Sunday, June 23, 2013

I'm Blessed

Saya pernah menuliskan, Tuhan mencintai orang-orang yang menulis...

Saat saya menuliskan itu, saya bukan sedang mau berpuisi, sedang sok-sokan, atau yang lainnya. Saya menuliskan itu karena saya mendapatkan banyak hadiah dari Tuhan dari aktivitas saya menulis. Saat saya tidak mendapatkan apresiasi dari orang di lingkungan saya, Tuhan sedang menguji saya...sejauh mana saya akan bertahan, sepanjang apa napas saya, sebesar apa keyakinan saya, dan sekuat apa jari-jari saya mengetikkan huruf-demi huruf, mengeja aksara demi aksara.

Book Signing @Medan
Waktu saya SD, guru saya mengikutsertakan saya pada lomba menulis. Saya diminta menulis dengan tulisan tangan (tidak seperti anak SD sekarang yang sudah main komputer), karangan tentang apa saja. Saya waktu itu bisa menuliskan satu tema dalam berlembar-lembar folio. Guru saya pun memuji saya "Pikiranmu melebihi anak seusiamu". Tetapi pada saat yang sama dia juga menyatakan kekecewaannya, "Tapi tulisan tanganmu sangat jelek sekali." Dan akhirnya, saya kalah bersaing dengan salah satu siswa lain satu daerah pembinaan (Dabin) untuk mewakili kecamatan, karena tulisan saya jelek. Yapp, tulisan saya jelek, - literally - tulisan tangan saya jelek, bukan isi tulisan saya yang jelek. Sekarang baru saya sadar, betapa payahnya cara kita dididik, bagaimana sebuah tulisan tidak dinilai dari value tulisan itu, tetapi dari tulisan tangan si penulis. Benar, tulisan tangan saya memang tidak bagus, kayak cakar ayam, tetapi value tulisan saya sebenarnya jauh berisi dan bagus seperti kata guru saya :).

Dulu, sewaktu saya SMP, saya ingat sekali, betapa suka citanya saya mendapatkan mesin ketik bekas kakak saya. Warnanya cokelat susu, mereknya Brother. Saya menuliskan beberapa cerita pendek. Saya sering membeli buku dan majalah bekas. Sejak SD saya bisa berjam-jam membaca majalah Intisari yang terkenal itu sepulang sekolah.  Di SD saya sudah tahu bahwa di Amerika Serikat diberlakukan hukum mati dengan cara digantung, dan tinggi serta panjang tali gantungan untuk si terpidana mati akan disesuaikan dengan berat tubuhnya secara matematis, sehingga begitu tali mencekik leher, terpidana mati langsung meninggal seketika. Itu saya dapatkan dari Intisari. Sedikit pengangkuan juga, hingga saya kerja, saya masih sering baca majalah Bobo lawas (saya tidak suka format majalah Bobo tahun 2000 ke atas). Saya mencoba iseng menulis cerita pendek, banyak. Saya kirimkan, dan tidak pernah ada yang dimuat sampai saya kadang bosan sendiri.

Saat saya SMA, saya asyik juga berakrab-akrab dengan mesin tik Brother itu. Saya kenal komputer baru SMA kelas 3 jaman Wordstar dan Lotus lagi terkenalnya. Saya sering menulis cerita pendek, tapi lebih sering saya gagal (atau sebut nyaris semua gagal). Waktu itu ada majalah pelajar namanya MOP. Ini adalah majalah pelajar di Jawa Tengah. Anak-anak sekolah (SMA) di Jawa Tengah tahun 90-an pasti kenal majalah ini. MOP menggelar Sayembara Mengarang Cerpen Pelajar Se-Jawa Tengah. Saya ingat sekali, jurinya adalah sastrawan SN Ratmana. Saat itu saya duduk di bangku kelas 3 SMA dan saya adalah siswa yang bodohnya ampun-ampunan. Di kelas Biologi, saya kerap jadi bulan-bulanan di depan kelas karena tidak bisa mengerjakan soal kimia, matematika, bahkan soal biologi yang perkawinan silang. Ironis karena saya masuk kelas biologi (A2) tetapi tidak bisa mengerjakan soal biologi. Saya seperti berada di dunia lain. Teman-teman saya tidak tahu saya sering berimajinasi, saya banyak nulis cerpen. Salah satunya saya kirimkan ke lomba sayembara itu. Diam-diam dan masih malu-malu. Saat itu saya berpikir cowok yang menulis cerpen itu cemen. Namun, cerpen itu pun tetap saya kirimkan ke panitia lomba. Waktu berlalu, sampai suatu saat teman sekelas memberitahu saya, ada surat untuk saya di ruang Tata Usaha. Dengan deg-degan saya ke ruangan TU. Seumur-umur, saya belum pernah mendapatkan surat yang dikirim ke sekolah. Saya lihat amplopnya, bertuliskan panitia Sayembara Mengarang Cerpen Pelajar Se-Jawa Tengah. Saya buka buru-buru dengan menyobek ujung amplop. Di dalamnya ternyata saya diundang untuk mempresentasikan cerpen yang saya kirim ke panitia karena saya adalah salah satu dari dua finalis calon pemenang. Saya nyaris terjengkang membacanya. 

Tapi kegembiraan saya tidak lama. Bahkan tidak sampai beralih hari. Karena saat itu juga saya baru sadar, bahwa surat itu terlambat sampai ke tangan saya. Saya harusnya datang seminggu yang lalu ke Tegal. Saya cek tanggal kirim di surat, ternyata surat itu sudah sampai di sekolah hampir dua minggu yang lalu, tetapi saya tidak menyadari, pun tidak ada pegawai tata usaha yang menyampaikan saya ke kelas atau memberitahu saya. Lemas saat itu, bukan karena hadiah uangnya hilang. Tetapi ini harusnya jadi momentum saya untuk mampu membuktikan kepada diri saya bahwa saya bisa menulis. Dan itu penting bagi saya pribadi.

Radio Talkshow di Solo Radio
Saya memang tidak menang. Tetapi sebagai apresiasi, naskah cerpen saya yang berjudul "Bunga Rumput" dimuat di majalah MOP, dan disebut sebagai finalis lomba. Saya sudah cukup bangga. Lebih bangga lagi  datang surat dari si pemenang lomba itu, seorang cewek dari Ajibarang. Dia penasaran kenapa saya tidak datang memenuhi undangan untuk mempresentasikan cerpen saya ? saya ingat sekali kalimat dia:  "Hanya ada dua finalis, yaitu kamu dan aku. Juri bilang merasa bingung menentukan siapa pemenangnya. Tetapi Juri juga bilang, tulisan kamu kandidat terkuat. Saya penasaran kenapa kamu tidak datang."

Surat dari sang pemenang lomba itu menghibur saya. Saya berharap dia menemukan tulisan saya ini bila memang dia masih aktif di dunia penulisan. Saya lupa namanya. Surat cewek itu sangat berharga dan menjadi salah satu titik penting bagi saya untuk menentukan tujuan, setelah SMA saya mau kemana. Dan saya sudah menemukan jawabannya : Sastra Indonesia.

Talkshow di Gramedia Matraman, Jakarta
Nyaris tidak ada yang tidak nyinyir dengan keputusan saya masuk Sastra Indonesia. Nyaris semua yang saya kenal (kecuali keluarga di rumah)  serempak koor : Mau jadi apa? Tukang bikin puisi ? Saya sempat gamang dengan suara-suara miring itu. Maklum saya masih muda dan sudah berani mengambil keputusan besar. Teman-teman saya kebanyakan mengambil kuliah atas arahan orang tuanya, atau mengikuti kata guru. Dan saya tidak. Untung keluarga saya tidak ada yang mempersoalkan. Mereka sangat suportif, jadi saya yakin dengan keputusan saya.

Bersama Claudia Kaunang, Talkshow Toga Mas 
Saya tidak mau takabur dan menyatakan bahwa sekarang saya sudah berhasil. Nop, saya cuma merasa saat ini saya sangat terberkahi Tuhan. I'm blessed. Tetapi saya juga merasa terberkahi tanpa mengabaikan usaha-usaha yang saya lakukan bertahun-tahun sejak saya mengenal aksara. 

You are blessed - doesn't mean that you are discounting your efforts.

Dalam tingkatan kesuksesan sebagai penulis, mungkin saya masih di level terendah. Saya bukan siapa-siapa di dunia kepenulisan. Tetapi saya tetap sangat merasa beruntung, bahwa saya telah mencapai tujuan saya dan saya merasa di jalur yang benar, yang saya yakini sejak saya masih kecil hingga sekarang saya memiliki delapan buku - and still counting - Saya belum merasa berhasil sebagai penulis dan masih harus banyak belajar. Namun saya merasa sangat berhasil mewujudkan apa yang menjadi impian dan tujuan hidup saya. Saya bangga karena mungkin tidak banyak yang bisa mewujudkan mimpi masa kecil mereka.

 Launching TraveLove bersama Trinity dkk,
 di Jakarta Book Fair 2012, Istora Senayan.
Saya tidak pernah membayangkan duduk bersama dengan penulis-penulis terkenal di panggung besar di Istora Senayan Jakarta untuk berbicara tentang buku saya, talkshow dari satu toko buku ke toko buku lain, book signing, ngisi radio talkshow, mengisi kuliah umum di kampus sebesar UGM, menjadi juri penulisan, wawancara majalah dan koran, pembaca buku mengajak foto saya, dan lain sebagainya...itu benar-benar di luar ekspetasi saya. Dan bagi saya, Tuhan sudah memberikan hadiah jauh lebih indah dari yang pernah saya minta.

Tuhan mencintai orang-orang yang menulis. I'm blessed.  Dan Anda juga bisa...

regards,

Ariy 

Monday, June 10, 2013

Rundown Dieng Culture Festival - 4 (2013)

                                    Foto: Amiem Dieng Touringers


Hey Journer,

Buat yang akhir bulan ini mau jalan, mungkin "Dieng Culture Festival 4" bisa jadi pilihan. Berlangsung dari tanggal 29 - 30 Juni, berikut rundown kegiatan, yang saya kutip dari Amiem Dieng Touringers. Semoga berguna.

Tanggal 29 Juni :
09-00 - 10.30 : Wisata jalan sehat dan pelepasan balon udara.
10.30 - 10.30 : Pembukaan Dieng Culture Festival.
12.00 - 17.00 : Pentas seni lintas desa dan pembukaan wayang kulit.
17.00 - 19.00 : Ishoma.
19.00 - 21.00 : Acara jagung bakar besama + api unggun + wayang kulit.
21.00 - 22.00 : Pelepasan lampion.
22.00 - 24.00 : Pesta kembang api.

Tanggal 30 Juni:
08.00 - 10.00 : Kirab budaya keliling desa Dieng.
10.00 - 11.00 : Jamasan.
11.00 - 12.30 : Cukur rambut gimbal
12.30 - 14.00 : Larung + ngalap berkah
14.00 - 16.00 : Pentas seni Dieng
16.00  till drop: Festival Film Indi dan Jazz di atas awan + api unggun.

selamaaat ngetrip

Saturday, May 18, 2013

Trip ke Pantai Bandengan-Jepara (the art of doing nothing)

Hey Journer,

Pfffhh....lama sekali saya tidak menjamah blog ini. Kebetulan karena memang lagi banyak pekerjaan. Saking suntuknya dengan dua kerjaan freelance, saya kemudian memutuskan untuk liburan akhir pekan pada 11 - 12 Mei lalu. Ide awalnya adalah touring. Terakhir saya touring sudah lama sekali, waktu itu lagi euforia bisa beli motor baru dengan keringat sendiri, saya dan sahabat saya menghajar Solo - Yogya - susur pantai selatan sampai Pacitan - Solo.  Seru sekali.

Persoalannya kemudian, posisi saya di Semarang dan kalau mengulang susur pantai selatan Jawa agak jauh, motor nggak kuat. Akhirnya, teman saya memutuskan untuk ke pantai utara Jawa saja. Relatif tidak jauh dari Semarang, hanya 2 - 3 jam aja (sebenarnya nggak touring-touring amat sih hehehe). Targetnya adalah Pantai Bandengan, Jepara. 

Kami sudah memutuskan akan ambil kamar di resort. Karena niatnya pengen bener-bener istirahat total menikmati hidup hehehe. Sudah mendidih otak kami karena kerja terus. Hasil ulak-ulik sana sini, saya yang ketiban tugas nyari resort, akhirnya memutuskan mengambil kamar di  Sunset Beach Resort, Pantai Bandengan, Jepara. Kamar standarnya lumayan mahal sih, Rp 350.000 kalau weekdays, dan weekend Rp 385.000 per malam. Booked. 

Sunset Beach Resort, Pantai Bandengan, Jepara.

Kami tidak mau go show cari kamar tanpa booking dulu, mengingat itu long weekend  dan di pantai itu juga tidak terlalu banyak penginapan atau hotel.

Setelah memastikan dapat kamar, tinggal berangkat saja. Perjalanan dimulai dari Semarang - melewati Pelabuhan Mas - Demak - Kudus (tapi dua kota ini gak masuk ke kotanya) - Jepara. Secara umum kondisi jalan nggak asyik, karena harus bersaing dengan kendaraan berat, truk dan tronton, sementara jalannya padat, panas, dan di beberapa titik, seperti di Welahan, Jepara, terjadi buka tutup jalan yang tengah diperbaiki. Penggal yang saya suka adalah bagian saat sudah masuk di Kota Jeparanya. Karena kota ini terlihat sepi, kecil, tapi moderen juga. Lucu juga melihat KFC nyempil di salah satu sudut kota. Sementara itu, jalur menuju ke sana juga banyak kita temukan masjid dengan arsitektur bagus, serta banyak sekali show room mebel antik yang gede-gede, yang mengukuhkan Jepara sebagai kota ukir.
Pantai Bandengan sendiri berada sekitar 7 km dari pusat kota. Kalau belum pernah ke sini memang agak susah sih, karena memang papan penunjuk arah sangat kurang, bahkan nyaris tak ada. Kalau papan penunjuk arah ke Pantai Kartini sih ada. 

Pantai Bandengan berada di kawasan Jl Tirta Samudera. Kalau sudah masuk ke kotanya, jalannya relatif halus sih. Pantai ini relatif agak sepi - yang saya justru suka - meskipun memiliki keindahan pantai pasir putihnya. Singkat cerita, kami sudah sampai ke Sunset Beach Resort, dan langsung ke resepsionis. Karena waktu check in baru jam 13.00 WIB, sementara kami sudah tiba di sana pukul 09.00 WIB, maka kami memutuskan menghabiskan waktu dengan nongkrong di resto mereka, sambil menikmati kelapa muda. 

Liburan pun dimulai ! :)



Meski tidak berombak, namun saya suka Pantai Bandengan karena pasir putihnya lembut banget. Selain itu, tidak banyak orang. Jadi sangat relaxing. Sementara saya menikmati es kelapa muda, teman saya menyewa seperangkat alat snorkeling Rp 30.000. Pantai Bandengan relatif dangkal, namun ada beberapa titik yang dipasang bendera berbahaya untuk direnangi. Sudah ada kasus beberapa pengunjung tewas tenggelam karena tidak mematuhi aturan.

Nggak kerasa, waktu udah pukul 13.00 WIB, saatnya untuk check in. Kamar yang saya dapatkan adalah standard room nomor 2. Resort ini bagusnya cuma bagian belakang aja, bagian resto itu top banget view-nya.
Kalau bagian depan resort agak kurang terawat. Kamarnya ? standar saja, yang kalau saya bandingkan dengan kamar hotel di kota, harganya relatif mahal.
Tetapi memang balik lagi, yang bisa dijual resort ini adalah view ke pantainya, terutama katanya di sini lokasi tepat buat liat sunset. Ntar deh kita buktikan. Tapi sebelumnya, saya kasih liat dulu kamarnya yang standar, siapa tahu ada yang mau nginep di sini:


Demi melihat kasur empuk dan AC dingin, saya nggak nahan buat merebahkan diri setelah pantat kena enjot-enjot naik motor dari Semarang. Oke, kalau selama ini saya bilang liburan bukan untuk pindah tidur, saya harus jilat ludah sendiri, karena tak berapa lama sejak pantat saya nyentuh kasur, langsung terlelap dua jam-an. Maklum malam hari sebelumnya saya juga cuma tidur 2 jam karena ada lembur kerjaan, langsung lanjut naik motor ke Jepara untuk trip ini.

Bangun sekitar jam 16.00 WIB, waktunya jalan-jalan sambil menunggu sunset. Ada bagian dari Pantai Bandengan yang memang untuk umum (melalui loket khusus pengunjung / bukan yang menginap di hotel). Di bagian ini banyak pengunjung yang sekadar berenang, bersampan, hingga main banana boat. Oya, di sini juga ada dermaga yang akan membawa Anda ke Pulau Panjang dengan kapal fery kecil, dengan tiket Rp 10.000 per orang.



Yang agak susah didapatkan di tempat ini adalah makanan. Dalam sejarah saya traveling, makanan di lokasi wisata di Indonesia selalu di bawah standar soal rasa. Setelah berkeliling lama, yang terlihat hanya bakso dan mie ayam. Itu pun saya sangsi soal rasa. Akhirnya saya dan teman memutuskan makan di resto resort, meskipun agak sedikit (banyak?) mahal. Rata-rata harga dibuka mulai Rp 30.000. Tapi karena sudah lapar sangat, akhirnya kami pesan juga sambil nunggu sunset.

cumi goreng dan ayam lada hitam

Tuna Steak

Menikmati sajian makanan pesanan yang sebenarnya rasanya biasa saja (dibanding harganya) sambil menunggu sunset memang menenangkan sekali. Saya bahkan berpikir inilah the art of doing nothing. Membayar sesuatu untuk bengong bego di pinggir pantai. Tapi bener-bener lepas deh semua stress berminggu-minggu. Apalagi pas melihat sunset hasil dari jepretan fotografer amatiran kayak saya ini:







Sunset-sunset itu menutup hari saya di Pantai Bandengan - Jepara dengan sempurna. Selepas makan, yang tersisa tinggal capeknya. Malam itu rencananya mau begadang di pantai, tetapi setelah senja turun, balik ke kamar, ternyata mata terpejam secara otomatis hehehehe. Malam itu tidur sempurna hingga pagi. Tidak banyak yang saya lakukan paginya. Tetapi saya bangun-bangun pagi sekali, menikmati pantai di pagi hari, udaranya relatif sejuk, dan lagi-lagi menikmati bengong bego di pinggir pantai - the art of doing nothing  :).

see you in another story...

A

Saturday, April 20, 2013

Seni Solo Traveling

Be a loner. That gives you time to wonder, to search for the truth. 
Have holy curiosity. Make your life worth living.

~ Albert Einstein ~

Banyak yang menanyakan, apa sih enaknya jalan-jalan sendiri? seninya di mana sih? Pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Kenapa ? karena ini masuk dalam wilayah selera, subyektif, dan lain sebagainya yang sifatnya mungkin akan berbeda antara satu orang dengan orang yang lain.

Saya akan membukanya dengan : saya orang yang introvert. Beberapa menyebut saya orang yang kaku dalam bergaul.  Beberapa yang lainnya menyebut saya antisosial. Entah apakah hal ini ada kaitannya dengan kenapa saya sering traveling sendirian atau tidak, beberapa orang menyebutnya ada kaitannya. 

Saya memang susah untuk terbuka dengan orang yang tidak saya kenal dengan baik. Saya lebih memilih diam saat masuk di lingkungan baru. Orang Jawa bilang, saya adalah orang yang tipikal kayak gong. Kalau nggak dipukul nggak bunyi :). Apakah begitu? Hmm, kalau mau jujur sih, sebenarnya saya bisa menjadi orang yang sangat cerewet bila cocok dengan lingkungan tertentu. Tetapi, saya akan menarik diri sekuat-kuatnya ketika berada di lingkungan orang-orang yang membuat saya tidak merasa nyaman. Kepaksanya berada di lingkungan tersebut, saya akan diam. Saya bukan tipikal yang mau repot untuk berbasa-basi berlebihan. Banyak temen saya yang bete bila mengajak saya masuk ke lingkungan baru milik mereka. Maksud mereka baik, pengen saya juga berakrab-akrab dengan teman mereka. Tetapi sayangnya saya ogah memaksakan diri. Kalau sudah begitu, saya sering ditinggal temen-temen saya. Saya juga tidak marah. Karena saya juga memiliki waktu sendiri dengan mereka nantinya. Selebihnya saya orang yang sangat mandiri, saya menikmati kebebasan, merasa bahagia saat menjadi totally independent.

Saya sudah menemukan kata kuncinya: MANDIRI. Sekarang saya tarik ke traveling. Mandiri juga menjadi prinsip saya dalam traveling. Saya tidak menolak untuk traveling bareng-bareng, karena dalam beberapa kali traveling bareng, saya juga merasa enjoy-enjoy saja.  Tapi biasanya, kalau traveling bareng, maka saya memilih dengan siapa saya harus traveling bareng :). Sejujurnya kalau disuruh milih, ya saya lebih suka traveling sendiri. Saya riset sendiri, saya mikirin budget sendiri, saya menikmati perjalanan ke mana dan di mana saya harus berada.

Saya pernah mengalami di mana saya dan seorang teman berencana untuk traveling bareng. Di-last minute, dia menghilang, membatalkan sepihak. Padahal demi bisa traveling bareng, saya sudah memundurkan jadwal karena jadwal awal bentrok dengan kerjaan dia. Lain waktu, saya dituduh nyelintut duit akibat ribetnya itung-itungan duit karena pas traveling saling meminjam. Kalau saya benar-benar nyelintut duit, silakan aja dimaki-maki. Kalau kagak nyelintut tapi dituduh nyelintut, wah...murka saya,

Intinya sih saya tidak mau ribet dengan drama-drama tak penting. Yang justru bergeser dari tujuan awal untuk traveling bareng, yaitu dapetin fun. Sekali lagi, saya tidak anti traveling bareng, tapi saya memang sangat pemilih dengan siapa saya bisa traveling bareng. Sebut sombong, tapi saya tidak mau menggadaikan kenyamanan diri hanya karena takut disebut sombong :). 

Lalu apa nikmatnya jalan sendirian? Saat saya sendiri, saya membuka banyak peluang untuk ketemu dengan orang baru, traveler atau siapapun. Dan biasanya banyak hal baru yang menyenangkan, nambah saudara dan nambah teman, nambah cerita :). Ini tentu lain bila kita traveling bareng, kemungkinan untuk mencari teman baru agak terpinggirkan, karena toh kita sudah ada teman dan biasanya memang sudah sibuk dengan teman kita sendiri. Betul?

Saat solo traveling, saya juga sangat menikmati menjadi diri saya seutuhnya. Gak ada gengsi, gak ada sungkan, gak ada jaim. Rasa bebas merdeka dan independen ini sangat-sangat saya nikmati. Ada teman saya yang tidak bisa naik bus karena alasan tertentu (dan saya tidak menyalahkan dia), padahal mungkin saya ingin mengambil opsi bus misalnya. Atau ada teman yang sangat pemilih dalam hal makan (bukan soal halal haram tapi lebih ke selera), nah ini akan menjadi penghalang bagi saya untuk mencoba makanan baru bila saya traveling dengan dia.Tapi beberapa teman bilang, kalau sendirian gak seru. Gak ada teman buat motretin. Nah, saya tak sungkan minta bantuan orang asing untuk motretin, sekali lagi malah dapat kenalan. Atau paling apes, kita bisa beli tripod kecil yang murah kok harganya. Atau lebih apes lagi, letakin aja di tembok atau benda tertentu setel kamera buat self-portrait.

                                                          www.eatthedamncake.com


Saya tipikal orang yang menikmati kesendirian. Lebih tepatnya loner, yang menurut saya jauh berbeda dengan lonely. Karena loner adalah pilihan dan orangnya menikmati menjadi - loner. Tapi apalah arti istilah. :). Gak penting dibahas lanjut huehehe.

Tulisan ini menjawab banyak pertanyaan, bahkan beberapa di antaranya untuk kepentingan studi (serius), tentang apa sih enaknya solo traveling. Sekali lagi ini sangat selera, sangat subjektif, dan sangat rentan buat didebat. Tapi setidaknya Anda melihat apa yang ada di benak saya tentang kenapa saya sering melakukan solo traveling.

Yes...I'm a weirdo :)

Regards,

A

Monday, April 8, 2013

10 Things I Love about Thailand

Hey, Journer...
Berbicara tentang suatu tujuan wisata, pasti ada baik dan buruknya. Inilah beberapa hal tentang Thailand dalam kacamata subyektif saya. Saya yakin, nanti Anda juga akan memiliki daftar versi Anda sendiri. Harapan saya, dengan membaca daftar "Love" versi saya, Anda akan semakin bersemangat untuk jalan-jalan ke Thailand. Postingan ini saya sarikan dari buku saya "Rp 1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari".


  • Kekayaan budaya dan keindahan temple-temple-nya.
  • Cara pandang sebagian besar masyarakat dalam mengelola pariwisata. Awesome ! Mereka seperti sebuah gerbong kereta panjang bernama "pariwisata" yang terus bergerak maju. Konsistensi dan kontinuitas inilah yang membuat pariwisata mereka maju.
  • Transportasi bagi wisatawan yang memenuhi aspek aksesibilitas.
  • Suvenir-suvenir murah.
  • Akomodasi murah.
  • Es herbal di beberapa traditional market yang sueeegaaarrr.
  • Cara pandang masyarakat yang menghargai perbedaan, termasuk adanya "gender ketiga".
  • Kao Soi, mie kari ayam yang membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama saat menikmatinya di Chiang Mai pada tahun 2009.
  • Lumphini Park, tempat saya suatu hari bisa tidur siang selama dua jam di pinggir danau, di bawah rindangnya pohon dengan rasa aman dan nyaman.
  • Buah-buah potong segar aneka jenis di hampir semua sudut kota bak oasis di gurun panas.
Sebenarnya masih banyak hal yang saya suka dari Thailand. Tetapi itulah yang paling menonjol. Kalau ditambah daftarnya, saya suka dengan adanya bus kota gratis (tidak semua), saya suka MRT-nya (Indonesia tetap selalu tertinggal), saya suka sky trainnya (Indonesia kapan?), terus saya suka dengan rendahnya mata uang mereka...dudududu. Tapi sempat mengalami ilusi mata uang juga. Kalau di sana berasa pengen ngirit saja. Tapi setelah sampai Indonesia nyesel, kenapa gak dibeli. Karena 1 Baht itu kurang lebih hanya Rp 300 saja. Pernah suatu kali ingin kasih oleh-oleh adek saya, sebuah bola kaca yang isinya ada gajahnya di MBK Mall. Harganya 100 Baht. Udah berpikir kenceng, ambil tidak ambil tidak. Dalam pikiran saya, 100 Baht itu mahal, karena kamar saya saja di Khaosan Rd, semalem cuma 125 Baht.  Akhirnya gak diambil. Giliran sampai rumah, nyesel...yaaah...100 Baht kan cuma Rp 30.000 : (. Di mana lagi bisa beli bola kaca sebagus itu huhuhuh. 
Dan banyak lainnya...etc...etc. Giliran Anda menemukan apa yang Anda suka dari Thailand. 

have a nice trip :)

A
 

Thursday, March 28, 2013

Hati-hati Penerbit Nakal

Hey Journer,

Seperti janji saya di postingan sebelumnya. Kali ini saya ingin menulis tentang aksi penerbit-penerbit nakal. Saya mungkin akan lebih ke pengalaman saya sendiri ya. Belum seserem itu, tetapi bisa jadi pelajaran bagi Anda yang mungkin ini masuk ke dunia penulisan sih.

Di awal saya masuk dunia penulisan, khusus menulis guide books dan catatan perjalanan, saya banyak mendengar tentang ulah para penerbit yang nakal. Saya juga banyak membaca pengalaman teman-teman yang baru mau masuk dunia penulisan, langsung patah hati karena kena tipu. Sejujurnya, saya belum mengalami seserem itu. Tetapi memang ada baiknya waspada. Beberapa hal yang sering saya dengar dan baca tentang perlakuan penerbit kepada penulis adalah:

1. Penulis mengirimkan naskah, lama nggak ada kabar (rata-rata nunggu nasib naskah kita sekitar 3 bulan, tapi bisa juga lebih). Kalau cuma nggak ada kabar sih mending ya. Lha bagaimana kalau tiba-tiba naskah yang kita kirim muncul jadi buku, dengan nama orang lain sebagai pengarangnya? waaaaaa.....serem banget. Amit-amit, semoga jangan sampai kejadian sama kita ya. Tapi...iya, ini bukan tidak mungkin terjadi. Biasanya dilakukan oleh penerbit yang nggak jelas. Atau bahkan hanya seseorang yang melakukan aksinya, membuat penerbitan tipu-tipu, dari dalam kamarnya. Duh. Salah satu antisipasinya adalah jangan mengirimkan naskah dalam bentuk soft copy (data di dalam komputer), tetapi pakai hard copy (naskah yang di-print). Menjamin aman? tidak juga. Tetapi setidaknya akan lebih susah untuk dijiplak. Selain itu, bisa juga mengirimkan bab beberapa contoh tulisan (tergantung penerbit mau atau tidak). Baru setelah disepakati hitam di atas putih, kirimkan sisa naskah.

2. Penulis dan penerbit ada kesepakatan akan menerbitkan suatu buku, lalu penulis menyelesaikan tugasnya menyerahkan naskah ke penerbit, tetapi hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun tidak juga ada kepastian dari penerbit untuk menerbitkan. Penulis digantung. Kalau saya jadi penulis yang nasibnya begini, saya akan ambil inisiatif untuk kirim naskah itu ke penerbit lain. Peduli setan dengan penerbit yang menggantung nasib penulis. Selama nggak ada kontrak kerja sama dengan penerbit itu, saya akan ambil langkah mengirimkan ke penerbit lain.

3. Penulis mengirimkan naskah, lalu idenya dijiplak sebagian (hampir semua), diolah sedikit, lalu pasang nama baru sebagai pengarangnya. Duh....ini juga serem. Tapi kita bisa apa kalau hal itu terjadi? Kecuali kita punya bukti-bukti kuat untuk menggugat, kalau nggak...maka hanya akan ada omongan lawan omongan, susah untuk menggugat.

4. Penulis diminta mengirimkan naskah, tanda tangan kontrak atau surat perintah kerja (SPK) dijanjikan belakangan setelah buku terbit. Jangaaaaan mauuuu. Di mana-mana, yang namanya kerja sama dua belah pihak itu disepakati di awal, pahitnya sudah sama-sama tahu, manisnya siap dirasakan bersama. Selesaikan semua urusan di awal, baru deh kerja sama direalisasikan. Penulis harus tahu haknya apa, kewajibannya apa, ditandatangani bersama, sehingga memiliki kekuatan hukum.

5. Penerbit tidak transparan tentang penjualan buku. Bilang bahwa penjualan buku seret, sehingga royalti yang diberikan tidak banyak. Ini memang bukan persoalan mudah. Susah bagi penulis untuk mengecek satu persatu penjualan di toko kan? bahkan mustahil. Bagaimana kita tahu penjualan buku kita? minta laporan penjualan secara berkala. Bagaimana kita tahu penerbit tidak memanipulasi data penjualan buku kita? Demi Tuhan, saya tidak bisa menjawab itu. Antisipasinya ya carilah penerbit yang bisa dipertanggungjawabkan, punya kredibilitas bagus.

Itu setidaknya lima hal yang mungkin terjadi. Saya ingin berbagi pengalaman, yang hampir sama dengan point 2 dan 4. Pengalaman saya ini bikin saya bete setengah mampus sebagai penulis. Jadi begini, suatu hari, ada teman penulis menawari saya nulis untuk sebuah buku. Saya setuju. Lalu saya dihubungkan dengan editor buku itu. Kami berbalas email lama untuk mendiskusikan materi buku itu. Semua indah di awal. Beberapa bulan mendiskusikan, akhirnya sudah mulai mengerucut model tulisan apa yang harus saya buat. Kelar nulis, saya kirimkan deh tulisan via email, padahal saya belum pernah ketemu itu editor, gak ada nomor hape-nya, dan murni hanya percaya karena saya dikenalkan kepadanya oleh teman.  (kebodohan pertama).

Setelah itu, komunikasi berhenti sama sekali. Saya berpikir, oh...mungkin masih proses editing atau yang lainnya. Ya sudah saya biarkan, dan saya lupa untuk beberapa saat karena kesibukan saya di hal lain (kebodohan kedua).

Suatu saat, pas nganggur, otak saya kembali ke tempat semula. Tiba-tiba mendadak pinter setelah goblok beberapa saat. Saya ulik lagi email-email saya dengan tuh editor (udah beberapa bulan lalu). Saya nanya deh, gimana nasib naskah saya? itu jadi terbit nggak?  Beberapa hari kemudian dapat jawaban, kalau ditunda dulu dan akan diberitahu lebih lanjut. Habis itu, tidak berkomunikasi lagi!

Suatu saat (entah setelah jeda ke berapa kalinya), saya dan editor kembali berkomunikasi. Intinya akan segera diterbit. Saya belum bete sampai di sini. Lalu, saya minta deh Surat Perintah Kerja (SPK), semacam kesepakatan bahwa naskah saya ini akan diterbitkan. Termasuk minta kejelasan hak-hak saya, berapa uang yang saya terima. Perlu diketahui, naskah ini beli putus. Jadi seharusnya ketika saya kelar mengirimkan semua naskah dan materi yang dibutuhkan, ya saya harus mendapatkan uang yang menjadi hak saya. 

Setelah perbincangan tentang rencana diterbitkan itu kelar, saya kembali kehilangan kontak dengan editor. Pertanyaan saya akan permintaan SPK atau kontrak tidak terjawab. Saya SMS tidak berbalas.  Saya diam saja beberapa lama. (kebodohan ketiga).

Setelah sekian lama, otak saya kembali bisa bekerja lagi. Khususnya pas saya menemukan satu buku dengan nama saya sebagai salah satu penulisnya. Dan benar. Itu adalah buku yang naskahnya saya kirim sekitar setahun lalu. Bukannya saya senang, saya justru merasa sangat aneh yang luar biasa:
  • Bagaimana mungkin sebuah naskah bisa terbit sementara antara penulis dan penerbit belum ada kesepakatan soal hak dan kewajiban penulis?
  • Bagaimana mungkin sebuah naskah bisa terbit sementara si penulis belum pernah tanda tangan surat kerja sama di kertas mana pun?
  • Bagaimana mungkin sebuah naskah bisa terbit setelah antara penulis dan penerbit (yang diwakili editor) tidak pernah komunikasi lagi untuk waktu lama?
  • Bagaimana...bagaimana...dan bagaimana lainnya...duh bete.
Larilah saya ke toko buku. Pengen ngintip buku yang saya lihat di internet itu. Setelah mendapatkan kepastian bahwa memang ada naskah saya di situ, saya mulai bergerak. Saya kirim email ke editor. Beberapa saat tidak mempan, saya telpon si editor. Jawabnya santai sekali. Iya, santai kayak di pantai "Mohon maaf mas kalau lupa memberitahu. Saya kebetulan sibuk sekali." Waaaaa....jawaban macam apa itu? Meski tidak terima, saya masih sabar (tapi bete). Dijanjikan akan diselesaikan. Tapi lama kemudian nggak ada kabar. Nah, amarah saya mulai berloncatan lagi nih di ubun-ubun. Pas ada acara di kota di mana penerbit itu ada, saya hubungi deh editornya untuk ketemu. Apa jawabnya? "Mohon maaf, saya sibuk". :P
Pulang dari kota itu, saya sudah bete. Di rumah, saya kumpulin (untung gak saya deleted) email-email komunikasi saya dengan si penerbit sejak setahun lalu. Saya bikin kronologisnya dari A - Z, dari awal sampai posisi paling akhir nasib saya. Puanjaaang deh emailnya. Dan saya beri ultimatum yang sopan (duh, sudah sial masih saja sopan). Saya bilang, saya akan menempuh langkah yang diperlukan bila tidak ada niat baik dari penerbit untuk menyelesaikan hal yang menjadi hak saya. Sopan kan :).

Emang mempan? Tunggu dulu. Saya ingat sekali cerita teman saya yang bermasalah dengan sebuah perusahaan besar. Persoalan yang dialami teman saya kemungkinan karena kesalahan pejabat yang menangani proyek itu. Jadi kemungkinan besar para pengambil keputusan tidak tahu ada persoalan itu. Mentok gak ada solusi dari itu pejabat, si teman saya yang pinter ini lalu protes keras dan "MENGIRIMKAN EMAIL KE SEMUA PEJABAT TINGGI DI KANTOR ITU". Akhirnya...baru dapat perhatian. 

Itulah yang saya lakukan. Saya merasa, ada sesuatu yang putus antara saya dengan penerbit itu. Di mana putusnya? di -editor-nya. Saya sudah capek untuk kirim email ke editornya, karena paling-paling kayak kemarin. Protes saya via email saya CC ke beberapa email, termasuk email resmi perusahaan penerbitan tersebut. Dan terbukti langsung mendapatkan respons. Saya ditelpon sekretaris redaksinya, dan berjanji akan segera selesai.

Selesai? belum atuh...bete saya masih berlanjut. Saya akan dibayar dengan harga tertentu, yang menurut saya tidak adil. Saya bilang ke mereka: sejak awal kerja sama aja sudah salah. Seharusnya disepakati dulu berapa harga tulisan saya, bukan langsung main terbit dong. Mereka bertanya saya minta berapa? Tetapi sebelumnya mereka bilang, bahwa mereka hanya bisa kasih saya harga C. 

C = harga di bawah standar. Editor bilang, harga C ini dihitung untuk satu tulisan. Kenapa saya dibayar dengan nominal "C", karena saya dinilai tidak terkenal, dan dia membandingkan nama-nama lain yang mendapatkan harga di atas "C". Lalu saya cermati nama-nama lain yang disebutkan sebagai contoh oleh editor itu, dan....maaf, bukan saya takabur, saya sudah menulis beberapa buku, dan saya juga tidak melihat nama-nama lain itu lebih terkenal dari saya. Dududududu.....

Jujur saya capek. Saya nggak mau harga tinggi, tetapi saya juga tidak mau harga rendah. Saya harus menghargai diri saya sendiri. Akhirnya sepakat di harga B. Okelah. Selesai? beluuuuuuum....hahahahah. Capek kan bacanya? sama. Saya juga capek mengalaminya.

Setelah sepakat di harga B, saya tanya lagi..."Mas, harga B itu kan untuk satu naskah. Nah, saya kan lebih dari satu. Harusnya saya menerima B dikalikan dong..". Jawabnya : "Nggak, ya itu untuk semua." Mampus nggak tuh. Kayak lingkaran setan, nggak ada ujung dah. Mari belajar matematika:
  • Satu butir telur harganya adalah Rp 1.000. Kalau Anda membeli tiga butir telur, berapa harga yang harus Anda bayar? Jawab: 3 x Rp 1.000 = Rp 3.000 
Nah...apa perlu saya ajari matematika sederhana gitu? Lha wong saya ini selama sekolah, pelajaran matematika selalu dapat angka merah alias goblok aja masih bisa ngitung hal sederhana seperti itu. Saya pikir si editor juga gak bodoh deh. Dia hanya pura-pura bodoh untuk mencurangi saya. Setelah saya protes, baru deh dipenuhi, harga B dikalikan dengan jumlah naskah yang saya kirim. Kalau sekarang benar-benar selesai deh ceritanya.

Intinya, saya sudah tidak mau berurusan lebih lama dengan penerbit model beginian. Nggak deh, makan ati dan bikin kurus. Kalo kurus karena diet itu bisa saja sehat, tetapi kurus karena makan ati, bisa mati berdiri. Setelah itu saya tutup buku dengan tuh penerbit. Meskipun dalam hati kecil saya mengatakan, kemungkinan yang error adalah editornya.

Ya sudah, harus ada yang menjadi martir dalam hidup. Saya sudah menjadi martir, supaya saya bisa berbagi pengalaman untuk Anda para penulis-penulis baru yang ingin terjun di dunia penulisan profesional. Pesan terakhir, apapun persoalannya, jangan berhenti menulis.

When life bites you in the ass, bite back !!
Regards,
A

Tuesday, March 26, 2013

Cara Menembus Penerbit

Hey, Journer...

Kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana cara menembus penerbit. Postingan ini berdasarkan pertanyaan teman traveler yang juga aktif sebagai travel blogger, dan ingin tahu bagaimana caranya menembus penerbit. Mereka ingin sekali catatan perjalanannya dibukukan.

Postingan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, semoga berguna. Sampai saat ini, saya sudah menerbitkan delapan buku, tujuh buku diterbitkan B-First (Bentang Pustaka), satu buku diterbitkan Mizan. Saya ingin mengawali postingan ini dengan bercerita bagaimana saya bisa menembus Bentang Pustaka. Seperti kita tahu, Bentang Pustaka bukanlah penerbit kecil. Di sana ada banyak penulis traveling beken macam Trinity "The Naked Traveler" atau juga Claudia Kaunang dengan guide books-nya. Kalau untuk buku-buku popular lain, di sini ada Dee (Dewi Lestari), Andrea Hirata, dan lain sebagainya. Tentu kebanggaan tersendiri saya bisa bergabung dengan mereka.

Sekitar pertengahan 2009, saya sudah ancang-ancang hengkang dari koran, tempat saya bernaung sebagai jurnalis dengan posisi akhir sebagai redaktur. Waktu itu, saya sudah berpikir untuk menerbitkan buku, tetapi tidak tahu caranya. Setelah backpacking pertama saya ke luar negeri, saya berpikir setidaknya saya harus menerbitkan tulisan saya di koran sebelum saya hengkang dari koran itu. Lalu akhirnya saya menuliskan catatan perjalanan sebanyak empat seri di koran saya tersebut. Kenapa saya melakukan ini ? bukan tanpa alasan. Saya harus punya bekal berupa portofolio untuk bisa menembus penerbit. Itu pikiran awal saya, dan saya lakukan. Saya belum tahu akan seperti apa langkah selanjutnya.

Buku pertama hingga ke-empat saya
Akhir tahun 2009, saya hengkang dari koran tersebut. Karena nganggur, saya jadi punya banyak waktu untuk browsing-browsing. Lha kok kebetulan sekali waktu itu Bentang Pustaka mengadakan sayembara keliling dunia, yang intinya mengajak siapapun untuk membuat proposal perjalanan ke negara yang dipilihnya sendiri, dan akan dibiayai, dan akan diterbitkan, dan akan dapat royalti, dan akan yang lain-lainnya...:)

Saya sendiri tidak yakin akan apa yang saya lakukan. Tetapi saya kirimkan juga proposal itu, dan itu bener-bener di last minute yaitu hari terakhir penutupan (awal Januari). Saya sudah kelabakan membuat proposal dan pesimistis. Tapi, keberuntungan masih di pihak saya, karena ternyata jadwalnya diundur beberapa hari. Intinya. lomba yang jurinya adalah Trinity itu, saya masuk 5 orang yang dipilih oleh Bentang Pustaka untuk merealisasikan proposal saya. Tujuan saya adalah : China. 

Mau tau kata Trinity soal kenapa saya dipilihnya ? Catatan saja: sebelum saya menang, saya sama sekali tidak mengenal Trinity. Ini penting saya kemukakan karena sekarang orang tahu saya temannya Trinity. Jadi di sini tidak ada KKN. Balik lagi soal kenapa saya dipilih? dan ini sempat saya tanyakan ke Trinity, jawabannya adalah: 
a. Karena proposal saya masuk akal. Tidak asal mengajukan budget murah untuk perjalanan. Kata dia, ada yang mengajukan proposal ke negara tertentu dan anggarannya justru minim sekali. Menurut dia, hal itu tidak masuk akal, karena dia sangat tahu biaya hidup negara tersebut.
b. Negara yang dipilih agak berbeda, yaitu China. Kebanyakan milih Asia Tenggara
c. Karena saya bisa menulis. Bagaimana dia tahu? Kliping koran catatan perjalanan saya yang saya lampirkan menjadi penyelamat saya :).
Dari sinilah kemudian buku pertama saya terbit. Dari gambaran di atas, saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada cara lain menembus penerbit di luar cara konvensional mengirimkan naskah ke penerbit.
Buku saya bareng Ajie Hatadji

Secara umum, saya bisa gambarkan beberapa cara untuk bisa menembus penerbit:

1. Melalui cara tertentu, seperti kompetisi.
2. Melalui cara konvensional, mengirimkan naskah ke penerbit.
3. Melalui cara jejaring, bisa dari teman atau komunitas. 

Mari kita kupas lagi satu persatu:
1. Melalui cara tertentu, seperti kompetisi : ini sudah saya contohkan dalam kasus saya di atas. Menurut saya, cara ini adalah shortcut  atau jalan pintas menembus penerbit. Dalam kasus saya, memang saya menang untuk satu buku. Tetapi ketika penerbit melihat saya bisa menulis dan di sisi lain secara marketing buku saya laku, maka mereka tak segan-segan untuk menawari saya jalan-jalan lagi. Berikutnya muncullah buku-buku saya yang lain, mulai dari Thailand, hingga Travelicious Series. Untuk buku-buku ini, saya sudah lebih mudah lagi proses penerbitannya. Saya hanya tinggal mengusulkan outline buku ke editor penerbit, lalu kami diskusikan, lalu saya melakukan perjalanan, menulis, hingga proses penerbitannya. Saran saya, rajin-rajinlah mem-follow akun-akun penerbit besar baik di Facebook, Twitter, maupun situs resmi mereka. Bila ada info terbaru tentang kompetisi yang mereka adakan, ikut saja.
Hasil ngobrol dengan teman-teman penulis, muncullah buku ini.

2. Melalui cara konvensional : tinggal mem-follow akun resmi penerbit besar. Setiap penerbit besar pasti akan mem-publish cara mengirim naskah di situs mereka. Pelajari benar-benar, ikuti setiap poin yang menjadi prasyarat. Jangan ngeper, meskipun belum punya buku, penerbit tetap akan memperhatikan kok kalau naskah kita bagus. Faktanya, banyak penulis baru yang bukunya bisa jadi best seller juga. Biasanya waktu tunggu untuk mendapatkan kepastian sekitar 3 bulan. Tetapi bahkan sampai setahun pun tidak mustahil :).

3. Melalui cara jejaring : pertemanan atau komunitas bisa membawa kita ke penerbit. Bila kita punya teman penulis atau penerbit, kita akan lebih mudah masuk ke penerbit. Misalnya bisa melalui nulis bareng dengan teman penulis, atau langsung menyampaikan ide-ide kita ke editor (orang redaksi dari sebuah penerbit).

Kalau sudah tahu jalurnya, sekarang kita bicara teknis, bagaimana supaya penerbit melirik naskah kita? Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan:

Buku ke-delapan saya.
1. Ada penerbit yang maunya menerima naskah jadi (bukan proposal, bukan outline, bukan beberapa bab cerita. Biasanya untuk buku fiksi). Namun ada juga penerbit yang mau menerima proposal, outline, atau contoh bab, untuk kemudian didiskusikan lebih lanjut. Yang terakhir biasanya untuk naskah non-fiksi, di mana catatan perjalanan juga termasuk di dalamnya. Saran saya: kalau belum kenal banget dengan penerbit atau tidak ada link di sana, jangan mengirimkan naskah soft copy atau naskah disimpan di komputer. Karena sangat mungkin dibajak. Kirimkan saja hard copy  atau naskah yang sudah di-print. Bukan jaminan tidak dibajak, tetapi setidaknya agak susah.

2. Berpikir out of the box. Yang paling ekstrem, bikin tema yang nyleneh, aneh sekalipun. Yang belum pernah dibikin tulisan. Tetapi ingat juga, membuat tulisan nyleneh pun bukan asal buat tulisan, karena saat tulisan itu terbit sebagai sebuah buku, nanti kita harus bisa mempertanggungjawabkannya. Oya, idealis juga boleh. Tetapi sadarilah, penerbitan buku itu sebuah industri. Ini adalah faktanya. Bukan berarti kita harus melepaskan idealisme kita, tetapi kita jangan menjadi orang yang "sak klek", kalo tidak A ya tidak mau. Kalau kayak begitu, hampir dipastikan penerbit ogah sama kita. Letakkan pada proporsinya. Di mana kepentingan kita (idealisme) dan di mana kepentingan penerbit (industri). Buka peluang untuk penerbit mengajak diskusi, lalu kompromi. Berdasarkan pengalaman saya, penerbit tidak pernah memaksa saya untuk melakukan sesuatu yang berbenturan dengan idealisme saya. Nyaris sebagian besar (atau bahkan semua) buku-buku saya adalah representasi pikiran saya. Semua hal bisa dibicarakan, tergantung apakah kita membuka peluang diskusi itu.

3. Buat catatan terpisah bersama surat pengantar naskah. Catatan ini isinya adalah tulisan bagaimana Anda meyakinkan penerbit bahwa naskah Anda layak cetak. Dibikin sederhana saja, poin-per poin, misalnya kenapa penerbit harus mencetak naskah Anda? atau bahasanya kenapa naskah Anda layak cetak? Apakah ada naskah sejenis yang sudah beredar ? Kalau iya, apa kelebihan naskah Anda dibandingkan naskah sejenis itu? catatan ini penting untuk meyakinkan penerbit bahwa naskah Anda layak cetak. Ini ibarat catatan presentasi naskah Anda. 

4. Boleh mengirimkan naskah di lebih dari satu penerbit. Tetapi bila salah satu lolos, etikanya Anda segera menghubungi penerbit lain yang belum ada kabar, untuk penarikan naskah. Etika ini penting, supaya penerbit lain juga merasa dihargai meskipun batal bekerja sama dengan Anda. Hubungan baik perlu dijaga, karena siapa tahu lain kali Anda akan bekerja sama dengan mereka.

5. Jangan ngambekan. Satu naskah ditolak, udah nggak mau nulis lagi. Oya, naskah yang ditolak satu penerbit bisa kita tawarkan ke penerbit lain. Karena setiap penerbit, setiap editor, memiliki pertimbangan berbeda akan sebuah naskah. Sisanya adalah keberuntungan Anda.

Segitu dulu tips dari saya. Postingan berikutnya, saya akan coba berbagi tentang "Penerbit Nakal". Ayo tetap semangat menulis :)

Regards,

A

Thursday, March 21, 2013

Traveling Hemat : Lupakan Hotel, Carilah Kos-kosan

Hey, Journo...
 
Mungkin ini tips yang sudah saya bagi berkali-kali, termasuk di guidebooks yang saya tulis. Tetapi saya ingin membaginya lagi di sini, dalam tulisan khusus, kali aja ada yang butuh. Kalau duit kita cekak, mepet, mau berhemat saat traveling, tips ini mungkin salah satu hal yang mungkin berguna dilakukan supaya kantong kita nggak bolong saat traveling. 

Kita tahu dong, hotel/penginapan atau apapun itu, adalah satu dari tiga aspek traveling yang butuh perhatian khusus, selain makan dan transportasi. Dalam banyak traveling, saya selalu direpotkan dengan mencari kamar yang murah. Kadang kalau sudah mentok dan tidak bisa berkompromi, dan banyak pertimbangan lainnya, saya memilih untuk tidur di bandara, stasiun, atau sekadar ngejogrok di McD dengan secangkir kopi semaleman, atau di Indomart yang sekarang banyak menawarkan satu space kecil buat sekadar hang out atau nongkrong aja.
                                                     photo: trexglobal.com
Hotel murah mungkin bisa saja didapat. Tetapi saya paling nggak suka hotel murah di Indonesia yang memang kebanyakan kotor, lokasinya berada di kawasan esek-esek, kamar mandinya jorok, dan lain sebagainya. Tidak semua seperti itu, tapi mayoritas iya. Saya pernah touring dengan sahabat saya, sampai di Pacitan susah banget nyari hotel murah. Nemu yang rada bagus tampilannya (dari luar). Tetapi begitu masuk, kami berdua bahkan nggak tega mau tidur di kasurnya. Yaolooh, kotor banget. Spreinya yang bernoda, bau apek, apalagi kamar mandinya...hadeeuh. Padahal tampilan bangunan dari luarnya mayanlah. Malam itu saya dan teman saya tidur beralaskan handuk kami yang masih kering. Sebenarnya kami tidak mau tidur, tetapi mengingat kami touring pake motor dari Solo - Yogyakarta - pesisir selatan Yogyakarta - Pacitan - Solo , kami tidak mau berisiko ngantuk di jalan pas naek motor. Alhasil, kami gantian tidur sejam dua jam bergantian pake tuh handuk yang hanya pas di badan satu orang. Mungkin sampai di sini ada yang mikir, yaelah jadi cowok ribet amat :P

Balik lagi ke topik awal, yess...sekarang saya mulai mencari alternatif lain untuk menggantikan hotel murah. Alternatif itu namanya "Kos-kosan". Ide awalnya sih sering lihat ada iklan kos harian. Lalu pas ke Medan, saya coba deh untuk menerapkan ide itu. Kebetulan di dekat Mesjid Raya Medan, saya dan travelmate saya - Ajie - lihat tuh papan nama salah satu kos harian. Ada sih hotel murah di sini, harganya mulai Rp 50.000. Tapi balik lagi, kotornya itu lho. Kami sempat nemu Rp 70.000, mayan bersih, tapi pake kipas angin aja (emang berharap apa? ) dan airnya sering mati, bahkan pas di tengah ritual keramas. Akhirnya memutuskan hengkang.

Mau agak mahal dikit, kok duit pas-pasan. Apalagi kami harus berada di Medan 11 hari 10 malam, taruhlah kami dapat kamar Rp 100.000 (yang tetep saja masih kotor dengan fasilitas seadanya), maka kami harus menyediakan anggaran untuk kamar Rp 1.000.000. Angka besar untuk travelers on budget kayak kami. Setiap sen bagi kami berharga. Maka saat kami lihat ada tawaran kos harian, berhamburanlah kami ke resepsionis kos-an itu (lebay). Ternyata ada kamar Rp 70.000 dengan fasilitas AC (yang bekerja sempurna di tengah panasnya Medan), TV gede 21 inch, tempat tidur springbed ukuran gede, terus kamar mandi dalam. Artinya kalau kami ambil 10 malam, maka kami hanya akan membayar Rp 700.000, HEMAT RP 300.000 (kayak iklan Hypermat yak hehehe).

Nah, yang kayak gini nih bisa Anda terapkan. Apalagi kalau stay lebih lama. Nah, di kos saya yang nyaman dan super bersih di Semarang misalnya, saya sebulan bayar Rp 500.000 dengan kasur springbed, kamar mandi dalam pake shower, bebas 24 jam. Itu kalau misalnya saya orang luar kota dan lagi traveling di Semarang 2 minggu aja, saya akan hemat banyak. Di hotel murah Rp 100.000/malam Anda harus bayar setidaknya Rp 1.400.000 untuk 2 minggu, nah saya hanya bayar Rp 500.000 untuk full 30 hari, hemat berapa juta coba? Ini analogi sederhana aja kenapa kos bisa jadi pilihan hehehe. Gak heran nih, kos saya banyak orang baru yang stay cuma seminggu dua minggu doang. Bahkan ada yang cuma tiga hari. Nah, kalau nginepnya dua tiga hari, bisa jadi Bu Kos ngasih diskon lagi. Mereka ini udah pada tahu cara ngirit :). Di Semarang, sekarang ini banyak kos-kosan di daerah Tembalang (kampus Undip) yang juga nyambi jadi guesthouse lho demi  melihat peluang ini.

Di Yogya yang notabene kota seribu kos-kosan juga mulai banyak tuh yang kayak gitu. Kos harian, termasuk kos menyaru guesthouse ada. Saya selalu bilang, traveling bukan untuk pindah tidur. Tetapi bukan berarti tidur gak penting ya. Istirahat cukup juga penting lho. Cuma kadang antara murah dan kenyamanan itu nggak bersahabat akrab, jadi pinter-pinternya kita membuat keduanya akur hehehe. Dengan banyak cara, kita bisa ngirit buat budget penginapan saat traveling lho. Pas di Medan 11 hari itu, saya memadukan antara tidur di hotel murah (di awal-awal kedatangan) - tidur di kos-an murah - dan nongkrong di McD dan Stasiun Kereta Api (hari-hari terakhir). Ngirit daaah....

Apakah itu mengurangi nikmatnya traveling? No...no....nikmat dan enggaknya traveling tidak ditentukan budget kita, tetapi bagaimana cara kita menikmatinya :)

Selamat mencoba,

A

Monday, March 18, 2013

Tuhan Mencintai Orang-Orang yang Suka Menulis

Judul itu merepresentasikan betapa murah hatinya Tuhan kepada saya. Bagi beberapa orang, tulisan ini nanti mungkin akan terkesan berlebihan. But hey, itulah yang saya suka dari nge-blog, bahwa saya bisa menulis sekehendak saya tanpa ada campur tangan pemodal seperti di jurnalistik, tanpa ada interupsi. Kalaupun ada komen, itu pun via moderasi heheehe...

Saya bersyukur, setelah sebelumnya deg-degan setengah mati, bersamaan dengan meluncurnya buku ke delapan saya, travelogue ketiga saya (yang bukan antologi bareng-bareng penulis lain), buku terbaru saya "Nomadic Heart". Sebelum buku ini meluncur, dalam proses menulisnya saya memang santai sekali, ibarat curhat, tulisan saya berloncatan dengan lancarnya. Tetapi deg-degan muncul saat ada penerbit menawarkan diri untuk menerbitkannya. Tambah deg-degan karena saya sangat tidak pede. Karena banyak di dalam tulisan ini menunjukkan sudut pandang saya tentang sesuatu hal, problem pribadi saya dengan orang-orang di lingkungan saya, dan lain sebagainya. Tetapi kemudian saya sanggupi untuk menerbitkannya. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan promo di social media.

Lega. Karena buku saya mendapatkan sambutan positif. Setidaknya yang saya tahu. Meskipun di sisi lain, saya juga harus siap bila ada yang mengkritik habis-habisan atau menghujat seperti buku saya sebelumnya. Saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Tugas menyenangkan semua orang sudah diambil alih oleh Walter Elias "Walt" Disney :) melalui tokoh-tokoh kartunnya. So, saya selalu bilang ke diri saya, ini bukan buku untuk semua orang. Itu juga yang kemudian saya sampaikan ke orang-orang.

Di luar dugaan, saya mendapatkan banyak respons positif. Beberapa hari setelah beredar di toko-toko buku di Indonesia, saya sudah mulai mendapatkan komentar positif tentang buku ini. Beberapa di antaranya resensi-resensi di blog maupun di media, termasuk juga di www.goodreads.com. 


Di goodreads, seperti yang bisa dibaca di link: http://www.goodreads.com/book/show/17382495-nomadic-heart

Dini Novita Sari menuliskan:
"Ketika kejengahan saya tentang koar-koar mengenai traveling dari para pelakunya di media sosial mulai meradang, buku ini menjadi pelipurnya. Bagi saya, buku ini jujur, tidak berlebihan, dan tanpa tedeng aling-aling. So if u need to find an honest and humble  travelogue, all i can say... Nomadic Heart is good. :)

Resensi lengkap Dini bisa dibaca di link berikut ini: http://dinoybooksreview.wordpress.com/2013/03/03/nomadic-heat-by-ariy/

Selain Dini Novita Sari, di link goodreads tersebut juga ada komentar dari Dian Ruzz yang menuliskan :
"Sebuah kisah perjalanan yang tidak hanya berisi kisah tentang kaki yang melangkah, mata yang melihat, lidah yang merasa, telinga yang mendengar, tetapi juga tentang hati yang belajar dan berbicara. Nice book "



Ada juga komentar Maya Indah : "Saya suka sampulnya.. saya suka tulisannya.. Nomadic heart, menurut saya, salah satu buku yang sebaiknya dibaca untuk mereka yang sedang melakukan kontemplasi diri, untuk mereka yang ingin melihat sisi lain dari sebuah traveling"

Resensi lengkap Nomadic Heart dari Maya bisa dibaca di blog-nya :
http://chiemayindah.wordpress.com/2013/03/16/nomadic-heart/

Selain dari link goodreads, beberapa blog juga mengupas Nomadic Heart:
  • The Escaped Traveler ( http://escaped-traveler.blogspot.com/2013/03/book-review-nomadic-heart.html ) yang mengungkapkan "Membacanya kita tidak akan pernah bosan. Hati kita diajak mengembara bersama setiap rangkaian kata-katanya. Bahasa yang cukup ringan dengan pilihan kata yang tepat menjadikan buku ini lebih 'renyah'.Penulisan travel quotes di sela-sela paragraf juga menjadi faktor pendukung yang memberikan nilai tambah bagi cerita itu sendiri"
  • AcapTrip  ( http://acaptrip.wordpress.com/2013/03/12/mengutip-inspirasi/ ) yang mengungkapkan  
  • "Nomadic Heart telah resmi menjadi buku yang statusnya sama dengan dua buku yang saya sebut sebelumnya, sumber inspirasi sekaligus favorit sepanjang masa. Sekilas memang terlihat sederhana, tapi dalam kesederhanaan itu pembaca bisa menemukan cerita yang unik, menarik, bahkan mengharukan. Bagi saya, justru dalam kesederhanaan itu, saya bisa banyak belajar, itu manfaat yang terpenting.
Seorang pembaca juga menuliskan pandangannya di www.kompas.com : http://oase.kompas.com/read/2013/03/12/00270780/Menikmati.Hidup.dengan.Cara.Berbeda


Saya juga mendapatkan mention dari pembaca yang merasa terwakili oleh cerita saya.:

1.  @identityono Currently reading latest book, Nomadic Heart. I do really feel about measurement and they-are-not-the-same-frequency-with-me. :-)

2. Benar sekali. Terima kasih kembali karena saya menjadi lebih mengapresiasi berbagai arti serta tujuan dari "penjelajahan".

3. Gak nyesel sedikitpun gue resign. Ada paragraf superkeren di Nomadic Heart-nya hal 16 :) 

4.  Kak aq baru selese baca Nomadic heart dan itu keren!!!

...dan banyak mention lainnya. Seorang teman yang wajahnya jauh dari kata sendu, SMS saya dan mengatakan "hampir nangis baca bab Sekulkas Cokelat dari Swiss". Atau seorang teman lain yang menyatakan hati memang tidak bisa dibohongi. Aku suka Nomadic Heart.

Saya sendiri tidak menyangka akan mendapatkan sambutan hangat seperti itu. Yang saya lakukan hanyalah menulis dengan jujur sesuai dengan apa yang hati saya ingin katakan. Beberapa hal sebenarnya sangat personal, dan saya agak ragu mengungkapkannya. Tetapi teman saya yang penulis terkenal itu - Trinity - pernah bilang ke saya, kalau nulis jangan jaim. Dan inilah saya, mencoba menelanjangi diri dalam buku Nomadic Heart. Satu hal yang sering dikritik orang tentang buku ini adalah : kurang tebal. Hehehe...kalau saya bisa mengarang indah tentu akan saya bikin lebih tebal. Sayangnya Nomadic Heart adalah buku non-fiksi.

Ada juga komentar soal bau-bau fiksi di dalam buku ini. Well, saya mengakui dalam beberapa diksi, kalimat, ada "nilai rasa tertentu" yang saya mainkan. Tetapi substansinya tidak berbeda. Untuk menjadi sebuah buku, saya harus memikirkan kenikmatan pembaca dalam mengeja setiap kata dan kalimat. Dalam kehidupan nyata, mungkin kata dan kalimat meluncur dengan lugas. Tetapi dalam sebuah karya tulis (termasuk karya sastra misalnya) perlu kita pikirkan aspek-aspek estetik merangkai aksara supaya sebuah cerita menjadi indah. Non fiksi pun bisa diberlakukan semacam itu, tanpa keluar dari cerita aslinya. Ini sama saja dengan mengangkat sebuah kisah hidup seseorang ke dalam film, akan banyak aspek-aspek sinematografi yang tentu hal itu tidak muncul di dunia nyata.

Masukan demi masukan, yang bukan hanya sekadar pujian, akan membuat saya semakin rajin belajar dan menambal lubang-lubang kelemahan saya. Terima kasih untuk pujian yang banyak. Sekarang saya pede untuk menulis. Dan saya juga menemukan resep supaya sebuah tulisan disukai: menulislah dengan hati. Karena konon yang keluar dari hati, akan sampai ke hati juga :).

Akhirnya....oke sekarang Anda boleh mengambil tas plastik kresek. Mari muntah bersama-sama hahaha demi melihat saya pamer :)

Regards,

Ariy

Sunday, February 24, 2013

Berkunjung ke Pusat Penangkaran Panda di Chengdu


The greatness of a nation and moral progress can be judged by the animal are treated

Pintu Masuk Panda Breeding Chengdu

Kutipan kalimat indah dari Indira Gandhi itu terpajang di sebuah papan kayu dengan tulisan latin serta versi tulisan Mandarin. Di pasang di salah satu sudut halaman Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding. Seakan menjadi kalimat penenang bagi panda-panda yang berlindung di penangkaran ini. Lokasi yang terkenal dengan sebutan Panda Base ini memang seakan rumah nyaman bagi para binatang lucu nan pemalas ini.
        Berada di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, China, lokasi Panda Base terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota, tepatnya di Panda Base Road No 26, Northern Suburb. Inilah lokasi penangkaran, habitat para panda, laboratorium hingga museum panda. Gambaran asyiknya: ini adalah kebun binatang berisi panda dengan beberapa jenisnya, serta sangat tenang dan indah.
        Panda Base di Chengdu merupakan salah satu cagar alam bagi panda yang ada di China. Beberapa cagar alam lainnya adalah Wolong Panda Reserve, yang berada di sebelah timur Qionglai Mountain, sekitar 3 jam perjalanan dari Chengdu. Kembali ke Panda Base, ada dua jenis panda di sini, yaitu Giant Panda atau panda yang biasa kita kenal, bulu hitam putih dan postur tubuh besar, dan Red Panda yaitu panda merah dengan ekor panjang dengan ukuran lebih kecil. Memasuki Panda Base, kesan tenang dan sepi akan kita temui. Oya, untuk masuk ke Panda Base, tiket yang harus dibayar adalah 58 CNY. Bagi pelajar, yang dating bersama grup bisa mendapatkan diskon dan hanya membayar 29 CNY. Panda Base dibuka mulai pukul 08.00 hingga 18.00. Bagi wisatawan, tersedia Panda Card dengan harga hanya 1 CNY yang bisa dibeli di Chengdu Shuangliu International Airport.

Lagi ngaso, jangan berisik

Di bagian awal halaman Panda Base, kita disambut dengan taman penuh bunga indah dan terawat, dengan patung panda. Berikutnya, dengan beberapa papan petunjuk arah, kita bisa memilih akan menuju ke mana: ke kandang-kandang panda, museum atau laboratorium.  

Maem dulu ya

Sebelum masuk ke wilayah-wilayah yang terdiri dari kandang-kandang panda, lebih bagus bila kita mengerti sedikit latar belakang panda. Untuk itu, kita bisa masuk ke museum panda dan laboratorium penelitiannya. Setelah itu, kita bisa langsung menuju ke kandang Red Panda (Ailurus Fulgens). Red Panda adalah jenis panda yang tak kalah lucunya dengan Giant Panda. Bulunya berwarna cokelat kemerahan dengan beberapa corak putih,  serta berjalan dengan empat kakinya. Kaki depan lebih pendek, sehingga ketika berjalan terlihat menggemaskan. Jenis panda ini meskipun jinak, namun tak terlalu suka dengan orang, kecuali pawangnya. Senantiasa membelakangi pengunjung, hanya sesekali terlihat menatap pengunjung. Namun, begitu pawangnya muncul dan mengetuk-ngetuk mangkok alumunium wadah makanan, mereka pun langsung berlarian mendekat. Nyaris seperti polah kucing.


Berbeda dengan Giant Panda, menemukan Red Panda beraktivitas siang hari lebih mudah. Seperti diketahui, panda adalah binatang yang lebih banyak beraktivitas di malam hari. Pagi hingga sore, mereka bermalas-malasan sepanjang hari. Di dunia saat ini, konon tinggal tersisa 11.000 – 12.000 ekor Red Panda, namun jumlahnya juga terus menurun karena diburu. Mereka bisa ditemukan di Nepal, Barat Daya China, India, Bhutan dan Myanmar. Sebenarnya, panda di China tidak hanya ada di Sichuan, di provinsi lain pun ada, seperti Shaanxi dan Gansu. Namun, 80% berada di wilayah Provinsi Sichuan.
        Di Panda Base , kandang Red Panda tersebar di beberapa sudut. Sementara di sisi lain, kita bisa menemukan rumah-rumah Giant Panda. Bentuk rumah-rumah buatan ini lucu, dibuat seperti gua dengan banyak jendela dan pintu kota-kota kecil. Di halaman rumah, terdapat bilik-bilik bambu dengan potongan bambu-bambu muda sebagai makanan. Pada siang hari, Giant Panda kebanyakan tidur meringkuk di dalam rumah, sehingga tidak terlihat. Tetapi beberapa juga senang berleha-leha di bilik bambu di halaman sambil ngemil bambu muda. Tingkah mereka menggemaskan, apalagi dengan bentuk tubuh gemuk dan mata sayu.

         Beberapa panda yang masih dalam proses karatina berada di kandang kaca dengan gorden penutup. Sementara itu, beberapa anak panda yang masih dikaratina juga berada di kandang khusus berteralis besi. Lucunya, di dalam kandang anak-anak panda ini, kita bisa menemukan mainan anak-anak, termasuk kuda-kudaan goyang dari bahan plastik. Alangkah lucunya bila kita bisa melihat anak-anak panda itu naik kuda-kudaan.
Di kawasan Panda Base, kita dilarang berbicara keras-keras, berisik dan menganggu para panda. Dan ini bukan hanya sekadar ada di papan peringatan di hampir semua sudut Panda Base, tetapi ada beberapa petugas berseragam yang siap menghampiri kita, menegur apabila kita dinilai mengganggu aktivitas Panda.
               Nah, journer, kalau tertarik melihat habitat  panda dan penangkarannya, langsung di Negeri Tirai Bambu, nabung mulai sekarang. Nggak nyesel kok ke sana, keren sumpah :)

Regards,

A