Labels

Sunday, March 11, 2012

Jalan-Jalan ke Malaka, Melaka...eh Malacca (part 1)

Apapun itu dan bagaimana pun cara menyebutnya, yang penting saya sudah menuntaskan rasa penasaran atas Melaka (pilihan kata yang saya gunakan di tulisan ini). Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini destinasi yang saya pilih untuk traveling selalu berdasar "dendam". Saya sudah terlalu sering ke Malaysia, tetapi tidak pernah sekalipun ke Melaka. Padahal ini hanya sepelemparan kolor dari Kuala Lumpur. Duh, kebangeten kan saya?
Padahal iming-imingnya tuh keren banget lho, inilah kota yang masuk daftar warisan dunia dari UNESCO. The city invites you to experience the old world charm of buildings and architecture inherited from centuries of Portuguese, Dutch dan British rule, and to witness the various costums and cultures of its people. Nah lho, mantaps gak tuh.

Akhirnya, sejak akhir tahun 2011 saya mulai ngincer untuk mendatangi Melaka. Ngulak-ngulik polah tingkah maskapai penerbangan, siapa tau dapat sisa tiket hehehe. Eh, kok doa saya terjawab begitu Air Asia membuka rute baru Kuala Lumpur-Semarang dan sebaliknya. Biasanya rute baru akan memunculkan tawaran tiket dengan harga ancur-ancuran. Lucky me, saya dapat tiket dengan harga dasar Rp 49.000, kalo pp termasuk dengan pajak dan lain-lain saya bayar pp Semarang-Kuala Lumpur hanya more less Rp 350.000. Hohohohoho. Thanks again AirAsia!!

Singkat cerita, saya menjelajah beberapa tempat di Malaysia. Sebagian sudah saya ceritakan sebelum ini. Nah, kesempatan saya ke Melaka adalah tanggal 16 Februari 2012. Menuju ke Melaka, saya berangkat dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang sangaaaaaat cantik untuk kelas terminal. Seriously !! sebelum masuk ke terminal baru ini, saya cuma membayangkan apa kata orang. Tetapi begitu masuk, olala...memasukinya bikin saya cegukan. Bersih, dingin, mewah, full fasilitas, bla...bla...bla...dan blaa... :). I'm speechless. 

Nah, ini bagian dalamnya dengan banyak loket bus. Untuk sampai ke sini dari kota gampang kok, naik saja LRT menuju ke stasiun LRT Bandar Tasik Selatan.
Loket-loket berjajar cantik, dengan sistem penjualan tiket secara konsorsium, jadi tidak perlu pusing menghindari calo, karena calo nggak ada ceritanya di terminal ini :).
Tinggal menuju ke loket-loket yang diinginkan, kita akan diberi daftar pilihan bus yang akan kita gunakan, pilihan harga (selisih tidak terlalu banyak antara satu bus dengan bus lain), lalu tiket bisa dibeli. Mau pesan tiket juga bisa lho. Nah, bagusnya ini terminal ada board pengumuman bus-bus yang akan berangkat, datang, hingga pembatalan. Persis kayak di bandara itu. Mau titip tas, ada layanan left luggage. Mau makan? ada food court di lantai dua. Mau ke toilet? banyaaak dan bersih. Jangan bayangkan toilet khas terminal bus di Tanah Air ya. 
Saya naik Metrobus dengan tiket seharga RM 9.20 atau sekitar Rp 27.000. Ini harga termurah, beberapa operator bus lainnya menetapkan harga sekitar RM 12. Bedanya memang di fasilitas busnya. Tapi bagi saya, tampilan bus dari operator Metrobus sudah jauh lebih bagus dari harapan. Mungkin karena saking seringnya saya naik bus bumel Solo-Yogyakarta. Mau tau tampilannya? nih dia bus dari Metrobus:

Metrobus KL-Melaka dan sebaliknya. Bagus kan?
Saya nggak sempat memotret yang dari Kuala Lumpur, ini adalah gambar yang dari Melaka. Tapi sama sih bus. Kursinya dua-dua, nyaman, AC dingin, dan busnya tepat waktu. 
Oya, balik lagi cerita soal TBS, antrean sebelum masuk bus juga persis kayak di bandara. Kita masuk ke ruang tunggu, dengan banyak platform dan gate, tinggal sesuaikan dengan tiket kita. Lalu akan ada panggilan, untuk masuk, kita antre pengecekan tiket. Semua dilakukan secara rapi dan efisien. Selama saya naik bus ini, belum pernah meleset dari yang dijadwalkan. Bagus. 
Lama perjalanan sekitar 2 jam-an. Tapi pas berangkat, KL-Melaka dilibas dengan hanya 1,5 jam saja. Dan itu tidak berasa capek sama sekali karena bus-nya bagus, selain itu jalannya juga mulusssss...mostly melalui jalur bebas hambatan. Kalau secara pemandangan sih biasa saja.
Saya tiba di Melaka Sentral (terminal pusatnya Melaka) pada pukul 11.00 siang. Terminalnya cukup besar dan di sini tuh selain di terminalnya ada kayak shopping centre, food court, di sekitar terminal juga ada pasar tradisional, mall, dan lain sebagainya. Tapi terminalnya meski tidak sekeren TBS, cukup rapi dan bagus. 
Oya, kalau bingung belum dapat penginapan dan sekiranya budget juga sedikit longgar, coba saja ke papan pengumuman yang lokasinya di tengah terminal. Tepatnya di seberang Mc Donald. Di sana ada papan berisi tawaran kamar sejumlah hotel budget lengkap dengan harga per malamnya. Bagaimana mengetahui ketersediaan kamar? Gampang, di papan pengumuman itu ada pesawat telepon bebas pulsa yang bisa digunakan untuk menghubungi hotel yang diinginkan. 
Kalau saya mah, ogah...karena budget saya memang sangat ketat, jadi saya putuskan go show sekalian jalan-jalan. Niat awal ingin booking lewat www.hostelworld.com atau www.hostelbookers.com, tapi kemudan saya batalkan.
Untuk menuju ke kota, gampang juga. Menuju ke gate untuk domestik bus atau bus kota. Kalau nggak tahu, tanya bagian informasi. Lalu dari sini, cari bus no 17. Busnya hijau, jueleeek mampus. Tapi ajaibnya, bus ini AC-nya nyala hahahaha. Bayarnya di muka, yaitu langsung ke sopir, usahakan uang pas yaitu RM 1.50. Biasanya ditanya dulu nih, turun di mana? Jawab saja turun di STADTHUYS. Ini adalah pusat kawasan heritage-nya Melaka dan berada di Melaka Tengah. Dari sini jalan ke kawasan homestay deket banget.

Cara kedua adalah pakai Panorama Bus. Tapi agak susah nyari bus ini karena nggak ngetem lama di terminal. Jadi begitu datang, langsung kejar deh :). Tapi kalau dari downtown ke terminalnya gampang kok. Busnya gampang dikenali, karena merah menyala. Dan biasanya penuh dengan turis. Saya tidak tahu mana kebijakan yang benar, tetapi pertama kali naik bus ini saya gratis. Tapi kemudian pas pulang saya ditarik bayaran RM 1.50. Tapi saya nggak protes lho, karena busnya bagus dan nyaman sekali. 
Perjalanan dari Melaka Sentral (Terminal) ke downtown tidak lama. Saya perkirakan cuma 15 menit. Kali pertama naik bus no 17, saya ditanya sopirnya, mau turun di mana? saya bilang saja "World Heritage Area" si sopir yang orang keturunan India menggelengkan kepala, dia tidak tahu. Tetapi dia tetap mempersilakan saya naik. Hal sama ternyata terjadi pada banyak turis lainnya. Para turis ini, termasuk saya, tetap saja nekat naik meski sopir tidak mengerti di mana tujuan kami. Usut punya usut, mereka ada yang menggunakan Lonely Planet, googling, dan lain sebagainya untuk menemukan bus no 17 ini. Termasuk saya :).

Lovely Melaka

Setelah melewati kawasan pinggiran yang tidak terlalu istimewa, layaknya permukiman penduduk, mall kecil, dan lain sebagainya, bus melaju ke kawasan yang bagi saya...indah banget. Ini adalah Jalan Laksamana, dengan jalan tidak terlalu lebar, kanan kiri adalah rumah-rumah model kuno bertingkat didominasi warna merah. Saya jadi teringat rumah-rumah kuno di Dali, sebuah kota kuno di Yunnan, China. 
Jalan ini tidaklah panjang. Kanan dan kirinya berbagai macam badan usaha penduduk setempat, toko souvenir, bar, hingga di ujung ada kantor pos kecil. Begitu melewati ini, saya langsung mengenali bahwa saya telah tiba di kawasan cagar budaya Melaka. Tinggal menunggu bus sampai di halte untuk berhenti saja.

Sebenarnya saya pengen turun saja dan menyusuri jalan nan cantik ini. Tapi tidak mungkin, karena bus hanya akan berhenti di halte bus. Akhirnya saya urungkan dan niat untuk menyusuri jalan ini harus ditunda dulu. Saat melewati jalan ini, keadaan cenderung sepi. Tidak banyak orang beraktivitas. Namun beberapa becak cantik sudah terlihat berseliweran di jalan ini.
becak-becak melenggang di Jl Laksamana
Masih di dalam bus, saya lihat di ujung seperti ada karnaval, dan situasinya sangat ramai. Wah saya sudah nggak sabar untuk tiba di ujung. Itu seperti 20 meter terpanjang dalam hidup saya (Lebay!) ;).
Ujung Jalan Laksamana adalah kawasan Stadthuys. Kalau pernah nonton film Jumper-nya Hayden Christensen, itulah perasaan saya saat itu. Awalnya tadi berangkat ke Malaysia, tiba-tiba saja dalam hitungan jam saya seperti sudah berada di Eropa!
Di sinilah para turis terkonsentrasi. Saya benar-benar menikmati kawasan ini, karena memang saya suka dengan hal-hal kuno. Kawasan ini juga terlihat sangat terawat sekali.

Kompleks Stadthuys nan cantik
Kawasan Stadthuys difoto dari Gedung Stadthuys. Tampak kejauhan adalah Chris Church Melaka, gereja yang dibangun Belanda pada tahun 1753.
Becak-becak hias diparkir di depan Chris Church Melaka
Stadthuys adalah bangunan yang menurut saya paling menonjol dari sekian warisan dunian yang ada di Melaka. Berwarna dominan merah salmon, dibangun dengan kayu-kayu tua pilihan di bagian pintunya, langit-langit tinggi, sehingga terasa sejuk berada di dalamnya. Stadthuys dibangun pada tahun 1645 dan dipercaya sebagai bangunan Belanda tertua di kawasan timur Asia. Bangunan utama Stadthuys saat ini digunakan sebagai bangunan Museum of History and Ethnography (War Museum). Museum ini buka setiap hari dari pukul 09.00-17.30 (weekdays) dan 09.00-21.00 (weekend). Harga tiketnya untuk dewasa RM 5, sementara untuk anak-anak RM 2.
Oya, Anda juga bisa berfoto dengan pakaian tradisional atau mengambil foto bersama pasangan yang mengenakan pakaian tradisional. Saya lupa tarifnya berapa, tetapi tidak lebih dari RM 5. Model beginian saya banyak menemukan di luar negeri, kenapa di Indonesia tidak ada yang berpikir untuk membuka jasa beginian ya? :)

Yang paling asyik adalah naik becak hias. Becak-becak di sini sadar wisata sekali. Karena memang tujuannya untuk wisata kali yee...jadi mereka bersolek dengan warna-warni segambreng mungkin, eye catching, shocking color, dengan hiasan yang sangat kreatif, mulai memasang aneka bunga plastik menjadi gambar hati, memasang blink-blink, boneka barbie hingga payung hias. Gongnya adalah, di bagian bemper belakang ditaruh speaker yang akan dibunyikan saat membawa penumpang. Lagu-lagunya pun yang ajeb-ajeb, meskipun mayoritas sopir becaknya sudah berumur.
Maka mengalunlah "Price Tag" atau "Hey Soul Sister" mengiringi ayunan pedal si sopir dan kepala penumpang yang mangut-mangut. Seru. Terkadang beberapa penumpang yang sudah berumur agak malu-malu naik becak ini, karena sering jadi obyek foto. Hihihii.
Sayangnya, tarifnya mahal euy, nyaris seharga tarif nginep saya semalam, jadi ya skip saja ya naik becak ini, mending motret-motret saja :). Berapa sih tarifnya? satu jam RM 40 atau Rp 120.000. Nah lho! saking mahalnya, saya sempat melihat seorang laki-laki bule merasa dirampok. Dia naik dua becak bersama dua anaknya dan sang isteri. Mungkin karena di awal tidak terlalu paham berapa tarifnya, pas ditarik RM 80 dia tidak terima. Nah, karena di sana sudah ada papan pengumuman tarif becak, akhirnya dia menyerah dan pergi sambil bersungut-sungut. Bule aja tidak rela, apalagi saya....hohohoho...

PDI Perjuangan pun hijrah ke Melaka :)

ini becak-becak edisi Valentine


Tua muda tidak mau melewatkan naik becak hias

Saya cukup puas menikmati kawasan Stadthuys ini. Kalau Anda penyuka fotografi, mungkin inilah kawasan yang ciamik buat jadi obyek foto Anda. Oya, Melaka bukan hanya Stadthuys ya, tetapi saya harus berhenti dulu jalan-jalan untuk mencari penginapan. Saya takut, kalau kesorean saya malah tidak mendapatkan penginapan. Ini karena saya dengar, selepas mahgrib, Melaka tuh sepi, kecuali pada saat weekend. Jadi saya pikir daripada berisiko, saya cari penginapan dulu deh. Nah selanjutnya ntar simak saja di bagian kedua yaa...

Regards,

A

8 comments:

bintar_ismail said...

ditunggu lanjutannya ya mas... =D
wah ternyata sama,,aku juga dpt hrga 49ribu mas buat bsk april,,hehehe...

Anonymous said...

Memimpikan kota tua di indonesia seperti ini juga. Kita jg ga kalah koq, sayang kurang terurus

Anonymous said...

dibali juga ada poto bareng wanita pakai baju daerah lo mas :)

Half Blood Traveler said...

akan pake tulisan dari mas ari ini sebagai panduan untuk ke Melaka nantinya :')

ainun said...

akhirnya berhasil menjejakkan kaki disini, bawa print2an catper dari blognya mas ari

bukit gambang said...

macam menarik jer melaka, nak gi jugak lah macam ni..=)

Kanamew said...

mas ary
budget paling minim untuk stay 3 hari di Melaka berapa mas ?
saya ada rencana mau kesana , dengan budget seadanya (bener bener turis berjimat)

turiscantik.com said...

Malaka surga sejarah dan kuliner enak!