan US$20 yang sudah melayang...ini layak dan sepadan dengan uang yang saya keluarkan hahahaha.






Bagi saya, perjalanan kali ini highlight-nya ada di sand dunes Vietnam dan Angkor Wat di Kamboja. One day trip di Angkor Wat sepertinya kurang deh...kayaknya harus dua atau tiga hari hahaha, tapi habis itu pulang ngesot ke Indonesia karena duit habis. Bagi saya, Siem Reap itu adalah ya Angkor Wat, tidak ada yang lain. Jadi kalau mau ke sini pun ya fokusnya di Angkor Wat, karena nggak ada hal yang menarik lainnya. Saya mungkin akan betah berlama-lama di Angkor Wat, tinggal di sini sebulan kek, dua bulan, atau selamanya hihihi...entah kenapa saya selalu suka tentang hal-hal sejarah, masa lalu, bla bla bla...mungkin pertanda saya sudah tua. Kata temen saya, Adjie, orang tua berbicara tentang masa lalu dan anak muda selalu berbicara masa depan. Hmmmm....*cabuti uban*

Hari itu adalah hari terakhir saya di Kamboja. Terima kasih untuk Bajuri (sampai sekarang saya nggak tau namanya) yang telah menjadi sopir TukTuk terbaik selama saya di Kamboja. Pulang ke hotel, saya sudah bersiap check out. Mandi sebentar, packing, lalu check out....dan mati gaya hampir 7 jam berikutnya !! Kok bisa ? Lha ya bisa, wong saya beli tiket bus ke Bangkok yang malem. Makanya diputuskan nitip backpack ke hotel, lalu jalan-jalan bego (lagi) keliling area pub street. Sumpah, kali ini saya benar-benar merasa bego karena nggak tahu harus ngapain. Cuma makan, masuk 7-Eleven beli minum, lalu masuk ke mall (atau supermarket ya saking kecilnya), lalu jalan ke pusat cinderamata, lalu menunggu hujan dengan berteduh di jembatan penyeberangan sungai yang ada tempat duduknya, lalu balik ke hotel ambil backpack tapi sempet mainan hp karena ada wifi gratis...lalu makan malam lagi...lalu ngelamun nggak jelas...tidur di emper travel tempat saya beli tiket bus....beuuuh....sungguh membosankan. Saat paling melegakan adalah saat bus saya ke Bangkok menjemput saya. Saya sudah membayangkan akan segera bobok lucu di dalam bus, dan bersiap untuk menghajar Bangkok keesokan harinya. 

Maka dengan ini berakhir pulalah perjalanan Vietnam - Kamboja saya. Bab tentang crossing border Kamboja - Thailand akan saya tulis di seksi lain yang terpisah. Termasuk serunya menikmati Krathong Festival 2015....

See ya di perjalanan berikutnya,

Ariy