Thursday, June 23, 2016

Too Little Time, Too Much To See (Trip Vietnam - Kamboja Bagian 2)

Mungkin judul itu yang pantas buat saya untuk trip kali ini. Sebenarnya saya dan teman saya melakukan perjalanan dalam waktu yang bagi traveler lain cukup lama, yaitu antara tanggal 17 - 28 November, atau total 12 hari. Nah, kan? Tetapi sepertinya tetap saja kurang. Sepertinya itinerary bakal banyak berubah menyesuaikan kondisi di lapangan.

Patung Baru Uncle Ho di depan Ho Chi Minh City Hall

18 November 2015
Hari masih cukup pagi saat kami tiba di hotel setelah penerbangan dari Singapura ke Ho Chi Minh City (HCMC). Cukup pagi untuk merasa lapar. Pagi itu kami belum mendapatkan free breakfast tentu saja, karena baru check in hari itu. Sudah bisa early check in tanpa kena extra charge saja sudah beruntung. Bayangkan kalau kami baru bisa masuk kamar jam 13.00 atau jam 14.00 seperti rata-rata waktu check in di hotel-hotel lain (di Indonesia hotel-hotelnya kayak gini kebanyakan), bisa-bisa kami harus menunggu 4 jam. Iya sih bisa saja kami tinggal backpack di hotel, terus jalan dulu. Tetapi masak iya dengan kondisi kalau orang Jawa bilang "pating cemumut" mau jalan juga? Apa itu "pating cemumut"? Kalau dalam bahasa Indonesia sih serupa dengan kucel. Iya soalnya kami kan dari Singapura Subuh, semalemnya tidur ngemper di airport, nggak mungkin paginya mandi. Tadi pagi cuma gosok gigi dan cuci muka, lalu disambut dengan perjalanan menuju Vietnam.

Seneng banget akhirnya menemukan tempat tidur dan kamar mandi. Kesan saya sih, pengelolaan Giang Son 2 Hotel bagus ya...direkomendasikan deh buat yang mau ke HCMC. Lokasi strategis, staf ramah, fasilitas bagus, bisa early check in, ada fasilitas antarjemput bandara (meski bayar), dan mereka sangat responsif sejak saya booking dari Indonesia beberapa minggu sebelum perjalanan. Oya, saya booking melalui www.booking.com. Kenapa nggak yang lain? Bukan mau promo karena saya juga tidak di-endorse mereka, tetapi pakai situs itu saya bisa bayar saat check in. Selain itu ada free cancellation juga. Nah, sejak saya booking, saya isi tuh beberapa permintaan khusus di kolom www.booking.com, dan ternyata pihak hotel membalas dengan cepat melalui email. Artinya ini hotel memang sudah profesional ya.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami menghitung-hitung hari dan mencoba mengotak-atik rencana. Hari ini sudah pasti kami akan city tour saja. Besok? Nah ini dia. Saya sebenarnya ingin melakukan aktivitas turis standar di HCMC, yaitu ikut trip ke Cu Chi Tunnels (seperti cita-cita awal). Tetapi kebanyakan paket tur adalah satu hari full. Kalau tetap ikut paket ini tentu saja sudah terlambat karena saat itu sudah jam 10.00. Alternatif lain ya city tour yang benar-benar tur keliling dalam kota secara mandiri. Terus besok mau kemana ? Kan belum terjawab?

Teman saya pengen banget ke Mui Ne. Sebenarnya, I have no idea tentang Mui Ne. Tetapi dari hasil cerita teman saya itu dan googling, sepertinya saya harus memberi kesempatan kepada Mui Ne untuk mendapatkan kunjungan dari saya hahahaha. Akhirnya diputuskan deh ke Mui Ne, yang cerita lengkapnya entar yaa...

So, tugas saya adalah mencari tiket bus ke Mui Ne. Kami bertanya kepada staf hotel apakah mereka melayani pemesanan tiket bus ke Mui Ne? Salah seorang staf, cowok muda yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup (bila dibandingkan beberapa orang Vietnam yang pernah kami temui) akhirnya mengajak saya keluar untuk mencari tiket. Saya manut saja. Saya pikir, pasti dengan bantuan staf hotel akan mendapatkan harga tiket yang miring. Begitu bukan? 

Saya meninggalkan teman saya di hotel dan mengikuti cowok itu keluar gang, lalu berjalan satu blok atau sekitar 500 meter dari lokasi hotel saya. Sebenarnya Pham Ngu Lao Street di District 1 ini menyediakan semua kebutuhan turis. Ibarat kata, melek mata udah terlihat travel agent di mana-mana, hotel di mana-mana, tempat makan di mana-mana, toko suvenir di mana-mana, jadi kalau mau melakukannya sendiri ya bisa. Tetapi saya seperti dicucuk hidung untuk mengikuti staf hotel ini. Ternyata saya di bawa ke salah satu agen perjalanan yang menjual tiket bus. Mau ke jurusan mana aja bisa. Intinya, staf hotel itu sebenarnya hanya menyerahkan saya ke pihak agen perjalanan yang menjual tiket bus (saya yakin dia dapat komisi), lalu untuk proses booking tiket ya saya lakukan sendiri. Di sepanjang jalan itu, sudah berderet banyak sekali agen perjalanan, jadi jangan khawatir.

Saya akhirnya membeli tiket pulang pergi HCMC - Mui Ne untuk esok hari (tanggal 19 November). Bus yang tersedia adalah type sleeper dan saya sudah merasa sesak duluan membayangkannya. Saya tidak terlalu suka bus jenis ini, yaitu bus yang kursinya diganti semacam tempat tidur (seukuran tandu ambulans) dan posisinya bertingkat. Saya pernah naik bus model beginian dari Guilin - Nanning di China dalam perjalanan 12 jam dan rasanya sangaaaaat tersiksa. Tetapi setidaknya HCMC - Mui Ne hanya 6 jam perjalanan. Kita lihat saja apa yang akan terjadi.

  • Tiket bus HCMC ke Mui Ne standarnya 130.000 VND (Rp 76.000) atau kurang lebih 5 USD sekali jalan. Tetapi saya lihat beberapa bus ada yang bertiket seharga hingga 14 USD. Tergantung busnya gimana juga sih. 
Sebenarnya ada juga kereta api menuju Mui Ne dengan harga tiket hampir sama. Tetapi hanya ada satu kali keberangkatan, yaitu di jam 06.50 pagi dari HCMC ke Phan Thiet, selain juga tidak direct ke pesisir Mui Ne, harus ganti dengan bus yang katanya ada di lokasi parkir stasiun atau taksi untuk menuju ke pesisir pantainya. Kalau bus, langsung diturunkan di hotel tempat kita akan menginap. Akhirnya tiket ke Mui Ne terbeli juga.

Lalu hari ini mau ke mana? Kami sepakat untuk jalan-jalan ke spot-spot standar saja di kota. Tidak berharap banyak. Dan saya mengubur dulu keinginan untuk ke Cu Chi Tunnels:

  • Ben Thanh Market : Saya adalah pecinta pasar tradisional. Ini salah satu spot yang selalu saya kunjungi di beberapa negara yang pernah saya sambangi. Saat masuk ke pasar tradisional saya benar-benar bisa merekam secara sempurna kultur penduduk setempat, membayangkan bagaimana mereka hidup sehari-hari, apa yang mereka konsumsi, bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, dan lain sebagainya selain tentu saja juga menemukan hal-hal baru dan kadang aneh terkait kuliner ya. Bagaimana dengan Ben Thanh Market? Well, tentu aspek-aspek yang saya sebut di atas saya dapatkan juga, tetapi saya lebih banyak kecewanya. Bagi saya, kebesaran nama pasar yang menjadi simbol HCMC ini tidak sebesar aslinya. Saya justru menangkap hal yang agak negatif (mohon maaf bila penilaian saya salah). Jadi pasar ini banyak menjual kerajinan tangan, suvenir, kain, dan banyaaak sekali tas outdoor "merek-merek terkenal" dalam berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari daypack hingga tas gunung. Sementara di bagian belakang dan beberapa sisi pasar diisi dengan penjual makanan khas, daging, dan lain sebagainya seperti pasar tradisional pada umumnya. Lalu apanya yang negatif? Cara mereka berdagang, khususnya pedagang suvenir. Serem. Jadi saya melihat seorang pedagang yang keukeuh memegang tangan turis dan berbicara dengan nada tinggi (serupa orang teriak). Yang saya tangkap adalah, si turis menawar tapi tidak cocok dan ingin pergi, lalu si pedagang meminta turis untuk menaikkan harga. Tetapi si turis sepertinya sudah enggan. Di sudut lainnya, saya lihat ada pedagang yang ngomel-ngomel karena seorang turis tidak jadi beli. Oya, mereka ini juga mengenali turis dari Indonesia (atau Malaysia?) sehingga saat melihat kami, mereka bilang "murah-murah". Tetapi demi melihat beberapa atraksi "serem" tadi, di mana pedagang sangat agresif, saya sudah enggan untuk bertanya tentang suatu barang. Padahal sebenarnya saya pengen beli daypack yang kemungkinan besar aspal alias asli tapi palsu itu. Damn...detailnya persis kayak yang harganya ratusan ribu sampai sejutaan itu! hahaha. Tuhan masih menyelamatkan saya dari setan pemborosan. Jadi kesimpulannya, pasar ini tidak mempesona saya. Tetapi apapun, saya masih sempat juga minum es campur demi melihat candy color di etalasenya.

yang ini nyomot dari Wikipedia karena foto koleksi lenyap

koleksi pribadi

koleksi pribadi

* Warning : Di pinggir jalan besar seberang Ben Thanh Market saya dan temen sempet mengabadikan situasi jalan dan area Ben Thanh Market dengan smartphone. Seseorang mendekati dan mengingatkan untuk berhati-hati saat mengambil foto di pinggir jalan, karena banyak kasus jambret bersepeda motor yang menyambar smartphone atau kamera milik turis yang asyik memfoto di pinggir jalan. Terima kasih sudah diingatkan. Tetapi habis mengingatkan, si Bapak nggak mau pergi dan terus menawarkan ojek kepada kami untuk keliling kota. Tetapi kami menolak dengan halus. Sepertinya untuk city tour semua bisa dilakukan secara independen.

  • Saigon Central Post Office (Poste Centrale de Saigon) : adalah tujuan kami berikutnya. Jalan menuju ke lokasi ini sebenarnya tidak jauh, apalagi saya suka jalan kaki. Tetapi kami menempuh waktu agak lama karena sempat kesasar. Beberapa kali nanya, ternyata jawabannya beda-beda. Ngakak juga karena ada yang memberikan petunjuk ke arah kanan, eh yang ditanya berikutnya menunjuk ke arah kiri. Akhirnya balik lagi hehehe...tetapi dengan semangat empat lima akhirnya ketemu juga. Kantor pos ini adalah salah satu tujuan turis di HCMC yang dulu namanya emang Saigon. Nah, kalau ditilik secara bangunannya, emang ini bangunan dibangun saat Perancis bercokol di Indochina di akhir Abad XIX, dibangun dari tahun 1886-1891dengan sentuhan gaya gothic, renaissance, sebagai pengaruh Perancis. Didesign oleh Auguste Henri Vildieu dan Alfred Foulhoux. Terus apa yang menarik dari bangunan ini? Ya kebetulan saya suka hal-hal yang berbau lawas terkait bangunan atau apapun, jadi ya saya seneng aja berlama-lama di dalamnya. Arsitekturnya menurut saya menarik, meskipun tidak mencengangkan. Ada gambaran peta Indochina di dinding atas. Begitu kita masuk, terasa adem. Saat melewati pintu utama, bagian kanan ada semacam phone booth berjajar. Bagian kiri adalah toko suvenir. Sementara ruang utama diisi dengan kegiatan kantor pos sehari-hari, yang di bagian tengahnya ada tempat duduk serta tempat jualan suvenir juga.







  • Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon : Masih satu area dengan kantor pos, ada Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon yang dibangun kolonial Perancis pada 1863-1880, yang memiliki dua lonceng menara setinggi 58 meter. Bila tidak mempelajari sejarahnya, mungkin katedral ini terkesan biasa saja. Tetapi bangunan ini salah satu yang menjadi pusat kunjungan turis. 
duck face...LoL


Area ini memang area yang menjadi pusat pariwisata HCMC. Bus pariwisata hilir mudik mengantar jemput para turis. Beberapa pengasong (yang menurut saya tidak terlalu banyak untuk area pariwisata) menjajakan aneka dagangan. Kebanyakan sih kartu pos. Tetapi saya tertarik dengan penjual kue (serupa donat?) yang melakukan atraksi di depan kantor pos. Laki-laki separuh baya itu menata dagangan bersusun tinggi di sebuah nampan, lalu meletakkan nampan di atas kepala seperti pedagang sate keliling kampung di Indonesia. Kalau sempat berkunjung ke sana, coba cari pria ini ya...hahahaha, orangnya lucu dan tidak memaksa kita untuk membeli. Trik marketing dia bagus. Dia mengajak orang yang ada di sekitar lokasi itu untuk mencoba menyunggi nampan itu di kepala. Saya mencobanya, dan benar-benar berat lho. Bagaimana dia bisa menari-menari dengan nampan itu di kepala ya?
Setelah itu dia menawarkan dagangannya. Kebetulan saya memang lagi tidak ingin membeli makanan, dan dia tetap tersenyum dan melanjutkan ngobrol dengan saya. Tetapi triknya itu telah mampu memikat beberapa turis untuk membeli kuenya. Nice trick !





  • Ho Chi Minh City Hall : Dari area tersebut, kami jalan pulang melewati Ho Chi Minh City Hall yang dibangun pada tahun 1902-1908 dengan tetap menggunakan gaya Perancis. Pada tahun 1975, bangunan ini berganti nama menjadi Ho Chi Minh City People's Committee. Di depan bangunan itu terdapat semacam plaza yang sangat luas yang mungkin lebih tepat disebut alun-alun. Di depan bangunannya, pada tahun 1990 berdiri patung Uncle Ho sitting next to a girl. Sebenarnya siapa sih Uncle Ho ini ? Dia adalah tokoh revolusi dan negarawan Vietnam yang pernah menjabat sebagai perdana menteri pada tahun 1954, yang dianggap sebagai politisi paling berpengaruh pada abad XX. Nama Ho Chi Minh kemudian diabadikan sebagai nama kota ini, yang sebelumnya menggunakan nama Saigon. Saat saya berkunjung ke sana, patung lama sudah diganti dengan patung baru yaitu posisi Ho Chi Minh berdiri dengan gaya gerakan tangan menyapa (lihat foto paling atas).
  • Ho Chi Minh




Hari itu, cuaca mendung di HCMC, dan kami berniat segera kembali dulu ke hotel. Hari juga sudah agak sore. Tetapi belum juga sampai di hotel, hujan sudah mengguyur dan kami harus berteduh di Ben Thanh Market. Tetapi hujan turun tidak lama, dan kami melanjutkan perjalanan ke hotel. Sepanjang perjalanan ke hotel sangat sejuk setelah hujan. Yang saya suka dari kota ini adalah penataan kotanya, meskipun panas tetapi mereka mengimbangi dengan membangun taman-taman kota serta memelihara pohon-pohon pelindung tinggi besar. Di sekitar Pham Ngu Lao Street banyak taman-taman yang masih penuh dengan aktivitas warga hingga malam. Olahraga yang paling banyak dilakukan adalah bulu sepak (ini istilah saya sendiri) yaitu semacam sepak takraw tetapi yang disepak adalah semacam shuttlecock bulutangkis namun berbahan beda. Permainan ini bisa dilakukan berdua maupun banyak orang dengan posisi melingkar. Kita bisa melihat warga bermain semacam ini hingga malam hari di taman-taman.

Saat memasuki Pham Ngu Lao Street dalam perjalanan ke hotel, saya kaget juga...wah, saat siang yang seperti hari biasa di banyak kota, malamnya jalan ini berubah menjadi jalan yang sangat-sangat bising. Turis (mayoritas bule) tumplek blek di sepanjang jalan ini. Toko, club, restoran, semua seperti menggeliat dalam puncaknya dengan siraman lampu warna warni. Di trotoar, dipasang kursi-kursi kayu pendek dan meja pendek, lalu semua berkumpul di depannya sekadar nongkrong atau minum bir. Lalu lintas juga sangat ruwet. Untung hotel saya masuk di dalam gang. Jadi semua itu hilang seketika saat saya di dalam kamar. Usai mandi dan istirahat sebentar, saya keluar jalan-jalan menikmati malam sambil nyari makan malam. Banyak pilihan sih, tetapi memang bagi traveler muslim, musti hati-hati memilih resto ya...banyak babinya.



Inilah makan malam saya :
1. Vietnam Tea : yang kuning kayak minyak goreng itu adalah Vietnam Tea. Murah, harganya 3.000 VND (sekitar Rp 1.800).

2.Fried Tofu Lemongrass : tahu goreng dengan bumbu lemongrass. Suka banget dengan ini, karena tahunya sangat lembut di dalam, kering di luar. Taburan bumbu lemongrass-nya membuatnya menjadi sedap. Love it. Harganya untuk dua biji (ukuran agak besar) 35.000 VND (Rp 20.000-an) yang emang agak mahal ya untuk ukuran tahu :)

3. Chicken Pho: Pho adalah noodle soup yang khas di Vietnam. Kuliner paling terkenal malah, karena semua orang ke sana pasti nyari ini. Pho bisa pakai babi, daging sapi atau ayam. Jadi hati-hati benar ya buat yang muslim. Semangkuk Chicken Pho ini harganya 50.000 VND (sekitar Rp 30.000-an). Bagi yang traveling on budget  memang sepertinya mahal ya. Tapi jangan khawatir, kalau kalian jalan berdua atau lebih, bisa sharing kok. Karena satu mangkuk Chicken Pho ini porsinya besar banget, pake mangkok gede juga.

Oya kebetulan teman saya memesan pakai nasi. Kalau saya lihat, nasi mereka sangat bagus putih bersih dan pulen. Saat icipi juga enak. Pantesan Indonesia mengimpor beras dari Vietnam :)

* Catatan saya: awal ke Vietnam banyak yang cerita bahwa mata uang Vietnam Dong nilainya separuh dari rupiah. Sudah kepikiran semua harga akan lebih murah? jangan terkena ilusi mata uang. Karena meskipun mata uang mereka nominalnya separuh rupiah, tetapi harga-harga seperti makan misalnya, standarnya lebih tinggi. Di Indonesia ke angkringan aja bisa cuma Rp 7.000 ya. Kalau makanan warung yang agak naik kelas ya sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 ya....tetapi kalau di sana, start-nya lebih tinggi. Lha itu tahu goreng aja Rp 20.000 hehehe (atau mungkin saya belum menemukan warung murah?). Kalau harga kamar hotel, menurut saya masih standar seperti harga di Indonesia. Bintang satu dua masih di kisaran Rp 200.000 - Rp 250.000. Jadi sekali lagi jangan terkena ilusi mata uang ya :)

Malam itu, kami menutup hari dengan nongkrong di taman lalu balik hotel dan tidur, karena besok pagi-pagi kami akan menuju ke Mui Ne untuk sesuatu yang luar biasa (?). Saya sudah sangsi akan bisa mengunjungi Cu Chi Tunnels karena waktu kami sangat terbatas...pfffhhh...

Next : amazing sand dunes in Mui Ne...

Tuesday, June 21, 2016

Vietnam, Setelah Sekian Lama Tertunda (Trip Vietnam-Kamboja Bagian 1)

                                                    sumber: www.lonelyplanet.com
Saya sendiri tidak tahu kenapa Vietnam menjadi negara yang sangat ingin saya kunjungi, tetapi juga menjadi negara yang sepertinya susah saya jejaki...

Tahun 2013 saya sudah merencanakan ke sana. Lalu menabung dan berencana berangkat tahun yang sama, atau setidaknya tahun 2014. Harap maklum, saya bukan traveler yang duitnya longgar. Saya benar-benar harus nabung, menyisihkan uang dari berbagai sumber. Apalagi setelah saya memutuskan untuk tidak ngantor, maka sumber utama tidak ada. 

Tahun 2013 akhirnya saya gagal ke Vietnam karena ada pekerjaan sampingan di luar kota. Tahun 2014, saya bahkan sudah membeli tiket berangkat, rencananya Agustus akan jalan, tetapi takdir berkata lain, saya harus mengurungkan niat karena kena musibah dan uangnya harus dipakai untuk keperluan lain. 

Sementara Vietnam dengan segala kemisteriusannya terus menari-nari di benak saya...

Sejak SD saya sudah dijejali dengan bacaan kisah-kisah human interest terkait perang Vietnam di Majalah Intisari. Kakak saya kebetulan berlangganan majalah yang bagi saya saat itu adalah majalah yang paling keren. Cerita-cerita perjuangan rakyat Vietnam yang hidup di bawah tanah, di lorong-lorong Cu Chi Tunnels, begitu menancap di benak saya. Saya masih tidak bisa membayangkan bahwa di lorong-lorong bawah tanah Vietnam ada kehidupan yang diatur sedemikian rapi, termasuk ada rumah sakitnya pada saat itu.

Maka untuk mematikan rasa penasaran itu, akhirnya saya merencanakan untuk mengunjungi Vietnam pada November 2015. Awalnya rute saya adalah : Solo - Singapura - Ho Chi Minh City  (Vietnam) - Phnom Penh - Siem Reap (Kamboja) - Bangkok - Chiang Mai - Chiang Khong (Thailand) - Huay Xa (Laos). Artinya saya akan melintasi lima negara. Tetapi kemudian semua kacau balau karena tiket murah yang saya beli dari Air Asia dibatalkan secara sepihak dan saya tidak memiliki opsi lain selain beli tiket baru mengingat kompensasi yang diberikan Air Asia tidak sesuai jadwal. Saya tidak tahu pasti, apakah uang tiket saya yang dibatalkan itu bisa kembali atau tidak. Tetapi terakhir saya cek di akun saya, refund dana itu ditolak yang artinya Rp 100.000 melayang. Mau untung dapet tiket promo, tapi malah buntung. Jadi tidak hanya beli tiket baru yang lebih mahal, tetapi saya juga harus kena masalah akibat pembatalan sepihak oleh Air Asia (baca "Ditahan di Singapura"). Belajar dari masalah yang pernah saya alami, saya sudah tidak tergoda lagi dengan promo segala nol rupiah dan apalah dari Air Asia. Kalau pun saya menggunakan maskapai itu, saya hanya akan booking sesuai kebutuhan. Kalau butuhnya tahun depan, ya booking saya tahun depan. Kapok.

Itu salah satu hal yang menurut saya sepertinya ada saja kendala saat hendak ke Vietnam. Ada baiknya sebelum ini, Anda membaca dua postingan bersambung saya yang "ditahan" imigrasi Singapura. Itu adalah saat saya transit sebelum menuju ke Vietnam.

17 November 2015 : 
Pagi-pagi saya terbang dari Bandara Adi Soemarmo Solo menuju ke Kuala Lumpur. Saya tiba di KLIA dan beberapa jam masih harus menunggu untuk penerbangan saya menuju Singapura. Saya habiskan waktu dengan makan di food court KLIA, lalu jalan-jalan nggak jelas, lalu ngemil roti di salah satu gerai makanan di sana yang entah apa namanya saya lupa. Somehow...saya merindukan LCCT dengan segala kesederhanaannya. LCCT adalah Low Cost Carrier Terminal di Kuala Lumpur tempat naik turunnya penumpang pesawat bertiket murah. Saya sudah sedemikian akrabnya dengan LCCT sampai hapal spot-spot mana yang enak buat tiduran, buat ngopi, buat makan dan lain sebagainya. Tetapi sekarang seperti Airasia operasionalnya pindah ke KLIA. Lebih bagus, tapi bagi saya terkesan kaku dan sombong. Dasarnya saya emang traveler kere ya hehehe.
  • Oya, tiket saya Solo - Kuala Lumpur seharga sekitar Rp 400.000. Lebih mahal Rp 300.000 dari tiket awal yang saya beli dan dibatalkan oleh Air Asia seenak udelnya (dendam!)
Sorenya, saya mulai check in untuk bersiap menuju ke Singapura. Saya memang sengaja mengambil tiket malam, karena teman saya akan menyusul ke Singapura malam harinya. Jadi supaya jadwal kami pas, saya pilih pesawat malam. Kalau nggak salah sekitar pukul 18.30 atau berapa gitu. Sejauh ini lancar dan saya siap terbang ke Singapura.

  • Tiket Kuala Lumpur - Singapura dengan Air Asia saya dapatkan dengan harga sekitar Rp 200.000. Jadi total jenderal dari Solo - Singapura yang rutenya belok dulu ke Malaysia ini saya dapatkan harga Rp 600.000. Rute belok inilah sumber kesialan saya di Changi.
17 November 2015 malam :

Semuanya sih lancar-lancar saja...maksudnya penerbangannya. Lalu sampai di Changi saya masih muter-muter jalan-jalan dulu sebentar sebelum keluar melalui pemeriksaan imigrasi. Nggak lama sebenernya jalan-jalannya. Saya hanya ingin antrian di meja imigrasi nggak ada lagi. Benar juga...antrean sepi. Paspor saya siap distempel...

Dan inilah awal penderitaan saya selama 2 jam berikutnya. Silakan baca di tulisan "Ditahan" Di Singapura.

17 November 2015 malam :
Setelah berhasil lolos dari interogasi Imigrasi Singapura, saya masih harus menenangkan diri di ruang tunggu sambil menunggu pesawat teman saya dari Jakarta mendarat. Bagi saya pengalaman di interogasi lama itu adalah pengalaman yang menyebalkan. Sambil menunggu teman, saya membunuh waktu dengan berselancar di dunia maya.
  • Untuk menggunakan Wifi gratis di area Airport Changi gampang kok. Aktifkan Wifi di smartphone, lalu pilih Wireless@SG, lalu sign up di halaman pendaftaran. Cantumkan nomor telepon yang aktif ya (nomer lokal kayak Telkomsel dan XL misalnya bisa aktif kok)...karena password akan dikirim melalui SMS. Setelah dapet password...siap berselancar.
Setelah menunggu sekian lama dan sempet saling mencari, akhirnya saya bertemu teman saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah curhat tentang perlakuan imigrasi Singapura kepada saya tentu saja! Hal kedua setelahnya adalah mencari makan. Kami (saya khususnya) sebenernya traveling dengan bener-bener on budget. Makan di area airport adalah satu kesalahan. Tetapi akan lebih salah kalau kami harus keluar airport dan mencari makan di luar karena itu berarti harus bayar MRT - menuju kota, lalu cari food court murah...yeee, sama juga bohong kan. Akhirnya kami sepakat akan makan di salah satu kedai makan di salah satu terminal yang menyajikan makanan Vietnam. Ya, itung-itung sebagai pemanasan. Tetapi cewek yang melayani kami belum-belum sudah bilang bahwa menu yang mereka sajikan tidak halal. Mungkin dia melihat tampang Arab teman saya. Akhirnya kami pindah, ke sana ke mari mencoba mencari makanan yang murah (soal rasa belakangan) tetapi nggak nemu juga. Dan takdir kami saat itu berakhir di Burger King !! oalaaah.

Malam itu kami tidur di area free internet. Lokasinya agak tersembunyi di bagian atas salah satu terminal di Changi (saya lupa terminal berapa). Tetapi itu adalah tempat paling sempurna untuk merebahkan diri di karpetnya. Lokasinya kebetulan agak sepi, sejumlah perangkat komputer dengan jaringan internet gratis teronggok tak berguna di atas meja-meja yang tersedia. Di sana juga tersedia sofa-sofa yang kebanyakan kosong. Di salah satu sudutnya, terlihat pemandangan sepasang suami isteri bule dengan dua anaknya yang masih Balita tertidur di lantai dengan nyamannya, berselimut kain. 

Tak butuh waktu lama, saya dan teman saya sudah mencari kolong-kolong meja yang bisa dipakai buat tidur. Ternyata, di beberapa kolongnya sudah teronggok beberapa traveler bule yang juga mau ngesot numpang tidur hahahaha. Saya memilih satu meja yang kolongnya agak besar dan berada di pojokan. Hanya supaya saya tidak mengganggu tidur traveler lain dengan suara ngorok saya hihihi. Malam itu, akhirnya banyak traveler lain yang tidur seperti kami...beralas karpet, berbantal backpack. Dan itu nyaman sekaliii....

18 November 2015 :
Pagi buta kami sudah bangun. Tidurnya lumayan nyenyak. Lebih enak lagi karena di situ juga ada toilet bersih yang tidak banyak pemakainya. Jadi leluasa membersihkan diri. Pesawat kami akan terbang pukul 07.05 waktu Singapura. Sebenarnya kami memiliki banyak waktu pagi itu. Kami akan berangkat ke Ho Chi Minh City menggunakan pesawat Tiger Air. Pengalaman saya menggunakan Tiger Air, saya selalu puas. Bahkan terakhir kali saya naik pesawat ini, mereka masih memberikan snack gratis.

Kami pun memilih menunggu di ruang tunggu sekitar gate tempat boarding Tiger Air. Masih lama. Oya, pagi itu saya bertemu Tracy Trinita yang supermodel tahun 2000-an itu. Dulu saya sangat terobsesi dengan Tracy saat dia muncul sebagai cover di Majalah JakartaJakarta (ini salah satu majalah yang ngehits lho...iya ketauan tua hehehe), terus makin terobsesi pas Tracy muncul di video klip Java Jive yang "Gerangan Cinta" dan "Permataku". Beuuuuh...dan sekarang ketemu in person, supermodel Indonesia yang tinggi dan cantik yang sudah melahap runway di New York hingga Paris. Tracy kelihatan sederhana, berjalan sendirian mendorong trolly. Dia ramah juga karena sempat lempar senyum ke arah saya. Cantiikknyaaaa.... Okay...stop it.... Kembali ke perjalanan saya ya...

Pagi itu semua berjalan sempurna setelah segala kekacauan yang saya alami sebelumnya. Proses di imigrasi lancar dan pesawat pun tidak mengalami keterlambatan. Pukul 07.05, Tiger Air membawa kami terbang menuju ke Vietnam...so long, damn Singapore !!

18 November 2015:
Sekitar pukul 08.15 waktu HCMC kami tiba di Tan Son Nhat International Airport. Menurut saya bandara ini tidak terlalu besar, namun cukup bersih dan rapi. Nyaman. Dan hari itu, untuk pertama kalinya masuk ke sebuah negara mendapatkan pelayanan di meja imigrasi dengan super cepat. Padahal saya sudah deg-degan kalau kejadian di Changi akan terulang. Tetapi hari itu semua super lancar dan paspor saya sudah distempel kurang dari dua menit setelah petugasnya mengecek. Mereka mengecek sambil sibuk ngobrol antarpetugas di meja yang berbeda lho...ahh...mungkin mereka lagi sibuk bergosip dan hari itu saya beruntung hehehe. 

Keluar dari pintu utama airport, saya mencari orang hotel yang akan menjemput. Saya sudah booking hotel untuk malam pertama di Giang Son 2 Hotel. Lokasinya di 283/24 Pham Ngu Lao, District 1, HCMC. Kebetulan saya yang bertugas mencari hotel dan dari sekian banyak pertimbangan, saya memilih hotel ini. Pertimbangan pertama adalah lokasi yang harus di District 1. Dari hasil survei dan cerita teman-teman, memang District 1 paling strategis, meskipun sisi lainnya juga dinilai berisik. Tapi karena ini hari pertama, kami tidak ingin memulai hari dengan tersesat. Jadi lokasi adalah sangat penting. Nah, untuk menuju ke sana, saya dan teman patungan untuk menggunakan mobil jemputan dari hotel. Tarifnya 15 USD, jadi masing-masing kami setor 7.5 USD...beuhhh, mahal juga ya...

Tak lebih dari 5 menit, kami sudah menemukan penjemput kami yang membawa kertas dengan nama saya selalu pembooking. Tetapi ternyata kami tidak langsung menemukan mobilnya. Menunggu sekitar 5 menit sebelum kami diserahkan ke seorang sopir dengan mini bus yang lumayan bagus. Maka berangkatlah kami ke kota. 

Mobil yang kami tumpangi sangat nyaman dan kelihatan masih lumayan baru. Sopirnya (saya lupa namanya padahal sempat tanya) sangat antusias untuk berbincang dalam bahasa Inggris. Kami salut dengan semangatnya untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris. Sopir ini orangnya lucu dan kadang di tengah jalan dia menyanyi. Lalu saat melihat seorang polisi lalu lintas, dia sempat misuh-misuh dalam bahasa Vietnam dan ingin menghajar polisi itu. Usut punya usut, ternyata polisi lalu lintas di Vietnam banyak yang brengsek juga. Dia cerita, polisi di sana suka cari duit dari tilang. Makanya dia sangat sebal hahaha. "Aku ingin menonjok mukanya!" kata dia dengan bahasa Inggris ngasal. 

Lalu lintas di Ho Chi Minh City itu ruwet banget. Banyak sekali motor dengan pengendaranya menggunakan helm yang kalau di Indonesia belum SNI. Kalau di Jawa, helm seperti itu terkenal dengan sebutan helm "ciduk" (gayung) karena bentuknya yang setengah lingkaran dan bisa dipakai buat gayung. Di Indonesia helm semacam ini pernah hits tahun 1990-an sebelum kemudian dilarang karena tidak mampu melindungi penggunanya secara sempurna.

Saya lupa berapa lama perjalanan dari airport ke kota. Tetapi perkiraan saya sekitar 30-40 menit. Setelah tiba di kota, sopir menurunkan kami di ujung sebuah gang. Saya sudah waswas, wah...jangan-jangan hotel yang saya booking adalah rumah penduduk? tetapi saya lihat foto-fotonya bagus kok. Si sopir menujukkan arah masuk ke gang di mana hotel kami berada. Saya agak ragu juga masuk ke dalam gang. Di ujung gang, beberapa orang penduduk tampak asyik kongkow di depan ruko.

Ternyata hotel kami nggak mengecewakan. Kami disambut perempuan cantik dan ramah yang (lagi-lagi) saya lupa namanya dengan welcome drink yaitu jus orange, dan boleh nambah sesukanya. Ruang lobby-nya bersih, lalu terlihat ada semacam pantry luas yang terhubung dengan meja panjang tempat tamu makan atau sekadar duduk-duduk ngobrol.

Lobby Giang Son 2 Hotel 

Kamar kami

Toilet
Kamar kami sangat bersih dan nyaman dengan kamar mandi dalam. Lokasinya tepat di belakang lobby dan berhadapan dengan meja makan yang panjang tadi. Termasuk dalam fasilitas adalah Wifi dan sarapan pagi. Sedangkan fasilitas kamarnya cukup lumayan, ada TV kabel, toiletries komplit, AC juga dingin. Saya pikir dengan harga yang kami bayar sekitar Rp 250.000-an sangatlah layak.  

Hari itu kami memulai hari dengan istirahat sebentar, mandi, lalu cari sarapan. Saya tidak punya bayangan akan sarapan apa...dan tanpa disangka teman saya justru mengusulkan sarapan makanan India. Oh really ? Makan masakan India di Vietnam ? Awalnya saya ragu...tetapi setelah menuju ke sana, sebuah gang sempit yang tidak jauh dari District 1, saya tertarik mencicipi juga...eh ternyataaa.....wueeeenak ! :)

Next : Rencana berubah, kami harus ke Mui Ne...seru !!

Friday, December 4, 2015

"Ditahan" Imigrasi Singapura (bagian 2)

 
                                                       photo: www.article.wn.com
...Laki-laki itu kemudian mengetuk pintu, dan seorang petugas perempuan yang gemuk dan serupa emak-emak, berseragam imigrasi (biru dongker), keluar. Lalu berbicara dengan laki-laki itu sebelum kemudian menggiring saya masuk ke ruangan itu sambil berteriak meracau....Di jemarinya yang gemuk-gemuk tergenggam paspor saya.

"Indon lagiiii...Indon lagiiiii...." diikuti semacam sumpah serampah yang saya nggak ngerti.

Saya terdiam di ruangan itu. Sebuah ruang sempit berukuran sekitar 3 x 7 meter dan disekat tiga bagian. Sempit sekali, karena di sana ada sekitar 15 orang lainnya yang bernasib seperti saya...entah menunggu apa. Saya mulai nervous.....

Ya Tuhan, jangan kirim saya balik ke Indonesia...saya kan belum sampai Vietnam... 
Saya sedih karena dia berteriak-teriak "Indon lagiii...indon lagiii..." seolah orang Indonesia yang masuk ke sana selalu berbuat ulah. Saya bener-bener merasa seperti warga negara dunia kelas 2. Sebutan indon, konotasinya negatif, sama ketika orang Malaysia menyebut orang Indonesia dengan Indon.

Di dalam ruangan itu, sudah tidak ada tempat duduk lagi. Ada sekitar empat atau lima orang yang berdiri, termasuk saya, lengkap dengan bawaannya masing-masing. Tidak ada orang kulit putih di sana dan mayoritas adalah cewek. Saya bertemu dengan seorang cewek yang mengaku dari Bekasi. Jadi sebelum saya masuk, di sana sudah ada dua orang cewek Indonesia yang bernasib sama. Mereka menunggu antrean untuk diinterogasi.

Saya juga ingin menggarisbawahi, ada anggapan bahwa yang biasanya kena problem begini adalah mereka yang penampilannya lecek, kumel, seperti anggapan beberapa orang. Salah besar. Setidaknya yang saya lihat di ruangan itu, mereka berpakaian bagus, bersepatu rapi. Tidak ada yang kumel. Saya tidak bisa menilai diri saya sendiri apakah saya kumel atau tidak. Tetapi saya pastikan, setiap kali berangkat keluar dan kembali masuk ke Indonesia, saya selalu menggunakan sepatu terbaik saya (tidak pernah sandal jepit atau sandal gunung sekalipun), kadang berkemeja rapi atau setidaknya kaos berkerah. Saya menggunakan sandal jepit atau sandal gunung ketika sudah jalan-jalan di suatu negara, bukan saat masuk negara itu. Jadi sekali lagi, saya tidak melihat alasan kami kena problem adalah karena look kami yang kumel. I don't think so. Lagian pas dari meja imigrasi kemudian digiring ke ruangan itu, mata petugas imigrasi tidak menelanjangi saya dari ubun-ubun sampai ke kaki. Setahu saya, setelah melihat passport saya, dia memanggil petugas lain. So, dalam asumsi saya, ada sesuatu yang mencurigakan di passport saya, bukan soal look.

Si cewek Bekasi itu, saya lupa menanyakan namanya, juga mengaku tidak tahu apa kesalahannya. Tetapi situasinya tambah sulit, karena dia tidak bisa meyakinkan petugas imigrasi bahwa dia sudah booking hotel di Singapura. 

"Saya sudah booking hotel via www.hotels.com. Sialnya, saat petugas imigrasi menelepon ke www.hotels.com, tidak ada nama saya di arsip agen hotel itu," tutur cewek itu sambil menunjukkan screenshoot bookingan hotelnya dari hp dia ke saya. Saya cuma bisa tersenyum kecut. Belum sempat ngobrol banyak lagi, nama saya dipanggil. Di dalam ruangan itu ada tiga petugas imigrasi, dua perempuan serupa emak-emak gendut yang tidak pernah berhenti meracau, satu lagi petugas perempuan muda yang lebih banyak diam. Saya menuju arah suara yang memanggil nama saya, dari salah satu sudut sempit di ruangan itu. Sidik jari saya diambil. Setelah itu dia meyuruh saya kembali di sudut semula.

Di ruangan itu, ada beberapa orang Thailand, beberapa orang Srilanka, beberapa orang China, sisanya saya tidak ngerti dari negara mana. Mayoritas bahasa Inggrisnya jelek, yang semakin membuat mereka terpojok. Saya menunggu lagi sambil berdiri. Di belakang saya, ada ruangan sempit tak lebih dari 1,5 meter x 2 meter bercat kuning dengan kamera CCTV di atas. pojok. Semacam ruang interogasi mungkin, entahlah.

"Tadi ada cewek Indonesia yang udah keluar dari sini sambil nangis. Si petugas membentak-bentak, jangan pernah datang lagi ke Singapura, karena dia bisa memasukkan cewek itu ke penjara," cerita cewek Bekasi itu setelah saya kembali dari pengambilan sidik jari. Haiisssshhh...serem amat!

Jadi saking sempitnya ruangan itu, tiga petugas imigrasi itu menginterogasi kami secara terbuka. Tidak private. Mereka menggunakan bahasa Melayu campur Inggris Singlish. Sedih saya melihat satu cewek Thailand yang tidak bisa bahasa Inggris sama sekali, diinterogasi sedemikian rupa. Salah seorang yang "ketangkep" lainnya dari Thailand akhirnya membantu karena kebetulan dia bisa berbahasa Inggris. Sekilas saya mendengar, bahwa cewek itu datang sendirian ke Singapura, untuk bertemu dengan pacarnya yang sudah berada di Singapura. Lalu emak-emak petugas imigrasi itu meminta si cewek mengeluarkan semua uang cash yang dia punya. Si cewek mengeluarkan uang 26.000 Baht atau dalam rupiah sekitar Rp 10 juta. Angka yang besar bila dia hanya traveling beberapa hari saja.

Petugas lain masih juga teriak-teriak mengurusi yang lain. Ruangan itu auranya negatif banget. Kami dibawa masuk ke dalam ruangan itu saja sudah nervous, masih harus mendengar teriakan-teriakan nggak jelas itu. Saya melalui proses itu hampir 45 menit. Berdiri pegal dan melihat drama dari masing-masing mereka yang "ditangkap". Sampai kemudian pintu diketuk.

Perlu diketahui, pintu itu hanya bisa dibuka dengan access card yang dimiliki oleh petugas imigrasi. Jadi lupakan ide mlipir kabur hahahaha. Seorang petugas imigrasi membuka pintu, lalu muncullah laki-laki itu, seorang petugas berpakaian sipil, entah dia petugas imigrasi atau polisi, saya tidak tahu. Yang saya tahu, beberapa menit kemudian nama saya dipanggil, dan saya diserahkan ke petugas itu. Saya pikir, saya akan dibawa ke ruangan lain. Ternyata saya hanya diajak ngobrol di depan ruangan itu (dengan pintu terbuka).

Taktik yang selalu saya gunakan adalah, saya selalu berbicara dalam bahasa Inggris (dengan semampu saya). Ini selalu berhasil untuk membuat mereka setidaknya tidak underestimate kepada saya. Demikian juga yang saya lakukan terhadap laki-laki itu.

"So, what is the problem, Sir ?" tanya saya mencoba membuka percakapan. 
"Actually...we don't really know yet..." jawab dia sambil masih berdiri di depan pintu. Saya meminta untuk bergeser agak keluar, karena kami benar-benar berbicara tepat di depan pintu. Tapi dengan tegas dia menjawab tidak.
"Don't move...step back..." jawabnya agak tegas.
"Ohh...okay...." galak amat batin saya. Saya nggak mungkin kabur juga.

Tapi dalam perkembangannya, laki-laki ini justru berbicara dengan cara yang lebih baik daripada dua emak-emak berseragam imigrasi yang ada di dalam ruangan. Dia menginterogasi saya -yes dengan masih berdiri di depan pintu- secara sopan dan how to say-nya bagus. Dia sempat mempersoalkan kenapa passport saya menggunakan sampul warna merah ? Saya jawab, ini hanya sampul...hellooo...banyak orang menggunakan passport case supaya paspornya tidak mudah rusak atau sobek. Bukan ada kepentingan untuk mengelabui.

"Saya penasaran, kenapa kamu tidak terbang langsung dari...let me see...hhmmm...Solo ke Singapore ? Kenapa harus lewat Malaysia?"

Lalu dengan semangat empat lima saya menjelaskan soal tiket pesawat AirAsia Solo-Singapura yang dibatalkan, padahal saya sudah membeli tiket terusan dengan TigerAirways dari Singapura ke Ho Chi Minh City, sehingga mau tidak mau saya harus ke Singapura melalui jalan lain. Kebetulan saya mengarsip semua di hape, jadi tinggal tunjukin saja tiket AirAsia saya yang dibatalkan secara sepihak oleh AirAsia, kemudian saya tunjukkan tiket TigerAirways. Dia masih mengejar kenapa saya tidak terbang langsung dari Solo ke Ho Chi Minh City...saya jawab, Solo hanyalah kota kecil yang memiliki segelintir saja rute penerbangan internasional.

"Apa alasan penerbangan dibatalkan? kejar dia.

Saya jawab tidak ada alasan. Silakan tanya AirAsia.Yang kayak begini-begini mana dipikirin oleh maskapai pas membatalkan penerbangan. Yang penting mereka nggak rugi, urusan hak-hak penumpang yang masa bodo kan?

Dia mangut-mangut. "Apa pekerjaanmu?"

Saya menjawab bahwa saya travel writer. Dalam banyak hal ini sangat membantu. Saya juga bilang saya adalah kontributor majalah travel. Lalu dia mengejar apakah ini semacam jurnalis freelance, saya iyain saja. Biasanya kalau udah menyebut jurnalis ampuh tuh. Lalu saya serahkan kartu nama saya, yang memang saya selalu bawa untuk hal-hal penting seperti ini. Dia mengangguk. Lalu dia menginterogasi lebih lanjut tentang teknis bagaimana saya bekerja, apa yang saya tulis, dan lain sebagainya.

"Kamu tahu situasi ini sulit bagi kami?"
"Maksudnya?"
"Banyak orang Indonesia bergabung dengan ISIS....dan perjalanan kamu ini tidak biasa. Kamu masuk ke Singapura berulang kali. Sekarang kamu masuk dengan cara tidak biasa."

"Oh...I see..."
Jadi saya digiring ke sini karena saya dicurigai bagian dari ISIS? atau berpotensi menjadi orang yang mungkin melakukan kegiatan berkaitan dengan itu? Saya melihat imigrasi memang agak paranoid setelah kasus bom di Perancis. Keberangkatan saya kebetulan hanya beberapa hari setelah bom di Perancis. Bagi saya, kalau memang itu pemeriksaan standar sebagai bagian dari pencegahan teroris, ya saya akan maklum. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, kenapa dengan saya? Wajah serupa teroris?

"Your name...kami punya daftar yang namanya sama dengan nama kamu," ujarnya. Entah serius atau tidak.
"Oh really ? ada banyak nama Ariyanto di Indonesia. Googling it, ribuan..." jawab saya. 

Lalu laki-laki itu kembali bertanya tentang aktivitas saya. Tiba-tiba terlintas untuk membuka arsip di hape dan social media. Saya tunjukkan buku-buku saya, berapa buku yang saya tulis, sampai cover-cover buku itu, buku terakhir kapan, serta aktivitas saya di social media.

"Yes, I need that. You have to convince me...bahwa kamu adalah seorang penulis. Saya tidak bisa hanya menggunakan kartu nama untuk mempercayaimu." 

Saya sempat bertanya, apa solusi bagi saya terkait masalah ini? dia menjawab, tidak ada solusi. Lalu dalam bayangan saya, dalam hitungan beberapa jam lagi saya mungkin akan dideportasi. Matiik!

Setelah itu saya kembali dimasukkan ke dalam ruangan. Masih dengan teriakan para emak-emak imigrasi yang mungkin sudah terlalu capek bekerja hingga malam. Jumlah yang ada di dalam sana belum berkurang. Belum ada yang dilepaskan. Malah tidak beberapa lama, masuk lagi satu cowok yang digiring petugas imigrasi. Sepertinya cowok itu dari India. 

Tidak terasa hampir 1,5 jam saya diperiksa di sana. Setelah itu, drama-drama para traveler yang diinterogasi petugas imigrasi kembali saya nikmati. Wajah-wajah lelah para traveler yang mungkin seharusnya sudah berada di hotel, bertemu kawan atau keluarga mereka di Singapura, tetapi masih tertahan di sini. Saya mengerti sekali kekhawatiran mereka, seperti saya khawatir dengan nasib saya sendiri. 

Setelah menunggu sekitar 30 menit, pintu ruangan itu kembali dibuka, dan masuklah lelaki yang menginterogasi saya tadi. Menyerahkan passport saya kepada petugas imigrasi perempuan. Setelah itu, petugas imigrasi perempuan memanggil saya. Sebelum lelaki itu berlalu, dia sempat berujar kepada perempuan itu "No record...FBI tidak juga.."Deuh...apakah itu berarti mereka mengecek juga nama saya di daftarnya FBI? Serem amat. Wakakakakak. Lalu dia sempat menengok ke saya. "I believe in you...you speak English well..." kata dia tanpa senyum. Oh...okay, terima kasih, batinku. Bahasa Inggrisku yang acak kadut pun ternyata berguna.

Yang saya tahu kemudian, dalam beberapa menit itu, terjadi serah terima tiga kali. Dari si lelaki itu ke petugas imigrasi, lalu saya digiring petugas imigrasi ke petugas lelaki lain, lalu saya diminta masuk ke line passport control paling ujung dan tidak ada antrean siapapun. Di meja imigrasi ini, seorang petugas imigrasi lelaki menyetempel paspor saya dengan cepat tanpa melakukan pengecekan secara detil. Saya yakin dia sudah mendapatkan informasi tentang saya dari petugas sebelumnya. Ibaratnya, sudah dicek komplit sekomplit-komplitnya.

"Cepat sangat berkunjung?" tanya dia sambil tersenyum ramah sambil menyerahkan kembali paspor saya yang sudah distempel.
"Iya, transit saja." Jawab saya pendek. Cepat sangat gundulmu! Dua jam dalam interogasi mana cepat.

Tetapi yang saya heran, mereka kok berubah menjadi ramah ya? Mungkin karena saya memang tidak terbukti melakukan sesuatu atau sedang dalam misi seperti yang mereka curigai. Apapun, rasanya lega sekali melewati meja itu. Dengan langkah cepat saya berlalu menuju pintu keluar Terminal 1. Sejujurnya, ini sangat mempengaruhi mood saya. Tetapi saya mencoba untuk menikmatinya meskipun nggak gampang. Don't let stress ruin my holiday...pfhhhh...pfffhhh....ambil napas dalam-dalam.

Tetapi satu hal, saya akan berpikir ulang untuk berkunjung ke Singapura, seheboh apapun godaan mereka melalui iklan-iklan wisatanya. Saya juga berpikir ulang untuk transit di Singapura untuk next traveling, karena saya tidak mau direpotkan dengan hal-hal beginian lagi. Masih ada Kuala Lumpur yang bisa jadi tempat untuk transit, atau Jakarta akan lebih ramah buat warga negara Indonesia. Meskipun tidak terbukti, tetapi menjadi tertuduh dengan sekian jam pemeriksaan cukup bikin stress, apalagi di awal perjalanan. Untungnya, setelah keluar dari Singapura, masuk ke Ho Chi Minh City, Vietnam...saya tidak ada masalah sama sekali. Pemeriksaan di imigrasinya tidak lebih dari 2 menit, tidak ada problem...itu yang sedikit banyak menaikkan mood saya...

Cheers :)

 Ariy

Wednesday, December 2, 2015

"Ditahan" Imigrasi Singapura (bagian 1)

                                                                          Photo : www.moodiereport.com

Saya ingin membuka tulisan ini dengan kalimat, "Nasib saya tak seindah Bandara Changi"

Melas ya? Iya. Sangat. Hahahahaha. Sampai sekarang saya masih sering geli sendiri mentertawakan kesialan yang saya alami. Jadi begini, ternyata posting saya yang berjudul "Kena PHP AirAsia" masih berbuntut panjang. Sedikit kilas balik, saya mendapatkan tiket promo AirAsia dari Solo (SOC) menuju ke Singapura (SIN) untuk penerbangan tanggal 17 November 2015. Tetapi kemudian dibatalkan secara sepihak oleh pihak AirAsia. Berikut kutipan SMS mereka:

Dear Mr Ariyanto, your Airasia flight QZ 376 with booking No MHS1XN from Solo (SOC) to Singapore (SIN) on Tuesday, November 17, 2015 has been cancelled. Please check your email for more details. Thank you.
Nah, Anda bisa membaca kisah selengkapnya soal pembatalan itu di posting saya sebelumnya. Singkat kata, karena saya sudah telanjur membeli tiket lanjutan dari Singapura menuju Ho Chi Minh City (HCMC) Vietnam untuk tanggal 18 November (keesokan harinya), maka saya mau tidak mau dan bagaimanapun caranya harus menuju ke Singapura pada tanggal 17 November. Saya memiliki beberapa opsi, antara lain menuju Yogyakarta kemudian terbang ke Singapura; menuju Jakarta kemudian terbang ke Singapura; atau melalui Kuala Lumpur untuk kemudian terbang ke Singapura. Harga tiket via Yogyakarta tembus angka Rp 1 jutaan (padahal tiket lama saya yang dibatalkan hanya seharga Rp 100.000), sementara kalau via Jakarta saya harus naik kereta dulu ke Jakarta (kalau naik pesawat sama juga boong, berat di ongkos juga). Sementara kalau naik kereta ke Jakarta, jadwalnya tidak pas, sehingga saya harus menginap semalem (tambah biaya hotel, belum makan, belum transport menuju bandara). Dari tiga opsi itu, saya memilih mengambil tiket Solo-Kuala Lumpur - Singapura.

Dan tiket Solo-Kuala Lumpur - Singapura pun terbeli dengan harga total jenderal Rp 600.000-an (lebih bagus daripada Yogyakarta - Singapura). Tetapi ternyata keputusan saya ini berbuntut panjang. Dari awal saat saya bilang saya akan menuju Singapura melalui Kuala Lumpur, beberapa teman sudah menanyakan, kenapa harus lewat Kuala Lumpur ? Itu karena mereka belum tahu soal kasus pembatalan pesawat itu. Di sisi lain, kalau saya mau sadar, sebenarnya itu mungkin pertanda juga...sesuatu akan terjadi....jeng jeeeeeng....

Tanggal 17 November 2015 tiba. Perjalanan saya dari Solo - Kuala Lumpur dengan AK 357 berangkat dari Solo pukul 08.50 WIB lantjar djaja bahagia sejahtera, dan tiba di Kuala Lumpur pukul 12.15 waktu setempat. Di Kuala Lumpur pun saya tidak ada problem, semua berjalan dengan cepat, mudah. Saya transit di sini sekitar 5 jam, sebelum melanjutkan penerbangan ke Singapura. Yuhuuuuuuu !!! *sampai di sini masih girang tuh, super excited juga membayangkan besok ke Vietnam*
KLIA2 adalah bandara yang cukupanlah bagusnya. Tetapi sejujurnya saya lebih menyukai jaman-jaman pakai LCCT. Banyak kenangan sih di sana hehehe, selain juga banyak tempat tempat duduk buat rebahan bentar. Kalau di KLIA2 ini pelit tempat duduk. Di sini saya makan dulu di food court-nya, habis sekitar 12 RM atau berapa, lupa. Intinya, semua berjalan normal, nggak ada perasaan apapun...

Pukul 18.35 waktu Kuala Lumpur, pesawat AK 719 membawa saya terbang Bandara Changi Singapura.. Sekitar pukul 19.40 waktu setempat, saya sudah mendarat di Changi. Rencananya, saya akan bertemu dengan teman dari Jakarta di sini, sebelum keesokan harinya terbang ke HCMC, Vietnam. Pesawat mendarat di Terminal 1, Bandara Changi. Sampai di sini pun nggak ada problem. Sumpah lancar!

Oya, ini adalah kali keenam saya masuk ke Singapura. Tidak ada dalam sejarahnya, lima kali ke Singapura, ada masalah dengan imigrasi. Banyak yang takut saat pertama kali masuk ke Singapura, dengan paspor masih perawan. "Nanti ditanya-tanya apa ya?" "Petugasnya galak nggak ya?"
Pertama kali saya memerawani paspor ya ke Singapura, tahun 2009. Kala itu petugasnya super nice !! Saya hanya ditanya apa keperluan saya ke Singapura? Saya jawab "Traveling", dan dia membalas dengan senyum "Welcome to Singapore"...lalu dengan cepat menyetempel paspor saya...dooookkkk !!!

Itu tahun 2009. Tahun-tahun berikutnya, empat kali ke sana, semuanya super lancar. Tidak ada yang namanya dicurigai dan lain sebagainya. Makanya, nggak salah dong kalau yang keenam kalinya ini saya cukup pede bahwa semua akan baik-baik saja....iya dong??? eh iya nggak sih?

Turun dari pesawat, saya menyusuri Terminal 1, untuk menuju ke bagian passport control. Malam itu cukup sepi, antrian di passport control juga nggak banyak. Saya? masih dengan perasaan seneng, mood yang bagus juga. Saya ambil satu line dari beberapa line yang ada. Biasanya nih...saya suka memilih-milih meja imigrasi mana yang akan saya tuju. Saya biasanya menghindari petugas imigrasi babe-babe tua atau ibu-ibu tua. Nggak tau, di benak saya tua itu bawel. Saya nggak mau berurusan lama-lama di meja itu. Selain itu, saya juga profiling dulu...mana petugas yang auranya menyenangkan, senyum, dan yang penting bekerja cepat nggak bawel. 

Itu bekal saya...dan saya memilih line ini....sebuah jalur yang akan menuju ke meja imigrasi dengan petugas seorang cewek agak muda serupa Aishwarya Rai, si bintang Bollywood. Sepertinya dia ramah. Oh iya, dia juga manis. Sebelum-sebelum saya juga dapet stempel cepat...pasti saya juga akan mengalami hal yang sama bukan?

Lalu tibalah giliran saya...maju deh.

Serahin paspor.

Dia tengak-tengok tuh paspor.

Lalu di-scan.

Lalu meraih telepon (atau memencet tombol...saya agak lupa).

Lalu diam. Serupa tengak-tengok ke arah lain. 

Saya diam. Menunggu.

Dan tidak berapa lama, seorang laki-laki berpakaian sipil menghampiri saya setelah sebelumnya mengambil alih paspor dari si Aishwarya itu. Dia lalu menggiring saya menjauh dari meja....lho??? Lho?? kenapa ? ada yang salah ????

Saya mencoba untuk tenang, meskipun dalam hati saya sudah teriak-teriak "Matiiih dah...matiiih!". Saya sudah tahu, something wrong ini. Saya ikuti langkah laki-laki itu. Dia mempersilakan saya berhenti di sebuah pintu warna kuning (atau oranye, entahlah. Orang gugup sering mendadak buta warna soalnya). Jadi kalau Anda akan masuk area passport control di Terminal 1, maka ruangan itu tepatnya berada di sebelah kiri meja-meja imigrasi. Ruangan kecil, mojok. 

Laki-laki itu kemudian mengetuk pintu, dan seorang petugas perempuan yang gemuk dan serupa emak-emak, berseragam imigrasi (biru dongker), keluar. Lalu berbicara dengan laki-laki itu sebelum kemudian menggiring saya masuk ke ruangan itu sambil berteriak meracau....Di jemarinya yang gemuk-gemuk tergenggam paspor saya.

"Indon lagiiii...Indon lagiiiii...." diikuti semacam sumpah serampah yang saya nggak ngerti.

Saya terdiam di ruangan itu. Sebuah ruang sempit berukuran sekitar 3 x 7 meter dan disekat tiga bagian. Sempit sekali, karena di sana ada sekitar 15 orang lainnya yang bernasib seperti saya...entah menunggu apa. Saya mulai nervous.....

Ya Tuhan, jangan kirim saya balik ke Indonesia...saya kan belum sampai Vietnam...

To be continued..... 

Thursday, October 22, 2015

Pengalaman Buruk dengan Agoda

Dear Journer,

Sebenernya ini kasus sudah beberapa bulan lalu. Tetapi saya tetap ingin sharing di sini, semoga saja bisa menjadi warning bagi yang lain. Ceritanya, beberapa bulan lalu saya lagi ada urusan di Jogja, dari pagi sampai malam. Karena males pulang ke Solo, saya akhirnya spontan berpikir untuk stay overnight di Jogja. 

Nah, karena nggak persiapan mau nginep di mana, saya pun ngulik beberapa situs hotel booking. Agak ribet sih, karena dadakan. Kalau harga cocok, hotelnya enggak. Atau harga cocok, hotel cocok, lokasi jauh. Setelah pertimbangan banyak aspek, saya akhirnya memilih booking kamar di Hotel Omahkoe, yang berada di Jl Dewanto No 99, Maguwoharjo, Jogja, tepatnya di dekat bandara. Harga yang ditawarkan waktu itu cukup murah, nggak sampai Rp 200.000. Setelah mantap, saya akhirnya booking melalui www.agoda.com.


Saya relatif jarang menggunakan agoda. Pernah sekali dua kali saja menggunakan situs ini. Sekarang ini lagi seneng-senengnya pakai HotelQuickly. Dulu saya suka pakai www.hostelbookers.com atau www,hostelworld,com, juga lumayan sering pakai www.booking.com karena bisa bayar ntar pas menginap.

Nah, dengan agoda kali ini, saya tidak mengalami kesulitan selama proses booking. Kelar booking, saya pun meluncur ke alamat hotel. Waktu itu sudah cukup malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Sampai di sana, saya langsung menuju ke resepsionis, yang ditemui oleh seorang laki-laki muda. Setelah mendengarkan keperluan saya, laki-laki itu terdiam beberapa saja.

"Jadi begini, Pak...Bapak bukan orang pertama yang datang malam ini membawa bukti telah booking kamar melalui agoda. Tetapi mohon maaf sekali, saya perlu sampaikan bahwa semua kamar sudah penuh," kata laki-laki muda itu dengan sopan.

"Apa?? Kok bisa ? ini saya ada bukti kok kalau transaksi sudah diproses pakai kartu kredit," jawab saya. Si resepsionis terdiam.

"Iya, Pak...seharian ini saya banyak dimarahi orang karena kasus seperti Bapak. Kami sudah mengkontak agoda untuk menutup booking bagi hotel kami. Tetapi mereka terus membuka penawaran," jawab si resepsionis.

"Lha terus nasib saya gimana, Mas? Ini saya ke sini juga ngojek. Ojeknya udah pergi tuh. Mau cari hotel lain susah. Padahal kartu kredit saya sudah terkonfirmasi bayar lho," ujar saya memelas.

Saya bertahan di depan meja resepsionis meskipun laki-laki itu sudah terlihat menyerah, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Saya tidak mungkin mencari hotel lain, karena lokasi ini berada di pinggiran, selain saya juga tidak punya transportasi.

Entah mungkin  karena kasihan atau apa, si resepsionis akhirnya membuka suara "Pak, ini kebetulan ada yang membatalkan kamar satu. Kalau Bapak bersedia, bisa dipakai," kata dia. Waaah, langsung deh saya iyakan. Sementara si resepsionis sedang menyelesaikan administrasi, saya menunggu di depannya. Tak berapa lama sebuah mobil masuk. Bapak-bapak muda dengan kopornya langsung merapat ke resepsionis.

"Masih ada kamar, Mas," kata si laki-laki itu kepada resepsionis. 
"Maaf, kamar penuh Pak," jawab si resepsionis.

Saya lega sekali. Kalau telat beberapa saat saja, pasti kamar pengganti untuk saya bakal disamber orang. Nah, setelah proses administrasi selesai, saya diizinkan masuk ke kamar "pengganti". Saya kaget, karena kamarnya tidak teratur, bantal sprei seperti dipasang seadanya. Ya sudah masih beruntung saya bisa tidur malam ini, bagaimana dengan yang lain?
Dari peristiwa itu, sekarang saya agak waswas untuk booking melalui agoda. Saya bayangkan kalau saya tidak mendapatkan kamar pengganti: kartu kredit sudah membayar kamar, tapi kamar tidak tersedia, lalu saya harus mengurus komplain ke call center agoda (Jakarta...itu kalau ada), pulsa habis buat telp yang belum tentu segera dapat solusi. Itu pun kalau bisa refund entah butuh waktu berapa lama....hiiiih....membayangkan saja ogah. Pasti ribet!

Alhasil, mau tidak mau saya harus menikmati kamar pengganti yang seadanya itu daripada ngurus refund. Well, shit happens sometimes.... :)

Salam,

Ariy

Sunday, October 4, 2015

Review : Midtown Xpress Hotel (Jogja)

Dear Journer

Menurut saya kekuatan Midtown Xpress Hotel yang (cuma) bintang dua ini adalah di design arsitektur dan interiornya, modern contemporary design, dengan kamar yang cozy. Saya waktu menginap di sini mendapatkan harga Rp 100.000 (tanpa breakfast) dari Hotel Quickly. Wow banget kan? Awalnya saya pikir malah bintang tiga lho, karena penampakan dari luarnya emang bagus.

                                                  foto: id.hotels.com
Berada di kawasan Demangan, dengan tebaran rumah makan, resto, distro, cafe, dan lain sebagainya. Selepas maghrib, suasana di tempat ini ramai.
Lokasi:
Berada di Jl Cendrawasih No 19, Demangan, Yogyakarta, hotel ini terletak 8 km dari Bandara Adisoetjipto, sekitar 1.5 km dari Ambarukmo Plaza (Amplaz), Saphire Square (0.7 km), dan lain sebagainya...tapi kalau ke Malioboro ya lumayan jauh sih, bisa naik TransJogja, tapi jalan dulu di depan Saphire Square...mayan gempor. Ke stasiun juga lumayan jauh. Cara satu-satunya ya naik taksi seperti diriku :).

Fasilitas:
Kamar berjendela tidak dimiliki semua hotel. Di sini, jendelanya tinggi, sinar matahari masuk sempurna. Setidaknya ini di kamar yang saya tempati. Yang lain? standar aja: TV Kabel, AC tentu saja, sandal hotel, coffee maker lengkap dengan pilihan kopi, teh dalam bentuk sachet.

Untuk toiletries pun standar, dengan kamar mandi bersekat kaca dengan shower (Alhamdulillah) lancar jaya. Secara umum, saya tidak memiliki celah untuk mengkritik fasilitasnya, karena emang untuk kelas bintang 2 dan dalam standar saya ya tidak ada masalah lagi.


                                                                                 foto: www.booking.com


                                                                            foto: www.tripadvisor.com

Saya suka hotel jaringan, karena mereka sepertinya memiliki standar yang jelas dalam aturan, fasilitas, pelayanan, dan lain-lain. Jadi kalau saya mau ke Midtown Xpress Jogja atau Midtown Xpress Surabaya misalnya, ya sama saja standarnya. Yang jadi perhatian saya lebih kepada lokasi...lokasi....lokasi. Bagi yang ke Jogja mau ke Keraton, Malioboro, atau spot wisata lain, ya harus punya kendaraan, atau bisa naik taksi. Tetapi kalau Anda tidak ada problem dengan kendaraan, Midtown Xpress Jogja bisa jadi pilihan, karena lokasinya masih di dalam kota.

Selamat mencoba,

Ariy

Sunday, September 27, 2015

Buku Baru : TNT Anthology 2 (Seri Horror)


Dear Journer,

Kabar gembira nih yang nunggu The Naked Traveler (TNT) Anthology-nya Trinity. Karena mulai akhir September ini sudah dibuka pre-order buku TNT Anthology 2, seri horor. Yohooo....dan lebih serunya, saya juga nyumbang tulisan di sono hihihihi....pokoknya cihuiiii banget :).

Sedikit ngulik tentang buku ini, sebenernya sudah dibahas saat masuk tahun 2015 kalau nggak salah. Saat itu saya ditawari sama penerbit Bentang Pustaka, mau nggak ikut berkontribusi di buku TNT Anthology 2 ? Langsung aja saya sambar "Mauuuukkkk..." selama temanya saya bisa memenuhi. Seneng banget ditawari lagi, setelah di TNT Anthology 1 saya juga ikut nyumbang tulisan.

Nah, untuk seri kali ini temanya horror. Awalnya saya bingung juga, selama saya traveling, yang bener-bener horror, dapet penampakan, ya belum pernah. Tetapi saya inget satu pengalaman saat di Semarang yang bikin merinding. Nah, cerita itulah yang saya sodorkan. Awalnya juga ragu, apakah tulisan itu bakal memenuhi syarat. Lalu ngobrol sama Trinity, dia menyemangati dan bilang konsep cerita saya bisa masuk. Ya sudah...kirim dah ke penerbit.

Proses pengerjaannya juga nggak mudah. Bolak-balik revisi. Saya bikin ceritanya panjaaaaaang...ternyata karena keterbatasan halaman, musti dipotong banyaaak banget. Bingung motongnya, karena kalau kebanyakan dipotong, efek seremnya hilang. Namun, setelah melalui perjuangan panjang, kelar juga tulisan saya, dan langsung di-urek-urek ACC !!

Di sini, selain the one and only Trinity, ada saya, Cipu, Indohoy, Jenny Jusuf, Yovita, Rini Raharjanti, Susan @Pergidulu, Rocky, dan @Vabyo. Tuh kan, beberapa nama terkenal nongkrong di sana. Beruntung banget kan saya hehehehe. Totalnya, ada 11 cerita mencekam dari 10 traveler. Kalau ngeliat preview final draft-nya...gory banget ! Gak yakin deh saya bisa baca buku ini malam-malam di malam Jumat Kliwon lagi hahahaha. So, buat kamu yang demen buku horror, segera siapin diri buat menyerbu di toko buku terdekat yak. Buruaaaan...karena biasanya kalau ada nama Trinity, cepet habis ! :)
Salam,

Ariy

Wednesday, September 23, 2015

Kena PHP Air Asia

Dear Journo,

Hari ini dapet SMS tanda cinta dari Air Asia. Isinya macam gini:

Dear Mr Ariyanto, your Airasia flight QZ 376 with booking No MHS1XN from Solo (SOC) to Singapore (SIN) on Tuesday, November 17, 2015 has been cancelled. Please check your email for more details. Thank you.
Sungguh menyejukan hati hahaha. Mampus dah! Tetapi sebelum marah-marah, saya cek dulu email. Ternyata opsinya adalah mencari tanggal lain tanpa kena additional charges, yang kedua adalah uang yang udah buat bayar masuk di credit shell, jadi deposit buat beli tiket lain, yang ketiga adalah refund.

                                                      foto: www.harismibrahim.wordpress.com


Ini problem saya:

1. Saya benci sekali SMS dan email pemberitahuan dari mereka yang TIDAK MENGGUNAKAN kata "MAAF". Membacanya saja saya sudah melihat arogansi maskapai itu. Iya emang ada kata thank you for your understanding. Tetapi intinya tetap, kita sebagai penumpang musti ngertiin mereka, bahkan saat mereka membuat kesalahan dan tidak meminta maaf. (Ya Allah, saya galak bener ya?) hihihi.

2. Apa semacam ini ya nasib yang dapet tiket promo? selama bertahun-tahun hubungan saya dengan Airasia (saya sudah naik maskapai ini mungkin puluhan kali), sudah tiga kali kena pembatalan penerbangan AirAsia. Pertama, saat mau ke Chiang Mai, rute Solo - Kuala Lumpur dibatalin padahal ada penerbangan lanjutan ke Chiang Mai keesokan harinya. Otomatis akan hangus. Tetapi saya dapat ganti tiket penerbangan berikutnya tanpa bayar sama sekali. Kasus pertama ini bisa langsung ditangani karena pembatalan terjadi last minute saat saya sudah di bandara sehingga langsung bisa gebrak meja. Kedua, penerbangan Jogja-Jakarta batal karena Gunung Merapi meletus. Dan saya maklum dengan alasan ini. Saya juga dapat pesawat pengganti. Ketiga, ya kasus sekarang ini...Solo-Singapore, penerbangan saya dua bulan yang akan datang, dibatalkan. Dua bulan lho ya...tanpa disebutkan alasan. Kalau memang persoalan teknis, mosok dua bulan nggak bisa diantisipasi ??? curiga saya sih, nggak memenuhi kuota, dan dipastikan merugi (apalagi dollar tembus Rp 14.700) terus avtur mahal, akhirnya dibatalin nggak peduli calon penumpang teriak apa. Menurut saya sih, ini model siap promo tapi nggak siap rugi. 

3. Sekarang saya kebingungan. Pertama, dulu saya ambil tiket Solo-Singapore ini jujur karena ada promo. Makanya langsung booking aja, dan besok paginya saya juga sudah beli tiket Tiger Air rute Singapore - Ho Chi Minh City. Artinya, kalau saya batal berangkat tanggal 17 November itu, maka tiket saya Tiger Air juga akan hangus. Total jenderal, sejuta lebih bakal menguap. Bagi saya yang traveler dhuafa begini, duit segitu mah gede atuh. Kalau memang nggak serius promo, jangan PHP dong. Tau gini, saya kan bisa ke HCMC via Kuala Lumpur aja, atau direct dari Jakarta yang mungkin ada yang murah. Sekarang kan saya nggak ada pilihan.

4. Hari ini saya sudah layangkan e-form untuk refund ke Airasia. Dapat dipastikan saya harus keluar extra money untuk cari tiket pengganti. Dan sudah tidak mungkin mengambil rute Solo-Singapore karena yang dibatalin itu adalah satu-satunya penerbangan di tanggal 17 November. Saya sudah ngulik mencoba geser ke kota yang deket dengan Solo, Yogyakarta - Singapore, damn...sudah sejuta aja. Jakarta-Singapore banyak, murah meriah Rp 300.000-an, tapi saya juga harus naik kereta dulu ke Jakarta supaya tetep murah. Dan itu akan sangat melelahkan, selain juga saya harus mengambil tiket kereta satu hari sebelum keberangkatan (pasti keluar uang lagi buat makan di Jakarta, transportasi ini itu ke bandara, nginep, bla bla bla.). Kenapa nggak ambil kereta di tanggal 17 November terus langsung terbang ke Singapore ? karena jadwal kereta tanggal 17 tidak cocok dengan jadwal pesawat. Dapat dipastikan saya bakal ketinggalan pesawat kalo ambil tiket kereta tanggal 17. Duh.

See, ribet kan hidup saya?

Lanjutin nomer 4, kemungkinan saya akan melipir ke Kuala Lumpur dulu. Ini untuk mendapatkan harga yang murah. Kemungkinan Solo/Jogja - Kuala Lumpur, terus malemnya bertolak ke Singapore. Awalnya saya merencanakan bertolak ke Singapore pakai kereta dari Kuala Lumpur. Tapi saya cek online, tidak tersedia tiket kereta di tanggal 17 itu. Jadi sepertinya pesawat lebih aman, selain KL-Singapore banyak tiket murah. Selisih dengan direct flight AirAsia Jogja - Singapore sejauh ini masih Rp 200.000-an. Gak tau kalau ntar berubah lagi. 

Intinya, dari persoalan pembatalan ini, memang sangat merepotkan saya. Dan yang kayak gini management AirAsia mana mau peduli kan? Ya kalau saya duit banyak mah, tinggal maen bayar aja, kayak orang susah aja lu Ri hihihi...tapi kenyataannya ya emang saya traveler dhuafa. Bikin promo mah emang mainannya Airasia, tetapi dulu memang mereka perkasa, saat dollar belum setinggi ini, dan mungkin aspek lain soal ekonomi yang saya nggak ngerti. Tetapi sekarang? Yakin mau bikin promo free seat terus ? atau tiket Rp 100.000-an semua rute ? Yakin dengan kondisi ekonomi sekarang ini? Dari kasus seperti ini, saya belajar satu hal, jangan (lagi) tergiur tiket promo, karena bisa jadi mau untung malah buntung !

salam,

Ariy