Sunday, June 23, 2013

I'm Blessed

Saya pernah menuliskan, Tuhan mencintai orang-orang yang menulis...

Saat saya menuliskan itu, saya bukan sedang mau berpuisi, sedang sok-sokan, atau yang lainnya. Saya menuliskan itu karena saya mendapatkan banyak hadiah dari Tuhan dari aktivitas saya menulis. Saat saya tidak mendapatkan apresiasi dari orang di lingkungan saya, Tuhan sedang menguji saya...sejauh mana saya akan bertahan, sepanjang apa napas saya, sebesar apa keyakinan saya, dan sekuat apa jari-jari saya mengetikkan huruf-demi huruf, mengeja aksara demi aksara.

Book Signing @Medan
Waktu saya SD, guru saya mengikutsertakan saya pada lomba menulis. Saya diminta menulis dengan tulisan tangan (tidak seperti anak SD sekarang yang sudah main komputer), karangan tentang apa saja. Saya waktu itu bisa menuliskan satu tema dalam berlembar-lembar folio. Guru saya pun memuji saya "Pikiranmu melebihi anak seusiamu". Tetapi pada saat yang sama dia juga menyatakan kekecewaannya, "Tapi tulisan tanganmu sangat jelek sekali." Dan akhirnya, saya kalah bersaing dengan salah satu siswa lain satu daerah pembinaan (Dabin) untuk mewakili kecamatan, karena tulisan saya jelek. Yapp, tulisan saya jelek, - literally - tulisan tangan saya jelek, bukan isi tulisan saya yang jelek. Sekarang baru saya sadar, betapa payahnya cara kita dididik, bagaimana sebuah tulisan tidak dinilai dari value tulisan itu, tetapi dari tulisan tangan si penulis. Benar, tulisan tangan saya memang tidak bagus, kayak cakar ayam, tetapi value tulisan saya sebenarnya jauh berisi dan bagus seperti kata guru saya :).

Dulu, sewaktu saya SMP, saya ingat sekali, betapa suka citanya saya mendapatkan mesin ketik bekas kakak saya. Warnanya cokelat susu, mereknya Brother. Saya menuliskan beberapa cerita pendek. Saya sering membeli buku dan majalah bekas. Sejak SD saya bisa berjam-jam membaca majalah Intisari yang terkenal itu sepulang sekolah.  Di SD saya sudah tahu bahwa di Amerika Serikat diberlakukan hukum mati dengan cara digantung, dan tinggi serta panjang tali gantungan untuk si terpidana mati akan disesuaikan dengan berat tubuhnya secara matematis, sehingga begitu tali mencekik leher, terpidana mati langsung meninggal seketika. Itu saya dapatkan dari Intisari. Sedikit pengangkuan juga, hingga saya kerja, saya masih sering baca majalah Bobo lawas (saya tidak suka format majalah Bobo tahun 2000 ke atas). Saya mencoba iseng menulis cerita pendek, banyak. Saya kirimkan, dan tidak pernah ada yang dimuat sampai saya kadang bosan sendiri.

Saat saya SMA, saya asyik juga berakrab-akrab dengan mesin tik Brother itu. Saya kenal komputer baru SMA kelas 3 jaman Wordstar dan Lotus lagi terkenalnya. Saya sering menulis cerita pendek, tapi lebih sering saya gagal (atau sebut nyaris semua gagal). Waktu itu ada majalah pelajar namanya MOP. Ini adalah majalah pelajar di Jawa Tengah. Anak-anak sekolah (SMA) di Jawa Tengah tahun 90-an pasti kenal majalah ini. MOP menggelar Sayembara Mengarang Cerpen Pelajar Se-Jawa Tengah. Saya ingat sekali, jurinya adalah sastrawan SN Ratmana. Saat itu saya duduk di bangku kelas 3 SMA dan saya adalah siswa yang bodohnya ampun-ampunan. Di kelas Biologi, saya kerap jadi bulan-bulanan di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal kimia, matematika, bahkan soal biologi yang perkawinan silang. Ironis karena saya masuk kelas biologi (A2) tetapi tidak bisa mengerjakan soal biologi. Saya seperti berada di dunia lain. Teman-teman saya tidak tahu saya sering berimajinasi, saya banyak nulis cerpen. Salah satunya saya kirimkan ke lomba sayembara itu. Diam-diam dan masih malu-malu. Saat itu saya berpikir cowok yang menulis cerpen itu cemen. Namun, cerpen itu pun tetap saya kirimkan ke panitia lomba. Waktu berlalu, sampai suatu saat teman sekelas memberitahu saya, ada surat untuk saya di ruang Tata Usaha. Dengan deg-degan saya ke ruangan TU. Seumur-umur, saya belum pernah mendapatkan surat yang dikirim ke sekolah. Saya lihat amplopnya, bertuliskan panitia Sayembara Mengarang Cerpen Pelajar Se-Jawa Tengah. Saya buka buru-buru dengan menyobek ujung amplop. Di dalamnya ternyata saya diundang untuk mempresentasikan cerpen yang saya kirim ke panitia karena saya adalah salah satu dari dua finalis calon pemenang. Saya nyaris terjengkang membacanya. 

Tapi kegembiraan saya tidak lama. Bahkan tidak sampai beralih hari. Karena saat itu juga saya baru sadar, bahwa surat itu terlambat sampai ke tangan saya. Saya harusnya datang seminggu yang lalu ke Tegal. Saya cek tanggal kirim di surat, ternyata surat itu sudah sampai di sekolah hampir dua minggu yang lalu, tetapi saya tidak menyadari, pun tidak ada pegawai tata usaha yang menyampaikan saya ke kelas atau memberitahu saya. Lemas saat itu, bukan karena hadiah uangnya hilang. Tetapi ini harusnya jadi momentum saya untuk mampu membuktikan kepada diri saya bahwa saya bisa menulis. Dan itu penting bagi saya pribadi.

Radio Talkshow di Solo Radio
Saya memang tidak menang. Tetapi sebagai apresiasi, naskah cerpen saya yang berjudul "Bunga Rumput" dimuat di majalah MOP, dan disebut sebagai finalis lomba. Saya sudah cukup bangga. Lebih bangga lagi  datang surat dari si pemenang lomba itu, seorang cewek dari Ajibarang. Dia penasaran kenapa saya tidak datang memenuhi undangan untuk mempresentasikan cerpen saya ? saya ingat sekali kalimat dia:  "Hanya ada dua finalis, yaitu kamu dan aku. Juri bilang merasa bingung menentukan siapa pemenangnya. Tetapi Juri juga bilang, tulisan kamu kandidat terkuat. Saya penasaran kenapa kamu tidak datang."

Surat dari sang pemenang lomba itu menghibur saya. Saya berharap dia menemukan tulisan saya ini bila memang dia masih aktif di dunia penulisan. Saya lupa namanya. Surat cewek itu sangat berharga dan menjadi salah satu titik penting bagi saya untuk menentukan tujuan, setelah SMA saya mau kemana. Dan saya sudah menemukan jawabannya : Sastra Indonesia.

Talkshow di Gramedia Matraman, Jakarta
Nyaris tidak ada yang tidak nyinyir dengan keputusan saya masuk Sastra Indonesia. Nyaris semua yang saya kenal (kecuali keluarga di rumah)  serempak koor : Mau jadi apa? Tukang bikin puisi ? Saya sempat gamang dengan suara-suara miring itu. Maklum saya masih muda dan sudah berani mengambil keputusan besar. Teman-teman saya kebanyakan mengambil kuliah atas arahan orang tuanya, atau mengikuti kata guru. Dan saya tidak. Untung keluarga saya tidak ada yang mempersoalkan. Mereka sangat suportif, jadi saya yakin dengan keputusan saya.

Bersama Claudia Kaunang, Talkshow Toga Mas 
Saya tidak mau takabur dan menyatakan bahwa sekarang saya sudah berhasil. Nop, saya cuma merasa saat ini saya sangat terberkahi Tuhan. I'm blessed. Tetapi saya juga merasa terberkahi tanpa mengabaikan usaha-usaha yang saya lakukan bertahun-tahun sejak saya mengenal aksara. 

You are blessed - doesn't mean that you are discounting your efforts.

Dalam tingkatan kesuksesan sebagai penulis, mungkin saya masih di level terendah. Saya bukan siapa-siapa di dunia kepenulisan. Tetapi saya tetap sangat merasa beruntung, bahwa saya telah mencapai tujuan saya dan saya merasa di jalur yang benar, yang saya yakini sejak saya masih kecil hingga sekarang saya memiliki delapan buku - and still counting - Saya belum merasa berhasil sebagai penulis dan masih harus banyak belajar. Namun saya merasa sangat berhasil mewujudkan apa yang menjadi impian dan tujuan hidup saya. Saya bangga karena mungkin tidak banyak yang bisa mewujudkan mimpi masa kecil mereka.

 Launching TraveLove bersama Trinity dkk,
 di Jakarta Book Fair 2012, Istora Senayan.
Saya tidak pernah membayangkan duduk bersama dengan penulis-penulis terkenal di panggung besar di Istora Senayan Jakarta untuk berbicara tentang buku saya, talkshow dari satu toko buku ke toko buku lain, book signing, ngisi radio talkshow, mengisi kuliah umum di kampus sebesar UGM, menjadi juri penulisan, wawancara majalah dan koran, pembaca buku mengajak foto saya, dan lain sebagainya...itu benar-benar di luar ekspetasi saya. Dan bagi saya, Tuhan sudah memberikan hadiah jauh lebih indah dari yang pernah saya minta.

Tuhan mencintai orang-orang yang menulis. I'm blessed.  Dan Anda juga bisa...

regards,

Ariy 

3 comments:

Claude C Kenni said...

Thanks, tulisan Anda sangat menginspirasi, terutama bagi kita2, para penulis amatir yg masih berjuang supaya suatu hari nanti buku kita bisa terpampang di rak toko2 buku =)

Ariy said...

terima kasih Claude sudah mampir. Semangaaattt :)

agustinriosteris said...

tetap menulis mas, saya akan tetap membacanya....