Tuesday, August 22, 2017

5 Lokasi Pantai Terindah di Dunia, Indonesia Jawaranya

US News & World Report Travel Rankings dalam salah satu laporannya mengeluarkan daftar lima lokasi di mana terdapat pantai-pantai terindah di dunia yang bisa menjadi acuan para traveler dunia.

Dalam laporan yang didasarkan pada analisis ahli dan opini para traveler yang pernah menjelajahi pantai-pantai di dunia ini, mereka mengklaim hasil pemeringkatan ini tidak bias dan bisa menjadi informasi yang berguna karena bukan hanya sekadar sebuah opini personal dari editor mereka. Meskipun demikian mereka menyadari bahwa pengalaman traveling adalah sesuatu yang personal. Berikut lima lokasi pantai-pantai terindah di dunia:

                                                                          Foto: www.water-sport-bali.com

1. Bali : Pantai-pantai di Bali, Indonesia, dikukuhkan sebagai pantai yang paling indah di dunia. Selain pantai-pantai yang sudah dikenal seperti Pantai Sanur, Pantai Kuta, Pantai Pandawa hingga Nusa Dua, Bali juga memiliki pantai-pantai tersembunyi yang layak dinikmati traveler dunia.

Misalnya Pantai Padangbai yang hanya memiliki garis pantai 60 meter saja, di mana pelancong bisa menikmati snorkeling, kemudian juga ada Pantai Balangan di Jimbaran tempat pelancong melakukan surfing, atau juga Pantai Suluban adalah salah satu yang paling unik di Bali, disembunyikan oleh formasi batu kapur alami dan diakses melalui tangga dan celah sempit di batu karang. Kemudian ada Pantai Karma, Pantai Padang Padang, dan masih banyak pantai tersembunyi lainnya yang indah. Bali seperti sebuah jaminan akan liburan yang menyenangkan dan nyaris tidak pernah mengecewakan.


                                                                                 Foto: kindertravelguide.com

2. Amalfi : Di urutan kedua adalah Pantai Amalfi yang terletak di wilayah Campania, Italia. Sudah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO, mencakup 34 mil dengan medan yang megah, tebing-tebing indah, berdampingan dengan perairan Mediterania. Pantai dan 13 kota pantainya terhubung dengan sebuah jalur berkendara yang disebut paling indah di dunia. Dengan banyak resor mewah dengan santapan terbaik Italia. Kota Amalfi adalah republik maritim dari Italia yang paling tua, yang pernah menjadi pusat dagang di Mediterania.


                                                                                    Foto: www.best-beach.com
3. Oahu : Pantai Oahu adalah perpaduan kemewahan kosmopolitan dan pemandangan yang memukau dibanding tempat lainnya di Kepulauan Hawaii. Terletak di Central Pacific, di ibukota negara bagian Honolulu, pelancong akan menemukan sejumlah situs bersejarah dan budaya.

Pelancong bisa berkunjung ke North Shore untuk menikmati suasana pedesaan Hawaii, di mana mereka akan disuguhi air biru yang cemerlang dan berkelok-kelok di pantainya. Oahu memang memiliki kelebihan karena di sini tak cuma pantai, namun juga tempat kita menemukan budaya Hawaii, kemewahan, sekaligus kehidupan alam liar wilayah tersebut.




                                                                                   Foto: www.best-beach.com

4. Rio de Jainero : Posisi empat adalah Rio de Jainero. Dikenal sebagai Cidade Maravilhosa atau kota yang luar biasa, Rio de Jainero adalah kota metropolis di Brazil yang menawarkan pemandangan dramatis di hampir setiap sudutnya. Dari lereng Gunung Corcovado, Anda akan mengagumi Christ the Redeemer setinggi 125 kaki, yang menghadap ke pantai asli Rio, hingga dari tepi Pantai

Copacabana dan Pantai Ipanema, Anda akan mengagumi latar belakang gambar yang sempurna yang telah menarik Cariocas (orang asli Brasil yang lahir di Rio de Janeiro) dan pengunjungnya selama lebih dari 500 tahun. Di sini, kemewahan, gaya busana yang stylish, dan sikap santai mendominasi karakter kota. Berjalanlah di sepanjang Avenida Atlântica di Copa, dan Anda akan menemukan sebuah kota penuh dengan para beachwalker berpakaian bikini.


                                                               Foto: www.mauiphotographybyjen.com



5. Maui : Maui adalah pulau yang berada di Central Pasific, yang menjadi bagian dari Kepulauan Hawaii. Bagi banyak orang yang berkunjung ke Hawaii, Maui adalah pilihan utama karena tawaran keindahan pantainya, tempat snorkeling bersama lima jenis kura-kura laut yang berbeda, atau hanya sekadar bersantai di sepanjang pantainya.

Kebanyakan pelancong memilih bersantai di Pantai Wailea yang terkenal, atau juga ke Pantai Kaanapali. Selain tawaran pantai indah, pelancong juga bisa menjelajahi pesisir timur Maui yang indah, menjelajahi Haleakala – gunung berapi paling aktif di dunia, hingga berkunjung ke Iao Valley State Park mengenal suku asli di Maui.

Keterangan: 

Tulisan ini bersumber dari US News & World Report Travel Rankings, dan artikel ini dirangkum oleh penulis untuk dimuat di www.infonawacita.com.

Sunday, August 20, 2017

Jelajah Heritage: Kesederhanaan Candi Sambisari

Baru pertama kali saya menyambangi Candi Sambisari. Gara-garanya saya sering naik motor Jogja - Solo dan kerap melihat papan petunjuk di kiri jalan ke arah Candi Sambisari. Sampai suatu saat, saya iseng belokin motor mengikuti papan petunjuk tersebut.

Candi Sambisari mudah dicapai dari Jogja, sekitar 4,3 km dari Bandara Adisucipto. Petunjuknya gampang, dari Bandara Adisucipto lurus aja arah Solo. Paling mudah adalah menggunakan petunjuk gapura Kompleks TNI AU (ini satu-satunya yang paling mudah untuk petunjuk) yang posisinya ada di kanan jalan. Nah, di seberang pas nanti ada gapura jalan kampung dengan petunjuk ke arah Candi Sambisari, masuk aja sekitar 1 km. Lurus aja, nyebrang selokan Mataram masih lurus. Hingga ketemu kompleks Candi Sambisari.

Lokasi kompleks Candi Sambisari berada menjorok di dalam tanah.


Area kompleks Candi Sambisari sendiri berbentuk kotak persegi, dan berada di kedalaman yang saya belum nemu info berapa dalamnya. Bentuknya candinya sederhana tetapi terawat rapi. Dengan semacam tembok luar mengelilinginya. Kemudian tembok lapis kedua sebelum kita bertemu dengan tiga candi yang tidak sempurna, baru kemudian kita menemukan candi utama.

Dalam keterangan di lokasi, Candi Sambisari merupakan candi yang diperkirakan dibangun pada abad IX, yang terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi ini ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966. Saat itu sang petani tengah mencangkul tanah milik warga bernama Karyowinangun dan cangkulnya membentur batu ukir yang merupakan reruntuhan candi. Oleh Kantor Arkeologi kemudian dilakukan penggalian dan rekonstruksi yang selesai pada bulan Maret tahun 1987. 




Berdasarkan arsitektur dan bentuk ornamen, Candi Sambisari memiliki kemiripan dengan Candi Prambanan, yang berlatar keagamaan bersifat Siwaistis. Terdapat patung-patung Dewa Hindus, kemudian juga terdapat Lingga dan Yoni di dalam candi utama. Lingga adalah salah satu perwujudan Dewa Siwa, sementara Yoni adalah perwujudan dari Sakti yang merupakan isteri Siwa. 




Selain itu juga terdapat patung Durga Mahisasuramardhini (Utara), Ganesa (Timur), Agyasta (Selatan), serta Mahakala dan Nandiswara sebagai penjaga pintu.

Bila Anda suka arkeologi ataupun sejarah, candi ini patut untuk didatangi. Waktu saya mengunjungi candi ini kebetulan bulan Agustus di mana ada kebijakan untuk menggratiskan tiket masuk. Tetapi menurut informasi, di hari biasa tiketnya cuma Rp 2.000 (atau mungkin lebih?), yang pasti harga tiketnya masih ramah di kantong. Kalau bingung, dari Jogja bisa memakai Go-Jek, more less sekitar Rp 30.000-an. Lokasinya kira-kira di pertengahan dari Jogja ke Prambanan. 

Selamat menjelajah,

Ariy

Friday, August 11, 2017

Jelajah Heritage: Candi Plaosan Kidul - Klaten, Jawa Tengah

"Orang tua selalu berbicara soal masa lalu, anak muda selalu berbicara masa depan", itu yang saya ingat dari omongannya si Ajie, salah satu travelmate saya menjelajah Medan, Danau Toba, hingga Bukit Lawang. Sepertinya tepat sih, saya memang sudah tua hahahaha.

Saya selalu suka hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, sejarah, kota lama, barang antik, mantan...eh. Pokoknya apapun yang lawas dan mbladhus hihihi. Termasuk saya suka menikmati candi yang satu ini. Nggak cuma masa lalu dong, ini benar-benar masa yang sangat lalu.

Candi Plaosan, dua kali sudah saya ke sini. Tinggal nambah sekali bakal dapat hadiah sabun colek. Dua kali itu saya mampir sembari pulang dari Jogja menuju Solo. Kalau pas berangkat mampir nggak enak, musti muter. 

Di perbatasan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memang banyak candi. Tapi memang yang paling cantik adalah Candi Prambanan, baru kemudian (menurut saya) adalah Candi Plaosan ini. Yang ketiga adalah mantan. Candi Ratu Boko.

Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, dan masuk Kabupaten Klaten. Inget ya, Klaten...bukan Jogja. Lokasinya sekitar 4,2 km dari Candi Prambanan. Kalau dari Bandara Adisucipto Yogyakarta sekitar 16 kilometer. 

Candi Plaosan terdiri dari dua areal, yaitu Candi Plaosan Kidul dan Plaosan Lor. Yang jadi tujuan biasanya Candi Plaosan Kidul alias Selatan. Memang kalau dari arah jalan masuk, yang kelihatan langsung yang Candi Plaosan Kidul. Begitupun saya, ke sana ya selalu ke Candi Plaosan Kidul.



Sejarah soal candi ini simpang siur dan banyak versi. Saya nanya adik saya yang sarjana sejarah dan ikut komunitas pecinta sejarah pun juga bilang hal sama. Jadi memang soal keabsahan sejarah yang akan saya kutip bisa saja diragukan. 

Salah satu versi menyebut bahwa candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan pada jaman Mataram Kuno (Abad IX). Kalau mereka yang menjadi bagian generasi 90-an, pasti langsung "ting!" mendengar nama raja itu. Hehehehe. Iya, ingatan saya langsung terlempar pada sandiwara radio "Tutur Tinular" (Saur Sepuh ya? yang ada Rakai Pikatan?) hahaha. Tapi generasi millenials mungkin nggak ngeh, jadi lupakan.

Nah soal versi ini didukung oleh pakar, yaitu De Casparis, mengacu pada prasasti Cri Kahulunan (842 M). Menurut prasasti itu, candi ini dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan yang beragama Buddha. yang bergelar Pramodhawardani (puteri Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra). Nah, padahal kalau Mataram Kuno kan Hindu. Makanya tak heran ada representasi arsitektur dari Hindu dan Buddha di candi ini.


Dalam candi-candi Buddha terdapat kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil), nah itu pula yang ada di candi ini. Soal sejarah ini silakan Anda googling atau mencari referensi yang lebih valid, itu kalau memang ingin mempelajari lebih jauh.

Salah satu yang saya suka dari kawasan candi ini adalah tidak terlalu terkomersialisasi. Mungkin karena kalah pamor dari Candi Prambanan yang tak jauh dari lokasi Candi Plaosan. Nah, karena kalah pamor itu, tidak terlalu banyak pengunjung. Lebih enak untuk mengeksplorasi, motret-motret nggak terlalu keganggu.



Kawasan ini juga tertata sangat rapi. Selain candi-candi besar, terdapat sejumlah candi kecil, dengan lorong-lorong yang membuat imajinasi saya terlempar ke jaman masa lalu. Membayangkan ini sebuah kampung, kemudian ada jalan setapaknya dan sebagainya dan sebagainya. Ada satu areal yang dibangun seperti panggung dengan arca-arca mengelilinginya. 


Areal reruntuhan yang lumayan besar menurut saya justru memberi kesan magis. Keren. Oya, dua kali ke sini selalu pas weekend, dan alhamdulillah kondisinya selalu lengang. Mau motret tanpa bocor, bisa banget. Ini beda banget dengan Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang kalau kita motret (khususnya bagi saya yang amatir) selalu aja bocor ada pengunjung lain in frame. 

How to get there: Cara ke sini gampang. Untuk wisatawan yang stay di Jogja, naik aja TransJogja turun di halte Prambanan. Dari sini cari ojek ke Plaosan (karena masuknya lumayan jauh, jalan kaki gempor juga). Saya perkirakan ojek pangkalan sekitar Rp 15.000-an. 

Saya tidak tahu ada Gojek sampai sini nggak, tapi bisa dicoba untuk hunting Gojek. Kalau naik Gojek dari Bandara Adisucipto (16 km), sekitar Rp 33.000. Kalau naik motor sewaan, gampang. Sampai ke Candi Prambanan tinggal lurus aja arah Solo, nggak jauh sekitar sekilo mungkin ya...pokoknya nanti kiri jalan ada papan petunjuk untuk belok kiri ke Candi Plaosan. Nah, kalau udah masuk jalan ini, luruuuusss aja sampai nemu papan petunjuk lagi (kanan jalan). Kalau sudah nemu, belok kanan...maka ketemu sudah.

Tiket masuk berapa? Rp 3.000 perak tanpa tiket. Muriiiih, mengingat parkir motor aja Rp 2.000. Jam buka saya tidak tahu karena memang lokasinya sangat terbuka, berbeda dengan candi lain. Tapi ada pos satpamnya, jadi mungkin pagi-sore. 

Oya, di sini fotografer sering hunting sunset yang konon indah bener, mengingat sekitarnya adalah persawahan. Selain itu, Pemkab Klaten juga punya agenda tahunan Festival Candi Kembar. Pas saya ke sana, kanan kiri jalan menuju ke candi ini sudah terpasang spanduk jadwal festival ini. Saya lupa nyatet, monggo googling saja ya hehhehehe.

Selamat menjelajah :)

Ariy

Wednesday, August 9, 2017

Daftar Antrean Bikin Paspor Sekarang Bisa Lewat Whatsapp Lho...

Ada kabar baik nih, sejak 8 Agustus lalu bagi pemohon paspor bisa mendaftar antrean lewat Whatsapp lho. Ingat ya, mendaftar antrean, jadi bukan seperti kata teman saya ini:

"Alhamdulillah sekarang bikin paspor bisa lewat Whatsapp." Wooooo...makanya kalau baca informasi musti lengkap, jangan cuma judulnya doang hehehe.

Jadi begini, Direktorat Jendral Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM secara serentak meluncurkan sistem pendaftaran antrean pemohon paspor melalui Whatsapp di 26 kantor imigrasi di wilayah Indonesia, khususnya yang memiliki antrean pemohon paspor hingga 150 orang per hari. Seperti dikutip kantor berita Antara, ini terjadi di Jabodetabek, Yogyakarta dan Jawa Tengah.

                                                                                          Foto: liputan6.com

Kebijakan ini berlaku baik untuk pemohon paspor baru maupun perpanjangan paspor. Caranya bagaimana?  Mudah kok, tinggal mengirimkan data diri dengan mengetik #Nama #TglLahir #TglKedatangan. Contohnya begini:  #Ariy #02012001 #17082017 lalu kirimkanlah ke nomor 08 1111 00 333.

Nah setelah mendaftar, ntar akan ada balasan dari imigrasi berupa nomor barcode dan kode booking. Nomor ini di-replay untuk selanjutnya pemohon akan mendapatkan nomor antrean sekaligus jadwal untuk datang ke kantor imigrasi.

Imigrasi mengklaim dengan sistem ini akan lebih efisien dan masyarakat tidak perlu menunggu lama-lama. Mekanisme ini juga mencegah calo atau joki karena pendaftar wajib menggunakan nomor pribadi. Kode booking yang diperoleh saat mendaftar harus diperlihatkan saat datang ke imigrasi. Pemohon wajib datang 30 menit sebelum jadwal yang telah ditentukan.

Gimana kalau datangnya telat? kode booking kamu bakal hangus. Jadi harus mendaftar lagi. Nah, fair kan? Semua pendaftar juga jangan lupa membawa dokumen asli dan memastikan semua data diri pada dokumen identik dan sama. Sistem antrean ini tidak berlaku untuk permohonan untuk kasus paspor rusak atau hilang ya...

Salam,

Ariy

Nginep Simple dan Bersih ala Brothers Inn Babarsari Jogja (Review)

Ada teman saya yang suatu kali bertanya, kalau saya nulis review tentang hotel yang saya inapi gitu dibayar alias di-endorse nggak sih sama pihak hotel? Untungnya, sebagian besar saya tidak di-endorse sama pihak hotel. Saya bayar sendiri, dan tentu saja review saya akan lebih fair. Seingat saya, cuma sekali saya di-endorse oleh hotel, yaitu dari The Papandayan Hotel, Bandung. Selebihnya, bener-bener bayar dan penilaian independen.

Pertanyaan dia wajar, karena sekarang ini banyak review bayaran. Sah-sah saja bagi travel blogger di-endorse dan tidak dosa. Tetapi bagi dia sebagai pembaca yang ingin mendapatkan "kesaksian" yang jujur, kadang merepotkan. "Yang sering saya baca, kebanyakan penilaiannya jadi bias. Mungkin penulisnya nggak enak sama pihak hotel karena sudah mendapatkan kompensasi," ujar dia.

Bagi saya, sejujur-jujurnya "kesaksian", tetap aja itu subyektif dari kacamata penulis. Jadi memang kadang soal selera dan preferensi ini agak merepotkan dalam hal review. Panjang ya prolognya hahahaha...nggak, saya cuma ingin menggarisbawahi, soal selera ini semoga dipahami sebelum membaca review saya.

Seperti halnya saya sangat berselera dengan hotel yang minimalis dan kamar sempit. Ini soal selera, selain soal sayang aja bayar mahal untuk hotel hehehe. Yang lain pada ribut ingin kamar luas, kok saya malah cinta kamar sempit.

Nah, kali ini yang mewakili selera saya ini adalah Brothers Inn, di Babarsari, Yogyakarta. Pekan lalu saya menginap di sini dan saya membukanya dengan kata puas! Sebagai traveler on budget, anggaran menjadi pertimbangan saya untuk memilih hotel. Baru kemudian soal penampakan hotel, kemudian lokasi.

                                                                                              Foto: booking.com
Saya mendapatkan kamar ini dengan harga Rp 232.000 dari Traveloka. Kemudian karena saya memilih "bayar di hotel", harganya sekitar Rp 250.000 udah termasuk tax. Saya ambil juga karena penampakannya sepertinya menjanjikan.

Pertimbangan kedua soal lokasi. Babarsari adalah lokasi yang cukup saya kenal. Lokasinya belum masuk Jogja banget, tepatnya di Jl Babarsari 47, Yogyakarta. Kalau dari Bandara Adisucipto ke arah kota, sebelum masuk fly over Janti belok kanan (jalan samping Ayam Goreng Suharto masuk aja) atau muter dulu di bawah fly over. Lokasinya juga di sekitar kampus-kampus...beuuh...banyak banget resto, coffee shop, distro, warung burjo, Indomart, Alfamart (sampingnya pas juga lagi dibangun supermarket ini). Belum lagi deket dengan Sahid J-Walk dan J-Walk Mall. Ke Ambarukmo Plaza (Amplaz) pun juga tak jauh, meski tak sepelemparan kolor (kata temen saya, frasa "sepelemparan kolor" wajib ada di setiap tulisan saya).

Cara ke sana bagaimana? Sejak ada Gojek atau transportasi online lainnya, sepertinya paragraf tentang "how to get there" harus dihilangkan.

Sekarang mari kita ubek-ubek dalemannya. Saat tiba, proses check in sangat mudah. Tetapi saya lihat resepsionisnya kayaknya baru. Jadi kurang lancar dalam memproses, meski bagi saya sama sekali bukan masalah. Misalnya nih, cara menggesek kartu dia masih bingung, terus dibetulkan temannya (supervisor?). Lalu saat saya harus membayar deposit Rp 50.000, saya tidak mendapatkan tanda terima. Saya "oke" saja, tetapi saya pikir ini nanti di belakangnya bermasalah nggak ya? So far, proses check in cepet.

Saya dapat kamar 202, harga itu sudah termasuk dengan sarapan. Lift  tidak menggunakan access card system, hanya untuk pintu kamar saja. Pas masuk, saya lihat kamarnya emang sempit, luasnya 15 meter persegi. Tapi bagi saya cukup nyamanlah. Single bed mojok di deket jendela yang menggunakan gorden tarikan ke atas bawah itu (nggak tau namanya hehee). View-nya lumayan.

                                                                               Foto: dari Xiaomi Redmi-ku

Begitulah penampakannya. Bantal satu, dengan bed sepertinya masih baru, karena kayaknya ini hotel juga baru. Colokan listriknya di dekat bed komplet lho, satu colokan kaki dua dan satu colokan kaki tiga ada di sisi bed. Satu colokan kaki dua di meja mungil itu. Dua botol air mineral ukuran small, dua gelas, TV kabel dengan channel internasional yang...entahlah, saya hanya suka FOX Movie, lainnya tidak menarik.

Bagusnya, meski kamar sempit, tetapi karena penataan interiornya tepat, maka masih ada ruang cukup (di depan meja itu) untuk ibadah salat bagi muslim. Kelengkapan lainnya? lemari terbuka, dengan satu hanger baju dan rak (dua?). Tidak ada brankas barang berharga, tidak ada sandal hotel.

Lari ke kamar mandi, ada toiletries standar yaitu satu sabun hotel bulet sama satu botol kecil sampo, sikat gigi dan pastanya sebiji. Handuknya cuma satu (warna cokelat, kali biar nggak cepet kotor). Di sini juga ada colokan lagi. Shower-nya oke, hanya saja saya sempat kebingungan dengan krannya, biasanya untuk air panas kran digeser kanan (warna merah), dan dingin ke kiri (warna biru). Tetapi saya kurang memperhatikan warna, ternyata memang posisinya dibalik, yang panas ke kiri. Di sesi mandi pertama saya melewatkan air panas hehehehe. Sesi mandi berikutnya baru ngeh.

Saya tidak mengerti soal bangunan, tetapi yang saya tahu, suara luar sangat jelas terdengar sampai kamar. Untungnya saya bukan tipe orang yang tidak bisa tidur kalau nggak tenang. Mau seramai pasar malam ya hayuk aja...ngorok tetep.

Untuk sarapan, saya keluar jam 07.00 WIB. Yang terhidang saat itu adalah sayur sawi (wuenaaak) serta telur balado (telur rebus lalu digoreng dengan bumbu), kerupuk udang kecil, udah itu aja makanannya. Minuman ada kopi, teh atau air putih. Buahnya semangka. Tanggapan saya? Alhamdulillah, biasanya nggak dapet sarapan malah hehehe.

                                                                                               Foto: booking.com
Oya, Wifi-nya lumayan kenceng. Secara umum, saya memberikan 8 (dalam standar saya sebagai traveler on budget ). Kalau ke Jogja, tentu saja saya akan dengan senang hati untuk datang ke sini lagi.

Nah, bagian check out ini saya kan mau ambil deposit, eh masnya yang orangnya sama saat saya check in mendadak amnesia "Bisa minta tanda pembayaran depositnya Pak?" Badalaaaa...kemarin saya sudah ingatkan lho. Sekarang kok diminta.

Spontan saya jawab, "Lha kemarin saya minta nggak dikasih, Mas. Katanya nggak apa-apa nggak usah." Untungnya masnya nggak ngeyel, jadi proses ambil deposit dan check out berjalan lancar dan cepat.

Kalau Anda orangnya nggak rewel dan nrimo kayak saya hahaha, hotel ini nyaman dan simple, dan bersih...kata terakhir ini yang saya suka. Kelemahannya bagi traveler adalah memang lokasinya tidak di tengah kota, tetapi bukan di pinggir yang sepi gitu juga. Monggo kalau mau mencoba. Semoga berguna ya pengalaman saya ini :)

Salam,

Ariy 

Friday, March 10, 2017

Review Film Trinity, The Nekad Traveler (waspadalah: mengandung spoiler)

Film Trinity, The Nekad Traveler  sukses membikin saya login kembali ke blog ini, setelah sekian tahun (serius, saya lama tidak update blog ini, mungkin hampir dua tahun ini on-off nggak jelas, dua bulan kadang hanya posting satu!). Tapi tangan saya gatal untuk segera menulis review dan saya tidak punya media lain yang lebih pas selain di blog. Akhirnya ngeblog lagi deh gara-gara Trinity!

Jadi banyak yang sudah tahu saya berteman dengan Trinity. Saya mengenalnya sudah sekitar delapan tahun karena kami berada di bawah penerbit yang sama. Kami dulu sering melakukan talkshow bareng di beberapa kota. Pernah jalan bareng juga. Pernah sekamar berdua (waks!), tetapi setelah itu lebih banyak terhubung via group Whatsapp. Saya ingin memulai review dengan kejujuran ini, supaya kemudian tidak ada yang bisik-bisik di belakang "ah elu kan emang temennya"...berpikir saya tidak fair...subjektif...dan lain sebagainya. Tapi apapun, saya yakin tidak ada sebuah penilaian atau review yang benar-benar objektif juga. Semua soal selera, soal minat, soal kata hati kan? Jadi mari dibawa santai saja kayak di pantai...yuk mulai...

Saya nonton film ini tanggal 7 Maret, saat Gala Premiere di Solo Paragon Mall, Solo. Dapat jatah enam tiket dari Trinity. Saya bawa tiga teman yang selama ini aktif di kegiatan grup jalan-jalan yang saya bentuk, serta dua teman wartawan yang nyaris tidak peduli dengan jalan-jalan atau mengenal sosok Trinity. Di acaranya, saya ketemu dua orang teman travel blogger lainnya.

Tiga teman yang aktif jalan-jalan dan saya sudah membaca buku-buku The Naked Traveler tentunya. Dua teman wartawan, mereka belum pernah membaca buku-buku Trinity. Kami berangkat dengan misi yang sama: bersenang-senang dan akan menikmati filmnya.

Bagi saya pribadi, saat akan melihat film yang berdasarkan buku, saya berusaha melepaskan diri dari bukunya. Saya tidak ingin membandingkan secara sengaja. Kalau pun kadang saat menontonnya tiba-tiba ingat bukunya, itu terjadi begitu saja. Kenapa saya tidak ingin membandingkan? Karena bagi saya, buku dan film adalah produk yang berbeda. Kalau kemudian hasilnya beda ya harus maklum. Buku sepenuhnya kuasa sang penulis, film lebih ribet karena menjadi sebuah proyek gotong-royong antara sutradara, penulis skenario, penata artistik, belum lagi campur tangan pemodalnya yang tentu akan dominan, dan lain sebagainya...dan lain sebagainya. Bahkan kadang si penulis bukunya tidak terlibat lagi ketika sebuah buku beralih rupa ke dalam film. Selain itu, saya pikir ada aspek-aspek teknis lain yang musti dipenuhi dalam mewujudkan sebuah film dan tidak ada dalam produksi sebuah buku. Selain juga ada resep-resep berbeda dari sisi marketing. Salah satu yang paling gampang menurut saya adalah di film harus ada romance. Apalagi kalau target penontonnya remaja. Duh, resep Hollywood wajib dimasukkan: romance !

Nah, dengan semangat itu, saya mencoba untuk membersihkan pikiran dari banyak prasangka sebelum nonton The Nekad Traveler. 

Tetapi, tak urung, sempat juga terpikir beberapa hal, apa yang akan muncul dalam film The Nekad Traveler ya? Karena setahu saya, di bukunya, Trinity ini nggak  keliatan ada romantis-romantisnya. Semua tentang bagaimana dia mengeksplorasi sebuah destinasi dengan segala kisah di dalamnya dan serunya cara mencapai ke sana, Nyaris tak pernah menyentuh remeh temeh soal cinta di bukunya. Dia juga pernah bilang suka ngilu baca novel romantis. Bahkan, buku keroyokan kami TraveLove, semua bicara cinta lawan jenis, dia sukses nyuri perhatian ambil betapa cintanya dia pada sang ayah. Nah, lho! Jadi mau bicara cinta seperti apa di filmnya? Itu kalau bicara cinta ya...

Saya juga membayangkan, menjadikan buku The Naked Traveler  ke dalam film adalah suatu kerja keras dari awal. Karena The Naked Traveler itu plotnya pendek-pendek. Mau dijadikan cerita panjang dibutuhkan rekonstruksi dari awal. Membangun benang merah yang tentu tidak bisa dibikin-bikin karena bukunya berdasarkan kisah nyata perjalanan penulisnya. Belum lagi destinasi di bukunya Trinity itu seabrek dan jauh-jauh. Nggak tekor tuh produser kalau bener-bener merealisasikan? at least 30 persen destinasi di buku aja udah berat. Jadi filmnya akan seperti apa?

Karena capek mikir, saya memutuskan untuk duduk manis di bioskop dan tidak perlu rewel banyak tanya. Lalu jeng-jengggg.... wajah ayu Maudy Ayunda tiba-tiba memenuhi layar bioskop. Memperkenalkan dirinya. Ayuneeee...rek !! Lalu mengalir dengan gambaran aktivitasnya sebagai mbak-mbak kantoran dengan pilihan-pilihan sulit antara memilih pekerjaan kantor atau jalan-jalan. Mbak-mbak yang suka dadakan memanfaatkan waktu liburnya yang sempit sebaik-baiknya demi libido travelingnya. Lalu tiba-tiba, sudah berada di Lampung. Bertemu seorang newbie traveler dan berkisah tentang beda traveler dan turis. Naik ke anak Krakatau, balik lagi ke Lampung dan bertemu dengan Paul (Hamish Daud)...karakter yang sudah saya tebak akan disisipkan untuk memenuhi "resep Hollywood" tadi. Kepala saya masih "tuing-tuing" muncul tanda tanya.

Perkenalan antara Paul dan Trinity sangat kaya di gambar, tapi miskin di dialog. Agak garing saat Paul tanya Trinity, "Kamu traveler?" dan diiyakan, lalu Paul juga menegaskan "Saya juga traveler". Setahu saya, seorang yang bener-bener suka traveling tidak akan mengklaim dirinya traveler juga.

Tapi dimaafkan gara-gara adegan berikutnya yang dengan spontannya Trinity nanya Paul "Boleh minta nomor kamu nggak?" Hahahaha. Itu dialog biasa tapi sumpah bikin ngakak. Saya nonton ini berasa Trinity sesungguhnya ngejogrok di depan saya. Di kehidupan sesungguhnya, dia itu suka tanpa tedeng aling-aling kalau ngomong. Suka nyeplos. Sampai saya kalau ketemu suka deg-degan. Kali ini bakal ditodong Trinity pertanyaan apa ya? Kira-kira bisa jawab gak ya?

Yang follow Twitter Trinity masih ingat dong gimana kalau dia balas pertanyaan tentang itinerary atau hal-hal teknis terkait traveling: "Googling!" Hahahaha. Itu dia banget!


Sampai di sini, saya melihat Maudy mulai kerasukan Trinity. Tetapi sampai di sini pula, saya belum tahu mau dibawa kemana ini plot. Apakah akan ngubek-ubek cinta-cintaan Trinity-Paul atau bagaimana? Dan sejujurnya, di titik ini, saya belum merasa terhibur. Gambar-gambarnya emang indah sih. Dan berhasil bikin teman di samping saya mulai berbisik "Kayak film dokumenter".

Tapi demi Trinity, saya sabar kok. Kan baru beberapa menit film main. Nggak boleh main prasangka dulu. Dan benar saja, berikutnya harapan saya mulai membumbung. Entah kenapa, penampilan Farhan dan Cut Mini sebagai bapak dan ibunya Trinity yang cuma sekian menit saja itu malah jadi appetizer sesungguhnya. Bukan Hamish bukan pula Maudy. Bahkan Cut Mini tanpa dialog panjang aja sudah bikin geli. Tampangnya, yak ampun...plonga-plongo kalau kata orang Jawa hahaha. Mohon maaf, ini penilaian bukan merujuk pada sosok Ibu-nya Trinity yang diperankan oleh Cut Mini. Tetapi saya mengenal sosok Cut Mini dalam beberapa film memang sudah lucu.



Dan setelah itu, seperti tidak terkontrol, film ini membuat mata saya nggak jadi ngantuk karena ada Ayu Dewi yang berperan sebagai Bu Boss-nya Trinity, serta munculnya dua temen Trinity si Yasmin dan Nina, serta sepupunya yaitu Ezra yang diperankan Babe Cabita. Dari sinilah kemudian plot mulai terlihat bangunannya. Rencananya tiga sahabat dan satu sepupu ini mau backpacking  ke Filipina, selain bagi Trinity sendiri perjalanan tersebut adalah ajang pembuktian diri serta misi merealisasikan bucket list-nya. Tetapi belakangan baru sadar kalau cuti Trinity habis. Dari sinilah kemudian konflik dibangun.

Konflik pertama adalah Trinity vs Bu Boss, konflik kedua Trinity vs Travelmates-nya. Di antara konflik inilah muncul kembali Paul (yang kemudian jadi konflik ketiga). Setidaknya tiga layers itu yang saya tangkap sebagai jalan untuk menyampaikan "pesan" sesungguhnya dari film ini.

Yang pasti, kebanyakan konflik itu diselesaikan dengan cara lucu yang bikin ngakak. Ada bagian saat backpacking  di Filipina kalau dibikin lebih gila lagi, pasti bakal seru. Saya sudah membayangkan road trip ala Film Hangover. 

Hanya di bagian Paul yang menurut saya agak bikin ngantuk. Untungnya, Maudy di bagian itu lagi cantik-cantiknya hehehehe. Impas.

Saya nggak mau cerita apa dan bagaimana konflik diselesaikan. Nanti kebanyakan spoiler. Yang pasti, banyak pertanyaan-pertanyaan saya terjawab. Tentang akan menjadi seperti apa buku The Naked Traveler dialihrupa ke dalam film. Well, jawabannya ini sebenarnya film tentang Trinity. Bukan film tentang buku The Naked Traveler. Bila sudah begitu, tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana membentuk cerita panjang. Karena bagi saya, sosok Trinity itu sendiri adalah kisah seru yang tidak akan habis kalau diceritakan. Dia adalah sosok inspiratif, lebih dari cukup untuk diambil kisahnya jadi materi sebuah film. Mau dibikin sekuel kedua? Tinggal ambil pas dia ambil S2 atau keliling dunia. Mau diambil sekuel ketiga? Tinggal nunggu dia menemukan pasangan jiwa dan menikah...eh...nganuh...

Sekadar poin-poin yang gatel banget ingin saya bagi juga:

1. Maudy aura cantiknya keluar banget. Dia sudah berusaha cukup keras untuk mendalami karakter Trinity dan patut diapresiasi. Dalam beberapa scene dia berhasil bikin saya sontak mikir "Ini Trinity banget!"

2. Hamish Daud, penting nggak penting. Tapi untuk pertimbangan tertentu saya tidak mempersoalkan kehadirannya. Secara akting so..so aja sih karena karakter yang dimainkannya kan emang adem tanpa emosi. Secara "kehadiran", iya...pasti dia bikin cewek-cewek muda berbondong-bondong ke bioskop dan jejeritan "Babaaaang...Babaaang." Dan menurut saya, itu bukan kontribusi yang kecil bagi kesuksesan film ini secara jumlah penonton nantinya.

3. Ayu Dewi dan Babe Cabita stealing the show. Karakter asli keduanya emang udah seru. Asal dikasih dialog-dialog yang pas aja, sudah...keluar gilanya !

4. Gambar-gambarnya memanjakan mata. Khususnya Ramang-ramang Makassar dan Karst Maros. Sukses bikin ngiler.

5. Dan terima kasih yang sebesar-besarnya telah memasukkan "Satu Bintang di Langit Kelam"-nya Rida Sita Dewi yang dinyanyikan ulang Maudy sebagai soundtrack film ini. Sungguh ini membayar beberapa komplain saya di awal tulisan tadi. Hehehehe.

Selepas nonton Gala Premiere, pukul 02.04 WIB saya sudah dijapri Trinity di Whatsapp  dengan dua pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini pula yang saya sebar ke teman saya lainnya yang ikutan saya nonton Gala Premiere. Inilah jawaban-jawab kami:

Pertanyaan Trinity: 

- Satu kata yang menggambarkan film The Nekad Traveler menurut kamu?
- What do you take from The Nekad Traveler ?

Saya: 
  • Fun
  • Sejak masih muda, kamu tahu benar siapa dirimu dan apa maumu. Visioner. Dan pesan ini penting bagi anak muda sekarang. Mungkin itulah real passion. Bukan melakukan sesuatu karena ikut-ikutan teman, atau ikut-ikutan tren.
Wida (wartawan, belum pernah baca buku TNT atau mengenal Trinity):
  • Inspiratif
  • Menginspirasiku untuk melihat indahnya Indonesia dengan keberagamannya.
Inoel (wartawan, belum pernah baca buku TNT atau mengenal Trinity):
  • Menghibur...hahahaha (lebih dari satu kata ya?)
  • Kalau soal travelingnya, aku kurang ngerti. Tetapi aku lebih melihat pesan-pesan soal friendship dengan segala ego yang menyertainya. Gitu aja sih.
Joko (hobi baca buku, sudah baca TNT, giat di aktivitas literasi):
  • Amazing
  • Bikin semangat kerja untuk dolan.
Yona (Mbak-mbak kantoran yang hobi traveling. Sudah baca buku TNT):
  • Dunia itu indah (lho kok korupsi dua kata).
  • Pesan film ini, jangan cuma di rumah saja.
Yoga (pelajar SMA, sudah baca buku TNT):
  • Awesome
  • Mumpung masih muda rugi kalau nggak traveling.
Aji (travel blogger, sudah mengenal sepak terjang Trinity):
  • Kentang !!
  • Nanggung. Apalagi buat yang sudah baca bukunya sampai akhir. Harus ada sekuelnya sih. Kemasannya bagus. Beberapa adegan lucunya juga asik, gak garing. Anyway, tolong tanyain ke Trinity, itu mantan bosnya kalau lihat filmnya gimana? aku yakin pasti kesel banget lihat dirinya diperanin Ayu Dewi hahahaha.
Begitulah. Meskipun banyak spoiler-nya, tetapi saya yakin yang selama ini udah baca buku TNT masih akan penasaran dan berlanjut nonton keseruan filmnya. Btw, semoga saya sudah terlihat cukup fair dalam memberikan review. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Trinity "You can't please everyone."  Yess, setuju...semua kembali ke masing-masing (selera) penonton. Apapun, saya sudah bangga dengan pencapaianmu, Mbakyu !

Salam,

Ariy and the gank 



Thursday, September 22, 2016

Serunya Menyeberang Perbatasan Antarnegara (Crossing Borders)

Pengalaman melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat bagi saya adalah pengalaman yang rasanya ngeri-ngeri sedap.
                                                                                      foto: sanfelipe.com.mx

Ngeri karena saya selalu waswas akan mendapatkan persoalan, sedap karena memang biasanya di perbatasan antarnegara ini akan muncul pengalaman seru. Lebih seru lagi karena biasanya backpacking dengan melintas suatu negara melalui jalur darat akan banyak temennya dari negara-negara lain.

Berikut beberapa pengalaman saya melintas perbatasan dua negara melalui jalur darat. Semoga pengalaman yang sedikit ini bisa memberikan gambaran bagi Anda yang pengen mencoba keseruan traveling melalui jalur darat (overland). Ini hanya sekadar sharing pengalaman gambaran lintas perbatasan, karena banyak hal yang sudah berubah sekarang ini, termasuk lokasi yang pindah. Anda pasti akan memiliki cerita sendiri bila ingin mencobanya. 
  • Perbatasan Singapura - Malaysia: melintasi perbatasan Singapura - Malaysia adalah pengalaman pertama saya lintas batas negara. Itu juga saya lakukan saat saya ke luar negeri pertama kali, yaitu di tahun 2009. Waktu itu tidak terlintas ketakutan sama sekali, karena lebih banyak rasa penasaran dan senengnya mengingat baru pertama kali menginjak negeri orang. Saya menggunakan transportasi kereta, yaitu KA Senandung Malam No 12, yaitu dari Stasiun Kereta Api Tanjong Pagar Singapura yang berada di Keppel Road (sejak 1 Juli 2011 berhenti beroperasi dan pindah ke Stasiun Kereta Woodlands) - menuju ke KL Sentral Train Station, Kuala Lumpur. Dengan percaya diri beli tiket kereta secara go show. Harga tiket waktu itu 34 SGD (kurang lebih Rp 230.000,- kurs saat itu), sementara kalau dari Malaysia - Singapura pake kurs ringgit yang jatuhnya cuma seratus ribuan. Di Tanjong Pagar ini ada petugas imigrasi dari Malaysia, serta ada juga petugas imigrasi Singapura. Saat kita akan naik ke gerbong kereta, bawaan kita akan dicek...backpack saya dibuka, dikeluarin semua isinya...duuuh padahal susah packing-nya, lalu dicek satu-satu barang apa yang kita bawa, setelah dirasa beres dan nggak ada yang mencurigakan diserahkan kembali ke kita. Maka akan tampaklah pemandangan para calon penumpang melipat baju dan menata satu-satu untuk dimasukkan ke dalam koper atau backpack. Sudah seperti penjual baju di pasar malam menggelar lapak dagangan. Petugas imigrasi di titik ini tidak akan menyetempel paspor kita, tetapi hanya memberikan tanda bahwa kita masuk ke Malaysia menggunakan kereta api. Terus pemeriksaannya di mana? Kereta akan membawa kita ke Woodlands Train Checkpoint. Nah di sinilah penumpang akan keluar dari kereta, mengantri untuk distempel imigrasi Singapura dan secara sah kita keluar dari Singapura. Secara umum, melintasi perbatasan Singapura - Malaysia melalui jalur darat sangat muda bagi saya. Tidak ada pengalaman serem sama sekali. Cuma pas packing pengecekan barang bawaan sebelum masuk ke kereta aja yang bikin deg-deg seerrrr saking banyaknya antrean dan terus liat jam karena kereta akan segera berangkat. Karena saya nggak bawa barang-barang aneh, ya lancar saja.
  • Perbatasan Thailand - Myanmar: Dua kali saya melintasi perbatasan Thailand - Myanmar yaitu tahun 2009 dan 2011, tepatnya di ujung utara Thailand atau di ujung selatan Myanmar. Border town -nya untuk sisi Thailand adalah Mae Sai, kota kecil yang berada di Provinsi Chiang Rai (paling utara), sementara sisi Myanmar adalah Tachileik, keduanya dibatasi oleh sungai. Yang serem di sini sebenarnya bukan di pemeriksaan imigrasinya, tetapi lebih pada pemeriksaan tentara di daerah Thailand sebelum memasuki kota perbatasan. Dua kali distop pemeriksaan tentara dengan senjata lengkap yang masuk ke dalam bus-bus yang menuju kota perbatasan. Gayanya songong dan diserem-seremin (emang serem sih hehehe). Tetapi kalau kita pegang paspor, aman kok. Pengalaman ini pernah saya tulis di buku The Naked Traveler Anthology-nya Trinity yang seri pertama. Pemeriksaan memang dilakukan untuk merazia imigran gelap dari Myanmar. Bagi sebagian warga Myanmar, menyeberang ke Thailand adalah bagian dari "Thailand Dream" untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Kalau sudah sampai di kota perbatasannya sih aman saja. Nah, begitu sampai di kota perbatasan Mae Sai, kita masuk ke pemeriksaan imigrasi di Thailand, lalu tinggal nyeberang aja jembatan dengan jalan kaki, lalu akan tampak gapura warna biru (entah kalau sekarang sudah dicat warna lain). Di sana akan semacam pos ronda kecil yang ternyata adalah itulah pos imigrasi di mana paspor kita akan dicap dan ditinggal. Lha kok ditinggal? ini juga sempat membuat saya khawatir, karena kalau jalan ke luar negeri saya paling ogah berpisa sama paspor. Tetapi setelah diberi penjelasan, akhirnya saya mengerti. Di perbatasan ini mereka hanya akan memberikan waktu sehari hingga 14 hari, dengan syarat paspor ditinggal di imigrasi. Beuuh...serem kali kalau harus berpisah dengan paspor 14 hari. Lagian mau ngapain di Tachileik 14 hari. Saya memilih seharian aja jalan-jalan di sini. Sebelum kemudian keluar lagi di sisi lain pos imigrasi, lalu mengambil paspor kita yang sudah distempel Myanmar lalu masuk ke pos di mana ada imigrasi Thailand untuk stempel masuk ke Thailand. Proses di imigrasi sangat mudah dan cepat dan serem karena berhadapan dengan tentara bersenjata lengkap. Di sini, mata uang Baht maupun Kyat Myanmar dua-duanya dihargai, jadi bisa digunakan dua-duanya. Perbatasan ini juga paling populer sebagai lokasi untuk memperpanjang izin tinggal atau bisa disebut Visa Run. Artinya, misalnya nih saya kan WNI, mendapatkan izin tinggal gratis selama 30 hari di Thailand, nah di hari terakhir saya tinggal menyeberang saja ke Myanmar, mau sejam dua jam nggak masalah, lalu kembali ke Thailand...nah saya akan mendapatkan izin tinggal baru lagi selama 30 hari berikutnya. Begitu.
  • Perbatasan Vietnam - Kamboja : Kota perbatasan untuk sisi Vietnam adalah Moc Bai, sementara untuk sisi Kamboja adalah Bavet. Saya menyeberangi perbatasan ini dari Moc Bai menuju Bavet dengan menggunakan bus yang membawa saya dari Ho Chi Minh. Ini adalah perbatasan yang paling populer untuk lintas Vietnam - Kamboja, meskipun ada dua perbatasan lain yang bisa dilalui menggunakan jalur darat dan jalur sungai. Tetapi perbatasan Moc Bai - Bavet inilah yang digunakan bus-bus utama penghubung Vietnam-Kamboja. Moc Bai berada di Provinsi Tay Ninh, sementara Bavet berada di Provinsi Svay Rieng. Tetapi sebenarnya, identifikasi kota-kota perbatasan ini tidak terlalu berguna karena kita bahkan tidak menyadari kita sedang berada di mana. Semua sudah diurus oleh operator bus, kita duduk manis, nyerahin paspor, turun di gedung perbatasan, lalu dapat stempel in - out Vietnam dan Kamboja...lalu taraaaaa....kita sudah sampai di Kamboja. Kebanyakan pelintas batas di sini adalah warga Vietnam dan Kamboja, bolak-balik. Kalau turis emang banyak juga, tetapi tidak terlihat antrean sebanyak warga lokal mengingat semua sudah diurus operator bus. Bagi saya ini sedikit menguntungkan karena tidak ada masalah, tetapi di sisi lain kurang seru juga, ibarat cerita...kurang unsur dramanya wakakakaka. Oya, di sini masih bisa sih pakai mata uang Vietnam Dong, tetapi karena sudah saya habisin pas di Ho Chi Minh dan hanya sisa dua lembar untuk koleksi, akhirnya dengan rela hati saya kencing di toilet imigrasi dengan bayar pakai US$ 1. Iyak benar sodaraaa...kencing seharga Rp 13.000 !! Hahahaha...welcome to America  Cambodia !!
  • Perbatasan Kamboja - Thailand : Bagi saya perjalanan lintas negara paling seru dan sedikit melelahkan adalah saat melintas batas Kamboja - Thailand. Saya berangkat dari Siem Reap dengan menggunakan bus yang tiketnya saya beli seharga US$15. Ingat, harga itu akan membawa saya sampai ke Bangkok. Jarak antara Siem Reap ke kota perbatasan Kamboja - Thailand yaitu Poipet adalah 152 km atau kalau perjalanan darat sekitar 3 jam. Opsi dari Siem Reap ke Poipet adalah menggunakan taksi, tapi mehong booo...US$25 !! Bisa langsung jatuh miskin kan...pulang ke Indonesia ngesot. Awalnya saya akan mengambil opsi naik bus atau apapun ke Poipet lalu nyebrang perbatasan - naik kereta api dari Aranyaprathet (kota perbatasan di sisi Thailand) ke Bangkok. Tetapi kemudian batal, karena hanya ada kereta pukul 06 pagi dan jam 2 siang, yang pagi nggak mungkin kekejar, sementara jam 2 siang nunggunya lama dan menghabiskan waktu. Padahal harga tiketnya murah hanya 48 Baht atau sekitar US$ 1.6 saja! seru kan kalau bisa kereta-keretaan. Opsi bus akhirnya saya ambil, berangkat dari Siem Reap dini hari, subuh sudah sampai di Poipet. Suasana masih gelap...dengan wajah-wajah bantal mayoritas bule di bus saya. Oya, bus yang saya tumpangi ini adalah bus tua tapi cukup nyaman dan pakai AC. Untuk perjalanan 3 jam dari Siem Reap ke Poipet cukuplah. Bus ini menjemput saya di depan lokasi agen travel penjual tiketnya di Siem Reap. Nah, di dalam bus sebelum sampai ke perbatasan, kita akan diberi sticker bulat...punya saya merah. Di tempel di dada, ada juga yang ditempel di pundak, lengan...terserah. Setelah itu kita dilepas bus begitu saja di Poipet...tidak dikasih tahu apapun, pokoknya turun aja...lhaaa ??? Iya akhirnya saya ngikut arus aja bule-bule bertas punggung segede bagong yang sama bingungnya dengan saya. Demi melihat loket antrean imigrasi (yang letaknya kecil nyempil di pojokan gate), kami pun ikut ngantre. Antrean panjang beberapa baris. Petugas imigrasinya tua-tua, beberapa agak lama, beberapa cukup cepat. Di sini yang agak lama di antre sih, tapi giliran pemeriksaan paspor ya cukup cepat. Nggak ditanya macem-macem. Lepas dari sini, langsung lurus aja menuju ke gedung imigrasi Thailand yang jaraknya sekitar 200 meteran dari loket imigrasi Kamboja. Jangan lupa, sebelum masuk ke dalam gedungnya nanti akan ada petugas dengan meja kecil dan tumpukan kertas di jalan menuju ke pintu gedung imigrasi, nah...mintalah kertas itu, itu adalah kartu kedatangan imigrasi Thailand. Saya sempet terlewat ini, karena tidak menyadari. Muter balik deh...ambil kartu. Setelah masuk ke gedung imigrasi...taraaaaa...bersiaplah menyanyi..."ulaar naga panjangnya...bukan kepalaang...menjalar-jalar selalu kian kemariiii..duduudu..." Iya antrean panjang, satu line saja tetapi mengular belak-belok...nah di bagian paling depan baru dipecah ke beberapa loket petugas imigrasi. Saya mengantre satu jam lebih di sini, berbaur dengan turis asing dan warga lokal. Di sinilah banyak drama terjadi. Yang saya tahu, beberapa orang Kamboja terpaksa mental ditolak masuk. Yang dicurigai bermasalah langsung digiring ke pojokan atau meja khusus. Wajah-wajah pucat, wajah-wajah sedih, petugas imigrasi membentak-bentak, terlihat di depan mata. Serem juga...sambil membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya. Saya dibuat sebel dengan seorang pemuda tengil (sepertinya warga Kamboja) yang dari bagian paling belakang melipir ke depan pelan-pelan memotong antrean. Banyak yang tidak menyadari ini, tetapi saya amati sejak awal kedatangan. Sikapnya mencurigakan dan tampak resah. Dan nggak tau dari mana, tiba-tiba saja dia sudah di depan lho!! sial !!  Pas giliran dia diperiksa di loket imigrasi, agak lama, ditanya macam-macam, sampai kemudian dia digiring ke ruang khusus...wakakakak...sebelum kemudian saya lihat dengan wajah kecewa dia balik ke arah pintu masuk alias balik ke sisi Kamboja. Ditolak masuk !!  Selain si penerobos antrean tadi, saya lihat turis asing lancar-lancar saja yang membuat saya lega. Sampai ada dua turis asing (pasangan) yang berada sekitar tiga antrean di depan maju ke loket. Yang cewek maju ke loket A, yang cowok maju ke loket B. Yang cewek kelar lebih dulu, sambil menunggu di belakang loket (entry gate Thailand), yang cowok masih diperiksa paspornya...sampai kemudian...taraaaaa...petugas imigrasi yang menghadapi si cowok menolak paspor yang disodorkan. Kenapa ? Karena paspor si cowok ternyata fotonya adalah cewek wakakakakak...jadi mereka salah pegang, si cewek pegang paspor si cowok, si cowok pegang paspor si cewek. Lha kok si cewek lolos? Ya karena petugas satunya memeriksa sambil merem! Hahaha. Tetapi menurut saya kasus itu nggak akan panjang, meskipun mereka digiring masuk ke meja interogasi, karena keduanya datang bersama sebagai pasangan dari negara yang sama. Lha iya, wong pacaran. Saya dan dua orang bule dari Australia sempat ngobrolin tentang ini. Terus bagaimana nasib saya? Untung saja saya lancar jayaaaa...langsung aja main stempel. Nah, karena memang masuk melalui jalur darat, saya tidak mendapatkan izin tinggal 30 hari, tetapi hanya dua minggu saja (bisa dibaca distempelnya). Untung saya rencananya di Thailand hanya seminggu doang, jadi cukuplah. Keluar dari gedung imigrasi ini, kita langsung disambut dengan asongan khas Thailand. Pertanyaan saya adalah, bagaimana cara saya ke Bangkok ? Naik apa? Kan katanya US$15 adalah tiket Siem Reap - Bangkok. Sementara saya baru sampai di kota perbatasan ? Saya tidak mau mikir panjang dulu karena saya harus buru-buru ke toilet, pengen kencing. Nah, toiletnya berbayar 10 Baht. Kelar dari toilet, celingukan nih...mana ya bus yang akan membawa saya ke Bangkok? Ngga tahu nama busnya lagi, tiket juga entah kabur di mana. Pas lagi celingukan, ada pemuda yang berteriak keras ke arah saya...."Hey...red sticker !! Red sticker !!" Saya menoleh ke arahnya, dan dia menunjuk ke arah saya...baru kemudian saya sadar, di dada saya tertempel stiker bulat warna merah. Saya samperin dia, kemudian dia memperkenalkan diri sebagai orang yang akan membawa saya ke Bangkok dengan menggunakan minivan. Saya digiring ke minivan, dan ternyata sudah ada beberapa penumpang lain yang di sana. Berbeda dengan bus, minivan yang ini bener-bener bikin sengsara...disumpel-sumpelin kayak dagangan aja. Saya duduk di belakang berempat dan dua di antaranya adalah bule Australia berbadan gede. Jangan harap bisa selonjor atau rebahan enak. Tetapi saya merasa lebih beruntung mengingat tubuh saya kecil, karena bagi bule itu, minivan ini jauh lebih menyiksa. Sekitar 4 jam kemudian saya sudah berada di tengah Kota Bangkok. Pertanyaannya, bagaimana penumpang bus lainnya yang tadi bareng saya? Siapa yang akan membawa mereka ke Bangkok ? Well, akan ada minivan lain yang menjemput. Yang penting jangan sampai stiker bulatnya hilang !

Segala perasaan tidak pasti, insecure, ketakutan, excited, yang berkumpul menjadi satu itulah yang saya rasakan sebagai perasaan seru. Saya lumayan kecanduan untuk melintas perbatasan antarnegara melalui jalur darat dengan segala keseruannya. Sebelumnya, saya sempat berpikir untuk masuk ke Hanoi (Vietnam) dari Nanning (saat saya backpacking ke China), tetapi saya batalkan karena saat itu saya tidak punya waktu mengingat perjalanan dengan bus cukup lama. Rencana saya berikutnya sih ingin lintas negara dari Thailand ke Laos. Lagi ngumpulin duit, soalnya selain kismin, juga sudah tidak ada sponsor lagi hihihi. Doakan yaaa nemu duit sekoper...amiin.

Nah, kapan giliran kamu?

Thursday, September 1, 2016

Keajaiban Khmer (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 6 Habis)


22 November 2015

Pagi itu sopir tuktuk saya sudah menjemput di hotel. Masih pagi buta dan Si Bajuri masih pakai baju yang sama kayak semalem. Mungkin dia bahkan belum pulang ke rumah. Kami sudah sepakat bahwa kami akan membayar US$ 15 kepada Si Bajuri untuk mengantarkan kami ke area Angkor Wat yang lokasinya sekitar 5 km dari pusat kota Siem Reap. Harga itu untuk trip seharian - dari Subuh dan kelar sekitar pukul 14.00-an. Saya melihat Si Bajuri ini sopir yang baik. Nggak tau, feeling saja. Dia selalu berusaha membuka omongan dengan menjelaskan hal-hal yang kami lalui di jalan. Kalau soal harga, saya sudah baca beberapa testimoni, ya rata-rata emang paket dari kota ke Angkor Wat sekitar US$ 15 itu. Nah, Tuktuk ini kayaknya bisa dipakai bertiga deh, meskipun rata-rata dipakai berdua, jadi cukup irit kalau mau patungan.

Tuktuk kami berjalan menembus pagi buta yang masih gelap. Penerangan minim, jalan sepi lengang dari kendaraan, udara sejuk, mewarnai perjalanan itu. Selepas itu, di jalur utama ke arah Angkor Wat mulai banyak TukTuk lain yang bermunculan, dari belokan, dari sudut hotel, dari sudut penginapan, beriringan seperti tengah ada parade TukTuk. Mereka membawa penumpang seperti kami, turis asing, yang rata-rata bule. 

Saya suka keheningan sesaat dan udara sejuk pagi itu. Setelah beberapa saat, TukTuk yang kami tumpangi beriringan dengan TukTuk lain, memasuki sebuah area dengan halaman cukup luas. Di sana bergantian TukTuk ini menurunkan penumpang. Dalam beberapa detik kami sudah dihadapkan pada kerumunan orang banyak, turis-turis kulit putih bercampur wajah-wajah Asia dan lain sebagainya, sementara para sopir TukTuk ribet mengatur diri karena area tersebut dipakai untuk ngedrop turis. Di depan kami ada bangunan berkaca lebar dengan  lubang jendela...inilah loket untuk membeli tiket masuk ke Angkor Wat. Para pengunjung pun antre memanjang ke belakang. Ada sekitar 5-10 loket yang dibuka dan semuanya full antrean. Suasana di depan loket seperti layaknya antrean penonton konser musik. Bedanya, banyak wajah-wajah bantal yang nongol, termasuk yang nulis. Maklum, bangun langsung ngabur ke sini hehehe.


Jadi setiap loket dijaga oleh dua orang petugas, yang kebetulan di antrean saya adalah petugas cewek. Satu petugas duduk di balik bilik loket kaca yang posisinya hampir sejajar dengan kepala para pengantre, sementara satu petugas lagi berdiri di depan loket. Yang di luar bilik inilah yang akan mengarahkan kita untuk berfoto. Ada semacam kamera kecil di depan loket untuk memfoto kita. Sempet ditanya dari negara mana, lalu kita diambil gambar....cekrekkk !! tak butuh waktu semenit Angkor Pass sudah jadi. Setelah itu dengan angot-angotan...rasanya beraaaat banget...saya melepas US$ 20 saya ke mereka...hiks.

Tiket yang saya beli adalah tiket one day visit, berlaku untuk waktu 05.30 AM - 05.30 PM. Ada sih paket beberapa hari, tetapi menurut saya, satu hari saja cukup...mahaaaaal!! (belakangan saya berubah pikiran, kayaknya di Angkor Wat selamanya juga woke). Nah, setelah beli tiket selesai, langsung deh cari Si Bajuri yang ternyata dari tadi sudah mengamati dari jauh antrean saya. Tanpa banyak cingcong...melajulah TukTuk Si Bajuri.

Salah satu bagian yang saya suka adalah, jarak antara loket dengan candi utama itu lumayan jauh. Subuh itu, TukTuk membawa kami membelah jalan lebar dan lengang dengan kanan-kiri adalah pohon-pohon tua dan superbesar serasa melayu membelah botanical garden. Lampu-lampunya hanyalah lampu taman bolam kuning, yang membuat suasana semakin serem sendu. Udara sejuk sekali. Beberapa kali kami melewati pesepeda, yang beberapa di antaranya sendirian...berani juga ya. Mereka adalah turis yang memilih menuju Angkor Wat sambil berolahraga. Sebenarnya ide bagus juga untuk berangkatnya, tapi kalau pulang pasti sangaaat panas. Keadaan masih gelap hingga saya sampai di depan central structure atau bangunan pusat candi. Struktur utama candi memiliki denah semacam di bawah ini (yang saya comot dari wikipedia). Bagian biru adalah kanal lebar yang mengelilingi kompleks candi. Tetapi dari awal saya sampai, saya tidak bisa mengenali struktur utama ini saking gelapnya. Iya, tidak ada penerangan di area ini (kecuali di lokasi parkir yang lokasinya di luar area). Saat Si Bajuri melepas saya, saya sendiri tidak tahu mau kemana. Beberapa orang berpencar ke berbagai arah, tetapi saya memutuskan untuk mengikuti rombongan paling banyak menuju ke satu titik, ternyata memang kami melewati jalanan batu sekitar 50 meter menyeberangi kanal menuju pintu utama (lihat garis krem bagian kiri). Beberapa orang dengan name tag terkalung di leher membawa senter untuk memeriksa tiket kita. Sampai di sini saya belum menemukan Angkor Wat seperti bayangan saya. 


Nah, central structure sendiri dinding luarnya berukuran 1.024 x 802 meter dengan ketinggian 4.5 meter, dikelilingi halaman terbuka sepanjang 30 meter dan parit sepanjang 190 meter. Akses ke candi adalah sisi barat - menyeberang kanal - bertemu gapura (yang ada pada setiap arah mata angin) - kemudian kita akan masuk ke area halaman di mana kanan kiri ada beberapa candi kecil serta reruntuhannya. 

Hingga di area ini situasi masih gelap...Matahari seperti masih belum mau bersua dengan kami. Nah, kebanyakan turis - yang makin lama makin bejibun - menuju ke arah kiri di mana kita akan bertemu semacam danau yang cukup luas. Kenapa mereka ke sini? Jadi kami ini kan sedang menunggu sunrise, nah salah satu view terindahnya nanti adalah saat bayangan candi memantul di permukaan air danau...begitu. Sebenarnya googling di internet pun bakal menemukan ratusan foto semacam ini dari mereka yang pernah berkunjung. Tetapi emang paling seru kalau menjadi saksi mata langsung ya.

Saat semburat Matahari dari arah timur muncul, saya segera menyadari bahwa jumlah turis yang berada di sekitar danau saja mungkin sudah ribuan. Belum mereka yang masih dalam perjalanan ke sini. Serem...saya jadi ingat pelajaran SD yang menyebutkan salah satu budaya Jepang menyembah Matahari...nah, kami ini seperti tengah menunggu Dewa Matahari muncul...berkumpul di pinggir danau. Tetapi ini hanya seperti saja yaa...yang terjadi kan kami hanya ingin menikmati ciptaan Tuhan.
  • Di area sekitar danau ini banyak anak kecil lokal yang berkeliaran menawarkan kopi. Mereka hanya membawa semacam daftar menu. Lalu kita bisa memesan kopi, setelah itu mereka akan berlari ke sisi lain (semacam warung) untuk mengambilkan kopi pesanan kita. Saya sih tidak memesan jadi tidak tahu harganya berapa. Hebatnya, dalam kondisi gelap gitu, mereka bisa cepat kembali ke kerumunan orang dan menemukan pemesan kopinya lho.


Cukup lama kami menunggu Matahari muncul. Lama-lama saya bosan dan memilih untuk berjalan ke sisi lain. Pagi itu langit agak mendung, tetapi pada akhirnya Matahari tetap menyeruak dari balik punggung candi utama. Saya justru lebih tertarik dengan ribuan orang yang berkumpul di tepi danau...para sunrise hunters. Paduan langit mendung, rumput hijau, danau segar, dan bule-bule ini mengingatkan pada imajinasi di benak saya tentang Woodstock Festival, terus berandai-andai  ada Santana main di sini, seperti saat dia tampil di Woodstock tahun 1969 (di mana saya bahkan belum direncanakan lahir).

Hal pertama itulah yang membuat pandangan saya terhadap Siem Reap yang awalnya "kok cuma gini" menjadi "wah bakal ada kejutan apalagi ya?". Iya soalnya di hari pertama saya memasuki Kamboja sehari sebelumnya, saya belum mendapatkan kesan serunya. Apalagi ditambah biaya hidup yang menurut saya kok ya mahal.

Setelah Matahari bersinar, saya mulai menemukan bayangan konstruksi besar sebuah kompleks candi, Para turis mulai bergerak memasuki bangunan utama candi dan saya merasa seperti sedang berada di India (efek banyak nonton film India). Ini kompleks candi megah dengan lorong-lorong indah, dengan pilar-pilar cantik, dengan segala reruntuhannya. Di sela-selanya, kita akan melihat monyet-monyet berkeliaran di tempat yang menjadi kediamannya. Tontonlah The Jungle Book movie...ini benar-benar seperti kerajaannya King Louie, Gigantopithecus, monyet raksasa setinggi 10 kaki yang menahan Mowgli karena ingin diajari membuat red flower alias bunga api. Atau mungkin film ini yang memang mendapatkan inspirasi membangun setting kerajaan King Louie dari Angkor Wat? Entahlah. 






Seperti halnya saya mengagumi Candi Borobudur atau Candi Prambanan, saya selalu berpikir satu hal (yang mungkin mewakili pikiran orang awam lainnya), bagaimana mungkin di jaman itu di mana teknologi belum ada, orang bisa membangun bangunan semewah ini ya? Yes, menurut saya ini sangat mewah. Angkor Wat sendiri adalah sebuah kuil yang dibangun pada jaman pemerintahan Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-XII dan memakan waktu pembangunan hingga 30 tahun. Pembangunan dilakukan untuk meletakkan Gunung Meru sebagai pusat dunia dan menjadi tempat tinggal para dewa-dewi Hindu. Nah, jadi sebenarnya saya ini tengah bertamu di kediaman para dewa hehehehe.

Sekitar pukul 09.00 AM, saya sudah mulai bertanya-tanya, lalu di mana ya candi-candi yang dibebat akar pohon gede-gede yang tersulur dari atas itu? Iya, kalau kita googling dengan kata kunci "Siem Reap" atau "Angkor Wat" yang muncul adalah itu. Belum lagi kalau nonton film Lara Croft : Tomb Raider-nya Angelina Jolie, pasti di benak kita sudah muncul bayangan beda tentang Angkor Wat. Jadi ternyata begini, central structure adalah salah satu bagian dari Angkor Wat...di luar itu, area Angkor Wat itu sangat luas dengan berbagai candi yang salah satunya dipakai untuk setting filmnya Angeline Jolie itu yang diberi nama Angkor Thom. 

Si Bajuri yang kami temui di parkiran tampak memasang muka yang ramah saat saya keluar dari central structure. Dia langsung menyiapkan TukTuknya untuk berkeliling lagi ke lokasi lain yang pada akhirnya benar-benar seperti bayangan saya tentang Siem Reap. Lokasinya saling berjauhan dan kayaknya nggak mungkin deh jalan kaki, karena waktunya tidak akan cukup. Berkeliling area Angkor Wat sangat menyenangkan karena kita seakan masuk di mesin waktu...pohon-pohon tinggi dan tua, bangunan candi, reruntuhan, dan (bagusnya) steril dari bangunan modern, sangat-sangat membuat saya melupakan US$20 yang sudah melayang...ini layak dan sepadan dengan uang yang saya keluarkan hahahaha.






Bagi saya, perjalanan kali ini highlight-nya ada di sand dunes Vietnam dan Angkor Wat di Kamboja. One day trip di Angkor Wat sepertinya kurang deh...kayaknya harus dua atau tiga hari hahaha, tapi habis itu pulang ngesot ke Indonesia karena duit habis. Bagi saya, Siem Reap itu adalah ya Angkor Wat, tidak ada yang lain. Jadi kalau mau ke sini pun ya fokusnya di Angkor Wat, karena nggak ada hal yang menarik lainnya. Saya mungkin akan betah berlama-lama di Angkor Wat, tinggal di sini sebulan kek, dua bulan, atau selamanya hihihi...entah kenapa saya selalu suka tentang hal-hal sejarah, masa lalu, bla bla bla...mungkin pertanda saya sudah tua. Kata temen saya, Adjie, orang tua berbicara tentang masa lalu dan anak muda selalu berbicara masa depan. Hmmmm....*cabuti uban*

Hari itu adalah hari terakhir saya di Kamboja. Terima kasih untuk Bajuri (sampai sekarang saya nggak tau namanya) yang telah menjadi sopir TukTuk terbaik selama saya di Kamboja. Pulang ke hotel, saya sudah bersiap check out. Mandi sebentar, packing, lalu check out....dan mati gaya hampir 7 jam berikutnya !! Kok bisa ? Lha ya bisa, wong saya beli tiket bus ke Bangkok yang malem. Makanya diputuskan nitip backpack ke hotel, lalu jalan-jalan bego (lagi) keliling area pub street. Sumpah, kali ini saya benar-benar merasa bego karena nggak tahu harus ngapain. Cuma makan, masuk 7-Eleven beli minum, lalu masuk ke mall (atau supermarket ya saking kecilnya), lalu jalan ke pusat cinderamata, lalu menunggu hujan dengan berteduh di jembatan penyeberangan sungai yang ada tempat duduknya, lalu balik ke hotel ambil backpack tapi sempet mainan hp karena ada wifi gratis...lalu makan malam lagi...lalu ngelamun nggak jelas...tidur di emper travel tempat saya beli tiket bus....beuuuh....sungguh membosankan. Saat paling melegakan adalah saat bus saya ke Bangkok menjemput saya. Saya sudah membayangkan akan segera bobok lucu di dalam bus, dan bersiap untuk menghajar Bangkok keesokan harinya. 

Maka dengan ini berakhir pulalah perjalanan Vietnam - Kamboja saya. Bab tentang crossing border Kamboja - Thailand akan saya tulis di seksi lain yang terpisah. Termasuk serunya menikmati Krathong Festival 2015....

See ya di perjalanan berikutnya,

Ariy