Berikut resensi dari Mbak Truly Rudiono atas buku China Selatan. Thanks Mbak ;) :
Tanpa malu-malu terpaksa mengakui, faktor 2U membuatku memandang sebuah perjalanan dari kaca mata yang berbeda. 2U adalah Uang dan Usia he hehe. Dahulu..........................,semakin menderita, semakin banyak cerita yang dikenang, plus berarti kian irit. Daripada naik pesawat, marilah naik bus, walau harus menempuh sekian lama perjalanan. Namun bisa dipastikan banyak pemandangan yang bisa dilihat, banyak cerita yang bisa dibagi. Belakangan, mulai memikirkan kenyamanan, selain faktor usia yang kadang tak mau kompromi. Sudah merasa sekali-kali bolehlah menikmati hasil keringat sendiri. Semakin nyaman semakin muantap.......! Walau berarti menipis pula pundi-pundi di kantong ^_^
Tertarik membeli buku ini bukan karena tulisan Rp 2. Juta. Namun pada kalimat Keliling China Selatan. Sejak pertama kali melihat rangkaian huruf pinyin di salah satu buku tentang Akupunktur, saya sudah tergelitik untuk mulai mempelajarinya. Ada sesuatu di huruf itu yang membuat saya kagum. Bayangkan, setiap huruf mempunyai sejarah, bunyi, pengucapan dan makna yang berbeda. Mereka tidak mengenak abjad seperti A,B,C dan seterusnya.
Menurut Wikipedia, Hànyǔ Pīnyīn (汉语拼音, arti harafiah: "bunyi bersama bahasa") atau sering disingkat Pinyin (拼音, Pīnyīn) yang berarti "bunyi bersama" dalam bahasa Tionghoa adalah sistem romanisasi (notasi fonetis dan alihaksara ke tulisan Latin) untuk bahasa Mandarin Baku yang digunakan di Republik Rakyat Cina. Pinyin disetujui penggunaannya pada 1958 dan diadopsi pada 1979 oleh pihak pemerintah Tiongkok. Ia menggantikan sistem alihaksara lama. Sejak saat itu, Hanyu Pinyin telah diterima sebagai sistem alihaksara utama untuk bahasa Mandarin di dunia. Pada 1979 Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) mengadopsi hanyu pinyin sebagai standar romanisasi untuk bahasa Tionghoa Modern.
Saat hendak belajar, sang Laoshi alias guru, sudah mengingatkan saya bahwa dibutukan ketekunan extra guna mempelajari Bahasa Cina. Namanya juga saya, semakin sulit semakin ego tertantang untuk membuktikan kalau bisa melakukan hal itu. Kian lama belajar, membuat saya tertarik untuk mendatangi negara tempat huruf-huruf cantik itu berasal. Berdasarkan pengalaman, belajar sendiri kurang membuahkan hasil, apalagi saya kesukaran mendapat teman berlatih. Dari sekian huruf yang saya hafal, nyaris sebagian besar terlupa karena tidak pernah dipakai lagi. Padahal waktu itu level kemampuan saya sudah cukup lumayan. Timbul ide iseng, tinggal di sana 1-2 minggu seperti cukup untuk mengembalikan ingatan saya.
Sang tukang jalan-jalan merangkap tukang cerita, memberikan gambaran yang teramat sangat jelas mengenai situasi dan kondisi disana. Makanan yang menggugah selera, pemandangan yang indah menawan, kondisi sekitar, saya serasa berada disana. Termasuk ikut panik saat rencana meleset.
Bisa buku ini kian membulatkan saya untuk pergi melancong ke sana, tentunya ala saya yah.... Soal makanan, penginapan dan trasnportasi sudah cukup mendapat pencerahan dari buku ini. Semua hal-hal penting sudah diperhatikan. Termasuk soal harga, perlu diingat soal kenaikan harga yang mungkin terjadi. Tinggal mencari waktu yang tepat.
Ilustrasi yang ada... membuat saya tertawa lepas. Ada beberapa gambar yang mengingatkan pada kisah di masa lalu. Ya ampun................., ternyata memalukan juga hi hi hi
Satu yang membuat saya heran, penulis yang tukang jalan-jalan kok tidak membekali diri dengan kamus elektronik sekian bahasa, walau tidak semurah dalam wujud buku. Untuk ke China, sebaiknya ini disiapkan. Karena salah ucap bisa berarti salah makna. Misalnya, kata tanya diucapkan wen, cium juga wen tentunya dengan perbedaan nada pengucapan. Bayangkan jika ingin bertanya jadi diucapkan ingin cium. Tahukan mendapat apa................ Atau mangkuk disebut wan, sementara, puluhan ribu juga wan Lalu jika pergi ke restoran meminta mangkuk, namun menyebutkannya dengan uang! Bisa dikira mau merampok! Belum lagi pelafalan huruf B menjadi P, P menjadi Ph, lalu D menjadi T ribet...................!
Kamus sih boleh-boleh saja untuk keadaan mendesak. Masalahnya, menurut sumber terpecaya, di sana masih banyak yang buta huruf. Selain itu, perubahan penulisan huruf demi penyederhanaan kadang membingungkan. Angkatan sepuh mungkin tidak mengenali sebuah aksara yang disederhanakan. Demikian juga sebaliknya, angkatan muda belum tentu mengenal asal muasal huruf yang sekarang. Dengan membawa kamus elektronik, tinggal ketik kata yang ingin diucapkan, alihkan ke bahasa negara tujuan, lalu tekan tombol suara. Pas benar pengucapannya.
Seperti sudah musti kian mengetatkan ikat pinggang eh belanja buku supaya bisa terwujud.....
Plus ngatur jadwal cuti nih!
Xiexie Nin....................!
sumber aslinya:
http://www.facebook.com/?ref=home#!/note.php?note_id=473145502278&comments
Labels
Ho[S]tel
(29)
Jelajah Dunia
(58)
Jelajah Negeri
(57)
Kuliner
(17)
Tentang Ariy
(1)
Thoughts
(46)
Tips dan Tricks
(87)
Thursday, October 21, 2010
Wednesday, September 22, 2010
Jalan-jalan ke China: Bargain ‘til you die
Ini cerita intermezo yang mungkin bisa jadi pelajaran apa yang harus kita lakukan saat membeli barang di China, sebagaimana saya kutip dari buku saya "Rp 2 Juta Keliling China Selatan dalam 16 Hari". Teman dari Kanada menuturkankan ke saya, sebagai bekal kita menawar barang di China. Dia bercerita, ada temannya yang ingin membeli alat eletronika buatan China. Bertanyalah si teman ini kepada sang penjual.
“Berapa?”
“920 yuan.”
“1 yuan,” tawar si teman.
“800 yuan.”
“2 yuan,” si teman tak mau kalah.
“500 yuan,” sahut si penjual.
“3 yuan,” ujar si teman berani mati.
“Okay, 500 and 3 yuan!”
“4 yuan.”
Tawar menawar sengit itu berakhir pada kesepakatan harga 210 yuan, dari harga yang dibuka di awal 920 yuan. Hahahaha. The point is, tawarlah semua barang di China kecuali tiket kereta api, KFC dan Mc Donalds. :)
“Berapa?”
“920 yuan.”
“1 yuan,” tawar si teman.
“800 yuan.”
“2 yuan,” si teman tak mau kalah.
“500 yuan,” sahut si penjual.
“3 yuan,” ujar si teman berani mati.
“Okay, 500 and 3 yuan!”
“4 yuan.”
Tawar menawar sengit itu berakhir pada kesepakatan harga 210 yuan, dari harga yang dibuka di awal 920 yuan. Hahahaha. The point is, tawarlah semua barang di China kecuali tiket kereta api, KFC dan Mc Donalds. :)
Sunday, September 12, 2010
Malaysia...oh Malaysia
![]() | |
| Dinner bareng teman-teman Indonesia dan Malaysia |
Semoga Aidil Fitri ini menyatukan hati2 kita sesama muslim terutamanya yang mendiami Malaysia & Indonesia ini. Doaku agar dakyah2 yang akan memecahBelahkan perpaduan kita bisa ditumpaskan dgn semangat persaudaraan sesama kita selama ini,insyaAllah ;)
Itu tulisan Azrai, teman saya dari Malaysia saat saya memberikan ucapan selamat lebaran. Hubungan dua negara bertetangga yang terus saja naik turun memang sedikit banyak berpengaruh pada banyak aspek, termasuk pertemanan seperti ini. Kami tentu saja masih baik-baik saja berteman. Tetapi, kadang mau tidak mau, kami juga seperti ingin selalu menjaga hati masing-masing. Misalnya, demo anti-Malaysia di awal-awal sengketa Sipadan - Ligitan dulu, saya juga menjelaskan posisi saya dalam memandang kasus ini. Demikian juga dia dengan pandangan dia.
Saya memiliki banyak teman di Malaysia. Mereka tentu saja orang-orang baik, seperti halnya kita memiliki sahabat-sahabat di Indonesia. Kedatangan saya ke Malaysia pada Oktober tahun 2009, disambut Azrai dengan baik. Dia, selama seharian penuh, hingga malam hari, menemani saya dan teman-teman saya dari Indonesia dengan ramah. Mentraktir kami, memperkenalkan kami dengan teman-teman dia yang akhirnya menjadi teman saya juga. Dalam kondisi ini, saya tidak melihat adanya perbedaan antara saya dan mereka. Mereka tidak terpengaruh isu politik yang berkembang, demikian pula saya tidak ingin mengungkit soal itu. Kami sempat berdiskusi, tetapi ini diskusi yang sangat positif sekali. Masing-masing ingin menyampaikan posisinya dalam memandang persoalan ini. Dan, after all...kami selalu pada posisi bahwa kita ini hanya manusia biasa. Tak mau berpikir soal politik. Bukan karena kami tak tahu dan tak mau tahu soal politik. Saya lebih dari enam tahun bergelut dengan berita-berita politik lokal maupun nasional di Indonesia, karena kebetulan dulu saya jurnalis di desk politik. Sementara Azrai, dia juga tahu banyak soal politik di Malaysia. Kami sempat berdiskusi juga tentang Internal Security Act (ISA) di Malaysia atau biasa disebut akta keselamatan dalam negeri, di mana setiap orang bisa saja masuk penjara tanpa melalui pengadilan bila dinilai membahayakan negara.
Bagi saya, politik itu kotornya sudah kayak piring kotor habis lebaran saja. Menumpuk, berminyak, kadang bau amis, dan lain sebagainya. Saya tahu pasti praktik-praktik semacam ini. Bagi saya, berita di media itu memang fakta, namun fakta di media kadang bukanlah fakta yang merepresentasikan apa yang ada di masyarakat. Kadang ada main bumbu supaya sedap, kadang terpengaruh political view wartawannya, kadang terpengaruh political view bos korannya, dan banyak lagi.
Jadi kembali lagi ke situasi politik Indonesia - Malaysia, saya sudah tidak peduli lagi. Saya coba berpikir jernih saja daripada mengumpat-umpat di status facebook, twitter, dan lain sebagainya. Negara saya tetap Indonesia kok. Tetapi saya juga tidak mau men-sweeping warga Malaysia dong, karena saya berpikir jernih...di sana lho...di negeri jiran itu ada ratusan ribu warga Negara Indonesia berjuang mencari nafkah. Apa iya, itu tindakan bijak dengan men-sweeping orang Malaysia di Indonesia?
Itu tulisan Azrai, teman saya dari Malaysia saat saya memberikan ucapan selamat lebaran. Hubungan dua negara bertetangga yang terus saja naik turun memang sedikit banyak berpengaruh pada banyak aspek, termasuk pertemanan seperti ini. Kami tentu saja masih baik-baik saja berteman. Tetapi, kadang mau tidak mau, kami juga seperti ingin selalu menjaga hati masing-masing. Misalnya, demo anti-Malaysia di awal-awal sengketa Sipadan - Ligitan dulu, saya juga menjelaskan posisi saya dalam memandang kasus ini. Demikian juga dia dengan pandangan dia.
Saya memiliki banyak teman di Malaysia. Mereka tentu saja orang-orang baik, seperti halnya kita memiliki sahabat-sahabat di Indonesia. Kedatangan saya ke Malaysia pada Oktober tahun 2009, disambut Azrai dengan baik. Dia, selama seharian penuh, hingga malam hari, menemani saya dan teman-teman saya dari Indonesia dengan ramah. Mentraktir kami, memperkenalkan kami dengan teman-teman dia yang akhirnya menjadi teman saya juga. Dalam kondisi ini, saya tidak melihat adanya perbedaan antara saya dan mereka. Mereka tidak terpengaruh isu politik yang berkembang, demikian pula saya tidak ingin mengungkit soal itu. Kami sempat berdiskusi, tetapi ini diskusi yang sangat positif sekali. Masing-masing ingin menyampaikan posisinya dalam memandang persoalan ini. Dan, after all...kami selalu pada posisi bahwa kita ini hanya manusia biasa. Tak mau berpikir soal politik. Bukan karena kami tak tahu dan tak mau tahu soal politik. Saya lebih dari enam tahun bergelut dengan berita-berita politik lokal maupun nasional di Indonesia, karena kebetulan dulu saya jurnalis di desk politik. Sementara Azrai, dia juga tahu banyak soal politik di Malaysia. Kami sempat berdiskusi juga tentang Internal Security Act (ISA) di Malaysia atau biasa disebut akta keselamatan dalam negeri, di mana setiap orang bisa saja masuk penjara tanpa melalui pengadilan bila dinilai membahayakan negara.
Bagi saya, politik itu kotornya sudah kayak piring kotor habis lebaran saja. Menumpuk, berminyak, kadang bau amis, dan lain sebagainya. Saya tahu pasti praktik-praktik semacam ini. Bagi saya, berita di media itu memang fakta, namun fakta di media kadang bukanlah fakta yang merepresentasikan apa yang ada di masyarakat. Kadang ada main bumbu supaya sedap, kadang terpengaruh political view wartawannya, kadang terpengaruh political view bos korannya, dan banyak lagi.
Jadi kembali lagi ke situasi politik Indonesia - Malaysia, saya sudah tidak peduli lagi. Saya coba berpikir jernih saja daripada mengumpat-umpat di status facebook, twitter, dan lain sebagainya. Negara saya tetap Indonesia kok. Tetapi saya juga tidak mau men-sweeping warga Malaysia dong, karena saya berpikir jernih...di sana lho...di negeri jiran itu ada ratusan ribu warga Negara Indonesia berjuang mencari nafkah. Apa iya, itu tindakan bijak dengan men-sweeping orang Malaysia di Indonesia?
Ini lho, ada banyak orang mengumpat dan caci maki Malaysia, tetapi mereka masih juga menggunakan Air Asia. yang notabene dari Malaysia. Bukan apa-apa, tapi sedikit gentle dan main fair ajalah kalo mau adu syaraf. Ini juga ada yang mau demo, tetapi gak tahu persis persoalannya apa.
Maka, kembalikanlah semua pada hati kita. Jangan emosi, berpikir jernih, menimbang kerugian dari semua perkara ini. Mencari kejelasan apa yang terjadi sebenarnya dan jangan hanya dari satu sisi saja, jangan dari kacamata media saja, atau kata orang itu begini kok...bla..bla..bla...dan lain sebagainya.
Ada teman saya membatalkan travelingnya ke Malaysia karena persoalan ini. Takut hal-hal buruk akan muncul. Sampai Sheila Madjid pun harus menunda konsernya gara-gara kasus ini. Sementara ribuan orang di Indonesia masih juga berburu tiket murah Air Asia. Nah lho...bagaimana ? apakah kita akan teruskan perang syaraf ini?
Ada teman saya membatalkan travelingnya ke Malaysia karena persoalan ini. Takut hal-hal buruk akan muncul. Sampai Sheila Madjid pun harus menunda konsernya gara-gara kasus ini. Sementara ribuan orang di Indonesia masih juga berburu tiket murah Air Asia. Nah lho...bagaimana ? apakah kita akan teruskan perang syaraf ini?
Wednesday, September 8, 2010
Kumpul bareng keluarga travel writers

Habis ngobrol bareng, bagi-bagi hadiah, bagi-bagi pengalaman, dengan para pembaca di Mega Bekasi Hypermall. Dari kiri belakang: Sihmanto - penulis buku traveling ke Vietnam, Sari Musdar - penulis buku traveling ke Eropa, Trinity - the naked traveler, Claudia Kaunang - penulis buku traveling Singapore - Malaysia - Thailand, Rini Raharjanti - penulis buku traveling ke India, Ariyanto - penulis buku traveling ke China Selatan dan Thailand.
Dari kiri duduk: tim Penerbit Bentang Pustaka - Dita, Putri, Ikhdah.
Roadshow di TB Gramedia dan TB Toga Mas
Saturday, September 4, 2010
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir bahwa dunia di luar sana adalah alam tergelap yang siap menghilangkan bayangan kita dari kasat mata?
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir bahwa individu di luar sana adalah makhluk terburuk yang siap menganiaya kita tanpa memberi sejeda pun waktu bagi kita untuk menghela napas?
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir kita akan bertemu ras berbeda dan merasa kita adalah kasta kedua, ketiga, atau bahkan tak terhitung setelahnya?
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir kita akan tersesat tanpa pernah mencium satu dari sekian sudut derajat arah mata angin?
Ini adalah belantara luas yang satu tepi dengan tepinya tidak terputus. Tersesatlah ke satu ujung, maka kau akan bertemu ujung lainnya. Berputarlah, maka kau akan kembali bertemu halaman belakang rumahmu. Berbisiklah tolong, bahkan itu akan sampai ke telinga teman terdekatmu. Inilah ladang permainan luas yang disediakan untuk kita, semua, sama rata. Tak ada yang benar-benar memilikinya sehingga berhak duduk di kursi lebih tinggi. Inilah ladang permainan luas, perpustakaan tersejuk tanpa pendingin udara, buku ilmu pengetahuan tertebal yang bahkan kau tidak bisa membayangkannya. Inilah ladang permainan yang kau boleh memilih untuk menggumulinya atau melewatkannya, dengan dua risiko: suka cita atau menyesalinya.
Menjadi takut adalah cara sempurna bagi kita untuk waspada dan tak jumawa. Tetapi menjadi takut dengan asumsi-asumsi kita adalah kerugian yang tak kalah sempurnanya.
Pack your backpack, now !!
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir bahwa individu di luar sana adalah makhluk terburuk yang siap menganiaya kita tanpa memberi sejeda pun waktu bagi kita untuk menghela napas?
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir kita akan bertemu ras berbeda dan merasa kita adalah kasta kedua, ketiga, atau bahkan tak terhitung setelahnya?
Pernahkah merasakan ketakutan itu?
Berpikir kita akan tersesat tanpa pernah mencium satu dari sekian sudut derajat arah mata angin?
Ini adalah belantara luas yang satu tepi dengan tepinya tidak terputus. Tersesatlah ke satu ujung, maka kau akan bertemu ujung lainnya. Berputarlah, maka kau akan kembali bertemu halaman belakang rumahmu. Berbisiklah tolong, bahkan itu akan sampai ke telinga teman terdekatmu. Inilah ladang permainan luas yang disediakan untuk kita, semua, sama rata. Tak ada yang benar-benar memilikinya sehingga berhak duduk di kursi lebih tinggi. Inilah ladang permainan luas, perpustakaan tersejuk tanpa pendingin udara, buku ilmu pengetahuan tertebal yang bahkan kau tidak bisa membayangkannya. Inilah ladang permainan yang kau boleh memilih untuk menggumulinya atau melewatkannya, dengan dua risiko: suka cita atau menyesalinya.
Menjadi takut adalah cara sempurna bagi kita untuk waspada dan tak jumawa. Tetapi menjadi takut dengan asumsi-asumsi kita adalah kerugian yang tak kalah sempurnanya.
Pack your backpack, now !!
Sunday, August 29, 2010
Pengen tau tips dan tricks jalan-jalan murah ke Thailand?
Well, sepuluh hari di Thailand ternyata tidak cukup untuk mengeksplorasi hal-hal menarik dari negeri eksotis tersebut. Dari Chiang Rai-Chiang Mai-Bangkok-Ayutthaya-Samut Songkhram-Surat Thani - hingga Phuket saya jelajahi, tetapi masih saja ada yang terlewat.
Ingin tahu gimana perjalanan saya? dan pengen tahu berapa budget yang saya gunakan? tunggu saja buku saya setelah Lebaran. Buku panduan, yang meskipun tidaklah sempurna, semoga bisa menjadi pegangan para traveler yang duitnya cekak seperti saya. :)
Saat ini sudah mencapai bab akhir, dan insya Allah segera naik cetak dan hadir di toko-toko buku terkemuka di tempat anda. Oya, berpikirlah dari sudut pandang bahwa buku ini bukanlah cara saya mati-matian mempromosikan Thailand dan mengabaikan keindahan Indonesia. Tetapi ambillah sudut pandang positif, bahwa buku ini akan menjadi kaca bagi perbaikan dunia pariwisata kita, belajar dari Thailand dalam mengembangkan komoditas pariwisata.
regards,
A
Ingin tahu gimana perjalanan saya? dan pengen tahu berapa budget yang saya gunakan? tunggu saja buku saya setelah Lebaran. Buku panduan, yang meskipun tidaklah sempurna, semoga bisa menjadi pegangan para traveler yang duitnya cekak seperti saya. :)
Saat ini sudah mencapai bab akhir, dan insya Allah segera naik cetak dan hadir di toko-toko buku terkemuka di tempat anda. Oya, berpikirlah dari sudut pandang bahwa buku ini bukanlah cara saya mati-matian mempromosikan Thailand dan mengabaikan keindahan Indonesia. Tetapi ambillah sudut pandang positif, bahwa buku ini akan menjadi kaca bagi perbaikan dunia pariwisata kita, belajar dari Thailand dalam mengembangkan komoditas pariwisata.
regards,
A
Monday, August 9, 2010
euforia promo flight ticket
Saya menulis ini pas menjelang promo Mind Blowing Fare Air Asia. Waktu kurang dari 41 menit 53 detik menjelang promo dibuka. Sebelumnya, euforia di fesbuk sudah terjadi. Siapa juga yang tidak tertarik dengan harga tiket yang dibuka dari harga Rp 10.000?
Promo dibuka hingga 15 Agustus, dengan periode terbang 1 April hingga 11 Agustus 2011. Sebagai orang yang langganan Air Asia, saya sudah lupa berapa kali terbang dengan maskapai ini, saya merasa ini adalah kesempatan baik bagi semua orang untuk bisa terbang.
Kadang harapan sudah setinggi gunung saja saat promo dibuka. Tetapi dalam hitungan menit setelah promo dibuka, kecewanya juga setengah mampus. Caci maki di fesbuk/twitter Air Asia-lah yang kemudian muncul.
Well, yang harus benar-benar disadari adalah, bahwa yang berpikir dan mencari tiket murah tidak hanya Anda. Jadi siap-siap saja susah banget membuka situsnya. Kedua, ini yang tidak benar-benar kita sadari. Kita seakan-akan tidak mau kalah saat orang lain sibuk mencari tiket. Kita seperti merasa menang saat bisa mendapatkannya, sementara orang lain kecewa. Tetapi kita sering lupa, apakah kita benar-benar membutuhkan tiket itu? apakah saat waktunya tiba nanti kita bisa terbang ?
Jangan-jangan kita hanya ikut larut dalam euforia saja? Hmmm...bukan tidak mungkin lho. Okay, fine, kalau memang Anda sudah benar-benar matang merencanakan perjalanan Anda, go get it! Tetapi, perhitungkan benar-benar bila Anda hanya sekadar iseng. Saya menemukan fakta, beberapa teman saya menghanguskan tiket yang sudah dipesannya jauh-jauh hari dengan harga murah, pulang-pergi, karena pada saatnya terbang ternyata dia tidak bisa. Sayang bukan?
Pastikan benar-benar anda mempunyai waktu luang untuk keberangkatan tiket yang sudah Anda pesan. Memang mungkin uangnya tidak seberapa, tetapi kalau tidak jadi berangkat, sayang atuh. Padahal kalau anda jeli, anda bisa mendapatkan tiket-tiket promo yang reasonable, yang bisa anda booking pada sebulan sebelum perjalanan atau bahkan dua minggu sebelum perjalanan. Tergantung keberuntungan Anda. Namun setidaknya, Anda lebih bisa memastikan apakah tiket itu akan berguna atau tidak.
Tetapi tentu saja ini hanya pendapat saya. Pilihannya terserah Anda, toh itu uang-uang Anda juga bukan? :)
Have a nice trip everyone !!
Promo dibuka hingga 15 Agustus, dengan periode terbang 1 April hingga 11 Agustus 2011. Sebagai orang yang langganan Air Asia, saya sudah lupa berapa kali terbang dengan maskapai ini, saya merasa ini adalah kesempatan baik bagi semua orang untuk bisa terbang.
Kadang harapan sudah setinggi gunung saja saat promo dibuka. Tetapi dalam hitungan menit setelah promo dibuka, kecewanya juga setengah mampus. Caci maki di fesbuk/twitter Air Asia-lah yang kemudian muncul.
Well, yang harus benar-benar disadari adalah, bahwa yang berpikir dan mencari tiket murah tidak hanya Anda. Jadi siap-siap saja susah banget membuka situsnya. Kedua, ini yang tidak benar-benar kita sadari. Kita seakan-akan tidak mau kalah saat orang lain sibuk mencari tiket. Kita seperti merasa menang saat bisa mendapatkannya, sementara orang lain kecewa. Tetapi kita sering lupa, apakah kita benar-benar membutuhkan tiket itu? apakah saat waktunya tiba nanti kita bisa terbang ?
Jangan-jangan kita hanya ikut larut dalam euforia saja? Hmmm...bukan tidak mungkin lho. Okay, fine, kalau memang Anda sudah benar-benar matang merencanakan perjalanan Anda, go get it! Tetapi, perhitungkan benar-benar bila Anda hanya sekadar iseng. Saya menemukan fakta, beberapa teman saya menghanguskan tiket yang sudah dipesannya jauh-jauh hari dengan harga murah, pulang-pergi, karena pada saatnya terbang ternyata dia tidak bisa. Sayang bukan?
Pastikan benar-benar anda mempunyai waktu luang untuk keberangkatan tiket yang sudah Anda pesan. Memang mungkin uangnya tidak seberapa, tetapi kalau tidak jadi berangkat, sayang atuh. Padahal kalau anda jeli, anda bisa mendapatkan tiket-tiket promo yang reasonable, yang bisa anda booking pada sebulan sebelum perjalanan atau bahkan dua minggu sebelum perjalanan. Tergantung keberuntungan Anda. Namun setidaknya, Anda lebih bisa memastikan apakah tiket itu akan berguna atau tidak.
Tetapi tentu saja ini hanya pendapat saya. Pilihannya terserah Anda, toh itu uang-uang Anda juga bukan? :)
Have a nice trip everyone !!
Friday, July 2, 2010
Kenapa kita harus jalan-jalan ke China Selatan?
Sven Huber, teman saya yang backpacker dari Switzerland dalam perbincangan dengan saya di Solo suatu malam di akhir Desember 2009, bertutur tentang China. Dia yang sudah backpacking di lebih dari 20 negara bertutur tentang indahnya Guilin, suatu wilayah di Provinsi Guangxi. Lalu dia menunjukkan foto-foto keindahan Guilin.Di lain waktu, perbincangan saya dengan Sakayawat Wongrattanakamon, backpacker asal Thailand yang telah menerbitkan satu buku backpacking-nya juga berujung pada hal yang sama. “You should come to Yunnan. It’s awesome!” Kata Pop panggilan akrabnya, seraya menegaskan dia sudah empat kali ke Provinsi Yunnan, dan sepertinya dahaganya tak pernah terpuaskan. “Saya dengan senang hati akan kembali lagi ke sana,” tegasnya.
Setelah perjalanan backpacking yang saya lakukan di empat negara, Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar pada Oktober 2009 lalu, saya memang berencana untuk kembali backpacking pada 2010. Tetapi saya masih bingung menentukan destinasi. Akan lebih mudah bila saya melakukan perjalanan di negara-negara Asia Tenggara. Saya tidak perlu mengurus visa dan sebagainya. Rencana awal saya adalah Laos, namun ini kemudian berubah setelah mendengar cerita teman-teman backpackers. Beberapa waktu kemudian, saat saya berbincang dengan teman saya di Perancis
, tanpa saya duga dia bercerita bahwa dia pernah traveling ke China, lalu dia menunjukkan foto-foto indah selama dia di China. ”Worth it !” kata dia. China seperti menjadi jodoh saya. Demikian juga saat saya berbincang dengan pimpinan saya di radio tentang rencana perjalanan saya ke China. Dan lagi-lagi, ternyata pimpinan saya sudah pernah ke China, lalu menunjukkan video perjalanannya saat di Guilin. Woaaaaah....what can I say???? Empat orang seperti sudah membawa board penunjuk arah: Next China !!China memiliki empat musim. Ini bisa menjadi pegangan awal kita traveling, musim apa yang cocok dan ingin kita nikmati:
Ø Autumn (musim gugur): ini saat paling nyaman sepanjang tahun. Khususnya di awal musim gugur, yaitu September hingga awal Oktober.
Ø Spring (musim semi): merupakan transisi dari winter (musim dingin) ke summer (musim panas). Sejak pertengahan Februari biasanya sudah mulai persiapan menuju Spring. Musim ini biasanya berlangsung hingga Mei. Ini salah satu musim yang paling banyak ditunggu. Di China mereka merayakan Chinese Spring Festival dan Chinese New Year. Peringatan: cuaca sangat tidak bisa diprediksi.
Ø Summer (musim panas): dari bulan Juni hingga Agustus. Di beberapa wilayah China cuaca extremely hot. Suhu bisa sangat tinggi.
Ø Winter (musim dingin): dimulai sekitar November hingga Februari. Cuaca sangat dingin khusus China bagian utara. Beberapa wilayah bersalju.
Jujur, di awal saya sempat meremehkan tentang cuaca ini. Termasuk peringatan soal cuaca ekstrem. Saya pikir, halaaah...seekstrem apa sih??? Saya masih juga meremehkan saat saya melihat berita di salah satu televisi nasional pada akhir Januari lalu, sudah tercatat tujuh orang tewas di China karena cuaca dingin.
Destinasi saya putuskan di empat provinsi wilayah China selatan. Keempatnya adalah Provinsi Guangdong di mana saya akan mengunjungi Guangzhou sebagai ibukota provinsi; lalu Provinsi Guangxi di mana saya akan mengunjungi Nanning sebagai ibukota provinsi serta wilayah Guilin; kemudian Provinsi Yunnan, menjadikan Kunming yang merupakan ibukota provinsi sebagai pijakan awal sebelum ke wilayah lain seperti Dali. Provinsi ke empat adalah Sichuan, saya akan menuju Chengdu untuk melihat penangkaran Panda. Hmmm...sounds like a plan !!Wednesday, June 30, 2010
Apa yang harus kita bawa dalam backpacking?

Ini isi backpack saya, seperti yang saya tuliskan dalam buku backpacking saya ke China "Rp 2 Juta Keliling China Selatan dalam 16 Hari". Moga bermanfaat.
Apa yang akan saya masukkan dalam backpack saya nanti? Untuk itu, saya harus mempelajari medan. Berdasarkan masukan dari teman-teman backpacker dan googling tentang ramalan cuaca kota-kota di China yang akan saya kunjungi, China masih musim dingin. Beberapa teman menyatakan, seharusnya sudah memasuki spring atau musim semi. Isi backpack penting, ini mengingat pengalaman teman yang cukup repot membawa backpack karena saking banyaknya barang yang ingin diangkut. Inilah isi backpack saya untuk perjalanan selama total 17 hari:
• Jaket tebal satu buah
• Jaket agak tebal satu buah (biar bisa dirangkap dengan yang tebal)
• Sweater satu
• Empat t-shirt*
• Kemeja satu buah*
• Pakaian dalam enam buah*
• Celana pendek satu (karena saya sangsi akan menggunakannya di winter)
• Celana jeans tiga*
• Satu scarf
• Dua kaos tangan
• Empat pasang kaos kaki*
• Satu kopiah penghangat kepala
• Satu buah handuk
• Sandal jepit
• Sepatu*
• Satu backpack ukuran biasa
• Satu tas pinggang
• Sepasang sandal jepit
Keterangan *) Dipakai saat keberangkatan.
Perlengkapan lain:
• Perlengkapan mandi: sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi cair (lebih nyaman dibawa), sabun pencuci muka dan deodorant.
• Untuk musim dingin teman saya menyarankan membawa hand and body lotion. Saya membawa ini, dan terbukti sangat ampuh untuk mengatasi kulit kering dan pecah-pecah karena tak tahan udara dingin. Sayangnya saya lupa membawa pelembab bibir, sehingga bibir saya pecah-pecah dan berdarah tak tahan udara dingin. Sementara hidung saya mimisan. Saran saya, jangan meremehkan hal ini! Pelembab bibir bisa didapatkan dengan mudah di supermarket di lingkungan bandara, termasuk di Lower Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur sebelum terbang ke China.
• Obat-obatan dan perlengkapan lainnya: Saya selalu membawa obat sakit kepala (pereda nyeri), obat sakit perut, obat tetes mata, tisu gulung satu buah, gunting kecil, handyplast, dan sebagainya sesuai kebutuhan.
• Kamera, SD memory card (bila merasa perlu mengambil foto dalam jumlah banyak), flashdisk, perlengkapan tulis, mp3.
TIP:
Hal yang saya sesali adalah, saya tidak membawa netbook saya ke China. Kebutuhan akan koneksi internet menjadi mutlak saat kita memerlukan banyak informasi, termasuk untuk keperluan hospitality exchange. Pemeriksaan piranti komputer di bandara-bandara China tidak seketat yang dibayangkan. Membawa netbook atau laptop Anda sangat membantu di saat kita mengalami kesulitan. Saran saya, bawalah netbook Anda bila ada. Di China, tersedia layanan wifi dan internet gratis. Tetapi ini terbatas di hostel, hotel, dan cafe seperti Starbucks maupun restauran seperti McDonalds. Di McDonalds, mereka menyediakan komputer, tetapi hanya dua unit saja, itu pun hanya satu yang dioperasikan. Untuk internet cafe tidak banyak. Itu pun kalau Anda tidak bisa berbahasa mandarin, Anda harus melalui proses jibaku dulu sebelum menggunakan internet heheheh.
Sisi baiknya, tanpa netbook, saya menghilangkan sekian kilogram dari backpack saya, serta lebih santai karena tidak perlu was was mengawasi keberadaan netbook saya. Teman saya terheran-heran, bagaimana barang bawaan sebanyak itu bisa muat di backpack. Perlu diketahui, backpack saya ukurannya tidak begitu besar. Saya sengaja membawa barang yang seperlu mungkin dan sesedikit mungkin. Sehingga tidak menjadi beban bagi saya selama di perjalanan. Kuncinya supaya rapi dan gampang dibawa adalah bagaimana kita packing. Bila tak rapi dan mahir packing, yang sedikit pun terlihat banyak.
*Nah, kalau kita jalan pada musim panas, biasanya akan lebih ringan, karena pakaian-pakaian berat gak penting, cukup t-shirt dan pakaian seperlu.
Selamat backpacking !
• Jaket tebal satu buah
• Jaket agak tebal satu buah (biar bisa dirangkap dengan yang tebal)
• Sweater satu
• Empat t-shirt*
• Kemeja satu buah*
• Pakaian dalam enam buah*
• Celana pendek satu (karena saya sangsi akan menggunakannya di winter)
• Celana jeans tiga*
• Satu scarf
• Dua kaos tangan
• Empat pasang kaos kaki*
• Satu kopiah penghangat kepala
• Satu buah handuk
• Sandal jepit
• Sepatu*
• Satu backpack ukuran biasa
• Satu tas pinggang
• Sepasang sandal jepit
Keterangan *) Dipakai saat keberangkatan.
Perlengkapan lain:
• Perlengkapan mandi: sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi cair (lebih nyaman dibawa), sabun pencuci muka dan deodorant.
• Untuk musim dingin teman saya menyarankan membawa hand and body lotion. Saya membawa ini, dan terbukti sangat ampuh untuk mengatasi kulit kering dan pecah-pecah karena tak tahan udara dingin. Sayangnya saya lupa membawa pelembab bibir, sehingga bibir saya pecah-pecah dan berdarah tak tahan udara dingin. Sementara hidung saya mimisan. Saran saya, jangan meremehkan hal ini! Pelembab bibir bisa didapatkan dengan mudah di supermarket di lingkungan bandara, termasuk di Lower Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur sebelum terbang ke China.
• Obat-obatan dan perlengkapan lainnya: Saya selalu membawa obat sakit kepala (pereda nyeri), obat sakit perut, obat tetes mata, tisu gulung satu buah, gunting kecil, handyplast, dan sebagainya sesuai kebutuhan.
• Kamera, SD memory card (bila merasa perlu mengambil foto dalam jumlah banyak), flashdisk, perlengkapan tulis, mp3.
TIP:
Hal yang saya sesali adalah, saya tidak membawa netbook saya ke China. Kebutuhan akan koneksi internet menjadi mutlak saat kita memerlukan banyak informasi, termasuk untuk keperluan hospitality exchange. Pemeriksaan piranti komputer di bandara-bandara China tidak seketat yang dibayangkan. Membawa netbook atau laptop Anda sangat membantu di saat kita mengalami kesulitan. Saran saya, bawalah netbook Anda bila ada. Di China, tersedia layanan wifi dan internet gratis. Tetapi ini terbatas di hostel, hotel, dan cafe seperti Starbucks maupun restauran seperti McDonalds. Di McDonalds, mereka menyediakan komputer, tetapi hanya dua unit saja, itu pun hanya satu yang dioperasikan. Untuk internet cafe tidak banyak. Itu pun kalau Anda tidak bisa berbahasa mandarin, Anda harus melalui proses jibaku dulu sebelum menggunakan internet heheheh.
Sisi baiknya, tanpa netbook, saya menghilangkan sekian kilogram dari backpack saya, serta lebih santai karena tidak perlu was was mengawasi keberadaan netbook saya. Teman saya terheran-heran, bagaimana barang bawaan sebanyak itu bisa muat di backpack. Perlu diketahui, backpack saya ukurannya tidak begitu besar. Saya sengaja membawa barang yang seperlu mungkin dan sesedikit mungkin. Sehingga tidak menjadi beban bagi saya selama di perjalanan. Kuncinya supaya rapi dan gampang dibawa adalah bagaimana kita packing. Bila tak rapi dan mahir packing, yang sedikit pun terlihat banyak.
*Nah, kalau kita jalan pada musim panas, biasanya akan lebih ringan, karena pakaian-pakaian berat gak penting, cukup t-shirt dan pakaian seperlu.
Selamat backpacking !
Wednesday, June 23, 2010
Wah saya kena spank petugas imigrasi ! ;)
Menjelang perjalanan balik saya dari Chengdu, China ke Kuala Lumpur, seperti biasa saya harus mengikuti serangkaian tetek bengek ritual pemeriksaan di bandara. Sejujurnya, saya paling males untuk melakukan ini. Paling apes kalau ada benda yang dicurigai berada di dalam backpack yang sudah kita packing sebagus mungkin. Saya pernah harus membongkar backpack gara-gara saya lupa menaruk korek api gas yang saya beli di Nanning, China. Padahal posisi korek gas itu berada di bagian paling dasar backpack, sehingga saya harus membongkar backpack di check point. Korek api gas semacam ini memang salah satu benda yang dilarang masuk ke pesawat.
Tetapi ini bukanlah cerita tentang korek api gas. Ini tentang petugas-petugas imigrasi yang “nakal”. Hmmm…biasa dalam pemeriksaan semacam ini, kita masuk ke metal detector, lalu masih diraba secara serampangan menggunakan alat detector. Biasanya sih, laki-laki diperiksa oleh petugas laki-laki, dan perempuan diperiksa oleh petugas perempuan.
Hari itu, di depan saya tampak beberapa petugas perempuan dan laki-laki. Dua petugas perempuan adalah petugas imigrasi yang masih muda, berkulit bersih dan cukup cantik. Mereka memeriksa beberapa penumpang, kali ini mereka tidak hanya memeriksa perempuan, tetapi beberapa calon penumpang laki-laki. Saya tidak terlalu peduli dengan hal itu awalnya, sampai kemudian tiba giliran saya. Saya diminta naik ke semacam kotak seukuran 50 cm x 60 cm, setinggi sekitar 30 cm, yang memang disediakan untuk memudahkan pemeriksaan. Lalu kedua tangan saya diminta ke atas dengan posisi angkat tangan. Alat detector pun mulai bergerak acak di tubuh saya. Salah satu cewek memerintah, yang satu bertugas menggerakkan alat detector.
“Turn around !” perintah salah satu cewek itu.
Tiba-tiba, pankkkkk!!! Salah satunya memukulkan alat detector ke pantat saya. Refleks saya melihat ke perempuan yang men-spank saya…lho??? Kok bisa?? Saya keheranan melihat itu dan menatap mereka. Keduanya malah tertawa cekikikan melihat ekspresi heran wajah saya. Waahh…saya di spank sama dua cewek petugas imigrasi yang cantik-cantik. Oughhh…nakal! Coba kalau yang melakukan itu adalah petugas imigrasi laki-laki dan korbannya adalah calon penumpang perempuan, sudah pasti akan kena pasal sexual harassment.
Monday, May 17, 2010
Rp 2 juta, Keliling China Selatan dalam 16 Hari

Penulis: Ariyanto
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 987-979-24-3896-3
Sebuah buku yang diharapkan bisa menjadi panduan bagi para traveler atau backpacker yang ingin menjelajahi wilayah China Selatan.
Buku ini menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menikmati sisi lain China. China bukan lagi hanyaTembok China. Sejak keran kunjungan wisatawan asing dibuka lebar-lebar oleh pemerintah setempat, China menjadi salah satu tujuan wisata terkemuka di dunia.
Wilayah selatan, menjadi salah satu tujuan utama. Guilin, di Provinsi Guangxi misalnya, menjadi salah satu highlight China. Tak kurang dari mantan Presiden US Bill Clinton dan isterinya, Hillary Clinton, serta mantan Presiden US Richard Nixon sangat mengagumi wilayah ini. Guilin juga menjadi salah satu setting film Star Trek, serta menjadi salah tempat yang disinggahi reality show tersohor "Amazing Race" dalam salah satu episodenya.
Tidak hanya Guilin, buku ini akan mengupas juga soal wisata di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Kunming dan Dali (dengan keindahan kota kunonya) di Provinsi Yunnan, serta melihat penangkaran panda terbesar di Chengdu, Provinsi Sichuan. Tips dan tricks tersaji, mulai dari transport hingga makanan, dan lain sebagainya.
Pada akhirnya, saya berharap buku ini bisa menjadi panduan awal bagi mereka yang ingin memulai perjalanannya sendiri ke China Selatan dengan budget minim. Buku ini bisa didapatkan di toko buku Gramedia, serta toko buku lainnya. Senang rasanya, pada akhirnya saya bisa berbagi pengalaman (dan semoga bermanfaat) dengan para traveler dan backpacker. Have a nice trip !
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 987-979-24-3896-3
Sebuah buku yang diharapkan bisa menjadi panduan bagi para traveler atau backpacker yang ingin menjelajahi wilayah China Selatan.
Buku ini menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menikmati sisi lain China. China bukan lagi hanyaTembok China. Sejak keran kunjungan wisatawan asing dibuka lebar-lebar oleh pemerintah setempat, China menjadi salah satu tujuan wisata terkemuka di dunia.
Wilayah selatan, menjadi salah satu tujuan utama. Guilin, di Provinsi Guangxi misalnya, menjadi salah satu highlight China. Tak kurang dari mantan Presiden US Bill Clinton dan isterinya, Hillary Clinton, serta mantan Presiden US Richard Nixon sangat mengagumi wilayah ini. Guilin juga menjadi salah satu setting film Star Trek, serta menjadi salah tempat yang disinggahi reality show tersohor "Amazing Race" dalam salah satu episodenya.
Tidak hanya Guilin, buku ini akan mengupas juga soal wisata di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Kunming dan Dali (dengan keindahan kota kunonya) di Provinsi Yunnan, serta melihat penangkaran panda terbesar di Chengdu, Provinsi Sichuan. Tips dan tricks tersaji, mulai dari transport hingga makanan, dan lain sebagainya.
Pada akhirnya, saya berharap buku ini bisa menjadi panduan awal bagi mereka yang ingin memulai perjalanannya sendiri ke China Selatan dengan budget minim. Buku ini bisa didapatkan di toko buku Gramedia, serta toko buku lainnya. Senang rasanya, pada akhirnya saya bisa berbagi pengalaman (dan semoga bermanfaat) dengan para traveler dan backpacker. Have a nice trip !
Wednesday, May 12, 2010
Mudahnya cari visa China

Bulan Februari lalu saya berkesempatan untuk backpacking ke China. Sebelumnya saya belum pernah backpacking ke negara yang harus mengajukan visa. Pernah masuk ke Myanmar, tapi itu pun menggunakan visa on arrival (VOA) yang sangat mudah, tinggal bayar di tempat, dapat stempel, selesai sudah.
Bagi orang Indonesia, masuk ke China diperlukan visa yang harus diajukan ke Kedutaan Besar China di Jakarta. Saya, terus terang sempat ketar-ketir, karena hingga dua minggu sebelum keberangkatan, saya belum mendapatkan visa di paspor saya. Padahal tiket pesawat sudah beres semua. Bagaimana bila pengajuan visa saya ditolak?
Sebelumnya, saya sempat mencari informasi lewat internet. Googling, namun yang saya dapatkan justru semakin bingung saja. Banyak informasi berbeda di internet, dan semuanya sepertinya berat dijalani. Beberapa memang memberikan informasi bahwa visa China mudah didapatkan. Dari beberapa agent tour and travel dan informasi di internet, untuk mendapatkan visa China, saya mendapatkan informasi kurang lebih semacam ini:
1. Paspor baru2. Fotokopi bukti keuangan/rekening koran/tabungan pribadi 1 bulan terakhir minimal saldo USD 2.000 atau sekitar Rp 20 juta.
3. Jika berbentuk deposito, yang diperbolehkan hanya deposito 1 bulan atau 3 bulan.
4. Tiket asli pp dan fotokopinya. Untuk e-ticket diharuskan melampirkan bukti pembayaran lunas tiket tersebut.
5. Bukti pemesanan hotel di China, di mana nama pemesan harus sama dengan pemohon visa.
6. Jika di China tinggal di rumah family, maka harus melampirkan surat undangan dari family nya boleh berupa fax / email dalam bahasa Inggris / Mandarin & lampirkan copy ID-nya, nomer telpon dan alamatnya.
7. Pas foto 4 x 6 background putih dua lembar.
Benar-benar ribet dan saya sudah ngeper, sangsi karena waktu perjalanan saya tinggal dua minggu lagi. Semua agen perjalanan yang melayani jasa pembuatan visa di Solo, hampir memberikan syarat senada. Sampai saya mendapatkan salah satu agen, yang hanya meminta saya menyerahkan syarat paspor dan pasfoto 4 x 6 dua lembar saja. As simple as that. Dia menambahkan, dulu sewaktu penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008, memang pengajuan visa diperketat. Namun tidak lagi sekarang.
Sekitar seminggu kemudian, visa saya sudah jadi. Saya hanya harus bayar Rp 350.000 untuk single entry 30 hari. Sementara untuk proses cepat, tarifnya sekitar Rp 650.000. Ini sudah termasuk ongkos jasa pembuatan. Menurut saya cukup murah. Karena dengan Rp 350.000, saya tidak perlu ke Jakarta, di mana ongkos Solo-Jakarta juga tidak murah. Worth it banget!! Karena menurut informasi, harga normalnya sekitar Rp 300.000, jadi saya cuma ngasih jasa Rp 50.000. Mana cukup duit Rp 50.000 untuk ongkos pp Solo-JKT plus akomodasi bila saya mengurus sendiri ke Kedubes China?
Jadi tips buat yang tinggal di daerah, lebih baik ngurus lewat agen. Lebih efisien. Tetapi juga harus lihat-lihat. Karena kadang agen juga meminta syarat macam-macam hanya untuk mencari keuntungan lebih. Jadi mereka menawarkan beberapa syarat bisa dihilangkan, asalkan nambah biaya. Jadi hati-hati saja.
Namun, menurut informasi terbaru, mulai Maret 2010, biaya pembuatan visa China naik. Jadi sekarang selain biaya pembuatan visa (untuk single entry) Rp 300.000, masih kena biaya servis Rp 240.000. Total jenderal, kita musti bayar Rp 540.000. Untuk yang berdomisili di Jakarta, saya sarankan urus sendiri deh. Kayaknya lebih mudah kok. Buat yang di daerah, ya itu tadi...mending lewat tour travel agent. Semoga berhasiiiilll....
Wednesday, May 5, 2010
Nggembel 4 negara dengan Rp 4 juta (bagian II)
Perjalanan Kereta Api (KA) Senandung Malam No 12 ke Kuala Lumpur (KL) sangat membosankan. Saya ditemani dua orang traveler dari Solo dan Tasikmalaya, Popy dan Nila. Kondisi KA sangat menyiksa, karena ruangan sangat dingin. Menurut saya, KA Singapura-Malaysia ini tak sebagus yang digambarkan di situsnya. Tak lebih bagus dari KA Senjata Utama.
Senin (11/10) pukul 06.20 WIB, kami sudah tiba di KL Sentral. Saya di sini hanya untuk satu hari, karena pada Selasa (12/10), saya harus terbang ke Chiang Mai, Thailand. Popy dan Nila akan menginap di Paradiso Bed and Breakfast, di kawasan Bukit Bintang, KL. Saya ikut numpang sebentar sekadar buat mandi. Hukum pengiritan berlaku lagi. KL tidak terlalu menarik perhatian saya. Saya hanya tertarik untuk melihat Petronas Twin Tower. Di KL, saya disambut Azrai, backpacker setempat, yang juga member di www.couchsurfing.com (CS). Azrai orang yang murah hati. Dia rela menjadi "sopir" saya, Popy, dan Nila untuk berkeliling sejumlah tempat. Semua gratis...tis.
Kami mengunjungi Batu Caves, gua tempat peribadatan yang didekasikan untuk Dewa Murugan, dewa yang dipuja oleh pemeluk agama Hindu Tamil. Lokasinya berada di distrik Gombak, Selangor, atau sekitar 13 km di sebelah utara KL. Saya terpesona dengan patung Batumalai Sri Subramaniar atau Swamy Devasthanam, yang berada di luar gua. Tinggi patung 42,7 meter atau 140,09 kaki. Pembangunan patung ini sendiri menghabiskan 1.550 meter kubik beton, 250 ton besi dan 300 liter cat emas. Dan diperkirakan menelan biaya 24 juta Rupee. Untuk menuju gua, kita harus menaiki 272 anak tangga. Selama perjalanan hingga tangga akhir, kera-kera liar akan menjadi pemandangan menarik.

Malamnya, kami kembali ke Bukit Bintang. Di sinilah saya berpisah dengan Popy Nila dan Azrai. Tengah malam saya tiba di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) KL, bandara tempat saya bertolak menuju Chiang Mai, Thailand. Pesawat bertolak dari KL ke Chiang Mai pukul 07.20 dan tiba pukul 09.00 waktu setempat. Tiba di Chiang Mai International Airport, lagi-lagi urusan imigrasi memusingkan saya. Kali ini saya tidak berhasil menghubungi Sakayawat Wongrattanakamon, backpacker Thailand yang akan menampung saya. Dia rencananya menjemput saya. Tetapi dapat dipastikan, imigrasi sudah mencegat saya sebelum saya bertemu dengan Sakayawat di bandara.
Tiba giliran saya di meja pemeriksaan, petugas seperti mengerti apa yang menjadi kekhawatiran saya. Dia menanyakan di mana saya akan tinggal. Saya menjawab saya lupa alamat teman. Saya kembali mencoba menerangkan dengan siapa nanti saya akan tinggal, dan untuk keperluan apa saya ke Chiang Mai. Tetapi, tampaknya itu tidak berhasil. Lalu saya punya ide, saya cantumkan nomor handphone Sakayawat. Petugas itu pun setuju, dan saya akhirnya lolos lubang jarum.
Sakayawat menjemput saya di bandara, dan langsung membawa saya ke Doi Suthep, sebuah kuil dan candi Buddha yang indah. Tetapi, target utama saya adalah segera menuju Myanmar. Menuju ke Myanmar dari Chiang Mai cukup mudah. Kami menuju Chiang Mai Arcade Bus Station dan mengambil bis jurusan Mae Sai Bus Station di perbatasan Thailand-Myanmar. Untuk mencapai Mae Sai, kami hanya butuh waktu empat jam, dengan bis yang bagus dan sangat nyaman, yaitu Green Bus. Tarif 212 bath untuk reguler (Rp 60.000), sangat murah untuk bus senyaman ini.
Menjelang masuk wilayah Mae Sai di perbatasan Thailand-Myanmar, perjalanan menyenangkan ini menjadi terganggu saat seorang dengan seragam hijau serupa tentara masuk ke bus. Saya tengah buang air kecil di toilet saat itu. Belum juga selesai saya cuci tangan, pintu toilet sudah digedor dari luar. Laki-laki itu berbicara kepada saya dengan bahasa Thailand. Saya tak paham. Buru-buru saya mengeluarkan paspor yang selalu siap dikantong celana saya.
"Huh...Indonesia?" lalu dia melanjutkan dengan kalimat panjang dan datar berbahasa Thailand. Lagi-lagi saya hanya menggelengkan kepala. Daripada bingung dan semakin salah paham, saya beranjak menuju kursi Sakayawat. Laki-laki itu mengikuti. Beberapa saat kemudian teman saya berbicara dengan laki-laki itu. Laki-laki itu kembali membuka paspor saya. Dan kembali berbicara panjang lebar ke teman saya, sambil sesekali melirik saya. Sesaat kemudian, paspor diserahkan ke saya. "Dia pikir kamu imigran gelap dari Myanmar," kata Sakayawat menjawab kebingungan saya. Mungkin dia tadi mengira saya bersembunyi di toilet.
Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan bagi pemerintah Thailand. Organisasi-organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Saya kemudian menjadi maklum atas kecurigaan aparat Thailand kepada saya dalam pemeriksaan di bus. Sepanjang perjalanan, setidaknya tiga kali saya harus mengalami pemeriksaan di atas bus. Dua lainnya adalah di Chiang Rai menuju Chiang Mai, serta di atas bus dari Chiang Mai menuju Bangkok.
PEREMPUAN BERLEHER PANJANG
Tiba di Mae Sai Bus Station, saya dan Sakayawat menuju ke perbatasan dengan naik semacam ojek bertarif 50 bath (sekitar Rp 14.000). Kami akhirnya tiba di pintu gerbang perbatasan. Saya harus membayar 500 bath (sekitar Rp 142.000). Untuk ini, saya rela membayar, karena di seberang sana, di sisi lain perbatasan ini, saya "diiming-imingi" akan bertemu dengan the long necked woman alias wanita-wanita berleher panjang di Regina Hill Tribe Village.

Perbatasan Thailand dan Myanmar ditandai dengan sungai. Masuk Tachileik, kota perbatasan di Myanmar, kita bakal disuguhi "kemiskinan". Pengemisnya banyak, pedagang asongannya berjibun. Bahkan ada pedagang asongan yang menawarkan cewek dengan menyodorkan foto. Sebelum menuju Regina Hill Tribe Village, saya mengunjungi Tachileik Market. Di sini adalah surganya barang palsu yang kebanyakan dari China. Anda bisa mendapatkan blackberry palsu hanya dengan Rp 300.000 rupiah saja. Setelah dari pasar, kami berkeliling Tachileik dengan menyewa kendaraan roda tiga dengan 50 bath, kami akan diantar kemana saja kami ingin. Di sini, selain kyat sebagai mata uang resmi, mereka sangat menghargai bath. Langsung kami menuju Regina Hill Tribe Village.
Dengan 40 bath, kami masuk ke sebuah area khusus. Begitu masuk, kami langsung bertemu dengan wanita-wanita itu. Saya sampai ternganga dengan kondisi mereka. Leher mereka begitu panjang dengan gelang-gelang berwarna keemasan dari tembaga melingkar bertumpuk-tumpuk. Mereka memasang itu sejak mereka masih di bawah lima tahun. Saya dikenalkan dengan Pheu Pheu, 70, dialah wanita tertua di desa itu. Ya ampun, lehernya membuat saya miris, panjaaaaang....
Konon berat logam ini bisa mencapai lebih dari empat kilo. Logam ini akan menekan pundak ke bawah dan memaksa kepalanya naik ke atas. Apakah bisa dilepas? Jangaaaan...sekali dilepas, mereka bisa mati. Karena tulang leher yang selama ini ditopang logam bisa menjadi lemah. Padahal leher itu sudah memanjang, akibatnya bisa kolaps, sesak napas yang berujung kematian. Sorenya kami keluar dari Myanmar dan kembali menuju Chiang Mai dengan bus. Saya tinggal beberapa hari di rumah neneknya Sakayawat. Keluarga ini sangat baik, menyediakan kamar buat saya, lengkap dengan makanan tanpa babi (yang agak susah dicari di Thailand), semuanya gratis.
Tanggal 17 Oktober, saya bergerak ke Bangkok dengan bus. Di sini keuangan saya sudah menipis karena saya baru sadar, rupiah yang saya bawa hanya dihargai separuh dari nilai aslinya. Saya tak habis pikir dengan ini. Di Bangkok, saya tidak memiliki tujuan khusus. Saya juga tak mengunjungi Grand Palace yang terkenal itu karena harus menghemat uang. Saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi pasar-pasar tradisional, dan mengunjungi indahnya Ayuthaya. Kebetulan pada saat itu ada pertunjukan drama tradisional yang dilakukan di atas danau dan ini semua gratis. Mereka mendapatkan pemasukan dari berjualan makanan-makanan tradisional.
Di Bangkok, tak lupa saya mengunjungi Khaosan Road yang terkenal sebagai kawasan backpacker. Tanggal 20 Oktober saya meninggalkan Bangkok untuk menuju jalan pulang. Dengan sedikit utak-atik untuk mendapatkan tiket pesawat murah, saya putuskan transit dulu di Pulau Penang, Malaysia. Keputusan saya tepat. Saya menikmati sekali keindahan Penang yang masuk dalam daftar world heritage. Saya menikmati kota lamanya. Saya (lagi-lagi) beruntung, Sakayawat menghubungkan saya dengan Ricky, backpacker asli Penang. Di sini saya juga bertemu dengan Owen Tabbert, backpacker dari Kitchener, Ontario, Kanada. Bertiga kami mengeksplorasi keindahan Penang dalam satu hari. Prinsipnya, the more the merrier, semakin banyak teman semakin menyenangkan. Selain semakin murah tentu saja.
Tengah malam, saya sudah berada di Bayan Lapas International Airport, Penang. Saya memutuskan tidur di bandara ini karena pesawat saya berangkat pagi-pagi sekali menuju Kuala Lumpur (KL). Di sini saya bertemu dengan backpacker asal Italia, Alex Natali. Kami asyik ngobrol panjang lebar tentang perjalanan kami.
Tanggal 21 Oktober saya sudah berada di KL. Dan saya baru sadar uang di saku saya hanya tinggal sekitar 35 ringgit atau Rp 90.000. Sementara uang rupiah saya tinggal Rp 40.000. Untung saya sudah memiliki tiket pulang ke Solo. Uang yang tersisa ini akhirnya saya manfaatkan untuk makan dua kali, masing-masing sekitar 10 ringgit. Sisanya, saya beli kopi 5 ringgit. Masih ada 10 ringgit saya simpan. Tanggal 22 Oktober pagi saya terbang ke Solo dengan hanya menyisakan 10 ringgit dan Rp 40.000 di kantong. Tak apalah, bagi saya perjalanan Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar ini berjuta kali lipat nilainya dari itu.
Senin (11/10) pukul 06.20 WIB, kami sudah tiba di KL Sentral. Saya di sini hanya untuk satu hari, karena pada Selasa (12/10), saya harus terbang ke Chiang Mai, Thailand. Popy dan Nila akan menginap di Paradiso Bed and Breakfast, di kawasan Bukit Bintang, KL. Saya ikut numpang sebentar sekadar buat mandi. Hukum pengiritan berlaku lagi. KL tidak terlalu menarik perhatian saya. Saya hanya tertarik untuk melihat Petronas Twin Tower. Di KL, saya disambut Azrai, backpacker setempat, yang juga member di www.couchsurfing.com (CS). Azrai orang yang murah hati. Dia rela menjadi "sopir" saya, Popy, dan Nila untuk berkeliling sejumlah tempat. Semua gratis...tis.
Kami mengunjungi Batu Caves, gua tempat peribadatan yang didekasikan untuk Dewa Murugan, dewa yang dipuja oleh pemeluk agama Hindu Tamil. Lokasinya berada di distrik Gombak, Selangor, atau sekitar 13 km di sebelah utara KL. Saya terpesona dengan patung Batumalai Sri Subramaniar atau Swamy Devasthanam, yang berada di luar gua. Tinggi patung 42,7 meter atau 140,09 kaki. Pembangunan patung ini sendiri menghabiskan 1.550 meter kubik beton, 250 ton besi dan 300 liter cat emas. Dan diperkirakan menelan biaya 24 juta Rupee. Untuk menuju gua, kita harus menaiki 272 anak tangga. Selama perjalanan hingga tangga akhir, kera-kera liar akan menjadi pemandangan menarik.

Malamnya, kami kembali ke Bukit Bintang. Di sinilah saya berpisah dengan Popy Nila dan Azrai. Tengah malam saya tiba di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) KL, bandara tempat saya bertolak menuju Chiang Mai, Thailand. Pesawat bertolak dari KL ke Chiang Mai pukul 07.20 dan tiba pukul 09.00 waktu setempat. Tiba di Chiang Mai International Airport, lagi-lagi urusan imigrasi memusingkan saya. Kali ini saya tidak berhasil menghubungi Sakayawat Wongrattanakamon, backpacker Thailand yang akan menampung saya. Dia rencananya menjemput saya. Tetapi dapat dipastikan, imigrasi sudah mencegat saya sebelum saya bertemu dengan Sakayawat di bandara.
Tiba giliran saya di meja pemeriksaan, petugas seperti mengerti apa yang menjadi kekhawatiran saya. Dia menanyakan di mana saya akan tinggal. Saya menjawab saya lupa alamat teman. Saya kembali mencoba menerangkan dengan siapa nanti saya akan tinggal, dan untuk keperluan apa saya ke Chiang Mai. Tetapi, tampaknya itu tidak berhasil. Lalu saya punya ide, saya cantumkan nomor handphone Sakayawat. Petugas itu pun setuju, dan saya akhirnya lolos lubang jarum.
Sakayawat menjemput saya di bandara, dan langsung membawa saya ke Doi Suthep, sebuah kuil dan candi Buddha yang indah. Tetapi, target utama saya adalah segera menuju Myanmar. Menuju ke Myanmar dari Chiang Mai cukup mudah. Kami menuju Chiang Mai Arcade Bus Station dan mengambil bis jurusan Mae Sai Bus Station di perbatasan Thailand-Myanmar. Untuk mencapai Mae Sai, kami hanya butuh waktu empat jam, dengan bis yang bagus dan sangat nyaman, yaitu Green Bus. Tarif 212 bath untuk reguler (Rp 60.000), sangat murah untuk bus senyaman ini.
Menjelang masuk wilayah Mae Sai di perbatasan Thailand-Myanmar, perjalanan menyenangkan ini menjadi terganggu saat seorang dengan seragam hijau serupa tentara masuk ke bus. Saya tengah buang air kecil di toilet saat itu. Belum juga selesai saya cuci tangan, pintu toilet sudah digedor dari luar. Laki-laki itu berbicara kepada saya dengan bahasa Thailand. Saya tak paham. Buru-buru saya mengeluarkan paspor yang selalu siap dikantong celana saya.
"Huh...Indonesia?" lalu dia melanjutkan dengan kalimat panjang dan datar berbahasa Thailand. Lagi-lagi saya hanya menggelengkan kepala. Daripada bingung dan semakin salah paham, saya beranjak menuju kursi Sakayawat. Laki-laki itu mengikuti. Beberapa saat kemudian teman saya berbicara dengan laki-laki itu. Laki-laki itu kembali membuka paspor saya. Dan kembali berbicara panjang lebar ke teman saya, sambil sesekali melirik saya. Sesaat kemudian, paspor diserahkan ke saya. "Dia pikir kamu imigran gelap dari Myanmar," kata Sakayawat menjawab kebingungan saya. Mungkin dia tadi mengira saya bersembunyi di toilet.
Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan bagi pemerintah Thailand. Organisasi-organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Saya kemudian menjadi maklum atas kecurigaan aparat Thailand kepada saya dalam pemeriksaan di bus. Sepanjang perjalanan, setidaknya tiga kali saya harus mengalami pemeriksaan di atas bus. Dua lainnya adalah di Chiang Rai menuju Chiang Mai, serta di atas bus dari Chiang Mai menuju Bangkok.
PEREMPUAN BERLEHER PANJANG
Tiba di Mae Sai Bus Station, saya dan Sakayawat menuju ke perbatasan dengan naik semacam ojek bertarif 50 bath (sekitar Rp 14.000). Kami akhirnya tiba di pintu gerbang perbatasan. Saya harus membayar 500 bath (sekitar Rp 142.000). Untuk ini, saya rela membayar, karena di seberang sana, di sisi lain perbatasan ini, saya "diiming-imingi" akan bertemu dengan the long necked woman alias wanita-wanita berleher panjang di Regina Hill Tribe Village.

Perbatasan Thailand dan Myanmar ditandai dengan sungai. Masuk Tachileik, kota perbatasan di Myanmar, kita bakal disuguhi "kemiskinan". Pengemisnya banyak, pedagang asongannya berjibun. Bahkan ada pedagang asongan yang menawarkan cewek dengan menyodorkan foto. Sebelum menuju Regina Hill Tribe Village, saya mengunjungi Tachileik Market. Di sini adalah surganya barang palsu yang kebanyakan dari China. Anda bisa mendapatkan blackberry palsu hanya dengan Rp 300.000 rupiah saja. Setelah dari pasar, kami berkeliling Tachileik dengan menyewa kendaraan roda tiga dengan 50 bath, kami akan diantar kemana saja kami ingin. Di sini, selain kyat sebagai mata uang resmi, mereka sangat menghargai bath. Langsung kami menuju Regina Hill Tribe Village.
Dengan 40 bath, kami masuk ke sebuah area khusus. Begitu masuk, kami langsung bertemu dengan wanita-wanita itu. Saya sampai ternganga dengan kondisi mereka. Leher mereka begitu panjang dengan gelang-gelang berwarna keemasan dari tembaga melingkar bertumpuk-tumpuk. Mereka memasang itu sejak mereka masih di bawah lima tahun. Saya dikenalkan dengan Pheu Pheu, 70, dialah wanita tertua di desa itu. Ya ampun, lehernya membuat saya miris, panjaaaaang....
Konon berat logam ini bisa mencapai lebih dari empat kilo. Logam ini akan menekan pundak ke bawah dan memaksa kepalanya naik ke atas. Apakah bisa dilepas? Jangaaaan...sekali dilepas, mereka bisa mati. Karena tulang leher yang selama ini ditopang logam bisa menjadi lemah. Padahal leher itu sudah memanjang, akibatnya bisa kolaps, sesak napas yang berujung kematian. Sorenya kami keluar dari Myanmar dan kembali menuju Chiang Mai dengan bus. Saya tinggal beberapa hari di rumah neneknya Sakayawat. Keluarga ini sangat baik, menyediakan kamar buat saya, lengkap dengan makanan tanpa babi (yang agak susah dicari di Thailand), semuanya gratis.
Tanggal 17 Oktober, saya bergerak ke Bangkok dengan bus. Di sini keuangan saya sudah menipis karena saya baru sadar, rupiah yang saya bawa hanya dihargai separuh dari nilai aslinya. Saya tak habis pikir dengan ini. Di Bangkok, saya tidak memiliki tujuan khusus. Saya juga tak mengunjungi Grand Palace yang terkenal itu karena harus menghemat uang. Saya menghabiskan waktu dengan mengunjungi pasar-pasar tradisional, dan mengunjungi indahnya Ayuthaya. Kebetulan pada saat itu ada pertunjukan drama tradisional yang dilakukan di atas danau dan ini semua gratis. Mereka mendapatkan pemasukan dari berjualan makanan-makanan tradisional.
Di Bangkok, tak lupa saya mengunjungi Khaosan Road yang terkenal sebagai kawasan backpacker. Tanggal 20 Oktober saya meninggalkan Bangkok untuk menuju jalan pulang. Dengan sedikit utak-atik untuk mendapatkan tiket pesawat murah, saya putuskan transit dulu di Pulau Penang, Malaysia. Keputusan saya tepat. Saya menikmati sekali keindahan Penang yang masuk dalam daftar world heritage. Saya menikmati kota lamanya. Saya (lagi-lagi) beruntung, Sakayawat menghubungkan saya dengan Ricky, backpacker asli Penang. Di sini saya juga bertemu dengan Owen Tabbert, backpacker dari Kitchener, Ontario, Kanada. Bertiga kami mengeksplorasi keindahan Penang dalam satu hari. Prinsipnya, the more the merrier, semakin banyak teman semakin menyenangkan. Selain semakin murah tentu saja.
Tengah malam, saya sudah berada di Bayan Lapas International Airport, Penang. Saya memutuskan tidur di bandara ini karena pesawat saya berangkat pagi-pagi sekali menuju Kuala Lumpur (KL). Di sini saya bertemu dengan backpacker asal Italia, Alex Natali. Kami asyik ngobrol panjang lebar tentang perjalanan kami.
Tanggal 21 Oktober saya sudah berada di KL. Dan saya baru sadar uang di saku saya hanya tinggal sekitar 35 ringgit atau Rp 90.000. Sementara uang rupiah saya tinggal Rp 40.000. Untung saya sudah memiliki tiket pulang ke Solo. Uang yang tersisa ini akhirnya saya manfaatkan untuk makan dua kali, masing-masing sekitar 10 ringgit. Sisanya, saya beli kopi 5 ringgit. Masih ada 10 ringgit saya simpan. Tanggal 22 Oktober pagi saya terbang ke Solo dengan hanya menyisakan 10 ringgit dan Rp 40.000 di kantong. Tak apalah, bagi saya perjalanan Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar ini berjuta kali lipat nilainya dari itu.
Wednesday, November 18, 2009
Nggembel 4 negara dengan Rp 4 juta (part I)

Selama kurang lebih dua pekan, dari tanggal 9-22 Oktober, saya mencoba melakukan perjalanan murah dengan tujuan empat negara. Uang saku saya hanya Rp 4 juta, sudah termasuk biaya transportasi. Ini adalah perjalanan backpacking saya pertama. Target saya adalah Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar. Bagi para backpacker, rute saya mungkin masuk level rendah untuk dijelajahi. Artinya dari segi kesulitan tidak terlalu besar. Tetapi bagi saya sebagai pemula, ini sebagai test case sebelumnya masuk level berikutnya.
Perkenalan dengan dunia backpacker sesungguhnya dari membaca artikel di semua media massa nasional. Dari jalur ini, saya temukan situs komunitas traveler dan backpacker dunia www.hospitalityclub.org. Saya kemudian mendapatkan beberapa teman, salah satunya backpacker asal Switzerland, Sven Huber, yang telah melakukan perjalanan "nggembel" di sedikitnya 40 negara. Dia pula yang mengenalkan saya akan kehidupan keras para backpacker dengan solidaritasnya yang luar biasa.
Sven sempat mampir ke Solo, dan tinggal di rumah saya hampir satu pekan, menjadi "wong Solo" yang makan nasi oseng-oseng hingga menggunakan toilet jongkok. Sven membuka jalan saya dengan memperkenalkan komunitas yang lebih populer bagi backpacker, yaitu www.couchsurfing.org atau biasa dikenal sebagai CS. Situs ini memiliki anggota hampir 1,5 juta traveler dan backpacker dari 230 negara dengan bahasa ibu mencapai 256. Di Indonesia, anggotanya saat ini mencapai 5.212 orang. CS telah menjadi liputan media di berbagai belahan dunia, baik media cetak maupun televisi. Terakhir, The Strait Times Singapura menurunkan artikelnya tentang CS pada September lalu.
Ada semacam konvensi tentang arti "prestasi" bagi backpacker. Prestasi adalah saat kita bisa bertahan dengan situasi buruk, sedikit uang, tetapi menghasilkan perjalanan yang luar biasa. Beberapa nama backpacker kemudian menjadi semacam legenda. Beberapa lainnya diingat karena keberaniannya, seperti nama Christopher Johnson McCandless yang melakukan perjalanan liar ke Alaska dengan dukungan makanan dan perlengkapan yang sangat minim. Laki-laki muda ini meninggal karena kelaparan pada pertengahan Agustus 1992, di dekat Denali National Park and Preserve, Alaska. Kisah hidupnya yang dituangkan dalam buku Into the Wild menjadi salah satu buku populer di kalangan backpacker. Kisah ini juga telah difilmkan oleh
Sean Penn.
Dengan bergabung di CS, saya kemudian berkontribusi dengan memberikan tumpangan kepada para backpacker yang mengunjungi Solo. Hingga kini, tujuh backpackers dari negara berbeda, yaitu Amerika Serikat, Israel, China, Mesir, Switzerland, pernah tinggal di rumah saya. Dua di antaranya adalah yang pernah tinggal adalah backpacker perempuan. Di Jawa, Solo menjadi salah satu tempat favorit para backpacker untuk singgah, selain Yogyakarta.
Perjalanan empat negara yang saya rancang adalah langkah pertama saya sebagai tamu, setelah beberapa kali menjadi tuan rumah. Saya mengambil rute Yogyakarta-Singapura menggunakan pesawat (tiket Rp 199.000), Singapura-Kuala Lumpur (Malaysia) menggunakan kereta api (tiket SGD3
4 atau Rp 231.000), Kuala Lumpur-Chiang Mai (Thailand) menggunakan pesawat (tiket 191 Ringgit atau sekitar Rp 560.000), Chiang Mai-Tachileik (Myanmar) menggunakan bus pulang pergi (tiket 424 atau Rp 122.000), Chiang Mai-Bangkok dengan bus (500 bath atau Rp 150.000). Perjalanan pulang dengan rute Bangkok-Penang (Malaysia) dengan pesawat (1.670 bath atau Rp 690.000), pesawat Penang-Kuala Lumpur (57 Ringgit atau Rp 167.000), kemudian kembali ke Solo dari Kuala Lumpur (tiket) 153 Ringgit atau Rp 428.000).
Praktis, separuh budget saya habis untuk transportasi. Namun saya tak perlu memikirkan hotel. Backpacker asal Phillipina, Mark Yu, yang bekerja di Singapura siap menampung saya. Di Malaysia, backpacker setempat, Azrai menawarkan tempat tinggal. Di Chiang Mai dan Bangkok, saya akan ditampung oleh Sakayawat Wongrattanakamon, penulis muda Thailand yang menelurkan buku perjalanan murah ke China dan Laos. Sedang di Myanmar, saya menggunakan visa satu hari (one day tour), sehingga tak perlu tempat menginap.
Departure
Berangkat dari Yogyakarta menuju Singapura pada tanggal 9 Oktober, saya masih diliputi rasa gamang. Apalagi bila mendengarkan omongan sejumlah teman. Mereka menyatakan saya akan sedikit lebih lama berada di meja pemeriksaan imigrasi di bandara. Ini karena paspor saya masih "perawan" atau saya belum pernah ke luar negeri. Saya menangkap pesan itu sebagai, "Hei, kamu akan dapat masalah!"
Menjelang pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura, kekhawatiran saya semakin besar setelah pramugari pesawat menyodori kartu kedatangan yang dikeluarkan imigrasi Singapura. Saya diminta mengisi di mana alamat tempat saya tinggal selama di Singapura. Saya bahkan tidak booking hotel, sehingga tak bisa memasukkan alamat hotel. Parahnya lagi, saya lupa menanyakan alamat Mark Yu, backpacker Phillipina yang akan menampung saya selama di Singapura. Persoalan lain adalah, saya tidak memegang return tiket. Ini karena saya berencana keluar dari Singapura dengan menggunakan kereta api menuju Kuala Lumpur, yang tiketnya bisa dibeli langsung di stasiun. Tanpa return tiket, bisa-bisa imigrasi mengira saya akan menggelandang di Singapura.
Tiba di Bandara Changi saya agak sedikit lega saat satu pesan singkat di handphone muncul, alamat Mark. Saya akan tinggal di Holland ave #18-30, Singapura. Tiba di meja imigrasi, petugas laki-laki setengah baya memeriksa dengan seksama paspor saya, mencocokkan foto dengan wajah saya, lalu...dokk!! Paspor saya distempel dan diserahkan kembali ke saya, tanpa bertanya apapun. Tak lebih dari satu menit. Saat saya cerita hal ini ke salah seorang teman asli Singapura, dia sangat heran dengan kemudahan yang saya dapat. Saya seperti merasakan "keramahan" Singapura pada kesempatan pertama.
Di Singapura saya tidak akan berlama-lama. Saya sudah diperingatkan soal mahalnya negara ini. "Less Singapore!" itu pesan teman saya. Untuk transportasi sehari-hari, saya nebeng mobil teman di Singapura, sisanya naik bus umum. Bagi backpacker, Singapura kurang menarik. Singapura lebih tepat bagi turis berkoper daripada beransel. Meskipun begitu, Singapura tetap memberikan fasilitas bagi backpacker. Mereka memiliki sejumlah hostel (penginapan murah) dengan tarif per malamnya mulai SGD7 atau sekitar Rp 45.000 hingga tak terbatas. Tetapi, dengan SGD7 jangan berharap kamar private. Kita akan bergabung dengan sejumlah backpacker lain di sebuah ruang luas dengan maksimal delapan tempat tidur. Mereka menyebutnya dorm atau asrama. Hostel para backpacker banyak ditemui di daerah China Town.
Seorang teman backpacker dari Palembang, Yus Chairil, mengaku ditolak saat akan check in di hostel backpacker. Gara-garanya, dia membawa koper dan bukan ransel. "Saya ditolak check in gara-gara bawa koper dan bukannya tas ransel," ujar Yus, yang saya temui di perjalanan. Yus juga berencana berangkat ke Thailand tetapi melalui rute yang berbeda dengan saya.
Tuan rumah saya, Mark, ti
nggal di apartemen sederhana di lantai 18. Mark memuji Indonesia sebagai negara kaya. "Singapura banyak mengandalkan uang dari Indonesia yang dilarikan para koruptor," tutur dia.
Isu Singapura sebagai negara tempat pencucian uang memang isu lama. Tahun 2006, ekonom Kepala Morgan Stanley untuk Asia, Andy Xie, mundur setelah beredar email dirinya yang menyebut Singapura sebagai negara yang tergantung uang haram dari Indonesia dan China. Pantas saja Indonesia dipuji sebagai negara orang-orang kaya. Alasan lainnya, sebagaimana dikutip dari straittimes.com, jumlah WNI yang membelanjakan duitnya di Singapura paling tinggi dibanding negara lain, dengan total pengeluaran lebih dari SGD$1 miliar, diikuti China, Australia dan India.
Di Singapura, saya antara lain mengunjungi East Coast Park dengan pantainya, Esplanade Theater Singapore, ikon Singapura yaitu patung Merlion di Merlion Park, serta Singapore Botanic Gardens. Singapore Flyer
(semacam komidi putar besar) serupa kapsul yang berputar 360 derajat dan bisa digunakan untuk melihat keindahan kota dari ketinggian, juga menjadi tempat mampir saya. Benar-benar mampir karena saya tak rela melepas SGD30 atau Rp 200.000 untuk tiketnya. Saya harus berpikir seribu kali untuk menghabiskan uang karena perjalanan saya masih panjang. Saya juga mengunjungi Little India dan China Town sekadar untuk beli gantungan kunci.
Perkenalan dengan dunia backpacker sesungguhnya dari membaca artikel di semua media massa nasional. Dari jalur ini, saya temukan situs komunitas traveler dan backpacker dunia www.hospitalityclub.org. Saya kemudian mendapatkan beberapa teman, salah satunya backpacker asal Switzerland, Sven Huber, yang telah melakukan perjalanan "nggembel" di sedikitnya 40 negara. Dia pula yang mengenalkan saya akan kehidupan keras para backpacker dengan solidaritasnya yang luar biasa.
Sven sempat mampir ke Solo, dan tinggal di rumah saya hampir satu pekan, menjadi "wong Solo" yang makan nasi oseng-oseng hingga menggunakan toilet jongkok. Sven membuka jalan saya dengan memperkenalkan komunitas yang lebih populer bagi backpacker, yaitu www.couchsurfing.org atau biasa dikenal sebagai CS. Situs ini memiliki anggota hampir 1,5 juta traveler dan backpacker dari 230 negara dengan bahasa ibu mencapai 256. Di Indonesia, anggotanya saat ini mencapai 5.212 orang. CS telah menjadi liputan media di berbagai belahan dunia, baik media cetak maupun televisi. Terakhir, The Strait Times Singapura menurunkan artikelnya tentang CS pada September lalu.
Ada semacam konvensi tentang arti "prestasi" bagi backpacker. Prestasi adalah saat kita bisa bertahan dengan situasi buruk, sedikit uang, tetapi menghasilkan perjalanan yang luar biasa. Beberapa nama backpacker kemudian menjadi semacam legenda. Beberapa lainnya diingat karena keberaniannya, seperti nama Christopher Johnson McCandless yang melakukan perjalanan liar ke Alaska dengan dukungan makanan dan perlengkapan yang sangat minim. Laki-laki muda ini meninggal karena kelaparan pada pertengahan Agustus 1992, di dekat Denali National Park and Preserve, Alaska. Kisah hidupnya yang dituangkan dalam buku Into the Wild menjadi salah satu buku populer di kalangan backpacker. Kisah ini juga telah difilmkan oleh
Sean Penn.Dengan bergabung di CS, saya kemudian berkontribusi dengan memberikan tumpangan kepada para backpacker yang mengunjungi Solo. Hingga kini, tujuh backpackers dari negara berbeda, yaitu Amerika Serikat, Israel, China, Mesir, Switzerland, pernah tinggal di rumah saya. Dua di antaranya adalah yang pernah tinggal adalah backpacker perempuan. Di Jawa, Solo menjadi salah satu tempat favorit para backpacker untuk singgah, selain Yogyakarta.
Perjalanan empat negara yang saya rancang adalah langkah pertama saya sebagai tamu, setelah beberapa kali menjadi tuan rumah. Saya mengambil rute Yogyakarta-Singapura menggunakan pesawat (tiket Rp 199.000), Singapura-Kuala Lumpur (Malaysia) menggunakan kereta api (tiket SGD3
4 atau Rp 231.000), Kuala Lumpur-Chiang Mai (Thailand) menggunakan pesawat (tiket 191 Ringgit atau sekitar Rp 560.000), Chiang Mai-Tachileik (Myanmar) menggunakan bus pulang pergi (tiket 424 atau Rp 122.000), Chiang Mai-Bangkok dengan bus (500 bath atau Rp 150.000). Perjalanan pulang dengan rute Bangkok-Penang (Malaysia) dengan pesawat (1.670 bath atau Rp 690.000), pesawat Penang-Kuala Lumpur (57 Ringgit atau Rp 167.000), kemudian kembali ke Solo dari Kuala Lumpur (tiket) 153 Ringgit atau Rp 428.000).Praktis, separuh budget saya habis untuk transportasi. Namun saya tak perlu memikirkan hotel. Backpacker asal Phillipina, Mark Yu, yang bekerja di Singapura siap menampung saya. Di Malaysia, backpacker setempat, Azrai menawarkan tempat tinggal. Di Chiang Mai dan Bangkok, saya akan ditampung oleh Sakayawat Wongrattanakamon, penulis muda Thailand yang menelurkan buku perjalanan murah ke China dan Laos. Sedang di Myanmar, saya menggunakan visa satu hari (one day tour), sehingga tak perlu tempat menginap.
Departure
Berangkat dari Yogyakarta menuju Singapura pada tanggal 9 Oktober, saya masih diliputi rasa gamang. Apalagi bila mendengarkan omongan sejumlah teman. Mereka menyatakan saya akan sedikit lebih lama berada di meja pemeriksaan imigrasi di bandara. Ini karena paspor saya masih "perawan" atau saya belum pernah ke luar negeri. Saya menangkap pesan itu sebagai, "Hei, kamu akan dapat masalah!"
Menjelang pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura, kekhawatiran saya semakin besar setelah pramugari pesawat menyodori kartu kedatangan yang dikeluarkan imigrasi Singapura. Saya diminta mengisi di mana alamat tempat saya tinggal selama di Singapura. Saya bahkan tidak booking hotel, sehingga tak bisa memasukkan alamat hotel. Parahnya lagi, saya lupa menanyakan alamat Mark Yu, backpacker Phillipina yang akan menampung saya selama di Singapura. Persoalan lain adalah, saya tidak memegang return tiket. Ini karena saya berencana keluar dari Singapura dengan menggunakan kereta api menuju Kuala Lumpur, yang tiketnya bisa dibeli langsung di stasiun. Tanpa return tiket, bisa-bisa imigrasi mengira saya akan menggelandang di Singapura.
Tiba di Bandara Changi saya agak sedikit lega saat satu pesan singkat di handphone muncul, alamat Mark. Saya akan tinggal di Holland ave #18-30, Singapura. Tiba di meja imigrasi, petugas laki-laki setengah baya memeriksa dengan seksama paspor saya, mencocokkan foto dengan wajah saya, lalu...dokk!! Paspor saya distempel dan diserahkan kembali ke saya, tanpa bertanya apapun. Tak lebih dari satu menit. Saat saya cerita hal ini ke salah seorang teman asli Singapura, dia sangat heran dengan kemudahan yang saya dapat. Saya seperti merasakan "keramahan" Singapura pada kesempatan pertama.
Di Singapura saya tidak akan berlama-lama. Saya sudah diperingatkan soal mahalnya negara ini. "Less Singapore!" itu pesan teman saya. Untuk transportasi sehari-hari, saya nebeng mobil teman di Singapura, sisanya naik bus umum. Bagi backpacker, Singapura kurang menarik. Singapura lebih tepat bagi turis berkoper daripada beransel. Meskipun begitu, Singapura tetap memberikan fasilitas bagi backpacker. Mereka memiliki sejumlah hostel (penginapan murah) dengan tarif per malamnya mulai SGD7 atau sekitar Rp 45.000 hingga tak terbatas. Tetapi, dengan SGD7 jangan berharap kamar private. Kita akan bergabung dengan sejumlah backpacker lain di sebuah ruang luas dengan maksimal delapan tempat tidur. Mereka menyebutnya dorm atau asrama. Hostel para backpacker banyak ditemui di daerah China Town.
Seorang teman backpacker dari Palembang, Yus Chairil, mengaku ditolak saat akan check in di hostel backpacker. Gara-garanya, dia membawa koper dan bukan ransel. "Saya ditolak check in gara-gara bawa koper dan bukannya tas ransel," ujar Yus, yang saya temui di perjalanan. Yus juga berencana berangkat ke Thailand tetapi melalui rute yang berbeda dengan saya.
Tuan rumah saya, Mark, ti
nggal di apartemen sederhana di lantai 18. Mark memuji Indonesia sebagai negara kaya. "Singapura banyak mengandalkan uang dari Indonesia yang dilarikan para koruptor," tutur dia.Isu Singapura sebagai negara tempat pencucian uang memang isu lama. Tahun 2006, ekonom Kepala Morgan Stanley untuk Asia, Andy Xie, mundur setelah beredar email dirinya yang menyebut Singapura sebagai negara yang tergantung uang haram dari Indonesia dan China. Pantas saja Indonesia dipuji sebagai negara orang-orang kaya. Alasan lainnya, sebagaimana dikutip dari straittimes.com, jumlah WNI yang membelanjakan duitnya di Singapura paling tinggi dibanding negara lain, dengan total pengeluaran lebih dari SGD$1 miliar, diikuti China, Australia dan India.
Di Singapura, saya antara lain mengunjungi East Coast Park dengan pantainya, Esplanade Theater Singapore, ikon Singapura yaitu patung Merlion di Merlion Park, serta Singapore Botanic Gardens. Singapore Flyer
(semacam komidi putar besar) serupa kapsul yang berputar 360 derajat dan bisa digunakan untuk melihat keindahan kota dari ketinggian, juga menjadi tempat mampir saya. Benar-benar mampir karena saya tak rela melepas SGD30 atau Rp 200.000 untuk tiketnya. Saya harus berpikir seribu kali untuk menghabiskan uang karena perjalanan saya masih panjang. Saya juga mengunjungi Little India dan China Town sekadar untuk beli gantungan kunci. Saya sangat bersemangat sekali untuk segera packing dan berangkat ke destinasi berikutnya. Hari itu, 11 Oktober, sekitar pukul 22.00 WIB, saya berangkat ke Kuala Lumpur (KL) dari Tanjong Pagar Rail Station dengan menggunakan Kereta Api Senandung Malam No 12. Sebelum berangkat, saya harus menahan geram dengan "keanehan" harga tiket. Kereta sama, jarak sama, tetapi harga tiket berbeda bak bumi dan langit. Bila membeli tiket di KL, maka harga tiketnya 34 ringgit atau Rp 95.000. Tetapi bila membeli tiket dari Singapore (dengan penjual tiket sama-sama petugas Malaysia), maka harganya SGD34 atau Rp 230.000. Sang petugas tak mampu menjelaskan soal ini. Sejak saat itu, saya harus mulai mempersiapkan diri dengan keanehan-keanehan yang mungkin muncul dalam perjalanan berikutnya.[]
Friday, March 6, 2009
It's been a rollercoaster ride
Satu bulan terakhir adalah masa-masa yang berat. Fisik mental seperti diuji banget. It's been a rollercoaster ride. A tough month. Dan ini membawa banyak perubahan besar.
Banjir yang sempat memporakporandakan rumah beberapa waktu lalu membuka awal bagaimana hiruk pikuk hidup itu dimulai. Mulai dari tidur di luar beralas jas hujan beratap terpal, dingin, hingga seminggu penuh mencuci rumah. Ini luar biasa hebat untuk apa yang telah terjadi di keluarga kami. Bagaimana Bapak dan Ibu yang sudah tua harus menghadapi ini. Yeah, kami akan selalu menjaganya. Tetapi kami juga tahu, apapun yang kami lakukan, fisik dan mental mereka tetap saja ngedrop se-ngedropnya.
Rumah sangat dingin. Lantai keramik seperti freezer yang menempel di kaki dan tembok rumah. Ini yang mungkin membuat Bapak tidak kuat. Fisiknya terlalu lemah, sehingga suatu hari kena diare hebat. Beberapa hari berikutnya harus dievakuasi ke rumah sakit karena tidak ada sesuatu pun yang bisa masuk ke mulut.
Rumah sakit belum jawaban, karena meskipun secara fisik sudah ada pasokan ke tubuh bapak, tetapi mentalnya benar-benar tidak ada perbaikan. Di rumah sakit adanya marah terus. Bagaimana aku harus menenangkannya di dini hari saat tiba-tiba ngamuk karena pengen pulang. Valium tak mempan. Aku dan ibu hanya bisa berpandangan tak tahu harus bagaimana kecuali menjaganya untuk tetap berada di tempat tidur rumah sakit.
Bapak pulang paksa. Itu subjudulnya. Kami terpaksa membawa Bapak pulang karena ibu mengaku tak mungkin lagi bisa tahan dengan kondisi bapak yang selalu ngamuk di rumah sakit. Ya sudah, permintaan dipenuhi dengan mengisi form pulang paksa (ternyata ada lho form pulang paksa). Pfffhhh....
Untunglah, di rumah Bapak lebih tenang, dan mau makan dan minum. Obat jalan terus diberikan. Ibu sering berbicara tentang bagaimana kondisi Bapak yang sudah tua. Kami tidak pernah berbicara kematian, tetapi kami sadari bahwa Bapak terlalu tua. Apapun yang terjadi bagi Bapak, kami siap menerima, karena itu yang terbaik pastinya.
Untungnya lagi, aku memiliki ibu yang tangguh. Ibu ? beliau tak kalah tuanya dengan Bapak. Tapi jangan salah, ibu berfisik hebat. Dia juga pintar. Yang istimewa lagi, ibu itu sosok yang telaten terhadap anak dan suaminya.
Suatu hari di rumah sakit, aku sempat belajar satu hal dari ibu. Banyaknya pembezuk membuat makanan di rumah sakit berlimpah. Sangat banyak meskipun sebagian sudah dibawa pulang. Tidak tahu kenapa, suatu saat ibu meminta adikku untuk membawa sebagian makanan itu ke rumah salah seorang temannya yang dulu jadi tetangga kami. Namanya Pak Warsono. Usianya jauh di bawah ibu alias masih lebih muda. Tetapi fisiknya jauh juga di bawah ibu. Kesakitan dan kemiskinan menderanya.
Aku bahkan tak memikirkan hal itu. Karena Pak Warsono ini sudah pindah dari kampung sejak lama. Bahkan dia juga jarang bertemu dengan keluargaku. Dia tinggal bersama isterinya yang sakit juga dan anak perempuannya.
"Bawa ini ke Warsono," itu amanat ibu sambil menyerahkan tas berisi makanan.
Ibu lalu bilang ke aku. Bahwa kami lebih beruntung. Bapak sakit masih bisa dirawat di rumah sakit meskipun di kamar kelas 2. Kami juga beruntung banyak yang membezuk, bahkan beberapa saudara dekat memberi ibu uang. Bagaimana dengan Pak Warsono ? berobat saja tak mampu. Tidak bekerja, isteri juga sakit. Lalu makan apa ? jangan berpikir obat. Berpikirnya adalah makan apa ?
Tidak pernah terbersit bahwa ibu masih memikirkan kesakitan orang lain di saat Bapak sakit dan kami pontang-panting fisik dan hati. Tapi ini membuat aku bangga. Ibuku mungkin tidak lulus SD, tapi hatinya seperti hasil sekolah seumur hidup.
It's been a rollercoaster ride...
Karena dengan sepenuh hati, kami harus menata hati dan pikiran. Ini saatnya untuk keluarga, ini saatnya berpikir kerja, rutinitas hidup lain, cari makan, bayar tagihan listrik, telepon, mengurus pensiun bapak, dan tentu tak boleh lupa berpikir bagaimana mengendorkan sekrup-sekrup di otak dan hati. Ini sama saja bagi aku, adikku, ataupun kakak-kakakku. Mereka harus membagi pikiran sama beratnya. Ibu apalagi.
Tetapi, semua selalu ada hikmahnya. Seorang teman bilang, dia kagum cara kami sekeluarga melewatinya. Bahkan di facebook pun masih bisa berha-ha hihi. Aku, bahkan tak menyadari betapa kami sekeluarga menjadi semakin lebih dekat setelah saat-saat berat yang kami lalui dalam satu bulan terakhir. Ibu membuka mataku, seberat-beratnya hidup kami, kami masih sangat beruntung. Maka bersyukurlah.
regards,
A
Banjir yang sempat memporakporandakan rumah beberapa waktu lalu membuka awal bagaimana hiruk pikuk hidup itu dimulai. Mulai dari tidur di luar beralas jas hujan beratap terpal, dingin, hingga seminggu penuh mencuci rumah. Ini luar biasa hebat untuk apa yang telah terjadi di keluarga kami. Bagaimana Bapak dan Ibu yang sudah tua harus menghadapi ini. Yeah, kami akan selalu menjaganya. Tetapi kami juga tahu, apapun yang kami lakukan, fisik dan mental mereka tetap saja ngedrop se-ngedropnya.
Rumah sangat dingin. Lantai keramik seperti freezer yang menempel di kaki dan tembok rumah. Ini yang mungkin membuat Bapak tidak kuat. Fisiknya terlalu lemah, sehingga suatu hari kena diare hebat. Beberapa hari berikutnya harus dievakuasi ke rumah sakit karena tidak ada sesuatu pun yang bisa masuk ke mulut.
Rumah sakit belum jawaban, karena meskipun secara fisik sudah ada pasokan ke tubuh bapak, tetapi mentalnya benar-benar tidak ada perbaikan. Di rumah sakit adanya marah terus. Bagaimana aku harus menenangkannya di dini hari saat tiba-tiba ngamuk karena pengen pulang. Valium tak mempan. Aku dan ibu hanya bisa berpandangan tak tahu harus bagaimana kecuali menjaganya untuk tetap berada di tempat tidur rumah sakit.
Bapak pulang paksa. Itu subjudulnya. Kami terpaksa membawa Bapak pulang karena ibu mengaku tak mungkin lagi bisa tahan dengan kondisi bapak yang selalu ngamuk di rumah sakit. Ya sudah, permintaan dipenuhi dengan mengisi form pulang paksa (ternyata ada lho form pulang paksa). Pfffhhh....
Untunglah, di rumah Bapak lebih tenang, dan mau makan dan minum. Obat jalan terus diberikan. Ibu sering berbicara tentang bagaimana kondisi Bapak yang sudah tua. Kami tidak pernah berbicara kematian, tetapi kami sadari bahwa Bapak terlalu tua. Apapun yang terjadi bagi Bapak, kami siap menerima, karena itu yang terbaik pastinya.
Untungnya lagi, aku memiliki ibu yang tangguh. Ibu ? beliau tak kalah tuanya dengan Bapak. Tapi jangan salah, ibu berfisik hebat. Dia juga pintar. Yang istimewa lagi, ibu itu sosok yang telaten terhadap anak dan suaminya.
Suatu hari di rumah sakit, aku sempat belajar satu hal dari ibu. Banyaknya pembezuk membuat makanan di rumah sakit berlimpah. Sangat banyak meskipun sebagian sudah dibawa pulang. Tidak tahu kenapa, suatu saat ibu meminta adikku untuk membawa sebagian makanan itu ke rumah salah seorang temannya yang dulu jadi tetangga kami. Namanya Pak Warsono. Usianya jauh di bawah ibu alias masih lebih muda. Tetapi fisiknya jauh juga di bawah ibu. Kesakitan dan kemiskinan menderanya.
Aku bahkan tak memikirkan hal itu. Karena Pak Warsono ini sudah pindah dari kampung sejak lama. Bahkan dia juga jarang bertemu dengan keluargaku. Dia tinggal bersama isterinya yang sakit juga dan anak perempuannya.
"Bawa ini ke Warsono," itu amanat ibu sambil menyerahkan tas berisi makanan.
Ibu lalu bilang ke aku. Bahwa kami lebih beruntung. Bapak sakit masih bisa dirawat di rumah sakit meskipun di kamar kelas 2. Kami juga beruntung banyak yang membezuk, bahkan beberapa saudara dekat memberi ibu uang. Bagaimana dengan Pak Warsono ? berobat saja tak mampu. Tidak bekerja, isteri juga sakit. Lalu makan apa ? jangan berpikir obat. Berpikirnya adalah makan apa ?
Tidak pernah terbersit bahwa ibu masih memikirkan kesakitan orang lain di saat Bapak sakit dan kami pontang-panting fisik dan hati. Tapi ini membuat aku bangga. Ibuku mungkin tidak lulus SD, tapi hatinya seperti hasil sekolah seumur hidup.
It's been a rollercoaster ride...
Karena dengan sepenuh hati, kami harus menata hati dan pikiran. Ini saatnya untuk keluarga, ini saatnya berpikir kerja, rutinitas hidup lain, cari makan, bayar tagihan listrik, telepon, mengurus pensiun bapak, dan tentu tak boleh lupa berpikir bagaimana mengendorkan sekrup-sekrup di otak dan hati. Ini sama saja bagi aku, adikku, ataupun kakak-kakakku. Mereka harus membagi pikiran sama beratnya. Ibu apalagi.
Tetapi, semua selalu ada hikmahnya. Seorang teman bilang, dia kagum cara kami sekeluarga melewatinya. Bahkan di facebook pun masih bisa berha-ha hihi. Aku, bahkan tak menyadari betapa kami sekeluarga menjadi semakin lebih dekat setelah saat-saat berat yang kami lalui dalam satu bulan terakhir. Ibu membuka mataku, seberat-beratnya hidup kami, kami masih sangat beruntung. Maka bersyukurlah.
regards,
A
Friday, February 13, 2009
Valetine atau tidak Valentine
Mulai bosen nih. Saban menjelang tanggal 14 Februari selalu muncul isu serupa. Bukan soal Valentinenya. Tetapi soal perdebatan valentine itu cocok atau tidak dengan budaya kita, valentine adalah ini, valentine adalah itu.
Lebih heran lagi, mosok anak TK dimobilisasi untuk demo menolak valentine ke SMA-SMA. Dan isu ini selalu dihembuskan setiap tahun, seperti tidak ada isu lebih penting lainnya yang bisa didemo saja. Lagian anak-anak TK, come on ????
Bisa ditebak, setelah tanggal 14 Februari, pasti semua akan balik seperti biasa. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa, sampai kemudian tanggal 13 Februari atau menjelang valentine tahun depannya lagi akan muncul masalah serupa. Bosan, karena tidak progress apapun dari isu semacam ini. Progress lain? iyak, misalnya MUI keluarkan fatwa haram valentine gitu deh. Biar seru, biar bisa dibikin berita yang gak monoton. Hehehehe, nop, just kidding. Bukan usulan bagus itu, cuma merasa bosan aja orang mempersoalkan valentine.
Aku bukan orang yang merayakan dan mengenal valentine. Persoalan pro kontra sangat disadari sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, tapi pleaseeee...pake pendekatan baru deh...., pake argumen baru, pake apalah yang tak berhenti soal budaya. Kalo ngomongin budaya, yang namanya Lea-Wranglers juga bukan punya kita atuh. Lalu apa dong? ya itu hal yang harus dipikirkan oleh orang-orang yang mau kontra.
Kalo aku mah, bukan yang merayakan valentine, bukan penikmat valentine, tapi juga gak nolak dan gak mempersoalkan. Ini salah satu kenyataan besar, saat kita membuka mata, maka dunia bergerak, berkembang, tumbuh, tanpa kita bisa mencegahnya. Aku mencoba menikmati saja semuanya, menjadi bagian masyarakat internasional (mau tidak mau). Membiarkan orang dengan pikiran dan tindakan terbaik maupun terburuk mereka. Asal jangan ganggu aku aja.
Let people with their thoughts, their desires, which do not harm other people...
PS: boleh protes pendapat aku ini kok. :)
regards,
- a -
Sunday, January 25, 2009
Suatu petang di Pramex
Kisah lama, sekitar 2004, yang sengaja di-posting lagi. Hanya sekadar "mengingatkan" diriku pribadi dan mungkin berguna bagi orang lain.
Dari Jogja sekitar pukul 19.00 WIB, aku pulang ke Solo dengan Kereta Pramex terakhir. Saat itu Sabtu, Pramex penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Jogja dan pulang ke Solo. Suasananya biasa saja, seperti layaknya hari-hari biasa, cuma agak lebih padat. Petang itu hujan sedikit demi sedikit luruh dari atas langit. Orang Jawa bilang hujan seperti ini -yang tidak deras dan tidak juga rintik-rintik- dianggap menyebalkan. Pasalnya, hujan kayak gini pasti lebih bisa bikin kepala kita pusing. Nggak tau orang-orang tua kita dapat teori dari mana soal itu. Yang pasti sebagian besar hal itu benar.
Aku duduk di sebelah pintu, berdampingan dengan seorang ibu-ibu usia setengah baya. Di depanku tampak seorang pemuda yang penampilannya seperti mahasiswa (tetapi aku sangsikan hal itu bila melihat tingkahnya), dia dengan nyamannya tidur menyelonjorkan kaki di satu bangku yang sebenarnya bisa untuk bertiga atau minimal berdua. Egois menurutku di saat banyak yang harus berdiri menyeimbangkan badan dengan berpegang pada ring yang tergantung di kereta.
Di tengah rasa kantuk, aku sempat menangkap suatu pembicaraan. Antara kondektur KA dengan seorang penumpang. Samar, tapi nyaris seperti ini kedengarannya.
"Kalau nggak punya uang jangan naik kereta !, gimana? mau bayar tidak ? kalau bayar berarti kena denda, satu lima ribu, kalau tiga lima belas ribu, dendanya satu kali harga tiket, jadi tiga puluh ribu," suara nyaring kondektur.
"Tapi Pak, saya nggak punya uang," jawab seorang laki-laki dengan logat Jawanya yang medhok.
Jawaban itu membangunkan aku, dan aku lihat ternyata semua penumpang di gerbong itu juga melayangkan pandangnya pada pembicaraan tersebut. Aku lihat laki-laki itu, dia menggendong satu anak laki-laki usia sekitar 3 tahunan, dan satu tangannya lagi menggandeng anak laki-laki pula usia 4 tahunan. Pakainya lusuh, dan membawa buntelan kain. Cara berpakaiannya menandakan dia orang dari suatu pondok pesantren tertentu, itu bisa dilihat dari celana panjangnya yang nyaris tiga perempat saja, dan kopiah yang dia kenakan.
Hebatnya, dan ini bikin sesak dada aku (dan mungkin penumpang lainnya), kondektur dengan sigap menyuruh laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, karena dianggap tidak berhak. Sebelum berlalu dari gerbong kami dan melanjutkan pemeriksaan ke gerbong lainnya, satu lontaran sempat dia ucapkan.
"Nanti kalau sampai di Ceper harus turun," tegasnya singkat. Kondektur pergi, semua penumpang hanya mampu melihat laki-laki itu, yang masih menggendong anaknya, sementara satu tangan bergelanyut di ring tempat pegangan, dan anaknya yang satu sekarang merengkuh kaki laki-laki itu untuk berpegangan. Mereka berdiri sekarang, dan kami hanya bisa memandang. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan penumpang lain. Tetapi pikiranku saat itu, aku masih punya uang seratus ribu lebih di kantong. Kalau cuma untuk membayar tiket bagi laki-laki itu dan anaknya, maka lebih dari cukup. Aku berpikir itu sepanjang sisa perjalanan. Bukan perhitungan soal uang yang aku pikirkan. Tetapi bagaimana caranya aku membantu dia tanpa harus dia merasa dikasihani. Perasaan aneh berkecamuk. Kalau bukan aku semoga ada orang lain yang segera bertindak, pikirku kala itu. Sekali lagi bukan persoalan uang bagiku. Tetapi posisi semacam ini sangat-sangat tidak biasa.
Sampai kemudian semua menjadi terlambat. Menjelang Stasiun Klaten, kondektur sudah memberikan aba-aba, menyuruh laki-laki itu segera siap untuk turun. Aku cuma terkesiap, dan mungkin penumpang lainnya. Dan mereka akhirnya benar-benar turun. Aku lihat dari jendela kereta, mereka membelah gelapnya malam dan mungkin berharap ada pertolongan untuk itu.
Hujan masih luruh, tidak begitu derasnya. Tetapi tetap saja menurut orang Jawa itu bisa bikin sakit kepala. Dan aku nggak tahu apakah si Bapak dan dua anaknya tadi sakit kepala juga karena kehujanan. Tetapi aku yakin mereka sakit hati. Sakit hati kepada si kondektur, sakit hati kepada kami semua yang hanya melihat, dan mungkin sakit hati pada hidup mereka....
Aku punya kesempatan menolong, dan aku tidak memanfaatkannya..
Tetapi kalau ada kesempatan kedua, aku akan melakukannya. Tidak hanya sekadar membayar tiket mereka...tetapi juga akan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang berani menolong orang lain.Karena butuh jiwa besar untuk itu...Semoga saja tidak ada yang mengentengkan arti menolong kepada orang lain lagi seperti aku...walaupun untuk hal yang sederhana sekalipun...
regards,
A
Dari Jogja sekitar pukul 19.00 WIB, aku pulang ke Solo dengan Kereta Pramex terakhir. Saat itu Sabtu, Pramex penuh dengan mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di Jogja dan pulang ke Solo. Suasananya biasa saja, seperti layaknya hari-hari biasa, cuma agak lebih padat. Petang itu hujan sedikit demi sedikit luruh dari atas langit. Orang Jawa bilang hujan seperti ini -yang tidak deras dan tidak juga rintik-rintik- dianggap menyebalkan. Pasalnya, hujan kayak gini pasti lebih bisa bikin kepala kita pusing. Nggak tau orang-orang tua kita dapat teori dari mana soal itu. Yang pasti sebagian besar hal itu benar.
Aku duduk di sebelah pintu, berdampingan dengan seorang ibu-ibu usia setengah baya. Di depanku tampak seorang pemuda yang penampilannya seperti mahasiswa (tetapi aku sangsikan hal itu bila melihat tingkahnya), dia dengan nyamannya tidur menyelonjorkan kaki di satu bangku yang sebenarnya bisa untuk bertiga atau minimal berdua. Egois menurutku di saat banyak yang harus berdiri menyeimbangkan badan dengan berpegang pada ring yang tergantung di kereta.
Di tengah rasa kantuk, aku sempat menangkap suatu pembicaraan. Antara kondektur KA dengan seorang penumpang. Samar, tapi nyaris seperti ini kedengarannya.
"Kalau nggak punya uang jangan naik kereta !, gimana? mau bayar tidak ? kalau bayar berarti kena denda, satu lima ribu, kalau tiga lima belas ribu, dendanya satu kali harga tiket, jadi tiga puluh ribu," suara nyaring kondektur.
"Tapi Pak, saya nggak punya uang," jawab seorang laki-laki dengan logat Jawanya yang medhok.
Jawaban itu membangunkan aku, dan aku lihat ternyata semua penumpang di gerbong itu juga melayangkan pandangnya pada pembicaraan tersebut. Aku lihat laki-laki itu, dia menggendong satu anak laki-laki usia sekitar 3 tahunan, dan satu tangannya lagi menggandeng anak laki-laki pula usia 4 tahunan. Pakainya lusuh, dan membawa buntelan kain. Cara berpakaiannya menandakan dia orang dari suatu pondok pesantren tertentu, itu bisa dilihat dari celana panjangnya yang nyaris tiga perempat saja, dan kopiah yang dia kenakan.
Hebatnya, dan ini bikin sesak dada aku (dan mungkin penumpang lainnya), kondektur dengan sigap menyuruh laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, karena dianggap tidak berhak. Sebelum berlalu dari gerbong kami dan melanjutkan pemeriksaan ke gerbong lainnya, satu lontaran sempat dia ucapkan.
"Nanti kalau sampai di Ceper harus turun," tegasnya singkat. Kondektur pergi, semua penumpang hanya mampu melihat laki-laki itu, yang masih menggendong anaknya, sementara satu tangan bergelanyut di ring tempat pegangan, dan anaknya yang satu sekarang merengkuh kaki laki-laki itu untuk berpegangan. Mereka berdiri sekarang, dan kami hanya bisa memandang. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan penumpang lain. Tetapi pikiranku saat itu, aku masih punya uang seratus ribu lebih di kantong. Kalau cuma untuk membayar tiket bagi laki-laki itu dan anaknya, maka lebih dari cukup. Aku berpikir itu sepanjang sisa perjalanan. Bukan perhitungan soal uang yang aku pikirkan. Tetapi bagaimana caranya aku membantu dia tanpa harus dia merasa dikasihani. Perasaan aneh berkecamuk. Kalau bukan aku semoga ada orang lain yang segera bertindak, pikirku kala itu. Sekali lagi bukan persoalan uang bagiku. Tetapi posisi semacam ini sangat-sangat tidak biasa.
Sampai kemudian semua menjadi terlambat. Menjelang Stasiun Klaten, kondektur sudah memberikan aba-aba, menyuruh laki-laki itu segera siap untuk turun. Aku cuma terkesiap, dan mungkin penumpang lainnya. Dan mereka akhirnya benar-benar turun. Aku lihat dari jendela kereta, mereka membelah gelapnya malam dan mungkin berharap ada pertolongan untuk itu.
Hujan masih luruh, tidak begitu derasnya. Tetapi tetap saja menurut orang Jawa itu bisa bikin sakit kepala. Dan aku nggak tahu apakah si Bapak dan dua anaknya tadi sakit kepala juga karena kehujanan. Tetapi aku yakin mereka sakit hati. Sakit hati kepada si kondektur, sakit hati kepada kami semua yang hanya melihat, dan mungkin sakit hati pada hidup mereka....
Aku punya kesempatan menolong, dan aku tidak memanfaatkannya..
Tetapi kalau ada kesempatan kedua, aku akan melakukannya. Tidak hanya sekadar membayar tiket mereka...tetapi juga akan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang berani menolong orang lain.Karena butuh jiwa besar untuk itu...Semoga saja tidak ada yang mengentengkan arti menolong kepada orang lain lagi seperti aku...walaupun untuk hal yang sederhana sekalipun...
regards,
A
Subscribe to:
Posts (Atom)



