Monday, January 13, 2014

Nonton Oyot Godhong Cabaret Show di Jogja

Dear Journer,

Kali ini saya akan ajak Anda untuk me-review pertunjukan cabaret di Mirota Batik, Malioboro, Jogja. Emang ada? Lho? belum tahu? Baiklah. Mungkin di antara Anda ada yang belum tahu kalau di Jogja ada pertunjukan cabaret. Macam di Thailand begitulah. Pertunjukan yang dilakukan di tengah musik keras, lampu warna-warni, spot light, di tengah atmosfir remang-remang, yang disajikan oleh mayoritas pemain laki-laki (karena saya curiga ada ceweknya satu), termasuk yang berperan menjadi perempuannya pun laki-laki. 

Gara-gara nonton ini, saya pun penasaran pengen mengulik sejarah cabaret itu sebenarnya seperti apa sih? Biar Anda tidak perlu membuka wikipedia, maka saya rangkumkan saja ya :). Jadi sebenarnya, cabaret adalah pertunjukan yang menyajikan musik, komedi, tari, drama dan aspek lainnya. Kata cabaret konon mulai muncul dan dipakai 1655, sementara tahun 1912 kata ini muncul sebagai representasi dari restaurant atau night club. Jadi memang penyajian cabaret biasanya dilakukan di sebuah panggung khusus di restaurant, pub, atau night club. Pengunjungnya menikmati pertunjukan dengan duduk sambil makan, minum dan bergaul. Sementara soal content cabaret sendiri berbeda-beda. Dalam rentang sejarah eksistensinya, cabaret muncul dengan beraneka muatan di berbagai negara. Misalnya di Belanda, Jerman, mereka memasukkan content political satire, kemudian di Amerika Serikat memasukkan juga format stand-up comedy, sedangkan di Perancis yang memiliki sejarah cabaret tertua biasanya melakukan penampilan dengan jumlah penari yang besar (jadi inget film-film India). Intinya semacam itu ya. Dan kebanyakan pertunjukan cabaret semacam ini juga memiliki plot cerita yang jelas. Contoh paling gampang adalah The Moulin Rouge. 

Tiket masuk model sticker
Bagaimana dengan cabaret di Jogja? Secara gampangnya saya menyebutnya sebagai pertunjukan nyanyi lip-sync aja sih, nggak ada plotnya juga. Sebelum ke content, saya mau cerita dulu lokasinya. Jadi cabaret show di Mirota Batik ini digelar di lantai 3 Mirota Batik, Malioboro, Jogja (seberang Pasar Beringharjo). Di lantai atas itu terdapat semacam restaurant yang bernama Oyot Godhong. Pertunjukan digelar setiap pukul 19.00 WIB, hari Jumat dan Sabtu, dengan durasi sekitar 1,5 jam. Harga tiket, untuk VIP Rp 30.000, sementara yang biasa Rp 20.000, termasuk ada juga tiket berdiri (karena tempatnya tidak begitu luas). Sementara soal makanan dan minuman, harganya berkisar antara Rp 15.000 - Rp 30.000. Tapi percaya deh, tidak akan nyaman buat order makan sambil menikmati pertunjukan cabaret-nya. Meski di VIP sekalipun? Iya. Jangan berpikir VIP itu adalah lokasi steril bagi orang selain Anda, karena bukan tidak mungkin akan ada beberapa penonton yang nimbrung di tempat duduk Anda. Ini mereka yang nggak dapat tempat, atau kalaupun dapat tempat, posisinya kurang enak buat nonton :).

Sekarang soal pertunjukannya. Seperti sempat saya singgung tadi, ini hanya semacam pertunjukan lip-sync.  Tokoh yang tampil hanya mensinkronkan antara bibir dengan lagu yang diputer, kemudian menari dengan gerakan erotis (tidak sepanjang pertunjukan, tapi mayoritas erotis). Ada juga pertunjukan tari Jawa nan lembut dan mendayu-dayu yang menjadi pembuka show, lalu di-twist dengan sebuah pertunjukan tunggal seorang penyanyi (atau dancer ?) dengan pakaian seronok (meski pakai stocking). Penyanyi cewek yang aslinya cowok ini muncul dengan tarian erotisnya. Memberikan perbedaan mencolok dari pertunjukan pembuka yang memang bikin ngantuk. Penonton pun bersorak, ngakak, tepuk tangan.

         Agnes Monica KW-dua                                          Foto: Yus Mei Sawitri

Secara bergantian mereka meniru penyanyi-penyanyi terkenal dengan gaya khasnya. Antara lain Agnes Monica, Anggun, Beyonce, sampai Trio Macan. Goyang oplosan yang lagi happening pun tak luput dari sajian mereka. Heboh, karena di sela nyanyi dan goyangan, mereka menyelipkan gerakan-gerakan erotis nan saru (meski sekali lagi mereka pakai stocking, iya warna kulit hihihi). 

Anggun KW-Super                       foto: Yus Mei Sawitri
 
Dance cowok-cowok super kemayu                      Foto: Yus Mei Sawitri
Setelah beberapa penampilan, agak mulai membosankan sih. Sampai kemudian mereka bikin gimmick-gimmick semacam masuk ke lokasi tempat duduk penonton, duduk di meja penonton, pethakilan memanjat balkon di tempat duduk penonton, yang disambut jejeritan para penonton. Lagu-lagu yang ditampilkan adalah lagu-lagu top 40, lagu dangdhut, sampai lagu melayu. Pertunjukan ditutup dengan penampilan semua pelakon.

Closing Performance                                                Foto: Yus Mei Sawitri
Jadi apa yang menarik dari cabaret show ini bagi saya? Well, bagi saya sekadar buat ber-haha-hihi sih oke ya. Lucu melihat tingkah para penampil malam itu yang hampir semuanya cowok kemayu-kemayu, yang beberapa di antaranya bahkan berotot. Selebihnya? saya hanya ingin mematikan rasa penasaran karena beberapa kali temen cerita tentang pertunjukan ini. Saya hanya tahu model begini di Thailand yang meniru cabaret asli di Perancis dengan konsep penampilan penari secara massal. Selebihnya, yang sama hanyalah para drag queen yang tampil. Secara konsep, pertujunjukan ini sederhana banget. Ya seperti yang sudah saya sebut tadi, hanya melihat orang lip-sync dan nari. Itu saja.

Tiket menurut saya juga relatif nggak mahal kok. Saya tahu mereka mempersiapkan penampilan dengan cukup matang, dengan lampu-lampu itu, kostum, efek-efek panggung, dan lain sebagainya. Dan itu bukanlah hal yang murah. Jadi soal tiket, saya tidak persoalkan. Tapi kalau untuk nonton lagi, sepertinya nggak deh. Hanya sekadar pernah nonton saja bolehlah. 

Point yang menurut saya menjadi menarik dari seluruh proyek milik Hamzah Hendro Sutikno yang merupakan pemilik Mirota Batik (correct me if I'm wrong), adalah pemberdayaan orang-orang muda. Saya agak kesulitan untuk memilih diksi pengganti "orang-orang muda" ini dengan misalnya "kaum gay" atau "para transgender" karena saya tidak tahu pasti apakah dalam kesehariannya mereka adalah gay dan transgender atau...mereka menjadi drag queen hanya saat berada di panggung. Tapi saya yakin mereka mencari uang dari pertunjukan ini. Di luar pertunjukan, dalam kesehariannya mereka memiliki status beragam. Ada yang bekerja biasa, ada juga yang mahasiswa (hasil nimbrung temen yang wawancara salah seorang penampil).

Jadi saran saya apa dong? Kalau ada kesempatan ke Jogja, tontonlah. Siapa tau memang Anda menyukai pertunjukan model cabaret ini. Kalau memang bukan selera Anda, setidaknya menambah wawasan Anda sebagai pejalan :).

Cheers,

Ariy

PS: Thanks to Yus Mei atas fotonya, dan Halim San udah dipinjem lengannya jadi model tiket :)

3 comments:

mytravelplate said...

Nice info.. lucu juga idenya dan itu lumrah di dunia bisnis. Perlu diupgrade performance skillnya yah

Bobby Ertanto said...

Oh iya ya ada sejarahnya ya mas. Baru tau.. Taunya cuman nonton dan ngakak seru. Salam kenal ya mas.

Ariy said...

@mytravlplate & Bobby makasih sudah mampir yak :)