Wednesday, September 28, 2011

Best travelmate

Saya menikmati traveling sendirian karena saya bisa melakukan apapun semau saya. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan orang yang saya mau, men-skip destinasi, makan semau saya, marah semau saya, ngakak semau saya, dan lain sebagainya. Solo traveling adalah saat di mana saya benar-benar menjadi diri saya sendiri, nyaris tanpa tekanan.

Tetapi, dalam beberapa hal, saya menemukan saat-saat terlemah saya, saya menemukan situasi di mana saya butuh seseorang, bahkan untuk hal sepele, seperti misalnya berbagi cerita saat saya teronggok sendirian di peron stasiun.

Happiness only real when shared. 

Dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, beberapa kali saya traveling dengan travelmate. Beragam karakter, beragam situasi, beragam permasalahan. Ada traveler Jakarta yang baru pertama kali ketemu di Kuala Lumpur dan saya belum kenal dia sebelumnya. Ada traveler Kanada yang baru saya kenal saat ketemu dia di Penang. Ada traveler Amerika Serikat, Belgia, Brazil, Inggris, dan semuanya tidak benar-benar saya kenal.

Ada yang brengsek dan membuat saya berantem dengan dia di perjalanan, ditutup dengan permintaan maaf dari dia. Ada yang ngajak mabok di pantai, dan saat saya tolak dia mengerti juga. Ada yang lebih suka berdiskusi serius tentang bagaimana kehidupan seorang muslim, hingga masuk ke ranah persoalan pribadi. Ada yang menyebut saya tukang selintut duit (entah untuk alasan apa yang sampai sekarang saya tidak mengerti). Ada yang menjadikan saya sebagai tukang foto dan porter pengangkat koper hahaha. Beraneka !!

Jadi, bahkan di luar perjalanan saya itu sendiri, saya disibukkan dengan petualangan psikologis, profiling orang, memahami karakter orang. Menjadi bertambah sabar (atau sebaliknya). Dan itu semua menarik, karena ada tarik ulur perasaan yang membawa kita kepada situasi di mana egoisme kita bisa hancur lebur dalam hitungan detik.

Saya orangnya penyabar. Saya tidak suka berkonfrontasi. Saya akan meninggalkan apa yang bukan menjadi urusan saya. Saat disebut tukang selintut pun (dan ditulis di blog - yg kemudian di delete my ex travelmate) saya pun tidak melakukan pembalasan. 

An eye for an eye and the whole world blind. Saya tidak mau buta saat dunia sedang indah-indahnya.

Best travelmate saya adalah "My Green Apple Mp3" produk jadul seharga Rp 175.000 yang saya beli di sebuah pameran komputer di Solo beberapa tahun lalu. Playlist saya pun jadul, karena saya tidak tahu cara menambah lagu di sana, mengingat driver-nya ilang. Beberapa lagu di dalamnya yang sering saya putar adalah Love Will Keep Us Alive-nya Eagles, Home-nya Michael Buble dan Blake Shelton, serta Can't Cry Hard Enough-nya Williams Brothers. My Green Apple adalah teman setia. Tidak protes saat duit habis, tidak ngomel saat capek berjalan jauh. Paling hanya ngambek saat baterai-nya habis dan minta di-charge.
Tidak semua travelmate saya orangnya ribet. Beberapa adalah orang yang pantas saya beri ucapan terima kasih dan membuat saya berpikir untuk menjadikan mereka travelmate saya di next journey. Saya menemukan nama-nama seperti Manda dan Salwa, dua cewek dari IPB, Bandung yang sangat tangguh dan tidak pernah mengeluh saat kami traveling ke Sempu. Saya juga menemukan Hamka dan Fachry, dua mahasiswa Malang yang asyik jadi teman jalan. Saya menemukan Vivian dari Switzerland, yang membuat traveling kami di Solo sekitarnya menjadi ajang pelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan. Saya menemukan Monika dari Jerman yang selalu senyum menikmati apapun itu yang ditemui, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan. Saya menemukan Sven, traveler sejati yang nyaris dalam empat tahun terakhir ini selalu mampir Solo setiap tahunnya, dan menyebut saya "brother from another mother".

Saya menemukan Pop, traveler, travel writer, famous singer di Thailand, dengan segala atribut mewahnya namun rela berbecek-becek dan jalan jauh menjelajah Thailand bersama saya. Travelmate terakhir saya sebelum tulisan ini dibuat, adalah Ajie dari Bandung. He's 22 years old, tapi tidak bersikap kolokan, mau jalan jauh, ngakak-ngakak saat duit menipis, mood-nya terjaga banget, gak ada marah gak ada ngambek, makan enak ayo makan gak enak juga hajar saja. Kata dia, "Ketika traveling, ada kalanya kita terjebak di suatu daerah dengan budget amat sangat tipis. Menegangkan, tapi rame juga kalau dinikmati."

Itulah cerita saya. Baik buruk travelmate saya telah cukup memberikan kontribusi mewarnai perjalanan saya . I dedicate this article to all my travelmates. You make my life so colourful. Ten Million Thanks !!

regards,
A

Thursday, August 25, 2011

Jebakan Betmen Menuju Bromo

Ini pengalaman saya yang semoga tidak Anda rasakan, saat menuju ke Bromo. Pukul 14.00 WIB saya datang ke tempat mangkal mobil menuju Bromo di sebelah Terminal Probolinggo. Aturan yang disepakati para pengemudi adalah, penumpang harus naik ke mobil sesuai nomor antre mobil. Jadi, bila mobil pertama belum berangkat, kita tidak bisa naik ke mobil antrean kedua. Di depan warung tempat ngetem, sudah ada satu bule cewek asal Amerika Serikat. Saya dan dia sepakat dengan sopir, masing-masing akan membayar Rp25.000,00. Kami disuruh menunggu. Berikutnya, muncul tiga orang bule, satu dari Brazil, satu dari Belgia, dan satu lagi dari Jerman. Sekarang saya memiliki teman, yaitu Meeka, Manuela, Jonas dan Daniel.  
Harga yang disepakati sama. Beberapa saat kemudian, sopir menawarkan, masing-masing kami membayar Rp40.000,00 dan akan segera berangkat. Kami menolak dan memilih menunggu. Sopir mengatakan, akan menunggu dua penumpang lagi, hingga pukul 17.00 WIB. Saat itu baru pukul 14.30 WIB. Hahaha …. Kami tidak mempermasalahkan itu asalkan tetap membayar Rp25.000,00. Tepat pukul 17.00 WIB, kami menagih janji untuk diberangkatkan. Tapi, …si sopir menolak dan meminta bayaran Rp40.000,00. Kami berlima akhirnya marah-marah tak keruan karena sudah merasa dipermainkan. Kami sudah menunggu tiga jam dan akhirnya tetap harus membayar Rp40.000,00. Kami memutuskan meninggalkan sopir itu dan mencari mobil lain. Tapi, jangan dikata itu mudah karena hampir semua mobil tak berani memberangkatkan kami. Alasannya, takut kepada sopir yang pertama. Ougggh … rasanya pengen menghajar saja. Akhirnya, kami menemukan sopir lain dengan harga Rp35.000,00. Dengan gondok, akhirnya kami mau tidak mau membayarnya. Dan saat itu sudah pukul 18.30 WIB!
Pelajarannya adalah:
Untuk Anda yang solo traveling, Anda akan berhadapan dengan “mafia” model begini, baik berangkat maupun pulang. Ujung-ujungnya selalu berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari Anda. Bila Anda bukan orang yang sabar menunggu atau orang yang berani melawan, lebih baik tidak memilih angkutan ini dan membayar ekstra untuk ojek. Akan lebih mudah bila Anda bepergian secara grup, Anda bisa memilih carter mobil dan sharing budget atau bergabung dengan penumpang lain.

*Tulisan ini ada di salah bab buku saya, "Travelicious Surabaya, Malang dan Madura: Jalan Hemat, Jajan Nikmat"

Pulau Sempu & The Hidden Lagoon (Tips jelajah Sempu)


Ke Malang tanpa ke Pulau Sempu sepertinya nggak afdol. Inilah pulau yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi perbincangan traveler domestik di forum-forum dunia maya mau tuturan antarsatu komunitas traveler ke komunitas traveler lainnya. Inilah pulau yang disebut-sebut Phi Phi Island-nya Indonesia. Phi Phi Island adalah pulau indah di selatan Thailand dan menjadi setting film box office-nya Leonardo Di Caprio yaitu “The Beach”.  Dan hari kedua, seharian penuh saya akan mengeksplorasi pulau ini.
                        Di Sempu, kita akan menemukan laguna tersembunyi yang masih perawan, yang tak kalah indahnya dengan Phi Phi Island. Pulau Sempu sebenarnya adalah kawasan konservasi atau suaka alam yang melindungi kekayaan hayati dan ekosistemnya. Sehingga memang secara infrastruktur, masih belum tersedia secara baik, khususnya untuk tujuan wisata komersial. Mereka yang ingin mengunjungi Pulau Sempu harus mendapatkan izin dan mengisi surat pernyataan. Kebanyakan yang datang ke sana adalah anak muda, dengan keperluan pendidikan pecinta alam.
Bagaimana cara menuju ke Pulau Sempu:
Menuju ke Pulau Sempu menggunakan transportasi umum sangat mudah sebenarnya. Tetapi yang menjadi persoalan adalah waktu. Kita akan banyak membuang waktu bila menggunakan transportasi umum, mengingat angkutan umum selalu ngetem atau menunggu penumpang penuh tanpa batas waktu. Bahkan sampai harus menunggu 2 jam !! seriously, benar-benar wasting time.
Untuk itu, bila memang niat menggunakan transportasi umum seperti yang saya lakukan, maka Anda harus berangkat pagi-pagi sekali. Oya, hari kedua saya sudah pindah hotel, ke Hotel Emma, sebelah utara stasiun, masih di Jl Trunojoyo (baca bagian penginapan). Pagi-pagi benar setelah menitipkan barang, karena check in baru bisa dilakukan siang hari, saya mencegat Angkot tepat di seberang hotel. :
1.      Cari Angkot dengan kode yang memiliki huruf G untuk jurusan Terminal Gadang. Tarif antara Rp 2.500,00 – Rp 3.000,00
2.      Di Terminal Gadang, cari colt L-300 jurusan Turen. Mudah sekali mendapatkannya, begitu turun di Gadang akan banyak yang menawari kita angkutan menuju ke Turen. Tarif Gadang – Turen Rp 4.000,00.
3.      Di Turen, ambil Angkot jurusan ke Pantai Sendang Biru. Di sinilah biasanya titik terlama menunggu penumpang. Namun bila Anda beruntung menemukan Angkot yang sudah penuh, bisa langsung jalan. Tarifnya sekali jalan Rp 12.000,00.
4.      Begitu sampai Pantai Sendang Biru, kita segera mencari perahu menyeberang ke Pulau Sempu yang sudah tampak di depan mata. Rata-rata perahu menerapkan tarif sekali pulang pergi Rp 100.000,00. Bayar di muka, lalu kita minta nomor handphone pemilik perahu. Kita bisa janjian jam berapa akan dijemput kembali, bila terlambat kita bisa memberitahu lewat HP.

TIPS
1.      Saya sarankan bila ke Pulau Sempu datang secara berkelompok. Selain lebih menyenangkan, juga akan ramah di kantong dan tidak wasting time. Misalnya nih, untuk Angkot Turen – Sendang Biru, kita bisa langsung carter sehingga tidak direcoki penumpang lain atau ngetem terlalu lama. Pulangnya, dari Sendang Biru ke Turen, kita tinggal minta dijemput. Demikian juga untuk perahu, dengan berkelompok, kita tinggal sharing Rp 100.000,00 dibagi dengan teman lain.
2.      Pantai Sendang Biru adalah titik terakhir kita menemukan air tawar. Di Pulau Sempu, kita tidak akan menemukan air tawar, sehingga kita harus membawa bekal air minum. Tidak cukup satu botol, tetapi lebih dari itu, karena perjalanan sangat berat dan akan banyak menguras tenaga.
3.      Sarapanlah sebelum melakukan perjalanan ini. Jangan meremehkan kondisi rute di Sempu, karena ini akan benar-benar di luar dugaan Anda, apalagi bagi Anda yang awam dengan petualangan alam liar.
4.      Bila Anda tidak menginap (camping) di Pulau Sempu, dan berniat pulang sore harinya, siap-siap bawa bekal minimal lampu senter. Antisipasi bila Anda kemalaman di dalam hutan menuju kembali ke Pantai Sendang Biru.
5.      Bila dalam rombongan Anda tidak ada orang yang pernah ke Sempu sebelumnya, disarankan untuk menyewa penunjuk jalan yang biasanya ditawarkan di bagian perizinan (biasanya warga sekitar) dengan tarif sekitar Rp 100.000,00.
6.      Pakailah sandal gunung yang mengikat sempurna kaki. Sandal jepit dapat dipastikan akan mudah putus karena medan berat. Bisa juga menggunakan sepatu hiking yang kuat melindungi kaki.
                        Saya datang ke Sempu dengan menggunakan transportasi umum bersama empat orang traveler yang saya kenal dari situs traveler. Kami sepakat melakukan perjalanan ke Sempu bersama. Berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB dari Terminal Gadang. Namun waktu kami habis di Turen, sehingga sekitar pukul 11.00 WIB baru berangkat menuju ke Pantai Sendang Biru.
                        Karena tak ingin kemalaman, kami langsung tancap gas begitu sampai Pantai Sendang Biru langsung saja menyeberang setelah sebelumnya mengurus surat izin di pengelola dengan membayar Rp 10.000,00. Perjalanan menyeberangi laut sekitar 10-15 menit sangat menyegarkan. Tapi jangan senang dulu, karena perjalanan sebenarnya baru akan dimulai beberapa saat lagi.
                        Di perairan dangkal ujung utara pulau itu kami turun. Air setinggi lutut, dan di depan kami banyak traveler lain yang menunggu jemputan perahu untuk pulang. Perjalanan sebenarnya pun di mulai. Batu-batu karang tajam, lumpur, air, akar pohon yang kadang terpotong tajam, menyambut saya. Perjalanan sepanjang kurang lebih 2 km ini benar-benar berat. Kami sengaja tidak menyewa penunjuk jalan karena dua orang di kelompok kami pernah datang ke sini. Tujuan kami adalah hidden lagoon, sebuah kolam besar indah yang dikelilingi batu karang yang menahan Segara Anakan masuk bebas, dan di sisi lain adalah daratan pulau ini.
                        Dan kami salah jalur. Kami yang harusnya bergerak lurus, justru ambil jalur belok kiri. Setelah berjalan satu jam lebih, kami berhenti di sebuah pantai indah dengan karang yang menghalang sebagian ombak Segara Anakan ke pantai. Tapi ini bukan tujuan kami. Lemas sudah. Tetapi bagi kami, bonus tersesat ini tak kalah indahnya. Beberapa saat kami menikmati pantai itu, sebelum akhirnya kembali ke garis awal, dan memulai perjalanan ke hidden lagoon sebenarnya. Rute yang kami lalui bukanlah jalan datar dan bisa dilalui dengan bersiul. Bukan. Ini sebuah rute berat, dengan jebakan lumpur, tajamnya karang, akar pohon yang menyandung kaki, naik turun, pohon tumbang, dan lain sebagainya. Karang akan mudah menyayat telapak kaki kita, demikian juga duri tajam dan akar-akar yang terpotong tajam. Tetapi perjalanan berat antara satu setengah hingga dua jam ini akan terbayar sempurna bila kita sampai di kolam tersembunyi itu. Luar biasa.
                        Di pasir lembut kita bisa merebahkan badan, kita juga bisa langsung berenang di perairan dangkal yang dilindungi karang melingkar. Hanya ada beberapa lubang yang membuat air laut masuk ke kolam raksasa itu. Luar biasa menakjubkan. Bila Anda ingin bermalam, pasti akan lebih menyenangkan lagi. Camping di pinggir pantai dengan kolam pribadi buatan alam yang indah ini.    Seharian itu, saya terpesona dengan keindahan Sempu dengan hidden lagoon-nya, serta bonus satu pantai perawan entah apa namanya atau mungkin bahkan belum dinamai, dan tentu saja Pantai Sendang Biru. Sekitar pukul 21.00 WIB saya sudah tiba lagi di Kota Malang. Malam itu, saya menghabiskan waktu dengan istirahat di hotel.

TIPS
Segala keperluan traveler sudah tersedia di titik Pantai Sendang Biru, mulai rumah makan, kamar mandi untuk ganti, hingga persewaan sepatu boot antiselip. Di Pulau Sempu Anda tidak bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan itu, karena pulau ini adalah pulau konservasi. Untuk itu, penuhilah kebutuhan Anda sejak awal.
Resume hari kedua jalan-jalan di Malang:
Dari Malang kota Terminal Gadang Turen Pantai Sendang Biruà menuju Pulau Sempu untuk hiking dan menikmati hidden lagoon balik ke Malang kota à makan malam di lesehan depan Stasiun Kota Baru Malang.






*Tulisan ini ada di salah satu bab buku saya, "Travelicious Surabaya, Malang dan Madura: Jalan Hemat Jajan Nikmat."

Sunday, August 14, 2011

Pelajaran dari Kazakhstan- cara aman backpacking

Senin, 8 Agustus 2011 lalu, teman baik saya dari Switzerland, Sven Huber, mengirim sebuah email ke saya. Setelah basa-basi sebentar menanyakan kabar, dia baru bercerita, dia mendapatkan serangan dari sekelompok pemuda berandalan saat camping dengan travelmate-nya, Chris Roach dari Australia. Dia tidak cerita banyak, namun copy berita di koran terbitan Almaty, Kazakhstan, membuat saya ngeri juga. 

Ini nukilan berita di koran setempat yang dikirim Sven ke saya:
Almaty, Kazakhstan – World cyclists Chris Roach (Australia) and Sven Huber (Switzerland) were assaulted by a gang of teenage youths early on Monday morning while cycling in Southern Kazakhstan.
The pair were woken by local youths who approached the encampment around midnight. The youths began hurling stones from a nearby river at the tents and bicycles. When confronted, the youths fled but later returned with larger rocks, glass bottles, pieces of Iron and animal bones which became a deluge of flying objects falling around the two cyclists.

After a large rock struck Chris on the head, causing serious bleeding, the youths were chased away a second time while Sven ran to the nearby village to seek help. While alone, the youths returned for a third time bombarding the camp demanding money while blood was streaming from Chris's wound. It was only after the ambulance arrived that the youths fled.

Chris was taken to the emergency department in a nearby town where he received six stitches in the head and treatment for minor cuts and bruises. Sven comments “I have no idea what provoked the senseless attack. I was shocked that the youths continued throwing the objects even after they could see Chris was injured.”.

Chris comments how unfortunate the event was “... it is a real shame that it happened in Kazakhstan where the people have been so overwhelmingly hospitable. The local doctor and ambulance driver were apologising profusely on behalf of their small village.”

Earlier that same morning Chris and Sven were were invited for traditional curd, rice soup and freshly baked bread in a neighbouring village by an old lady with a family of six. Despite the incident Chris reflects, “Kazakhstan is a beautiful country with a remarkable diversity of landscapes and peoples... it really is where the east meets the west!”

Chris is now resting with friends in Almaty and after a brief stop to determine the extent of the injuries, Chris expects to continue his world cycling expedition to Kyrgyzstan, Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan and Iran before arriving in Europe by the end of the year.

With a miniscule budget of $5 USD/day Chris relies on the generosity of others to help him on his way. Chris remarks “The world is a beautiful place full of warm and generous people - something we so easily forget.” ...overwhelmingly there are more positive experiences than negative.” Throughout the Expedition Chris is raising money for Oxfam Australia, an international organisation, working to reduce poverty and injustice. 

Bagaimana bila itu terjadi dengan kita? saat kita backpacking di negeri entah di mana dan diserang gerombolan (bukan lagi seseorang?

Kesalahan/kelengahan teman saya adalah, mereka berada di wilayah yang jauh dari lingkungan penduduk dan tidak memperkirakan akan terjadi serangan tersebut. Berikut ada sedikit tips saya soal bagaimana supaya backpacking kita aman:

  •  Jangan lengah, meskipun di depan Anda terbentang pemandangan super indah dan Anda terpesona, sibuk dengan menikmati keindahan itu. Waspada orang sekitar Anda, tetap pasang mata di barang-barang bawaan Anda.
  •  Bila Anda backpacking di luar negeri, jangan pernah lepaskan paspor dari tangan, jangan ditinggal di hotel. Simpan barang berharga di tempat yg melekat di tubuh.
  •  Simpan uang di wallet belt. Bentuknya seperti dompet, tipis, tetapi cara menggunakannya seperti menggunakan ikat pinggang. Melekat di perut dan anticopet. Bisa di beli di kompleks pertokoan bandara.
  • Jangan menyimpan uang di satu tempat, pisah beberapa bagian. Satu hilang, masih akan memiliki backup.
  • Waspadai orang-orang baru yang tiba-tiba baik dengan Anda. Do not trust strangers too easily !
  • Yang cewek utamanya, inget pesan Ibu hehehe. Jangan keluyuran malam sendirian. Ini sebenarnya juga disarankan buat cowok juga, tetapi memang risikonya lebih besar cewek.
  • Buat cewek, disarankan membawa Pepper Spray, atau semprotan merica, yang efeknya bisa membuat pandangan terganggu dan sesak napas bila kita semprotkan ke orang yang niatnya jahat. Ini bisa dibeli di Indonesia, toko online, harganya sekitar Rp 250.000.
  • Di wilayah-wilayah dan kasus tertentu, terlihat menonjol sebagai turis juga mengundang orang jahat. Cara mengakalinya adalah, blend in dengan lingkungan.
  •  Yang membawa perhiasan atau barang berharga, bisa di simpan di safe deposit box yang ada di hostel atau hotel sebagai bagian dari fasilitas. Biasanya gratis.
  •  Catat emergency number seperti nomor polisi, rumah sakit, ambulance, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan.
Itu setidaknya beberapa hal yang bisa kita persiapkan dan lakukan untuk mengantisipasi kejahatan yang mungkin terjadi pada kita saat backpacking. Ingat, destinasi indah tidak akan membawa kemanfaatan apapun bila kita tidak aman. Selamat berpetualang !

Regards,
A

Thursday, August 11, 2011

Passport by Rhenald Kasali

PASSPORT

Oleh Rhenald Kasali
* [Jawapos, 8 Agustus 2011]

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.
*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.
*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.
Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan di antaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang
yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.
Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan passportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri. 
* The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki passport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. 
Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti
menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya passport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan
kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipassportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.
Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki
pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara. 

*Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia *

Wednesday, August 10, 2011

Backpacking itu tidak asal jalan, tapi perlu skills

Saya ingat sekali saat seorang teman menyebut "backpacker" yaitu orang yang melakukan "backpacking" sebagai sesuatu yang valuenya tidak sembarangan, sehingga dalam ungkapan dia tersirat, kalau kita sudah pernah berkelana, berpetualang, maka belum bisa kita menyebut diri kita sebagai backpacker. Seakan itu tahta tertinggi pencapaian seorang traveler. Duh.

Versi saya? Saya tidak setuju dengan kalimat itu atau opini dia. Tidak ada standar seseorang bisa/boleh/berhak menyebut dirinya backpacker. Ini hanya cara kita menikmati perjalanan, jadi bukan soal mencari gelar. Jadi tidak perlu ribet memikirkan apakah kita backpacker atau bukan. Saya pribadi sering merasa risih saat orang menyapa saya dengan embel-embel bahwa saya seorang backpacker. Bukan. Kenalkan, nama saya Ari, kerjaan saya nulis buku dan menikmati hidup dengan  cara saya (termasuk traveling). Saat saya melakukan perjalanan, bolehlah orang menyebut saya backpacker, tapi saat saya melakukan kegiatan sehari-hari saya, ya saya kembali menjadi Ari, orang yang kerjaannya nulis buku dan menikmati hidup dengan cara saya (termasuk traveling). "Backpacker" itu bukan  label kayak orang naik haji, pulang dari Tanah Suci gelar haji itu melekat selamanya. Bukan begitu cara kerjanya, setidaknya menurut saya.

Nah, kok saya jadi sewot? Iya, suka sebel saja dengan orang-orang yang sirik dengan berkata seolah-olah saya dengan sengaja menyebut diri saya backpacker handal. Padahal menurut dia saya belum berhak. Oh tidaaak. Saya tidak gila gelar, julukan, etc. Lihat saja di buku saya, apakah saya mencantumkan gelar sarjana saya? Tidak. Jadi soal disebut saya backpacker atau bukan ya bodo amat. Kan yang melabeli itu bukan saya, tapi orang lain. Jadi ya whatsoever atuh !!
Keuntungan punya blog tuh gini nih. Mau nulis tips pun bisa curcol dulu tanpa orang bisa menginterupsi. Hahahaha. Baiklah, ini bagian seriusnya. Jadi, bagi Anda yang mau backpacking, ada banyak aspek yang mungkin perlu Anda persiapkan, terkait keamanan diri, harmonisasi alam-manusia, serta kenyamanan. Dalam banyak hal yang terjadi dalam backpacking saya, ada skills yang menurut saya harus dimiliki Anda yang ingin melakukan backpacking. Sangat relatif, tetapi setidaknya ini menurut saya:

1. Anda harus menjadi orang yang memiliki kontrol diri yang kuat, tidak panikan. Menurut saya ini bisa dilatih kok. Hal ini menurut saya penting, misalnya Anda kehilangan sesuatu, dompet, uang, paspor, atau yang lainnya, Anda harus bersikap tenang. Pergi ke kantor polisi terdekat dan melaporkan musibah yang menimpa Anda. Antisipasi tentu penting, tapi kadang sudah diantisipasi pun kita masih sial ya. Ketenangan adalah modal yang kuat untuk mendapatkan solusi dari setiap masalah Anda. 
Contoh yang saya alami:
  • Backpacking pertama saya yang melintas dari Singapura ke Malaysia overland dengan menggunakan Kereta Api (KA) membuat saya tertahan agak lama di imigrasi Malaysia. Saya ditanya macam-macam, masuk lewat mana? kenapa memilih naik kereta api? pulang kapan? di Kuala Lumpur tinggal di mana? plus tatapan tidak mengenakan dari petugasnya. Cukup lama saya menjalani pemeriksaan ini. Harus marah? Tidak perlu. Marah hanya akan membuat saya mengalami masalah lain. Petugas itu hanya menjalankan tugas, termasuk menjaga kemungkinan masukknya pekerja ilegal dari Indonesia, yang mungkin saja itu saya.
  • Saat naik bus dari Chiang Mai menuju ke Tachileik, Myanmar, saat berada di toilet, pintu toilet digedor-gedor dari luar. Saat saya keluar, ternyata tentara Thailand sudah berada di depan pintu. Bertanya kepada saya dengan bahasa yang tidak saya pahami. Yang bisa saya lakukan adalah menyerahkan paspor saya untuk diperiksa. Selesai, habis itu dia pergi. Terganggukah saya? pastinya. Marah? gak berani, dia bawa senjata :)
  • Di Imigrasi Bangkok, backpack saya yang segede bagong ditahan. Saya diminta (dengan dibentak-bentak) membuka semua backpack saya. Duh apalagi ini, padahal sudah rapi sekali saya packing. Baru kemudian ketahuan saya yang bego. Ada korek api gas bergambar naga yang saya beli di Nanning, China, terselip di bagian paling bawah backpack saya. Korek api gas tidak boleh masuk ke dalam pesawat. Oleh-oleh buat kakak ipar saya itupun harus lenyap masuk ke kotak imigrasi. Marah? pengen bangeeeeet. Tapi gak berani hahaha.
2. Kemampuan navigasi, mengingat arah, adalah salah satu kemampuan yang bisa kita latih supaya tidak tersesat. Membawa peta adalah penting, mempelajari calon medan juga perlu. Tetapi kadang tersesat juga. Saya pribadi tidak pernah benar menentukan arah mata angin. Peta selalu saya bawa, tetapi tersesat masih juga. Salah satu hal yang saya lakukan adalah mengingat gedung. Ini sangat berguna supaya kita tidak tersesat. Setiap intersection, blok, atau belokan tertentu, saya selalu menghapalkan gedung-gedung tertentu. 

3. Kemampuan survival adalah hal lain yang penting. Apa yang akan Anda lakukan saat tiba-tiba migrain Anda kumat di tengah jalan-jalan? Itu terjadi pada saya. Migrain saya bukan sembarang migrain, kadang bisa sampai pengen tepar, muntah-muntah, kayak mau pingsan. Untung di kantong saya ada aspirin. Atau saat mencoba makanan baru, perut gak cocok, mencret-mencret, apa yang Anda lakukan? Ahh...untung saya bawa obat sakit perut. Kok serba untung? Nah, ini untung bukan sembarang untung. Ini karena saya mempersiapkan segala sesuatunya sebagai bagian dari cara bertahan hidup. Plester antiluka, minum vitamin sebelum berangkat dan saat berangkat, adalah hal penting lainnya. Tapi saya pernah kena apesnya juga. Gara-gara nginep di bandara LCCT yang super dingin, saya masuk angin. Di Chiang Mai, Thailand, esok harinya, saya diantar teman ke klinik untuk beli obat. Oughhh...BIG NO NO !!.
Kemampuan survival tidak cuma soal keselamatan, tetapi juga makanan. Jangan pernah mengentengkan sarapan, meskipun sedikit. Saya, meskipun nggembel, tetap makan teratur tiga kali sehari. Minuman dalam kemasan juga selalu nangkring di salah satu bagian backpack saya. Selain semua hal itu, saya juga sudah siap nomor polisi, rumah sakit, nomor kontak teman-teman yang kemungkinan bisa saya hubungi saat situasi darurat.

4. Beretika. Ini salah satu hal yang tak kalah penting. Beretika terhadap alam, jangan merusak, jangan nyampah sembarangan. Beretika terhadap budaya, menghormati budaya setempat. Beretika terhadap aturan, kalau memang aturan suatu daerah/negara berbeda, ya ikuti aturan itu atau kita terkena masalah.

5. Manajemen keuangan. Kemampuan ini juga penting. Karena bila salah perhitungan, para gembel seperti saya bisa-bisa terdampar di negeri antah berantah entah di mana, tanpa minum tanpa makan. Di awal, saat duit masih penuh, banyak, jangan lapar mata. Jangan asal beli barang bagus dan murah. Ada setan di perut dan mata Anda, jangan asal mencoba makanan baru. Karena siapa tahu, Anda sedang kesetanan dan pada akhir perjalanan menjadi manusia paling menderita gara-gara duit habis hahahahah. Hati-hati benar memanage keuangan Anda.

Itu sedikit tips kecil dari saya. Semoga berguna dan selamat berpetualang.

regards,

A



Friday, August 5, 2011

Cari Travelmates Tuh Gampang-Gampang Susah

Saya beberapa kali mendapatkan pertanyaan, kalau traveling atau backpacking bareng itu idealnya berapa orang? Pertanyaan yang sederhana, namun disadari atau tidak, ini substansial banget, yang akan menentukan apakah perjalanan kita menjadi menyenangkan atau malah menjadi bencana.
Mencari travelmates, travelbuddy, travel companion, teman perjalanan atau apalah namanya memang gampang-gampang susah. Saya mau sharing pengalaman saja, saya sering melakukan solo traveling, berdua, bertiga, hingga bersebelas orang. Banyak pengalaman yang saya pelajari dari perjalanan-perjalanan saya itu, nah...saya ingin berbagi dengan Anda semoga berguna. Ini memang sangat relatif, bagi beberapa orang akan sama, tetapi bagi orang lain berbeda. Tetapi setidaknya bisa jadi antisipasi.
Sebenarnya, dalam banyak traveling, saya melakukannya sendirian. Enaknya solo traveling adalah, saya bisa melakukan apapun sesuka saya. Mau tujuan kemanapun, ganti itinerary, ketemu siapapun, makan dan tidur di manapun, itu hak prerogative saya. Tapi gak enaknya, kadang butuh tukang foto, dan sungkan untuk meminta bantuan orang lain hahahaha. Selain itu, gak bisa sharing budget, kalau di terminal, stasiun atau bandara tidak ada orang yang jagain barang-barang pas mau ke toilet. Alhasil, kadang-kadang sedikit boros juga. 
Solo traveling memang nikmat, tetapi saya sarankan, kalau Anda memiliki teman baik, yang sudah seperti sehidup semati, atau udah kenal baik wataknya, bisa deh dijadikan travelmates. Tetapi, sekarang ini, banyak juga orang yang mencoba mencari travelmates secara random di grup-grup traveler dan backpacker gitu, nah itu juga harus hati-hati. Alih-alih ingin mendapatkan travelmates, malah liburan Anda bertuah bencana.
Ini tips mini dari saya soal memiliih Travelmates:
1. Paling nikmat adalah traveling berdua. Dengan pacar disarankan. Dengan best friend juga boleh. Intinya sudah saling memahami satu sama lain, tau pahitnya dululah tentang orang itu. Kalaupun akan terjadi pertengkaran, itu mah paling benci tapi rindu :), pagi berantem, sore udah ngopi bareng.

2. Kalaupun lebih dari dua orang, saran saya sih bertiga. Apalagi kalau perjalanan Anda adalah perjalanan on budget, uang mepet mampus. Satu hal "Lapar, capek, duit mepet" adalah potensi besar amarah emosi dan darah tinggi. Nah, kalau dua orang berantem, setidaknya ada orang ketiga yang bisa menengahi. Terus kalau ribut menentukan sesuatu, setidaknya ada orang ketiga yang bisa diajak voting.

3. Jangan traveling dengan pasangan yang lagi pacaran. Ini memang relatif, tetapi kalau kebetulan dapat pasangan egois, kau akan dikacangin. Kalau berantem, kau akan dikeroyok :)

4. Kalau perjalanan on budget, dan mau ada sharing, di awal harus disepakati kepentingan masing-masing. Jangan pulang-pulang nanti masih ada yang nggerundel "Kamu kan masih bawa duitku!!"

5. Bikin perencanaan perjalanan yang jelas. Cari travelmates yang mau komitmen dengan prinsip keputusan tertinggi adalah keputusan bersama. Jadi kalau ada yang mau melanggar, siap-siap kena risiko ditinggal grup.

6. Bagi cowok, kadang traveling bareng cewek itu sudah dibayangkan akan menyenangkan. Pasti akan menyenangkan kalau ceweknya tidak manja, tidak ribet. Tetapi perhatikan benar, kalau di awal sudah sering komplain, maka siap-siap liburan akan menjadi neraka. Kalau nggak jadi tukang foto dadakan yaa paling  jadi porter alias tukang angkat-angkat barang. Tapi kalau mau (atas nama cinta...atau memujanya) ya monggo saja hahaha.

7. Bedakan antara petualang/penikmat dunia dengan turis. Ini akan menentukan sukses tidaknya traveling bareng. Petualang lebih cenderung adalah orang yang easy going. Mau makan di pinggir jalan hayooo...mau tidur di bandara hajar sajaa, mau jalan jauh mariii, mau naik bus atau kereta kelas tiga tidak masalah. Tetapi turis biasanya mereka yang menikmati sekali perjalanan, makan dan penginapan memilih, gak mau jalan kaki dan lebih suka kemana-mana naik taksi, dan sangat menikmati kunjungan ke touristy places sementara di jalan akan banyak tidur. Nah, pilih-pilih benar mana yang sesuai dengan kepribadian Anda.

8. Cari Travelmates yang positive thinking. Karena segala hal negative, termasuk soal pikiran, akan membuat liburan Anda berantakan.

Itu sedikit tips saya. Dalam perjalanan, saya pernah mengalami situasi tidak enak, berantem, kubu-kubuan, dan sebagainya. Ini pelajaran yang saya sharing buat Anda. Selamat mencari travelmates Anda ! :)

regards,
A

Saturday, July 16, 2011

Kamar gratis di Guangzhou: Pietro's Apartment

Ini cerita lain saya numpang tinggal di tempat orang, jauh di Negeri China, tepatnya di Kota Guangzhou. Mencari kamar gratis itu gampang-gampang susah. Contohnya pengalaman saya di China pada Februari 2010 lalu ini. Jauh-jauh hari, sebenarnya saya sudah merasa tentram bahagia dan sentosa, saat seorang warga Guangzhou yang baru saja bergabung dengan situs jaringan traveler dan backpacker dunia, Couchsurfing, semangat sekali untuk menampung saya. Dia sudah menyediakan tempat tinggal di mess kantornya, yang kata dia lagi kosong karena orang kantor pada mudik merayakan Tahun Baru China. Setidaknya itu yang dia katakan di pesan-pesan yang dikirim ke saya. Pokoknya gembira sudah.
Yang di luar pemikiran saya adalah, ini anak adalah orang baru di Couchsurfing. Tidak ada pengalaman, profilenya juga seadanya, dan tidak memiliki referensi sama sekali dari orang yang pernah ketemu dia atau tinggal di tempatnya. Atau bahkan mungkin dia belum pernah menampung orang.
Dan benar juga, di last minute, dia membatalkan melalui pesan, dan saya kelimpungan karena belum juga booking hostel atau penginapan lain. Saya menemukan pesan pembatalannya saat saya sudah berada di Kuala Lumpur. Duh, padahal besok pagi-pagi saya sudah harus terbang ke Guangzhou, gawat kalau belum mendapatkan tempat tinggal.
Akhirnya, di Kuala Lumpur, saya berinisiatif mengirimkan pesan secara terbuka di group Guangzhou, meminta bantuan bila ada member Couchsurfing yang di Guangzhou memiliki space sedikit untuk saya tinggal. Lucky me, saya mendapatkan dua respons sekaligus dari dua orang Italia. Pesan pertama datang dari Pietro Mincuzzi, laki-laki 50 tahun yang gemar sekali memasak, dan pesan kedua dari Giorgia Crivelarro, cewek Italia yang bekerja di kedutaan besar Italia di China.
Karena pesan yang duluan datang dari Pietro, maka saya memutuskan tinggal di tempat Pietro. Apalagi di sini saya bisa tinggal tiga hari. Sementara di tempat Giorgia hanya sehari, karena hari berikutnya dia akan bepergian ke luar kota. Namun, demi menghormati Giorgia yang sudah menawarkan kebaikan hati, saya mengajaknya makan malam di hari kedua di Guangzhou, dan dia menyambut baik.
Singkat cerita, kami bertemu di seberang Gedung Ikea, Guangzhou, kawasan dekat Guangzhou East Railway Station. Apartemen Pietro berada satu gedung dengan Ikea. Ini adalah apartemen mewah dengan design interior khas Italia. Apartemen Pietro sangat hangat, begitu masuk dari pintu kecil berteralis besi, kita langsung menemukan Dapur Italia milik Pietro. Satu set kursi dan meja makan dari kayu, rak berisi toples aneka bumbu dapur khas Italia, aneka macam snack buatan Pietro, sementara satu pintu di samping menghubungkan ke dapur kecil tempat memasak. Satu ruangan dengan ruang makan ini, langsung ada dua sofa hangat dengan meja rendah. Mepet di tembok penyekat, terdapat rak memanjang dengan aneka hiasan cantik, dan tak ketinggalan aneka roti kering di bungkus plastik buatan Pietro. Satu set piano berada di pojok, sementara jendela kaca rendah membuat kita bisa melihat jalanan di luar dari lantai 10. Ruangan lain adalah ruang kerja Pietro, kamar tidur utama, serta kamar tidur tamu dengan dua beds, serta toilet tamu yang berada di luar.
Ini apartemen mewah yang pernah saya masuki sepanjang hidup saya. Dan Pietro memberikan kesempatan saya untuk tinggal. Dan....selain saya, ternyata ada beberapa backpacker bule dan China yang dia tampung hehehe. Maka, malam pertama, saya dengan senang hati tidur di sofa. Besoknya, tamu lain sudah cabut sehingga kamar kosong. Dan saya pun mendapatkan kamar. Tetapi, kediaman Pietro tidaklah sepi, karena dua orang cabut, ternyata hadir lagi tiga orang lainnya hahaha. Satu bule Canada, dan backpacker lokal. Total jenderal, di apartemen itu tinggal enam backpacker, menyenangkan sekali. Kami yang tidak kenal satu sama lain akhirnya mulai belajar mengenal, berbagi, bersenang-senang, hingga traveling bareng ke penjuru Kota Guangzhou.
Satu hal yang saya pelajari dari tinggal di tempat Pietro adalah, tidak ada basa-basi. Pietro orangnya sangat tegas. Dia menawari saya makan malam dengan biaya tertentu, tetapi bila saya tidak mau dan ingin makan di tempat lain, dia mempersilakan dan memberikan kebebasan. Bayangkan bila itu di Indonesia, pasti serba sungkan dan lain sebagainya, sehingga mau tidak mau kita akan menuruti tuan rumah. Kita benar-benar diberikan pilihan untuk mengeluarkan pendapat, meskipun itu bertentangan dengan pendapat tuan rumah sekalipun.
Saya juga diajari cara memasak kue-kue kering dari Italia. Sejujurnya, saya tidak paham dan sudah yakin tidak akan pernah bisa. Namun, saya menikmati proses ini. Lain hari, kami berkumpul dengan teman-teman backpacker, sharing pengalaman, budaya, dan foto-foto gila. Tidak ada gap sama sekali, meskipun usia Pietro sudah cukup tua.

Well, udara dingin menggigit pada medio Februari 2010 di Guangzhou itu seakan tidak lagi terasa berkat keramahan Pietro dan teman-teman backpacker lainnya. Salah satu moment indah dalam backpacking saya.

Anda tertarik mencoba? Selamat berpetualang...

Tuesday, July 12, 2011

Kamar gratis di Singapura: Mark's Apartment

Suatu hari saya gembira, saat mendapatkan pesan ini:


Yes, sure, you can surf my couch from August 14 to 16. Do you have confirmed flight schedules yet, and will you coming directly from and going back to your town directly or will you be having other stops? More info will make it easier for me to suggest things for you to do while in town.

As for the movies you mentioned, I have seen Schindler's List just once, in a moviehouse, back in1994. It's powerful albeit rather depressing. Btw, about the couch, it's in the movie room, andhopefully you don't  need heated showers--I never bothered to install the heater in my apartment.


Cheers,


Mark

Tentu saya gembira, karena dari sekian banyak permintaan izin tinggal yang saya kirim di organisasi traveler dunia, yaitu Couchsurfing (baca di bagian artikel hunting penginapan murah & gratis), hanya Mark yang merespons positif.

Lalu kenapa dengan film yang saya sebutkan itu?  Hahaha... Mark memberikan aturan lucu sejak dia adalah penggemar berat film. Film memang membuat saya menjatuhkan pilihan untuk mengajukan izin tinggal di apartemennya. Dia memberikan aturan, orang yang ingin menginap di apartemennya harus memberikan alasan kenapa dia harus menerima orang itu, dan menyebutkan tiga judul film kesukaan calon tamunya hahaha. 

Nama lengkapnya adalah Mark Yu. Dia adalah orang Filipina yang bekerja di Singapura. Tinggal di salah satu apartemen di lantai 18, kawasan Holland Road. Saya mengenalnya di Couchsurfing, dan saya melihat banyak kesamaan, yang paling jelas adalah kami sama-sama pecinta film, selain sama-sama tidak suka clubbing meskipun termasuk manusia malam.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri dan ke Singapura, yaitu tahun 2009. Mark sangat membantu sekali. Meskipun tidak bisa menjemput saya di Changi Airport, namun dia selalu membimbing saya melalui hp, tentang apa-apa yang harus saya lakukan. Dia masih kerja saat saya tiba di Singapura. Dia meminta saya menuju kantornya, untuk menitipkan barang-barang. Namun, karena saya tidak membawa banyak barang, saya menolaknya, dan memilih bertemu setelah dia pulang dari kantor, supaya tidak merepotkan dia.

Selepas pukul 18.00, saya bertemu Mark. He's a great guy, yang menyambut saya dengan keramahtamahan Filipinanya. Dia sangat santun, meski di rumahnya sendiri. Dan....saya mendapatkan kamar mewah di private movie's room-nya. Hollaaa :)

Kamar ini menurut saya mewah. Ada couch yang bisa ditarik jadi bed, dengan kasurnya yang empuk. Di sebelah kanan terdapat satu rak full dvd original aneka jenis film. Layar lebar berada di depan, sementara sekeliling saya banyak tertempel poster film.....ougggh, it's heaven !! Oya, AC-nya dingin sumpah :)

Di hari pertama, Mark langsung mengajak saya nonton film. Meski agak capek, saya menghormati tuan rumah dan ikut nonton.

Saya tinggal di apartemen Mark selama dua malam for free. Saya sangat menikmati kebersamaan kami, karena Mark tipikal orang pintar, analitis, dan pendengar yang baik. Kami berbincang soal budaya Filipina, film, hingga kenapa banyak koruptor melarikan uang ke Singapura.

Lebih dari itu, tinggal di apartemen Mark membuat saya mengerti sekali bagaimana warga Singapura non-kaya tinggal. Beberapa kali saya mendengar suara berdebam di apartemennya, dan Mark bilang, itu adalah kantong sampah yang dilempar penghuni apartemen yang tinggal di atas, dan meluncur ke bawah melalui lorong khusus yang melewati setiap lantai hahaha...
Saya juga menyadari benar, ternyata ruang tinggal di Singapura sangat terbatas. Apartemen Mark terdiri dari dua kamar, satu adalah kamar Mark, satu movie's room, satu ruang tamu kecil, satu dapur (sekaligus ruang cuci, ruang makan, dan kadang digunakan untuk Mark bekerja), serta satu kamar mandi sempit dan toilet sempit. Pintu apartemen tertutup rapat dengan teralis besi melingkupi seluruh daun pintu. Hanya ada lorong sempit, sejengkal saja, di depan pintu itu. Jadi jangan berharap duduk layaknya di balkon, menikmati pemandangan saking sempitnya. 

Pengalaman tinggal di apartemen Mark adalah pengalaman berharga. Saya tidak kenal dia sebelumnya. Kami hanya mengenal melalui Couchsurfing, dia percaya saya, saya percaya dia. What a simply beautiful life. Malam terakhir, kami berfoto-foto di apartemennya bersama beberapa teman. It was fun. 



Pelajarannya adalah: bertemanlah, positive thinking, dan hidup akan mudah dan indah !


Selamat berpetualang....


Sunday, July 10, 2011

Hunting penginapan murah & gratis: Hostel versus Hospitality Exchange

Dalam backpacking, saya menggunakan dua cara untuk mencari penginapan murah atau pun gratis. Berikut pengalaman saya, sebagaimana saya tulis dalam buku pertama saya "Rp 2 Jutaan Keliling China Selatan dalam 16 Hari". Untuk penginapan, saya merencanakan dua hal. Pertama, menggunakan sarana hospitality exchange organization, untuk mendapatkan teman dan tempat tinggal di daerah yang akan kita tuju secara gratis. Kedua, menginap di hostel untuk para backpackers yang memang terkenal murah
Untuk hostel, ada banyak hostel murah yang ditawarkan secara online. Beberapa di antaranya sudah terkenal sebagai jaringan hosteling international yang memiliki hostel di berbagai negara. Sementara dengan cara hospitality exchange, siapapun bisa melakukannnya, kita cukup bergabung menjadi anggota dari hospitality exchange organization secara gratis, kemudian mulailah kita berselancar mencari anggota lain yang sekiranya bisa membantu kita, termasuk persoalan akomodasi. Jadi, bukannya karena saya memiliki teman di kota dan negara yang kita tuju sebelumnya. Ini benar-benar orang baru yang akan kita temui dan kita akan tinggal di tempatnya.
Kenapa saya menggunakan keduanya? Karena tidak ada jaminan kita bisa mendapatkan free accommodation melalui hospitality exchange, sehingga kita perlu backup hostel. Dua organisasi hospitality exchange yang sudah cukup terkenal adalah www.hospitalityclub.org dan www.couchsurfing.org. Saya bergabung dengan keduanya sejak akhir 2008.  Bila kita belum jadi member-nya, gampang, tinggal sign up saja. Tidak perlu jadi member bertahun-tahun untuk bisa menikmati sistem hospitality exchange. Intinya, situs ini adalah jejaring sosial yang memungkinkan orang dari berbagai belahan dunia untuk bertemu, membantu satu sama lain, berinteraksi dan menikmati cultural exchange. Dengan menjadi anggotanya, kita bisa mencari anggota di wilayah yang akan kita tuju, dan bila memungkinkan tinggal di tempatnya. Ada tipe anggota yang hanya sekadar ingin meet and drink ada pula yang siap menjadi host (tuan rumah) bagi kita, sehingga kita bisa tinggal di rumahnya. Dua-duanya sangat membantu kita. Lebih dari itu, it’s gonna be fun! Tidak ada aturan-aturan khusus kecuali kesepahaman satu sama lain. Semangatnya sih lebih dari sekadar memberikan akomodasi secara gratis, tetapi membuat perubahan yang lebih baik bagi planet kita. Itu setidaknya yang saya tangkap.
Bila saya bisa mendapatkan free accommodation, maka saya tidak perlu merogoh kocek buat hostel. Bila memang hingga last minute tidak mendapatkan tempat juga, maka kita perlu booking hostel. Saya selalu menerapkan ini. Jika hingga H-1 keberangkatan saya tidak juga mendapatkan jawaban atas request saya melalui dua situs itu, saya akan booking hostel secara online. Setidaknya membuat saya merasa aman, bahwa saya tiba di suatu negara dan sudah ada tempat yang akan dituju. Ini juga penting, karena imigrasi negara yang kita tuju biasanya akan bertanya di mana kita akan tinggal selama berada di negara tersebut.
Hostel bisa di-booking melalui sejumlah agen online. Misalnya di www.hostelbookers.com atau www.hostelworld.com. Kita tinggal klik negara dan kota tujuan, kemudian akan tersaji sejumlah alternatif hostel lengkap dengan fasilitas, harga kamar, reviews dari orang-orang yang pernah menginap di sana, foto-foto kondisi kamar dan fasilitas, hingga peta menuju ke lokasi yang bersangkutan. Booking bisa dilakukan dengan menggunakan kartu kredit, dan kita hanya perlu membayar deposit 10% secara online, dan membayar sisanya pada saat check in. Dalam beberapa kali saya melakukan transaksi dengan kartu kredit untuk booking hostel, tak sekalipun saya mengalami persoalan. Sehingga tidak perlu khawatir soal ini.

TIP:
1.                  Bila kita booking hostel secara online melalui kedua agen yang saya sebut di atas, kita akan disuguhkan sejumlah hostel yang harganya selisih sedikit satu sama lain, dengan fasilitas yang sama-sama komplitnya. Jangan buru-buru memutuskan mengambil yang harganya paling miring. Tetapi klik dulu di kolom overview, ratings and reviews, serta maps and direction. Penting untuk membacanya! Di overview kita bisa melihat fasilitas yang ditawarkan, di ratings and reviews kita membaca testimoni mereka yang pernah tinggal di sana, termasuk testimoni yang berupa keluhan sekalipun akan dimuat sehingga Anda bisa mendapatkan informasi yang seimbang. Sementara tak kalah penting adalah maps and direction, sesulit apa kita bisa mencapainya dan apakah lokasinya cukup strategis. Bandingkan satu sama lain! Keputusan didasarkan pada kebutuhan Anda. 
2.                  Booking hostel secara online sangat menguntungkan. Apalagi bila dalam kondisi high season. Karena bila kita melakukan secara go show, asal datang terus tanya kamar, sangat berisiko tidak mendapatkan kamar. Buntutnya, Anda harus bingung ke sana ke mari cari hostel (kalau ada) bahkan mungkin harus menginap di hotel, dan proses mencarinya pasti lebih banyak menggunakan taksi. Artinya, lagi-lagi Anda akan buang-buang duit.

Bagaimana bila menerapkan hostel dan hospitality exchange sekaligus? Saya menerapkan untuk mencari free accommodation terlebih dahulu hingga last minute sebelum keberangkatan saya ke kota yang bersangkutan. Bila hingga last minute saya tidak mendapatkan kejelasan soal free accommodation, maka saya akan langsung booking hostel secara online. Bisa jadi jawaban untuk free accommodation terlambat karena tidak setiap saat kita online di internet. Misalnya setelah kita tiba di kota yang bersangkutan dan telanjur booking hostel kita baru mendapatkan jawaban soal free accommodation dari anggota hospitality exchange organization yang kita tuju. Dengan kondisi ini saya akan memilih tinggal secara free dengan mereka dan menghanguskan deposit yang sudah saya bayar di hostel. Deposit untuk hostel yang harus kita bayar rata-rata antara $ 1 - $ 2  tergantung harga kamar. Memang terkadang sayang uang segitu kita buang. Namun di sisi lain, kita tidak harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sisanya. Prinsip efisiensi sangat penting di sini.
Saya selalu menikmati proses cultural exchange dengan orang-orang lokal. Saya mendapatkannya dengan sistem hospitality exchange. Kita bisa tinggal di keluarga setempat, mengetahui cara hidup mereka, budaya mereka.  Tetapi bukan berarti tinggal di hostel kita tidak bisa menikmati cultural exchange. Bila kita memilih kamar dorm, semacam asrama, maka sangat memungkinkan kita berinteraksi dengan  backpackers dari berbagai negara yang tinggal satu kamar dengan kita. Bagi saya, dalam backpacking, yang paling mengasyikkan adalah proses berinteraksi dengan orang lain dan cultural exchange. Saya menikmati benar proses ini. Destinasi indah adalah hal kedua yang menjadi pelengkap.
Saya menikmati setiap culture shock yang saya alami atau yang dialami orang yang berinteraksi dengan saya. Saya melihat perbedaan cara adalah sesuatu yang indah, dan ketika saya kembali ke rumah dan menceritakan perbedaan-perbedaan ini kepada teman dan keluarga, mereka menikmati cerita saya. Bahkan saya terkadang curiga, jangan-jangan mereka lebih menikmati cerita saya daripada souvenir yang saya bawakan sebagai oleh-oleh ? Hehehehehe.
          
Selamat berpetualang.....

Thursday, June 30, 2011

Kemewahan hotel Rp 65.000 ala Sumenep

Penginapan kerap menjadi persoalan substansial saat kita traveling. Apalagi kalau destinasi kita adalah kota kecil, atau daerah yang bukan termasuk kategori kota besar. Saya sudah membayangkan, saya akan tidur di sebuah hotel murah dengan bangunan kuno, kasur lepek dengan berbagai macam noda (yaiks !!) dan toilet yang kotor, saat mengunjungi Sumenep, Madura beberapa waktu lalu. Bukan, ini bukan persoalan di Madura saja, hampir semua kota kecil begitu. Apalagi kalau mencari hotel murah.
Di Pacitan saya menginap di hotel yang super jorok, sehingga tidur pun saya harus beralaskan baju-baju kering saya dan tidak berani masuk ke kamar mandi (saking joroknya) berlama-lama. Di Cirebon, saya juga menemukan hal sama. Di Solo, juga, bahkan juga di Jogja. Lalu kenapa tetap menginap? Harga murah jawabannya.
Memang itulah salah satu masalah yang harus dihadapi saat kita backpacking. Kalau di luar negeri, saya memilih tidur di bandara yang jauuuuuh lebih bersih daripada hotel di Pacitan atau kota-kota kecil lainya itu hehehe, toiletnya sekalipun. Nah, kembali ke Sumenep, saat itu saya sudah berencana menginap semalam. Ada banyak daftar hotel yang sudah saya catat. Rencana saya, akan menyurvei satu persatu, kemudian menentukan pilihan. Hotel sasaran saya adalah hotel di bawah harga Rp 100.000/ per malam.
Masuk ke gerbang pusat kota Sumenep, di arah kiri saya tiba-tiba saya ada neon box biru bertulisan hotel murah dengan rate Rp 35.000 per malem. Serius? awalnya saya sangsi. Apalagi neon box itu berada di depan sebuah bangunan cukup megah bercat putih. Tanpa ba-bi-bu lagi saya mampir. Nama hotelnya adalah Hotel Mitra Land, Jl Trunojoyo 191, Gedungan, Sumenep. Telp-nya? nih saya kasih sekalian 081216409991. Jangan salah ya, saya tidak diendorse pihak hotel, jadi ini artikel tidak berbayar hehehe.
Saya terkesima lho dengan harganya. Sumpah. Saat jalan-jalan, kalau memilih tinggal di penginapan atau hotel, saya selalu mencari harga termurah. Namun demi melihat harga termurah di hotel ini sudah sangat rendah, saya sudah sok aja naikin budget, milih harga yang lebih tinggi. Berapa harga yang lebih tinggi versi saya itu? Rp 65.000 !!! hahaha...sebuah kemewahan.

Padahal, dalam situasi berbeda, saya pasti akan mencari harga termurah. Dan harga termurah di hotel itu sebenarnya fasilitasnya cukup memadai bagi backpacker: Rp 30.000, kamar dengan fan, ada TV lho, hanya kamar mandi di luar. Lebih dari cukup bagi saya yang sudah terbiasa tidur di bandara dan stasiun kereta api Di atas itu ada kamar seharga Rp 40.000/ malam, Rp 50.000/malam. Jangan membayangkan kamar yang jorok, bangunan kuno, mebel jadul kepaksa (artinya bukan karena mebel antik), AC ngorok, dan lain sebagainya. Ini hotel model bangunan modern bercat putih bersih, bangunannya baru, kamarnya juga bersih dengan banyak matahari masuk. AC-nya? kenceng dan AC model baru. TV-nya? berwarna pastilah, cuma ukurannya kecil (kita jalan-jalan bukan mau nonton tivi kan? LOL). Bagaimana kasurnya? bagus, dengan bed yang masih empuk padat, sprei putih bersih. Kalau interiornya? simply beautiful Sederhana, tapi rapi dengan gaya minimalis. Bagaimana toiletnya? meski tidak western toilet, tapi tetap bersih kok. Gak ada tuh kerak-kerak menjijikan dan lain sebagainya.
Di resepsionis kita bisa membeli snack murah seperti emping melinjo, kacang mete, dan berbagai macam keripik dengan harga mulai Rp2.000,00 per bungkusnya. Lokasinya juga gampang ke spot-spot utama di Sumenep. Sayangnya hanya satu, tidak disediakan minum dan sarapan. Tapi come on....murah ini masih mau "kemewahan" lagi?  Singkat kata, ini hotel paling best-lah buat backpacker. Sudah the best, masih pakai paling lagi.

Terus kenapa saya mati-matian merekomendasikan hotel ini? Karena itulah ganjaran yang harus diterima pemilik dan pengelola Hotel Mitra Land Sumenep saat mereka memberikan harga terbaik dan fasilitas maksimal bagi backpacker. Bisa jadi contoh tuh buat pengelola hotel lainnya. :)