Wednesday, November 18, 2009

Nggembel empat negara dengan Rp 4 juta (part I)

Selama kurang lebih dua pekan, dari tanggal 9-22 Oktober, saya mencoba melakukan perjalanan murah dengan tujuan empat negara. Uang saku saya hanya Rp 4 juta, sudah termasuk biaya transportasi. Ini adalah perjalanan backpacking saya pertama. Target saya adalah Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar. Bagi para backpacker, rute saya mungkin masuk level rendah untuk dijelajahi. Artinya dari segi kesulitan tidak terlalu besar. Tetapi bagi saya sebagai pemula, ini sebagai test case sebelumnya masuk level berikutnya.

Perkenalan dengan dunia backpacker sesungguhnya dari membaca artikel di semua media massa nasional. Dari jalur ini, saya temukan situs komunitas traveler dan backpacker dunia www.hospitalityclub.org. Saya kemudian mendapatkan beberapa teman, salah satunya backpacker asal Switzerland, Sven Huber, yang telah melakukan perjalanan "nggembel" di sedikitnya 40 negara. Dia pula yang mengenalkan saya akan kehidupan keras para backpacker dengan solidaritasnya yang luar biasa.

Sven sempat mampir ke Solo, dan tinggal di rumah saya hampir satu pekan, menjadi "wong Solo" yang makan nasi oseng-oseng hingga menggunakan toilet jongkok. Sven membuka jalan saya dengan memperkenalkan komunitas yang lebih populer bagi backpacker, yaitu www.couchsurfing.org atau biasa dikenal sebagai CS. Situs ini memiliki anggota hampir 1,5 juta traveler dan backpacker dari 230 negara dengan bahasa ibu mencapai 256. Di Indonesia, anggotanya saat ini mencapai 5.212 orang. CS telah menjadi liputan media di berbagai belahan dunia, baik media cetak maupun televisi. Terakhir, The Strait Times Singapura menurunkan artikelnya tentang CS pada September lalu.

Ada semacam konvensi tentang arti "prestasi" bagi backpacker. Prestasi adalah saat kita bisa bertahan dengan situasi buruk, sedikit uang, tetapi menghasilkan perjalanan yang luar biasa. Beberapa nama backpacker kemudian menjadi semacam legenda. Beberapa lainnya diingat karena keberaniannya, seperti nama Christopher Johnson McCandless yang melakukan perjalanan liar ke Alaska dengan dukungan makanan dan perlengkapan yang sangat minim. Laki-laki muda ini meninggal karena kelaparan pada pertengahan Agustus 1992, di dekat Denali National Park and Preserve, Alaska. Kisah hidupnya yang dituangkan dalam buku Into the Wild menjadi salah satu buku populer di kalangan backpacker. Kisah ini juga telah difilmkan oleh Sean Penn.

Dengan bergabung di CS, saya kemudian berkontribusi dengan memberikan tumpangan kepada para backpacker yang mengunjungi Solo. Hingga kini, tujuh backpackers dari negara berbeda, yaitu Amerika Serikat, Israel, China, Mesir, Switzerland, pernah tinggal di rumah saya. Dua di antaranya adalah yang pernah tinggal adalah backpacker perempuan. Di Jawa, Solo menjadi salah satu tempat favorit para backpacker untuk singgah, selain Yogyakarta.

Perjalanan empat negara yang saya rancang adalah langkah pertama saya sebagai tamu, setelah beberapa kali menjadi tuan rumah. Saya mengambil rute Yogyakarta-Singapura menggunakan pesawat (tiket Rp 199.000), Singapura-Kuala Lumpur (Malaysia) menggunakan kereta api (tiket SGD34 atau Rp 231.000), Kuala Lumpur-Chiang Mai (Thailand) menggunakan pesawat (tiket 191 Ringgit atau sekitar Rp 560.000), Chiang Mai-Tachileik (Myanmar) menggunakan bus pulang pergi (tiket 424 atau Rp 122.000), Chiang Mai-Bangkok dengan bus (500 bath atau Rp 150.000). Perjalanan pulang dengan rute Bangkok-Penang (Malaysia) dengan pesawat (1.670 bath atau Rp 690.000), pesawat Penang-Kuala Lumpur (57 Ringgit atau Rp 167.000), kemudian kembali ke Solo dari Kuala Lumpur (tiket) 153 Ringgit atau Rp 428.000).

Praktis, separuh budget saya habis untuk transportasi. Namun saya tak perlu memikirkan hotel. Backpacker asal Phillipina, Mark Yu, yang bekerja di Singapura siap menampung saya. Di Malaysia, backpacker setempat, Azrai menawarkan tempat tinggal. Di Chiang Mai dan Bangkok, saya akan ditampung oleh Sakayawat Wongrattanakamon, penulis muda Thailand yang menelurkan buku perjalanan murah ke China dan Laos. Sedang di Myanmar, saya menggunakan visa satu hari (one day tour), sehingga tak perlu tempat menginap.

Departure

Berangkat dari Yogyakarta menuju Singapura pada tanggal 9 Oktober, saya masih diliputi rasa gamang. Apalagi bila mendengarkan omongan sejumlah teman. Mereka menyatakan saya akan sedikit lebih lama berada di meja pemeriksaan imigrasi di bandara. Ini karena paspor saya masih "perawan" atau saya belum pernah ke luar negeri. Saya menangkap pesan itu sebagai, "Hei, kamu akan dapat masalah!"

Menjelang pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura, kekhawatiran saya semakin besar setelah pramugari pesawat menyodori kartu kedatangan yang dikeluarkan imigrasi Singapura. Saya diminta mengisi di mana alamat tempat saya tinggal selama di Singapura. Saya bahkan tidak booking hotel, sehingga tak bisa memasukkan alamat hotel. Parahnya lagi, saya lupa menanyakan alamat Mark Yu, backpacker Phillipina yang akan menampung saya selama di Singapura. Persoalan lain adalah, saya tidak memegang return tiket. Ini karena saya berencana keluar dari Singapura dengan menggunakan kereta api menuju Kuala Lumpur, yang tiketnya bisa dibeli langsung di stasiun. Tanpa return tiket, bisa-bisa imigrasi mengira saya akan menggelandang di Singapura.

Tiba di Bandara Changi saya agak sedikit lega saat satu pesan singkat di handphone muncul, alamat Mark. Saya akan tinggal di Holland ave #18-30, Singapura. Tiba di meja imigrasi, petugas laki-laki setengah baya memeriksa dengan seksama paspor saya, mencocokkan foto dengan wajah saya, lalu...dokk!! Paspor saya distempel dan diserahkan kembali ke saya, tanpa bertanya apapun. Tak lebih dari satu menit. Saat saya cerita hal ini ke salah seorang teman asli Singapura, dia sangat heran dengan kemudahan yang saya dapat. Saya seperti merasakan "keramahan" Singapura pada kesempatan pertama.

Di Singapura saya tidak akan berlama-lama. Saya sudah diperingatkan soal mahalnya negara ini. "Less Singapore!" itu pesan teman saya. Untuk transportasi sehari-hari, saya nebeng mobil teman di Singapura, sisanya naik bus umum. Bagi backpacker, Singapura kurang menarik. Singapura lebih tepat bagi turis berkoper daripada beransel. Meskipun begitu, Singapura tetap memberikan fasilitas bagi backpacker. Mereka memiliki sejumlah hostel (penginapan murah) dengan tarif per malamnya mulai SGD7 atau sekitar Rp 45.000 hingga tak terbatas. Tetapi, dengan SGD7 jangan berharap kamar private. Kita akan bergabung dengan sejumlah backpacker lain di sebuah ruang luas dengan maksimal delapan tempat tidur. Mereka menyebutnya dorm atau asrama. Hostel para backpacker banyak ditemui di daerah China Town.

Seorang teman backpacker dari Palembang, Yus Chairil, mengaku ditolak saat akan check in di hostel backpacker. Gara-garanya, dia membawa koper dan bukan ransel. "Saya ditolak check in gara-gara bawa koper dan bukannya tas ransel," ujar Yus, yang saya temui di perjalanan. Yus juga berencana berangkat ke Thailand tetapi melalui rute yang berbeda dengan saya.
Tuan rumah saya, Mark, tinggal di apartemen sederhana di lantai 18. Mark memuji Indonesia sebagai negara kaya. "Singapura banyak mengandalkan uang dari Indonesia yang dilarikan para koruptor," tutur dia.
Isu Singapura sebagai negara tempat pencucian uang memang isu lama. Tahun 2006, ekonom Kepala Morgan Stanley untuk Asia, Andy Xie, mundur setelah beredar email dirinya yang menyebut Singapura sebagai negara yang tergantung uang haram dari Indonesia dan China. Pantas saja Indonesia dipuji sebagai negara orang-orang kaya. Alasan lainnya, sebagaimana dikutip dari straittimes.com, jumlah WNI yang membelanjakan duitnya di Singapura paling tinggi dibanding negara lain, dengan total pengeluaran lebih dari SGD$1 miliar, diikuti China, Australia dan India.

Di Singapura, saya antara lain mengunjungi East Coast Park dengan pantainya, Esplanade Theater Singapore, ikon Singapura yaitu patung Merlion di Merlion Park, serta Singapore Botanic Gardens. Singapore Flyer (semacam komidi putar besar) serupa kapsul yang berputar 360 derajat dan bisa digunakan untuk melihat keindahan kota dari ketinggian, juga menjadi tempat mampir saya. Benar-benar mampir karena saya tak rela melepas SGD30 atau Rp 200.000 untuk tiketnya. Saya harus berpikir seribu kali untuk menghabiskan uang karena perjalanan saya masih panjang. Saya juga mengunjungi Little India dan China Town sekadar untuk beli gantungan kunci.

Saya sangat bersemangat sekali untuk segera packing dan berangkat ke destinasi berikutnya. Hari itu, 11 Oktober, sekitar pukul 22.00 WIB, saya berangkat ke Kuala Lumpur (KL) dari Tanjong Pagar Rail Station dengan menggunakan Kereta Api Senandung Malam No 12. Sebelum berangkat, saya harus menahan geram dengan "keanehan" harga tiket. Kereta sama, jarak sama, tetapi harga tiket berbeda bak bumi dan langit. Bila membeli tiket di KL, maka harga tiketnya 34 ringgit atau Rp 95.000. Tetapi bila membeli tiket dari Singapore (dengan penjual tiket sama-sama petugas Malaysia), maka harganya SGD34 atau Rp 230.000. Sang petugas tak mampu menjelaskan soal ini. Sejak saat itu, saya harus mulai mempersiapkan diri dengan keanehan-keanehan yang mungkin muncul dalam perjalanan berikutnya.[]

Friday, March 6, 2009

It's been a rollercoaster ride

Satu bulan terakhir adalah masa-masa yang berat. Fisik mental seperti diuji banget. It's been a rollercoaster ride. A tough month. Dan ini membawa banyak perubahan besar.

Banjir yang sempat memporakporandakan rumah beberapa waktu lalu membuka awal bagaimana hiruk pikuk hidup itu dimulai. Mulai dari tidur di luar beralas jas hujan beratap terpal, dingin, hingga seminggu penuh mencuci rumah. Ini luar biasa hebat untuk apa yang telah terjadi di keluarga kami. Bagaimana Bapak dan Ibu yang sudah tua harus menghadapi ini. Yeah, kami akan selalu menjaganya. Tetapi kami juga tahu, apapun yang kami lakukan, fisik dan mental mereka tetap saja ngedrop se-ngedropnya.

Rumah sangat dingin. Lantai keramik seperti freezer yang menempel di kaki dan tembok rumah. Ini yang mungkin membuat Bapak tidak kuat. Fisiknya terlalu lemah, sehingga suatu hari kena diare hebat. Beberapa hari berikutnya harus dievakuasi ke rumah sakit karena tidak ada sesuatu pun yang bisa masuk ke mulut.

Rumah sakit belum jawaban, karena meskipun secara fisik sudah ada pasokan ke tubuh bapak, tetapi mentalnya benar-benar tidak ada perbaikan. Di rumah sakit adanya marah terus. Bagaimana aku harus menenangkannya di dini hari saat tiba-tiba ngamuk karena pengen pulang. Valium tak mempan. Aku dan ibu hanya bisa berpandangan tak tahu harus bagaimana kecuali menjaganya untuk tetap berada di tempat tidur rumah sakit.

Bapak pulang paksa. Itu subjudulnya. Kami terpaksa membawa Bapak pulang karena ibu mengaku tak mungkin lagi bisa tahan dengan kondisi bapak yang selalu ngamuk di rumah sakit. Ya sudah, permintaan dipenuhi dengan mengisi form pulang paksa (ternyata ada lho form pulang paksa). Pfffhhh....

Untunglah, di rumah Bapak lebih tenang, dan mau makan dan minum. Obat jalan terus diberikan. Ibu sering berbicara tentang bagaimana kondisi Bapak yang sudah tua. Kami tidak pernah berbicara kematian, tetapi kami sadari bahwa Bapak terlalu tua. Apapun yang terjadi bagi Bapak, kami siap menerima, karena itu yang terbaik pastinya.

Untungnya lagi, aku memiliki ibu yang tangguh. Ibu ? beliau tak kalah tuanya dengan Bapak. Tapi jangan salah, ibu berfisik hebat. Dia juga pintar. Yang istimewa lagi, ibu itu sosok yang telaten terhadap anak dan suaminya.
Suatu hari di rumah sakit, aku sempat belajar satu hal dari ibu. Banyaknya pembezuk membuat makanan di rumah sakit berlimpah. Sangat banyak meskipun sebagian sudah dibawa pulang. Tidak tahu kenapa, suatu saat ibu meminta adikku untuk membawa sebagian makanan itu ke rumah salah seorang temannya yang dulu jadi tetangga kami. Namanya Pak Warsono. Usianya jauh di bawah ibu alias masih lebih muda. Tetapi fisiknya jauh juga di bawah ibu. Kesakitan dan kemiskinan menderanya.

Aku bahkan tak memikirkan hal itu. Karena Pak Warsono ini sudah pindah dari kampung sejak lama. Bahkan dia juga jarang bertemu dengan keluargaku. Dia tinggal bersama isterinya yang sakit juga dan anak perempuannya.

"Bawa ini ke Warsono," itu amanat ibu sambil menyerahkan tas berisi makanan.

Ibu lalu bilang ke aku. Bahwa kami lebih beruntung. Bapak sakit masih bisa dirawat di rumah sakit meskipun di kamar kelas 2. Kami juga beruntung banyak yang membezuk, bahkan beberapa saudara dekat memberi ibu uang. Bagaimana dengan Pak Warsono ? berobat saja tak mampu. Tidak bekerja, isteri juga sakit. Lalu makan apa ? jangan berpikir obat. Berpikirnya adalah makan apa ?

Tidak pernah terbersit bahwa ibu masih memikirkan kesakitan orang lain di saat Bapak sakit dan kami pontang-panting fisik dan hati. Tapi ini membuat aku bangga. Ibuku mungkin tidak lulus SD, tapi hatinya seperti hasil sekolah seumur hidup.

It's been a rollercoaster ride...

Karena dengan sepenuh hati, kami harus menata hati dan pikiran. Ini saatnya untuk keluarga, ini saatnya berpikir kerja, rutinitas hidup lain, cari makan, bayar tagihan listrik, telepon, mengurus pensiun bapak, dan tentu tak boleh lupa berpikir bagaimana mengendorkan sekrup-sekrup di otak dan hati. Ini sama saja bagi aku, adikku, ataupun kakak-kakakku. Mereka harus membagi pikiran sama beratnya. Ibu apalagi.

Tetapi, semua selalu ada hikmahnya. Seorang teman bilang, dia kagum cara kami sekeluarga melewatinya. Bahkan di facebook pun masih bisa berha-ha hihi. Aku, bahkan tak menyadari betapa kami sekeluarga menjadi semakin lebih dekat setelah saat-saat berat yang kami lalui dalam satu bulan terakhir. Ibu membuka mataku, seberat-beratnya hidup kami, kami masih sangat beruntung. Maka bersyukurlah.

regards,

A

Friday, February 13, 2009

Valetine atau tidak Valentine

Mulai bosen nih. Saban menjelang tanggal 14 Februari selalu muncul isu serupa. Bukan soal Valentinenya. Tetapi soal perdebatan valentine itu cocok atau tidak dengan budaya kita, valentine adalah ini, valentine adalah itu.
Lebih heran lagi, mosok anak TK dimobilisasi untuk demo menolak valentine ke SMA-SMA. Dan isu ini selalu dihembuskan setiap tahun, seperti tidak ada isu lebih penting lainnya yang bisa didemo saja. Lagian anak-anak TK, come on ????
Bisa ditebak, setelah tanggal 14 Februari, pasti semua akan balik seperti biasa. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa, sampai kemudian tanggal 13 Februari atau menjelang valentine tahun depannya lagi akan muncul masalah serupa. Bosan, karena tidak progress apapun dari isu semacam ini. Progress lain? iyak, misalnya MUI keluarkan fatwa haram valentine gitu deh. Biar seru, biar bisa dibikin berita yang gak monoton. Hehehehe, nop, just kidding. Bukan usulan bagus itu, cuma merasa bosan aja orang mempersoalkan valentine.
Aku bukan orang yang merayakan dan mengenal valentine. Persoalan pro kontra sangat disadari sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, tapi pleaseeee...pake pendekatan baru deh...., pake argumen baru, pake apalah yang tak berhenti soal budaya. Kalo ngomongin budaya, yang namanya Lea-Wranglers juga bukan punya kita atuh. Lalu apa dong? ya itu hal yang harus dipikirkan oleh orang-orang yang mau kontra.
Kalo aku mah, bukan yang merayakan valentine, bukan penikmat valentine, tapi juga gak nolak dan gak mempersoalkan. Ini salah satu kenyataan besar, saat kita membuka mata, maka dunia bergerak, berkembang, tumbuh, tanpa kita bisa mencegahnya. Aku mencoba menikmati saja semuanya, menjadi bagian masyarakat internasional (mau tidak mau). Membiarkan orang dengan pikiran dan tindakan terbaik maupun terburuk mereka. Asal jangan ganggu aku aja.

Let people with their thoughts, their desires, which do not harm other people...

PS: boleh protes pendapat aku ini kok. :)
regards,

- a -

Sunday, January 25, 2009

Suatu petang di Pramex

Kisah lama, sekitar 2004, yang sengaja di-posting lagi. Hanya sekadar "mengingatkan" diriku pribadi dan mungkin berguna bagi orang lain.

Dari Jogja sekitar pukul 19.00 WIB, aku pulang ke Solo dengan Kereta Pramex terakhir. Saat itu Sabtu, Pramex penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Jogja dan pulang ke Solo. Suasananya biasa saja, seperti layaknya hari-hari biasa, cuma agak lebih padat. Petang itu hujan sedikit demi sedikit luruh dari atas langit. Orang Jawa bilang hujan seperti ini -yang tidak deras dan tidak juga rintik-rintik- dianggap menyebalkan. Pasalnya, hujan kayak gini pasti lebih bisa bikin kepala kita pusing. Nggak tau orang-orang tua kita dapat teori dari mana soal itu. Yang pasti sebagian besar hal itu benar.
Aku duduk di sebelah pintu, berdampingan dengan seorang ibu-ibu usia setengah baya. Di depanku tampak seorang pemuda yang penampilannya seperti mahasiswa (tetapi aku sangsikan hal itu bila melihat tingkahnya), dia dengan nyamannya tidur menyelonjorkan kaki di satu bangku yang sebenarnya bisa untuk bertiga atau minimal berdua. Egois menurutku di saat banyak yang harus berdiri menyeimbangkan badan dengan berpegang pada ring yang tergantung di kereta.
Di tengah rasa kantuk, aku sempat menangkap suatu pembicaraan. Antara kondektur KA dengan seorang penumpang. Samar, tapi nyaris seperti ini kedengarannya.

"Kalau nggak punya uang jangan naik kereta !, gimana? mau bayar tidak ? kalau bayar berarti kena denda, satu lima ribu, kalau tiga lima belas ribu, dendanya satu kali harga tiket, jadi tiga puluh ribu," suara nyaring kondektur.

"Tapi Pak, saya nggak punya uang," jawab seorang laki-laki dengan logat Jawanya yang medhok.

Jawaban itu membangunkan aku, dan aku lihat ternyata semua penumpang di gerbong itu juga melayangkan pandangnya pada pembicaraan tersebut. Aku lihat laki-laki itu, dia menggendong satu anak laki-laki usia sekitar 3 tahunan, dan satu tangannya lagi menggandeng anak laki-laki pula usia 4 tahunan. Pakainya lusuh, dan membawa buntelan kain. Cara berpakaiannya menandakan dia orang dari suatu pondok pesantren tertentu, itu bisa dilihat dari celana panjangnya yang nyaris tiga perempat saja, dan kopiah yang dia kenakan.

Hebatnya, dan ini bikin sesak dada aku (dan mungkin penumpang lainnya), kondektur dengan sigap menyuruh laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, karena dianggap tidak berhak. Sebelum berlalu dari gerbong kami dan melanjutkan pemeriksaan ke gerbong lainnya, satu lontaran sempat dia ucapkan.

"Nanti kalau sampai di Ceper harus turun," tegasnya singkat. Kondektur pergi, semua penumpang hanya mampu melihat laki-laki itu, yang masih menggendong anaknya, sementara satu tangan bergelanyut di ring tempat pegangan, dan anaknya yang satu sekarang merengkuh kaki laki-laki itu untuk berpegangan. Mereka berdiri sekarang, dan kami hanya bisa memandang. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan penumpang lain. Tetapi pikiranku saat itu, aku masih punya uang seratus ribu lebih di kantong. Kalau cuma untuk membayar tiket bagi laki-laki itu dan anaknya, maka lebih dari cukup. Aku berpikir itu sepanjang sisa perjalanan. Bukan perhitungan soal uang yang aku pikirkan. Tetapi bagaimana caranya aku membantu dia tanpa harus dia merasa dikasihani. Perasaan aneh berkecamuk. Kalau bukan aku semoga ada orang lain yang segera bertindak, pikirku kala itu. Sekali lagi bukan persoalan uang bagiku. Tetapi posisi semacam ini sangat-sangat tidak biasa.

Sampai kemudian semua menjadi terlambat. Menjelang Stasiun Klaten, kondektur sudah memberikan aba-aba, menyuruh laki-laki itu segera siap untuk turun. Aku cuma terkesiap, dan mungkin penumpang lainnya. Dan mereka akhirnya benar-benar turun. Aku lihat dari jendela kereta, mereka membelah gelapnya malam dan mungkin berharap ada pertolongan untuk itu.

Hujan masih luruh, tidak begitu derasnya. Tetapi tetap saja menurut orang Jawa itu bisa bikin sakit kepala. Dan aku nggak tahu apakah si Bapak dan dua anaknya tadi sakit kepala juga karena kehujanan. Tetapi aku yakin mereka sakit hati. Sakit hati kepada si kondektur, sakit hati kepada kami semua yang hanya melihat, dan mungkin sakit hati pada hidup mereka....

Aku punya kesempatan menolong, dan aku tidak memanfaatkannya..

Tetapi kalau ada kesempatan kedua, aku akan melakukannya. Tidak hanya sekadar membayar tiket mereka...tetapi juga akan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang berani menolong orang lain.Karena butuh jiwa besar untuk itu...Semoga saja tidak ada yang mengentengkan arti menolong kepada orang lain lagi seperti aku...walaupun untuk hal yang sederhana sekalipun...

regards,

A

Saturday, January 24, 2009

Four days to forever (about Sven)

Jumat, 16 Januari.

Hari itu adalah hari terakhir Sven berada di rumah kami. Sven berencana segera ke Jakarta, tetapi melalui Jogja terlebih dahulu karena memilih kereta ke Jakarta yang berangkat pagi. Semalem sebelumnya, Sven lebih akrab dengan keluarga kami. Hingga jam satu malam, dia masih bercengkrama dengan aku, adik, kakaks, dan ibu. Malam itu Sven mencuci kembali baju-bajunya. Seharian bajunya tidak benar-benar kering, sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Adikku meminta dia untuk kembali mencuci.
Dia mencuci semua bajunya tengah malam itu. Setelah itu mandi (dia mandi sehari sekali sebelum tidur malam). Kemudian kami bercengkrama sekeluarga, makan martabak. Dia sangat suka martabak dan menyebutnya pizza Jawa. Dia kemudian berbagi tentang hal-hal yang personal. Keluarga kami dengan seksama menikmati suasana itu.
Hingga akhirnya satu persatu tidur, dan tinggal aku dan dia berbicara banyak hal. Dia membuka buku hariannya, dan memintaku untuk menikmati skesta-skesta indah di bukunya. Hanya dibuat menggunakan ballpoint, spidol, sampai tinta. Dia bercerita banyak tentang bagaimana dia mendapatkan banyak cinta dari orang-orang yang dia temui selama dalam perjalanan. Dia bilang, suatu saat aku harus ke Switzerland, dan memiliki keberanian untuk melakukan perjalanan lain ke penjuru dunia - bila memang itu yang menjadi keinginanku -

Malam itu, dia tidak mau kopi, karena takut tak bisa tidur.
Paginya, which is the last day, kami berencana untuk melakukan beberapa hal sebelum dia pulang. Tidak ada rencana jalan-jalan. Karena Sven bukan turis, dia adalah pengelana yang berprinsip berbaur dengan penduduk lokal dan berinteraksi dengan mereka sudah merupakan perjalanan indah daripada harus menuju ke pusat-pusat pariwisata.

Kami sarapan (terlalu siang sebenernya untuk disebut begitu) di Pizza Hut. Dia sangat-sangat gembira sekali saat aku pilih makan di sana. Karena dia terlalu banyak makan makanan Jawa. Aku pesan nasi tuna, dan dia pesan pizza medium. Dan sekali lagi, meski di restoran franchise kelas dunia pun dia tidak mau minum dari air di restoran. Dia lebih suka dengan air mineral yang dia bawa.

Kami banyak berbincang saat itu. Seakan mengejar waktu yang hampir habis. Dia, talk active person, sangat suka berbicara. Tapi dia tidak berbicara sampah. Dia banyak bertanya kenapa populasi perempuan lebih banyak daripada laki-laki sehingga kakak-kakakku perempuan susah mencari jodoh (heheheh), dia berbicara kenapa di Indonesia harus menunggu menikah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual, dia merasa aneh dengan banyaknya perempuan berjilbab yang menggunakan celana jeans ketat atau kaos ketat yang menonjolkan buah dada ( It's weird, he said that), dia berbicara tentang sejumlah pengalaman personalnya selama dalam perjalanan keliling dunia itu.

Setelah itu kami berbelanja untuk keperluannya: air mineral botol besar, air mineral botol besar, air mineral botol besar (yap, tiga buah). Dia memilih yang bukan merek keluaran Danone dan satunya lagi lupa. Why? karena perusahaan-perusahaan besar yang dia hindari itu memperkerjakan anak-anak di bawah umur untuk menekan biaya produksi. Oughhh...sampai sebegitunya dia. Ini yang benar-benar membuat aku malu.

Lalu dia menuju ke rak yang memajang cokelat. Dia berbelanja cokelat seperti orang gila. Dan semuanya akan dibawa kerumah untuk keluarga. Ibu mendapat jatah yang paling banyak. Dia sangat sayang sama ibuku. Ibu mendapatkan beberapa Silverqueen, Cadburry, dan Toblerone. Masing-masing tidak satu, tapi minimal dua. Aku mencoba menariknya keluar dari lorong bagian cokelat itu karena tidak mau merepotkan dia. Tapi tidak bisa. Dia menghabiskan Rp 150.000 untuk cokelat-cokelat itu. Dan aku masih belum bisa paham ini sejak dia selalu sibuk mencari Warnet murah tetapi rela membuang Rp 150.000 untuk cokelat bagi keluargaku. Aku, dan kami sekeluarga, menerimanya ini sebagai bentuk cinta dia kepada kami (thanks Sven).

Sampai di rumah, dia menata semua cokelat itu di lemari es. Ditata sedemikian rupa seperti menata hadiah di bawah pohon natal. Dia bergumam menyanyikan lagu natal dan bergumam "Santa Claus is coming to town....lalalala..." Lalu dengan gaya Mr Bean, dia menutup lemari es, dan membukanya kembali dan menjerit..."Woooooww..." seakan terkejut dengan hadiah yang dia siapkan sendiri. Hahahaha. Lalu dia bergaya bak sales cokelat dengan tangan merentang, dan memintaku mengambil foto. He's funny person.

Sore itu aku menemani dia mencari tiket ke KL, Malaysia. Dan kami sangat kesulitan karena beberapa biro perjalanan melakukannya sangat lamban, bahkan hanya untuk sekadar informasi harga. Kami menelepon ke Jakarta. It didnt work. Call center sangat tidak bisa memberikan informasi. Akhirnya kami menyerah. Sven, terus mencoba mencari tiket online. Beberapa kali gagal dilakukan karena MasterCardnya tidak bisa digunakan tanpa tau alasannya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dia berhasil menggunakan MasterCardnya. Finally.

Selanjutnya adalah saat-saat yang tidak begitu menyenangkan. Saat Sven harus meninggalkan keluarga kami. Sven packing hampir setengah jam lebih. Kami sekeluarga memiliki waktu untuk sedikit lagi ngobrol bersama dia. Ibu memberikan Sven selendang motif jumputan. Sven sangat suka sekali menggunakan selendang seperti ini dalam perjalanannya. Dia bilang, itu membuatnya nyaman. Lalu saatnya tiba saat kami harus berpisah dengan anggota keluarga baru kami. Kami sama sekali tidak tahu apakah akan bertemu dia lagi atau tidak.

Sven dalam kalimatnya menyatakan, dia akan menetap sekitar dua bulan di Malaysia, bekerja di sebuah panti asuhan, setelah itu bertemu dengan ibu dan keluarganya yang akan berlibur di Thailand, kemudian ke China dan Tibet (mungkin bekerja di Tibet beberapa saat), sebelum ke Jepang untuk menghadiri pernikahan teman baiknya. Setelah itu dia tahu akan merencanakan kemana lagi.
Dia bercita-cita ingin membangun sekolah bagi warga miskin. Untuk ini, dia mungkin harus kembali ke Switzerland dan setahun bekerja di sana. Kemudian menuju tempat di mana sekolah itu harus didirikan. Kami sekeluarga kagum kepadanya. Oya, dia sempat akan membelikan kakakku tertua mesin jahit baru saat melihat mesin jahit kakakku sudah begitu tua. Kami menolaknya. Kami sudah cukup senang dia hadir di rumah kami dan menyentuh begitu dalam hati kami.

Sebelum pergi, Sven memberikan buah jeruk ke Bapak. "For daddy," dan bapak hanya tersenyum. Bapak memanggilnya "Londo Australia" meskipun dia tidak dari sana.

Lalu Sven berpamitan pada ibuku, dan mencium dengan hangat kedua pipi ibuku. Yaah, aku tahu, ibuk pasti juga merasa "semedhot" istilah Jawa untuk merasa kehilangan yang amat dalam.

"Saya tidak akan menangis. Saya sudah terlalu sering melewati hal seperti ini. Berpisah dengan orang," ujar Sven.

Aku dan adikku mengantarnya ke stasiun. Kami banyak diam. Kami masing-masing tahu, bahwa ini bukan situasi yang menyenangkan. Hanya dalam waktu empat hari dia sudah seperti menjadi anggota keluarga kami bertahun-tahun. Adikku terlihat lesu. Aku paham perasaannya, sejak sehari-hari selama aku kerja, dia yang selalu menemani Sven kemana-mana.

Di stasiun, meskipun tampak tegar di awal, Sven mulai kelihat "semedhot" juga akhirnya. Dia mengajak aku dan adikku ngopi di stasiun. Dia, terlihat sekali mencoba ceria, tapi sebenarnya tidak. Saat Pramex sudah datang, dia enggan beranjak. Aku dan adikku malah yang ribut supaya dia segera naik. Sore itu, penumpang penuh, karena memang weekend. Tapi dia tidak mau. Dia masih mau ngobrol. Ah...aku tak yakin larinya akan sekencang itu menangkap kereta pada detik-detik akhir. Apalagi dengan backpack segede bagong itu. Akhirnya, justru aku dan adikku yang keluar dari kantin di stasiun itu. Ini membuatnya mau tidak mau mengikuti kami.

Aku bilang, dia harus segera masuk mencari tempat duduk. "Nop, masih ada waktu lima menit lagi".

Hey, lima menit dengan risiko dia harus berdiri satu jam di Pramex menuju Jogja ? Aku mencoba memaksanya. Akhirnya dia mengalah. "Okay then.." Dia memelukku sebagai tanda pamitan dan berterimakasih atas apa yang diberikan keluarga kami. Lalu dia memeluk adikku dan mencium kedua pipinya. Pfffhhh....ini saat-saat yang tidak menyenangkan.

Perpisahan memang selalu menyedihkan. Tapi kami tahu dengan pasti, kalau memang tidak ada lagi kesempatan dia untuk kembali ke keluarga kami suatu saat, dia tetap sudah ada di hati keluarga kami. So long, Sven...

--A--

Saturday, January 17, 2009

Akan terjadi saat kita benar-benar menginginkannya (about Sven--part 3)

Saat menginap di rumahku, Sven suka sekali berdiskusi banyak hal. Rencana menikmati dvd selalu saja batal. Film terbaru Keanu Reeves dan Forest Whitaker - Street King- hanya diselesaikannya satu disk. Hancock dinikmatinya sambil berdiskusi. Lalu, Spanglish-nya Adam Sandler pun bernasib sama. Tergeletak di atas dvd player.

Sven, dia takut dengan pemotong kuku dan nyamuk. Pemotong kuku, menurutnya, ketakutan karena persoalan psikologis dia saja. Nyamuk? dia sangat takut dengan malaria dan demam berdarah.

Kami biasa ngobrol sampai jam 3 atau setengah 4 pagi. Kami berbicara apa saja. Soal kesukaannya menggambar, soal kenakalan dia memalsu tiket gratis angkutan umum bagi para tentara di negaranya. Dia adalah sign maker. Kalau di indonesia, kita bisa menyebutnya tukang bikin reklame luar ruang. Semacam neon box dan sejenisnya. Dia memiliki jiwa seni tinggi. Oya, dia benci tentara. Di negaranya, dia pernah masuk ke akademi militer selama dua pekan. Ini karena dia memiliki kemampuan bagus di lari, halang rintang, berenang, dan kegiatan atletik lainnya. Dua pekan di akademi militer membuatnya berkesimpulan :

"Army is stupid."

Bagaimana mungkin orang bisa diperintah dan menurut begitu saja. Sebagian besar yang berada di sana adalah orang-orang bodoh. Itu alasan dia. Mereka seperti tak punya hidupnya sendiri.

Suatu saat kami berbincang tentang keinginan dan mimpi-mimpi. Dia bercerita tentang sebuah peristiwa yang mungkin bisa diambil pelajaran. Dalam perjalanan bersepedanya, dia berada di sebuah hutan. Dia melakukan perjalanan itu dengan seorang traveler lainnya. Dengan suhu udara yang dingin, sang teman mengusulkan untuk membeli sebuah selimut yang bagus dan mampu menahan dingin. Tapi Sven menolak. Dia masih berpikir bahwa mereka akan bisa bertahan tanpa harus membeli selimut baru.
Lalu mereka diterkam kedinginan dengan bayang-bayang selimut hangat di kepalanya. Semua berakhir saat mereka menemukan sebuah selimut.

"Itu bahkan bukan selimut bau. Itu sangat wangi, bersih, dan hangat. Kami menemukannya begitu saja," tuturnya.

Bila kita benar-benar menginginkan sesuatu, maka itu akan terjadi. Kita hanya harus fokus dengan apa yang menjadi keinginan kita. Tuhan menyediakan banyak hal bagi kita dan keinginan-keinginan kita.

regards,

---A---

Ketakutan hanya ada di kepala (about Sven-part2)

Sven, dia dengan cepat membaur dengan keluargaku. Terutama dengan Danik. Dengan ibuku, dia selalu menggunakan bahasa Tarzan, dengan ditambahi gerak tubuh dan tangan yang lucu. Sven adalah sosok yang loveable. Keluargaku seketika langsung jatuh cinta. Dia sopan, dia selalu bertanya tentang do dan dont dalam kultur di rumah, dan Jawa pada umumnya.

Dia tidur di depan tv di ruang tengah. Saat aku kerja, dia selalu ditemani adikku. Tentang makanan, dia tidak rewel. Dia makan cabuk rambak, nasi liwet, karak, bakmi, cap cay, martabak, nasi, apapun itu. Dia hanya rewel soal air minum sejak pengalaman di Surabaya saat minum di warung dia kena diare hebat.

Kami sempat makan di food court Solo Grand Mall. Rencananya akan bertemu Dini dan Utik. Sayangnya, Dini tidak bisa datang, dan hanya dengan Utik kami makan siang. Sven, dia memesan jus, tetapi air putihnya harus dari botol mineral yang dia bawa. Lalu kami ngobrol ke sana kemari, terutama soal kesukaannya tentang football dan tentang perjalanan daratnya dengan sepeda saat berada di Yunani, dan sejumlah negara lainnya.

"Ketakutan hanya ada di kepala kita. Kamu tidak akan melakukan apa-apa selama kamu berkutat dengan ketakutan-ketakutan di kepalamu," ujar pemuda 28 tahun itu.

Dia menuturkan itu saat kami berbicara tentang seberapa berbahaya sebuah perjalanan yang dia lakukan. Tentang keinginanku melakukan hal serupa tetapi selalu ada ketakutan-ketakutan yang muncul di benakku.

"Karena, ketakutan-ketakutan itu mungkin hanya ada di kepala, dan kamu hanya perlu melakukan saja, dan tidak akan terjadi apa-apa. Okay, mungkin bisa saja terjadi sesuatu yang buruk dengan apa yang kita rencanakan. Just do it, dan itu tidak akan terjadi apa-apa. Selama aku melakukan perjalanan, semua baik-baik saja," tegasnya.

Sven melakukan perjalanan keliling dunianya sejak Juni 2007. Dari Switzerland menuju Yunani dengan bersepeda. Swedia, Norwegia, Findlandia, Jerman, Belanda, Italia, Portugal, Austria, Slovenia, Croatia, Montenegro, Albania, Australia, New Zealand, Jepang, Spanyol, Irlandia, dan sekarang di Indonesia. Dan selama perjalanannya itu, yang ditemukan adalah banyak cinta. Tidak pernah merasakan hal-hal buruk yang dia takutkan.

Keinginan dan mimpi-mimpi kita memang kerap terbelenggu oleh ketakutan kita sendiri. Hanya berhenti di kepala dan hati. Tidak pernah jadi kenyataan. Sven mungkin banyak benarnya, ini hanya persoalan di benak kita saja. Atau mungkin karena memang kita adalah seorang yang benar-benar penakut.

regards,

---A---

Tuhan adalah energi (about Sven---part 1)

Keluarga kami mendapatkan "anggota" baru sepekan terakhir. Dia adalah Sven Dominic Huber, dari Rapperswil-Jona, St Gallen, Switzerland. Aku mengenalnya sekitar bulan Agustus 2008, saat baru saja bergabung dengan hospitalityclub, situs para traveler dan backpacker.

Dia berencana datang ke Indonesia dari Australia pada Januari. Dia membutuhkan host (istilah untuk tuan rumah) di Indonesia, dan bisa jadi di Solo. Setelah itu kami banyak berkomunikasi tentang rencana perjalanannya di Indonesia.
Karena kebetulan aku member baru di hospitalityclub, aku mencoba untuk memberikan kesempatan bagi dia untuk mampir ke Solo. Pengen membuktikan saja bagaimana nikmatnya jaring pertemanan antar-traveler ini. Sebenernya, Sven bukanlah guest pertama. Sebelumnya, ada Andreas Stiller dari Jerman yang sempat ke Solo dan membutuhkan host. Tetapi memang, secara teknis, waktu itu aku belum menjadi host sepenuhnya. Karena Andreas tidak menginap di rumahku, dan tidak ada waktu untuk menemani dia mengeksplore Kota Solo. Dan, waktu dia pun sempit, dan harus segera meninggalkan Solo menuju Jogja.

Jadi Sven adalah guest pertama. Akhirnya bener-bener menjadi host.

Sven, dalam pesannya pada 5 Januari sudah menyatakan tidak bisa datang ke Solo karena waktunya sempit untuk mengurus perjalanan berikutnya ke Malaysia. Aku pun sudah menyatakan maklum. Tetapi beberapa hari kemudian, Sven mengirim sms bahwa dia akan ke Solo pada tanggal Senin 12 Januari dan pulang Selasa. Lalu dengan berbagai acara di kantor, akhirnya disepakati bahwa dia akan datang Selasa dan pulang Rabu.

Selasa, 13 Januari, 10.00 WIB, Sven tiba di Stasiun Balapan dari Jogja. Aku agak terlambat menjemputnya. Dia bukan seperti bule yang tinggi besar. Dia bahkan tak lebih tinggi dari aku. Dengan backpack setinggi lebih dari setengah meter, dia bahkan terlihat mungil. Kesan pertama, dia orang yang sangat sopan.

Lalu kami menuju homestay di Kauman. Mama HOmestay. Dia agak terlihat tidak suka dengan keputusan ini. Karena dia berpikir aku akan membawanya ke rumah. Lalu kami terlibat pembicaraan serius soal ini. Aku kemukakan segala kemungkinan yang akan dia hadapi bila dia tinggal di rumahku. Mulai dari toilet jongkok hingga kran yang rusak. Dari berisiknya rumah karena kami keluarga besar, hingga harus tidur di depan tv.

"I dont mind. I dont mind. I dont mind," dia menegaskan berulang-ulang. Dia bahkan tak peduli sekalipun harus tidur dengan kecoak. Aku akhirnya mengalah. Uang Rp 40.000 yang aku bayarkan untuk homestay akhirnya hilang, belum sampai dia menginap di sana.

Hari pertama itu kami Keraton Kasunanan Surakarta sebelum mengangkut barang-barangnya ke rumahku. Sven, dia bukan turis. Dia adalah pengelana. Dengan tegas dia menyatakan membenci Bali. Saat dia di Bali, dia bahkan tak mau merayakan Tahun Baru di pulau itu dan memilih melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Saat aku menanyakan, apakah mau foto ? dia menegaskan tidak. Dia tidak ingin mengambil foto di Keraton. Tidak satu foto pun. Dia bilang, foto di keraton bisa dia cari di google. Aku cuman diem. Ngalah. Dia sepertinya tidak tertarik dengan segala barang-barang peninggalan keraton. Dia hanya bertanya hal-hal standar. Dia bahkan lebih suka nyerocos soal dirinya, pikirannya, dan kehidupannya. Kami membahas mulai Bruce Springsteen hingga ketidaksukaannya merayakan natal.

"I believe in reincarnation," ujarnya membuka awal percakapan soal spiritualitas.

Dia bercerita, keluarganya merayakan Natal dengan makan bersama. Lengkap dengan good food. Tapi keluarganya tidak ke gereja. Mungkin bahasa lainnya adalah, keluarganya hanya menikmati Natal sebagai kultur saja. Dia ? dia lebih suka untuk pergi bersama temen-temennya dan melewatkan Natal. Saat aku bertanya apakah dia percaya Tuhan ? Dia menjawab dia percaya. Tuhan tak berbentuk, Tuhan hanya ada. Tuhan adalah energi. Itu menurutnya. Lalu dia menceritakan tentang ketertarikannya terhadap Budha. Meskipun dia menyatakan dia bukan penganut Budha.

Sven, aku melihatnya sebagai sosok yang religius bahkan saat dia tidak bisa menyebutkan apa agamanya.

Kami lalu pulang ke Mama Homestay, dan mengambil barang-barangnya untuk menuju ke rumahku.


regards
---A---

Prolog

Cukup lama sampai akhirnya punya waktu ngisi lagi blog. Ini tulisan pertama di 2009. Banyak hal terjadi hanya dalam waktu kurang lebih setengah bulan.

Awal tahun terlalu banyak rencana, tapi akhirnya tidak ada yang terlaksana. Yup, terasa aneh .Khususnya saat hujan di pergantian tahun. Tidak gerimis, tapi deras sampai hampir tengah malam. Sekitar jam 22.00 WIB, baru reda. Itupun setelah aku memutuskan untuk lebih baik berada di rumah, menikmati televisi dan beberapa dvd yang sudah disiapkan.

Sven Dominic Huber, dari hospitalityclub mengirim pesan, kemungkinan besar dia tidak bisa berada di Solo untuk pergantian tahun. Dia masih di Surabaya, kemungkinan akan ke Bromo bersama beberapa temen dari Jakarta. Sebelumnya, Fida cs Jakarta dari couchsurfing mengirimkan pesan tentang rencananya datang ke Solo untuk berkuliner. Tetapi belum tahu jelas kedatangannya kapan. Lalu, Edy temen SMA juga berencana mengajak lek-lek'an bakar jagung. Tetapi sampai menit terakhir, susah untuk menghubungi teman-teman lain.

Sampai kemudian hujan deras itu. Tapi ternyata, bertahun baru di rumah tidaklah terlalu menyebalkan. Tapi tidak untuk merenung. Bohong kalau kemudian aku menulis, malam tahun baru aku merenung, memikirkan tahun sebelumnya untuk kemudian menghasilkan resolusi. Tidak ada seperti itu. Seingatku, aku nonton acara musik di tv. Tidak dan tanpa resolusi karena semua akan baik-baik saja.

regards,

A

Monday, December 22, 2008

Rumah murah


Beberapa teman, tetangga, hingga orang-orang yang tahu aku ambil kredit rumah bertanya, bagaimana cara ambil kredit rumah murah? mulai dari prosedur hingga syarat-syarat. Aku ingin berbagi tentang pengalamanku ambil rumah murah, dengan kredit melalui KPR BTN. Bagi yang kantongnya cekak, ini sangat-sangat membantu sekali untuk bisa mendapatkan rumah "idaman".

Faktanya, kebutuhan akan perumahan murah saat ini masih cukup tinggi. Tetapi penyaluran kredit, dalam hal ini KPR, masih sangat rendah. Banyak faktor menurutku. Pertama, memang sosialisasi dari bank cukup minim. Selain itu, banyak orang yang ngeper duluan kalo mau berurusan dengan bank. Ini terkait dengan akses perbankan masyarakat yang memang rendah. Banyaknya "kertas" yang harus diurus sudah terbayang di depan mata. Belum lagi bila kita hanya berwiraswata, apakah bisa tembus ke bank?. Sebenarnya, mungkin tak sesulit itu.
Dalam kasusku, yang seorang pegawai perusahaan swasta, aku cukup mendapatkan kemudahan, baik dari pihak pengembang maupun bank (BTN). Entah, apakah memang prosedurnya semudah ini. Tetapi ini patut menjadi masukan bagi yang ingin mengambil kredit rumah murah. Rumah yang aku ambil adalah tipe 21, dengan luas 64 meter persegi. Model rumah tipe 21, tak lagi kotak kayak kardus seperti keluaran Perumnas. Kebetulan, bapakku pernah memiliki rumah murah keluaran Perumnas tahun 1980. Harga rumah tipe 21 sekarang berkisar antara Rp 40 juta sampai Rp 55 juta. Belum termasuk dipotong subsidi pemerintah.

Rumah tipe 21 dari pengembang swasta sekarang ini sudah gaya. Tidak jarang pakai pilar, dengan model minimalis, atau bahkan genteng warna. Tak lagi konvensional. Yang membedakan dengan rumah tipe besar adalah luas tanah dan bangunan saja. Sedikit polesan, rumah tipe 21 ini sudah bisa gaya.
Lalu bagaimana cara "memperolehnya" ? Ini tips bagi yang ingin mengambil kredit rumah murah:
1. Lakukan survei ke sejumlah pengembang (developer). Bertanya tak ada salahnya. Lihat brosur mereka, bandingkan satu sama lain (dalam hal ini soal harga dan prosedur). Tetapi yang lebih penting lagi adalah soal bagaimana track record pengembangnya. Dalam banyak kasus, pengembang nakal dan melarikan booking fee (uang panjer tanda keseriusan/di luar uang muka). Sejumlah kasus sudah menjebloskan pengembang ke penjara. Bila perlu, anda tanya ke orang-orang yang pernah mengambil rumah atau berurusan dengan pengembang yang akan anda tuju. Pengalamanku, aku sampai harus bertanya ke tetangga dari si pengembang bagaimana track record-nya. Jangan malu, daripada menyesal seperti temanku yang Rp 1,5 juta -nya amblas dibawa kabur.
2. Bandingkan soal harga antara satu pengembang dengan pengembang lainnya. Biasanya, kita akan diminta membayar booking fee, untuk tipe 21 biasanya Rp 2 juta, kemudian uang muka yang jumlahnya bervariasi, minimal Rp 3,5 juta (seperti yang aku ambil). Harus minta penjelasan ke pengembang. Karena nanti dalam prosesnya, anda akan diminta uang lagi. Antara lain proses di bank Rp 2 juta, dan tetek bengek lainnya. Jadi kalo di brosur ada tulisan hanya dengan uang muka Rp 3,5 juta misalnya, itu belum dengan biaya-biaya lainnya. Sebagai contoh, untuk rumah yang aku ambil, total harus keluar Rp 7,5 juta untuk booking fee+uang muka+administrasi bank. Cicilan Rp 379.000 per bulan, selama 15 tahun.
Nah, untuk perhitungan ini, antara anda dan orang lain bisa jadi jatuhnya berbeda. Sebagai contoh, rumahku dengan rumah tetanggaku dengan tipe sama, tetanggaku hanya bayar cicilan gak sampai Rp 250.000 per bulan. Kenapa bisa begitu? ini karena pengaruh berapa besar subsidi yang diberikan kepada kita. Pemerintah kalau tidak salah memberikan subsidi antara Rp 8 juta sampai Rp 11 juta. Ini akan dilihat dari besarnya gaji kita. Semakin besar gaji, semakin sedikit subsidi. Beberapa orang mengakali ini dengan membuat slip gaji dengan batas minimal yang dikehendaki bank. Harapannya tentu mendapatkan subsidi tinggi. Aku tidak mengajari itu, karena bisa jadi ketika slip direkayasa menjadi lebih kecil nominal gajinya, malah gagal di approved gara-gara dianggap tak memiliki daya bayar yang cukup. Iya kan? Maka, lebih baik apa adanya. Kalau memang orang lain mendapat angsuran lebih rendah, itu rejeki mereka. Kita mendapatkan rejeki di tempat lain.
3. Bila sudah benar-benar paham akan perhitungan harga dan prosedurnya, tinggal menyiapkan berkas-berkasnya. Kita akan diminta untuk melampirkan surat keterangan dari kantor, slip gaji, ktp, pas foto, kartu keluarga, surat keterangan domisili, mengisi blanko dan lain sebagainya. Tidak terlalu repot bila memang kita sedikit memberi waktu luang. Untuk PNS akan lebih mudah prosesnya. Pegawai swasta akan disurvei via telepon, sedangkan wiraswasta akan disurvei ke rumah.
4. Setelah berkas selesai, tinggal menunggu wawancara dari pihak bank. Ini akan dijadwalkan oleh pengembang dengan pihak bank. Pihak pengembang yang akan menghubungi kita, kapan kita harus wawancara. Biasanya proses dari berkas masuk sampai wawancara antara 2 minggu sampai satu bulan. Jangan takut soal wawancara, karena ini hanya akan ditanya soal pekerjaan anda, penghasilan anda, budget untuk kebutuhan anda sehari-sehari, dan teknis administrasi lainnya. Ini untuk mengetahui sejauh mana daya bayar anda.
5. Setelah itu, minimal 2 minggu kemudian kita akan mendapatkan hasilnya, apakah pihak bank akan menyetujui pengajuan kredit kita atau tidak. Bila anda punya waktu, anda bisa menelpon pihak pengembang atau bank menanyakan status pengajuan kredit anda. Karena kadang-kadang bank tidak segera memberitahukan ke kita. Atau kadang sudah diberitahukan hasilnya ke pihak pengembang, tetapi belum diinformasikan ke kita.
6. Apabila disetujui, maka proses selanjutnya adalah menunggu panggilan akad kredit atau penandatanganan berkas-berkas kredit kita. Kita akan mendapatkan penjelasan dari pihak notaris, bank, kemudian diberi fotokopi sertifikat rumah kita. Setelah itu, kita akan segera menerima kunci rumah kita.
Secara garis besar, begitulah prosesnya. Tidak lama sebenarnya. Praktis hanya butuh maksimal 2 bulan sebenarnya. Nah, sekadar untuk masukan, dalam masa 3 bulan setelah kita terima kunci rumah, kita masih memiliki garansi. Cek benar-benar rumah anda, bila ada kerusakan, segera beritahukan ke pengembang untuk diperbaiki.
Oiya, sebelum lupa. Anda juga harus menanyakan soal listrik. Ini penting, karena dalam banyak kasus, ternyata listrik baru bisa berfungsi sembilan bulan sejak kita terima kunci. Bahkan ada yang sampai satu tahun lebih listrik belum mengalir. Dalam kasusku, sekitar 2 bulanan sejak terima kunci listrik baru masuk. Itu juga karena para pemilik rumah selalu proaktif tanya ke pengembang. Jadi lucu kalau kemudian anda punya rumah tapi tanpa listrik.
Okay, selamat berburu rumah murah...
regards,
A
*foto rumah diambil dari www.btn.co.id