Thursday, September 22, 2016

Serunya Menyeberang Perbatasan Antarnegara (Crossing Borders)

Pengalaman melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat bagi saya adalah pengalaman yang rasanya ngeri-ngeri sedap.
                                                                                      foto: sanfelipe.com.mx

Ngeri karena saya selalu waswas akan mendapatkan persoalan, sedap karena memang biasanya di perbatasan antarnegara ini akan muncul pengalaman seru. Lebih seru lagi karena biasanya backpacking dengan melintas suatu negara melalui jalur darat akan banyak temennya dari negara-negara lain.

Berikut beberapa pengalaman saya melintas perbatasan dua negara melalui jalur darat. Semoga pengalaman yang sedikit ini bisa memberikan gambaran bagi Anda yang pengen mencoba keseruan traveling melalui jalur darat (overland). Ini hanya sekadar sharing pengalaman gambaran lintas perbatasan, karena banyak hal yang sudah berubah sekarang ini, termasuk lokasi yang pindah. Anda pasti akan memiliki cerita sendiri bila ingin mencobanya. 
  • Perbatasan Singapura - Malaysia: melintasi perbatasan Singapura - Malaysia adalah pengalaman pertama saya lintas batas negara. Itu juga saya lakukan saat saya ke luar negeri pertama kali, yaitu di tahun 2009. Waktu itu tidak terlintas ketakutan sama sekali, karena lebih banyak rasa penasaran dan senengnya mengingat baru pertama kali menginjak negeri orang. Saya menggunakan transportasi kereta, yaitu KA Senandung Malam No 12, yaitu dari Stasiun Kereta Api Tanjong Pagar Singapura yang berada di Keppel Road (sejak 1 Juli 2011 berhenti beroperasi dan pindah ke Stasiun Kereta Woodlands) - menuju ke KL Sentral Train Station, Kuala Lumpur. Dengan percaya diri beli tiket kereta secara go show. Harga tiket waktu itu 34 SGD (kurang lebih Rp 230.000,- kurs saat itu), sementara kalau dari Malaysia - Singapura pake kurs ringgit yang jatuhnya cuma seratus ribuan. Di Tanjong Pagar ini ada petugas imigrasi dari Malaysia, serta ada juga petugas imigrasi Singapura. Saat kita akan naik ke gerbong kereta, bawaan kita akan dicek...backpack saya dibuka, dikeluarin semua isinya...duuuh padahal susah packing-nya, lalu dicek satu-satu barang apa yang kita bawa, setelah dirasa beres dan nggak ada yang mencurigakan diserahkan kembali ke kita. Maka akan tampaklah pemandangan para calon penumpang melipat baju dan menata satu-satu untuk dimasukkan ke dalam koper atau backpack. Sudah seperti penjual baju di pasar malam menggelar lapak dagangan. Petugas imigrasi di titik ini tidak akan menyetempel paspor kita, tetapi hanya memberikan tanda bahwa kita masuk ke Malaysia menggunakan kereta api. Terus pemeriksaannya di mana? Kereta akan membawa kita ke Woodlands Train Checkpoint. Nah di sinilah penumpang akan keluar dari kereta, mengantri untuk distempel imigrasi Singapura dan secara sah kita keluar dari Singapura. Secara umum, melintasi perbatasan Singapura - Malaysia melalui jalur darat sangat muda bagi saya. Tidak ada pengalaman serem sama sekali. Cuma pas packing pengecekan barang bawaan sebelum masuk ke kereta aja yang bikin deg-deg seerrrr saking banyaknya antrean dan terus liat jam karena kereta akan segera berangkat. Karena saya nggak bawa barang-barang aneh, ya lancar saja.
  • Perbatasan Thailand - Myanmar: Dua kali saya melintasi perbatasan Thailand - Myanmar yaitu tahun 2009 dan 2011, tepatnya di ujung utara Thailand atau di ujung selatan Myanmar. Border town -nya untuk sisi Thailand adalah Mae Sai, kota kecil yang berada di Provinsi Chiang Rai (paling utara), sementara sisi Myanmar adalah Tachileik, keduanya dibatasi oleh sungai. Yang serem di sini sebenarnya bukan di pemeriksaan imigrasinya, tetapi lebih pada pemeriksaan tentara di daerah Thailand sebelum memasuki kota perbatasan. Dua kali distop pemeriksaan tentara dengan senjata lengkap yang masuk ke dalam bus-bus yang menuju kota perbatasan. Gayanya songong dan diserem-seremin (emang serem sih hehehe). Tetapi kalau kita pegang paspor, aman kok. Pengalaman ini pernah saya tulis di buku The Naked Traveler Anthology-nya Trinity yang seri pertama. Pemeriksaan memang dilakukan untuk merazia imigran gelap dari Myanmar. Bagi sebagian warga Myanmar, menyeberang ke Thailand adalah bagian dari "Thailand Dream" untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Kalau sudah sampai di kota perbatasannya sih aman saja. Nah, begitu sampai di kota perbatasan Mae Sai, kita masuk ke pemeriksaan imigrasi di Thailand, lalu tinggal nyeberang aja jembatan dengan jalan kaki, lalu akan tampak gapura warna biru (entah kalau sekarang sudah dicat warna lain). Di sana akan semacam pos ronda kecil yang ternyata adalah itulah pos imigrasi di mana paspor kita akan dicap dan ditinggal. Lha kok ditinggal? ini juga sempat membuat saya khawatir, karena kalau jalan ke luar negeri saya paling ogah berpisa sama paspor. Tetapi setelah diberi penjelasan, akhirnya saya mengerti. Di perbatasan ini mereka hanya akan memberikan waktu sehari hingga 14 hari, dengan syarat paspor ditinggal di imigrasi. Beuuh...serem kali kalau harus berpisah dengan paspor 14 hari. Lagian mau ngapain di Tachileik 14 hari. Saya memilih seharian aja jalan-jalan di sini. Sebelum kemudian keluar lagi di sisi lain pos imigrasi, lalu mengambil paspor kita yang sudah distempel Myanmar lalu masuk ke pos di mana ada imigrasi Thailand untuk stempel masuk ke Thailand. Proses di imigrasi sangat mudah dan cepat dan serem karena berhadapan dengan tentara bersenjata lengkap. Di sini, mata uang Baht maupun Kyat Myanmar dua-duanya dihargai, jadi bisa digunakan dua-duanya. Perbatasan ini juga paling populer sebagai lokasi untuk memperpanjang izin tinggal atau bisa disebut Visa Run. Artinya, misalnya nih saya kan WNI, mendapatkan izin tinggal gratis selama 30 hari di Thailand, nah di hari terakhir saya tinggal menyeberang saja ke Myanmar, mau sejam dua jam nggak masalah, lalu kembali ke Thailand...nah saya akan mendapatkan izin tinggal baru lagi selama 30 hari berikutnya. Begitu.
  • Perbatasan Vietnam - Kamboja : Kota perbatasan untuk sisi Vietnam adalah Moc Bai, sementara untuk sisi Kamboja adalah Bavet. Saya menyeberangi perbatasan ini dari Moc Bai menuju Bavet dengan menggunakan bus yang membawa saya dari Ho Chi Minh. Ini adalah perbatasan yang paling populer untuk lintas Vietnam - Kamboja, meskipun ada dua perbatasan lain yang bisa dilalui menggunakan jalur darat dan jalur sungai. Tetapi perbatasan Moc Bai - Bavet inilah yang digunakan bus-bus utama penghubung Vietnam-Kamboja. Moc Bai berada di Provinsi Tay Ninh, sementara Bavet berada di Provinsi Svay Rieng. Tetapi sebenarnya, identifikasi kota-kota perbatasan ini tidak terlalu berguna karena kita bahkan tidak menyadari kita sedang berada di mana. Semua sudah diurus oleh operator bus, kita duduk manis, nyerahin paspor, turun di gedung perbatasan, lalu dapat stempel in - out Vietnam dan Kamboja...lalu taraaaaa....kita sudah sampai di Kamboja. Kebanyakan pelintas batas di sini adalah warga Vietnam dan Kamboja, bolak-balik. Kalau turis emang banyak juga, tetapi tidak terlihat antrean sebanyak warga lokal mengingat semua sudah diurus operator bus. Bagi saya ini sedikit menguntungkan karena tidak ada masalah, tetapi di sisi lain kurang seru juga, ibarat cerita...kurang unsur dramanya wakakakaka. Oya, di sini masih bisa sih pakai mata uang Vietnam Dong, tetapi karena sudah saya habisin pas di Ho Chi Minh dan hanya sisa dua lembar untuk koleksi, akhirnya dengan rela hati saya kencing di toilet imigrasi dengan bayar pakai US$ 1. Iyak benar sodaraaa...kencing seharga Rp 13.000 !! Hahahaha...welcome to America  Cambodia !!
  • Perbatasan Kamboja - Thailand : Bagi saya perjalanan lintas negara paling seru dan sedikit melelahkan adalah saat melintas batas Kamboja - Thailand. Saya berangkat dari Siem Reap dengan menggunakan bus yang tiketnya saya beli seharga US$15. Ingat, harga itu akan membawa saya sampai ke Bangkok. Jarak antara Siem Reap ke kota perbatasan Kamboja - Thailand yaitu Poipet adalah 152 km atau kalau perjalanan darat sekitar 3 jam. Opsi dari Siem Reap ke Poipet adalah menggunakan taksi, tapi mehong booo...US$25 !! Bisa langsung jatuh miskin kan...pulang ke Indonesia ngesot. Awalnya saya akan mengambil opsi naik bus atau apapun ke Poipet lalu nyebrang perbatasan - naik kereta api dari Aranyaprathet (kota perbatasan di sisi Thailand) ke Bangkok. Tetapi kemudian batal, karena hanya ada kereta pukul 06 pagi dan jam 2 siang, yang pagi nggak mungkin kekejar, sementara jam 2 siang nunggunya lama dan menghabiskan waktu. Padahal harga tiketnya murah hanya 48 Baht atau sekitar US$ 1.6 saja! seru kan kalau bisa kereta-keretaan. Opsi bus akhirnya saya ambil, berangkat dari Siem Reap dini hari, subuh sudah sampai di Poipet. Suasana masih gelap...dengan wajah-wajah bantal mayoritas bule di bus saya. Oya, bus yang saya tumpangi ini adalah bus tua tapi cukup nyaman dan pakai AC. Untuk perjalanan 3 jam dari Siem Reap ke Poipet cukuplah. Bus ini menjemput saya di depan lokasi agen travel penjual tiketnya di Siem Reap. Nah, di dalam bus sebelum sampai ke perbatasan, kita akan diberi sticker bulat...punya saya merah. Di tempel di dada, ada juga yang ditempel di pundak, lengan...terserah. Setelah itu kita dilepas bus begitu saja di Poipet...tidak dikasih tahu apapun, pokoknya turun aja...lhaaa ??? Iya akhirnya saya ngikut arus aja bule-bule bertas punggung segede bagong yang sama bingungnya dengan saya. Demi melihat loket antrean imigrasi (yang letaknya kecil nyempil di pojokan gate), kami pun ikut ngantre. Antrean panjang beberapa baris. Petugas imigrasinya tua-tua, beberapa agak lama, beberapa cukup cepat. Di sini yang agak lama di antre sih, tapi giliran pemeriksaan paspor ya cukup cepat. Nggak ditanya macem-macem. Lepas dari sini, langsung lurus aja menuju ke gedung imigrasi Thailand yang jaraknya sekitar 200 meteran dari loket imigrasi Kamboja. Jangan lupa, sebelum masuk ke dalam gedungnya nanti akan ada petugas dengan meja kecil dan tumpukan kertas di jalan menuju ke pintu gedung imigrasi, nah...mintalah kertas itu, itu adalah kartu kedatangan imigrasi Thailand. Saya sempet terlewat ini, karena tidak menyadari. Muter balik deh...ambil kartu. Setelah masuk ke gedung imigrasi...taraaaaa...bersiaplah menyanyi..."ulaar naga panjangnya...bukan kepalaang...menjalar-jalar selalu kian kemariiii..duduudu..." Iya antrean panjang, satu line saja tetapi mengular belak-belok...nah di bagian paling depan baru dipecah ke beberapa loket petugas imigrasi. Saya mengantre satu jam lebih di sini, berbaur dengan turis asing dan warga lokal. Di sinilah banyak drama terjadi. Yang saya tahu, beberapa orang Kamboja terpaksa mental ditolak masuk. Yang dicurigai bermasalah langsung digiring ke pojokan atau meja khusus. Wajah-wajah pucat, wajah-wajah sedih, petugas imigrasi membentak-bentak, terlihat di depan mata. Serem juga...sambil membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya. Saya dibuat sebel dengan seorang pemuda tengil (sepertinya warga Kamboja) yang dari bagian paling belakang melipir ke depan pelan-pelan memotong antrean. Banyak yang tidak menyadari ini, tetapi saya amati sejak awal kedatangan. Sikapnya mencurigakan dan tampak resah. Dan nggak tau dari mana, tiba-tiba saja dia sudah di depan lho!! sial !!  Pas giliran dia diperiksa di loket imigrasi, agak lama, ditanya macam-macam, sampai kemudian dia digiring ke ruang khusus...wakakakak...sebelum kemudian saya lihat dengan wajah kecewa dia balik ke arah pintu masuk alias balik ke sisi Kamboja. Ditolak masuk !!  Selain si penerobos antrean tadi, saya lihat turis asing lancar-lancar saja yang membuat saya lega. Sampai ada dua turis asing (pasangan) yang berada sekitar tiga antrean di depan maju ke loket. Yang cewek maju ke loket A, yang cowok maju ke loket B. Yang cewek kelar lebih dulu, sambil menunggu di belakang loket (entry gate Thailand), yang cowok masih diperiksa paspornya...sampai kemudian...taraaaaa...petugas imigrasi yang menghadapi si cowok menolak paspor yang disodorkan. Kenapa ? Karena paspor si cowok ternyata fotonya adalah cewek wakakakakak...jadi mereka salah pegang, si cewek pegang paspor si cowok, si cowok pegang paspor si cewek. Lha kok si cewek lolos? Ya karena petugas satunya memeriksa sambil merem! Hahaha. Tetapi menurut saya kasus itu nggak akan panjang, meskipun mereka digiring masuk ke meja interogasi, karena keduanya datang bersama sebagai pasangan dari negara yang sama. Lha iya, wong pacaran. Saya dan dua orang bule dari Australia sempat ngobrolin tentang ini. Terus bagaimana nasib saya? Untung saja saya lancar jayaaaa...langsung aja main stempel. Nah, karena memang masuk melalui jalur darat, saya tidak mendapatkan izin tinggal 30 hari, tetapi hanya dua minggu saja (bisa dibaca distempelnya). Untung saya rencananya di Thailand hanya seminggu doang, jadi cukuplah. Keluar dari gedung imigrasi ini, kita langsung disambut dengan asongan khas Thailand. Pertanyaan saya adalah, bagaimana cara saya ke Bangkok ? Naik apa? Kan katanya US$15 adalah tiket Siem Reap - Bangkok. Sementara saya baru sampai di kota perbatasan ? Saya tidak mau mikir panjang dulu karena saya harus buru-buru ke toilet, pengen kencing. Nah, toiletnya berbayar 10 Baht. Kelar dari toilet, celingukan nih...mana ya bus yang akan membawa saya ke Bangkok? Ngga tahu nama busnya lagi, tiket juga entah kabur di mana. Pas lagi celingukan, ada pemuda yang berteriak keras ke arah saya...."Hey...red sticker !! Red sticker !!" Saya menoleh ke arahnya, dan dia menunjuk ke arah saya...baru kemudian saya sadar, di dada saya tertempel stiker bulat warna merah. Saya samperin dia, kemudian dia memperkenalkan diri sebagai orang yang akan membawa saya ke Bangkok dengan menggunakan minivan. Saya digiring ke minivan, dan ternyata sudah ada beberapa penumpang lain yang di sana. Berbeda dengan bus, minivan yang ini bener-bener bikin sengsara...disumpel-sumpelin kayak dagangan aja. Saya duduk di belakang berempat dan dua di antaranya adalah bule Australia berbadan gede. Jangan harap bisa selonjor atau rebahan enak. Tetapi saya merasa lebih beruntung mengingat tubuh saya kecil, karena bagi bule itu, minivan ini jauh lebih menyiksa. Sekitar 4 jam kemudian saya sudah berada di tengah Kota Bangkok. Pertanyaannya, bagaimana penumpang bus lainnya yang tadi bareng saya? Siapa yang akan membawa mereka ke Bangkok ? Well, akan ada minivan lain yang menjemput. Yang penting jangan sampai stiker bulatnya hilang !

Segala perasaan tidak pasti, insecure, ketakutan, excited, yang berkumpul menjadi satu itulah yang saya rasakan sebagai perasaan seru. Saya lumayan kecanduan untuk melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat dengan segala keseruannya. Sebelumnya, saya sempat berpikir untuk masuk ke Hanoi (Vietnam) dari Nanning (saat saya backpacking ke China), tetapi saya batalkan karena saat itu saya tidak punya waktu mengingat perjalanan dengan bus cukup lama. Rencana saya berikutnya sih ingin lintas negara dari Thailand ke Laos. Lagi ngumpulin duit, soalnya selain kismin, juga sudah tidak ada sponsor lagi hihihi. Doakan yaaa nemu duit sekoper...amiin.

Nah, kapan giliran kamu?

Thursday, September 1, 2016

Keajaiban Khmer (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 6 Habis)


22 November 2015

Pagi itu sopir tuktuk saya sudah menjemput di hotel. Masih pagi buta dan Si Bajuri masih pakai baju yang sama kayak semalem. Mungkin dia bahkan belum pulang ke rumah. Kami sudah sepakat bahwa kami akan membayar US$ 15 kepada Si Bajuri untuk mengantarkan kami ke area Angkor Wat yang lokasinya sekitar 5 km dari pusat kota Siem Reap. Harga itu untuk trip seharian - dari Subuh dan kelar sekitar pukul 14.00-an. Saya melihat Si Bajuri ini sopir yang baik. Nggak tau, feeling saja. Dia selalu berusaha membuka omongan dengan menjelaskan hal-hal yang kami lalui di jalan. Kalau soal harga, saya sudah baca beberapa testimoni, ya rata-rata emang paket dari kota ke Angkor Wat sekitar US$ 15 itu. Nah, Tuktuk ini kayaknya bisa dipakai bertiga deh, meskipun rata-rata dipakai berdua, jadi cukup irit kalau mau patungan.

Tuktuk kami berjalan menembus pagi buta yang masih gelap. Penerangan minim, jalan sepi lengang dari kendaraan, udara sejuk, mewarnai perjalanan itu. Selepas itu, di jalur utama ke arah Angkor Wat mulai banyak TukTuk lain yang bermunculan, dari belokan, dari sudut hotel, dari sudut penginapan, beriringan seperti tengah ada parade TukTuk. Mereka membawa penumpang seperti kami, turis asing, yang rata-rata bule. 

Saya suka keheningan sesaat dan udara sejuk pagi itu. Setelah beberapa saat, TukTuk yang kami tumpangi beriringan dengan TukTuk lain, memasuki sebuah area dengan halaman cukup luas. Di sana bergantian TukTuk ini menurunkan penumpang. Dalam beberapa detik kami sudah dihadapkan pada kerumunan orang banyak, turis-turis kulit putih bercampur wajah-wajah Asia dan lain sebagainya, sementara para sopir TukTuk ribet mengatur diri karena area tersebut dipakai untuk ngedrop turis. Di depan kami ada bangunan berkaca lebar dengan  lubang jendela...inilah loket untuk membeli tiket masuk ke Angkor Wat. Para pengunjung pun antre memanjang ke belakang. Ada sekitar 5-10 loket yang dibuka dan semuanya full antrean. Suasana di depan loket seperti layaknya antrean penonton konser musik. Bedanya, banyak wajah-wajah bantal yang nongol, termasuk yang nulis. Maklum, bangun langsung ngabur ke sini hehehe.


Jadi setiap loket dijaga oleh dua orang petugas, yang kebetulan di antrean saya adalah petugas cewek. Satu petugas duduk di balik bilik loket kaca yang posisinya hampir sejajar dengan kepala para pengantre, sementara satu petugas lagi berdiri di depan loket. Yang di luar bilik inilah yang akan mengarahkan kita untuk berfoto. Ada semacam kamera kecil di depan loket untuk memfoto kita. Sempet ditanya dari negara mana, lalu kita diambil gambar....cekrekkk !! tak butuh waktu semenit Angkor Pass sudah jadi. Setelah itu dengan angot-angotan...rasanya beraaaat banget...saya melepas US$ 20 saya ke mereka...hiks.

Tiket yang saya beli adalah tiket one day visit, berlaku untuk waktu 05.30 AM - 05.30 PM. Ada sih paket beberapa hari, tetapi menurut saya, satu hari saja cukup...mahaaaaal!! (belakangan saya berubah pikiran, kayaknya di Angkor Wat selamanya juga woke). Nah, setelah beli tiket selesai, langsung deh cari Si Bajuri yang ternyata dari tadi sudah mengamati dari jauh antrean saya. Tanpa banyak cingcong...melajulah TukTuk Si Bajuri.

Salah satu bagian yang saya suka adalah, jarak antara loket dengan candi utama itu lumayan jauh. Subuh itu, TukTuk membawa kami membelah jalan lebar dan lengang dengan kanan-kiri adalah pohon-pohon tua dan superbesar serasa melayu membelah botanical garden. Lampu-lampunya hanyalah lampu taman bolam kuning, yang membuat suasana semakin serem sendu. Udara sejuk sekali. Beberapa kali kami melewati pesepeda, yang beberapa di antaranya sendirian...berani juga ya. Mereka adalah turis yang memilih menuju Angkor Wat sambil berolahraga. Sebenarnya ide bagus juga untuk berangkatnya, tapi kalau pulang pasti sangaaat panas. Keadaan masih gelap hingga saya sampai di depan central structure atau bangunan pusat candi. Struktur utama candi memiliki denah semacam di bawah ini (yang saya comot dari wikipedia). Bagian biru adalah kanal lebar yang mengelilingi kompleks candi. Tetapi dari awal saya sampai, saya tidak bisa mengenali struktur utama ini saking gelapnya. Iya, tidak ada penerangan di area ini (kecuali di lokasi parkir yang lokasinya di luar area). Saat Si Bajuri melepas saya, saya sendiri tidak tahu mau kemana. Beberapa orang berpencar ke berbagai arah, tetapi saya memutuskan untuk mengikuti rombongan paling banyak menuju ke satu titik, ternyata memang kami melewati jalanan batu sekitar 50 meter menyeberangi kanal menuju pintu utama (lihat garis krem bagian kiri). Beberapa orang dengan name tag terkalung di leher membawa senter untuk memeriksa tiket kita. Sampai di sini saya belum menemukan Angkor Wat seperti bayangan saya. 


Nah, central structure sendiri dinding luarnya berukuran 1.024 x 802 meter dengan ketinggian 4.5 meter, dikelilingi halaman terbuka sepanjang 30 meter dan parit sepanjang 190 meter. Akses ke candi adalah sisi barat - menyeberang kanal - bertemu gapura (yang ada pada setiap arah mata angin) - kemudian kita akan masuk ke area halaman di mana kanan kiri ada beberapa candi kecil serta reruntuhannya. 

Hingga di area ini situasi masih gelap...Matahari seperti masih belum mau bersua dengan kami. Nah, kebanyakan turis - yang makin lama makin bejibun - menuju ke arah kiri di mana kita akan bertemu semacam danau yang cukup luas. Kenapa mereka ke sini? Jadi kami ini kan sedang menunggu sunrise, nah salah satu view terindahnya nanti adalah saat bayangan candi memantul di permukaan air danau...begitu. Sebenarnya googling di internet pun bakal menemukan ratusan foto semacam ini dari mereka yang pernah berkunjung. Tetapi emang paling seru kalau menjadi saksi mata langsung ya.

Saat semburat Matahari dari arah timur muncul, saya segera menyadari bahwa jumlah turis yang berada di sekitar danau saja mungkin sudah ribuan. Belum mereka yang masih dalam perjalanan ke sini. Serem...saya jadi ingat pelajaran SD yang menyebutkan salah satu budaya Jepang menyembah Matahari...nah, kami ini seperti tengah menunggu Dewa Matahari muncul...berkumpul di pinggir danau. Tetapi ini hanya seperti saja yaa...yang terjadi kan kami hanya ingin menikmati ciptaan Tuhan.
  • Di area sekitar danau ini banyak anak kecil lokal yang berkeliaran menawarkan kopi. Mereka hanya membawa semacam daftar menu. Lalu kita bisa memesan kopi, setelah itu mereka akan berlari ke sisi lain (semacam warung) untuk mengambilkan kopi pesanan kita. Saya sih tidak memesan jadi tidak tahu harganya berapa. Hebatnya, dalam kondisi gelap gitu, mereka bisa cepat kembali ke kerumunan orang dan menemukan pemesan kopinya lho.


Cukup lama kami menunggu Matahari muncul. Lama-lama saya bosan dan memilih untuk berjalan ke sisi lain. Pagi itu langit agak mendung, tetapi pada akhirnya Matahari tetap menyeruak dari balik punggung candi utama. Saya justru lebih tertarik dengan ribuan orang yang berkumpul di tepi danau...para sunrise hunters. Paduan langit mendung, rumput hijau, danau segar, dan bule-bule ini mengingatkan pada imajinasi di benak saya tentang Woodstock Festival, terus berandai-andai  ada Santana main di sini, seperti saat dia tampil di Woodstock tahun 1969 (di mana saya bahkan belum direncanakan lahir).

Hal pertama itulah yang membuat pandangan saya terhadap Siem Reap yang awalnya "kok cuma gini" menjadi "wah bakal ada kejutan apalagi ya?". Iya soalnya di hari pertama saya memasuki Kamboja sehari sebelumnya, saya belum mendapatkan kesan serunya. Apalagi ditambah biaya hidup yang menurut saya kok ya mahal.

Setelah Matahari bersinar, saya mulai menemukan bayangan konstruksi besar sebuah kompleks candi, Para turis mulai bergerak memasuki bangunan utama candi dan saya merasa seperti sedang berada di India (efek banyak nonton film India). Ini kompleks candi megah dengan lorong-lorong indah, dengan pilar-pilar cantik, dengan segala reruntuhannya. Di sela-selanya, kita akan melihat monyet-monyet berkeliaran di tempat yang menjadi kediamannya. Tontonlah The Jungle Book movie...ini benar-benar seperti kerajaannya King Louie, Gigantopithecus, monyet raksasa setinggi 10 kaki yang menahan Mowgli karena ingin diajari membuat red flower alias bunga api. Atau mungkin film ini yang memang mendapatkan inspirasi membangun setting kerajaan King Louie dari Angkor Wat? Entahlah. 






Seperti halnya saya mengagumi Candi Borobudur atau Candi Prambanan, saya selalu berpikir satu hal (yang mungkin mewakili pikiran orang awam lainnya), bagaimana mungkin di jaman itu di mana teknologi belum ada, orang bisa membangun bangunan semewah ini ya? Yes, menurut saya ini sangat mewah. Angkor Wat sendiri adalah sebuah kuil yang dibangun pada jaman pemerintahan Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-XII dan memakan waktu pembangunan hingga 30 tahun. Pembangunan dilakukan untuk meletakkan Gunung Meru sebagai pusat dunia dan menjadi tempat tinggal para dewa-dewi Hindu. Nah, jadi sebenarnya saya ini tengah bertamu di kediaman para dewa hehehehe.

Sekitar pukul 09.00 AM, saya sudah mulai bertanya-tanya, lalu di mana ya candi-candi yang dibebat akar pohon gede-gede yang tersulur dari atas itu? Iya, kalau kita googling dengan kata kunci "Siem Reap" atau "Angkor Wat" yang muncul adalah itu. Belum lagi kalau nonton film Lara Croft : Tomb Raider-nya Angelina Jolie, pasti di benak kita sudah muncul bayangan beda tentang Angkor Wat. Jadi ternyata begini, central structure adalah salah satu bagian dari Angkor Wat...di luar itu, area Angkor Wat itu sangat luas dengan berbagai candi yang salah satunya dipakai untuk setting filmnya Angeline Jolie itu yang diberi nama Angkor Thom. 

Si Bajuri yang kami temui di parkiran tampak memasang muka yang ramah saat saya keluar dari central structure. Dia langsung menyiapkan TukTuknya untuk berkeliling lagi ke lokasi lain yang pada akhirnya benar-benar seperti bayangan saya tentang Siem Reap. Lokasinya saling berjauhan dan kayaknya nggak mungkin deh jalan kaki, karena waktunya tidak akan cukup. Berkeliling area Angkor Wat sangat menyenangkan karena kita seakan masuk di mesin waktu...pohon-pohon tinggi dan tua, bangunan candi, reruntuhan, dan (bagusnya) steril dari bangunan modern, sangat-sangat membuat saya melupakan US$20 yang sudah melayang...ini layak dan sepadan dengan uang yang saya keluarkan hahahaha.






Bagi saya, perjalanan kali ini highlight-nya ada di sand dunes Vietnam dan Angkor Wat di Kamboja. One day trip di Angkor Wat sepertinya kurang deh...kayaknya harus dua atau tiga hari hahaha, tapi habis itu pulang ngesot ke Indonesia karena duit habis. Bagi saya, Siem Reap itu adalah ya Angkor Wat, tidak ada yang lain. Jadi kalau mau ke sini pun ya fokusnya di Angkor Wat, karena nggak ada hal yang menarik lainnya. Saya mungkin akan betah berlama-lama di Angkor Wat, tinggal di sini sebulan kek, dua bulan, atau selamanya hihihi...entah kenapa saya selalu suka tentang hal-hal sejarah, masa lalu, bla bla bla...mungkin pertanda saya sudah tua. Kata temen saya, Adjie, orang tua berbicara tentang masa lalu dan anak muda selalu berbicara masa depan. Hmmmm....*cabuti uban*

Hari itu adalah hari terakhir saya di Kamboja. Terima kasih untuk Bajuri (sampai sekarang saya nggak tau namanya) yang telah menjadi sopir TukTuk terbaik selama saya di Kamboja. Pulang ke hotel, saya sudah bersiap check out. Mandi sebentar, packing, lalu check out....dan mati gaya hampir 7 jam berikutnya !! Kok bisa ? Lha ya bisa, wong saya beli tiket bus ke Bangkok yang malem. Makanya diputuskan nitip backpack ke hotel, lalu jalan-jalan bego (lagi) keliling area pub street. Sumpah, kali ini saya benar-benar merasa bego karena nggak tahu harus ngapain. Cuma makan, masuk 7-Eleven beli minum, lalu masuk ke mall (atau supermarket ya saking kecilnya), lalu jalan ke pusat cinderamata, lalu menunggu hujan dengan berteduh di jembatan penyeberangan sungai yang ada tempat duduknya, lalu balik ke hotel ambil backpack tapi sempet mainan hp karena ada wifi gratis...lalu makan malam lagi...lalu ngelamun nggak jelas...tidur di emper travel tempat saya beli tiket bus....beuuuh....sungguh membosankan. Saat paling melegakan adalah saat bus saya ke Bangkok menjemput saya. Saya sudah membayangkan akan segera bobok lucu di dalam bus, dan bersiap untuk menghajar Bangkok keesokan harinya. 

Maka dengan ini berakhir pulalah perjalanan Vietnam - Kamboja saya. Bab tentang crossing border Kamboja - Thailand akan saya tulis di seksi lain yang terpisah. Termasuk serunya menikmati Krathong Festival 2015....

See ya di perjalanan berikutnya,

Ariy

Tuesday, July 26, 2016

So Long Vietnam...Hello Cambodia !! (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 5)


Perjalanan yang akan saya tempuh adalah perjalanan darat dengan bus sejauh 285 kilometer, dari Ho Chi Minh City (Saigon) menuju ibukota Negara Kamboja. Perjalanan ini akan menempuh waktu sekitar 6 jam... lumayan deketlah.

Kalau Anda sedang berada di Vietnam dan ingin melakukan perjalanan lintas negara menuju Kamboja, banyak kok bus yang melayani rute ini. Rute ini cukup padat penumpang, terutama turis, baik dari HCMC menuju ke Siem Reap, atau sebaliknya. Itu memang rute utama, sementara Phnom Penh sendiri sepertinya hanya jadi tempat ampiran meskipun ini adalah ibukota negara tersebut. Biar gampangnya, ada dua rute mudah yang bisa kita gunakan :
  • HCMC - Phnom Penh : kurang lebih 6 jam, harga tiket sekitar USD 12.
  • HCMC - transit Phnom Penh - Siem Reap : kurang lebih 6 jam, harga tiket more less USD 25
Saya searching tidak ada jalur kereta api untuk rute ini, jadi pilihan saya tetap menggunakan bus. Titik tolak bus-bus ini adalah dari Phang Ngu Lao Street yang merupakan area konsentrasi turis (baca artikel sebelumnya). Nyaris setiap jam ada bus yang melayani rute-rute di atas. Beberapa operator bus yang melayani ini antara lain Sapaco, Mekong Express, Kumho Samco. Saya lupa make operator apa hahaha...tetapi awalnya saya memilih karena melihat kursi besar berbalut sarung kulit yang sepertinya nyaman di foto-foto yang dipamerkan agen penjual tiket bus.

Saya memutuskan untuk memilih rute pertama, yaitu berhenti di Phnom Penh. Perkiraan awalnya gini, kalau saya berangkat dari HCMC sudah pagi menjelang siang, maka kalau menggunakan bus langsung menuju Siem Reap yang transit di Phnom Penh akan sampai di tujuan tengah malam. Agak ragu juga kalau sampai di kota yang baru kita kenal pada tengah malam. Problem yang mungkin akan kita hadapi adalah tidak ada transport yang mengantar ke hotel, yang kedua...mengantisipasi kejahatan. Kita nggak tahu kan apa yang bakal terjadi di tengah malam begitu.

Maka dipilihlah perjalanan pertama HCMC - Phnom Penh, ntar nongkrong dulu di Phnom Penh sambil senam SKJ delapan delapan supaya nggak encok kelamaan di bus, lalu lanjut ke Siem Reap agak malam dan diperkirakan sampai Siem Reap bisa Subuh...sudah terang. Sounds like a plan yak hahahaha. Begitulah...akhirnya kami masuk ke dalam bus siang itu yang sebagian besar diisi turis asing. Bagaimana kondisi bus yang kami naiki? Kursinya lumayan gede-gede, formasi dua - satu (makanya kursinya bisa gede ya). Cuma yang agak bikin kurang nyaman adalah di bawah kursi hampir semua ada kardus-kardus yang entah isinya apa. Karena bus ini akan mengantarkan kami lintas perbatasan negara, saya berasumsi ini adalah barang-barang selundupan. Entahlah. Yang lebih kasihan lagi adalah bule-bule yang kakinya panjang, susah untuk selonjor karena tertahan kardus-kardus itu.

Pemandangan selama perjalanan tiak ada yang istimewa, cenderung gersang, panas dan melewati daerah yang secara infrastruktur kelihatannya masih ketinggalan dalam hal pembangunan dibanding kota-kota lain di Asia Tenggara yang pernah saya lalui, atau bahkan dengan kota-kota di Indonesia. Kemana-mana harus memicingkan mata saking panasnya. 

Mendekati perbatasan Vietnam - Kamboja, kondektur meminta paspor kami. Agak waswas juga karena nggak ada omongan apa-apa. Tetapi saat melihat mereka juga meminta turis-turis lain melakukan hal sama, ya sudah kami pasrah menyerahkan paspor tanpa drama. Agak absurd sih ini cara nyebrang perbatasannya. Soalnya benar-benar nggak ada komunikasi antara kru bus dengan kami para penumpang. Yang ada kami disuruh turun, dilepas begitu saja...alhasil kami hanya bisa saling liat-liatan...ini kita mau diapain? 

Jadi saya rangkumkan (supaya tidak saling liat-liatan dengan penumpang bus lain yang juga nggak paham) :
  • Turun dari bus, jangan kemana-mana, ikuti aja rombongan (sementara si kondektur udah gak tau kemana, bus juga udah jalan).
  • Masuk ke gedung utama (bangunan gede satu-satunya) ikut aja turis lain, ntar pasti ada juga yang ikut kita hahaha...sok yakin pokoknya. Saling ikut mengikut.
  • Di bagian depan gedung imigrasi itu ada toilet umum. Bayarnya bisa pakai mata uang Vietnam atau mata uang Kamboja, atau USD. Sampai di sini masih bingung juga, pemeriksaan imigrasi di mana? 
  • Oh ternyata ruangan berikutnya ada loket imigrasi. Kita akan lihat deretan antrean imigrasi. Ada beberapa baris. Lha kalau kita nggak pegang paspor, gimana mau antre ya? Itu juga pertanyaan kami. Sampai kemudian si kondektur yang saat itu mungkin menjadi orang yang paling dikangeni para penumpang bus muncul, udah berdiri manis di samping petugas di loket imigrasi. Jadi rupanya, penumpang bus ini paspornya dikumpulin, lalu distempel bareng-bareng.
  • Apakah kemudian saya antre ? Kagak. Lha wong kalau antre juga, sampai depan belum tentu paspor distempel kok. Makanya cuma menggerombol di belakang bareng penumpang lain. Tapi pastikan pasang telinga ya...karena nama kita akan dipanggil satu-satu.
  • Nah bener kan...penumpang bus dipanggil satu-satu. Agak susah sih mendengarnya. Lebih susah dibanding tes listening untuk TOEFL. Karena mereka kan mengeja nama kita dengan dialek mereka sendiri.
  • Begitu dipanggil, langsung maju aja (potong antrean). Bukan saya mengajari tidak antre, tapi bagaimana lagi wong paspor kita sudah distempel dan harus mengambil ke depan.
  • Setelah itu? Ya udah jalan ke exit gate yang ada di belakang loket...taraaaaa....Anda sudah berada di Kamboja.
Kalau menurut saya, ini adalah pemeriksaan imigrasi paling mudah dan aneh yang pernah saya lalui. Tanpa ditanya, tanpa diperiksa, dan nggak ada tuh metal detector atau apalah. Bahkan model boarding  di stasiun kereta api di Indonesia jauh lebih ketat. Apapun, saya hepi karena nggak ribet. Para penyelundup pun mungkin juga hepi :)

Nah, setelah keluar, bus tadi sudah menunggu kita di sisi dalam. Lalu kami melanjutkan perjalanan, tetapi sekarang sudah masuk wilayah negara Kamboja. Tidak ada yang menarik dan lagi-lagi hanya pemandangan panas dan gersang yang coba saya nikmati. Bus kemudian berhenti di salah satu rumah makan, sama kayak di Indonesia yang bus jarak jauh pakai mampir di rumah makan yang udah kerja sama dengan operator busnya. Kalau bus Solo - Surabaya mampir di rumah makan Duta di Ngawi dan kita nggak bayar lagi, di sini beda. Kita mampir dan silakan urus diri masing-masing. Kalau mau makan ya bayar sendiri. Saya tidak berselera makan, selain memang saya juga selalu tidak makan banyak kalau melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan umum, takut minta toilet break karena mules :).

Makanan di sini hampir sama dengan makanan di Thailand menurut saya. Nah, mulai deh dompet saya mules karena harga-harga yang terpampang rata-rata USD 2. Dollar Amriknya mulai berlaku booo...jadi siap-siap melarat. Pengen sih ambil snack-snack gitu...tapi lihat harganya pakai dollar...saya cuma bisa nelen ludah. Pengen juga ambil mangga potong yang dikasih garam dan bumbu cabe itu...tapi lagi-lagi...mundur deh. Selamatkan dollar karena kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi di Siem Reap !! Begitu teriakan hati kecil saya.

Break berlangsung sekitar 15-20 menit sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju ke Phnom Penh. Sekali lagi nggak ada yang menarik untuk dilihat. Saya memilih untuk nyuri-nyuri tidur saja sambil kadang melirik ke jendela siapa tahu nemu pemandangan ciamik. Cukup membosankan sodara-sodaraaa....

Rencana Berubah

Sekitar jam 4-an sore saya sudah sampai di Phnom Penh. Kota yang menurut saya kurang modern untuk ukuran sebuah ibukota negara. Tetapi Anda bisa mengabaikan penilaian saya, karena saya juga hanya melihat selintas dalam perjalanan menuju ke pool bus. Nah, di pool bus yang serupa ruko-ruko berjajar inilah kami turun. Cita-cita utama adalah cari toilet, belet pipis. Cita-cita kedua adalah cari tiket menuju ke Siem Reap. Setelah diperbolehkan numpang pipis dari salah satu agen bus, saya mulai bergerilya dari satu ruko ke ruko lain mencari tiket bus menuju ke Siem Reap. Kebanyakan zonk alias habis...matiiih !! Bisa rusak rencana yang sudah tersusun rapi. Akhirnya mendapatkan kabar ada satu bus yang berangkat hari itu yang masih menyisakan kursi tetapi harus segera berangkat. Waks !!

Saya tidak punya pilihan lain. Saya pun membayar tiket dan membuyarkan impian untuk nongkrong di Phnom Penh. Tau gini, saya ambil bus terusan HCMC - Siem Reap! Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan saya membayangkan apa yang harus saya lakukan saat tiba di Siem Reap tengah malam itu? Diturunkan di mana? Apakah lokasi tempat saya turun nanti dekat dengan hotel yang sudah saya booking ? Naik apa ke hotel?  Bagaimana kalau saya diperkosa di tengah jalan yang gelap gulita?   Pucet.

Dari pool bus itu, saya masih harus dijemput tuktuk untuk diantar di pool bus lain yang lumayan jauh. Mereka seperti terburu-buru karena bus akan segera berangkat. Nah, selama perjalanan dari pool bus pertama ke pool bus kedua inilah saya sedikit banyak menangkap secuil kehidupan di Phnom Penh. Untuk sebuah ibukota, terlihat kurang bersih, lalu-lintas agak ribet (tidak seribet Vietnam sih), dan jalan yang saya lewati denyut kegiatan ekonomi warganya sangat terasa. Atau jangan-jangan yang saya lewati adalah pasar? Sepertinya sih tidak. Tetapi saya tidak mau mengeneralisasi ya karena saya belum melihat Phnom Penh secara utuh, termasuk apakah ini di pusat kota atau bukan. Apapun, sebenarnya saya tetap bisa menikmati kok kota kecil dengan segala keterbatasannya. Saya tetap bersemangat untuk menemukan hal-hal yang berbeda dari sebuah kota di negara orang.

Saya tiba di pool bus kedua. Saking capeknya, saya tidak bersemangat untuk mendokumentasikan apapun di Phnom Penh...jadi maaf, tidak ada foto yang bisa saya pasang di sini. Di pool kedua ini saya lihat banyak pedagang seafood bakar yang mulai membuka lapak. Seafood-nya segar-segar, pembeli tinggal milih lalu dibakar di alat panggang yang super besar. Saya banyak melihat lapak model beginian saat traveling ke China. Biasanya seafood ini ditusuk semacam sate, tetapi dengan ukuran tusuk yang besar.

Semakin sore dan bus pun melaju menuju ke Siem Reap. Saya mendapatkan tempat duduk di bagian paling belakang pojok kanan. Sangat tidak nyaman dan saya harus melalui 6 jam ketidaknyamanan ini. Selain itu, kursi depan saya yang diduduki seorang gadis, sandarannya soak...njeplak ke belakang karena kunciannya sudah dol...alhasil, dengkul saya yang jadi tumpuan. Pasrah, karena meminta gadis itu tidak menyandarkan punggungnya juga kasian kan...6 jam lho.

Kondisi jalan yang kami lalui tidak terlalu bagus. Banyak yang tidak beraspal, berdebu (cokelat) yang mengganggu jarak pandang, dan ini satu catatan lagi...gelapnyoooo...Kamboja benar-benar minim penerangan. Sebelumnya saya pernah membaca soal minimnya penerangan ini di salah satu blog traveler bule, ternyata benar.

Bus kami berhenti dua kali. Saat menjelang maghrib, masih cukup terang, berhenti di semacam warung, lalu semua turun untuk beli makanan atau snack  (sudah kenal dollar juga, Riel Kamboja buat kembalian saja). Lokasinya agak pinggiran desa gitu. Jangan bayangkan jalan aspal dengan kanan kiri bangunan toko atau semacam itu, ini benar-benar seperti jalanan desa tapi cukup lebar. Lalu bus kembali melaju di jalan yang enjot-enjotan, sebelum malamnya kembali berhenti di sebuah area semacam pool bus di pinggir jalan besar (mungkin jalur lintas nasional) yang sudah beraspal bagus...tapi tetap penerangannya menurut saya kurang. Jalanan juga sudah sangat sepi, tapi toko-toko masih buka. Di sini kami kembali bisa makan atau beli snack...lalu melanjutkan perjalanan. Oya, di jalan-jalan gelap ini kadang bus menurunkan penumpang lho. Saya sudah mikir aja, apakah tidak bahaya? Misalnya saat ada penumpang bus cewek yang saat itu turun di tengah area yang gelap tanpa penerangan, kok berani ya sendirian? Saat saya tengok dari kaca bus, ternyata sudah ada saudaranya menunggu pakai motor. Mau cari tempat terang di mana wong semuanya rata-rata gelap.

Yang saya ingat, sekitar pukul 11.00 malam, kami sudah mendekati wilayah Siem Reap. Suasana agak lebih hidup meskipun malam semakin larut. Lampu-lampu sudah mulai agak terang beberapa titik banyak lampu dekorasi warna-warni. Kami juga melewati sebuah area yang tengah mengadakan audisi The Voice Cambodia, dengan tulisan gede di panggung yang bisa dilihat dari jalan besar.. Diadakan di semacam area terbuka dengan panggung. Mungkin baru audisi awal ya...entahlah. Dan akhirnya, di pinggir jalan yang lumayan agak ramai, saya diturunkan. Saya sendiri tidak tahu apakah sudah sampai di Siem Reap atau belum, yang pasti semua penumpang pada keluar...yaudah hayoook. Rasanya lega sekali menghirup udara malam itu yang cenderung sejuk setelah beberapa jam tersekap di dalam bus.

Begitu keluar, sudah banyak tukang ojek dan tuktuk yang ngantre menawari. Di tengah malam begitu, masih saja saya jual mahal...enggak bang...enggak. Padahal sebenarnya butuh. Menjauh dari keramaian penumpang, saya disamperi seorang sopir tuktuk yang bahasa Inggrisnya lumayan (setidaknya ngerti). Saya sampaikan bahwa saya sudah booking hotel, lalu menunjukkan alamat ke dia. Si sopir bilang itu lokasinya jauh dan agak ke pinggir kota. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah dia bohong atau jujur. Tetapi saya sudah tidak mau banyak mikir. Dia menyarankan untuk mencari hotel di sekitar Pub Street  yang bakal mudah ke mana-mana. 

Saya pandangi wajah si sopir yang mirip Bajuri si tukang Bajaj. Badannya pun gemuk persis Bajuri.

Hmmm....sepertinya dia orang jujur persis Bajuri.

Entah karena alasan itu atau karena saya sudah nggak fokus, maka nurut aja naik tuktuknya si sopir itu menuju ke area pub street. Perjalanan sekitar 15 menit menuju ke area pub street. Malam itu suasana area tersebut masih sangat ramai. Kami mencoba memasuki beberapa hotel untuk mengecek kamar dengan diantar si Bajuri. Semuanya fully booked sampai kemudian kami menemukan Angkor Park Guest House. Lokasinya sangat strategis, di pinggir jalan besar (Krong Siem Reap). Jalan ke pasar cenderamata deket, ke pub street, ada juga mall kecil, terus sepanjang jalan itu ada agen bus, supermarket termasuk 7-Eleven, food street komplit dan lain-lain. 

Lebih semacam penginapan. Cukup bersih dan dapat kamar seharga USD 10 tanpa sarapan, ada TV kabel (terbatas), wifi cukupan, kamar mandi yang pintunya rusak hihihi. Tapi AC-nya oke, dan lebih dari itu...lokasi...lokasi...lokasi...itu pertimbangan saya.

Pas ke sana, pintunya sudah tutup, lobby gelap, penjaga tidur, tapi bisa dibangunin. Pintunya tutup tapi tidak dikunci kok, 24 jam kita bisa keluar masuk. Di sinilah saya harus berpisah dengan Bajuri...tapi jangan khawatir, karena besok pagi-pagi benar saya akan bertemu dengan dia lagi untuk mengantarkan saya ke Angkor Watt dengan tarif USD15 seharian...horeeee mahal !! Hahahaha...nggak sih, rata-rata emang segitu, karena jarak dari kota ke Angkor Wat aja sekitar 5,5 km, belum lagi keliling Angkor Wat seharian yang memang sangat luas itu. Lagian saya sudah jauh-jauh ke Siem Reap mosok nggak ke Angkor Wat...iya sih, mahal :(

Dan malam itu, setelah mandi, saya sempatkan cari makan dulu di dekat pub street. Di sini kehidupan 24 jam nggak ada matinya. Saya memilih makan di warung tenda depan 7-Eleven yang sepertinya lezat...bukaaan...tetapi memang yang paling murah di situ, yaitu satu porsi rata-rata USD 2 belum termasuk minum. Iyaaaaa....Siem Reap mahaaal. Saya bersyukur sekali hanya menjadwalkan di kota ini satu hari saja.

Selama di Siem Reap itulah saya menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati saya di warung tenda itu....Hidup dua dollaaar !!

Next : Bolehkah saya hidup sampai tua di Angkor Wat?

Tuesday, June 28, 2016

Tragedi Paspor yang Raib (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 4)

Bahkan kisah cintaku kalah rumit dengan lalu-lintas di HCMC

20 November 2015 :
Pagi yang malas di Mui Ne, sekaligus hari terakhir sebelum saya harus meninggalkan tempat yang tenang tapi seru ini. Tidak banyak yang bisa saya dan teman saya lakukan pada pagi ini. 
Setelah mandi, kami sempat jalan sebentar ke pantai, sebelum kemudian nyari sarapan. Agak susah juga nyari sarapan sepagi ini, mungkin karena kebanyakan tamu sudah sarapan di hotel, sementara kami nggak dapet sarapan. Rumah makan yang semalam sepertinya berderet-deret bersaing mencari tamu, tiba-tiba saja seperti bungkam. Mereka belum buka.
Kami sepakat untuk jalan-jalan ke pasar tradisional yang letaknya cuma sepelemparan kolor dari hotel. Kalau diajak ke pasar tradisional saya paling suka...udah kayak emak-emak. Padahal di sana juga cuma mengamati aja orang melakukan aktivitas. Seperti pagi itu pun ya sama, melihat para pedagang bertemu dengan pembeli. Ternyata banyak juga turis bule yang masuk pasar. Sasaran utama mereka biasanya buah, karena mungkin banyak buah aneh yang tidak mereka temui di negara mereka. Kalau saya, biasanya suka melihat-lihat penganan khas atau tradisional mereka, seperti kue-kue atau semacamnya. Kalau buah, nyaris sama dengan Indonesia.
Akhirnya kami makan di rumah makan samping pasar yang dijaga seorang Bapak-bapak. Rumah makan yang cukup besar dengan tamu hanya saya dan teman saya. Udah kepikiran pasti mereka belum siap masakan sepagi itu. Eh ternyata mereka siap. Saya memilih (lagi-lagi) Chicken Pho karena saya ingin makanan berkuah. Teman saya memilih sebangsa nasi goreng sea food dengan bulir nasinya yang besar dan bersih berisi.

Rencana kami hari ini agak-agak nggak jelas. Kami sebenarnya ingin langsung naik bus dari Mui Ne ke Siem Reap, Kamboja untuk menyingkat waktu. Tetapi tentu saja tidak ada bus terusan macam itu mengingat secara geografis emang akan lebih mudah melalui jalur Ho Chi Minh City (HCMC). Teman saya masih bertanya kemungkinan untuk mengambil rute Mui Ne - HCMC - Siem Reap. Saya sudah berpikir itu tidak mungkin (bila melihat peta), kecuali naik pesawat. Tetapi kami membiarkan ide itu terbuka dan akan mengkonsultasikan ke agen perjalanan yang menjual tiket bus di HCMC. Kalau memungkinkan ya diambil, kalau nggak ya kembali ke rencana awal. Tetapi tetap, kami mau tidak mau dari Mui Ne harus kembali ke HCMC (lagian memang tiket sudah dibeli).

Dari sarapan, kami menghabiskan sisa waktu beristirahat di hotel, mengingat siang ini akan melakukan perjalanan kembali ke HCMC. Mungkin inilah waktu yang benar-benar longgar setelah kami seperti berkejaran dengan waktu melakukan ini itu dalam beberapa hari pertama. Sekitar jam 12.00-an kami sudah turun ke lobby hotel dan siap-siap untuk menuju ke jalan besar menunggu bus jemputan. Tetapi kata staf hotel nanti akan ada yang memberitahu kami apakah bus sudah datang atau belum. Eh ternyata, belum juga 10 menit di lobby, seorang staf hotel memberitahu bahwa bus sudah menunggu dari tadi...wakakakakaka. Dibantu dia yang membawakan backpack kami, berlarianlah kami menuju jalan besar tempat bus sudah menunggu. Sampai di bus, kondekturnya sudah ngomel-ngomel dengan bahasa yang tidak kami mengerti...hahaha maaf. Wajahnya sengak banget melihat kami...wakakakak. Tampar saya bang...tamparrrr hahaha.
  • Jadi kalau mau ke Mui Ne dari HCMC, beli tiket busnya sekaligus sudah booking hotel ya (booking hotel sendiri di luar tiket bus). Nama hotel kita akan dicatat di tiket, supaya bus bisa mengantar kita tepat di depan hotel. Beli tiketnya mending pulang-pergi langsung, jadi mereka nanti akan menjemput kita di waktu yang tertera di tiket. Ini menurut saya cara yang sederhana dan memudahkan wisatawan. Bayangkan kalau kita belum booking hotel dan diturunkan di sembarang pesisir Mui Ne...itu kan jalannya panjaaaang...ya kalau langsung nemu hotel murah, lha kalau di sekitar kita hotel mahal semua? Pedih kan?
Lalu seperti memutar kaset lama, siang itu kami menghabiskan waktu 6 jam dalam kebosanan perjalanan darat Mui Ne - Ho Chi Minh. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perjalanan darat itu, selain sekali lagi bus model sleeper emang paling nggak keren buat nikmatin pemandangan di perjalanan. Bener-bener mati gaya.

Sore hari kami sudah tiba kembali di HCMC. Satu malam lagi akan kami habiskan di HCMC sebelum kami akan menuju ke Kamboja. Oya, kami sudah memesan kamar di Hong Kong Kaiteki Hotel, yang masih di Pham Ngu Lao, District 1 tidak jauh dari hotel pertama yang kami inapi. Kenapa kami memilih ini? Saya kebetulan yang memang ngidam pengen tinggal di hotel kapsul. Apalagi rate-nya yang cukup murah, cuma Rp 100.000. Teman saya mengamini. Perkara hotel kapsul ini memang sudah menjadi keinginan sejak lama. Bukan karena permintaan jabang bayi sih, tetapi karena penasaran aja dengan sensasi tidur di hotel yang lebih gede sedikit dari peti mati ini. Serem? Nggak...seru malah :).










Sebenarnya saya harus berhati-hati sekali kalau ingin me-review tentang hotel yang dibaca orang. Karena standar saya seringkali masih di bawah standar orang kebanyakan, yang artinya kalau saya bilang nyaman, bisa jadi bagi orang lain nggak. Gaya jalan saya sudah sangat jelas ya...on budget...sangat-sangat-sangat. Jadi memang buat yang keuangannya longgar atau tidak biasa jalan seadanya, ya abaikan pendapat saya. Termasuk soal hotel kapsul ini. Kalau Anda lihat review-nya tidak begitu bagus, hanya sekitar 7 poin sekian, bagi saya secara fasilitas masih bagus-bagus aja tuh...nah, beda kan? Kalau saya baca review -nya, yang dikeluhkan tamu antara lain soal matras yang tipis seperti gambar di atas, jadi keras nggak empuk kayak hotel. Ada juga yang mengeluhkan soal kamar mandi kotor. Anda juga yang mengeluhkan suara orang keluar masuk kamar. Ada juga yang mengeluhkan soal suara bising di luar. Bagaimana tanggapan saya soal itu?

Kalau soal matras yang tipis, kok saya nggak masalah ya. Saya ini sudah kebal. Tidur di emper stasiun (bener-bener emper, bukan di dalam stasiun ya) di China dengan alas kardus juga pernah. Iya berani karena kebetulan banyak warga lokal yang melakukan hal sama hehehehe. Jadi kalau dapet yang seperti gambar di atas, ya sudah sangat bersyukur. Kebersihan? Menurut saya cukup bersih (atau saya yang nggak higienis?). Kamar mandi kotor ? Nggak deh. jauh lebih kotor kamar mandi terminal. Suara orang keluar masuk mengganggu ? Ya saya sarankan ambil yang kamar private. Karena konsep hotel kapsul ini kayak dorm. Jadi jangan berharap banyak soal keheningan malam yang membuat tidur Anda nyenyak. Lagian bisa disumpel head set kok kupingnya. Soal suara bising di luar? Pilihannya hanya dua, mau bising tapi lokasi strategis atau mau tenang tapi lokasi jauh di pinggiran kota? Jadi semuanya sebenernya soal bagaimana kita menikmatinya.

Balik ke perjalanan saya, setelah check in, kami diminta mencopot sepatu, kemudian mengganti dengan sandal yang mereka sediakan. Sepatu kita akan disimpan di loker kecil di depan resepsionis. Kuncinya kita bawa. Ada dua kunci yang diberikan ke kita, yaitu kunci menyimpan sepatu kita di luar dan kunci loker besar yang ada di ruangan dekat kapsul-kapsul itu untuk menyimpan backpack kita. Setelah ganti sandal hotel, kita diberi handuk. Naik deh ke lantai empat (kalau nggak salah) dan masuk ke ruangan khusus laki-laki. Di sana wujudnya seperti lorong panjang (mengingat hotel ini seperti berada di bangunan Ruko berlantai tingkat banyak. Model kapsulnya susun dua, satu di dasar dan satunya lagi di atasnya. Dalam satu ruangan itu ada sekitar 10 kapsul tingkat atau artinya total 20 bed. Setiap kapsul disediakan TV kabel, colokan listrik, colokan untuk ear phone, bantal dua, fasilitas wifi, dan ada tirai untuk menutup "kamar" kita. Bagi saya, karena ini pengalaman pertama ya saya bertingkah kampungan banget...foto-foto dan seneng banget.

Kamar mandinya oke juga kok, meskipun ada yang rusak juga. Kalau kamar mandi cowok agak bau sih. Tapi nggak sampai ke kamar meskipun posisinya satu ruangan terbuka dengan kapsul-kapsul itu. Yang penting saya sih bisa mandi bersih di tempat yang tidak menjijikkan (saya agak ribet soal kamar mandi hotel). Oya, di sini ada juga air panas. Lumayan untuk merenggangkan otot-otot tubuh. 

Setelah mandi, kami harus segera hunting tiket menuju ke Siem Reap. Beberapa agen perjalanan kami masuki, jawabannya sama : kami harus ke Phnom Penh dulu sebelum ke Siem Reap. Ya iyalah secara jalur di peta juga mau tidak mau melewati Phnom Penh. Kami akhirnya harus menyerah dengan kondisi ini. Jadi ini gambarannya:
  • Banyak bus dari HCMC (Vietnam) ke Phnom Penh (Kamboja), jadi jangan khawatir. Nyaris setiap jam malah ada. Beberapa operator bus antara lain: Mekong Express, Sapaco Tourist, Malinh Express, Kumho Samco, Phnom Penh Sorya, dll. 
  • Harga tiket bus antara USD 8 - USD 12 tergantung operator bus serta berapa fee yang diambil agen perjalanan. 
  • Lama perjalanan sekitar 6 jam dengan jarak 285 kilometer.
  • Penting nih: Operator bus ini juga akan meng-handle semua terkait pengecekan paspor di imigrasi saat melewati perbatasan Vietnam - Kamboja.
  • Ada pilihan beli tiket terusan HCMC - Phnom Penh - Siem Reap tanpa istirahat (hanya ganti bus saat masuk ke Kamboja). Atau pilihan kedua, beli tiket HCMC - Phnom Penh saja, lalu di Phnom Penh beli tiket lagi ke Siem Reap.
Akhirnya kami memilih yang kedua, yaitu beli tiket HCMC - Phnom Penh. Harapan saya sih bisa istirahat sebentar di Phnom Penh, sorenya, lalu malam ambil bus ke Sieam Reap dengan harapan bisa sampai pagi hari di Sieam Reap. Khawatir kalau sampai Siem Reap malam dan diturunkan di antah berantah, susah transportasi, ketemu orang nggak bener...hiiih. Oya, saya juga memilih bus yang pake kursi saja...no more sleeper bus...BIG NO !

Setelah dapat tiket bus, acara berikutnya makan (lagi). Iya soalnya kami belum makan setelah dari Mui Ne. Dari makan malam, kami jalan-jalan di taman dan di pub street  sepanjang Pham Ngu Lao itu yang kalau malam udah kayak pasar tumpah. Kawasan District 1 ini setiap malam seperti nggak tidur. Lalu lintas semakin ruwet dengan bus kota, bus pariwisata, pejalan kaki, sampai ratusan motor yang hilir mudik nggak pakai aturan. Kalau di Indonesia lalu-lintas macam begini sudah saling pelotot-pelototan atau malah saling gampar. Lalu lintasnya malam itu emang bededah sekali. 

Malam itu, setelah semua ritual standar terselesaikan, saya tidur dengan nyaman dan nyenyak di dalam kapsul...zzzz....zzzz...zzzz...sebelum beberapa jam kemudian petaka terjadi !

21 November 2015 :

"Paspor gue nggak ada, Rik" ujar teman saya pagi-pagi setelah kami packing untuk segera mengejar bus menuju ke Phnom Penh. Saya celingukan. Serius nggak ada? Dibongkarlah segala tempat tidur dan tas-tas kami. Tidak ada. Kami pun turun mengecek ke resepsionis, jawaban resepsionis yang pagi itu masih tertidur saat kami mau check out adalah mereka tidak menyimpan paspor teman saya. Semua sudah dikembalikan setelah mereka meng-copy paspor saat kami check in kemarin sore. Lho??? Lalu kemana ??? Kalau paspor saya sih ada. Lha paspor teman saya??

"Lu tau kan gue bukan yang teledor untuk hal-hal penting kayak gini," ujar temen saya. Saya hanya mangut-mangut. Iya sih. Dari awal kami sudah sering saling mengingatkan, "Paspor mana...paspor mana?" atau "Awas dompet...dompet" dan semacamnya. Supaya hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di perjalanan bisa diantisipasi. Dan sekarang paspor teman saya raib !! Celaka tiga belas !!

Dalam waktu yang tidak begitu lama, teman saya sudah berdebat sengit dengan resepsionis. Teman saya bersikukuh paspor dipegang pihak hotel, sementara si staf hotel bilang paspor sudah dikembalikan. Mereka berdebat sengit dan saya tidak tahu mana yang benar. Lalu kami berdua kembali ke kamar untuk mengecek ulang siapa tahu nyelip di tempat tidur atau tertinggal di mana...mulai dari kapsul, rak kecil di dalam kapsul, sampai ke loker saya buka. Tidak ada !! bahaya. Kalau sampai paspor teman saya benar-benar hilang, rusak sudah semua rencana. Paspor hilang itu bencana yang paling tidak diinginkan traveler saat jalan ke luar negeri. Dan kami tidak ingin itu terjadi. Mimpi buruk.

Kami kembali turun ke lobby. Kembali perdebatan yang sama terjadi. Teman saya meminta CCTV lobby dilihat ulang, khususnya saat serah terima paspor. Staf hotel ngomongnya muter nggak jelas. Kali ini dia agak-agak rude sih ke teman saya. Dia bahkan menuduh mungkin paspor teman saya dibawa oleh saya. Lho kok saya? akhirnya backpack saya yang ter-packing rapi harus dibongkar lagi, dan tidak ditemukan paspor di sana. Perdebatan cukup lama terjadi, mungkin hampir sejam-an. Sementara waktu terus berlalu dan kami dipastikan ketinggalan bus menuju Phnom Penh. Saya sempat mengusulkan menghubungi perwakilan RI di HCMC ( Kedutaan Besar RI ada di Hanoi). Tetapi teman saya bersikukuh paspor tidak hilang tapi disimpan pihak hotel. 
  • Kalo paspor hilang di luar negeri, lapor polisi dulu kemudian minta semacam surat keterangan kehilangan paspor, lalu ke Kedutaan Besar RI atau perwakilan setempat untuk mengajukan surat perjalanan laksana paspor. Selengkapnya konsultasi aja ya ke KBRI bila itu terjadi. Tapi moga-moga tidak terjadi deh. Ribet sumpah.
Perdebatan deadlock. Kami akhirnya hanya duduk terdiam merutuki nasib. Tak berapa lama, muncullah perempuan ini. Dia sepertinya manager hotel. Mereka berbicara dalam bahasa yang kami tidak mengerti. Lalu mereka berupaya untuk memutar kembali rekaman CCTV. Sambil menunggu proses itu, si perempuan ini sibuk mencari-cari di rak dan laci meja resepsionis dan....

Gotcha !!! Dia menemukan paspor teman saya di rak bagian bawah meja resepsionis !!

Serentak hembusan napas lega muncul dari mulut saya dan teman saya. Sementara demi melihat itu, staf cowok yang rude tadi buru-buru minta maaf dengan muka malu. Persoalannya cuma satu : dia tidak mau mendengar penjelasan teman saya dan tidak memiliki keinginan untuk membantu mencari. Pokoknya paspor tidak ada di kami ! op zijn stuk blijven staan !!

Dan sekarang lihatlah ternyata paspor itu mereka simpan ! Teman saya pun kembali mengomeli staf itu. Meski paspor sudah ditemukan, tetapi kami rugi banyak karena kehilangan waktu dan ketinggalan bus ke Phnom Penh yang tiketnya berdua total USD 20. Kami pun komplain kepada perempuan tadi. Meskipun perempuan itu tidak senyum, tetapi dia sangat cekatan dalam memberikan solusi kepada kami. Seharusnya semua pegawai hotel seperti dia. Dia lalu meminta tiket kami dan menelepon agen perjalanan yang nomernya tertera di sana. Hanya dalam waktu tidak lebih 5 menit, kami sudah dipastikan mendapatkan tiket pengganti pada jam berikutnya dan tagihan akan dibayar oleh pihak hotel sebagai bentuk permintaan maaf. Alhamdulillah !


Tanpa berpikir banyak, kami langsung meninggalkan hotel itu dengan membawa note yang dibuat oleh perempuan tadi untuk diberikan kepada pihak agen perjalanan. Meskipun kami lega paspor selamat dan tidak merusak semua rencana kami, tetapi kejadian itu membuat kami lebih hati-hati untuk mengamankan paspor kami. Bagi saya, paspor adalah separuh nyawa saya di perjalanan. Mau ke WC-pun paspor tidak pernah lepas dari kantong celana saya. Serius. 

Kami memulai hari dengan buruk sekali kali ini. Tetapi semoga tidak akan merusak mood kami untuk penggal perjalanan berikutnya. So long Vietnam...Hello Cambodia !!

Next : Numpang Kencing di Phnom Penh, Selamat Datang Di Kamboja !

Friday, June 24, 2016

Mui Ne, Di Luar Dugaan (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 3)

Paling benar memang membuktikan dengan mata kepala sendiri, karena cerita orang atau tulisan di blog maupun situs travel tentang betapa bagusnya suatu destinasi kadang ternyata tak sesuai ekspektasi atau sebaliknya yang jelek menurut orang bisa jadi bagus menurut kita. Pun jangan percaya cerita saya sebelum Anda membuktikan sendiri :)

White Sand Dunes                     foto indah ini milik www.expatads.com
    

19 November 2015:
Pagi di Ho Chi Minh City (HCMC)...semua alarm sudah disetel supaya saya bisa bangun pagi. Hari itu adalah hari kedua saya dan teman saya berada di Vietnam. Kami sudah memegang tiket bus menuju ke Mui Ne. Sebenarnya masih ingin malas-malasan mengingat tenaga kami sudah terforsir sejak hari pertama. Tetapi kami tidak jauh-jauh ke Vietnam untuk tidur dan bermalas-malasan.
Pagi itu, sarapan di hotel disediakan oleh staf, seorang cowok yang masih muda yang tidak paham bahasa Inggris. Kami menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Saya meminta scrumble egg agak kering, karena saya tidak suka telur masih setengah matang, namun cowok itu kebingungan sampai harus menelpon temannya untuk datang dan menterjemahkan apa yang saya mau. Dia helpful orangnya, jadi saya mengapresiasi itu. Pagi itu sarapan saya adalah scrumble egg, masih ditambah baguette (roti Perancis yang panjang dan lebih gede dari pentungan satpam itu), minumnya ada teh, jus orange, kopi, silakan pilih. Menurut saya cukup istimewa mengingat saya biasa makan kelas angkringan.

Setelah selesai semua sarapan, kami bergegas menuju ke lokasi travel agent yang berada tepat di seberang taman tak jauh dari Pham Ngu Lao Street. Gampang mencarinya. Di sana juga berderet travel agent yang menjual paket tur hingga tiket pesawat, bus dan kereta. Setelah menunjukkan tiket kami kepada staf travel agent, kami diminta untuk masuk ke bus yang berada di seberang jalan mepet ke taman. Sekali lagi saya tidak terlalu suka dengan sleeper bus, tapi apa boleh buat memang nyaris semua bus ke Mui Ne yang longgar saat itu adalah tipe sleeper.

Kenapa saya tidak suka sleeper bus? Ini alasannya:
  • Posisi tempat tidur yang nggak nyaman. Kalau yang dapat bagian atas, udah nyaris nyundul atap bus. Baik di atas maupun bawah tetap tidak bisa menikmati pemandangan di luar dengan nyaman, apalagi di bagian bawah, hanya bisa melihat situasi luar semacam mengintip dari kolong, tampak bawah doang. Kondisi ini bagi turis asing akan sulit mengidentifikasi lokasi tempat kita akan turun. Ya kalau kita turun di tempat yang sudah pasti, semacam terminal, tidak perlu tengak tengok untuk melihat keadaan apakah sudah sampai atau belum. Nah, kalau kita turun di tengah jalan? Bahaya bisa bablas kalau nggak lihat situasi luar. Sepanjang perjalanan akan kesulitan mencari sekadar tanda kita sampai di mana. Bagi bule dengan ukuran tubuh tinggi besar dari rata-rata orang Asia, sleeper bus adalah mimpi buruk. Kakinya tidak bisa selonjor, harus nekuk sepanjang jalan. Mau duduk kepala kebentur atap...kasihan hahaha.
  • Harus copot sepatu atau sandal. Karena sudah pernah naik bus semacam ini, pagi-pagi dari hotel saya sudah simpan rapi sepatu di dalam tas. Pakai sandal lebih mudah. Kita masuk bus langsung disodori plastik kresek untuk menyimpang alas kaki.
  • Bau kaos kaki...konsekuensi dari harus melepas sepatu, maka tak jarang bau kaos kaki penumpang menyergap. Jadi siap-siap aja bawa pengharum ruangan :)
Bule yang duduk di depan saya ini tersiksa selama 6 jam :)


Kalau disuruh milih, saya sebenarnya milih bagian bawah. Tetapi hari itu kami mendapatkan tempat di bagian atas. Apapun kami mencoba menikmati perjalanan kurang lebih 6 jam ini. Tidak banyak yang bisa kami lakukan atau kami lihat, jadi kami memutuskan untuk tidur dan pasang head set. 

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, saya mulai melihat bau-bau pantai, dengan pohon-pohon kelapanya. Mui Ne adalah kawasan resort yang cukup terkenal di kawasan Vietnam bagian selatan, tepatnya berada di Provinsi Binh Thuan. Saat awal googling tentang Mui Ne, saya sudah sangsi bahwa saya akan menikmatinya. Kata-kata resort membuat saya harus melirik ke dompet. Saya juga banyak membaca bahwa lokasi yang dulu terasing ini, saat ini sudah beralih menjadi tempat istirahat para ekspatriat, orang-orang kaya, dan lain sebagainya. Tak heran di sepanjang pesisir pantainya berderet hotel-hotel jaringan besar maupun hotel kecil. Terus saya mau ngapain di sini dengan budget seadanya???

Oya, setelah masuk Phan Thiet yang merupakan kota terdekat dari pesisir, saya sempat diberitahu kondekturnya bahwa kami akan turun tepat di depan hotel yang kami booking. Saya sudah booking hotel di Mui Ne melalui www.booking.com. Ini sangat membantu, karena tiket bus akan mencantumkan lokasi hotel kita sehingga kita akan diturunkan di depan hotel seperti yang tertulis di tiket. Jadi saya pikir, kalau akan go show pasti repot sekali. Karena bisa saja kita diturunkan di sembarang tempat. 

Saya sudah booking kamar di Mui Ne Sports Hotel. Dapat rate cukup bagus sekitar Rp 350.000-an, dibayar urunan. Saat bus masuk ke satu jalan utama di pesisir pantai, penumpang satu persatu diturunkan di depan hotel yang berjajar di pinggir jalan. Lalu tibalah kami untuk turun. Saat lepas dari bus, masih bingung juga, di mana hotel kami. Lalu kami menemukan papan nama hotel, masuk ke dalam sekitar 50 meter ke arah pantai. Masuklah kami...dan inilah hotel kami....taraaaaa :





                                                     sumber foto-foto di atas: www.booking.com


Kaget aja dengan kondisi hotel yang saya booking. Gambar-gambarnya nggak nipu sama sekali. Persis plek. Bersih dengan cat putih, bangunan baru, lokasi hanya sekitar 20 meter dari bibir pantai. Kamarnya model minimalis yang dalam standar saya sangat bagus. Ada balkonnya, TV kabel, AC bagus, suara angin pantai yang kenceng masuk sampai ke dalam. Hanya satu hal, kami mendapatkan kamar di lantai tiga yang ke sononya naik tangga karena memang nggak ada lift. Tapi nggak apa-apa, sekalian olahraga.

Terus yang paling oke adalah staf-stafnya yang super ramah dan helpful. Nah, kami juga bertemu dengan pemiliknya langsung yang sangat low profile dan masih cukup muda. Dia yang membantu kami dengan menjelaskan apa dan bagaimana hotelnya. Malamnya kami bahkan kongkow ngobrol lama di pinggir kolam renang soal bagaimana dia merintis hotelnya. Oya, karena kami sampai di sana sudah sekitar jam 13.00 dan kami hanya semalam di Mui Ne, maka kami ingin memanfaatkan waktu benar-benar. Kami memutuskan ikut tur dengan jeep. Pihak hotel yang menguruskan semuanya. Harga tur cukup murah, karena kalau saya lihat di internet mahal-mahal. Jadi kita bisa mengambil private tour sekitar 5 jam dengan harga bervariasi tergantung jumlah orang yang akan dibawa oleh jeep dengan harga sampai USD 30 lho. Saya lebih memilih untuk bergabung dengan traveler lain dengan membayar USD 8, mengambil waktu siang itu juga dari sekitar pukul 14.00 - petang. Opsi lain, kita bisa memilih Subuh hingga Matahari bersinar. Jadi memang arahnya untuk mengejar sunset atau sunrise.

  • Ada juga persewaan motor sekitar USD 8- USD 12. Tetapi saya tidak menyarankan. Bukan soal jalannya ya....jalannya bahkan sangat bagus, lebar dengan pemandangan pantai. Tetapi polisi di sini nakal. Saya sebelumnya sudah membaca di blog-blog bule tentang pengalaman mereka ditilang polisi saat menyewa motor. Saya pikir ah itu cuma lagi sial. Eh ternyata tidak. Saat saya ikut jeep tour, beberapa kali saya lihat di pinggir jalan ada bule diberhentikan polisi yang berseragam cokelat khaki. Dan polisi ini mengintai di beberapa titik. Saya pikir ini tidak fair ya...mereka pasti dengan mudah menilang (atau memeras?) turis asing dengan alasan tidak punya SIM untuk mengendarai motor. Kalau pun saya punya SIM C untuk motor di Indonesia, apa juga berlaku di sana? Kan tidak. Jadi ya...saran saya, jangan sewa motor. Mending ikut jeep tour bareng beberapa traveler.
Balik lagi ke rencana ikut jeep tour, kami punya waktu sekitar sejam untuk bersiap. Sekadar beristirahat sebentar setelah 6 jam perjalanan dari HCMC. Tidak berapa lama, kami turun. Di luar sudah ada jemputan. Ada sekitar 7 traveler di dalam jeep yang kami tumpangi. Jeep kemudian melaju ke jalan besar di pesisir pantai (jalan satu-satunya). Tidak ada guide yang menjelaskan kepada kami. Mereka hanya bilang kami akan di bawa ke Fishing Village dulu.
  • Fishing Village : Sekitar 15 menit perjalanan dari hotel saya, kami tiba di satu titik di mana pemandangan ke lepas pantai cukup menarik. Kami semua diminta turun (tanpa tahu sedang di mana dan ini apa). Tetapi setelah itu kami ngerti juga, oh kami diminta menikmati pemandangan ini...yang memang bagus sih hihihi. Saya sebenarnya ingin lama-lama di sini. Tetapi grup saya ini kebanyakan bule-bule tua yang cuma melihat dari atas saja. Enggan turun. Praktis kami tidak lama-lama menikmati pemandangan indah ini. 
Fishing Village


  • Fairy Stream (Suoi Tien): Kata apa ya yang bisa menggambarkan lokasi ini? Ini semacam aliran sungai yang airnya jernih dan dangkal dengan pasir di dasarnya. Lalu di kanan kiri ada pahatan padas yang indah, sisi lainnya ada rerimbunan pohon bambu dan lain sebagainya. Nah, di atas pahatan itu ada juga semacam gurun pasir dengan warna pasirnya merah. Relaxing place di tengah udara panas yang rata-rata 27 derajat Celcius. Saya sangat menikmati lokasi ini. Oya, di sini kita juga bisa naik Burung Onta tapi berbayar. Untuk ke Fairy Stream sendiri nggak bayar. Awalnya saya juga bingung, ini mau ngapain ya...jeep kami berhenti di semacam gang yang di ujung gang itu ada semacam toko kecil dan banyak warga lokal duduk-duduk. Saya asal ngikut aja bareng traveler lain yang menuju ke arah tertentu. Melewati runah penduduk sebelum kemudian turun ke sungai. Dan orang-orang yang di ujung gang itu ternyata adalah para sopir jeep yang menunggu turis yang mereka antar.  Kami "dilepas" di sini sekitar 30 menit...oya, jangan takut, para sopir jeep ini ternyata saling kerja sama. Artinya, kalau ada turis grup kita ditunggu belum juga kembali, mereka akan dibawa oleh sopir lain. Jadi saat pergi dan saat kembali bisa jadi teman seperjalanan kita berbeda.
Fairy Stream

  • White Sand Dunes : kelar dari Fairy Stream, jeep membawa kami menyusuri jalur utama di pesisir pantai. Lumayan jauh dengan pemandangan sebelah kanan adalah lepas pantai...sampai kemudian kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Sebuah sand dunes, semacam gurun pasir luas yang berwarna putih. Sand Dunes kalau dalam bahasa Indonesianya adalah Gumuk Pasir. Di Yogyakarta kita juga memilikinya, di dekat Pantai Parangtritis. Sand Dunes merupakan bentukan alam karena proses angin, sebagai bentang alam. Angin dari pantai ini kemudian membawa pasir yang membentuk sand dunes. Demi melihat White Sand Dunes ini, saya yakin ini terbetuk beratus tahun. Magnificent !!! Saya sampai ngangaaaa...indah banget dan luasssss. Oya, dari tempat jeep berhenti, kita harus jalan kaki. Bagi saya tidak masalah, tidak jauh kok...meskipun iya memang puaaanaaas sampai wajah saya gosong (biasanya hanya hitam belum gosong wkwkwk). Pilihan lain adalah bisa naik all-terrain vehicle (ATV) yang tentu saja bayar. Saya ogah. Mending jalan kaki saja. Saya juga sudah banyak membaca saran mereka yang pernah ke sini, mending nggak usah sewa ATV...percuma. Karena kalau sudah sampai di "gurun pasir"-nya, susah juga mengendarainya. Kalau saya sih alasannya bukan itu, tapi sayang duit aja.
White Sand Dunes

Dan inilah highlight dari Mui Ne. Bagi saya, next stop apapun itu nggak akan bisa mengalahkan ini. Walaupun harus berpanas-panas kaki menginjak pasir, saya merasa pengorbanan ini layak banget. Jadi gurun ini sangat luas dan tinggi. Beberapa lekukan membuat pemandangan layer-layer yang luar biasa indah. Anginnya kenceng bangeeet...pasirnya putih bersih dan lembut. Maha Besar Tuhan Pencipta Alam !! saya ingin berlama-lama di sana kalau tidak mengingat wajah cemberut sopir jeep hahahaha. By the way...saya mungkin bisa bercerita dalam kalimat panjang lebar, tetapi saya jujur tidak pinter motret. Jadi saran saya, untuk membuktikan omongan saya bahwa White Sand Dunes layak dikunjungi, silakan googling image dengan kata kunci "White Sand Dunes" ....breathtaking !!  Wes...pokoke aku ke sini lagi juga mau.

Kami hanya sekitar 30 menit berada di sini. Nggak enaknya kalau ngetrip dengan orang yang bukan teman kita ya begini, anggota grup satu jeep udah balik duluan, sementara saya dan teman saya masih pengen berlama-lama. Alhasil, mau tidak mau kami balik ke pos kedatangan.

  • Red Sand Dunes : ini juga gumuk pasir, sebagai penutup jeep tour. Lokasinya searah jalan pulang (jadi tadi berangkatnya juga bakal melewati ini). Pasirnya berwarna merah, lokasinya lebih bising karena mungkin berada di dekat permukiman. Nah, banyak nih review buruk tentang lokasi ini karena banyak anak-anak yang menyewakan semacam papan untuk bermain seluncuran dari atas ke bawah. Mungkin keberadaan mereka mengganggu ya. Saya memang juga ditawari, tetapi saya menolak. Lokasi ini menurut saya masih kalah dengan White Sand Dunes ya...tetapi bagus juga kok. Di sini para turis diajak untuk berburu sunset. Saya? sudah kecapekan untuk naik...akhirnya malah nyari warung yang jual minuman. Sisanya cuma motret bayangan para sunset hunter hehehe. 
Red Sand Dunes yang cuma bayangan doang :)

Usai sudah jeep tour setengah hari. Kami kemudian diantar satu persatu menuju ke hotel masing-masing. Bagi saya, tur USD 8 tadi tidak buang-buang uang, sangat sepadan dengan duit yang saya keluarkan, tidak menyesal.

Petang itu, saya sudah pengen menciumi tempat tidur saking capeknya. Tetapi rencana tinggal rencana. Jauh-jauh ke Vietnam masak cuma mau numpang tidur. Setelah istirahat sebentar, mandi, malam itu saya nyari makan ke luar. Banyak tempat makan enak di sini, mayoritas menjual sea food. Harganya juga nggak mahal, cukupanlah. Yang menarik adalah, ada semacam food court yang tenant-tenant-nya adalah para bule. Mereka yang memasak dan melayani (dibantu orang lokal tentunya). Usut punya usut, ternyata kebanyakan adalah orang Rusia. Awalnya mereka berwisata, lalu mulai tinggal lama, lalu iseng-iseng usaha jual makanan. Nah, kata pemilik hotel tempat saya menginap, mereka buka restoran atau warung makan izinnya diatasnamakan warga setempat. Jadi ibaratnya hanya sebagai investor saja dan kadang-kadang ikut melayani. Dan menurut lidah saya, makanannya oke punya...

Next : Tragedi Paspor yang Raib....