Thursday, August 25, 2011

Jebakan Betmen Menuju Bromo

Ini pengalaman saya yang semoga tidak Anda rasakan, saat menuju ke Bromo. Pukul 14.00 WIB saya datang ke tempat mangkal mobil menuju Bromo di sebelah Terminal Probolinggo. Aturan yang disepakati para pengemudi adalah, penumpang harus naik ke mobil sesuai nomor antre mobil. Jadi, bila mobil pertama belum berangkat, kita tidak bisa naik ke mobil antrean kedua. Di depan warung tempat ngetem, sudah ada satu bule cewek asal Amerika Serikat. Saya dan dia sepakat dengan sopir, masing-masing akan membayar Rp25.000,00. Kami disuruh menunggu. Berikutnya, muncul tiga orang bule, satu dari Brazil, satu dari Belgia, dan satu lagi dari Jerman. Sekarang saya memiliki teman, yaitu Meeka, Manuela, Jonas dan Daniel.  
Harga yang disepakati sama. Beberapa saat kemudian, sopir menawarkan, masing-masing kami membayar Rp40.000,00 dan akan segera berangkat. Kami menolak dan memilih menunggu. Sopir mengatakan, akan menunggu dua penumpang lagi, hingga pukul 17.00 WIB. Saat itu baru pukul 14.30 WIB. Hahaha …. Kami tidak mempermasalahkan itu asalkan tetap membayar Rp25.000,00. Tepat pukul 17.00 WIB, kami menagih janji untuk diberangkatkan. Tapi, …si sopir menolak dan meminta bayaran Rp40.000,00. Kami berlima akhirnya marah-marah tak keruan karena sudah merasa dipermainkan. Kami sudah menunggu tiga jam dan akhirnya tetap harus membayar Rp40.000,00. Kami memutuskan meninggalkan sopir itu dan mencari mobil lain. Tapi, jangan dikata itu mudah karena hampir semua mobil tak berani memberangkatkan kami. Alasannya, takut kepada sopir yang pertama. Ougggh … rasanya pengen menghajar saja. Akhirnya, kami menemukan sopir lain dengan harga Rp35.000,00. Dengan gondok, akhirnya kami mau tidak mau membayarnya. Dan saat itu sudah pukul 18.30 WIB!
Pelajarannya adalah:
Untuk Anda yang solo traveling, Anda akan berhadapan dengan “mafia” model begini, baik berangkat maupun pulang. Ujung-ujungnya selalu berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari Anda. Bila Anda bukan orang yang sabar menunggu atau orang yang berani melawan, lebih baik tidak memilih angkutan ini dan membayar ekstra untuk ojek. Akan lebih mudah bila Anda bepergian secara grup, Anda bisa memilih carter mobil dan sharing budget atau bergabung dengan penumpang lain.

*Tulisan ini ada di salah bab buku saya, "Travelicious Surabaya, Malang dan Madura: Jalan Hemat, Jajan Nikmat"

4 comments:

just-euphoria said...

hoho.. memang terjadi dimana saja itu.. bukan di Indo saja..
:P

Anjieya said...

bromo dinginnya kaya apa ya? klo misal pake jaket buat musim dingin yang kaya di film2 eropa gitu bakal nyaman ga? (buat jalan2nya juga) thanks

Ariy said...

@Anjieya

Saya bukan termasuk orang yang tahan dingin. Suhu 6 derajat Celcius bisa membuat saya mimisan. Nah, di Bromo menurut saya masih sangat hangat kok. Saya bahkan hanya pake light jaket dan baik2 saja.

tanjung pondok tani pondok tani said...

Bromo Tanjung Pondok Tani
Dalam rangka Memperkenalkan " Kawasan Tengger-Bromo" dari segala aspek, kami buka pondok tani tanjung-tosari unt umum, “tanpa tarif” (khusus untuk rombongan)
@.kamar los + 2 km mandi luar, dapur, teras serba guna, kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukkan dana "sukarela" ke kotak dana perawatan pondok pertanian.
# untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 - 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick). 0343-571144 (pondok pertanian).
# Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian