Thursday, October 23, 2014

Kudeta di Kereta




                                                          Foto: www.kereta-api.co.id
Kereta api termasuk salah satu alat transportasi favorit saya. Apalagi untuk jarak jauh, saya lebih memilih menggunakan kereta api daripada bus. Kalau naik kereta api, berasa lapang dan lega saja. Belum lagi bisa jalan-jalan di gerbong kalau kaki pegal. Tetapi karena saya termasuk traveler on budget, jadi naiknya pun kelas ekonomi atau maksimal bisnis. Seumur-umur, baru sekali naik kereta eksekutif. Lagian, harga tiket kereta eksekutif sekarang bersaing dengan pesawat, jadi kalau pun ada duit lebih mending naik pesawat.
            Sebagai pengguna kereta api sejak jaman jebot, saya ngerasain gimana kereta api dulu -menurut saya- tidak manusiawi. Desak-desakan, panas, kalau pun ada kipas angin ada aja yang nggak nyala, dengan segala tetek bengek bawaan penumpang (plus kalau ada yang masuk angin, campuran bau rheumason dan aroma sarapan yang keluar lagi..yaiks). Sekarang banyak sekali kemajuan yang dicapai pihak pengelola transportasi jenis ini di negeri kita. Beberapa “produk” terbaru mereka pun selalu ingin saya coba. Waktu muncul kereta api ekonomi ber-AC seperti KA Gajahwong atau KA Bogowonto, saya pun juga mencobanya. Jauh lebih manusiawi. Ademnya dapet, bersihnya juga. Sejauh ini, penasarannya cuma satu, naik KA Gajayana jurusan Jakarta – Malang via Yogyakarta yang kata temen, itu paling mahal. Terakhir saya cek, harganya sampai Rp 560.000! *dadah-dadah*
            Nah, kalau berbicara tentang reformasi di bidang perkeretaapian yang mulai jalan, saya melihat persoalan mendasar adalah mentalitas penumpang. Kalau bicara ini, udah pusing rasanya. Kalau kata orang tua, ngurusi anake wong akeh ki yo kudu sabar. Ngurusin anak orang banyak itu butuh kesabaran. Nyaris sama dengan persoalan lain yang terkait antrean, susah ngajak orang Indonesia antre tertib di loket. Antre masuk ke gerbong (ngapain rebutan kalau kursi kita sudah bernomor?), dan lain sebagainya-dan lain sebagainya.
            Soal kursi ini memang sangat menjengkelkan. Pengalaman saya naik kereta api (beberapa kali dengan beberapa jenis kereta) selalu kursi saya diserobot orang. Kok bisa? Ya karena saya pikir semua tiket sudah bernomor kursi, pastilah masuk ke gerbong kapan pun nggak akan ada masalah. Saya paling males kalau mau naik gerbong harus berebutan, sikut-sikutan, sampai ada yang kejengkang. Makanya, biasanya setelah longgar, saya baru masuk. Tapi ternyata strategi ini salah. Selalu saja kursi saya dipakai orang.
            Kenapa kursi menjadi penting? Karena ini menjadi kunci nyaman nggaknya perjalanan saya berkereta. Biasanya nyari kursi yang dekat jendela, biar bisa merem dengan sukses, atau kalau lagi galau bisa sok-sok menerawang ke luar jendela dengan iringan music mellow di headset ala-ala scene film romantis hihihi. Kalau eksekutif, ambil seat  A atau D. Tapi kalau ekonomi, ambil aja seat A atau E. Tetapi ya itu tadi, selalu ada orang yang main serobot. Satu kali pernah naik KA Gaya Baru Malam Selatan (ekonomi) dan dapat kursi satu bangku bertiga. Waktu liat tiket ternyata dapat kursi A, udah lega aja rasanya. Artinya, saya bakal duduk di dekat jendela, meskipun harus empet-empetan sebangku bertiga dengan dua penumpang lain. Masuklah saya ke gerbong, dan seperti sudah ketebak, ada manusia sudah teronggok di kursi saya.
            “Mas…ini 15 A? Kursi saya,” towel saya ke seorang pemuda kurus item yang sok pura-pura tidur. Dia diem aja, nggak mencoba buka mata.
            “Mas…ini kursi saya,” kali ini saya tepuk pundaknya.
            Dia berlagak ngolet merenggangkan tangan. Yaelah, ini kereta kan baru mau berangkat, bagaimana bisa dia sok udah nyenyak tidur.
            “Sama saja, Mas,” jawab dia tanpa memandang.
           “Beda Mas, itu kursi saya yang Anda pakai,” kata saya sambil menyodorkan tiket menunjukkan bukti bahwa dia udah nyerobot. Eh dia langsung merem aja tanpa mendengarkan omongan saya. Akhirnya dengan dongkol, saya banting pantat di samping dia. Sekarang saya terpaksa duduk di kursi 15 B, karena tak berapa lama duduk penumpang lain di 15 C. Posisi saya diapit pemuda kurus belagu itu dan ibu-ibu gemuk. Sesak sekali secara badan saya juga gede. Itu berlangsung selama 12 jam-an sampai saya terbebas di Stasiun Solo Balapan.
            Peristiwa itu pelajaran banget. Setelah itu, saya ikuti ritmenya. Ayo aja kalau memang mau sikut-sikutan masuk gerbong. Asal bukan orang tua, ayo aja. Next trip dengan kereta api ekonomi, saya berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan kursi A tercinta. Setengah lari saya mencoba mendapatkan apa yang menjadi hak saya. Giliran sampai di gerbong yang bener, yaelah…sudah ada yang menduduki ! Sial.
            Dan seperti dejavu, peristiwa di KA Gaya Baru Malam Selatan terjadi lagi. Saya dengan bersungut-sungut harus merelakan kursi di samping jendela. Untungnya, kursi ini bukan untuk bertiga tapi berdua saja. Kali ini yang menduduki adalah laki-laki separuh baya dan pas saya datang gayanya sudah sok tidur lelap saja. “Tidur” adalah modus yang sering digunakan biar tidak diusir. Ini justru memunculkan ide untuk mengambilalih hak saya. Perjalanan panjang, saya berharap dia sekali atau dua harus pergi ke toilet. Di saat itulah saya akan melakukan pengambilalihan kekuasaan atas kursi A.
            Benar juga, sepertiga perjalanan saya lihat dia berdiri, minta jalan ke toilet. Saya singkirkan kaki yang menghalangi jalannya dengan ogah-ogahan. Begitu dia berjalan ke toilet, langsung saya merangsek ke kursi dia yang berada di dekat jendela. Setelah itu pura-pura tidur nggak peduli setan lewat.
            Pas orang itu balik dari toilet, beberapa kali dia menowel pundak saya. Mungkin mau minta balik kursinya. Tapi sorry man…ini kursi yang telah kau rebut. Saya diam dan pura-pura tertidur sampai perjalanan berakhir di Jakarta. Pasti tuh orang gondok sekali dan nyesel udah ke toilet. Yes!! Kudeta berhasil !!

5 comments:

Hanggono Okamura Silitonga said...

sadis yah orang indonesia, keras kepala walaupun salah

mampir om ke travelblog gue di www.globepin.blogspot.com

Ariy said...

@Hanggono Terima kasih sudah mampir :)

nana ndari said...

Tips naik kereta ekonomi jgn duduk di bangku ABC deh..hehehe...
pnh kjadian kyk gini mas lebaran 2013 saya trpaksa pnggil petugas...

Fahmi said...

Kalau sekarang tinggal laporin ke Polsuska aja bisa gak ya? Hehee, sebel juga sama orang yang suka nyerobot gitu :|

qq said...

padahal kalo naik KA Ekonomi biasanya malah jadi dapet temen perjalanan,, ga kaya naik KA Eksekutif/bisnis yg kadang orangnya lebih cuek.. :-(
kalo kejadian kaya mas Ari di atas, saya bener2 jadi turut prihatin.. :-(