Saturday, May 3, 2008

Peluang buat para penulis

Dari milis tetangga
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini, DKJ berharap akan lahir novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum- Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.- Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.- Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa- Naskah dan judul ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik- Tema bebas

Ketentuan Khusus- Panjang naskah minimal 100 halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman 12- Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah- Lima salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2008Dewan Kesenian JakartaJl. Cikini Raya 73Jakarta 10330Telp. 021-3193 7639 / 316 2780- Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 2008 (cap pos atau diantar langsung)

Lain-lain- Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir Desember 2008- Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis- Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat- Pajak ditanggung pemenang- Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2006—2009.

Hadiah:
Juara I Rp 20.000.000
Juara II Rp 15.000.000
Juara III Rp 12.500.000

Wednesday, April 16, 2008

Kucingnya mati...

Belum enam bulan sejak kematian kucingnya yang pertama, yaitu sang induk, hari ini kucing punya adikku mati. Mochi namanya. Semalem sepulang dari kantor, aku melihat kucing itu muntah-muntah dengan muntahan agak berbusa. Sempat berpikir diracun orang. Tapi gak tau juga.
Pagi ini, bak menghadapi seseorang yang tengah sakaratul maut, adikku menemani kucing yang tengah sekarat itu. Masih terasa bergerak-gerak, matanya nanar berkedap kedip. Sampai kemudian dia akhirnya mati.
Sedih memang, sejak kematian kerap menjadi definisi dari perpisahan dengan orang atau sosok yang disayang. Lebih sedih lagi, karena biasanya setelah itu adikku gak mau makan dan menangis semalaman...
*Lagi berpikir untuk mencari kucing jantan lagi, untuk dipelihara dirumah*

Thursday, April 10, 2008

D'masiv-satu lagi mesin uang musica



Pada keikutsertaan final A Mild Live Wanted 2007 lalu, D'masiv, dulu menggunakan nama Massive, memang tidak terlihat terlalu menonjol. Saat final yang dilaksanakan di Pantai Ancol oleh kalangan terbatas, termasuk jurnalis dari seluruh Indonesia yang mewakili masing-masing pemenang regional, D'Masiv pun tampil biasa. Walaupun satu sisi, D'masiv relatif tampil lebih "bersih" dari segi musikalitas lengkap dengan japanese look yang terlihat menonjol dibanding peserta lain.

Saat temen-temen wartawan saling melemparkan opininya siapa yang bakal juara, mereka dengan bangganya menyatakan wakil daerah mereka yang akan juara. Demikian juga aku. Aku bilang, North dari Solo(dulu menggunakan nama Utara) punya kans. Tapi sebenarnya, North pun tak menunjukkan kemajuan yang berarti dari penampilan mereka selama ini. North tampil "lumayan". Tapi tak cukup hanya berbekal "lumayan" untuk bisa menjadi juara. Label yang bakal mengkontrak mereka pasti punya pertimbangan lain.

Yup, North yang digawangi Brian, adeknya Tia AFI, mungkin memiliki sejumlah personel dengan tampang yang lumayan menjual. Pertanyaan berikutnya, seberapa besar faktor tampang dipertimbangkan dalam sebuah penentuan kontrak oleh pihak label. Beberapa mesin uang Musica Studio, label yang bakal mengkontrak pemenang A Mild Live Wanted ini, toh tak memiliki tampang yang licin. Tengok saja Nidji, Giring sangat kumal. Jadi terlalu naif kalau mengatakan North punya kans karena tampang. Tapi benar iya, tampang memang menjadi pendukung.

Kembali ke D'Masiv. Kala itu masih lumayan culun. Mereka juga sangat kooperatif dengan wartawan. Ingat sekali saat mereka diminta foto2 dengan wartawan, mereka nyeletuk "Aduh serasa udah jadi terkenal". Gaya humble mereka juga menjadi poin yang bagus. Tak bisa dipungkiri, wah atmosfer bermusik Jakarta sangat-sangat membuat jarak yang sangat lebar antara finalis daerah dan dari Jakarta. Dan D'masiv beruntung mereka tinggal di sebuah kota dengan iklim kompetisi yang sangat tinggi, ketat, dan tidak memberikan kesempatan yang lemah menjadi menang karena beruntung.

Pun saat mereka menang, sebagian besar jurnalis menyatakan permaklumannya. Bahwa secara perhitungan bisnis di industri musik, D'masiv memiliki kekompletan yang tidak dimiliki finalis lain. Angka akumulatif pasti akan menentukan pemenang yang memiliki kekompletan itu.

Dan lihat sekarang, singlenya "Tak bisa hidup tanpamu" memang tak terlalu menggigit tapi cukup berbicara. Baru kemudian di album perdana mereka "Perubahan" dengan hitsnya "Cinta ini membunuhku", band ini mampu menunjukkan taringnya. Sudah dapat dipastikan, D'masiv akan mampu menjadi mesin uang berikutnya bagi label lokal yang tengah bersinar, Musica Studio.


Di kantor, beberapa hari ini winamp rekan kantor kerap memutar "Cinta ini membunuhku". Demikian juga beberapa ring back tone milik temen2 kantor. Dan aku juga lumayan suka.


regards



Wednesday, April 9, 2008

you make me feel...so...beautiful...


I have lost my illusions-I have drowned in your words-
I have left my confusion to a cynical world-I am throwing my self at things I dont understand-
Discover enlightenment holding your hand....

just happy to be found....*)



*So beautiful - Darren Hayes (Savage Garden "Greatest hits")


Monday, December 3, 2007

Le Grand Voyage


Reda : Why didn't you fly to Mecca? It's a lot simpler.


The Father: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...


Reda: What ?


The Father: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That's why it's better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane.


salah satu line terbaik di film Le Grand Voyage adalah film yang sederhana. Sesederhana percakapan antartetangga. Salah satu film model "road trip" yang keren yang pernah aku tonton, sejak aku terlalu kecewa dengan "road trip" -nya Riri Reza di "Tiga Hari untuk Selamanya".

Kelasnya tentu berbeda antara Riri dengan Ismael Ferroukhi, sutradara dan penulis film ini. Ini film lama sebenarnya, tahun 2004. Tetapi aku baru menemukannya sekarang. Film yang memotret hubungan antara bapak dan anak laki-lakinya yang beranjak dewasa. Film ini pernah di putar di Toronto dan Venice International Film Festivals. Dinominasikan sebagai film berbahasa asing terbaik selain bahasa Inggris di BAFTA Film Award, Film terbaik dalam Mar de Plata Film Festival, aktor terbaik untuk Mohamed Majd untuk festival yang sama, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya.


Film bercerita tentang perjalanan Reda mengantar ayahnya naik haji dari Perancis menuju Mekah dengan menggunakan mobil. Perjalanan jauh, gejolak jiwa muda Reda, perjalanan batin ayahnya, religiusitas, modernisme, humanity, semua bercampur aduk dalam percakapan-percakapan yang kadang jatuhnya sangat emosional.


Bagi yang tidak menyukai film dengan banyak dialog, tanpa kejutan, datar, lama, maka film ini akan terasa berat untuk dicerna. Tapi bagi yang sudah menemukan "ruh" film ini sejak awal, maka durasi 108 menit terasa kurang.


Film ini menuangkan banyak nilai-nilai moralitas. "The Father" (mohamed majd) adalah karakter moralitas itu yang berseberangan dengan "Reda" - the son - (Nicolas Cazale) sebagai perwujudan jiwa muda yang rebel, kental dengan egoisme dan moderenitas yang nilai-nilai kerap tak sejalan dengan prinsip Islam yang dipegang ayahnya.

Maka akan kita temukan scene di mana saat ayahnya sibuk beribadah, Reda sibuk mencari perempuan dan menemukan seorang penari perut untuk menemaninya. Atau saat sang ayah sibuk berdzikir, Reda sibuk bersms dengan Lisa - pacarnya yang berada di Perancis-.

Dalam satu perjalanan di mana mereka hanya bisa makan roti dan telur, sementara Reda ingin daging, marahnya luar biasa saat sang ayah justru memberikan uang kepada seorang janda tua dengan anak perempuannya. Ini salah satu scene menarik karena akan terkait dengan scene terakhir yang cukup menyentuh. Sang ayah mengajarkan bagaimana berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, sementara sang anak berpikir uang itu bisa digunakan untuk membeli daging.


Film ini ditutup dengan menyentuh, saat Reda mendapati ayahnya tak juga pulang dari Mekkah menuju tendanya. Pada akhirnya dia menemukan ayahnya sudah terbujur kaku menjadi mayat. Akting Nicolas Cazale sangat kuat di scene ini.


Reda pun pulang ke Perancis setelah sebelumnya menjual mobilnya. Scene terakhir, Reda memesan taksi. Membuka pintu taksi, dan melemparkan tasnya ke jok belakang taksi, kemudian berbalik menatap seorang pengemis tua berjilbab yang tengah berjongkok di pinggir jalan, dan memberinya uang untuk kemudian dia masuk ke dalam taksi. Reda telah belajar banyak dari ayahnya. Le Grand Voyage sangat sarat pesan. Tapi sumpah ini tak menggurui.


regards,



Thursday, November 29, 2007



LINTANG - The cure for my elusive and my disturbing feeling of numbness