Friday, December 9, 2011

Inilah para peraih Indonesia Tourism Award 2011

Indonesia Tourism Award (ITA) adalah salah satu ajang bergengsi pelaku industri pariwisata, baik swasta maupun pemerintah daerah di Indonesia. Nah, tanggal 8 Desember 2011 lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, serta Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menyerahkan Indonesia Tourism Award (ITA) 2011. Ini adalah ketiga kalinya ITA digelar, dengan tujuan mendorong para pemimpin daerah (provinsi, kota, dan kabupaten) serta pelaku industri pariwisata agar terus berbenah dan meningkatkan kreativitas. Penghargaan ini merupakan hasil survei dalam bidang industri pariwisata Indonesia.

Buat para traveler, para pemenang yang ada di daftar ini setidaknya bisa jadi acuan awal kita untuk menentukan tujuan traveling, ataupun memilih pelaku industri pariwisata mana yang terbaik untuk rencana traveling kita. Ini dia daftarnya, semoga berguna yak.


Provinsi Terbaik dalam Pengembangan Pariwisata:
1. Bali
2. Jakarta
3. Yogyakarta

Kota dengan Pelayanan Terbaik (bagi wisatawan):
1. Malang, Jawa Timur
2. Denpasar, Bali
3. Tana Toraja, Sulaweis Selatan

Kota Tujuan Wisata Terfavorit:
1. Raja Ampat, Papua Barat
2. Denpasar, Bali
3. Badung (Bali)

Daerah Tujuan Wisata Terfavorit:
1. Pantai Waisai, Raja Ampat, Papua Barat
2. Tanah Lot (Bali)
3. Jatim Park (Jawa Timur)

Penghargaan Khusus Pariwisata :
1. Kota Sawahlunto, Sumatra Barat
2. Provinsi Bangka Belitung

Kategori Industri Pariwisatwa:
1. Hotel Bintang Lima Terbaik  : Hotel Mulia Senayan
2. Hotel Bintang Empat Terbaik: Santika Premiere Jakarta
3. Hotel Bintang Tiga Terbaik   : The Aroma's Kuta
4. Restauran Terbaik               : Bandar Jakarta
5. Mal Terfavorit                      : Plaza Senayan
6. Mal Terfavorit Luar Jakarta   : Paris van Java, Bandung
7. Mal Terfavorit Luar Jawa       : Ska Mal

Penerbangan Layanan Penuh Terfavorit:
Garuda Indonesia

Penerbangan Layanan Ekonomi Tervaforit :
Sriwijaya Air

Biro Perjalanan Terfavorit:
Panorama Tour

Armada Taksi Terfavorit:
Putra

Spa Terfavorit:
Javana Spa

Lapangan Golf Terfavorit:
Royale Jakarta

Pemberian penghargaan Indonesia Tourism Award (ITA) 2011 ini merupakan hasil survey yang dilakukan terhadap 1.500 wisatawan, terdiri dari 1.350 wisatawan Nusantara dan 150 wisatawan mancanegara. Selain hasil survey, beberapa kategori industri pendukung juga melibatkan 100 responden dari kalangan profesional dan eksekutif. Di tiap kota, jumlah responden yang disurvei berkisar 60-90 wisatawan.


Metodologi survei dilakukan dengan mengombinasikan dua model analisa, yakni analisa kepuasan dan net promoter score (NPS) untuk penentuan peringkat kota/kabupaten yang paling memuaskan dan direkomendasikan. Untuk mendapatkan indeks NPS, setiap responden diminta untuk memberikan penilaian 0-10 terhadap kota-kota yang masuk nominasi sebagai kota yang direkomendasikan. Nilai 9-10 disebut promoter,  nilai 7-8 dikategorilan neutral dan 0-6 dikategorikan detractor. Angka NPS diperoleh dengan menghitung jumlah orang yang memberikan skor 9-10 (promoter) dikurangi dengan jumlah orang yang memberikan skor 0-6 (detractor).


Selain itu, pemenang juga ditentukan melalui Indeks kepuasan konsumen dihitung dari prosentasi responden yang memilih 2 skor tertinggi (Top 2 Boxes) dengan skala 1-10. Para responden diminta memberikan penilaian terhadap 9 aspek (kebersihan, informasi wisata, kewajaran biaya, promosi, keragaman obyek, keamanan, keunikan obyek dan keramahan).


Hasil survei tersebut akan menghasilkan studi yang dapat dipakai sebagai masukan untuk perbaikkan ke depannya. Selain itu, juga untuk mengetahui siapa saja para pemimpin daerah dan pelaku di industri pariwisata yang berprestasi di bidang pariwisata. Hasilnya dapat diketahui kota dan tujuan wisata mana di Indonesia yang menjadi unggulan.

Thursday, December 1, 2011

Menulis Kreatif, Kreatif Menulis...

Kreatif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijabarkan sebagai memiliki daya cipta; kemampuan untuk menciptakan, bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang – menghendaki kecerdasan dan imajinasi. Berpijak dari sini, maka bila kita berbicara soal Penulisan Kreatif (Creative Writing), maka secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan menciptakan tulisan yang bermuatan imajinasi dan memanfaatkan kecerdasaan dalam proses penciptaannya. Lebih kurang seperti itu. Aspek dalam kreatif sendiri bisa berupa di luar kebiasaan, otentik, orisinil, khas, berkarakter, out of the box, dan lain sebagainya.
Dari proses ini maka kita akan melihat hasil-hasil karya tulis yang imajinatif, mengandung hal-hal baru, di luar logika, menghibur, menggugah, menginspirasi, dan lain sebagainya. Meskipun mengandung aspek imajinatif, bukan berarti karya-karya tulis dari proses ini melulu soal fiksi. Namun, bisa jadi juga akan berbicara soal karya non-fiksi. Dalam karya fiksi, mungkin kita akan menemukan aspek imaginatif ini dalam hal kebaruan tema, cerita yang benar-benar baru, karakter yang berbeda, ide dasar yang unik, dan lain sebagainya. Maka dalam naskah non fiksi pun hal ini bisa dilakukan dalam hal pengambilan angle-angle tulisan yang tidak mainstream, dan memiliki karakter tulisan yang lain dari yang lain, meskipun dalam hal isi naskah adalah fakta.
Kita sering ribut dengan diri kita sendiri soal ide awal. Kemauan untuk menulis sangat besar, namun ide mampat, bahkan tiba-tiba hilang sama sekali. Lalu bagaimana proses mendapatkan ide itu? Sebenarnya ide bisa datang dari mana saja: saat di jalan, melamun, lagi ada masalah, hingga berada di toilet. Bagi beberapa orang, ide kadang datang mengucur bak hujan di bulan Januari, tanpa henti. Bagi beberapa lainnya, ide datang seperti air PDAM yang mengalir satu icrit dua icrit, bahkan kadang tidak mengalir sama sekali. Lalu adakah teknik untuk memancing ide? Atau setidaknya membuat kita bisa menulis tanpa harus menunggu datangnya ide atau inspirasi? Cara berikut ini mungkin saja bisa berlaku bagi Anda:
§         Bergerak dari hal kecil, buat draf kasar, lakukan brainstorming dengan diri Anda sendiri. Cara ini adalah cara paling memudah, yaitu ambil kertas, pena, atau laptop Anda, lalu tulis cerita kasar, apapun itu. Cerita ini ini bisa muncul dari brainstorming diri Anda sendiri. Jangan terlalu terbebani apakah tulisan Anda akan menjadi bagus, menarik, atau bahkan spektakuler. Kalaupun hasilnya seperti itu, tentu lebih bagus, tapi kalau tidak bukan menjadi alasan bagi Anda untuk berhenti menulis. Ada contoh menarik, salah satu pembaca saya sangat terobsesi untuk menulis novel. Dan iya membebani dirinya dengan “harus bisa membuat trilogi”, di saat dia bahkan belum pernah menghasilkan buku satu pun. Atau pembaca saya yang lain, sangat terobsesi menulis artikel perjalanan di media internasional. Persamaan keduanya? Tidak pernah mengupdate blog-nya, tidak melatih skill menulisnya, dan sibuk dengan mimpi besarnya. Jatuhnya, keduanya lebih focus ke tujuan, tetapi tidak pernah focus pada proses. Bagaimana Anda bisa membuat karya besar, kalau Anda tidak bisa menyelesaikan yang kecil? Pesan moralnya: lakukan apapun yang Anda bisa, saat ini juga. Kalau sekarang baru bisa menulis yang jelek, sederhana, lakukan saja, dan latih terus.
Brainstorming dengan diri Anda sendiri bisa dilakukan dengan membuat daftar pada coretan kertas. Misalnya, Anda akan menentukan tema cerita, maka tulislah dalam kertas. Ide sejelek apapun menurut Anda, tuliskan semua. Buat list sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya nanti, Anda akan terkejut karena menemukan ide bagus dari salah satu daftar itu.
§         Baca Ulang, Lakukan Revisi: Setelah Anda menulis naskah kasar, Anda bisa membaca ulang sebanyak yang Anda inginkan. Lakukan penambahan, lakukan pengurangan, revisi, cari format terbaik, ubah gaya bahasa menjadi lebih baik, pengembangan karakter, pendalaman tema, penggunaan metafora, dan revisi lainnya.
§         Finishing: Tahap akhir, dari revisi itu, kembali baca ulang, lakukan lagi revisi bila perlu, mengurangi dan menambah bukan hal tabu. Sampai Anda merasa cukup percaya diri untuk mem-publish di blog, atau bila perlu, naskah di print, minta beberapa teman untuk membaca dan memberikan penilaian. Jangan takut dikritik, posisikan teman yang membaca adalah calon pembaca-pembaca kita. Dan ingat, sebuah karya sastra itu memiliki kebutuhan untuk dibaca orang, dan bukan menjadi ajang masturbasi bagi penulisnya. Ingat ini saat Anda ingin menulis sesuatu.
Nah, proses di atas adalah salah satu proses sederhana yang bisa Anda lakukan untuk memancing ide dan membuat Anda tetap semangat menulis meskipun Anda merasa tulisan Anda jelek. Lakukan berulang-ulang, dan skill menulis Anda akan terasah dengan sendirinya.
Setiap penulis memiliki gaya berbeda dalam memancing ide, dan ini sangat subyektif. Beberapa dari mereka akan mendapatkan ide dengan duduk di tengah keramaian, coffee shop, mall, dan lain sebagainya. Tetapi model-model penulis lama, mereka biasanya mencari tempat pelarian, di gunung, pantai, menyepi, dan sebagainya, untuk mendapatkan ide. Saya banyak menemukan ide dari kesenangan saya menonton film, dengerin musik, atau sekadar mampir ke toko buku. Proses ini bukanlah proses menjiplak, tetapi saya justru mendapatkan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Misalnya, saat menonton film dan kecewa dengan ceritanya atau ending-nya, maka pikiran liar saya akan membuat ide cerita saya sendiri. Atau saat menemukan judul buku di toko buku dan membaca sinopsisnya, kadang-kadang akan muncul kegilaan dalam pikiran saya.
Penulis dari Amerika Serikat, Shannon Crose, memiliki resep untuk memancing ide. Jadi semua ide bisa dipancing dari pertanyaan “Bagaimana jika…?” Lalu saya melakukan pembuktian atas ide ini, terhadap buku saya. Dan memang benar, semua ide creative bisa diawali dengan pertanyaan itu, “Bagaimana jika…?”
Pertanyaan “Bagaimana jika…” akan memunculkan keliaran ide-ide, yang bisa memunculkan sebuah cerita menarik, atau sebuah karya tulis yang kreatif, di luar kebiasaan. Buat hal yang out of the box, yang saat orang lain menemukan karya tulis Anda atau buku Anda di rak toko buku, maka mereka akan bergumam “Hmm…kenapa itu tidak terpikirkan saya ya?” Contohnya: saat buku saya “Rp 1 Jutaan Keliling Thailand dalam 10 Hari” muncul di pasaran, semua pada kaget. Ide awalnya adalah dari pertanyaan “Bagaimana jika…?”  lalu akan memunculkan pertanyaan dari orang “Bagaimana bisa?” dan akhirnya mereka akan menjawab pertanyaan mereka sendiri dengan membeli buku saya. Itu contoh keliaran ide dalam naskah non fiksi. Naskah fiksi akan jauh lebih mudah. Fiksi akan memberikan ruang terluar dalam dunia kreativitas. Bebaskan pikiran Anda hingga hal-hal yang tidak logis sekalipun. Harry Potter juga tidak masuk akal bukan? Tapi ini karya tulis yang fenomenal yang muncul dari keliaran dan kegilaan ide seorang JK Rowling.
Penulisan kreatif juga memberi peluang kepada kita untuk menemukan gaya-gaya penulisan baru, yang segar, bahkan beyond the imagination itu sendiri, membuat gemas orang dan lain sebagainya. Jangan takut untuk memulai kata pertama, dan mewujudkan ending tulisan Anda. Jangan berpikir soal gaya baku penulisan, harus subyek predikat obyek, atau apapun, semua mengalir saja selama itu bisa dibaca, menarik, menghibur dan lain sebagainya. Ini adalah dunia kreatif. Dalam dunia menulis, kita sudah dibatasi aturan agama, hukum, sosial-moral, dan lain sebagainya. Jangan sampai kita dikukung lagi dengan aturan redaksional. Bahkan bukan tidak mungkin Anda adalah orang yang akan menghadirkan kosa kata baru dalam bahasa Indonesia dari karya Anda, atau memasukkan idiom yang tren di masyarakat. Penulisan kreatif sangat berteman akrab dengan eksplorasi bahasa, kosa kata, yang dilakukan penulisnya. Bahkan kadang, ada pembaca tertentu yang tergila-gila dengan penulis tertentu, karena penulis ini memiliki perbendaharaan kata yang luar biasa komplet, metafora yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya. Sebagai contoh, penulis senior yang sudah almarhum, Rosihan Anwar, dikenal sebagai tookoh pers Indonesia, sejarahwan, sastrawan, penulis dan pengusung “gerakan” kosa kata baru. Lalu muncullah kata “gengsi” yang kita kenal sekarang, yang merupakan padanan kata “prestige” dalam bahasa Inggris. Kata “gengsi” ia gunakan pertama kali tahun 1949, yang diadopsi dari bahasa remaja di Minangkabau. Rosihan pula yang pertama kali menggunakan kata “Anda” dalam tulisannya, sebagai ganti  orang kedua. Jadi sekali lagi, beri kebebasan diri Anda untuk mengekplorasi bahasa, kosa kata, dan mengolah ide menjadi tulisan yang bernas.
Buat Anda yang benar-benar baru dalam dunia penulisan dan ingin memulai, ini tips kecil buat Anda:
1.      Mulailah menulis apa saja. Buku harian, catatan kecil, blog, dan lain sebagainya adalah sarana yang bisa Anda gunakan.
2.      Temukan konektivitas ide tulisan Anda dengan orang lain. Jangan banyak curhat dalam tulisan, kecuali curhat sebuah masalah yang orang lain juga mengalami. Artinya, ada kepentingan orang untuk membaca tulisan Anda. Lalu mereka akan berkomentar “Duh…tulisan ini gue banget!” Maka mereka akan menunggu tulisan Anda berikutnya. Atau misalnya, buatlah blog yang bermanfaat bagi orang lain, dan bukan hanya blog keluh kesah. Percayalah, orang tidak ingin tahu masalah Anda, dan lebih memilih peduli dengan kepentingan mereka sendiri.
3.      Coba kirim tulisan ke majalah atau koran. Selain menghasilkan duit, ini juga akan memberikan efek nyandu untuk terus menulis, menulis dan menulis.
4.      Sering-sering pergi ke toko buku, tidak perlu membeli, tetapi toko buku akan membuat kita semangat untuk menghasilkan karya kita sendiri. Dari mulai menemukan cover buku keren saja sudah membuat kita berimajinasi, “Wah…kalau aku punya buku, covernya akan seperti ini,” atau imajinasi lainnya. Atau bayangkan, saat di dekat kasir toko buku Anda bertemu orang yang membeli buku Anda?
Akhirnya, mari segera menulis !!
 *) Tulisan ini saya sampaikan dalam kuliah di FISIP, UGM

Saturday, November 19, 2011

Masih Berpikir Bikin Joke Soal Orangutan adalah Lucu?


September lalu, saya jalan-jalan ke Bukit Lawang dalam satu rangkaian traveling saya ke Sumatera Utara. Bukit Lawang adalah sebuah area yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, lokasi konservasi orangutan. Terletak di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, sekitar 68 km dari Kota Binjai atau 80 km dari Medan.

Interupsi dulu. Kalau Anda membayangkan tulisan ini adalah tulisan jalan-jalan saya ke Bukit Lawang, khas tulisan perjalanan wisata, maka mohon maaf, untuk kali ini Anda salah. Ini tentang kegundahan saya terhadap keberlangsungan hidup orangutan.

Kenapa saya sangat ingin mengunjungi Bukit Lawang? tak lain dan tak bukan karena saya ingin melihat langsung habitat asli orangutan. Akan lebih mudah tentu saja bagi kita untuk melihat orangutan di kandang kebun binatang, tetapi berbeda rasanya bila kita langsung menemukan mereka di habitat aslinya.

Saya bukanlah aktivis pembela hak-hak fauna. Saya hanyalah orang yang suka dengan binatang, dan mengerti sekali bahwa para binatang itu memiliki hak untuk hidup di habitat aslinya, dengan damai.

Ngeri saat saya membaca berita di BBC Indonesia: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/11/111113_orangutan.shtml

Hasil survei yang dilakukan The Nature Conservacy dan 19 organisasi lain seperti WWF, Persatuan Pengamat dan Pakar Primata Indonesia yang dimuat di jurnal PLoSOne menunjukkan hasil mengejutkan.

Survei yang dilakukan dengan mewawancarai 6.983 orang di 687 desa di tiga provinsi Kalimantan itu melaporkan bahwa warga di banyak desa Kalimantan membunuh setidaknya 750 ekor orang utan dalam setahun.

Banyak pihak yang menyebutkan survei itu tidak valid. Tetapi bagi saya, apapun itu, kenyataan di lapangan menyebutkan, banyak orangutan yang dibantai karena dinilai sebagai hama kelapa sawit atau bahkan untuk alasan yang tidak penting lainnya.

Bagi saya, ini kemudian seperti pertanyaan "Manakah yang lebih dulu? Apakah telur atau ayam?" Kenyataannya, banyak orangutan yang masuk ke perkebunan dan mengkonsumsi hasil kebun warga. Tetapi kemudian, ada asap pasti ada api. Mereka masuk ke kebun karena mereka tidak menemukan makanan di habitat asli mereka. Data yang dikeluarkan Bank Dunia menunjukkan, sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektare setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan produksi yang tersisa. Penebangan liar adalah salah satu penyebabnya. Pada akhirnya, banyak fauna yang kehilangan habitat aslinya, terdesak untuk mencari alternatif lain dalam mendapatkan makanan.

Lalu menurut Anda, manakah yang lebih dulu membuat masalah? Apakah orangutan yang cari gara-gara? atau manusianya? Saya serahkan kepada Anda.

Dalam catatan saya saat mengunjungi habitat asli orangutan di Bukit Lawang, saya menemukan fakta, bahwa iya orangutan adalah binatang liar, yang tentu bisa saja menyerang manusia. Tetapi fakta lain yang saya temui adalah, mereka sangat pemalu, cenderung takut pada manusia. Saya ikut naik ke bukit di mana petugas Taman Nasional Gunung Leuser melakukan feeding ke orangutan pada pukul 16.00. Kami menunggu di satu titik, sementara para petugas berada di rumah pohon dengan membawa seember makanan untuk orangutan liar. Satu jam kami menunggu, dan tidak muncul satupun orangutan. Petugas memperingatkan kami untuk tidak berisik, supaya orangutan tidak takut untuk muncul dan mengambil makanan. Beberapa waktu kemudian, kami menemukan satu orangutan yang mendekat secara hati-hati, seperti takut, dan akhirnya mengambil makanan. Hanya satu yang muncul dalam rentang waktu hampir dua jam.

Yang saya dapatkan dari situasi ini adalah, mereka takut dengan manusia. Pertanyaan berikutnya: kenapa kemudian banyak manusia membunuh mereka? Merasa terancam? for fun? atau untuk kepentingan keuntungan finansial ? Silakan Anda ambil kesimpulan.

Sejak dari Bukit Lawang itu, saya memiliki cara pandang terhadap eksistensi hewan langka ini secara berbeda, jauh lebih baik daripada sebelum saya mengenalnya. Miris hati saya melihat foto-foto di media, di mana mereka ditangkap, dibantai, untuk sebuah alasan yang tidak bisa diterima.

Saya sangat mengapresiasi banyaknya pihak, organisasi, personal, artis, public figure, yang menunjukkan kepeduliannya terhadap hak-hak binatang ini. Tulisan ini muncul dari kegelisahan saya, sedih, saat membaca timeline akun twitter seorang public figure, yang juga artis, presenter TV Berita Nasional, orang yang menurut saya well educated, tetapi melakukan kebodohan dengan nge-twitt:

"Kenapa #saveorangutan sih, gak kenal juga, mending kita #saveorangtua byk pahala :)"

1. Iya, saya tahu "it was a joke"
2. Tapi itu adalah joke yang tergaring, tidak lucu, tidak sensitif terhadap kondisi terakhir, yang keluar dari seorang presenter berita, yang televisinya sendiri memberitakan pembunuhan terhadap 750 orangutan di Indonesia. Hello...??? masih berpikir ini lucu?
3. Lalu ada yang membela : "pesan moral dari twitt itu adalah kita harus menyayangi orangtua kita" saya bisa mati ketawa. Karena menurut saya, pembelaan itu adalah kebodohan lain, again, stupid !! Bagi saya ini ngeles yang sangat bodoh. 
4.Come on, menyayangi orang tua dan peduli terhadap orangutan, itu bukan hal setara yang bisa dipersandingkan. Itu lelucon yang menurut saya lahir dari kedangkalan berpikir.
5. Sejujurnya saya terganggu, karena ini keluar dari seorang public figure, dengan followers yang sudah mencapai puluhan ribu orang, dan di-publish di publik, Yang bukan tidak mungkin akan mempengaruhi opini orang. Duh. Well dude, itu gak lucu dan kau sedang mempermalukan dirimu sendiri. But thanks anyway sudah mendelete TL itu. Bagus lagi kalau ada permintaan maaf, sebagai tanggung jawab moral karena kau sedang meracau di atas kerja keras jutaan orang yang concern dan peduli akan keberlangsungan hidup orangutan.  

Watch your thoughts, for they become words
Watch your words, for they become actions
Watch your actions, for they become habits
Watch your habits, for they become character
Watch your character, for it becomes your destiny

Regards,
A

foto:  liberationbc.org

Tuesday, November 15, 2011

Jadi Raja Dua Malam di Bandung

 
have fun di Trans Studio Bandung
Sudah banyak saya bercerita tentang bagaimana mencari dan tinggal di penginapan, hostel, hotel murah atau sekadar tempat berteduh saat saya traveling. Semua bermuara pada prinsip yang sama, semurah mungkin senyaman mungkin. Tetapi selalu saja antara “murah” dan “nyaman” ini susah berteman akrab. Kadang beruntung sih, menemukan keduanya tampak akur. Karena biasanya, nyaman itu akan lebih senang berteman dengan mahal.
Bicara tentang kenyamanan to the max, sejauh ini memang saya baru merasakan kenyamanan di hotel bintang empat, yaitu di salah satu hotel di Senayan, Jakarta. Itu pun saat saya menjadi jurnalis, dan mendapatkan undangan meliput perhelatan kompetisi band-band tingkat nasional yang diselenggarakan salah satu brand rokok terkemuka. Bintang empat lainnya adalah beberapa hotel yang memberikan saya voucher menginap. Bintang lima? Nah, ini yang saya belum pernah.



Kali ini saya akan bercerita tentang liburan saya menginap di hotel bintang lima, haiyaa !!. Nah…nah, bukan, saya bukan sedang dis-orientasi dari seorang budget traveler menjadi flashpacker. Ini sekadar sharing aja. Tetapi gini lho, pada dasarnya manusia itu kan menikmati kenyamanan, dan itu manusiawi. Karena menurut saya, gaya traveling yang on budget itu bisa diakibatkan dua hal, pertama karena kepepet duit cekak, yang kedua punya duit tapi memilih menjadi budget traveler. Dalam konteks pertama, orang yang tidak punya duit dan lebih suka gaya backpacking, tinggal di hostel murah, dorm, dan lain sebagainya, kalaupun ditawari nginap di hotel bintang lima juga pasti tidak nolak kan? :P Sementara yang kondisi kedua, punya duit tapi suka backpacking, bisa jadi once in a while dia juga pernah menginap di hotel bintang lima kan? Nah, inilah yang saya sebut manusiawi. Ini hukum alam.
Itu di atas adalah self defense mechanism saya hahahha. Tapi lebih dari itu, mari hajarrrr saja nginap di bintang lima. Begini, ceritanya temen saya yang travel writer terkenal itu, yang punya blog naked-traveler.com yang paling terkenal itu , iya the one and only Trinity, ngajak saya liburan di Bandung.
bareng Denny, Trinity, Danti, dan kru Trans Studio

“Kasihan kau belum pernah menginap di hotel bintang lima.” Jleb-nya udah menembus ulu hati  saja rasanya hahaha. Tapi siapa nolak juga diajak dia nginap di hotel bintang lima.

Nggak mikir panjang dong, langsung siap sedia, packing. Apalagi sebelum D-day, saya dapat sms dari Trinity, kalau kami akan menginap di executive suite room. Waaaaaa….standard room saja sudah juwara, gimana executive suite room ya? Pasti moyangnya juwara.

D-day tiba. Kami menginap di Executive Suite Room, thepapandayan.com Bandung. Saya sudah diwanti-wanti sama Trinity “Gak boleh pake sandal jepit” dugaan dia benar, saya sudah punya niat jahat: menggunakan alas kaki kebesaran saya “Sandal Jepit” hehehe. Nggak tau kenapa, mungkin karena kebiasaan di manapun saya traveling, saya selalu membawa sandal jepit hitam produk Bata (boleh kok nyebut merek di blog saya :P ) yang super nyaman. Alhasil, saya datang pake sepatu, dengan sandal jepit di dalam backpack, teteup.

Saat saya cerita akan menginap di  The Papandayan Hotel, temen saya yang asli Bandung  langsung nyamber saja “Bukannya sudah tutup?” Nggak kok. Memang dalam dua tahun terakhir, mereka melakukan renovasi gede-gedean. Dan baru buka April 2011 kemarin, dengan fasilitas pelayanan bintang lima. Jadi saya ini termasuk yang beruntung menikmati fasilitas mereka yang lumayan baru. Eh, meskipun masih relatif  baru direnovasi, nggak ada lho bau-bau cat atau material bangunan. 

Begitu masuk, saya langsung diajak makan siang di Pago Restaurant. Makan siang ala buffet, dan saya merutuki nasib, kenapa tadi saya harus makan siang dulu sebelum ke hotel, sekarang perut saya sudah full. Tapi saya sempat mencomot beberapa makanan di sana. Saya sih demen banget sama dim sum-nya. Sayangnya, dim sum ini cepet habis, karena banyak yang suka. Chicken Yakiniku-nya juga enak, atau nasi goreng Jepangnya. Menu yang lain, hidangan penutupnya juga pantas ditunggu, saya suka es krim kopyornya. Ini es krim home made, rasanya lembut, terus di tengah kelembutannya itu saya masih bisa merasakan serat-serat lembut dari kelapa mudanya.

Sampai di sini, saya belum cerita lho tentang kehebohan kamarnya…sebentar yaa. Saya juga dibikin penasaran sama Trinity, soalnya saya belum boleh masuk, bahkan untuk sekadar naruh backpack saya.

Saya harus menyimpan penasaran saya dalam-dalam. Karena begitu kelar lunch, Pak Edi, PR Manager The Papandayan Hotel, sudah menculik saya, Trinity, Danti dan Denny ke transstudiobandung.com Danti dan Denny adalah pasangan suami isteri temannya Trinity juga. Kami pun menuju ke Trans Studio Bandung yang selama ini saya hanya dengar gembar-gembornya di televisi.
Parade Trans Studio setiap jam 17.00

Kami disambut Mbak Tasha dan Mbak Melia, PR Trans Studio Bandung, yang siap mengantar kami untuk menjelajah Trans Studio Bandung (Thanks Mbak2). Kami siap menghajar wahana extreme. Sejujurnya nih, saya dari kecil pengen banget yang namanya naik Roller Coaster. Tapi, jangankan Trans Studio Bandung, ke Dufan Ancol saja saya belum pernah…hihihi, malu-maluin sih. Sudah beberapa kali sih ke Universal Studio, Singapura, tapi cuma sampai halaman depan doang hahaha, nggak rela cyiiin buat bayar tiket masuk yang hampir Rp 500.000 itu !

Nah balik lagi ke Trans Studio, tidak ada waktu buat berleha-leha, begitu nyampai, langsung dihajar Yamaha Coaster. Maaak…sumpah, ini coaster bikin jantung copot. Udah gitu, setelah copot, itu jantung dimasukin lagi ke tempatnya semula….jleeeeeebbb !!!. Kenapa bisa? Iya, karena coaster yang satu ini selain berjalan di rel secara maju kayak coaster lainnya, dia juga mempunyai efek mundur secara cepat yang konon tercepat di dunia tuh. Jadi pas maju….jantung berasa lepasssss…..begitu sampai ujung, langsung mundur super cepat, dan tuh jantung dah balik lagi masuk dada..waaaaaa….so far, puwassssss….
Ini dia Si Vertigo itu
Belum kelar ngumpulin nyawa, saya sudah harus mencoba wahana yang lebih extreme, yaitu Vertigo. Okay, saya beritahu Vertigo itu apa…jadi saya duduk di kursi, dikunci, dan menempel pada sebuah poros. Lalu kursi itu berputar 360 derajat, demikian juga porosnya berputar secara tidak bersamaan, dan kita diayun muterrrrrrrr….sumpaaah sereeeeem. Adrenalin saya berloncatan tidak keruan, sementara mulut tidak berhenti berteriak.
Puas dengan Vertigo, saya butuh waktu beberapa saat untuk menentramkan diri, sebelum harus mencoba Giant Swing. Tenang, ini cuma ayunan biasa kok, yang ke kanan dan ke kiri hihihi…bohong ding. !! Sejujurnya, menaikinya adalah cara sempurna untuk melupakan patah hati. hahaha...seriuss , gak ada waktu mikirin itu. Yang ada mikir, saya bakal mati nggak ya? hahahah. Ini cara kerjanya memang seperti ayunan, tetapi dengan ketinggian yang cukup membuat orang berkeringat dingin. Diayun kanan kiri dengan efek putaran…jantung saya sudah dag dig dug derrrr…berkelebat 200 km/jam. 


Tiga itu saja, saya sudah menyerah. Kalaupun mau mencoba wahana extreme lagi, mungkin harus nunggu esok harinya hahaha. Nah, berikutnya, saya mencoba Sky Pirates. Ini mah cuma untuk relaxing, gak serem, bagus untuk menentramkan diri setelah mencoba wahana extreme. Berupa balon udara berbentuk aneka perahu, lalu bergerak sesuai jalur rel di atas area Trans Studio. Berikutnya, mencoba Niagara, berbasah-basah. Tidak se-extreme wahana sebelumnya, tapi cukup bikin kita teriak-teriak sih.




Dunia Lain adalah uji nyali berikutnya. Tapi bagi saya, tidak menakutkan, karena memang saya lebih takut orang daripada hantu hihihi. Setelah menjelajah Dunia Lain, kami istirahat, menyantap es teller yang bisa dibeli dengan kartu yang bisa di top-up. Usai istirahat, beberapa temen mencoba Negeri Raksasa, wahana yang melempar kita di ketinggian, untuk dihempaskan ke bawah. Saya? Absen dulu, perut gak mau diajak kompromi, takut muntah di atas hahaha. Alasan.
kamar mewahku itu

Kelar dari Trans Studio Bandung, kami balik ke  The Papandayan Hotel. Dan sodara-sodara, inilah saatnya saya tahu seperti apa bentuk kamar saya. Kami tinggal di lantai 5, executive room, kamar 525 dan kamar 531. Begitu sampai di lantai 5, hmmm…lantainya…super empuk. Kok bisa? Yaiyalah, lantainya dibalut dengan karpet bulu yang tebel. Saya berjalan bak di awan. Sempet kepikiran sih, gimana tadi kalo sebelum masuk hotel saya injek tai kuda? Sayang dong karpet ini hahahaha.


Nah, yang kamar 531 itu, seberangnya adalah President Suite. Saya udah berasa pengen mendobrak pintu itu aja, tinggal di dalamnya, dan mengunci pintu rapat-rapat hahahaha. Iya, soalnya President Suite Room itu hanya saya kenal dari film-film Hollywood. Belum pernah tuh yang bisa merasakan aslinya.
Lupakanlah, kembali ke executive room. Pintu pun dibuka…taraaaaaaaaa…satu ruangan terlihat. Kamar mandi tamu ada di samping pintu masuk, lalu kita akan menuju ke sebuah ruangan dengan sofa duduk gede satu, meja panjang dengan aneka buah-buah dan makanan sebagai compliment, di bawahnya ada lemari untuk minibar, lalu di atas meja itu terpasang layar tv flat super besar. 

Ruang tamu ini dilengkapi dengan meja kerja, satu meja set meja makan bundar, serta satu set sofa dengan coffee table yang rendah. Ruangan ini kemudian terhubung dengan ruang tidur, disekat dengan jendela lipat, di dalamnya terdapat bed king size dengan sprei putih rapi, dengan bantal-bantal gendutnya yang minta dipeluk. Sebuah sofa duduk gede menghadap ke televisi. Ya ada dua televise super lebar di dalamnya. Lalu, di kamar ini terdapat kamar mandi yang super komplet, ada bathup super gede, dengan semua keperluan yang diinginkan ada, sampo, sabun susu, conditioner, alat cukur, hair dryer, apapun…pokoknya komplet. Sejujurnya, saya tidak biasa dengan fasilitas-fasilitas ini, jadi memang sedikit gagap. Tapiiiii…It’s Heaven !! 
Kedinginan, wong ndeso masuk hotel bintang 5
Dan, di Bandunglah saya menjadi raja tiga hari dua malam. Makan malam pun saya kalang kabut gak tau caranya. Kata Trinity, makan malam kali ini adalah Ala Carte artinya, kita makan secara memesan. Nah, kalo buffet kan gampang tuh, ambil sesuai pengenan. Kalau Ala Carte, kita makan urut, dari pembuka, utama hingga penutup. Nah..nah…karena saya belum pernah makan model beginian, jadi deh kayak rusa masuk kampung, udiiiiik banget. Gak papa, setidaknya saya belajar. Tapi para staf hotel sangat membantu sekali, keramahannya super deh. Jadi tidak sempat tuh yang tengak tengok gak jelas. 
Minggu siang, berat rasanya meninggalkan The Papandayan Hotel. Karena itu berarti saya juga harus melepaskan mahkota raja saya sampai di sini hahaha. Bener-bener pengalaman seru, nginep di hotel bintang lima pertama kali, nyoba roller coaster pertama kali, dan dinner ala carte pertama kali juga. Thanks Miss T atas liburan mewahnya. Buat yang baca, maap kalau tulisan saya kali ini ndesooo....biarin weks ! :)

Tuesday, November 1, 2011

Kena Sweeping di Thailand

*Tulisan ini dimuat dalam Anthology Blog The Naked Traveler, tanggal 23 Agustus 2011.

 Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.
Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!
“Chang wesuh kra be wos wus wes!” serentetan kalimat meluncur dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “I’m speaking English. I’m Indonesian, Sir,” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya. 
Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “Okay! Passport! Passport!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila apa?!
Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang sweeping imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.”
Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand.  Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.
Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang diturunkan dari bus itu ya?

Friday, October 28, 2011

Ayo Kunjungi Warisan Budaya - Artikel Media Indonesia

Hasil diwawancara Media Indonesia. Artikel asli bisa Anda buka di link berikut:
http://www.mediaindonesia.com/mediatravelista/index.php/read/2011/10/28/3250/2/Ayo-Kunjungi-Warisan-Budaya

WARISAN budaya merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dikelola dan dilestarikan. Pasalnya, warisan budaya merupakan sumber daya budaya dan juga pusaka bagi bangsa Indonesia.

Warisan budaya menurut Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) terdiri dari budaya benda dan budaya tidak benda.

Budaya benda ialah monumen, candi, dan pemandangan alam, sedangkan budaya tak benda atau budaya hidup terdiri dari budaya lisan, seni, adat istiadat kebudayaan masyarakat, dan kerajinan tradisional.

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi faktor penting dalam pariwisata. Di sini terdapat taman nasional, gunung, dan kawasan terumbu karang terkaya di dunia.

Bukan cuma itu, Indonesia juga memiliki 850 situs yang diakui menjadi warisan budaya dunia UNESCO. Dari jumlah itu, 689 di antaranya merupakan situs budaya dan 176 situs alam.

Dari jumlah itu, Indonesia memiliki sejumlah situs yang sudah populer, di antaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Situs Manusia Purba Sangiran.

Bloger dan penulis buku The Naked Traveller Trinity mengaku kerap mendatangi situs warisan budaya milik Indonesia, baik yang terkenal maupun yang tidak terkenal, seperti Candi Muara Jambi.

"Kalau menarik dan unik pasti akan saya datangi, mulai dari Candi Borobudur, Candi Prambanan dan masih banyak yang lainnya," ujarnya.

Ia mengakui wisatawan domestik memang jarang menyukai wisata sejarah. Mereka umumnya lebih memilih untuk berwisata alam. Tidaklah mengherankan, bila objek wisata sejarah pun masih belum digarap secara optimal.

Untuk mengunjungi candi yang tidak dikenal, lanjut Trinity, kita pasti akan kesulitan, karena tidak terdapat papan penunjuk jalan. Ironisnya, informasi mengenai sejarah candi itu pun tidak dimiliki pengelola objek wisata tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan jika mengunjungi objek wisata di Eropa atau negara Asia lainnya. Mereka telah mengelola objek wisata itu secara profesional, bahkan terdapat sarana audio guide sehingga kita tidak membutuhkan pemandu wisata. "Yang disayangkan justru promosi situs warisan budaya Indonesia cenderung untuk memasarkan objek wisata yang sudah terkenal dan hanya menargetkan wisatawan asing. Padahal, kita seharusnya dikenalkan dengan ragam objek wisata di Indonesia. Kalau bukan bangsa Indonesia yang memberikan penghargaan dan apresiasi dari segi budaya, siapa lagi yang memajukannya," papar Trinity.

Dilestarikan

Trinity berharap situs warisan budaya Indonesia dapat dilestarikan. "Warisan budaya Indonesia tidak kalah bagusnya dengan objek wisata di luar negeri, namun memang banyak hal yang tidak sesuai ekspektasi," ujarnya.

Sementara itu, traveller yang juga penulis buku Travelicious Yogya & Solo dan Travelicious Malang, Batu, Surabaya dan Madura Ariyanto mengungkapkan Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya.

Namun, objek wisata itu belum dikelola dengan baik. Ia memberi contoh fasilitas toilet di sejumlah objek wisata Indonesia yang belum memadai. Bukan cuma itu, di sejumlah objek wisata sejarah sering dijumpai coretan pada tembok sehingga memberi kesan jorok. Untuk itu, dia meminta agar pengelola memberikan aturan yang ketat pada setiap pengunjung.

Ia mengakui, masyarakat kita kurang menghargai situs warisan budaya sendiri. Tidak mengherankan bila dijumpai banyak sampah berserakan di area situs seperti Candi Borobudur. Justru hal itu akan membuat kondisi candi rusak dan tidak terpelihara.

"Dalam hal menjaga situs warisan budaya Indonesia, terdapat dua hal yang patut dipersalahkan, yakni pengunjung dan pemerintah. Pengunjung kerap mengabaikan kebersihan dan pemerintah kurang memberikan perhatian lebih.

Bila Candi Borobudur dan Candi Prambanan masih seperti itu bagaimana dengan wisata kelas dua yang tidak mendapat dana dari APBN?" tanyanya.

Kita, lanjutnya, seharusnya dapat memperlakukan aset dan potensi situs itu dengan baik. Selain itu, ikut pula mempromosikannya melalui media sosial dan internet. (S-1)

Sunday, October 23, 2011

Suku Karen, Myanmar - Misteri Si Leher Panjang

    Tumpukan gelang besi itu terlihat bertumpuk meninggi berjumlah belasan hingga puluhan, menekan kuat di leher perempuan-perempuan itu. Warna keemasan besi melingkar itu tak menghilangkan rasa ngeri yang melihatnya, apalagi bila mengingat leher itu berukuran panjang tidak normal.

 
    The Long Necked Woman !! Yup, kita akan menuju perkampungan perempuan-perempuan berleher panjang, yang bisa ditemukan di kampung-kampung kawasan perbatasan Myanmar Selatan dengan Thailand Utara.
       Pilihan paling mudah menuju ke kampung perempuan berleher panjang adalah melalui Thailand. Akses menuju perbatasan bisa dilakukan dengan mengambil starting point di dua kota besar di Thailand Utara, pilihan bisa dari Chiang Mai sebagai kota dan provinsi terbesar di Thailand Utara, atau juga bisa melalui Chiang Rai. Menuju ke kedua kota ini sangat mudah, tersedia penerbangan ber-budget rendah, atau bisa menggunakan jalur darat dari Bangkok, dengan kereta api atau bus. Jalur menuju ke perbatasan Thailand-Myanmar ini adalah Chiang Mai (atau Chiang Rai) menuju ke Mae Sai, salah satu distrik di Thailand Utara. Dari Mai Sai, kita langsung menyeberang perbatasan menuju ke Thachileik, border town di Myanmar.
         Pilihan termudah adalah dari Chiang Mai. Dari Chiang Mai, banyak sekali bus menuju ke Mae Sai. Perjalanan kurang lebih sekitar 4 jam menuju ke Mae Sai. Jangan khawatir, bus-bus di Thailand besar-besar, bersih, nyaman, murah, dengan jalur utama antarprovinsi yang mulus. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan indah wilayah Utara Thailand. Coba pilih Green Bus, dari Arcade Bus Station, dengan tiket bus seharga paling mahal hanya 212 Baht atau kurang lebih hanya Rp 60.000 sekali jalan. Paling enak, kita berangkat pagi-pagi dari Chiang Mai, supaya kita bisa puas menikmati one day trip di Myanmar. Dengan begitu, menjelang siang kita sudah sampai di Mae Sai Bus Station. Nah, dari sini, kita masih harus melanjutkan perjalanan, namun tidak jauh, hanya sekitar 3 kilometer. Ojek sepeda motor jadi pilihan, hanya dengan tariff 50 Baht atau sekitar Rp 15.000. Pilihan lainnya adalah semacam Angkot yang biasa disebut Rod Daeng.
          Mae Sai dulunya hanya sebuah distrik kecil yang berada di wilayah Provinsi Chiang Rai sebelum akhirnya berkembang menjadi distrik setingkat kabupaten pada tahun 1950. Ini adalah tapal batas paling utara Thailand berbatasan dengan Myanmar. Sisi selatan adalah Mae Sai, sisi utara adalah Thachileik. Keduanya dipisah oleh sungai, dan di masing-masing sisi sungai tersebut terdapat pasar. Ini sebenarnya adalah kota perbatasan yang sangat berfungsi menjadi kota perdagangan bagi penduduk kedua negara. Banyak orang Thailand yang berbelanja di pasar Thachileik, demikian juga sebaliknya.
            Bila Anda tipe orang yang suka berpetualang di kawasan pinggiran kota, pedesaan, maka menikmati wilayah perbatasan Thailand dengan Myanmar ini akan mengasyikan. Sebagai sebuah garis batas dua negara, kawasan ini pada siang hari begitu hidup. Bagian selatan perbatasan terdapat Pasar Mae Sai, bagian utara terdapat Pasar Thachileik. Pasar Mae Sai sangat ramai dengan pedagang souvenir khas Thailand utara. Setiap hari, pasar di Mae Sai sangat ramai. Pasar di Mae Sai terkenal dengan penjualan batu-batu giok, perhiasan dan lain sebagainya. Segala macam souvenir juga mudah didapatkan di pasar ini. Selama perbatasan dibuka, maka denyut nadi pasar ini terus berdetak. Sangat ramai. 
           Kota perbatasan ini juga ramai oleh turis kulit putih. Kenapa? Karena di sini mereka bisa memperpanjang visa (Visa Run). Bila visa Thailand mereka habis, mereka tinggal keluar sebentar menuju Myanmar barang satu dua jam, lalu kembali lagi ke Thailand mendapatkan stempel di paspor mereka untuk memperpanjang izin tinggal atau wisatanya di Thailand. Tetapi seiring dengan kegiatan itu, penduduk kedua kota akhirnya mendapatkan cipratan rejeki. Para turis tak jarang memanfaatkannya untuk jalan-jalan dan berbelanja juga.
         Perbatasan ditandai dengan jembatan yang melintang di atas sungai. Lalu akan terlihat pos pemeriksaan imigrasi. Untuk masuk, bagi pemegang paspor selain Thailand, kita akan ditarik biaya 500 Baht atau sekitar Rp 140.000. Caranya, tinggal menuju ke pos pemeriksaan, lalu ditanya sedikit tentang ini dan itu, dan kita diminta meninggalkan paspor setelah membayar.
  
    Pasar Segala Palsu

         Tachileik memang salah sau wilayah miskin. Tak heran bila kita masuk ke sana, maka akan banyak sekali peminta-minta, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, serta pengasong. Kadang-kadang cukup mengganggu juga, apalagi bila mereka melihat kita mengeluarkan kamera poket, mereka langsung merubung, karena berharap bisa mendapatkan uang dari para turis.
       Berbeda dengan Pasar Mae Sai, Pasar Tachileik yang masuk wilayah Myanmar adalah pasar yang terkenal menjual aneka barang, kebanyakan barang-barang palsu buatan China. Mulai dari aneka telepon seluler palsu, barang-barang elektronik palsu, pakaian dalam palsu, kacamata palsu, jam tangan palsu, sampai Viagra palsu…hahahaha. Inilah pasar segala palsu yang menawarkan harga miring tapi kemasan bak asli.

      Kembali ke tujuan semula, bertemu dengan para wanita berleher panjang, kita bisa menggunakan semacam becak bermotor untuk menuju Regina Hill Tribe Village. Ini adalah kampungnya para wanita berleher panjang. Kita bisa booking becak bermotor ini sekalian keliling ke sejumlah destinasi, selain ke Regina Hill Tribe Village, kita juga bisa diantar ke sejumlah kuil Buddha yang indah-indah. Satu paket perjalanan naik becak motor keliling Tachileik ini bisa didapatkan dengan harga hanya 40 Baht saja atau sekitar Rp 12.000, tergantung kemampuan menawar kita.
        Oya, meskipun kita sudah masuk Negara Myanmar, namun di sini Baht sangat dihargai. Sehingga anda tidak perlu menukarkan mata uang Baht anda. Harga di sini juga relatif sama dengan di Thailand, misalnya untuk makanan yang dibuka mulai dari harga 25 Baht (Rp 7.000).




  Regina Hill Tribe Village

        Sopir becak bermotor akan mengantarkan kita ke kawasan yang masih terdapat keturunan Suku Karen. Suku Karen adalah suku yang tinggal menyebar di sepanjang perbatasan Thailand dan Myanmar. Perempuan-perempuan suku ini banyak yang mengenakan cincin keemasan di leher mereka dalam jumlah banyak, hingga membuat leher mereka memanjang.
        Kawasan ini saat ini sudah tidak seperti kampung asli mereka, namun sudah seperti kawasan konservasi. Padahal di dalamnya masih tinggal orang-orang Suku Karen. Pintu masuk ke kompleks itu dijaga seorang perempuan muda dengan seragam pegawai pemerintah. Kita harus membayar 40 Baht untuk masuk ke dalamnya.
      Kampung ini sudah serupa kampung buatan, tidak natural lagi. Keturunan Suku Karen dibuatkan kompleks pedesaan, dengan jalan setapak yang sudah disemen, dibuatkan rumah. Lalu perempuan-perempuannya menenun kain, ada juga yang duduk-duduk saja, sementara sebagian lainnya memomong anak. Mereka juga menjual kain yang dibuat serta kerajinan tangan. Dengan senang hati mereka kita ajak berfoto, meskipun kita tidak membeli kerajinan tangan buatan mereka sekalipun. Perempuan-perempuan yang lebih tua lehernya lebih panjang daripada yang muda, dengan tumpukan gelang di leher yang lebih banyak. Mereka terlihat sangat nyaman dengan gelang itu, tetapi ngeri juga melihatnya.
        Bagaimana ceritanya mereka memiliki budaya itu? Menurut cerita rakyat setempat, dulu kala, ada kepala suku yang isterinya akan segera melahirkan anak pada hari Rabu. Dari informasi yang didapat si kepala suku, seekor macan akan memangsa anak itu begitu lahir, dan menggigitnya tepat di leher. Begitu si anak lahir, diberilah si anak kalung besi sehingga macan tidak bisa menggigit lehernya.Kenyataan membuktikan, anaknya baik-baik saja, sehingga kemudian setiap anak perempuan yang lahir Rabu sejak usia lima tahun sudah diberi gelang besi di leher hingga usia dua puluh tahun. Pada usia dua puluh tahun, mereka akan memiliki gelang di leher sejumlah 23 gelang. Dalam perkembangannya, gelang panjang di leher ini menjadi semacam cara mempercantik diri. Namun jangan ditanya dari aspek kesehatan, karena begitu gelang dicopot, maka bisa-bisa mereka akan meninggal karena tulang leher rapuh dan tidak siap menyangga kepala yang selama ini fungsi penyangga dilakukan oleh gelang-gelang itu, hiiiii.
       Nah, kelar bertemu perempuan-perempuan eksotik Suku Karen, kita bisa keliling kawasan Tachileik. Oya, kalau kita meliha beberapa perempuan dan laki-laki mencoreng-moreng pipinya, maka sebenarnya itu adalah bedak dari lumpur sungai. Menjadi kebiasaan warga setempat untuk menggunakan “masker” itu untuk menghilangkan udara panas. Lumpur itu memang memberikan efek dingin pada wajah kita. Cukup membantu, mengingat kawasan Tachileik cukup panas dan udaranya kering.
        Nah, setelah itu kita bisa berkeliling ke sejumlah kuil Buddha yang indah. Melihat patung Buddha tiga dimensi, hingga mengamati kegiatan para biksu-biksu kecil yang belajar di biara. Menyenangkan sekali. Bila sudah puas, maka bersiaplah kembali ke Thailand. Oya, jangan terlalu sore keluar dari Tachileik untuk kembali ke Mae Sai, karena bila terlalu malam, akan kesulitan untuk mendapatkan transportasi kembali ke Chiang Mai.
     
                       
TIP:
1.      Selalu bawa dan persiapkan paspor kita. Sewaktu-waktu akan dilakukan pemeriksaan di dalam bus di perjalanan antarprovinsi. Pemeriksanya adalah tentara yang akan menghentikan bus lalu memeriksa seluruh penumpang. Bersikaplah tenang dan tunjukkan paspor anda. Pemeriksaan akan terjadi beberapa kali, baik untuk angkutan umum biasa, hingga bus VIP sekalipun.
2.      Jangan beli rokok dalam jumlah besar. Pelajari benar-benar regulasinya. Ada cerita soal bule yang membeli rokok dalam jumlah besar, dan alhasil dia harus mendekam di pos polisi semalaman sebelum akhir ditebus temannya dengan duit 2.000 Baht (Rp 560.000). Selain itu, beli rokok di pasar ini anda bisa jadi akan tertipu. Banyak brands rokok terkenal, dan dalamnya ternyata rokok lintingan sendiri.

 3.      Jangan membeli obat-obatan di pasar ini, karena bisa jadi akan membawa masalah bagi anda. Di sini banyak dijual obat-obat kuat misalnya dari alat vital harimau, Viagra palsu dan lain sebagainya, ini sebenarnya terlarang. Selain itu dijual juga pipa rokok dari tulang monyet, dan lain sebagainya. Ini juga terlarang. Intinya, sebelum belanja, anda harus pahami benar soal regulasi kepabeanan. Kalau cuma membeli baju, souvenir, dan barang-barang tertentu dengan jumlah item terbatas tidak masalah.

Friday, October 21, 2011

Tips Hemat Saat Traveling

Banyak teman atau pembaca yang menanyakan, bagaimana sih caranya menghemat biaya supaya traveling kita murah dan menyenangkan. Berdasarkan pengalaman saya, yang juga sudah pernah saya bagi dalam twitter saya di @ariysoc, berikut beberapa hal yang mungkin bisa jadi panduan awal. Tentu ini tidak akan menjawab semua, dan akan sangat tergantung pada situasi yang Anda hadapi. Tips ini bisa berlaku untuk perjalanan dalam negeri ataupun ke luar negeri. Jadi sesuaikan dengan kepentingan Anda:

1.Cari tiket murah kunci utama. Beli tiket pp langsung, biasanya jatuhnya lebih murah, dibanding Anda beli tiket pergi dan pulang secara terpisah. Khususnya untuk maskapai yang sama. Cara lain, bila satu rute dirasa mahal, coba connecting flights dengan maskapai yang berbeda misalnya. Usahakan juga ambil di luar weekend dan high season.

2. Rencanakan perjalanan overland, Kereta Api (KA) atau bus. Kelas ekonomi tidak haram lho, way cheaper :). Usahakan ambil yang overnight sehingga bisa menghemat biaya penginapan.

3.Citytour, lebih keren dengan jalan kaki. Tergantung apakah Anda orang yang suka jalan atau tidak. Pilihan lain adalah sewa sepeda. Atau bus kota yang selalu lebih murah dibanding Metro atau Subway.

4. Makan: pilih hostel dengan free breakfast. Jadi pas waktunya breakfast, ambil sebanyak-banyaknya. Ambil waktu yang mepet agak siang, sehingga bisa sekalian lunch (brunch). Sehingga pas lunch time, Anda sudah mati kekenyangan. Hemat deh. :)

5. Makan: foodstreet banyak menawarkan makanan murah. Atau jaringan 7/11 banyak menawarkan makanan hangat dan murah. Big No for Fancy Restaurant.

6.Nginep: hostel dorm best dah. Bisa diakali juga menghemat penginapan dengan naik bus atau kereta api saat pindah destinasi. Ambil yang overnight. Ngiler di airport atau stasiun boleh juga :).

7.Packing seperlunya. Pakaian seperlunya, biar hemat gak pake bagasi.

8. Pastikan beli keperluan wajib di Indonesia. Saya lupa bawa odol, di Indonesia cuma Rp 2.000, di Singapore Rp 30.000. Rela? 

9.Tukar uang di Indonesia, at least dalam mata uang US$ yang lebih stabil. Pelajaran: tuker rupiah di Thailand, Rp 1,5 juta cuma dihargai Rp 800.000. Rela? 

10. Jangan takut tanya ke orang lokal. Siapa tau, spot yg kita kira jauh, ternyata cuma sepelemparan kolor aja, dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Menghemat kan? tapi pastikan juga cari second opinion untuk memantapkan. 

11. Jangan percaya orang lokal yang menawarkan hal-hal murah. Alih-alih pengen murah, kita malah masuk jebakan. Good people, bad people, they're everywhere.

12. Touristy Place kadang bikin pening tiket masuknya. Putar otak, googling, cari spot gratisan. Dijamin travelingnya gak kalah mantapnya.

13. Traveling in group? minta diskon di hostel. Bertanyalah ke pengelola. Saya berkali kali dapat diskon juga. Misalnya, menginap empat hari, hanya bayar tiga hari.

14. Jangan traveling pas weekend, high season. Thailand akan tetap sama bentuknya baik weekend atau weekdays, trust me :)

15. ini agak ekstrem sih: beberapa temen dapat makan gratis di upacara keagamaan, festival, etc. Pantas dicoba kalau mau.

16. Ini juga agak susah sih: beberapa temen ngajak tidur di public school, atau minta izin nginep di kuil. Beberapa berhasil dapet :) Bisa dicoba.

17. Sehemat-hematnya Anda, pastikan tiket pulang pergi sudah di tangan ya. Jadi kalo duit habis, silakan bego di airport nunggu jadwal pesawat pulang.

Itu beberapa tips, masih banyak tentunya cara-cara kita menghemat biaya. Tentu saja situasi-situasi di atas juga akan berbeda satu sama lain. Jadi silakan dibaca, dipertimbangkan, dan mungkin bisa dilakukan.

Have a nice trip guys.

A

Wednesday, September 28, 2011

Best travelmate

Saya menikmati traveling sendirian karena saya bisa melakukan apapun semau saya. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan orang yang saya mau, men-skip destinasi, makan semau saya, marah semau saya, ngakak semau saya, dan lain sebagainya. Solo traveling adalah saat di mana saya benar-benar menjadi diri saya sendiri, nyaris tanpa tekanan.

Tetapi, dalam beberapa hal, saya menemukan saat-saat terlemah saya, saya menemukan situasi di mana saya butuh seseorang, bahkan untuk hal sepele, seperti misalnya berbagi cerita saat saya teronggok sendirian di peron stasiun.

Happiness only real when shared. 

Dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, beberapa kali saya traveling dengan travelmate. Beragam karakter, beragam situasi, beragam permasalahan. Ada traveler Jakarta yang baru pertama kali ketemu di Kuala Lumpur dan saya belum kenal dia sebelumnya. Ada traveler Kanada yang baru saya kenal saat ketemu dia di Penang. Ada traveler Amerika Serikat, Belgia, Brazil, Inggris, dan semuanya tidak benar-benar saya kenal.

Ada yang brengsek dan membuat saya berantem dengan dia di perjalanan, ditutup dengan permintaan maaf dari dia. Ada yang ngajak mabok di pantai, dan saat saya tolak dia mengerti juga. Ada yang lebih suka berdiskusi serius tentang bagaimana kehidupan seorang muslim, hingga masuk ke ranah persoalan pribadi. Ada yang menyebut saya tukang selintut duit (entah untuk alasan apa yang sampai sekarang saya tidak mengerti). Ada yang menjadikan saya sebagai tukang foto dan porter pengangkat koper hahaha. Beraneka !!

Jadi, bahkan di luar perjalanan saya itu sendiri, saya disibukkan dengan petualangan psikologis, profiling orang, memahami karakter orang. Menjadi bertambah sabar (atau sebaliknya). Dan itu semua menarik, karena ada tarik ulur perasaan yang membawa kita kepada situasi di mana egoisme kita bisa hancur lebur dalam hitungan detik.

Saya orangnya penyabar. Saya tidak suka berkonfrontasi. Saya akan meninggalkan apa yang bukan menjadi urusan saya. Saat disebut tukang selintut pun (dan ditulis di blog - yg kemudian di delete my ex travelmate) saya pun tidak melakukan pembalasan. 

An eye for an eye and the whole world blind. Saya tidak mau buta saat dunia sedang indah-indahnya.

Best travelmate saya adalah "My Green Apple Mp3" produk jadul seharga Rp 175.000 yang saya beli di sebuah pameran komputer di Solo beberapa tahun lalu. Playlist saya pun jadul, karena saya tidak tahu cara menambah lagu di sana, mengingat driver-nya ilang. Beberapa lagu di dalamnya yang sering saya putar adalah Love Will Keep Us Alive-nya Eagles, Home-nya Michael Buble dan Blake Shelton, serta Can't Cry Hard Enough-nya Williams Brothers. My Green Apple adalah teman setia. Tidak protes saat duit habis, tidak ngomel saat capek berjalan jauh. Paling hanya ngambek saat baterai-nya habis dan minta di-charge.
Tidak semua travelmate saya orangnya ribet. Beberapa adalah orang yang pantas saya beri ucapan terima kasih dan membuat saya berpikir untuk menjadikan mereka travelmate saya di next journey. Saya menemukan nama-nama seperti Manda dan Salwa, dua cewek dari IPB, Bandung yang sangat tangguh dan tidak pernah mengeluh saat kami traveling ke Sempu. Saya juga menemukan Hamka dan Fachry, dua mahasiswa Malang yang asyik jadi teman jalan. Saya menemukan Vivian dari Switzerland, yang membuat traveling kami di Solo sekitarnya menjadi ajang pelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan. Saya menemukan Monika dari Jerman yang selalu senyum menikmati apapun itu yang ditemui, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan. Saya menemukan Sven, traveler sejati yang nyaris dalam empat tahun terakhir ini selalu mampir Solo setiap tahunnya, dan menyebut saya "brother from another mother".

Saya menemukan Pop, traveler, travel writer, famous singer di Thailand, dengan segala atribut mewahnya namun rela berbecek-becek dan jalan jauh menjelajah Thailand bersama saya. Travelmate terakhir saya sebelum tulisan ini dibuat, adalah Ajie dari Bandung. He's 22 years old, tapi tidak bersikap kolokan, mau jalan jauh, ngakak-ngakak saat duit menipis, mood-nya terjaga banget, gak ada marah gak ada ngambek, makan enak ayo makan gak enak juga hajar saja. Kata dia, "Ketika traveling, ada kalanya kita terjebak di suatu daerah dengan budget amat sangat tipis. Menegangkan, tapi rame juga kalau dinikmati."

Itulah cerita saya. Baik buruk travelmate saya telah cukup memberikan kontribusi mewarnai perjalanan saya . I dedicate this article to all my travelmates. You make my life so colourful. Ten Million Thanks !!

regards,
A