Friday, September 14, 2012

Mobile Internet, Obat Mati Gaya Saat Traveling


            Entah bego, entah bodoh, teman saya yang satu ini bercerita tentang pengalamannya jalan-jalan di satu kota. Dia dibuat malu berat oleh kebodohannya karena tidak mengenal medan yang akan dijelajahinya. “Jadi aku sampai di tujuan pakai kereta kan, cuma berbekal panduan SMS dari orang kantor. Ya udah, kayak kebo dicucuk hidungnya gitu. Intinya, orang kantor bilang, setelah sampai di tujuan aku musti ke hotel yang udah di-bookingin. Nyantai deh akunya,” ujar dia semangat.
            Saya cuma cengar-cengir menunggu kejutan dari ceritanya. Setelah menghela napas, teman saya ini melanjutkan, “Karena semua biaya ditanggung kantor, aku semakin nyantai, maunya traveling cantik-lah. Ada taksi di depan stasiun tuh, dengan gaya sok yakin, aku langsung stop dan masuk ke dalam tanpa ba-bi-bu,” lanjutnya lagi.

            “Gak nanya itu pakai argo atau nggak?” sambarku. Dia menggeleng, “Ngapain juga, toh berapapun nanti juga diganti kantor. Pikirku gitu, sok yakin.”Giliran saya yang diam, masih menunggu dikejutkan. Lalu dia melanjutkan cerita, wajahnya juga mulai cengar-cengir. “Ke hotel dong aku. Pas aku bilang ke sopirnya, tuh sopir mengangguk saja…ya udah kan…jalan deh tuh taksi.”

            Udah gitu? Batinku. “Belum kelar, taksi berjalan nih…aku udah mulai nyari posisi wueenak di dalam. Mana punggung pegalnya minta ampun. Panas juga kan di luar, jadi berasa surga saja di dalam taksi. Tapi eh tapi…belum juga nyantai, eh tuh taksi tiba-tiba berhenti…seetttt,” cerocosnya.

            “Sudah sampai Pak. Kata si sopir. Kaget dong aku. Lho? kan aku baru masuk, taksi baru jalan, kok udah sampai saja? Si sopir cengar-cengir. Lalu nunjuk ke arah bangunan tempat kami berhenti di depannya. Astaganaga!! Aseeem!! Aku udah sampai di hotel itu, padahal jaraknya gak lebih dari 300 meter dari stasiun!”

Huahahahaha…kami berdua ngakak panjang. Teman saya ini pun harus rela menyerahkan Rp 15.000-nya untuk taksi yang dia tumpangi tidak lebih dari 3 menit saja. Nominal itu adalah tarif minimal taksi bila argo menunjukkan angka kurang dari Rp 15.000. Teman saya ini merutuk, kenapa dia tidak mencari informasi terlebih dahulu tentang hotel ini. Alamat di mana, seberapa jauh dari stasiun, kira-kira paling enak naik apa ke sana.

            Saya jadi inget, beberapa teman saya bertanya, “Kamu kan nulis guide book. Apakah kamu traveling juga menggunakan guide book?” Pertanyaan bagus menurut saya. Jadi apakah seorang travel writer yang menulis buku-buku panduan perjalanan juga menggunakan buku serupa saat dia jalan-jalan? Saya sempat menanyakan hal ini kepada beberapa teman sesama travel writer. Jawabannya beragam, ada yang pakai, ada yang enggak, ada juga yang kadang pakai kadang enggak. Saya? Hmmm…bukannya sok ya, tapi saya tidak pernah pakai. Pun saat saya melakukan perjalanan pertama kali ke luar negeri pada tahun 2009 dengan tujuan empat negara sekaligus, yaitu Singapura – Malaysia – Thailand – Myanmar.

            Saya tidak butuh panduan? Saya sangat butuh. Tetapi memang saya tidak mencarinya melalui buku panduan. Saya bukan nyinyir terhadap buku panduan ya, karena bahkan 5 dari 7 buku saya adalah buku panduan. Buku-buku semacam ini pasti berguna bagi orang. Tetapi, memang saya menggunakan sumber lain yang informasinya bisa saya dapatkan secara independen. Sebelum traveling, saat membuat itinerary, biasanya itulah saat di mana saya mempelajari medan, melakukan riset melalui internet.Google is my guide book.

Meng-update berita baru soal pariwisata
            Itu benar. Semua saya dapatkan melalui google, melalui proses komparasi antara satu info dengan info lainnya, lalu memilih mana yang paling valid. Saya mempersiapkan pointer-pointer hasil riset internet untuk saya bawa jalan. Itu yang biasanya membantu saya. Silakan cari apa saja pasti ada, bagaimana cara ke sini, bagaimana cara ke sana, nomer telepon taksi, cek harga tiket pesawat, cari hotel murah, memetakan jarak, dan lain sebagainya. Jadi, kebegoan yang dialami teman saya, niscaya bisa dihindari.
        
       Itu dulu ya…sekarang mah, saya jalan ya jalan saja. Kadang tidak pakai riset detail melalui internet sebelum jalan dan tidak membuat itinerary rumit. Bahkan misalnya cari hotel, saya sudah mulai jarang melakukan booking in advance via internet. Sekarang lebih berani melakukan go show, hajar saja apapun yang terjadi di perjalanan. Cuma…ada cumanya nih…asal jalan itu boleh saja, tetapi harus smart ya. Saya yang selalu menerapkan traveling on budget alias traveling duit cekak, harus mengantisipasi supaya tidak tersesat. Karena tersesat bisa berarti keluar duit lebih…BIG NO! Itu yang terjadi dengan teman saya pada cerita di atas. Kalau dia mau sedikit check dan re-check, nggak bakal tuh melayang Rp 15.000-nya. Kalau memang tidak persiapan dari rumah, kan bisa tuh cek di “Mbah Google” pakai mobile internet. Ini lho, hotel dan stasiun berada di jalan yang sama kok ya tidak tahu huehehehe.
            Bagi saya, internet tidak bisa lepas dari kegiatan traveling saya. Tetapi jujur saja nih, saya menggunakan mobile internet hanya ketika traveling di dalam negeri, karena saya masih mikir gimana caranya SIM Card saya bisa digunakan internetan di luar negeri. Gaptek gak sih.  Kalau di luar negeri, saya harus menjadi “fakir wifi”, tergopoh-gopoh ke sana ke mari mencari hotspot area. Pernah saya kelabakkan saat akan check in di sebuah hostel di Singapura yang ternyata tidak memiliki resepsionis. Maksudnya? Jadi hostel ini menggunakan proses reservasi online, lalu check in juga dilakukan secara online. Semua kebutuhan kita dikomunikasikan via email. Sebenarnya saya sudah mengetahui itu, tetapi hingga saya terbang ke Singapura, email jawaban tentang nomor kamar saya berapa belum juga saya terima. Akhirnya, begitu saya tiba di sana, ribet deh mencari internet…jangan bayangkan seperti di Indonesia di mana Warnet ada di mana-mana. Untung di Changi Airport tersedia beberapa PC dengan jaringan internet gratis. Cek email-lah saya begitu tiba, dan benar saja pengelola hostel sudah membalas email saya, memberikan instruksi bagaimana cara saya membuka brankas kecil yang ada di bagian depan hostel, yang isinya kunci kamar yang sudah saya pesan. Nah lho, bagaimana kalau saya tidak bisa mengakses email saya? Untung ada internet di Changi.
            Intinya internet itu anugerah luar biasa bagi para traveler, khususnya untuk berinternet mobile. Saya sudah mencoba beberapa provider untuk aktivitas mobile internet saya. Sekarang nih, lagi nyobain  Three, yang iklannya “AlwaysOn” nendang banget itu. Awalnya sih, teman saya di Bandung yang cerita, kalau dia internetan pakai Three. “Meskipun kuota sudah habis, aku masih bisa pakai buat internetan, untuk 10 situs gratis.  Lumayan masih bisa FB-an, YM-an,” kata dia. Teman saya ini memang racun, yang membuat saya akhirnya mencoba Three. Yeap…it works.
            Situs-situs yang sering banget saya gunakan saat traveling adalah Google untuk sarana saya mencari informasi supaya nggak kena sial macam teman saya huehehe, Facebook yang biasanya saya gunakan untuk bikin iri teman-teman dengan memasang status sedang mbolang kemana di mana (biasanya sih sukses menuai komen banyak hihi), Ebuddy Messenger untuk aktivitas chat saya di YM, sisanya saya cuma browsing-browsing  berita terbaru supaya saya lebih update meskipun sedang jalan. Kebutuhan saya ini terpenuhi akan berita terpenuhi dengan kehadiran Detik, Kompas, Vivanews, atau juga Okezone. Kadang iseng juga mengecek dagangan di lapak Toko Bagus, yang juga disematkan di paket mobile internet “ThreeAlwaysOn.”
FB-an mengusir bete.
            Demi semua itu, saya pun pakai Three. Bagi saya, keuntungan lainnya adalah, paket “ThreeAlwaysOn” memberi fleksibilitas karena memiliki masa berlaku hingga 12 bulan, full speed, dengan hanya Rp 50.000, cocok dengan gaya traveling on budget saya. Paket ini memungkinkan saya bebas berinternet tanpa terkendala pemakaian batasan masa berlaku maupun volume kuota. “Bebas itu nyata…” hueehehe.
       Jadi yang memang selama ini belum beraktivitas pakai mobile internet, sepertinya harus mulai memikirkan. Banyak aspek dalam traveling yang bergerak di dunia maya sebagai langkah efisiensi atau memberikan kemudahan. Yang saya dengar nih dari teman-teman di luar negeri, sistem pengelolaan hostel tanpa resepsionis misalnya, itu mulai jamak lho di luar negeri. Biasanya juga nih, Indonesia bakal mengadopsi sistem ini, demi alasan irit tenaga kerja. Nah, kalau sampai kejadian, saya yakin mobile internet akan menjadi alat ampuh bagi traveler untuk mempermudah aktivitas travelingnya. Selain itu, penggunaan mobile internet juga ampuh membunuh rasa sepi…hadeuh. Penting banget buat yang sering solo traveling macam saya. Buat yang suka ngeteng kemana-mana sendirian, saya kasih tahu satu rahasia ya…15 jam berjubel di dalam gerbong KA Ekonomi Gaya Baru Malam Selatan rute Jakarta – Surabaya itu menyiksa banget kalau tanpa ada FB. Percaya saya deh :).

Tuesday, September 11, 2012

"Ini Jebakan Terkejam di India"

photo: www.forbes.com
Itulah yang dilontarkan teman saya, Matthew Morales kepada saya suatu kali di Solo. Perkenalkan dulu, Matthew adalah teman saya dari Hasbrouck Heights, New Jersey, US. Selain ke India, perjalanan pertama dia ke Asia juga mampir ke Solo, kota saya.
Suatu saat dia bercerita tentang kesialannya di India. Sudah banyak cerita seram soal tipu-tipu (scam) di India. Tetapi sama dengan para traveler lainnya, yang dia lakukan bukanlah takut ke India, tetapi menjadikan cerita-cerita itu sebagai warning untuk lebih berhati-hati. Maka terbanglah laki-laki berambut ikal ini ke India.
Dalam beberapa kali kejadian, cukup mudah baginya untuk mengidentifikasi siapa-siapa yang mencoba mengambil keuntungan dari dia. Mulai dari porter, hingga cecunguk-cecunguk yang mencoba menawarkan macam-macam demi memindahkan uang dari kantong Matthew ke kantong mereka. Tetapi itu tidak berhasil.

"Sampai saya bertemu orang ini. Seorang pemuda yang mengajak saya ngobrol. Dia sepertinya orang baik. Dia selalu memberitahu, ketika ada orang yang mencurigakan dan ingin mencari keuntungan dari saya," ujar Matthew.

Setelah beberapa saat, pemuda satu ini menawarinya untuk bergabung makan malam di rumahnya. Matthew tertarik sekali dengan ajakan itu. "Saya ingin sekali merasakan kehidupan keluarga India. Pasti akan menyenangkan langsung berada di tengah keluarga India, suasananya, apa yang mereka makan, bagaimana mereka makan, dan lain sebagainya. Bagi saya, tawaran itu sangat menggoda," kata Matthew.

Lalu, Matthew pun mengiyakan ajakan pemuda itu. Keduanya menuju ke rumah pemuda itu. Matthew disambut keluarga pemuda itu kemudian dijamu dengan aneka masakan India. Semua kelihatan sempurna bagi Matthew, hingga....

"Makan malam selesai, lalu semua berubah menjadi bencana. Setidaknya bagi saya," kata Matthew.

Pemuda itu meminta Matthew membayar semua makanan yang telah disajikan. Dan itu bukan harga yang murah. Matthew kaget dibuatnya. Bukannya ini adalah undangan makan malam? Lagipula tidak ada kesepakatan awal bahwa dia harus membayar semua jamuan makan malam ini? Sesaat kemudian baru Matthew menyadari, bahwa dia berada di dalam jerat yang dipasang si pemuda itu. Dia berhasil lepas dari scammers kecil, tapi masih juga masuk ke perangkap scammer lainnya. "Kami bertengkar, karena saya tidak mau membayar. Pemuda itu tetap berkeras saya harus bayar makanan itu semua," ujar Matthew dengan bersungut-sungut. Karena tidak mau ribut dan ribet, dan justru membuat mood-nya traveling ke India semakin rusak, dibayarlah makanan itu.

 "Tetapi sebelum pergi aku bilang ke pemuda itu. Kutunjuk mukanya, dia adalah penjahat yang paling buruk dari yang buruk. Karena dia berpura-pura baik untuk melakukan kejahatannya. Dia ramah, sopan, tapi busuk. Saya bilang kepadanya, You are the worst !!"

Sunday, September 9, 2012

Merancang Budget Ke Singapura (Tips Sederhana)

Hey Journer,

Kali ini saya ingin berbagi tentang Singapura. Menuliskan tema ini semata-semata untuk memudahkan saya menjawab banyaknya email yang bertanya dan minta dibuatkan rancangan budget rencana perjalanan (Itinerary) sederhana ke Singapura, sehingga saya tidak perlu berulang-ulang menuliskan jawaban.
Baik, saya akan memberikan sedikit gambaran kenapa Singapura harus menjadi tujuan untuk Anda yang baru belajar backpacking ? Bukankah Singapura negara mahal? Ini alasan-alasan yang mungkin bisa Anda pertimbangkan:

1. Bila Anda belum pernah ke luar negeri, dan ingin memperawani paspor Anda, Singapura adalah pilihan tepat. Sudah empat kali saya ke negeri Singa itu, dan belum pernah sekalipun dipersulit imigrasi, bahkan saat pertama kali ke sana. Petugas cukup ramah, ada yang bertanya keperluan ke Singapura untuk apa, ada juga yang tidak. Cukup menjawab "berlibur" mereka akan mengerti, dan tersenyum.  Ini pengalaman saya, saya tidak mau menyamaratakan, karena siapa tahu ada yang kurang beruntung dengan petugas imigrasi. Tapi empat kali sepertinya cukup membuktikan mereka sangat menghargai wisatawan dari Indonesia.

2. Begitu Anda keluar dari pemeriksaan imigrasi, Anda akan disambut puluhan brosur/buku panduan, dalam aneka versi. Silakan ambil semau Anda, gratis...tiss...untuk membuat perjalanan kita nyaman.

3. Transportasi yang terintegrasi dengan rapi yaitu MRT (kereta bawah tanah) serta bus, membuat kita mudah untuk menuju kemana saja. Ini salah satu alasan penting bagi Anda. Selain itu, Anda langsung bisa mencoba rasanya menggunakan alat transportasi modern. Bagi saya, saat pertama kali ke Singapura, perjalanan dengan MRT merupakan hiburan tersendiri (kecuali saat jam sibuk).

4. Banyak hostel backpackers. Meskipun ini adalah kota besar, mereka sangat memperhatikan kebutuhan para pelancong yang memiliki budget rendah. Maka banyak berdiri hostel-hostel murah.

5. Makan, selain bertebaran resto mahal, kebutuhan backpackers juga terpenuhi dengan adanya food court untuk mereka yang berbudget rendah.
 
6. Cukup dekat, sehingga bagi Anda yang tidak punya waktu banyak bisa mudah mencari hari, misalnya cukup saat weekend atau long weekend. Tidak harus sampai menunggu libur panjang.

Setidaknya itu 6 alasan awal bagi kita untuk belajar backpacking ke luar negeri dan menentukan Singapura menjadi pilihan. Percaya saya, setelah selesai traveling ke luar negeri pertama kali, Anda akan lebih mudah traveling ke negara lain untuk kesempatan berikutnya. Hanya menambahkan penyesuaian-penyesuaian di negara yang menjadi tujuan.

Berikut gambaran sederhana perencanaan budget perjalanan:

1. Lama perjalanan: Bagi saya, yang paling ideal sih 4 hari 3 malam (4D/3N). Tapi kalau Anda tidak punya waktu sebanyak itu, bisa mengestimasikan waktu 3 hari 2 malam (3D/2N), misalnya nih berangkat Jumat sore/malam dan pulang Minggu sore/malam. Kalau punya waktu lebih, seminggu bisa aja, bener-bener yang nyantai sampai apal semua jalur MRT :). Tapi bagi saya, lebih dari 4 hari, Singapura bakal membosankan. Apalagi bila kita bener-bener on budget.

2. Budget: Ini hanya sekadar gambaran ya...seperti misalnya tiket pesawat sangat fluktuatif dan tergantung kapan dari mana kita terbang. Untuk pesawat dari Jakarta sebagai asumsi termudah, rata-rata Rp 250.000 one way bisa cek www.mandalaair.com atau www.airasia.com. Harga ini untuk promo reguler, yang bukan promo khusus, kalo pas ada promo khusus misalnya pembukaan rute baru, bisa jatuh lagi harganya. Rekor termurah yang saya dapatkan adalah Rp 99.000 Jakarta-Singapura (waktu itu pakai Mandala Air sebelum maskapai ini bergabung dengan managemen Tiger Airways), pulangnya naik Tiger Singapura - Jakarta Rp 200.000. Kalau saya buat range harga, paling mahal Anda keluar Rp 1,2 juta untuk tiket pulang pergi. Kalau lebih dari itu, mending cancel aja perjalanan dan tunggu sampai harga tiket lebih murah. Jangan lupa airport tax Rp 150.000. Konon airport tax segera dijadikan satu dengan tiket, jadi tidak perlu membayar terpisah.

3. Biaya hostel/penginapan: kalau untuk kamar dorm (baca tulisan saya soal kamar dorm), range-nya antara 15 SGD - 30 SGD. Saya pernah dapat 15 SGD, tetapi lokasinya agak pinggir. Konsekuensinya, akan keluar extra budget untuk tiket MRT. Saya mengakalinya dengan sekali keluar hostel, tidak akan bolak balik. Jadi kalau sudah pulang ke hostel pas malam dan tinggal tidur. Paling banyak harga kamar sekitar 25 SGD per malam. Oya, di hostel dihitung per kepala, bukan per kamar. Jadi kalau Anda berdua, dan pesan private room ya bayar per orang. Beda dengan hotel, yang satu kamar bisa buat berempat (yang dua diselundupkan) dan hanya bayar satu.

4. Tiket transportasi city tour. Beli saja kartu Singapore Tourist Pass (STP). Ini untuk Anda yang menjadwalkan jalan-jalan dalam waktu singkat saja, antara satu hingga tiga hari. Anda bisa menggunakan tiket ini untuk naik MRT dan Bus. Tinggal nge-tap saja di mesin.Anda bisa membeli di stasiun-stasiun MRT tertentu (tidak semua ada). Cari yang ada tulisan ticket office. Paling mudah adalah di Changi, saat Anda turun dari Changi Airport menuju ke stasiun MRT-nya, nah di pojokan ada ticket office. Kalau bingung tinggal nanya petugas. Harga 1 Day Pass 10 SGD, 2 Day Pass 16 SGD, dan 3 Day Pass adalah 20 SGD (re-check siapa tau naik ya). Jangan lupa, Anda nanti harus menambah pembayaran kartu 10 SGD untuk deposit. Tenang saja, ini refundable kok, artinya saat Anda akan pulang dan tidak akan menggunakan kartu lagi, Anda bisa mengembalikan kartu di counter pembelian untuk mendapatkan kembali deposit 10 SGD Anda. Bagaimana kalau 4 hari? Ya beli aja tiket sekali jalan via mesin penjualan tiket yang ada di semua stasiun MRT.
Kalau saya kebetulan pakai kartu EZ-Link. Fungsinya sama, bisa digunakan untuk MRT, bus, etc. Harganya 12 SGD yang berisi saldo 7 SGD dan harga kartu 5 SGD. Kita bisa menggunakan selama 5 tahun dan untuk menggunakannya, bila memang saldo kurang tinggal isi ulang di mesin-mesin penjualan tiket di stasiun MRT. Kalau saldo Anda kurang dari 3 SGD tidak bisa digunakan. Untuk itu Anda bisa isi ulang. Kartu ini bisa dibeli di ticket office stasiun serta misalnya di 7Eleven.
Dari gambaran empat poin di atas mulai bisa kita perkirakan berapa kebutuhan kita. Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan lokasi wisatanya? apakah berbayar atau tidak? beli oleh-oleh? Mari kita bahas:
  • Hindari tujuan wisata atau naik wahana berbayar. Masih banyak atraksi gratis atau tempat-tempat bagus dan buat foto (penting :P ) yang gratis: Saya sempat mengunjungi bianglala terbesar, yaitu Singapore Flyer, sayang tiketnya mahal 29.50 SGD. Akhirnya saya cuma berfoto di dekat tabung-tabung yang akan mengangkut wisatawan saat bianglala itu berputar :). Saya juga mengunjungi kawasan Universal Studio, tapi saya ogah untuk masuk dan menyerahkan 66 SGD. Yang saya lakukan hanya mengunjungi dan berfoto di area Universal Studio, dan itu sudah cukup indah dan seru. Nah beberapa contoh yang free : Patung Merlion (pasti dong), Singapura Botanical Garden (indah banget), jalan-jalan ke Pantai Siloso dan sekitarnya yang bisa dijelajahi dengan kereta kelinci gratis, jalan-jalan ke Chinatown, Little India, Bugis Street, Esplanade (Gedung Durian), Orchard Road, wisata mall, dan lain sebagainya. Untuk lebih menghemat lagi, buat pemetaan misalnya satu lokasi kita akan mengunjungi apa saja. Ini supaya kita tidak bolak-balik nggak jelas dan membuang-buang duit untuk MRT, hanya karena kita nggak mengenal medan.
  • Beli oleh-oleh juga harus hati-hati. Misalnya nih, kita masuk ke kawasan Chinatown dan langsung melihat banyak cinderamata yang dijual 3 For 10 alias 10 SGD dapat tiga. Jangan langsung kalap, telusuri sampai belakang kawasan dulu. Jangan sampai menyesal bila kemudian menemukan pedagang di bagian belakang menjual barang yang sama dengan 5 For 10, alias 10 SGD dapat lima! :). Pilihan paling oke untuk mencari souvenir ada di Chinatown dan Bugis Street. Kalau makanan, seperti cokelat atau mau oleh-oleh fake perfume bisa menuju ke Mustafa Center di kawasan Little India yang buka 24 jam.
Nah, gambaran di atas semoga bisa membantu Anda untuk membuat perencanaan lebih matang dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kebutuhan Anda. Misalnya nih, kalau memang tidak masalah tidur di airport, bisa mencoba semalam tidur di Changi untuk menghemat bayar hostel. Kalau memang air minum mahal (rata-rata 1.5 SGD) padahal Singapura panas, ya coba cari keran drinkable water seperti yang ada di Changi, isi botol air mineral Anda yang sudah kosong. Isi ulang air putih juga bisa Anda lakukan di hostel. Anda juga bisa membawa mie cup beberapa, sekadar untuk menghemat makan.
Oke, selamat mengutak-utik budget, journer :)

A

Thursday, September 6, 2012

Ngeteng Pake Kereta Api Malaysia - Thailand

Hey, Journer

Kalau sebelum ini, saya posting soal ngeteng pake kereta api dari Singapura ke Malaysia, sekarang saya akan coba membahas dari Malaysia ke Thailand. Bagi pecinta kereta api, tentu tidak mau melewatkan perjalanan overland lintas negara seperti ini. 

Bule-bule kelesotan di lantai stasiun
Nah, sebelum saya memulai, saya sampaikan dulu, saya belum pernah melintasi perbatasan Malaysia - Thailand dengan kereta, namun saya pernah melakukan perjalanan dengan kereta api di Malaysia dan Thailand. Rutenya sebenarnya simple banget dan gampang untuk dijalani. Saya akan mencoba memberikan gambaran mudah, bagaimana menempuh perjalanan kereta api untuk melintasi dua negara ini.
Bila ingin memulai perjalanan kereta api kemana pun di Malaysia, paling mudah adalah memulainya dari KL Sentral, hub transportasi darat (kereta api) utama di Kuala Lumpur. Nah, untuk menggapai Thailand, maka pilihan rute kereta api adalah yang ke utara. Ini gambaran rutenya:
  • KL Sentral (Kuala Lumpur) - Butterworth (Penang) - Hatyai (Thailand Selatan) - sisanya tinggal dilanjutkan mau menuju ke Bangkok bisa, Phuket bisa ganti bus, atau yang lainnya.
  • Atau Anda bisa men-skip Butterworth, dan langsung mengambil rute KL Sentral (Kuala Lumpur) - Hatyai (Thailand Selatan) - sisanya kembali silakan tentukan sendiri mau kemana.
Berikut jadwal update yang saya ambilkan dari situs andalan saya, www.seat61.com:
  • KL Sentral - Butterworth (Penang) : 08.45-16.15  // 14.56- 21.20 // 23.00 - 06.30
  • Butterworth - Hatyai (Thailand) : 14.20 - 18.30
  • KL Sentral - Hatyai (tanpa berhenti di Butterworth) : 21.20 - 10.27 (next day).  
  • Hatyai - Bangkok : 18.45 - 10.30 (next day).
Tiket untuk kereta api ini:
  • KL Sentral - Butterworth : 17 RM (kelas 3), 34 RM (kelas 2), 67 RM (kelas 1), 43 RM (kelas 2 dengan tempat tidur/sleeper), 85 RM (kelas 1 dengan tempat tidur/sleeper). Tahun 2012, saat saya naik kereta ini, saya tidak mendapatkan gerbong kelas 3. Pilihan paling murah adalah kelas 2. Entah apakah ditiadakan atau ada alasan lain.
  • Atau langsung ambil kereta api KL Sentral - Hatyai dengan 44 RM (kelas 2 duduk) atau 57 RM (kelas 2 sleeper). 
  • Untuk tiket Hatyai - Bangkok paling murah 339 Baht atau sekitar Rp 100.000.
Keterangan: Bila Anda ingin menikmati George Town (Penang) sejenak, Anda bisa memilih rute pertama KL Sentral - Butterworth, dan pilih yang kereta api overnight berangkat jam 23.00. Sampai di Butterworth masih pagi, lalu menyeberang pakai ferry ke George Town (sekitar 20 menitan). Anda bisa jalan-jalan sampai jam 12.00, kemudian balik ke Stasiun Butterworth untuk melanjutkan perjalanan kereta api yang berangkat jam 14.20. Perjalanan overnight ini cukup mengirit budget menginap. Memang Anda melewatkan pemandangan (sebenarnya biasa aja, seperti biasa pohon kelapa sawit) selama perjalanan Kuala Lumpur _ Butterworth. Tetapi sebagai gantinya, Anda bisa mendapatkan sunrise saat menyeberang dengan ferry ke George Town (baca tulisan bagian jalan-jalan ke Penang).

Suasana ruang tunggu Stasiun Hualamphong, Bangkok
Nah, bagi yang ingin melanjutkan ke Bangkok, tentunya akan sangat melelahkan. Asumsi berangkat dari KL misalnya malam sampai Hatyai saja sudah besok siang. Sorenya lanjut lagi ke Bangkok sampai Bangkok besok siangnya lagi. Dua hari perjalanan !! hahahaha...siap?

Gerbong kereta api kelas 3 (ekonomi) di Thailand.
Pengalaman saya naik kereta api, saya belum pernah naik kelas 3 (yang paling jelek nih) di Malaysia, karena tidak pernah tersedia kursi (tidak jelas apakah ada gerbong kelas 3 atau tidak). Nah, di Malaysia, saya naik kereta api paling jelek kelas 2, dan gerbongnya nyaman, kursinya bagus. Sedangkan di Thailand, saya selalu naik gerbong kelas 3, yaitu pernah dari Chiang Mai - Bangkok (semaleman), dan Bangkok - Surat Thani (berangkat petang sampai Surat Thani pagi) lalu lanjut bus ke Phuket. 

Bagaimanakah kondisi gerbong kelas 3 di kereta api Thailand? sama dengan gerbong kereta api ekonomi di Indonesia, karena memang kereta api di Thailand itu produksi Indonesia. Bedanya, gerbong kelas 3 di sini tidak berjubel, tidak berebutan, cenderung longgar. Mungkin karena penduduknya tidak sebanyak di Indonesia. Bedanya lagi, kereta api kelas 3 di Thailand selalu penuh dengan bule dengan backpack segede bagong. Seruu.

Bagaimana cara membeli tiket kereta api? apakah bisa beli tiket di hari yang sama? Baik di Malaysia maupun di Thailand, mudah mendapatkan tiket di hari yang sama (kecuali mungkin pas high season). Kalau waswas takut kehabisan tiket, bisa membeli H-1, dan langsung ke loket-loket di stasiun. Mudah.

Selamat mencoba, journer !

A

Wednesday, September 5, 2012

Ngeteng Pakai Kereta Api Singapura - Malaysia

Hey Journer,
Bagi sebagian orang, traveling sebenarnya adalah saat perjalanan itu sendiri, bukan lagi soal destinasi. Kebanyakan memang menganggap destinasi itu penting, sebagian lain menganggap baik proses perjalanan maupun destinasi sama-sama penting, sebagain lainnya lagi menganggap gak penting mau kemana yang penting jalan.

Kalau saya sih, cenderung dua-duanya penting. Saya suka proses perjalanan itu, tapi juga menikmati destinasinya, touristy places-nya, dan lain sebagainya. Maka tak heran bila kemudian ada orang-orang yang sangat menikmati perjalanan dengan kereta api, perjalanan dengan bus, bahkan lebih excited terhadap proses itu daripada memikirkan kemana kereta api itu akan menuju.

Nah, ngomong soal kereta api (ujung-ujungnya ke sini juga, tapi muteeeer aja) hueheuehe, banyak yang nanya nih, gimana rasanya ya naik kereta api dari Singapura - Malaysia? Saya mau mencoba berbagi pengalaman saya. Alasan saya naik kereta api apa? : alasan pertama sih dulu karena ingin menikmati kereta api di luar negeri. Alasan kedua memang karena ini transportasi yang memungkinkan saya mencapai tujuan dengan mudah. Alasan ketiga (khusus untuk kereta api di Thailand) adalah karena tiketnya yang murah.
"Tetapi perlu saya tegaskan di sini, kalau alasan Anda semata-mata karena ingin mendapatkan harga murah dibandingkan pesawat misalnya, mungkin tidak sepenuhnya benar. Karena naik kereta api di negara tertentu justru tiketnya lebih mahal."

Oke, kita mulai saja cerita perjalanan kereta api dari Singapura - Malaysia:

Patung di Gedung Stasiun Tanjong Pagar
 Ini cerita tahun 2009, perlu saya tegaskan di sini supaya nanti  yang baca tidak menyebut saya menyesatkan hanya karena mereka tidak teliti membaca. Jadi, pada tahun itu, stasiun kereta api di Singapura adalah Stasiun Tanjong Pagar. Sekarang stasiun keretanya adalah di Woodlands. Banyak yang menyayangkan ditutupnya Tanjong Pagar atau akrab juga dengan sebutan Keppel Road. Karena stasiun ini memiliki sejarah yang panjang.
Pada waktu itu, saya tidak berpikir panjang saat membeli tiket kereta api. Harga tiket yang saya baca di internet adalah 34. Mata uang apa? Nah inilah kesalahan saya. Ternyata, kereta api dari Singapura ke Malaysia menggunakan mata uang Dollar Singapura (SGD).

Sebaliknya, bila dari Malaysia-Singapura menggunakan mata uang Ringgit Malaysia (RM). Jadi pas saya beli tiket, yang ada di benak saya masih harga RM, 34 RM atau sekitar Rp 100.000. Tapi pas tiba di loket, ternyata saya harus bayar 34 SGD atau sekitar Rp 230.000. Nah....mahal kan? Tapi akhirnya tetap saya bayar. Saran saya sih, kalau memang tidak penasaran dengan kereta api, mending cari tiket pesawat, karena banyak tiket murah Singapura-Malaysia.
Suasana lengang di Stasiun Tanjong Pagar
Tetapi lumayan menjadi pengalamanlah. Naik kereta api lintas negara kayak gini juga harus siap-siap repot. Waktu masih di stasiunnya dan mau masuk ke kereta api, checking bagasi kita sangat ketat. Backpack saya yang sudah saya packing rapi musti di bongkar. Setelah itu kereta jalan, beberapa saat kemudian masuklah kita di check point  imigrasi, antre cukup lama karena melayani semua penumpang kereta api.
Kalau soal gerbong kereta api, lumayan bersih. Kursinya nyaman model kelas eksekutif kereta api di Indonesia. Ada masing-masing TV layar datang di pojok-pojok gerbong. Kereta yang saya tumpangi adalah KA Senandung Malam No 12, tujuan KL Sentral.
Kalau memang Anda ingin naik kereta api dari Singapura - Malaysia, berikut timetable paling update  yang saya ambilkan dari situs www.seat61.com. Situs ini pula yang kerap jadi acuan saya bila ingin naik kereta api. Situs ini terpercaya dan mengupas semua kereta api di seluruh dunia:
  • Singapura (Woodlands) - KL Sentral (Malaysia): 08.45 (berangkat) - 14.56 (tiba) // 13.45 - 20.25 // 23.30 - 06.30.
  • Kereta ini hanya memiliki dua kelas, yaitu 1st class (premier) yang kursinya bagus dengan model reclining, dan tentu saja dengan AC. Serta 2nd class (superior) dengan kursi yang cukup nyaman dan AC. Perlu saya ingatkan juga, AC di kereta api sangat dingin, jadi sediakan jaket.
  • Harga tiket yang paling baru ternyata tidak jauh berbeda dengan tahun 2009. Malah harga tiket kelas 2 masih juga 34 SGD, sementara untuk kelas 1 adalah 68 SGD. 
Gerbong kelas 2. Foto: seat61.com
Meski saya belum pernah melalui Woodlands, karena saya dulu melalui Tanjong Pagar, tetapi saat saya cek bagaimana cara ke Woodlands sangat mudah sekali. Karena memang ada MRT yang langsung menuju ke Woodlands.
Saya tidak tahu apakah ini kerugian atau keuntungan, tetapi saat saya memilih kereta api jam 23.30, maka yang saya dapatkan selama perjalanan adalah pemandangan hitam gelap gulita hahahaha.
Gerbong kelas 1. Foto: www.seat61.com
Keuntungannya, saya ngirit penginapan karena bisa tidur di kereta. Nah, silakan tentukan pilihan Anda. Kalau pengen mendapatkan pemandangan, ya silakan pilih kereta pagi atau siang. Tetapi perlu diketahui saja, pemandangan perjalanan kereta api Singapura - Malaysia tidak terlalu indah, paling hanya perkebunan kelapa sawit atau pemandangan stasiun dan perkampungan kecil sekitar rel.
Pagi hari, sekitar pukul 07.00, saya sudah tiba di KL Sentral. Dan secara umum, meski meleset sedikit saat tiba di Malaysia, secara umum kereta tepat waktu. Berangkat dari Singapura juga on time. Nah, bedanya dengan naik pesawat Singapura - Malaysia adalah, kalau naik kereta api, Anda langsung tiba di KL Sentral yang berada di tengah Kota Kuala Lumpur. KL Sentral adalah hub transport di KL. Dari sini Anda bisa keliling kota  atau menuju ke hotel Anda dengan meneruskan perjalanan menggunakan LRT. Gampang dan mudah. 

Selamat mencoba, journer !

A

Monday, September 3, 2012

Yuk Jalan-jalan ke Medan!

Apa kabar Journer?

Mesjid Raya Al Mahsun, Medan
Setelah libur Lebaran yang lama, saatnya kita...liburan lagi! hehehe. Percaya atau tidak, pasca-Lebaran biasanya banyak orang menjadwalkan traveling. Kenapa? pertama karena memang duitnya ngumpul banyak, dari ngumpulin THR atau dapat fitrah lebih, selain itu masih ada sisa libur yang bisa dimanfaatkan. Lebaran memang kegembiraan sejati banyak orang, terutama kaum muslim. Sebelum Lebaran saya sudah direpotkan (tapi seneng kok) dengan banyak pertanyaan teman. Ada yang mau ke China, ada yang mau ke Penang, Kuala Lumpur, Singapura, Medan, atau yang paling banyak adalah mereka yang ingin datang ke kota saya, Solo!

Nah, ternyata nih...banyak teman dan followers di twitter yang meminta saya untuk sharing soal Medan. Karena kota ini masih sangat seksi bagi para journer. Oya, sebelumnya, mulai tulisan ini, saya akan menggunakan kata sapaan Journer. Apakah itu journer ? sebenarnya kalau dalam bahasa slank-nya di luar negeri sono ini lebih berarti individual likes to take long journeys or treks to get to a certain place. Kenapa saya tidak pake sapaan travelers ? karena yang lebih cocok dengan nama blog saya "A Journo" adalah journer. Sedikit melebar dulu, blog ini sebenarnya sudah ada lama, sejak saya masih jadi wartawan. Nah, pilihan kata journo sendiri artinya adalah jurnalis. Tetapi kemudian ternyata saya hanya 6 tahun di jurnalistik sebelum fokus sebagai travel writer. Karena malas bikin blog baru, saya lanjutkan saja blog journo. Terus saya kait-kaitkan kata journo dengan journey alias perjalanan...hehehe, ini mah otak atik saya sendiri. Nah, sayangnya saya tidak bisa menggunakan kata sapaan journo kepada pembaca saya, karena memang mungkin tidak cocok secara arti. Maka saya ganti saja dengan journer. Sounds good huh? :)

So, journer...kali ini secara khusus saya akan membahas secara sedikit tentang Medan mengingat banyak request. Setelah Lebaran 2011, saya bersama partner in crime yaitu Ajie Hatadji, menjelajah Medan dan sekitarnya untuk buku "Travelicious Medan: Jalan Hemat, Jajan Nikmat" terbitan B-First (Bentang Pustaka). Garis besar isi buku seperti yang saya sharing di twitter adalah sebagai berikut:

Jadi nih, kalau mau ke Medan memang paling enak naik pesawat. Asumsi dari Jakarta ya supaya gampang. Kalau dari Jawa ke Medan melalui jalur darat, bisa berasap pantat kita. Berapa sih kisaran harga tiket pesawat Jakarta-Medan? Saat bikin tulisan ini, saya sempat cek kisaran tiket pesawat hingga dua bulan ke depan. Rata-rata stabil di angka Rp 500.000-an, one way. Ada satu dua yang nyempil di angka Rp 160.000 atau Rp 200.000 (tiket promo). Nah, kalau rajin mengulik, sebenarnya itu harga yang cukup lumayanlah. Saya dan Ajie saja dapat tiket one way masing-masing Rp 700.000-an :(. Saat tulisan ini dibuat, ada juga lho promo dari Mandala Air yang sekarang bergabung dengan Tiger Airways, Jakarta - Medan Rp 370.000. Pulangnya? Medan - Jakarta dengan Mandala Air hanya Rp 250.000-an. Ingat, ini hanya gambaran saja, karena siapa juga yang bisa memastikan harga tiket pesawat coba?

Ornamen di Kuil Shri Mariamman, Kampung Madras-Medan
Nah, sudah tahu kisaran harga tiket ke Medan, sekarang kita ngomongin soal transportasi untuk city tour di Medan. Pilihan saya jatuh pada becak motor (Betor) yang bisa membawa kita kemana saja di lingkup kota, mulai Rp 7.000 untuk jarak terdekat. Harga juga tergantung kemampuan Anda dalam menawar. Harga yang lebih pasti sih Angkot. Mulai Rp 2.000 untuk jarak dekat dan sekitar Rp 4.000-an untuk jarak jauh.

Bagaimana dengan penginapan? Saya sarankan Anda menuju ke kawasan Mesjid Raya. Di belakang Mesjid Raya, ada banyak hotel murah (dan katanya syariah), selain juga losmen dan hostel buat backpackers. Harga di kisaran Rp 50.000 per malam. Pilihan lain, Anda bisa ikut gaya saya dan Ajie dengan mencari kos. Dan kebetulan sekali kami mendapatkan kos di sekitar Mesjid Raya, namanya Kos Deli, Rp 70.000/malam, kamar luas, kamar mandi dalam, AC kenceng, TV gede, dan kasur empuuuuksss. Sejauh ini, itu salah satu pencapaian terbaik saya dalam mendapatkan kamar murah dengan fasilitas to the maks.

Bagaimana dengan makan? Makanan bagi saya relatif lebih mahal ya. Tetapi kalau nanya langsung ke orang Medan, mungkin mereka akan menyangkal dan mungkin mereka tahu cara mencari makan yang murah. Di depan kos saya saja, sekali makan dengan menu nasi + sambal teri kacang + telur + es teh sudah hampir Rp 25.000 lho. Ada juga sih rumah makan Padang serba Rp 6.000. Tetapi saya sepertinya tetap mengeluarkan duit lebih dari itu deh. Hehehehe. Intinya sih, makan sediain mulai Rp 15.000 ke atas deh sekali makannya.
Sekarang langsung ke destinasi yang bisa kita kunjungi. Kenapa saya memilih lokasi penginapan di sekitar Mesjid Raya? Selain karena memang banyak penginapan yang terkonsentrasi di sini, mau kemana-mana juga gampang. Ke Mesjid Raya juga cuma sepelemparan kolor. Ke ikon-nya Kota Medan, yaitu Istana Maimun juga cuma sepeminuman teh huehehehe. Oya, di depan Mesjid Raya ini juga ada Taman Deli. Lokasi ini dari Bandara juga gak terlalu jauh. Malam hari saat kami tiba, berdua naik Betor dari Bandara ke lokasi ini cuma Rp 25.000 di saat taksi meminta Rp 65.000. Kata orang, sebenarnya kalau mau nawar lagi, Betor juga mau kok dibayar Rp 20.000 :).

Highlights saya di Medan ini nih daftarnya:
a. Mesjid Raya: saya suka sekali mesjid ini. Dari luar mungkin tidak terlalu istimewa bangunannya. Tetapi interior dalamnya bagus, dengan perpaduan interior gaya India, Timur Tengah dan Spanyol. 
b. Istana Maimun: jalan kaki tidak seberapa jauh (kelihatan dari depan mesjid), kita bisa menuju ke Istana Maimun. Ini ikon-nya Kota Medan. Merupakan Istana Sultan Deli yang pembangunannya selesai tahun 1888.
c. Umat Kristiani, sempatkanlah ke Gereja Grha Maria Annai Velangkanni yang memiliki arsitektur bagus. 
d. Kuil Shri Mariamman adalah kuil kecil yang indah di tengah Kampung Madras, yang merupakan kampung yang warganya didominasi keturunan India.
e. Tjong A Fie Mansion. Salah satu bangunan atau rumah gaya China terbaik yang pernah saya lihat. Di sinilah dulu jutawan Medan keturunan China yaitu Tjong A Fie tinggal.
f. Taman Buaya: ini juga yang terbaik menurut saya. Karena di sini kita bisa melihat langsung penangkaran buaya terbesar di Asia, konon di dunia, dengan jumlah buaya ribuan. Ngerinya, ada rawa khusus yang dipagari besi, yang di dalamnya penuh buaya waaaa....kisah tentang taman ini bisa dibaca di tulisan khusus di kolom Jelajah Negeri.

Kuliner:
Bagi saya, Medan itu surga kuliner. Paling membuat saya penasaran adalah Pancake Durian. Dan saat ke sana, saya terpuaskan. Saya bisa menjajal dua versi sekaligus, yaitu versi yang mahal Rp 25.000 per potong di Nelayan Resto, Sun Plaza, dan versi murah Rp 7.500 di Durian House. Saya juga mencoba pie durian, tapi sayang tidak sempat mencicipi Dodol Durian. Pancake Durian tidak terlalu pas buat oleh-oleh karena bila berada di luar freezer, hanya tahan 7-8 jam. Kalau kena pesawat delay, bisa berabe hehehe. Yang paling pas adalah Bolu Meranti, yang bisa didapatkan mudah di toko resminya di Jl Sisingamangaraja tak jauh dari Mesjid Raya (terbukti lagi, lokasi menginap saya strategis).
Itu snack-nya. Bagaimana dengan makanan berat?  Kalau mau sekadar membuktikan "kehebohan" orang akan rumah makan legendaris "Tip Top" silakan ke kawasan Kesawan. Tetapi memang harganya relatif lebih mahal. Di sini yang terkenal es krim-nya. Tempatnya asyik buat nongkrong, tapi kalau untuk makan besar kurang bagi saya. 
Tempat makan lainnya, mampirlah ke pusat kuliner Pagaruyung setelah Maghrib. Lokasinya tak jauh dari Kuil Shri Mariamman. Di sini aneka makanan India ada. Tetapi yang mencuri perhatian saya adalah kwetiau Akuang, yang sudah eksis sejak 1958. Ini kwetiaw halal, dan rasanya lezaaaat. Kwetiau lain yang lezat bisa didapatkan di Nelayan Resto yang tentunya lebih mahal.
Pusat penjualan ulos di Pajak Central, Medan.
Oya, jangan lupa mampir ke Sate Padang Bata dan Es Krim Apo. Kenapa namanya Bata? karena lokasinya berada di samping toko sepatu Bata, di kawasan Kesawan, tak jauh dari Tip Top. Lumayan mengenyangkan untuk satenya. Sementara Es Krim-nya sedikit beda, karena ini campuran es krim dengan soda. Jangan lupa juga mencicipi Soto Sinar Pagi di Jalan Sei Deli. Ini soto bukan sembarang soto, karena yang beli berjubel. Sudah tersohor. Yang paling mencuri perhatian adalah pelayanannya yang super cepat. Jangan lupa juga untuk mampir ke Mie Aceh Titi Bobrok yang ada di Jl Setia Budi.
Sebenarnya masih banyak sih, ada TST alias Teh Susu Telur yang berada di Jl Puri. Di sini banyak sekali warung TST yang ramai dengan pengunjung. Karena saya tidak minum susu (apalagi ditambah telur mentah), tugas mencicipi saya serahkan kepada Ajie :). Ada juga kuliner wajir, dengan minuman terong Belandanya yang maknyuss. Jangan lupa juga mencoba rujak di Taman Deli yang segar. 
Oleh-oleh: kalau mau cari souvenir, silakan ke Pajak Central atau Pusat Pasar. Di sini kita bisa belanja souvenir dan ulos. Untuk ulos, harga mulai dari Rp 15.000 per lembar untuk yang murah, hingga jutaan untuk yang berbahan bagus.

Nah, sudah siap menghajar Medan? tunggu apa lagi!. Untuk detail travel journal saya dan Ajie selama di Medan, silakan baca "Travelicious Medan: Jalan Hemat, Jajan Nikmat".

cheers,

A

Friday, August 17, 2012

Selamat Idul Fitri 1433 H

design by zainfadhil.wordpress.com
Mohon maaf lahir batin bila ada postingan saya yang menyinggung Anda, saya pastikan itu terjadi karena saya manusia biasa. Selamat merayakan Idul Fitri, semoga kebahagiaan menyertai kita semua. Keep traveling spirit yak! :)

Tuesday, August 7, 2012

Waspada Aksi Tipu-Tipu di Thailand

photo: subliminalhacking.net
Istilah scam mungkin sudah sering kita dengar. Khususnya para traveler, seringkali mendapati istilah ini saat mencoba mencari informasi tentang keamanan di suatu negara.
Scam terjemahan bebasnya adalah aksi tipu-tipu, penipuan yang dilakukan kepada seseorang dengan berbagai trik dan modus. Nah, kaitannya dengan traveling, aksi ini banyak terjadi di touristy places. Di mana pun di banyak negara, pasti ditemukan kasus semacam ini. Cuma memang kadarnya mungkin berbeda-beda.
Saya ingin berbagi pengalaman tentang aksi tipu-tipu dengan berbagai kedok ini, khususnya di Thailand. Pengalaman ini beberapa saya alami sendiri, selain juga ada yang dialami teman saya.
Aksi tipu-tipu di Thailand target utamanya adalah para turis, khususnya turis bule. Tetapi kalau kita tidak waspada, bukan tidak mungkin kita juga kena, seperti pengalaman saya. Berikut saya bagikan pengalaman aksi scam  di Thailand, semoga membuat kita lebih waspada bila ingin berkunjung ke sana:

1. Gem Scam: ini adalah model tipu-tipu yang akan membuat kita berakhir di sebuah toko permata/perhiasan. Saya kena di depan Bangkok National Museum. Lagi asyik jalan-jalan, tiba-tiba seseorang yang bergaya necis, mengaku sopir yang mengantarkan anak-anak sekolah ke museum, menyapa saya. Setelah itu dia berbicara kayak bus patas, cepat dan tidak bisa dipotong. Mengaku punya teman di Indonesia. Lalu tiba-tiba dia menunjukkan cincin dengan batu akik super gede yang melingkar di jarinya. Lalu tanpa saya tanya, dia bercerita saat ini ada big sale permata. Harganya turun hampir 70%, saya bilang saya tidak tertarik karena saya tidak membawa banyak uang. Lalu dia mengalihkan, dengan memberikan info ada kuil Buddha keren yang belum banyak dikunjungi turis. Dan dalam sekejap saya sudah di atas tuk-tuk (yang tiba-tiba sudah di depan saya). Keduanya (orang necis dan sopir tuktuk) adalah partner in crime. Lalu oleh sopir tuk-tuk saya dibawa ke sebuah rumah, ternyata tidak ada kuil, dan di sana (lagi-lagi) ketemu orang yang obral omongan soal diskon permata. Saya mulai curiga. Lalu saya minta cabut kepada sopir tuk-tuk. Dan semuanya terbongkar beberapa saat kemudian. Tuk-tuk berhenti di depan toko perhiasan, dan sang sopir meminta saya masuk ke dalam. I said no. Si sopir memaksa. Lalu saya nyolot ke sopir itu. Dia memelas meminta saya masuk supaya dapat kupon bensin. Gotcha!. Akhirnya ketahuan juga. Pada akhirnya saya memberikan duit juga untuk ongkos tuk-tuk. Tapi langsung saya turun dan cabut sambil celingukan saya ini berada di daerah mana yaa...hehehehe.

*Gem Scam paling sering menimpa turis. Jadi kalau disamperin orang dan ngobrol panjang soal perhiasan, langsung saja abaikan.

2.Lady Bird Scam: sebenarnya istilah lady bird ini adalah istilah saya sendiri. Intinya, kalau ketemu taman-taman, seperti di sekitar Grand Palace, akan ada beberapa ibu-ibu yang membawa plastik-plastik yang diisi jagung. Jagung-jagung ini disebar untuk memberi makan ratusan merpati yang terbang dan singgah di sana. Nah, kalau kita duduk aja, mereka akan nyamperin dan dengan senyum super ramah seperti mengajak kita memberikan jagung-jagung itu ke merpati. Mereka akan setengah memaksa dengan senyum ramahnya. Tidak mengatakan kalau itu dijual. Begitu kita ambil satu plastik dan habis, mereka akan memberikan plastik lainnya.Biasanya baru dua plastik mereka akan meminta kita uang. Saya dimintai 25 Baht per plastik. Total jenderal 50 Baht. Hell no !! saya nggak mau kasih. Dia marah-marah dan berteriak kepada saya. Saya ikut nyolot, saya ancam saya akan memanggil polisi. Dan dia kabur :)

3. Patpong Scam: cerita dari temen bule saya, hati-hati kalau jalan di Patpong. Saya juga sempat jalan ke sana sih, ditawari nonton Live Sex Show, tapi saya tolak. Nah, cerita temen saya, biasanya mereka nawarin nonton Live Sex Show seharga bahkan cuma 100 Baht. Tetapi kelar nonton, baru ditarik lebih dari 1000 Baht. Ogah bayar? Tukang pukul siap di sekeliling Anda...huehehehe.

4. Bus Scam: Ini model tipu-tipu yang target utamanya juga bule. Mungkin juga turis Asia. Tetapi kadang susah membedakan turis Asia dan orang lokal. Nah, praktik tipu-tipu ini biasanya terjadi di bus antarkota, jarak jauh, misalnya Bangkok - Phuket. Modusnya, para penumpang diminta segera masuk ke bus, dan backpack ataupun bagasi akan diurus staf bus untuk dimasukkan di bagasi bus. Tetapi sebelumnya, tanpa kita tahu, tas kita sudah diobok-obok isinya.

5.Grand Palace Scam: Kalau kita berkunjung ke Grand Palace, di bagian depan itu biasanya penuh orang. Nah, hati-hati nih...beberapa orang akan mengatakan kepada anda bahwa Grand Palace hari itu tutup.Dengan buaian mulut manisnya, maka tiba-tiba saja kita akan sadar dan berakhir di (lagi-lagi) toko perhiasan hahahaha.

6. Taxi Scam: Ini model taksi argo kuda. Biasanya argo sudah disetel dulu. Harga yang harus kita bayar kadang lima kali lipat, bahkan hingga sepuluh kali lipat dari harga argo normal. Biasanya mereka menawarkan layaknya calo, berkeliaran tanpa kita tahu yang mana mobilnya. Saran saya, cari aja taksi yang ngetem di pinggir jalan dengan pengemudi di dalamnya, atau memberhentikan taksi di jalan. Dua kali saya nyetop taksi di jalan, semuanya murah meriah dan argonya normal :).

7. Food Scam: Kejadiannya sih di Bangkok dan di Chiang Mai. Yang di Bangkok saya alami di terminal bagian selatan, banyak penjual buah yang membuat ngiler. Segar-segar euy. Saya beli melon potong seperti yang dipajang di etalase mereka. Pas udah bayar dan menerima melonnya, ternyata melonnya benyek. Saya minta tukar yang segar seperti yang dipajang, nggak dikasih. Saya minta duit kembali dan balikin buah melon benyek itu. Tapi teman saya dari Spanyol telanjur membeli salak satu kresek. Dan sodara-sodara, hanya beberapa yang segar, yang lain masuk tong sampah. Kedua adalah di Chiang Mai, saya menuju ke food court dengan logo halal. Tetapi di etalase saya menangkap makanan dengan tulisan di atasnya ada "pork". Begitu teman saya datang dan menanyakan mau makanan halal, pas saya sedikit lengah si perempuan penjual mengambil tulisan di atas makanan dengan cepat untuk disembunyikan. Ekor mata saya berhasil menangkap aksi itu. Dan saya pun dengan sukses berlalu dari penjual curang itu. Untung belum pesan.

Jadi intinya sih, scammers itu ada di mana-mana, khususnya di kawasan touristy places. Yang perlu kita lakukan adalah waspada. Ingatlah, tidak ada makan siang gratis - No Free Lunch - dan kalau Anda disapa orang asing yang super ramah, Anda harus waspada juga...ketika sesuatu itu too good to be true...maka signal tanda bahaya seharusnya menyala. Maka lebih baik menghindar dan abaikan.


Semoga berguna,

A

Friday, August 3, 2012

Jogja (Masih) Jadi Kota Idaman

Sekadar iseng-iseng di twitter dan bukan survei yang serius, saya mendapati bahwa masih banyak orang (followers) yang menempatkan Jogja sebagai Kota Idaman mereka. Kota pilihan di mana mereka ingin menghabiskan waktu untuk tinggal.
Di belakang Jogja, ada Malang yang juga mendapatkan suara cukup banyak dari para followers. Pilihan yang tanpa disebutkan alasannya ini cukup menarik. Tetapi memang tidak terlalu heran sih kalau Jogja menempati posisi di hati orang. Jogja yang merupakan tujuan wisata utama kedua setelah Bali memang namanya tersohor, tidak hanya di dalam, tetapi di luar negeri juga. Selain itu, Jogja juga memiliki banyak kampus dan menjadi melting pot dari aneka budaya di Indonesia yang dibawa para mahasiswanya. Jogja pula yang menjadi tempat di mana tradisi dan modernitas bisa duduk berdua sama tingginya. 
Bagi saya pribadi, Jogja menjadi tempat "pelarian" saya saat lagi suntuk di Solo. Terbalik dengan fakta, banyak orang Jogja yang "lari" ke Solo karena suntuk. Tak lain dan tak bukan karena ada kereta api komuter Prambanan Ekspress yang membuat "pelarian" itu menjadi mudah. Tetapi sejujurnya, saya mulai jengah dengan kemacetan yang terjadi di Jogja. Duh, kalau sudah sore, macet di beberapa titik. Paling sebel di depan Ambarukmo Plaza (Amplaz). Kalau malam minggu dan hari libur, bisa lebih menjengkelkan.
Malang menjadi pilihan kedua terbanyak. Saya pribadi suka Malang. Udaranya cukup sejuk, meski banyak warga asli Malang yang bilang kalau udara sekarang semakin panas. Saya beberapa kali ke Malang, menelusuri beberapa wilayahnya (dan paling suka adalah Malang Selatan). Kuliner dari kota yang juga disebut Paris Van Java (setelah Bandung) ini juga lezat. 
Dari pilihan followers, kedua kota ini bahkan mengalahkan Ubud (seharusnya Kabupaten Gianyar bila yang ditanyakan adalah kota/kabupaten idaman). Yang menyebut Bandung juga banyak. Setelah itu baru beberapa kota lain: Solo, Sukabumi, Magelang, Nganjuk, Wonosari, Kulonprogo, dan lain sebagainya. Tetapi yang mengherankan saya justru masih ada yang memilih kota besar seperti Surabaya dan Jakarta dengan segala kemacetan dan hiruk pikuknya.
Pilihan-pilihan di atas mungkin karena memang ada keterikatan emosional (faktor ini lebih banyak): lahir di sana, kampung halamannya, pernah kuliah, dan lain sebagainya. Tidak begitu mengherankan memang. Saya pribadi juga suka Solo, karena saya lahir dan besar di sini. Tetapi memang ke sini-sini-nya, saya mulai jengah juga dengan kemajuan kota ini, di mana kemacetan mulai muncul di mana-mana menyertai proses pembangunan itu. Jadi kalau di suruh memilih, saya memilih kota mana ? Saya dari dulu suka Salatiga.

Bagaimana dengan Anda?

Sunday, July 29, 2012

Tips Memilih Hostel

photo: travelwithamate.com
Memilih hostel, atau gueshouse, atau homestay, atau penginapan, atau apapun namanya menjadi salah satu pertanyaan yang sepertinya tidak pernah putus menghampiri saya di twitter.@ariysoc. Kebanyakan langsung memilih pertanyaan model : "Bisa direkomendasikan hostel di sini....di dekat ini...bla...bla...bla?". Bagi saya, tidak salah sih model pertanyaan seperti itu. Tetapi terkadang pertanyaan model semacam itu juga belum tentu mendapatkan jawaban memuaskan.
Saya berbagi bagaimana cara mendapatkan kamar hostel secara mandiri. Selain riset via google, Anda langsung bisa praktik untuk memilih via www.hostelbookers.com atau www.hostelworld.com. Dua situs ini yang sering saya pakai. Saya bukannya sok tidak butuh rekomendasi orang. Tetapi kadang, semakin saya googling semakin saya bingung. Si A tinggal di hostel ini bilang bagus, tetapi si B tinggal di hostel ini bilang jelek. Lalu alih-alih mencari rujukan, saya malah semakin dibuat bingung.
Kalau Anda juga mengalami hal semacam itu, ada baiknya mengikuti cara seperti yang saya lakukan, yaitu mencoba mencari secara mandiri. Dua situs itu bisa membantu kita.

1. Klik salah satu situs itu (www.hostelbookers.com atau www.hostelworld.com). Setelah itu pilih dulu mata uang yang digunakan sehingga kita tidak perlu mengkonversi ulang. Untuk www.hostelbookers.com belum ada pilihan mata uang dalam Rupiah (IDR) namun untuk www.hostelworld.com sudah ada, sehingga langsung muncul harga dalam Rupiah.

2. Ganti negara di kolom yang disediakan. Ganti juga kota di kolom yang disediakan, sesuaikan dengan kemana Anda akan pergi. Lalu tentukan tanggal di kolom tanggal dan berapa lama Anda akan tinggal. Lalu klik saja search. Maka akan muncul deretan nama-nama hostel dengan harga dan foto-foto, serta deskripsinya.

3. Tahap I, cek dulu overview dan prices. Kalau di hostelworld masuk di info + rates + facilities. Nah, pelajari benar  kondisi hostel, lihat baik-baik fotonya, model kamarnya, fasilitasnya, termasuk kita bisa update harga kamar yang kita inginkan. Pilih yang sesuai dengan selera hati, apakah ada free breakfast, wifi, AC, kamar mandi bagaimana apakah sharing atau private, dan lain sebagainya.

4. Tahap II, setelah menentukan pilihan hostel, kita baca teliti maps dan directions. Kita cek dulu lokasi hostel dan bagaimana cara menuju ke sana. Pastikan juga apakah lokasi dekat dengan spot-spot yang akan kita tuju selama kita traveling. Kalau harga kamar murah, tetapi jauh dari mana-mana, pasti akan boros juga di biaya transportasi jalan-jalan di dalam kota. Pastikan juga Anda mendapatkan hostel di tempat aman. Khususnya bagi cewek nih, beberapa hostel murah berada di lokasi red light district (prostitusi), nah...pelajari benar, kalau memang tidak mau ya hindari. Atau bagi yang suka ketenangan, cari hostel yang tidak dekat dengan area dugem, dekat club, atau lainnya. Nah, ini sesuaikan dengan selera Anda. Beberapa hostel juga mencantumkan tempat strategis, hanya sekitar 10 menit dari titik A dan lain sebagainya. Nah, tidak semuanya seperti kenyataan. Bagaimana cara kita mengetahuinya? Banyak testimoni/reviews  yang biasanya menuliskan soal lokasi. Bila tidak sesuai dengan kenyataan, biasanya langsung diprotes. Nah, cermati antara omongan orang yang pernah tinggal di sana yang ada di kolok reviews dengan info hotel. Kalau meragukan, ganti yang lain.

5. Bila sudah menentukan itu, cek kembali di bagian reviews. Bagaimana tanggapan orang yang pernah tinggal di sana. Soal kenyamanan ini memang sangat subyektif satu orang dengan orang lainnya. Traveler bule atau dari negara maju misalnya, akan lebih rewel soal higienis atau tidak, jenis bed- karena ukuran tubuh mereka beda, dan lain sebagainya. Sementara bagi kita orang Asia mungkin tidak terlalu rewel. Kebersihan, kondisi kamar, pelayanan dari pengelola atau pegawainya, serta lokasi, sering menjadi bahasan reviews orang yang pernah stay. Meskipun subyektif, tetapi tidak ada salahnya kita cermati. Biasanya kalau memang banyak orang membicarakan hal sama, itu banyak benernya. Misalnya sekian orang bilang pengelolanya judes, mungkin memang begitulah keadaannya.

6. Setelah itu putuskan mana yang akan Anda ambil. Bagi saya, harga menjadi pertimbangan nomor satu, kemudian baru lokasi dan kenyamanan. Nah, setiap orang memiliki standar berbeda. Apakah Anda mementingkan kenyamanan dulu soal harga bisa diatur? itu terserah Anda. Selamat berburu kamar.