Tuesday, July 26, 2016

So Long Vietnam...Hello Cambodia !! (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 5)


Perjalanan yang akan saya tempuh adalah perjalanan darat dengan bus sejauh 285 kilometer, dari Ho Chi Minh City (Saigon) menuju ibukota Negara Kamboja. Perjalanan ini akan menempuh waktu sekitar 6 jam... lumayan deketlah.

Kalau Anda sedang berada di Vietnam dan ingin melakukan perjalanan lintas negara menuju Kamboja, banyak kok bus yang melayani rute ini. Rute ini cukup padat penumpang, terutama turis, baik dari HCMC menuju ke Siem Reap, atau sebaliknya. Itu memang rute utama, sementara Phnom Penh sendiri sepertinya hanya jadi tempat ampiran meskipun ini adalah ibukota negara tersebut. Biar gampangnya, ada dua rute mudah yang bisa kita gunakan :
  • HCMC - Phnom Penh : kurang lebih 6 jam, harga tiket sekitar USD 12.
  • HCMC - transit Phnom Penh - Siem Reap : kurang lebih 6 jam, harga tiket more less USD 25
Saya searching tidak ada jalur kereta api untuk rute ini, jadi pilihan saya tetap menggunakan bus. Titik tolak bus-bus ini adalah dari Phang Ngu Lao Street yang merupakan area konsentrasi turis (baca artikel sebelumnya). Nyaris setiap jam ada bus yang melayani rute-rute di atas. Beberapa operator bus yang melayani ini antara lain Sapaco, Mekong Express, Kumho Samco. Saya lupa make operator apa hahaha...tetapi awalnya saya memilih karena melihat kursi besar berbalut sarung kulit yang sepertinya nyaman di foto-foto yang dipamerkan agen penjual tiket bus.

Saya memutuskan untuk memilih rute pertama, yaitu berhenti di Phnom Penh. Perkiraan awalnya gini, kalau saya berangkat dari HCMC sudah pagi menjelang siang, maka kalau menggunakan bus langsung menuju Siem Reap yang transit di Phnom Penh akan sampai di tujuan tengah malam. Agak ragu juga kalau sampai di kota yang baru kita kenal pada tengah malam. Problem yang mungkin akan kita hadapi adalah tidak ada transport yang mengantar ke hotel, yang kedua...mengantisipasi kejahatan. Kita nggak tahu kan apa yang bakal terjadi di tengah malam begitu.

Maka dipilihlah perjalanan pertama HCMC - Phnom Penh, ntar nongkrong dulu di Phnom Penh sambil senam SKJ delapan delapan supaya nggak encok kelamaan di bus, lalu lanjut ke Siem Reap agak malam dan diperkirakan sampai Siem Reap bisa Subuh...sudah terang. Sounds like a plan yak hahahaha. Begitulah...akhirnya kami masuk ke dalam bus siang itu yang sebagian besar diisi turis asing. Bagaimana kondisi bus yang kami naiki? Kursinya lumayan gede-gede, formasi dua - satu (makanya kursinya bisa gede ya). Cuma yang agak bikin kurang nyaman adalah di bawah kursi hampir semua ada kardus-kardus yang entah isinya apa. Karena bus ini akan mengantarkan kami lintas perbatasan negara, saya berasumsi ini adalah barang-barang selundupan. Entahlah. Yang lebih kasihan lagi adalah bule-bule yang kakinya panjang, susah untuk selonjor karena tertahan kardus-kardus itu.

Pemandangan selama perjalanan tiak ada yang istimewa, cenderung gersang, panas dan melewati daerah yang secara infrastruktur kelihatannya masih ketinggalan dalam hal pembangunan dibanding kota-kota lain di Asia Tenggara yang pernah saya lalui, atau bahkan dengan kota-kota di Indonesia. Kemana-mana harus memicingkan mata saking panasnya. 

Mendekati perbatasan Vietnam - Kamboja, kondektur meminta paspor kami. Agak waswas juga karena nggak ada omongan apa-apa. Tetapi saat melihat mereka juga meminta turis-turis lain melakukan hal sama, ya sudah kami pasrah menyerahkan paspor tanpa drama. Agak absurd sih ini cara nyebrang perbatasannya. Soalnya benar-benar nggak ada komunikasi antara kru bus dengan kami para penumpang. Yang ada kami disuruh turun, dilepas begitu saja...alhasil kami hanya bisa saling liat-liatan...ini kita mau diapain? 

Jadi saya rangkumkan (supaya tidak saling liat-liatan dengan penumpang bus lain yang juga nggak paham) :
  • Turun dari bus, jangan kemana-mana, ikuti aja rombongan (sementara si kondektur udah gak tau kemana, bus juga udah jalan).
  • Masuk ke gedung utama (bangunan gede satu-satunya) ikut aja turis lain, ntar pasti ada juga yang ikut kita hahaha...sok yakin pokoknya. Saling ikut mengikut.
  • Di bagian depan gedung imigrasi itu ada toilet umum. Bayarnya bisa pakai mata uang Vietnam atau mata uang Kamboja, atau USD. Sampai di sini masih bingung juga, pemeriksaan imigrasi di mana? 
  • Oh ternyata ruangan berikutnya ada loket imigrasi. Kita akan lihat deretan antrean imigrasi. Ada beberapa baris. Lha kalau kita nggak pegang paspor, gimana mau antre ya? Itu juga pertanyaan kami. Sampai kemudian si kondektur yang saat itu mungkin menjadi orang yang paling dikangeni para penumpang bus muncul, udah berdiri manis di samping petugas di loket imigrasi. Jadi rupanya, penumpang bus ini paspornya dikumpulin, lalu distempel bareng-bareng.
  • Apakah kemudian saya antre ? Kagak. Lha wong kalau antre juga, sampai depan belum tentu paspor distempel kok. Makanya cuma menggerombol di belakang bareng penumpang lain. Tapi pastikan pasang telinga ya...karena nama kita akan dipanggil satu-satu.
  • Nah bener kan...penumpang bus dipanggil satu-satu. Agak susah sih mendengarnya. Lebih susah dibanding tes listening untuk TOEFL. Karena mereka kan mengeja nama kita dengan dialek mereka sendiri.
  • Begitu dipanggil, langsung maju aja (potong antrean). Bukan saya mengajari tidak antre, tapi bagaimana lagi wong paspor kita sudah distempel dan harus mengambil ke depan.
  • Setelah itu? Ya udah jalan ke exit gate yang ada di belakang loket...taraaaaa....Anda sudah berada di Kamboja.
Kalau menurut saya, ini adalah pemeriksaan imigrasi paling mudah dan aneh yang pernah saya lalui. Tanpa ditanya, tanpa diperiksa, dan nggak ada tuh metal detector atau apalah. Bahkan model boarding  di stasiun kereta api di Indonesia jauh lebih ketat. Apapun, saya hepi karena nggak ribet. Para penyelundup pun mungkin juga hepi :)

Nah, setelah keluar, bus tadi sudah menunggu kita di sisi dalam. Lalu kami melanjutkan perjalanan, tetapi sekarang sudah masuk wilayah negara Kamboja. Tidak ada yang menarik dan lagi-lagi hanya pemandangan panas dan gersang yang coba saya nikmati. Bus kemudian berhenti di salah satu rumah makan, sama kayak di Indonesia yang bus jarak jauh pakai mampir di rumah makan yang udah kerja sama dengan operator busnya. Kalau bus Solo - Surabaya mampir di rumah makan Duta di Ngawi dan kita nggak bayar lagi, di sini beda. Kita mampir dan silakan urus diri masing-masing. Kalau mau makan ya bayar sendiri. Saya tidak berselera makan, selain memang saya juga selalu tidak makan banyak kalau melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan umum, takut minta toilet break karena mules :).

Makanan di sini hampir sama dengan makanan di Thailand menurut saya. Nah, mulai deh dompet saya mules karena harga-harga yang terpampang rata-rata USD 2. Dollar Amriknya mulai berlaku booo...jadi siap-siap melarat. Pengen sih ambil snack-snack gitu...tapi lihat harganya pakai dollar...saya cuma bisa nelen ludah. Pengen juga ambil mangga potong yang dikasih garam dan bumbu cabe itu...tapi lagi-lagi...mundur deh. Selamatkan dollar karena kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi di Siem Reap !! Begitu teriakan hati kecil saya.

Break berlangsung sekitar 15-20 menit sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju ke Phnom Penh. Sekali lagi nggak ada yang menarik untuk dilihat. Saya memilih untuk nyuri-nyuri tidur saja sambil kadang melirik ke jendela siapa tahu nemu pemandangan ciamik. Cukup membosankan sodara-sodaraaa....

Rencana Berubah

Sekitar jam 4-an sore saya sudah sampai di Phnom Penh. Kota yang menurut saya kurang modern untuk ukuran sebuah ibukota negara. Tetapi Anda bisa mengabaikan penilaian saya, karena saya juga hanya melihat selintas dalam perjalanan menuju ke pool bus. Nah, di pool bus yang serupa ruko-ruko berjajar inilah kami turun. Cita-cita utama adalah cari toilet, belet pipis. Cita-cita kedua adalah cari tiket menuju ke Siem Reap. Setelah diperbolehkan numpang pipis dari salah satu agen bus, saya mulai bergerilya dari satu ruko ke ruko lain mencari tiket bus menuju ke Siem Reap. Kebanyakan zonk alias habis...matiiih !! Bisa rusak rencana yang sudah tersusun rapi. Akhirnya mendapatkan kabar ada satu bus yang berangkat hari itu yang masih menyisakan kursi tetapi harus segera berangkat. Waks !!

Saya tidak punya pilihan lain. Saya pun membayar tiket dan membuyarkan impian untuk nongkrong di Phnom Penh. Tau gini, saya ambil bus terusan HCMC - Siem Reap! Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan saya membayangkan apa yang harus saya lakukan saat tiba di Siem Reap tengah malam itu? Diturunkan di mana? Apakah lokasi tempat saya turun nanti dekat dengan hotel yang sudah saya booking ? Naik apa ke hotel?  Bagaimana kalau saya diperkosa di tengah jalan yang gelap gulita?   Pucet.

Dari pool bus itu, saya masih harus dijemput tuktuk untuk diantar di pool bus lain yang lumayan jauh. Mereka seperti terburu-buru karena bus akan segera berangkat. Nah, selama perjalanan dari pool bus pertama ke pool bus kedua inilah saya sedikit banyak menangkap secuil kehidupan di Phnom Penh. Untuk sebuah ibukota, terlihat kurang bersih, lalu-lintas agak ribet (tidak seribet Vietnam sih), dan jalan yang saya lewati denyut kegiatan ekonomi warganya sangat terasa. Atau jangan-jangan yang saya lewati adalah pasar? Sepertinya sih tidak. Tetapi saya tidak mau mengeneralisasi ya karena saya belum melihat Phnom Penh secara utuh, termasuk apakah ini di pusat kota atau bukan. Apapun, sebenarnya saya tetap bisa menikmati kok kota kecil dengan segala keterbatasannya. Saya tetap bersemangat untuk menemukan hal-hal yang berbeda dari sebuah kota di negara orang.

Saya tiba di pool bus kedua. Saking capeknya, saya tidak bersemangat untuk mendokumentasikan apapun di Phnom Penh...jadi maaf, tidak ada foto yang bisa saya pasang di sini. Di pool kedua ini saya lihat banyak pedagang seafood bakar yang mulai membuka lapak. Seafood-nya segar-segar, pembeli tinggal milih lalu dibakar di alat panggang yang super besar. Saya banyak melihat lapak model beginian saat traveling ke China. Biasanya seafood ini ditusuk semacam sate, tetapi dengan ukuran tusuk yang besar.

Semakin sore dan bus pun melaju menuju ke Siem Reap. Saya mendapatkan tempat duduk di bagian paling belakang pojok kanan. Sangat tidak nyaman dan saya harus melalui 6 jam ketidaknyamanan ini. Selain itu, kursi depan saya yang diduduki seorang gadis, sandarannya soak...njeplak ke belakang karena kunciannya sudah dol...alhasil, dengkul saya yang jadi tumpuan. Pasrah, karena meminta gadis itu tidak menyandarkan punggungnya juga kasian kan...6 jam lho.

Kondisi jalan yang kami lalui tidak terlalu bagus. Banyak yang tidak beraspal, berdebu (cokelat) yang mengganggu jarak pandang, dan ini satu catatan lagi...gelapnyoooo...Kamboja benar-benar minim penerangan. Sebelumnya saya pernah membaca soal minimnya penerangan ini di salah satu blog traveler bule, ternyata benar.

Bus kami berhenti dua kali. Saat menjelang maghrib, masih cukup terang, berhenti di semacam warung, lalu semua turun untuk beli makanan atau snack  (sudah kenal dollar juga, Riel Kamboja buat kembalian saja). Lokasinya agak pinggiran desa gitu. Jangan bayangkan jalan aspal dengan kanan kiri bangunan toko atau semacam itu, ini benar-benar seperti jalanan desa tapi cukup lebar. Lalu bus kembali melaju di jalan yang enjot-enjotan, sebelum malamnya kembali berhenti di sebuah area semacam pool bus di pinggir jalan besar (mungkin jalur lintas nasional) yang sudah beraspal bagus...tapi tetap penerangannya menurut saya kurang. Jalanan juga sudah sangat sepi, tapi toko-toko masih buka. Di sini kami kembali bisa makan atau beli snack...lalu melanjutkan perjalanan. Oya, di jalan-jalan gelap ini kadang bus menurunkan penumpang lho. Saya sudah mikir aja, apakah tidak bahaya? Misalnya saat ada penumpang bus cewek yang saat itu turun di tengah area yang gelap tanpa penerangan, kok berani ya sendirian? Saat saya tengok dari kaca bus, ternyata sudah ada saudaranya menunggu pakai motor. Mau cari tempat terang di mana wong semuanya rata-rata gelap.

Yang saya ingat, sekitar pukul 11.00 malam, kami sudah mendekati wilayah Siem Reap. Suasana agak lebih hidup meskipun malam semakin larut. Lampu-lampu sudah mulai agak terang beberapa titik banyak lampu dekorasi warna-warni. Kami juga melewati sebuah area yang tengah mengadakan audisi The Voice Cambodia, dengan tulisan gede di panggung yang bisa dilihat dari jalan besar.. Diadakan di semacam area terbuka dengan panggung. Mungkin baru audisi awal ya...entahlah. Dan akhirnya, di pinggir jalan yang lumayan agak ramai, saya diturunkan. Saya sendiri tidak tahu apakah sudah sampai di Siem Reap atau belum, yang pasti semua penumpang pada keluar...yaudah hayoook. Rasanya lega sekali menghirup udara malam itu yang cenderung sejuk setelah beberapa jam tersekap di dalam bus.

Begitu keluar, sudah banyak tukang ojek dan tuktuk yang ngantre menawari. Di tengah malam begitu, masih saja saya jual mahal...enggak bang...enggak. Padahal sebenarnya butuh. Menjauh dari keramaian penumpang, saya disamperi seorang sopir tuktuk yang bahasa Inggrisnya lumayan (setidaknya ngerti). Saya sampaikan bahwa saya sudah booking hotel, lalu menunjukkan alamat ke dia. Si sopir bilang itu lokasinya jauh dan agak ke pinggir kota. Sejujurnya, saya tidak tahu apakah dia bohong atau jujur. Tetapi saya sudah tidak mau banyak mikir. Dia menyarankan untuk mencari hotel di sekitar Pub Street  yang bakal mudah ke mana-mana. 

Saya pandangi wajah si sopir yang mirip Bajuri si tukang Bajaj. Badannya pun gemuk persis Bajuri.

Hmmm....sepertinya dia orang jujur persis Bajuri.

Entah karena alasan itu atau karena saya sudah nggak fokus, maka nurut aja naik tuktuknya si sopir itu menuju ke area pub street. Perjalanan sekitar 15 menit menuju ke area pub street. Malam itu suasana area tersebut masih sangat ramai. Kami mencoba memasuki beberapa hotel untuk mengecek kamar dengan diantar si Bajuri. Semuanya fully booked sampai kemudian kami menemukan Angkor Park Guest House. Lokasinya sangat strategis, di pinggir jalan besar (Krong Siem Reap). Jalan ke pasar cenderamata deket, ke pub street, ada juga mall kecil, terus sepanjang jalan itu ada agen bus, supermarket termasuk 7-Eleven, food street komplit dan lain-lain. 

Lebih semacam penginapan. Cukup bersih dan dapat kamar seharga USD 10 tanpa sarapan, ada TV kabel (terbatas), wifi cukupan, kamar mandi yang pintunya rusak hihihi. Tapi AC-nya oke, dan lebih dari itu...lokasi...lokasi...lokasi...itu pertimbangan saya.

Pas ke sana, pintunya sudah tutup, lobby gelap, penjaga tidur, tapi bisa dibangunin. Pintunya tutup tapi tidak dikunci kok, 24 jam kita bisa keluar masuk. Di sinilah saya harus berpisah dengan Bajuri...tapi jangan khawatir, karena besok pagi-pagi benar saya akan bertemu dengan dia lagi untuk mengantarkan saya ke Angkor Watt dengan tarif USD15 seharian...horeeee mahal !! Hahahaha...nggak sih, rata-rata emang segitu, karena jarak dari kota ke Angkor Wat aja sekitar 5,5 km, belum lagi keliling Angkor Wat seharian yang memang sangat luas itu. Lagian saya sudah jauh-jauh ke Siem Reap mosok nggak ke Angkor Wat...iya sih, mahal :(

Dan malam itu, setelah mandi, saya sempatkan cari makan dulu di dekat pub street. Di sini kehidupan 24 jam nggak ada matinya. Saya memilih makan di warung tenda depan 7-Eleven yang sepertinya lezat...bukaaan...tetapi memang yang paling murah di situ, yaitu satu porsi rata-rata USD 2 belum termasuk minum. Iyaaaaa....Siem Reap mahaaal. Saya bersyukur sekali hanya menjadwalkan di kota ini satu hari saja.

Selama di Siem Reap itulah saya menyerahkan sepenuhnya hidup dan mati saya di warung tenda itu....Hidup dua dollaaar !!

Next : Bolehkah saya hidup sampai tua di Angkor Wat?

Tuesday, June 28, 2016

Tragedi Paspor yang Raib (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 4)

Bahkan kisah cintaku kalah rumit dengan lalu-lintas di HCMC

20 November 2015 :
Pagi yang malas di Mui Ne, sekaligus hari terakhir sebelum saya harus meninggalkan tempat yang tenang tapi seru ini. Tidak banyak yang bisa saya dan teman saya lakukan pada pagi ini. 
Setelah mandi, kami sempat jalan sebentar ke pantai, sebelum kemudian nyari sarapan. Agak susah juga nyari sarapan sepagi ini, mungkin karena kebanyakan tamu sudah sarapan di hotel, sementara kami nggak dapet sarapan. Rumah makan yang semalam sepertinya berderet-deret bersaing mencari tamu, tiba-tiba saja seperti bungkam. Mereka belum buka.
Kami sepakat untuk jalan-jalan ke pasar tradisional yang letaknya cuma sepelemparan kolor dari hotel. Kalau diajak ke pasar tradisional saya paling suka...udah kayak emak-emak. Padahal di sana juga cuma mengamati aja orang melakukan aktivitas. Seperti pagi itu pun ya sama, melihat para pedagang bertemu dengan pembeli. Ternyata banyak juga turis bule yang masuk pasar. Sasaran utama mereka biasanya buah, karena mungkin banyak buah aneh yang tidak mereka temui di negara mereka. Kalau saya, biasanya suka melihat-lihat penganan khas atau tradisional mereka, seperti kue-kue atau semacamnya. Kalau buah, nyaris sama dengan Indonesia.
Akhirnya kami makan di rumah makan samping pasar yang dijaga seorang Bapak-bapak. Rumah makan yang cukup besar dengan tamu hanya saya dan teman saya. Udah kepikiran pasti mereka belum siap masakan sepagi itu. Eh ternyata mereka siap. Saya memilih (lagi-lagi) Chicken Pho karena saya ingin makanan berkuah. Teman saya memilih sebangsa nasi goreng sea food dengan bulir nasinya yang besar dan bersih berisi.

Rencana kami hari ini agak-agak nggak jelas. Kami sebenarnya ingin langsung naik bus dari Mui Ne ke Siem Reap, Kamboja untuk menyingkat waktu. Tetapi tentu saja tidak ada bus terusan macam itu mengingat secara geografis emang akan lebih mudah melalui jalur Ho Chi Minh City (HCMC). Teman saya masih bertanya kemungkinan untuk mengambil rute Mui Ne - HCMC - Siem Reap. Saya sudah berpikir itu tidak mungkin (bila melihat peta), kecuali naik pesawat. Tetapi kami membiarkan ide itu terbuka dan akan mengkonsultasikan ke agen perjalanan yang menjual tiket bus di HCMC. Kalau memungkinkan ya diambil, kalau nggak ya kembali ke rencana awal. Tetapi tetap, kami mau tidak mau dari Mui Ne harus kembali ke HCMC (lagian memang tiket sudah dibeli).

Dari sarapan, kami menghabiskan sisa waktu beristirahat di hotel, mengingat siang ini akan melakukan perjalanan kembali ke HCMC. Mungkin inilah waktu yang benar-benar longgar setelah kami seperti berkejaran dengan waktu melakukan ini itu dalam beberapa hari pertama. Sekitar jam 12.00-an kami sudah turun ke lobby hotel dan siap-siap untuk menuju ke jalan besar menunggu bus jemputan. Tetapi kata staf hotel nanti akan ada yang memberitahu kami apakah bus sudah datang atau belum. Eh ternyata, belum juga 10 menit di lobby, seorang staf hotel memberitahu bahwa bus sudah menunggu dari tadi...wakakakakaka. Dibantu dia yang membawakan backpack kami, berlarianlah kami menuju jalan besar tempat bus sudah menunggu. Sampai di bus, kondekturnya sudah ngomel-ngomel dengan bahasa yang tidak kami mengerti...hahaha maaf. Wajahnya sengak banget melihat kami...wakakakak. Tampar saya bang...tamparrrr hahaha.
  • Jadi kalau mau ke Mui Ne dari HCMC, beli tiket busnya sekaligus sudah booking hotel ya (booking hotel sendiri di luar tiket bus). Nama hotel kita akan dicatat di tiket, supaya bus bisa mengantar kita tepat di depan hotel. Beli tiketnya mending pulang-pergi langsung, jadi mereka nanti akan menjemput kita di waktu yang tertera di tiket. Ini menurut saya cara yang sederhana dan memudahkan wisatawan. Bayangkan kalau kita belum booking hotel dan diturunkan di sembarang pesisir Mui Ne...itu kan jalannya panjaaaang...ya kalau langsung nemu hotel murah, lha kalau di sekitar kita hotel mahal semua? Pedih kan?
Lalu seperti memutar kaset lama, siang itu kami menghabiskan waktu 6 jam dalam kebosanan perjalanan darat Mui Ne - Ho Chi Minh. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perjalanan darat itu, selain sekali lagi bus model sleeper emang paling nggak keren buat nikmatin pemandangan di perjalanan. Bener-bener mati gaya.

Sore hari kami sudah tiba kembali di HCMC. Satu malam lagi akan kami habiskan di HCMC sebelum kami akan menuju ke Kamboja. Oya, kami sudah memesan kamar di Hong Kong Kaiteki Hotel, yang masih di Pham Ngu Lao, District 1 tidak jauh dari hotel pertama yang kami inapi. Kenapa kami memilih ini? Saya kebetulan yang memang ngidam pengen tinggal di hotel kapsul. Apalagi rate-nya yang cukup murah, cuma Rp 100.000. Teman saya mengamini. Perkara hotel kapsul ini memang sudah menjadi keinginan sejak lama. Bukan karena permintaan jabang bayi sih, tetapi karena penasaran aja dengan sensasi tidur di hotel yang lebih gede sedikit dari peti mati ini. Serem? Nggak...seru malah :).










Sebenarnya saya harus berhati-hati sekali kalau ingin me-review tentang hotel yang dibaca orang. Karena standar saya seringkali masih di bawah standar orang kebanyakan, yang artinya kalau saya bilang nyaman, bisa jadi bagi orang lain nggak. Gaya jalan saya sudah sangat jelas ya...on budget...sangat-sangat-sangat. Jadi memang buat yang keuangannya longgar atau tidak biasa jalan seadanya, ya abaikan pendapat saya. Termasuk soal hotel kapsul ini. Kalau Anda lihat review-nya tidak begitu bagus, hanya sekitar 7 poin sekian, bagi saya secara fasilitas masih bagus-bagus aja tuh...nah, beda kan? Kalau saya baca review -nya, yang dikeluhkan tamu antara lain soal matras yang tipis seperti gambar di atas, jadi keras nggak empuk kayak hotel. Ada juga yang mengeluhkan soal kamar mandi kotor. Anda juga yang mengeluhkan suara orang keluar masuk kamar. Ada juga yang mengeluhkan soal suara bising di luar. Bagaimana tanggapan saya soal itu?

Kalau soal matras yang tipis, kok saya nggak masalah ya. Saya ini sudah kebal. Tidur di emper stasiun (bener-bener emper, bukan di dalam stasiun ya) di China dengan alas kardus juga pernah. Iya berani karena kebetulan banyak warga lokal yang melakukan hal sama hehehehe. Jadi kalau dapet yang seperti gambar di atas, ya sudah sangat bersyukur. Kebersihan? Menurut saya cukup bersih (atau saya yang nggak higienis?). Kamar mandi kotor ? Nggak deh. jauh lebih kotor kamar mandi terminal. Suara orang keluar masuk mengganggu ? Ya saya sarankan ambil yang kamar private. Karena konsep hotel kapsul ini kayak dorm. Jadi jangan berharap banyak soal keheningan malam yang membuat tidur Anda nyenyak. Lagian bisa disumpel head set kok kupingnya. Soal suara bising di luar? Pilihannya hanya dua, mau bising tapi lokasi strategis atau mau tenang tapi lokasi jauh di pinggiran kota? Jadi semuanya sebenernya soal bagaimana kita menikmatinya.

Balik ke perjalanan saya, setelah check in, kami diminta mencopot sepatu, kemudian mengganti dengan sandal yang mereka sediakan. Sepatu kita akan disimpan di loker kecil di depan resepsionis. Kuncinya kita bawa. Ada dua kunci yang diberikan ke kita, yaitu kunci menyimpan sepatu kita di luar dan kunci loker besar yang ada di ruangan dekat kapsul-kapsul itu untuk menyimpan backpack kita. Setelah ganti sandal hotel, kita diberi handuk. Naik deh ke lantai empat (kalau nggak salah) dan masuk ke ruangan khusus laki-laki. Di sana wujudnya seperti lorong panjang (mengingat hotel ini seperti berada di bangunan Ruko berlantai tingkat banyak. Model kapsulnya susun dua, satu di dasar dan satunya lagi di atasnya. Dalam satu ruangan itu ada sekitar 10 kapsul tingkat atau artinya total 20 bed. Setiap kapsul disediakan TV kabel, colokan listrik, colokan untuk ear phone, bantal dua, fasilitas wifi, dan ada tirai untuk menutup "kamar" kita. Bagi saya, karena ini pengalaman pertama ya saya bertingkah kampungan banget...foto-foto dan seneng banget.

Kamar mandinya oke juga kok, meskipun ada yang rusak juga. Kalau kamar mandi cowok agak bau sih. Tapi nggak sampai ke kamar meskipun posisinya satu ruangan terbuka dengan kapsul-kapsul itu. Yang penting saya sih bisa mandi bersih di tempat yang tidak menjijikkan (saya agak ribet soal kamar mandi hotel). Oya, di sini ada juga air panas. Lumayan untuk merenggangkan otot-otot tubuh. 

Setelah mandi, kami harus segera hunting tiket menuju ke Siem Reap. Beberapa agen perjalanan kami masuki, jawabannya sama : kami harus ke Phnom Penh dulu sebelum ke Siem Reap. Ya iyalah secara jalur di peta juga mau tidak mau melewati Phnom Penh. Kami akhirnya harus menyerah dengan kondisi ini. Jadi ini gambarannya:
  • Banyak bus dari HCMC (Vietnam) ke Phnom Penh (Kamboja), jadi jangan khawatir. Nyaris setiap jam malah ada. Beberapa operator bus antara lain: Mekong Express, Sapaco Tourist, Malinh Express, Kumho Samco, Phnom Penh Sorya, dll. 
  • Harga tiket bus antara USD 8 - USD 12 tergantung operator bus serta berapa fee yang diambil agen perjalanan. 
  • Lama perjalanan sekitar 6 jam dengan jarak 285 kilometer.
  • Penting nih: Operator bus ini juga akan meng-handle semua terkait pengecekan paspor di imigrasi saat melewati perbatasan Vietnam - Kamboja.
  • Ada pilihan beli tiket terusan HCMC - Phnom Penh - Siem Reap tanpa istirahat (hanya ganti bus saat masuk ke Kamboja). Atau pilihan kedua, beli tiket HCMC - Phnom Penh saja, lalu di Phnom Penh beli tiket lagi ke Siem Reap.
Akhirnya kami memilih yang kedua, yaitu beli tiket HCMC - Phnom Penh. Harapan saya sih bisa istirahat sebentar di Phnom Penh, sorenya, lalu malam ambil bus ke Sieam Reap dengan harapan bisa sampai pagi hari di Sieam Reap. Khawatir kalau sampai Siem Reap malam dan diturunkan di antah berantah, susah transportasi, ketemu orang nggak bener...hiiih. Oya, saya juga memilih bus yang pake kursi saja...no more sleeper bus...BIG NO !

Setelah dapat tiket bus, acara berikutnya makan (lagi). Iya soalnya kami belum makan setelah dari Mui Ne. Dari makan malam, kami jalan-jalan di taman dan di pub street  sepanjang Pham Ngu Lao itu yang kalau malam udah kayak pasar tumpah. Kawasan District 1 ini setiap malam seperti nggak tidur. Lalu lintas semakin ruwet dengan bus kota, bus pariwisata, pejalan kaki, sampai ratusan motor yang hilir mudik nggak pakai aturan. Kalau di Indonesia lalu-lintas macam begini sudah saling pelotot-pelototan atau malah saling gampar. Lalu lintasnya malam itu emang bededah sekali. 

Malam itu, setelah semua ritual standar terselesaikan, saya tidur dengan nyaman dan nyenyak di dalam kapsul...zzzz....zzzz...zzzz...sebelum beberapa jam kemudian petaka terjadi !

21 November 2015 :

"Paspor gue nggak ada, Rik" ujar teman saya pagi-pagi setelah kami packing untuk segera mengejar bus menuju ke Phnom Penh. Saya celingukan. Serius nggak ada? Dibongkarlah segala tempat tidur dan tas-tas kami. Tidak ada. Kami pun turun mengecek ke resepsionis, jawaban resepsionis yang pagi itu masih tertidur saat kami mau check out adalah mereka tidak menyimpan paspor teman saya. Semua sudah dikembalikan setelah mereka meng-copy paspor saat kami check in kemarin sore. Lho??? Lalu kemana ??? Kalau paspor saya sih ada. Lha paspor teman saya??

"Lu tau kan gue bukan yang teledor untuk hal-hal penting kayak gini," ujar temen saya. Saya hanya mangut-mangut. Iya sih. Dari awal kami sudah sering saling mengingatkan, "Paspor mana...paspor mana?" atau "Awas dompet...dompet" dan semacamnya. Supaya hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di perjalanan bisa diantisipasi. Dan sekarang paspor teman saya raib !! Celaka tiga belas !!

Dalam waktu yang tidak begitu lama, teman saya sudah berdebat sengit dengan resepsionis. Teman saya bersikukuh paspor dipegang pihak hotel, sementara si staf hotel bilang paspor sudah dikembalikan. Mereka berdebat sengit dan saya tidak tahu mana yang benar. Lalu kami berdua kembali ke kamar untuk mengecek ulang siapa tahu nyelip di tempat tidur atau tertinggal di mana...mulai dari kapsul, rak kecil di dalam kapsul, sampai ke loker saya buka. Tidak ada !! bahaya. Kalau sampai paspor teman saya benar-benar hilang, rusak sudah semua rencana. Paspor hilang itu bencana yang paling tidak diinginkan traveler saat jalan ke luar negeri. Dan kami tidak ingin itu terjadi. Mimpi buruk.

Kami kembali turun ke lobby. Kembali perdebatan yang sama terjadi. Teman saya meminta CCTV lobby dilihat ulang, khususnya saat serah terima paspor. Staf hotel ngomongnya muter nggak jelas. Kali ini dia agak-agak rude sih ke teman saya. Dia bahkan menuduh mungkin paspor teman saya dibawa oleh saya. Lho kok saya? akhirnya backpack saya yang ter-packing rapi harus dibongkar lagi, dan tidak ditemukan paspor di sana. Perdebatan cukup lama terjadi, mungkin hampir sejam-an. Sementara waktu terus berlalu dan kami dipastikan ketinggalan bus menuju Phnom Penh. Saya sempat mengusulkan menghubungi perwakilan RI di HCMC ( Kedutaan Besar RI ada di Hanoi). Tetapi teman saya bersikukuh paspor tidak hilang tapi disimpan pihak hotel. 
  • Kalo paspor hilang di luar negeri, lapor polisi dulu kemudian minta semacam surat keterangan kehilangan paspor, lalu ke Kedutaan Besar RI atau perwakilan setempat untuk mengajukan surat perjalanan laksana paspor. Selengkapnya konsultasi aja ya ke KBRI bila itu terjadi. Tapi moga-moga tidak terjadi deh. Ribet sumpah.
Perdebatan deadlock. Kami akhirnya hanya duduk terdiam merutuki nasib. Tak berapa lama, muncullah perempuan ini. Dia sepertinya manager hotel. Mereka berbicara dalam bahasa yang kami tidak mengerti. Lalu mereka berupaya untuk memutar kembali rekaman CCTV. Sambil menunggu proses itu, si perempuan ini sibuk mencari-cari di rak dan laci meja resepsionis dan....

Gotcha !!! Dia menemukan paspor teman saya di rak bagian bawah meja resepsionis !!

Serentak hembusan napas lega muncul dari mulut saya dan teman saya. Sementara demi melihat itu, staf cowok yang rude tadi buru-buru minta maaf dengan muka malu. Persoalannya cuma satu : dia tidak mau mendengar penjelasan teman saya dan tidak memiliki keinginan untuk membantu mencari. Pokoknya paspor tidak ada di kami ! op zijn stuk blijven staan !!

Dan sekarang lihatlah ternyata paspor itu mereka simpan ! Teman saya pun kembali mengomeli staf itu. Meski paspor sudah ditemukan, tetapi kami rugi banyak karena kehilangan waktu dan ketinggalan bus ke Phnom Penh yang tiketnya berdua total USD 20. Kami pun komplain kepada perempuan tadi. Meskipun perempuan itu tidak senyum, tetapi dia sangat cekatan dalam memberikan solusi kepada kami. Seharusnya semua pegawai hotel seperti dia. Dia lalu meminta tiket kami dan menelepon agen perjalanan yang nomernya tertera di sana. Hanya dalam waktu tidak lebih 5 menit, kami sudah dipastikan mendapatkan tiket pengganti pada jam berikutnya dan tagihan akan dibayar oleh pihak hotel sebagai bentuk permintaan maaf. Alhamdulillah !


Tanpa berpikir banyak, kami langsung meninggalkan hotel itu dengan membawa note yang dibuat oleh perempuan tadi untuk diberikan kepada pihak agen perjalanan. Meskipun kami lega paspor selamat dan tidak merusak semua rencana kami, tetapi kejadian itu membuat kami lebih hati-hati untuk mengamankan paspor kami. Bagi saya, paspor adalah separuh nyawa saya di perjalanan. Mau ke WC-pun paspor tidak pernah lepas dari kantong celana saya. Serius. 

Kami memulai hari dengan buruk sekali kali ini. Tetapi semoga tidak akan merusak mood kami untuk penggal perjalanan berikutnya. So long Vietnam...Hello Cambodia !!

Next : Numpang Kencing di Phnom Penh, Selamat Datang Di Kamboja !

Friday, June 24, 2016

Mui Ne, Di Luar Dugaan (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 3)

Paling benar memang membuktikan dengan mata kepala sendiri, karena cerita orang atau tulisan di blog maupun situs travel tentang betapa bagusnya suatu destinasi kadang ternyata tak sesuai ekspektasi atau sebaliknya yang jelek menurut orang bisa jadi bagus menurut kita. Pun jangan percaya cerita saya sebelum Anda membuktikan sendiri :)

White Sand Dunes                     foto indah ini milik www.expatads.com
    

19 November 2015:
Pagi di Ho Chi Minh City (HCMC)...semua alarm sudah disetel supaya saya bisa bangun pagi. Hari itu adalah hari kedua saya dan teman saya berada di Vietnam. Kami sudah memegang tiket bus menuju ke Mui Ne. Sebenarnya masih ingin malas-malasan mengingat tenaga kami sudah terforsir sejak hari pertama. Tetapi kami tidak jauh-jauh ke Vietnam untuk tidur dan bermalas-malasan.
Pagi itu, sarapan di hotel disediakan oleh staf, seorang cowok yang masih muda yang tidak paham bahasa Inggris. Kami menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Saya meminta scrumble egg agak kering, karena saya tidak suka telur masih setengah matang, namun cowok itu kebingungan sampai harus menelpon temannya untuk datang dan menterjemahkan apa yang saya mau. Dia helpful orangnya, jadi saya mengapresiasi itu. Pagi itu sarapan saya adalah scrumble egg, masih ditambah baguette (roti Perancis yang panjang dan lebih gede dari pentungan satpam itu), minumnya ada teh, jus orange, kopi, silakan pilih. Menurut saya cukup istimewa mengingat saya biasa makan kelas angkringan.

Setelah selesai semua sarapan, kami bergegas menuju ke lokasi travel agent yang berada tepat di seberang taman tak jauh dari Pham Ngu Lao Street. Gampang mencarinya. Di sana juga berderet travel agent yang menjual paket tur hingga tiket pesawat, bus dan kereta. Setelah menunjukkan tiket kami kepada staf travel agent, kami diminta untuk masuk ke bus yang berada di seberang jalan mepet ke taman. Sekali lagi saya tidak terlalu suka dengan sleeper bus, tapi apa boleh buat memang nyaris semua bus ke Mui Ne yang longgar saat itu adalah tipe sleeper.

Kenapa saya tidak suka sleeper bus? Ini alasannya:
  • Posisi tempat tidur yang nggak nyaman. Kalau yang dapat bagian atas, udah nyaris nyundul atap bus. Baik di atas maupun bawah tetap tidak bisa menikmati pemandangan di luar dengan nyaman, apalagi di bagian bawah, hanya bisa melihat situasi luar semacam mengintip dari kolong, tampak bawah doang. Kondisi ini bagi turis asing akan sulit mengidentifikasi lokasi tempat kita akan turun. Ya kalau kita turun di tempat yang sudah pasti, semacam terminal, tidak perlu tengak tengok untuk melihat keadaan apakah sudah sampai atau belum. Nah, kalau kita turun di tengah jalan? Bahaya bisa bablas kalau nggak lihat situasi luar. Sepanjang perjalanan akan kesulitan mencari sekadar tanda kita sampai di mana. Bagi bule dengan ukuran tubuh tinggi besar dari rata-rata orang Asia, sleeper bus adalah mimpi buruk. Kakinya tidak bisa selonjor, harus nekuk sepanjang jalan. Mau duduk kepala kebentur atap...kasihan hahaha.
  • Harus copot sepatu atau sandal. Karena sudah pernah naik bus semacam ini, pagi-pagi dari hotel saya sudah simpan rapi sepatu di dalam tas. Pakai sandal lebih mudah. Kita masuk bus langsung disodori plastik kresek untuk menyimpang alas kaki.
  • Bau kaos kaki...konsekuensi dari harus melepas sepatu, maka tak jarang bau kaos kaki penumpang menyergap. Jadi siap-siap aja bawa pengharum ruangan :)
Bule yang duduk di depan saya ini tersiksa selama 6 jam :)


Kalau disuruh milih, saya sebenarnya milih bagian bawah. Tetapi hari itu kami mendapatkan tempat di bagian atas. Apapun kami mencoba menikmati perjalanan kurang lebih 6 jam ini. Tidak banyak yang bisa kami lakukan atau kami lihat, jadi kami memutuskan untuk tidur dan pasang head set. 

Setelah perjalanan kurang lebih 6 jam, saya mulai melihat bau-bau pantai, dengan pohon-pohon kelapanya. Mui Ne adalah kawasan resort yang cukup terkenal di kawasan Vietnam bagian selatan, tepatnya berada di Provinsi Binh Thuan. Saat awal googling tentang Mui Ne, saya sudah sangsi bahwa saya akan menikmatinya. Kata-kata resort membuat saya harus melirik ke dompet. Saya juga banyak membaca bahwa lokasi yang dulu terasing ini, saat ini sudah beralih menjadi tempat istirahat para ekspatriat, orang-orang kaya, dan lain sebagainya. Tak heran di sepanjang pesisir pantainya berderet hotel-hotel jaringan besar maupun hotel kecil. Terus saya mau ngapain di sini dengan budget seadanya???

Oya, setelah masuk Phan Thiet yang merupakan kota terdekat dari pesisir, saya sempat diberitahu kondekturnya bahwa kami akan turun tepat di depan hotel yang kami booking. Saya sudah booking hotel di Mui Ne melalui www.booking.com. Ini sangat membantu, karena tiket bus akan mencantumkan lokasi hotel kita sehingga kita akan diturunkan di depan hotel seperti yang tertulis di tiket. Jadi saya pikir, kalau akan go show pasti repot sekali. Karena bisa saja kita diturunkan di sembarang tempat. 

Saya sudah booking kamar di Mui Ne Sports Hotel. Dapat rate cukup bagus sekitar Rp 350.000-an, dibayar urunan. Saat bus masuk ke satu jalan utama di pesisir pantai, penumpang satu persatu diturunkan di depan hotel yang berjajar di pinggir jalan. Lalu tibalah kami untuk turun. Saat lepas dari bus, masih bingung juga, di mana hotel kami. Lalu kami menemukan papan nama hotel, masuk ke dalam sekitar 50 meter ke arah pantai. Masuklah kami...dan inilah hotel kami....taraaaaa :





                                                     sumber foto-foto di atas: www.booking.com


Kaget aja dengan kondisi hotel yang saya booking. Gambar-gambarnya nggak nipu sama sekali. Persis plek. Bersih dengan cat putih, bangunan baru, lokasi hanya sekitar 20 meter dari bibir pantai. Kamarnya model minimalis yang dalam standar saya sangat bagus. Ada balkonnya, TV kabel, AC bagus, suara angin pantai yang kenceng masuk sampai ke dalam. Hanya satu hal, kami mendapatkan kamar di lantai tiga yang ke sononya naik tangga karena memang nggak ada lift. Tapi nggak apa-apa, sekalian olahraga.

Terus yang paling oke adalah staf-stafnya yang super ramah dan helpful. Nah, kami juga bertemu dengan pemiliknya langsung yang sangat low profile dan masih cukup muda. Dia yang membantu kami dengan menjelaskan apa dan bagaimana hotelnya. Malamnya kami bahkan kongkow ngobrol lama di pinggir kolam renang soal bagaimana dia merintis hotelnya. Oya, karena kami sampai di sana sudah sekitar jam 13.00 dan kami hanya semalam di Mui Ne, maka kami ingin memanfaatkan waktu benar-benar. Kami memutuskan ikut tur dengan jeep. Pihak hotel yang menguruskan semuanya. Harga tur cukup murah, karena kalau saya lihat di internet mahal-mahal. Jadi kita bisa mengambil private tour sekitar 5 jam dengan harga bervariasi tergantung jumlah orang yang akan dibawa oleh jeep dengan harga sampai USD 30 lho. Saya lebih memilih untuk bergabung dengan traveler lain dengan membayar USD 8, mengambil waktu siang itu juga dari sekitar pukul 14.00 - petang. Opsi lain, kita bisa memilih Subuh hingga Matahari bersinar. Jadi memang arahnya untuk mengejar sunset atau sunrise.

  • Ada juga persewaan motor sekitar USD 8- USD 12. Tetapi saya tidak menyarankan. Bukan soal jalannya ya....jalannya bahkan sangat bagus, lebar dengan pemandangan pantai. Tetapi polisi di sini nakal. Saya sebelumnya sudah membaca di blog-blog bule tentang pengalaman mereka ditilang polisi saat menyewa motor. Saya pikir ah itu cuma lagi sial. Eh ternyata tidak. Saat saya ikut jeep tour, beberapa kali saya lihat di pinggir jalan ada bule diberhentikan polisi yang berseragam cokelat khaki. Dan polisi ini mengintai di beberapa titik. Saya pikir ini tidak fair ya...mereka pasti dengan mudah menilang (atau memeras?) turis asing dengan alasan tidak punya SIM untuk mengendarai motor. Kalau pun saya punya SIM C untuk motor di Indonesia, apa juga berlaku di sana? Kan tidak. Jadi ya...saran saya, jangan sewa motor. Mending ikut jeep tour bareng beberapa traveler.
Balik lagi ke rencana ikut jeep tour, kami punya waktu sekitar sejam untuk bersiap. Sekadar beristirahat sebentar setelah 6 jam perjalanan dari HCMC. Tidak berapa lama, kami turun. Di luar sudah ada jemputan. Ada sekitar 7 traveler di dalam jeep yang kami tumpangi. Jeep kemudian melaju ke jalan besar di pesisir pantai (jalan satu-satunya). Tidak ada guide yang menjelaskan kepada kami. Mereka hanya bilang kami akan di bawa ke Fishing Village dulu.
  • Fishing Village : Sekitar 15 menit perjalanan dari hotel saya, kami tiba di satu titik di mana pemandangan ke lepas pantai cukup menarik. Kami semua diminta turun (tanpa tahu sedang di mana dan ini apa). Tetapi setelah itu kami ngerti juga, oh kami diminta menikmati pemandangan ini...yang memang bagus sih hihihi. Saya sebenarnya ingin lama-lama di sini. Tetapi grup saya ini kebanyakan bule-bule tua yang cuma melihat dari atas saja. Enggan turun. Praktis kami tidak lama-lama menikmati pemandangan indah ini. 
Fishing Village


  • Fairy Stream (Suoi Tien): Kata apa ya yang bisa menggambarkan lokasi ini? Ini semacam aliran sungai yang airnya jernih dan dangkal dengan pasir di dasarnya. Lalu di kanan kiri ada pahatan padas yang indah, sisi lainnya ada rerimbunan pohon bambu dan lain sebagainya. Nah, di atas pahatan itu ada juga semacam gurun pasir dengan warna pasirnya merah. Relaxing place di tengah udara panas yang rata-rata 27 derajat Celcius. Saya sangat menikmati lokasi ini. Oya, di sini kita juga bisa naik Burung Onta tapi berbayar. Untuk ke Fairy Stream sendiri nggak bayar. Awalnya saya juga bingung, ini mau ngapain ya...jeep kami berhenti di semacam gang yang di ujung gang itu ada semacam toko kecil dan banyak warga lokal duduk-duduk. Saya asal ngikut aja bareng traveler lain yang menuju ke arah tertentu. Melewati runah penduduk sebelum kemudian turun ke sungai. Dan orang-orang yang di ujung gang itu ternyata adalah para sopir jeep yang menunggu turis yang mereka antar.  Kami "dilepas" di sini sekitar 30 menit...oya, jangan takut, para sopir jeep ini ternyata saling kerja sama. Artinya, kalau ada turis grup kita ditunggu belum juga kembali, mereka akan dibawa oleh sopir lain. Jadi saat pergi dan saat kembali bisa jadi teman seperjalanan kita berbeda.
Fairy Stream

  • White Sand Dunes : kelar dari Fairy Stream, jeep membawa kami menyusuri jalur utama di pesisir pantai. Lumayan jauh dengan pemandangan sebelah kanan adalah lepas pantai...sampai kemudian kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Sebuah sand dunes, semacam gurun pasir luas yang berwarna putih. Sand Dunes kalau dalam bahasa Indonesianya adalah Gumuk Pasir. Di Yogyakarta kita juga memilikinya, di dekat Pantai Parangtritis. Sand Dunes merupakan bentukan alam karena proses angin, sebagai bentang alam. Angin dari pantai ini kemudian membawa pasir yang membentuk sand dunes. Demi melihat White Sand Dunes ini, saya yakin ini terbetuk beratus tahun. Magnificent !!! Saya sampai ngangaaaa...indah banget dan luasssss. Oya, dari tempat jeep berhenti, kita harus jalan kaki. Bagi saya tidak masalah, tidak jauh kok...meskipun iya memang puaaanaaas sampai wajah saya gosong (biasanya hanya hitam belum gosong wkwkwk). Pilihan lain adalah bisa naik all-terrain vehicle (ATV) yang tentu saja bayar. Saya ogah. Mending jalan kaki saja. Saya juga sudah banyak membaca saran mereka yang pernah ke sini, mending nggak usah sewa ATV...percuma. Karena kalau sudah sampai di "gurun pasir"-nya, susah juga mengendarainya. Kalau saya sih alasannya bukan itu, tapi sayang duit aja.
White Sand Dunes

Dan inilah highlight dari Mui Ne. Bagi saya, next stop apapun itu nggak akan bisa mengalahkan ini. Walaupun harus berpanas-panas kaki menginjak pasir, saya merasa pengorbanan ini layak banget. Jadi gurun ini sangat luas dan tinggi. Beberapa lekukan membuat pemandangan layer-layer yang luar biasa indah. Anginnya kenceng bangeeet...pasirnya putih bersih dan lembut. Maha Besar Tuhan Pencipta Alam !! saya ingin berlama-lama di sana kalau tidak mengingat wajah cemberut sopir jeep hahahaha. By the way...saya mungkin bisa bercerita dalam kalimat panjang lebar, tetapi saya jujur tidak pinter motret. Jadi saran saya, untuk membuktikan omongan saya bahwa White Sand Dunes layak dikunjungi, silakan googling image dengan kata kunci "White Sand Dunes" ....breathtaking !!  Wes...pokoke aku ke sini lagi juga mau.

Kami hanya sekitar 30 menit berada di sini. Nggak enaknya kalau ngetrip dengan orang yang bukan teman kita ya begini, anggota grup satu jeep udah balik duluan, sementara saya dan teman saya masih pengen berlama-lama. Alhasil, mau tidak mau kami balik ke pos kedatangan.

  • Red Sand Dunes : ini juga gumuk pasir, sebagai penutup jeep tour. Lokasinya searah jalan pulang (jadi tadi berangkatnya juga bakal melewati ini). Pasirnya berwarna merah, lokasinya lebih bising karena mungkin berada di dekat permukiman. Nah, banyak nih review buruk tentang lokasi ini karena banyak anak-anak yang menyewakan semacam papan untuk bermain seluncuran dari atas ke bawah. Mungkin keberadaan mereka mengganggu ya. Saya memang juga ditawari, tetapi saya menolak. Lokasi ini menurut saya masih kalah dengan White Sand Dunes ya...tetapi bagus juga kok. Di sini para turis diajak untuk berburu sunset. Saya? sudah kecapekan untuk naik...akhirnya malah nyari warung yang jual minuman. Sisanya cuma motret bayangan para sunset hunter hehehe. 
Red Sand Dunes yang cuma bayangan doang :)

Usai sudah jeep tour setengah hari. Kami kemudian diantar satu persatu menuju ke hotel masing-masing. Bagi saya, tur USD 8 tadi tidak buang-buang uang, sangat sepadan dengan duit yang saya keluarkan, tidak menyesal.

Petang itu, saya sudah pengen menciumi tempat tidur saking capeknya. Tetapi rencana tinggal rencana. Jauh-jauh ke Vietnam masak cuma mau numpang tidur. Setelah istirahat sebentar, mandi, malam itu saya nyari makan ke luar. Banyak tempat makan enak di sini, mayoritas menjual sea food. Harganya juga nggak mahal, cukupanlah. Yang menarik adalah, ada semacam food court yang tenant-tenant-nya adalah para bule. Mereka yang memasak dan melayani (dibantu orang lokal tentunya). Usut punya usut, ternyata kebanyakan adalah orang Rusia. Awalnya mereka berwisata, lalu mulai tinggal lama, lalu iseng-iseng usaha jual makanan. Nah, kata pemilik hotel tempat saya menginap, mereka buka restoran atau warung makan izinnya diatasnamakan warga setempat. Jadi ibaratnya hanya sebagai investor saja dan kadang-kadang ikut melayani. Dan menurut lidah saya, makanannya oke punya...

Next : Tragedi Paspor yang Raib....

Thursday, June 23, 2016

Too Little Time, Too Much To See (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 2)

Mungkin judul itu yang pantas buat saya untuk trip kali ini. Sebenarnya saya dan teman saya melakukan perjalanan dalam waktu yang bagi traveler lain cukup lama, yaitu antara tanggal 17 - 28 November, atau total 12 hari. Nah, kan? Tetapi sepertinya tetap saja kurang. Sepertinya itinerary bakal banyak berubah menyesuaikan kondisi di lapangan.

Patung Baru Uncle Ho di depan Ho Chi Minh City Hall

18 November 2015
Hari masih cukup pagi saat kami tiba di hotel setelah penerbangan dari Singapura ke Ho Chi Minh City (HCMC). Cukup pagi untuk merasa lapar. Pagi itu kami belum mendapatkan free breakfast tentu saja, karena baru check in hari itu. Sudah bisa early check in tanpa kena extra charge saja sudah beruntung. Bayangkan kalau kami baru bisa masuk kamar jam 13.00 atau jam 14.00 seperti rata-rata waktu check in di hotel-hotel lain (di Indonesia hotel-hotelnya kayak gini kebanyakan), bisa-bisa kami harus menunggu 4 jam. Iya sih bisa saja kami tinggal backpack di hotel, terus jalan dulu. Tetapi masak iya dengan kondisi kalau orang Jawa bilang "pating cemumut" mau jalan juga? Apa itu "pating cemumut"? Kalau dalam bahasa Indonesia sih serupa dengan kucel. Iya soalnya kami kan dari Singapura Subuh, semalemnya tidur ngemper di airport, nggak mungkin paginya mandi. Tadi pagi cuma gosok gigi dan cuci muka, lalu disambut dengan perjalanan menuju Vietnam.

Seneng banget akhirnya menemukan tempat tidur dan kamar mandi. Kesan saya sih, pengelolaan Giang Son 2 Hotel bagus ya...direkomendasikan deh buat yang mau ke HCMC. Lokasi strategis, staf ramah, fasilitas bagus, bisa early check in, ada fasilitas antarjemput bandara (meski bayar), dan mereka sangat responsif sejak saya booking dari Indonesia beberapa minggu sebelum perjalanan. Oya, saya booking melalui www.booking.com. Kenapa nggak yang lain? Bukan mau promo karena saya juga tidak di-endorse mereka, tetapi pakai situs itu saya bisa bayar saat check in. Selain itu ada free cancellation juga. Nah, sejak saya booking, saya isi tuh beberapa permintaan khusus di kolom www.booking.com, dan ternyata pihak hotel membalas dengan cepat melalui email. Artinya ini hotel memang sudah profesional ya.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami menghitung-hitung hari dan mencoba mengotak-atik rencana. Hari ini sudah pasti kami akan city tour saja. Besok? Nah ini dia. Saya sebenarnya ingin melakukan aktivitas turis standar di HCMC, yaitu ikut trip ke Cu Chi Tunnels (seperti cita-cita awal). Tetapi kebanyakan paket tur adalah satu hari full. Kalau tetap ikut paket ini tentu saja sudah terlambat karena saat itu sudah jam 10.00. Alternatif lain ya city tour yang benar-benar tur keliling dalam kota secara mandiri. Terus besok mau kemana ? Kan belum terjawab?

Teman saya pengen banget ke Mui Ne. Sebenarnya, I have no idea tentang Mui Ne. Tetapi dari hasil cerita teman saya itu dan googling, sepertinya saya harus memberi kesempatan kepada Mui Ne untuk mendapatkan kunjungan dari saya hahahaha. Akhirnya diputuskan deh ke Mui Ne, yang cerita lengkapnya entar yaa...

So, tugas saya adalah mencari tiket bus ke Mui Ne. Kami bertanya kepada staf hotel apakah mereka melayani pemesanan tiket bus ke Mui Ne? Salah seorang staf, cowok muda yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup (bila dibandingkan beberapa orang Vietnam yang pernah kami temui) akhirnya mengajak saya keluar untuk mencari tiket. Saya manut saja. Saya pikir, pasti dengan bantuan staf hotel akan mendapatkan harga tiket yang miring. Begitu bukan? 

Saya meninggalkan teman saya di hotel dan mengikuti cowok itu keluar gang, lalu berjalan satu blok atau sekitar 500 meter dari lokasi hotel saya. Sebenarnya Pham Ngu Lao Street di District 1 ini menyediakan semua kebutuhan turis. Ibarat kata, melek mata udah terlihat travel agent di mana-mana, hotel di mana-mana, tempat makan di mana-mana, toko suvenir di mana-mana, jadi kalau mau melakukannya sendiri ya bisa. Tetapi saya seperti dicucuk hidung untuk mengikuti staf hotel ini. Ternyata saya di bawa ke salah satu agen perjalanan yang menjual tiket bus. Mau ke jurusan mana aja bisa. Intinya, staf hotel itu sebenarnya hanya menyerahkan saya ke pihak agen perjalanan yang menjual tiket bus (saya yakin dia dapat komisi), lalu untuk proses booking tiket ya saya lakukan sendiri. Di sepanjang jalan itu, sudah berderet banyak sekali agen perjalanan, jadi jangan khawatir.

Saya akhirnya membeli tiket pulang pergi HCMC - Mui Ne untuk esok hari (tanggal 19 November). Bus yang tersedia adalah type sleeper dan saya sudah merasa sesak duluan membayangkannya. Saya tidak terlalu suka bus jenis ini, yaitu bus yang kursinya diganti semacam tempat tidur (seukuran tandu ambulans) dan posisinya bertingkat. Saya pernah naik bus model beginian dari Guilin - Nanning di China dalam perjalanan 12 jam dan rasanya sangaaaaat tersiksa. Tetapi setidaknya HCMC - Mui Ne hanya 6 jam perjalanan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi.

  • Tiket bus HCMC ke Mui Ne standarnya 130.000 VND (Rp 76.000) atau kurang lebih 5 USD sekali jalan. Tetapi saya lihat beberapa bus ada yang bertiket seharga hingga 14 USD. Tergantung busnya gimana juga sih. 
Sebenarnya ada juga kereta api menuju Mui Ne dengan harga tiket hampir sama. Tetapi hanya ada satu kali keberangkatan, yaitu di jam 06.50 pagi dari HCMC ke Phan Thiet, selain juga tidak direct ke pesisir Mui Ne, harus ganti dengan bus yang katanya ada di lokasi parkir stasiun atau taksi untuk menuju ke pesisir pantainya. Kalau bus, langsung diturunkan di hotel tempat kita akan menginap. Akhirnya tiket ke Mui Ne terbeli juga.

Lalu hari ini mau ke mana? Kami sepakat untuk jalan-jalan ke spot-spot standar saja di kota. Tidak berharap banyak. Dan saya mengubur dulu keinginan untuk ke Cu Chi Tunnels:

  • Ben Thanh Market : Saya adalah pecinta pasar tradisional. Ini salah satu spot yang selalu saya kunjungi di beberapa negara yang pernah saya sambangi. Saat masuk ke pasar tradisional saya benar-benar bisa merekam secara sempurna kultur penduduk setempat, membayangkan bagaimana mereka hidup sehari-hari, apa yang mereka konsumsi, bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, dan lain sebagainya selain tentu saja juga menemukan hal-hal baru dan kadang aneh terkait kuliner ya. Bagaimana dengan Ben Thanh Market? Well, tentu aspek-aspek yang saya sebut di atas saya dapatkan juga, tetapi saya lebih banyak kecewanya. Bagi saya, kebesaran nama pasar yang menjadi simbol HCMC ini tidak sebesar aslinya. Saya justru menangkap hal yang agak negatif (mohon maaf bila penilaian saya salah). Jadi pasar ini banyak menjual kerajinan tangan, suvenir, kain, dan banyaaak sekali tas outdoor "merek-merek terkenal" dalam berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari daypack hingga tas gunung. Sementara di bagian belakang dan beberapa sisi pasar diisi dengan penjual makanan khas, daging, dan lain sebagainya seperti pasar tradisional pada umumnya. Lalu apanya yang negatif? Cara mereka berdagang, khususnya pedagang suvenir. Serem. Jadi saya melihat seorang pedagang yang keukeuh memegang tangan turis dan berbicara dengan nada tinggi (serupa orang teriak). Yang saya tangkap adalah, si turis menawar tapi tidak cocok dan ingin pergi, lalu si pedagang meminta turis untuk menaikkan harga. Tetapi si turis sepertinya sudah enggan. Di sudut lainnya, saya lihat ada pedagang yang ngomel-ngomel karena seorang turis tidak jadi beli. Oya, mereka ini juga mengenali turis dari Indonesia (atau Malaysia?) sehingga saat melihat kami, mereka bilang "murah-murah". Tetapi demi melihat beberapa atraksi "serem" tadi, di mana pedagang sangat agresif, saya sudah enggan untuk bertanya tentang suatu barang. Padahal sebenarnya saya pengen beli daypack yang kemungkinan besar aspal alias asli tapi palsu itu. Damn...detailnya persis kayak yang harganya ratusan ribu sampai sejutaan itu! hahaha. Tuhan masih menyelamatkan saya dari setan pemborosan. Jadi kesimpulannya, pasar ini tidak mempesona saya. Tetapi apapun, saya masih sempat juga minum es campur demi melihat candy color di etalasenya.

yang ini nyomot dari Wikipedia karena foto koleksi lenyap

koleksi pribadi

koleksi pribadi

* Warning : Di pinggir jalan besar seberang Ben Thanh Market saya dan temen sempet mengabadikan situasi jalan dan area Ben Thanh Market dengan smartphone. Seseorang mendekati dan mengingatkan untuk berhati-hati saat mengambil foto di pinggir jalan, karena banyak kasus jambret bersepeda motor yang menyambar smartphone atau kamera milik turis yang asyik memfoto di pinggir jalan. Terima kasih sudah diingatkan. Tetapi habis mengingatkan, si Bapak nggak mau pergi dan terus menawarkan ojek kepada kami untuk keliling kota. Tetapi kami menolak dengan halus. Sepertinya untuk city tour semua bisa dilakukan secara independen.

  • Saigon Central Post Office (Poste Centrale de Saigon) : adalah tujuan kami berikutnya. Jalan menuju ke lokasi ini sebenarnya tidak jauh, apalagi saya suka jalan kaki. Tetapi kami menempuh waktu agak lama karena sempat kesasar. Beberapa kali nanya, ternyata jawabannya beda-beda. Ngakak juga karena ada yang memberikan petunjuk ke arah kanan, eh yang ditanya berikutnya menunjuk ke arah kiri. Akhirnya balik lagi hehehe...tetapi dengan semangat empat lima akhirnya ketemu juga. Kantor pos ini adalah salah satu tujuan turis di HCMC yang dulu namanya emang Saigon. Nah, kalau ditilik secara bangunannya, emang ini bangunan dibangun saat Perancis bercokol di Indochina di akhir Abad XIX, dibangun dari tahun 1886-1891dengan sentuhan gaya gothic, renaissance, sebagai pengaruh Perancis. Didesign oleh Auguste Henri Vildieu dan Alfred Foulhoux. Terus apa yang menarik dari bangunan ini? Ya kebetulan saya suka hal-hal yang berbau lawas terkait bangunan atau apapun, jadi ya saya seneng aja berlama-lama di dalamnya. Arsitekturnya menurut saya menarik, meskipun tidak mencengangkan. Ada gambaran peta Indochina di dinding atas. Begitu kita masuk, terasa adem. Saat melewati pintu utama, bagian kanan ada semacam phone booth berjajar. Bagian kiri adalah toko suvenir. Sementara ruang utama diisi dengan kegiatan kantor pos sehari-hari, yang di bagian tengahnya ada tempat duduk serta tempat jualan suvenir juga.







  • Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon : Masih satu area dengan kantor pos, ada Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon yang dibangun kolonial Perancis pada 1863-1880, yang memiliki dua lonceng menara setinggi 58 meter. Bila tidak mempelajari sejarahnya, mungkin katedral ini terkesan biasa saja. Tetapi bangunan ini salah satu yang menjadi pusat kunjungan turis. 
duck face...LoL


Area ini memang area yang menjadi pusat pariwisata HCMC. Bus pariwisata hilir mudik mengantar jemput para turis. Beberapa pengasong (yang menurut saya tidak terlalu banyak untuk area pariwisata) menjajakan aneka dagangan. Kebanyakan sih kartu pos. Tetapi saya tertarik dengan penjual kue (serupa donat?) yang melakukan atraksi di depan kantor pos. Laki-laki separuh baya itu menata dagangan bersusun tinggi di sebuah nampan, lalu meletakkan nampan di atas kepala seperti pedagang sate keliling kampung di Indonesia. Kalau sempat berkunjung ke sana, coba cari pria ini ya...hahahaha, orangnya lucu dan tidak memaksa kita untuk membeli. Trik marketing dia bagus. Dia mengajak orang yang ada di sekitar lokasi itu untuk mencoba menyunggi nampan itu di kepala. Saya mencobanya, dan benar-benar berat lho. Bagaimana dia bisa menari-menari dengan nampan itu di kepala ya?
Setelah itu dia menawarkan dagangannya. Kebetulan saya memang lagi tidak ingin membeli makanan, dan dia tetap tersenyum dan melanjutkan ngobrol dengan saya. Tetapi triknya itu telah mampu memikat beberapa turis untuk membeli kuenya. Nice trick !





  • Ho Chi Minh City Hall : Dari area tersebut, kami jalan pulang melewati Ho Chi Minh City Hall yang dibangun pada tahun 1902-1908 dengan tetap menggunakan gaya Perancis. Pada tahun 1975, bangunan ini berganti nama menjadi Ho Chi Minh City People's Committee. Di depan bangunan itu terdapat semacam plaza yang sangat luas yang mungkin lebih tepat disebut alun-alun. Di depan bangunannya, pada tahun 1990 berdiri patung Uncle Ho sitting next to a girl. Sebenarnya siapa sih Uncle Ho ini ? Dia adalah tokoh revolusi dan negarawan Vietnam yang pernah menjabat sebagai perdana menteri pada tahun 1954, yang dianggap sebagai politisi paling berpengaruh pada abad XX. Nama Ho Chi Minh kemudian diabadikan sebagai nama kota ini, yang sebelumnya menggunakan nama Saigon. Saat saya berkunjung ke sana, patung lama sudah diganti dengan patung baru yaitu posisi Ho Chi Minh berdiri dengan gaya gerakan tangan menyapa (lihat foto paling atas).
  • Ho Chi Minh




Hari itu, cuaca mendung di HCMC, dan kami berniat segera kembali dulu ke hotel. Hari juga sudah agak sore. Tetapi belum juga sampai di hotel, hujan sudah mengguyur dan kami harus berteduh di Ben Thanh Market. Tetapi hujan turun tidak lama, dan kami melanjutkan perjalanan ke hotel. Sepanjang perjalanan ke hotel sangat sejuk setelah hujan. Yang saya suka dari kota ini adalah penataan kotanya, meskipun panas tetapi mereka mengimbangi dengan membangun taman-taman kota serta memelihara pohon-pohon pelindung tinggi besar. Di sekitar Pham Ngu Lao Street banyak taman-taman yang masih penuh dengan aktivitas warga hingga malam. Olahraga yang paling banyak dilakukan adalah bulu sepak (ini istilah saya sendiri) yaitu semacam sepak takraw tetapi yang disepak adalah semacam shuttlecock bulutangkis namun berbahan beda. Permainan ini bisa dilakukan berdua maupun banyak orang dengan posisi melingkar. Kita bisa melihat warga bermain semacam ini hingga malam hari di taman-taman.

Saat memasuki Pham Ngu Lao Street dalam perjalanan ke hotel, saya kaget juga...wah, saat siang yang seperti hari biasa di banyak kota, malamnya jalan ini berubah menjadi jalan yang sangat-sangat bising. Turis (mayoritas bule) tumplek blek di sepanjang jalan ini. Toko, club, restoran, semua seperti menggeliat dalam puncaknya dengan siraman lampu warna warni. Di trotoar, dipasang kursi-kursi kayu pendek dan meja pendek, lalu semua berkumpul di depannya sekadar nongkrong atau minum bir. Lalu lintas juga sangat ruwet. Untung hotel saya masuk di dalam gang. Jadi semua itu hilang seketika saat saya di dalam kamar. Usai mandi dan istirahat sebentar, saya keluar jalan-jalan menikmati malam sambil nyari makan malam. Banyak pilihan sih, tetapi memang bagi traveler muslim, musti hati-hati memilih resto ya...banyak babinya.



Inilah makan malam saya :
1. Vietnam Tea : yang kuning kayak minyak goreng itu adalah Vietnam Tea. Murah, harganya 3.000 VND (sekitar Rp 1.800).

2.Fried Tofu Lemongrass : tahu goreng dengan bumbu lemongrass. Suka banget dengan ini, karena tahunya sangat lembut di dalam, kering di luar. Taburan bumbu lemongrass-nya membuatnya menjadi sedap. Love it. Harganya untuk dua biji (ukuran agak besar) 35.000 VND (Rp 20.000-an) yang emang agak mahal ya untuk ukuran tahu :)

3. Chicken Pho: Pho adalah noodle soup yang khas di Vietnam. Kuliner paling terkenal malah, karena semua orang ke sana pasti nyari ini. Pho bisa pakai babi, daging sapi atau ayam. Jadi hati-hati benar ya buat yang muslim. Semangkuk Chicken Pho ini harganya 50.000 VND (sekitar Rp 30.000-an). Bagi yang traveling on budget  memang sepertinya mahal ya. Tapi jangan khawatir, kalau kalian jalan berdua atau lebih, bisa sharing kok. Karena satu mangkuk Chicken Pho ini porsinya besar banget, pake mangkok gede juga.

Oya kebetulan teman saya memesan pakai nasi. Kalau saya lihat, nasi mereka sangat bagus putih bersih dan pulen. Saat icipi juga enak. Pantesan Indonesia mengimpor beras dari Vietnam :)

* Catatan saya: awal ke Vietnam banyak yang cerita bahwa mata uang Vietnam Dong nilainya separuh dari rupiah. Sudah kepikiran semua harga akan lebih murah? jangan terkena ilusi mata uang. Karena meskipun mata uang mereka nominalnya separuh rupiah, tetapi harga-harga seperti makan misalnya, standarnya lebih tinggi. Di Indonesia ke angkringan aja bisa cuma Rp 7.000 ya. Kalau makanan warung yang agak naik kelas ya sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 ya....tetapi kalau di sana, start-nya lebih tinggi. Lha itu tahu goreng aja Rp 20.000 hehehe (atau mungkin saya belum menemukan warung murah?). Kalau harga kamar hotel, menurut saya masih standar seperti harga di Indonesia. Bintang satu dua masih di kisaran Rp 200.000 - Rp 250.000. Jadi sekali lagi jangan terkena ilusi mata uang ya :)

Malam itu, kami menutup hari dengan nongkrong di taman lalu balik hotel dan tidur, karena besok pagi-pagi kami akan menuju ke Mui Ne untuk sesuatu yang luar biasa (?). Saya sudah sangsi akan bisa mengunjungi Cu Chi Tunnels karena waktu kami sangat terbatas...pfffhhh...

Next : amazing sand dunes in Mui Ne...

Tuesday, June 21, 2016

Vietnam, Setelah Sekian Lama Tertunda (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 1)

                                                    sumber: www.lonelyplanet.com
Saya sendiri tidak tahu kenapa Vietnam menjadi negara yang sangat ingin saya kunjungi, tetapi juga menjadi negara yang sepertinya susah saya jejaki...

Tahun 2013 saya sudah merencanakan ke sana. Lalu menabung dan berencana berangkat tahun yang sama, atau setidaknya tahun 2014. Harap maklum, saya bukan traveler yang duitnya longgar. Saya benar-benar harus nabung, menyisihkan uang dari berbagai sumber. Apalagi setelah saya memutuskan untuk tidak ngantor, maka sumber utama tidak ada. 

Tahun 2013 akhirnya saya gagal ke Vietnam karena ada pekerjaan sampingan di luar kota. Tahun 2014, saya bahkan sudah membeli tiket berangkat, rencananya Agustus akan jalan, tetapi takdir berkata lain, saya harus mengurungkan niat karena kena musibah dan uangnya harus dipakai untuk keperluan lain. 

Sementara Vietnam dengan segala kemisteriusannya terus menari-nari di benak saya...

Sejak SD saya sudah dijejali dengan bacaan kisah-kisah human interest terkait perang Vietnam di Majalah Intisari. Kakak saya kebetulan berlangganan majalah yang bagi saya saat itu adalah majalah yang paling keren. Cerita-cerita perjuangan rakyat Vietnam yang hidup di bawah tanah, di lorong-lorong Cu Chi Tunnels, begitu menancap di benak saya. Saya masih tidak bisa membayangkan bahwa di lorong-lorong bawah tanah Vietnam ada kehidupan yang diatur sedemikian rapi, termasuk ada rumah sakitnya pada saat itu.

Maka untuk mematikan rasa penasaran itu, akhirnya saya merencanakan untuk mengunjungi Vietnam pada November 2015. Awalnya rute saya adalah : Solo - Singapura - Ho Chi Minh City  (Vietnam) - Phnom Penh - Siem Reap (Kamboja) - Bangkok - Chiang Mai - Chiang Khong (Thailand) - Huay Xa (Laos). Artinya saya akan melintasi lima negara. Tetapi kemudian semua kacau balau karena tiket murah yang saya beli dari Air Asia dibatalkan secara sepihak dan saya tidak memiliki opsi lain selain beli tiket baru mengingat kompensasi yang diberikan Air Asia tidak sesuai jadwal. Saya tidak tahu pasti, apakah uang tiket saya yang dibatalkan itu bisa kembali atau tidak. Tetapi terakhir saya cek di akun saya, refund dana itu ditolak yang artinya Rp 100.000 melayang. Mau untung dapet tiket promo, tapi malah buntung. Jadi tidak hanya beli tiket baru yang lebih mahal, tetapi saya juga harus kena masalah akibat pembatalan sepihak oleh Air Asia (baca "Ditahan di Singapura"). Belajar dari masalah yang pernah saya alami, saya sudah tidak tergoda lagi dengan promo segala nol rupiah dan apalah dari Air Asia. Kalau pun saya menggunakan maskapai itu, saya hanya akan booking sesuai kebutuhan. Kalau butuhnya tahun depan, ya booking saya tahun depan. Kapok.

Itu salah satu hal yang menurut saya sepertinya ada saja kendala saat hendak ke Vietnam. Ada baiknya sebelum ini, Anda membaca dua postingan bersambung saya yang "ditahan" imigrasi Singapura. Itu adalah saat saya transit sebelum menuju ke Vietnam.

17 November 2015 : 
Pagi-pagi saya terbang dari Bandara Adi Soemarmo Solo menuju ke Kuala Lumpur. Saya tiba di KLIA dan beberapa jam masih harus menunggu untuk penerbangan saya menuju Singapura. Saya habiskan waktu dengan makan di food court KLIA, lalu jalan-jalan nggak jelas, lalu ngemil roti di salah satu gerai makanan di sana yang entah apa namanya saya lupa. Somehow...saya merindukan LCCT dengan segala kesederhanaannya. LCCT adalah Low Cost Carrier Terminal di Kuala Lumpur tempat naik turunnya penumpang pesawat bertiket murah. Saya sudah sedemikian akrabnya dengan LCCT sampai hapal spot-spot mana yang enak buat tiduran, buat ngopi, buat makan dan lain sebagainya. Tetapi sekarang seperti Airasia operasionalnya pindah ke KLIA. Lebih bagus, tapi bagi saya terkesan kaku dan sombong. Dasarnya saya emang traveler kere ya hehehe.
  • Oya, tiket saya Solo - Kuala Lumpur seharga sekitar Rp 400.000. Lebih mahal Rp 300.000 dari tiket awal yang saya beli dan dibatalkan oleh Air Asia seenak udelnya (dendam!)
Sorenya, saya mulai check in untuk bersiap menuju ke Singapura. Saya memang sengaja mengambil tiket malam, karena teman saya akan menyusul ke Singapura malam harinya. Jadi supaya jadwal kami pas, saya pilih pesawat malam. Kalau nggak salah sekitar pukul 18.30 atau berapa gitu. Sejauh ini lancar dan saya siap terbang ke Singapura.

  • Tiket Kuala Lumpur - Singapura dengan Air Asia saya dapatkan dengan harga sekitar Rp 200.000. Jadi total jenderal dari Solo - Singapura yang rutenya belok dulu ke Malaysia ini saya dapatkan harga Rp 600.000. Rute belok inilah sumber kesialan saya di Changi.
17 November 2015 malam :

Semuanya sih lancar-lancar saja...maksudnya penerbangannya. Lalu sampai di Changi saya masih muter-muter jalan-jalan dulu sebentar sebelum keluar melalui pemeriksaan imigrasi. Nggak lama sebenernya jalan-jalannya. Saya hanya ingin antrian di meja imigrasi nggak ada lagi. Benar juga...antrean sepi. Paspor saya siap distempel...

Dan inilah awal penderitaan saya selama 2 jam berikutnya. Silakan baca di tulisan "Ditahan" Di Singapura.

17 November 2015 malam :
Setelah berhasil lolos dari interogasi Imigrasi Singapura, saya masih harus menenangkan diri di ruang tunggu sambil menunggu pesawat teman saya dari Jakarta mendarat. Bagi saya pengalaman di interogasi lama itu adalah pengalaman yang menyebalkan. Sambil menunggu teman, saya membunuh waktu dengan berselancar di dunia maya.
  • Untuk menggunakan Wifi gratis di area Airport Changi gampang kok. Aktifkan Wifi di smartphone, lalu pilih Wireless@SG, lalu sign up di halaman pendaftaran. Cantumkan nomor telepon yang aktif ya (nomer lokal kayak Telkomsel dan XL misalnya bisa aktif kok)...karena password akan dikirim melalui SMS. Setelah dapet password...siap berselancar.
Setelah menunggu sekian lama dan sempet saling mencari, akhirnya saya bertemu teman saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah curhat tentang perlakuan imigrasi Singapura kepada saya tentu saja! Hal kedua setelahnya adalah mencari makan. Kami (saya khususnya) sebenernya traveling dengan bener-bener on budget. Makan di area airport adalah satu kesalahan. Tetapi akan lebih salah kalau kami harus keluar airport dan mencari makan di luar karena itu berarti harus bayar MRT - menuju kota, lalu cari food court murah...yeee, sama juga bohong kan. Akhirnya kami sepakat akan makan di salah satu kedai makan di salah satu terminal yang menyajikan makanan Vietnam. Ya, itung-itung sebagai pemanasan. Tetapi cewek yang melayani kami belum-belum sudah bilang bahwa menu yang mereka sajikan tidak halal. Mungkin dia melihat tampang Arab teman saya. Akhirnya kami pindah, ke sana ke mari mencoba mencari makanan yang murah (soal rasa belakangan) tetapi nggak nemu juga. Dan takdir kami saat itu berakhir di Burger King !! oalaaah.

Malam itu kami tidur di area free internet. Lokasinya agak tersembunyi di bagian atas salah satu terminal di Changi (saya lupa terminal berapa). Tetapi itu adalah tempat paling sempurna untuk merebahkan diri di karpetnya. Lokasinya kebetulan agak sepi, sejumlah perangkat komputer dengan jaringan internet gratis teronggok tak berguna di atas meja-meja yang tersedia. Di sana juga tersedia sofa-sofa yang kebanyakan kosong. Di salah satu sudutnya, terlihat pemandangan sepasang suami isteri bule dengan dua anaknya yang masih Balita tertidur di lantai dengan nyamannya, berselimut kain. 

Tak butuh waktu lama, saya dan teman saya sudah mencari kolong-kolong meja yang bisa dipakai buat tidur. Ternyata, di beberapa kolongnya sudah teronggok beberapa traveler bule yang juga mau ngesot numpang tidur hahahaha. Saya memilih satu meja yang kolongnya agak besar dan berada di pojokan. Hanya supaya saya tidak mengganggu tidur traveler lain dengan suara ngorok saya hihihi. Malam itu, akhirnya banyak traveler lain yang tidur seperti kami...beralas karpet, berbantal backpack. Dan itu nyaman sekaliii....

18 November 2015 :
Pagi buta kami sudah bangun. Tidurnya lumayan nyenyak. Lebih enak lagi karena di situ juga ada toilet bersih yang tidak banyak pemakainya. Jadi leluasa membersihkan diri. Pesawat kami akan terbang pukul 07.05 waktu Singapura. Sebenarnya kami memiliki banyak waktu pagi itu. Kami akan berangkat ke Ho Chi Minh City menggunakan pesawat Tiger Air. Pengalaman saya menggunakan Tiger Air, saya selalu puas. Bahkan terakhir kali saya naik pesawat ini, mereka masih memberikan snack gratis.

Kami pun memilih menunggu di ruang tunggu sekitar gate tempat boarding Tiger Air. Masih lama. Oya, pagi itu saya bertemu Tracy Trinita yang supermodel tahun 2000-an itu. Dulu saya sangat terobsesi dengan Tracy saat dia muncul sebagai cover di Majalah JakartaJakarta (ini salah satu majalah yang ngehits lho...iya ketauan tua hehehe), terus makin terobsesi pas Tracy muncul di video klip Java Jive yang "Gerangan Cinta" dan "Permataku". Beuuuuh...dan sekarang ketemu in person, supermodel Indonesia yang tinggi dan cantik yang sudah melahap runway di New York hingga Paris. Tracy kelihatan sederhana, berjalan sendirian mendorong trolly. Dia ramah juga karena sempat lempar senyum ke arah saya. Cantiikknyaaaa.... Okay...stop it.... Kembali ke perjalanan saya ya...

Pagi itu semua berjalan sempurna setelah segala kekacauan yang saya alami sebelumnya. Proses di imigrasi lancar dan pesawat pun tidak mengalami keterlambatan. Pukul 07.05, Tiger Air membawa kami terbang menuju ke Vietnam...so long, damn Singapore !!

18 November 2015:
Sekitar pukul 08.15 waktu HCMC kami tiba di Tan Son Nhat International Airport. Menurut saya bandara ini tidak terlalu besar, namun cukup bersih dan rapi. Nyaman. Dan hari itu, untuk pertama kalinya masuk ke sebuah negara mendapatkan pelayanan di meja imigrasi dengan super cepat. Padahal saya sudah deg-degan kalau kejadian di Changi akan terulang. Tetapi hari itu semua super lancar dan paspor saya sudah distempel kurang dari dua menit setelah petugasnya mengecek. Mereka mengecek sambil sibuk ngobrol antarpetugas di meja yang berbeda lho...ahh...mungkin mereka lagi sibuk bergosip dan hari itu saya beruntung hehehe. 

Keluar dari pintu utama airport, saya mencari orang hotel yang akan menjemput. Saya sudah booking hotel untuk malam pertama di Giang Son 2 Hotel. Lokasinya di 283/24 Pham Ngu Lao, District 1, HCMC. Kebetulan saya yang bertugas mencari hotel dan dari sekian banyak pertimbangan, saya memilih hotel ini. Pertimbangan pertama adalah lokasi yang harus di District 1. Dari hasil survei dan cerita teman-teman, memang District 1 paling strategis, meskipun sisi lainnya juga dinilai berisik. Tapi karena ini hari pertama, kami tidak ingin memulai hari dengan tersesat. Jadi lokasi adalah sangat penting. Nah, untuk menuju ke sana, saya dan teman patungan untuk menggunakan mobil jemputan dari hotel. Tarifnya 15 USD, jadi masing-masing kami setor 7.5 USD...beuhhh, mahal juga ya...

Tak lebih dari 5 menit, kami sudah menemukan penjemput kami yang membawa kertas dengan nama saya selalu pembooking. Tetapi ternyata kami tidak langsung menemukan mobilnya. Menunggu sekitar 5 menit sebelum kami diserahkan ke seorang sopir dengan mini bus yang lumayan bagus. Maka berangkatlah kami ke kota. 

Mobil yang kami tumpangi sangat nyaman dan kelihatan masih lumayan baru. Sopirnya (saya lupa namanya padahal sempat tanya) sangat antusias untuk berbincang dalam bahasa Inggris. Kami salut dengan semangatnya untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris. Sopir ini orangnya lucu dan kadang di tengah jalan dia menyanyi. Lalu saat melihat seorang polisi lalu lintas, dia sempat misuh-misuh dalam bahasa Vietnam dan ingin menghajar polisi itu. Usut punya usut, ternyata polisi lalu lintas di Vietnam banyak yang brengsek juga. Dia cerita, polisi di sana suka cari duit dari tilang. Makanya dia sangat sebal hahaha. "Aku ingin menonjok mukanya!" kata dia dengan bahasa Inggris ngasal. 

Lalu lintas di Ho Chi Minh City itu ruwet banget. Banyak sekali motor dengan pengendaranya menggunakan helm yang kalau di Indonesia belum SNI. Kalau di Jawa, helm seperti itu terkenal dengan sebutan helm "ciduk" (gayung) karena bentuknya yang setengah lingkaran dan bisa dipakai buat gayung. Di Indonesia helm semacam ini pernah hits tahun 1990-an sebelum kemudian dilarang karena tidak mampu melindungi penggunanya secara sempurna.

Saya lupa berapa lama perjalanan dari airport ke kota. Tetapi perkiraan saya sekitar 30-40 menit. Setelah tiba di kota, sopir menurunkan kami di ujung sebuah gang. Saya sudah waswas, wah...jangan-jangan hotel yang saya booking adalah rumah penduduk? tetapi saya lihat foto-fotonya bagus kok. Si sopir menujukkan arah masuk ke gang di mana hotel kami berada. Saya agak ragu juga masuk ke dalam gang. Di ujung gang, beberapa orang penduduk tampak asyik kongkow di depan ruko.

Ternyata hotel kami nggak mengecewakan. Kami disambut perempuan cantik dan ramah yang (lagi-lagi) saya lupa namanya dengan welcome drink yaitu jus orange, dan boleh nambah sesukanya. Ruang lobby-nya bersih, lalu terlihat ada semacam pantry luas yang terhubung dengan meja panjang tempat tamu makan atau sekadar duduk-duduk ngobrol.

Lobby Giang Son 2 Hotel 

Kamar kami

Toilet
Kamar kami sangat bersih dan nyaman dengan kamar mandi dalam. Lokasinya tepat di belakang lobby dan berhadapan dengan meja makan yang panjang tadi. Termasuk dalam fasilitas adalah Wifi dan sarapan pagi. Sedangkan fasilitas kamarnya cukup lumayan, ada TV kabel, toiletries komplit, AC juga dingin. Saya pikir dengan harga yang kami bayar sekitar Rp 250.000-an sangatlah layak.  

Hari itu kami memulai hari dengan istirahat sebentar, mandi, lalu cari sarapan. Saya tidak punya bayangan akan sarapan apa...dan tanpa disangka teman saya justru mengusulkan sarapan makanan India. Oh really ? Makan masakan India di Vietnam ? Awalnya saya ragu...tetapi setelah menuju ke sana, sebuah gang sempit yang tidak jauh dari District 1, saya tertarik mencicipi juga...eh ternyataaa.....wueeeenak ! :)

Next : Rencana berubah, kami harus ke Mui Ne...seru !!