Monday, February 4, 2013

Tentang "Nomadic Heart"


"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
( Pramoedya Ananta Toer)
 

Saya suka sekali quote dari Pram itu. Sederetan kata yang membuat saya tidak berhenti menulis. Indah sekali. Saya menulis apa saja, sejak saya mengenal aksara. Sejak SD lebih tepatnya. Kata guru SD saya, imajinasi saya terlalu liar untuk anak seusia saya waktu itu. Oke, berhenti pamernya, akan ada pameran berikutnya saat Anda membaca habis tulisan ini :).
Iya, saya sedang di tengah euforia, dan saya bersyukur mengalaminya setiap tahun sejak 2010. Euforia melahirkan buku baru. Ini adalah buku kedelapan saya, dan saya sungguh amat menantikannya mengingat saya menulisnya sendiri dan nyaris gaya tulisannya adalah yang paling mendekati konsep buku yang saya idam-idamkan selama ini. Ini dia:



Bercerita tentang "Nomadic Heart" seperti memutar ulang pita rekaman keriangan-keriangan saya bersama teman-teman traveler dari berbagai penjuru dunia. Yeap, ini adalah kumpulan cerita perjalanan yang saya tulis, kumpulkan satu demi satu dari tahun 2009. Sejak beberapa tahun lalu saya membayangkan buku ini akan terwujud. Dan di 2013 buku ini akhirnya terwujud juga.

Awalnya saya memang hanya membayangkan akan memiliki buku ini, sambil terus saja mengumpulkan tulisan. Lalu pada tahun 2012, saya mulai merasa kumpulan tulisan saya ini sudah cukup memenuhi syarat dicetak menjadi sebuah buku. Pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang akan (mau) menerbitkan? Sejujurnya, sampai sekarang saya belum ingin melakukan self-publishing atau mencetak sendiri (selain nggak punya modal tentu saja).

Saya sudah punya tujuh buku dan sejujurnya, saya masih sangat tidak pede untuk menawarkan kumpulan cerita perjalanan ini. Tetapi kemudian beberapa teman menyemangati. Saya kirimkan masing-masing satu copy ke dua penerbit terkenal. Satu copy saya titipkan ke temen yang seorang penulis langsung ke editornya, satu lagi saya kirim via pos ke penerbit lain melalui prosedur normal. Lama sekali tak ada kabar, meski standar waiting list 3 bulan sudah terlampaui.

Suatu hari, entah kenapa saya iseng ingin membuka email lama saya yang memang sudah tidak saya gunakan lagi untuk aktivitas surat menyurat. Tak saya duga, ada email dari seorang editor senior di salah satu penerbit besar yang menanyakan kemungkinan saya punya naskah. Saya lalu teringat dengan naskah "Nomadic Heart" yang belum ada kabar. 

"Boleh nggak saya diemail naskah itu? buat baca-baca sih, jadi nanti kalau sudah diterbitkan penerbit lain, saya nggak perlu beli bukunya," Mas-nya editor senior itu bertanya dengan setengah bercanda. Saya agak nggak pede sebenarnya memberinya kesempatan membaca buku saya. Tetapi, lagi-lagi, ini pelajaran buat penulis baru juga bahwa rasa malu sering menghambat orang untuk maju. Maka, saya abaikan rasa tidak pede saya, saya kirim email naskah "Nomadic Heart" ke mas editor senior ini.

Dua bulan berlalu...saya anggap komunikasi dengan mas editor senior itu hanya selingan. Sementara dua penerbit besar lain belum juga memberi kabar. Sampai kemudian saya terima email lagi dari seorang editor lain...

"Saya tertarik untuk menerbitkan naskah yang diberikan ke 'mas editor senior' itu...bagaimana?"

You know what, bener kata orang, menunggu adalah pekerjaan menjemukan. Dan saya tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Saya pikir, saya tidak bisa membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Saya terima tawaran itu. Saya mempertimbangkan bahwa penerbit ini adalah penerbit besar juga dan buku-buku saya sebagian besar diterbitkan oleh penerbit ini. Jadi saya tidak punya alasan untuk menolak. 

Prosesnya cukup cepat dan akhirnya terbitlah "Nomadic Heart", buku yang saya impi-impikan. Teman saya bertanya "Kok saya merasa kamu sangat sayang terhadap buku 'Nomadic Heart' ini dibanding buku-bukumu yang lain?" Sejujurnya iya. Entahlah, rasanya seperti saat pertama kali saya menerbitkan buku.

Saya sudah menerbitkan lima guide book dan dua travelogue (catatan perjalanan). Secara proses penulisan, saya menikmati membuat tulisan travelogue. Saya menikmati setiap ritmenya, naik turunnya perasaan saya mengingat kembali apa yang telah saya alami. Ini serupa menulis cerpen atau novel (yess...saya punya dua draf novel yang masih saya simpan karena malu dibaca orang). 

"Nomadic Heart" pada hakikatnya cerita tentang hati yang berkelana. Traveling ibarat sebuah perjalanan spiritualitas para pelakunya. Sebuah ziarah panjang traveler dunia. Sepanjang pengalaman saya berinteraksi dengan para traveler dari berbagai belahan dunia, saya menyerap banyak hal, banyak hati yang kosong, sepi, patah, sukaria, keresahan,dan lain sebagainya. Saya tidak hanya menyerap semua hal itu saat traveling bersama mereka, tapi banyak dari mereka yang tinggal langsung di rumah saya selama beberapa hari atau saya tinggal di tempat mereka, dari berbagai bangsa: Belanda, Thailand, Swiss, Mesir, China, Belgia, Amerika Serikat, Libya, Italia, Inggris, Israel, Serbia, Jerman. Cerita-cerita inilah yang kemudian menyusun struktur buku "Nomadic Heart".

Ada 16 cerita yang terangkum di buku ini, yaitu : 
  •  Aku, Monika, dan Kevin Rawley
  •  Menunggu Khum
  •  Keluarga Wongrattanakamon
  •  Sekulkas Cokelat dari Swiss
  •  The Saint #1
  •  The Saint #2: Kotak Masa Lalu
  •  Pietro Pietro
  •  Kulitmu, Deritamu
  •  Matthew Morales
  •  Tentang Duco
  •  Serendipity
  •  Mississippi Burning
  •  Duo “Gembel”
  •  Si Topan Badai Serbia
  •  Doa untuk Bapak
  •  Life is About Choices
Dari cerita-cerita tersebut, banyak ilmu dunia yang saya dapatkan. Setiap hati pengelana ini seakan messenger atas banyak ilmu yang insya Allah membuat saya semakin mau membuka pikiran, belajar perbedaan, semakin "kaya" hati, dan semoga semakin bijak. Karena saya pribadi memperoleh kemanfaatannya, maka saya berharap dengan menuliskannya, pembaca juga memperoleh kemanfaatan.
Akhirnya, ini salah satu yang terbaik yang ingin saya persembahkan kepada pembaca. Saya percaya, ini bukan buku untuk semua orang dan saya tidak sedang dalam rangka menyenangkan semua orang. Saya yakin akan ada yang tidak suka, tetapi saya berharap lebih banyak yang suka :).

Dari lubuk hati terdalam, selamat menikmati karya saya,

Ariy

7 comments:

DIAN Rustya said...

Waaahhh, selamat ya untuk kelahiran anak ke-8 ^_^ Semoga segera disusul kelahiran adik-adiknya yaa *kasih bingkisan*

Judul-judul cerita di Nomadic Heart-nya MenarikDibacaAble ya? yang "Life is About Choices" itu tentang apa? boleh dong dikasih bocoran dikit ;)

Sembari menikmati euforia kelahiran anak ke-8, boleh bertanya sesuatu?
Jadi, kapan novel/cerpennya terbit? *mulai tertarik*

Ariy said...

Makasiiih. Haduh, kenapa tertarik dengan subjudul terakhir? hahahaha....itu chapter penutup saja kok. Semacam closing statement atas sikap2 saya.

Cerpen udah beberapa kali di koran dan majalah. Novel? hmmm...masih mengumpulkan keberanian untuk menyelesaikan dan mengirimkannya.

Makasih dan berkunjung yak :)

merry go round said...

Congrats ya maaass :D

Karena selama ini selalu baca cara mas Ariy bercerita lewat travel guide, pas baca tulisannya di Travelove berasa surprise banget. Beda dan berasa ditulis dari hati. Aku yakin buku ini bisa menyentuh lebih banyak hati orang banyak lewat cerita perjalanan yang dituliskan.

Terus berkarya ya mas :)

Sven said...

Love it!!!!
All the best from Switzerland.

Sampai jumpa,

Sven

Ariy said...

@Merry go round : makasiiih Ocha. Gak sabar nunggu nulis bareng sama kamu :)

@Sven: dudeeee.....hahaha thanks. One chapter is about you :).

Anonymous said...

buku yang menyenangkan :) thank you for let me know about your stories. What a wonderful life
berharap suatu saat nanti bisa mengikuti kata hati seperti anda

Ariy said...

@anonymous makasiiihhhh :)