Tuesday, August 19, 2008

little house on the prairie


Hari ini mungkin menjadi salah satu fase penting. Yup, hari ini sebuah rumah mungil resmi menjadi milikku. Hasil pengendapan sekian lama, kristalisasi perjuangan, akumulasi balas dendam, dan lain sebagainya.

Rumah itu mungil. Sangat mungil. Beberapa menyebutnya tak layak. Tapi aku menyatakan itu lebih dari sekadar layak buatku. Bagi aku, ini mengingatkan pada romantisme Little House on The Prairie, serial TV produksi tahun 1974-1983 yang sangat booming di tahun 80-an. Ini mengingatkan pada damainya rumah mungil di tengah padang rumput luas terbentang yang dimiliki keluarga Ingals itu. Yap, mungkin berbeda, rumahku tak berada di padang luas...hanya memang masih terlihat hamparan sawah menghijau cukup luas saat aku membuka daun pintunya. Cukup menentramkan meski hanya ada satu kamar, satu ruang tamu, dan sebuah kamar mandi. Hey, setidaknya ada space untuk pagar di depannya. Dan ada ruang lapang setidaknya untuk dua kamar di belakangnya. Rumah yang terletak di daerah pinggiran Kota Solo sebelah utara ini bagian dari impian-impian yang ada di kepala. Ya, mungkin aku bukan orang yang memiliki keberuntungan mendapatkan semua mimpi, atau sebutlah dua mimpi saja sekaligus, untuk menjadi kenyataan. Ini seperti pecahan kaca berserakan, yang setiap pecahannya akan menjadi sesuatu yang indah bila aku memungutinya satu persatu, berjuang menjadikannya benda yang lebih dari sekadar pecahan.

Ini bisa menjadi kerajinan yang indah. Bila itu terlalu berserpih dan sepertinya tak lagi ada manfaatnya, ini bisa kita tumbuk, kita beri sedikit pewarna, kita beri air, kita celup senar layang-layang ke dalamnya, saat itu kering, maka berguna menjadi layang-layang petarung yang hebat, diadu di langit yang tinggi...

Ah, maaf kalau terlalu bersemangat dengan mimpi-mimpi. Karena aku memang percaya sebuah hal yang kita mimpikan sangat mungkin menjadi kenyataan. Seperti rumah kecil itu. Ini bukan kesombongan, karena bahkan orang miskin seperti aku tak berani sombong. Ini hanya untuk memberikan keberanian kepada setiap orang untuk tetap memelihara mimpinya.

Hari ini penuh semangat. meskipun tentu harus bekerja lebih keras lagi ke depan.
regards
A


Friday, August 15, 2008

kutipan hari ini

"Saya berharap orang membantu saya dengan tidak membuat saya pusing lagi. Cukup ombak saja yang membuat saya pusing, jangan masalah lain," kata Suster Rabiah, suster apung yang bekerja di laut lepas, tentang keberatannya terhadap penggunaan karakter dirinya di iklan kampanye Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir, yang sebelumnya dia pikir untuk kepentingan iklan layanan masyarakat, dan bukan untuk kepentingan politis.

Thursday, August 14, 2008

dua pekan



Ada dua pekan penuh menuju kebebasan yang aku rasakan. Terlalu mendramatisasi yak? hehehhe. Nop, aku percaya memang ini rasanya seperti kebebasan. Bayangkanlah moment di mana kita berteriak sekeras-kerasnya di atas bukit, dengan echo yang bisa sampai 20 kali...bebas...bas...bas...bas...bas...bas...bas...bas...lihat baru beberapa echo saja kita sudah merasa seperti menelan sekarung permen mint dengan "plong"-nya yang luar biasa menghantam...hmmmm....kata temanku di Jakarta (yang masih berbahasa gaul di usia kepala tiga) kalimat-kalimatku di sebut lebay...biasa kalo dia sms nulisnya begini *lebay dot com* hehehhehehe (sorry al, piss yo!!)
Tapi benar kok. Dua pekan yang diawali dari tanggal 11 kemarin memang kebebasan yang sebenar-benarnya. Berbeda dengan cuti-cuti sebelumnya yang biasanya aku sudah mempersiapkan pergi kemana, terakhir ke Bali, cuti kali ini tidak mungkin nggembel lagi ke luar kota. Finasial sangat berpengaruh, karena bulan ini juga harus menyelesaikan pembayaran rumah. Selain itu ada tugas marathon untuk mengadakan bakti sosial hingga akhir Agustus.
Tetapi ada hikmahnya. Aku memiliki banyak waktu luang untuk memikirkan hal-hal yang positif dan bahkan berpeluang menambah uang saku. Pertama, ada penawaran untuk menjadi penulis lepas di website milik sebuah perusahaan franchise makanan di Semarang. Masih dalam proses tes sih. Tetapi tulisan pertama, dari dua tulisan yang diujikan, mendapatkan review bagus dari pimpinan perusahaan. Jadi bersemangat rasanya.
Kedua, aku memiliki waktu luang untuk melampiaskan hasrat membacaku. Kali ini yang jadi pilihan adalah kumpulan Cerpen dari Korea yang Laut dan Kupu-Kupu. Buku yang aku beli dengan Dini di Gramedia seharga Rp 40.000. Tidak tahu kenapa memilih buku itu. Tetapi keinginan mencoba membaca fiksi yang berbeda saja. Semangat sekali. Dan saat ini sudah tiga Cerpen yang dibaca. Satu hal, aku sangat menyukai sekali cara penulis-penulis Korea menggambarkan sesuatu secara lugas. Bagaimana proses pipis yang dilakukan difable, detil-detil sederhana digambarkan tanpa kemudian berakhir sebagai jorok. Mereka lugas sekali dalam menulis. Cuman memang, kadang susah memahami model percakapan yang ada di hampir semua tulisan, secara kultur berbeda dengan kita. Sederhananya, ini seperti saat kita bertanya,"Apakah kamu lapar?" kemudian dijawab "Saya tidak tahu siapa namanya," well...harus ekstra fokus sampai kemudian kita menemukan apa yang dimaksudkan dalam percakapan-percakapan karakter di dalamnya.
Hmmm...see? aku sangat bersemangat bercerita. Yap, itulah yang aku bilang bahwa ini sebuah kebebasan. Mana sempat mendapatkan hal-hal yang remeh temeh namun membahagiakan seperti ini di hari kerja.
Oya, schedule-schedule hedon yang sempat tertunda dengan teman-teman juga akan segera direalisasikan. Dua pekan itu lama. Tetapi dua pekan juga tak lama. Menikmatinya sebagai kesenangan akan memperpendek waktu. Menikmatinya sebagai kesusahan akan memperpanjang waktu. Tetapi melewatkan begitu saja justru akan memperpendek umur. Yupppp...masih separuh jalan !!! :)
regards,
A

Monday, August 11, 2008

sakaw

Benar-benar sakaw (pinjem kosa kata ini meski tak tau rasa sebenernya gimana). Okay, aku ulang lagi. Bener-bener sakaw beberapa bulan terakhir. Dvd player rusak dan moment-moment terindah bersama film-film pilihanku pun hilang begitu saja.
Jangan anggap ini sebuah rutinitas reguler ya. Nop. Ini bahkan sangat menyenangkan. Serupa mendebarkan tapi tanpa desingan peluru huheheehhe. Sangat menegangkan. Iya, semua proses dari mulai mendata film apa yang harus ditonton di hari apa, apakah rental sudah ada, kalau sudah ada apakah aku akan kebagian atau harus menunggu 3 minggu sebelum bisa melihatnya? Begini lebih jelasnya.
Dulu (aku kembali sakaw bila harus memikirkan yang dulu), bangun pagi sudah ada list di otak....ssseeettttttttttttttttttttt....seperti berkelebat "Oh besok aku mau nonton ini film".....seeeetttttttt....berikutnya berkelebat, "Sudah ada belum ya di Movietime Honggowongso?"
Keesokan harinya, pasti sudah absen ke Movietime. Mengedarkan pandangan ke sudut paling selatan, mencari di rak new release. Satu out. Dua out. Tiga dan seterusnya biasanya begitu. Lalu, beranjak ke film-film lama di rak sebelah utara. Paling apes naik ke lantai dua meminjam film lebih lama lagi. Kalau beruntung, aku bisa ketemu mbaknya yang dulu pernah bantu aku menyimpankan pesananku dan rela telepon ke rumah untuk memberitahukan pesananku sudah ada (Thanks mbak...pfffhh...maap aku bahkan lupa namanya). Bila berhasil mendapatkan yang aku inginkan, maka langkahku ke kantor (aktivitas berikutnya nih) akan terasa lebih ringan. Berharap pekerjaan segera selesai, pulang ke rumah dan menikmati moment-moment menyenangkan dengan segelas kopi di mug kusam kesayangan.
Seperti sakaw saja kalau mengingat betapa menyenangkannya nonton Gladiator sebanyak tiga kali. Menahan genangan di mata saat melihat Jerry Maguire untuk ketiga kalinya. Nangis saat nonton Pay it Forward (malu sebenernya mengatakan hehehehe), atau perasaan excited melihat film Indonesia macam Gie.
Keharuan macam I'am David atau melankoli model Schindler's list pas Mr Schindler memberikan cincinnya untuk menebus satu nyawa tawanan perang. Kegilaan-kegilaan moderen ala Runaway Jury, One Flew Over The Cuckoo's Nest, serta ketegangan yang nyandu ala The Sixth Sense, Bourne Identity, Bourne Supremacy, Bourne Ultimate. Trilogi Bourne tergila gak akan terganti, sumpah.
Moment-moment itu terkadang terlalu sederhana. Simplifikasi itu kadang jatuhnya terlalu indah. Seperti halnya saat menikmati kesederhanaan Cold Mountain, In the Glooming, In the Name of Father, John Q, Being John Malkovich, Brokeback Mountain, Note on Scandal, Under The Tuscan Sun, The Terminal, Breaking and Entering, atau sesederhana keluarga "aneh" dalam Little Miss Sunshine.
Tapi aku kadang masih suka menikmati kerumitan ala Donnie Darko, Capote, pecahan-pecahan mozaik Crash, Rainman, the Sleepers, the History boy. Atau kerumitan sejarah macam downfall dan Munich. Dan beberapa sangat memperkaya, lihat saja the Pursuit of HappYness, The Good Girl, Philladelphia, I am Sam, Billy Elliot, Olliver Twist....ougghhh....daftar itu masih panjang, sangat panjang...semoga akhir bulan sakaw itu hilang*.
*aku sudah mengincar dvd player keren di pusat belanja deket rumah. Watch me!

Saturday, August 9, 2008

Sunset 12 maret


Sunset di Kuta, 12 Maret 2008. Keajaiban kamera membuatnya begitu indah. Padahal tak terasa seindah itu di sana. Hanya silau, remang, orang berjalan, dan orang duduk. Tak lebih dan tak kurang. Atau mungkin kala itu hidungku tuli, telingaku rabun, mataku mati rasa? Sepertinya bukan begitu, bukan...begini tepatnya, sebenarnya pada saat itu inderaku bebal, menyeluruh, tanpa ada sela, tak seinchi pun. Maka indah itu hanya dirasa kamera.
*Tidak menyalahkan orang yang berada di sampingku waktu 12 Maret itu. Bukan. Ini semata-mata kadang manusia dihinggapi kebebalan secara tiba-tiba. Seperti saat itu...No offense yak*

Thursday, August 7, 2008

hari yang kacau

Besok sabtu adalah bakti sosial ke empat kalinya. Tapi tidak habis pikir, di penyelenggaraan ke empat kalinya, masih saja ada kerjaan yang tidak bisa di-handle sama anggota tim. Semua jadi serba tidak on-schedule.
Pagi tadi rencananya aku harus menyampaikan banner dan undangan warga ke kelurahan. Banner aku yg urus, sementara undangan di urus sama sekretaris panitia. Tiga penyelenggaraan sebelumnya semua serba rapi untuk persiapan macem gini. Tapi tadi, semua berantakan, buang waktu, buang energi, hanya karena tidak ada persiapan dari sekretaris.
Ini kesalahannya :
1. Undangan dibuat pagi hari, sedangkan waktu yang sama harus diedarkan. Sebanyak 200 kopi.
2. Undangan belum aku tandatangani, sudah dikopi 200 lembar. Dan hanya tertera tandatangan sekretaris.
3. Undangan tidak menggunakan kertas kop perusahaan selain tanpa stempel, dan sekali lagi sudah dikopi 200 lembar.
Ini kenyataannya:
1. Lurah menolak undangan untuk warganya karena dinilai tidak jelas siapa penyelenggaranya. Dengan asumsi, kalau terjadi persoalan di belakang hari, lurah yang akan kena, dan bukan panitia penyelenggara.
2. Lurah minta ganti saat itu juga, dengan alasan, kalau jumat sudah terlalu mepet dengan acaranya. Ini masuk akal juga.
Alhasil :
1. Telepon ke sekretaris, mencak2, marah2.
2. Telepon ke bendahara minta diambil alih tugas sekretaris karena situasi
3. Dua kali kerja wara wiri ke sana kemari
Kenyataannya lagi:
1. Surat pengajuan order iklan belum dikirim ke bagian promosi
2. Surat pengajuan permintaan koran belum di kirim
Padahal tinggal dua hari lagi...............pusssssssssiiiiiiiiiiiiiiiiiing dah !!!
sebentar. penderitaan belum selesai. tiba di kantor sibuk dengan deadline. masih harus denger orang ngomong kalo aku ada pengadu (tanpa aku tau untuk alasan apa dia mengatakan itu). mampus..pusss....
akhirnya, cepet2 pengen selesain kerjaan. sambil online di YM tentu saja, berharap ketemu temen2 yang bisa dicurhati. hari ini dini gak online. akhirnya iseng sms-smsan wagu aja sama dia. alfian online, tapi kayaknya dia sibuk dengan deadline juga. ketemu deh si bay. chat lama sama bay, dari pisuh2an sama rusoh-rusohan. lumayan, mumpung si bay lagi bed rest jadi bisa nemeni kerja. coba kalo dia sehat, jangan harap bisa chat lama. cepet sembuh aja deh bay.
malemnya, sonny dari smg dan andreas stiller dari jerman katanya udah sampai di solo. telp ke aku, tetapi sayang kerjaan belum selesai. mereka rencana mau nunggu sampai aku kelar kerja jam 23.00 WIB. sambil nunggu, mereka makan di lesehan sebrang BCA Gladag. pas aku udah pulang, eh ternyata mereka keburu capek, dan udah keliling sendiri nyari homestay. oughhh...maap gak bisa bantu banyak. padahal rencananya kemarin mau bantu buat akomodasi di Solo....gak tau kalau ternyata datangnya tanggal 7, dimana aku masih masuk kerja.
Besok sonny sama andreas ngajak ketemu. sama minta dianterin keliling solo. semoga aku masih punya energi dan mood untuk jadi guide mereka. semoga besok lebih baik lagi keadaannya....
pfffhhh.....need some good rest now.......
regards,
A

Saturday, August 2, 2008

Batik invasions


Seorang temen dari Riau bertanya, sekarang lagi tren ya anak muda gaul pake batik? Iya, jawabku kali itu. Gak di Solo gak di Jakarta, kayaknya memang lagi tren dimodifikasi dengan baju kasual macam jeans. Kalau soal trennya, kali karena pengaruh televisi yang menampilkan figur artis muda yang mulai rame pake batik.


Lalu teman saya yang dari Riau itu kembali bertanya, kalo baju cowok motif batik bisa dimodif gak? I said no. Maksimal kemeja. Tetapi kemudian aku teringat dengan postingan temen dari sebuah milis. Ini mungkin bisa jadi jawaban teman saya itu :

Nah, ini cuman salah satu contoh saja. Adidas mereknya, batik motifnya. Cool huh ?? Sebagai perwujudan berpikir global bertindak lokal. Bagus juga. Sayang item yang dikeluarkan di Indonesia terbatas. Tentu juga dengan harga yang mahal juga.

Ngomong-ngomong soal harga, silakan mampir ke Solo untuk mendapatkan kemeja dan baju-baju batik dengan harga murah...rah...rah. Dengan modal Rp 35.000, bisa didapatkan model kemeja batik keren buat acara formal. Harga ini pun sebenernya bisa turun lagi kalo belinya dalam jumlah banyak.

Silakan ke Pasar Klewer atau Pusat Grosir Solo. Dua lokasi pilihan yang menawarkan batik dengan aneka motif dan modifikasi. Jangan takut untuk menawar. Karena kalau tidak menawar, anda akan menyesal bila ternyata teman anda mendapatkan harga yang jauh lebih murah.

Tetapi kalau pengen mendapatkan batik kualitas bagus, silakan datang ke show room Batik Danarhadi, Batik Semar, dsb, yang memang mematok harga relatif mahal. Tapi motif dan bahannya bagus dan halus.

Pengen belanja batik sambil melihat proses pembuatannya ? silakan datang ke Kampoeng Batik Laweyan. Anda akan mendapatkan keramahan khas Solo, batik murah hingga mahal, sampai bau "malam" (bahan pembuatan batik) yang khas. Jangan takut, meski menyebut dirinya "Kampoeng" tapi credit card sudah bisa digunakan di sini..think global act local lagi kan. Try it :)


Thursday, July 31, 2008

keplek ilat

Bagi sebagian besar orang yang menikmati Kota Solo, salah satu alasan kenapa mereka menyukai kota ini dapat dipastikan adalah makanannya. Sebagai orang asli Solo, aku juga sangat menikmati berbagai macam makanan asli dari daerah ini. Beberapa temen dari Jakarta, dan temen-temen asli Sumatera yang sempat mampir ke Solo bahkan sering ketagihan beberapa makanan khas Solo, dan biasanya minta dipaketin.

Beberapa tempat makan yang sudah cukup dikenal pengunjung luar kota antara lain:

1. Gudeg Ceker Margoyudan, di barat SMA 2 Solo
2. Soto Gading, Megawati Soekarnoputri selalu mampir ke sini kalo pas ke Solo
3. Kawasan Keprabon: nasi liwet khas Solo, wedang ronde, gudeg, wedang asle, bubur.
4. Soto Triwindu : keprabon juga, tapi buka pagi sampai sore
5. Thengkleng Pasar Klewer
6. Aneka jajan pasar dan makanan tradisional komplet di Pasar Gedhe, dan lain-lain.

Sedikit tips demi keselamatan dan kenyamanan:

1. Khusus tempat makan yang penyajiannya per porsi, cukup aman tanpa harus waspada nanya dulu harganya. Biasanya harga per porsi sudah standar.Tapi untuk makanan yang gak ada takaran per porsi, mending nanya di muka harganya berapa. Seperti di Keprabon, kalkulator yang jual suka rusak hehehe. Jadi bisa beda antara satu pembeli dengan pembeli lain. Buat pengunjung dari luar kota yang punya temen asli Solo, mending suruh nemeni. Biar dapat murah. Soalnya, pengunjung luar kota biasanya dikenai harga mahal. Apalagi logat Jakarta..whuehehehe.

2. Pengamen adalah gangguan paling menyebalkan. Lebih menyebalkan dibanding nyamuk. Pengamen ada dua, pengamen yang berandalan, dan pengamen tradisional dengan pake kecapi. Untuk yang pake kecapi dan sinden, mungkin cukup banyak pengunjung luar kota yang suka. Tetapi yang berandalan ini yang kadang menyebalkan. Untuk menghadapi pengamen berandalan ini, jangan terlalu royal memberi mereka uang, karena kalau ingin berlama-lama sambil makan, maka dapat dipastikan akan banyak rombongan berikutnya yang sama-sama berandal. Rp 500 cukup. Kalo gak ada uang receh, pinjem dulu sama yang jual makanan boleh kok. Kalau yang pake kecapi, boleh kasih Rp 1.000, toh jumlah mereka juga gak banyak.

Kami di Solo menyebutnya keplek ilat atau nyaris samalah artinya dengan goyang lidah, orang yang suka berkuliner. Itu tipikal orang Solo. Tetapi memang banyak tempat makan di Solo sekarang pasang harga mahal. Berhati-hatilah. Banyak sebenarnya lokasi makan di Solo yang murah meriah.

Beberapa tempat makan cukup memberikan kemudahan dalam hal finansial hehehe, enak, kenyang juga. Ini dia beberapa di antaranya :

1.Es buah Sraten : nasi bandeng atau oseng Rp 1.000, tempe gurih balut tepung Rp 500 dan es teler Rp 3.500. Lumayan murah dan nikmat di siang panas.

2. Wedangan: semua wedangan relatif murah. Langganan saya adalah wedangan depan Pengadilan Negeri. Nasi sambal sama ikan terinya nikmat. Tempe bongkonya crunchy, dan yup jahe gepuknya kental.

3. Warung Nasi timlo Makamhaji: Ini super-super murah. Lokasinya di barat STIES Surakarta, timur palang kereta makamhaji. Nasi timlo plus yang isinya ada sosis ayam, jamur, telur, suwiran ayam cuman Rp 3.500. Ditambah es beras kencur atau es asem cuman Rp 5000-an. Ada juga sop matahari, selat (khusus ini not recomended, soalnya asin banget :p) dsb.

4. Bakmi Tophrak Mangkuyudan: porsinya aman dan pas. Gak banyak gak sedikit. Bumbu pas. dan ini gak neeg kayak yang serupa di daerah Kartopuran. Ada juga es dawet nikmat.

Di luar itu, sebenarnya ada kekayaan kuliner yang jauh lebih nikmat dan bisa di eksplor. Silakan saja ke pasar tradisional. Pasar Gede sangat direkomendasikan. Cabuk Rambak, Pecel Ndeso, Dawet, Jenang Grendul, Klepon, Cenil, dan makanan super nikmat lainnya yang bisa dibeli dengan harga di bawah Rp 2.000. Di mana lagi bisa makan nikmat semurah itu. So, please...welcome to Solo. Need best guide ? kontak aku...hhehehehhe

Jackpot !!!


Kasus aliran dana BI mengungkap fakta persidangan yang cukup mencengangkan. Tersangka kasus aliran dana BI, Hamka Yandhu, bersaksi untuk terdakwa mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simanjuntak dan mantan Deputi Direktur Hukum BI, Oey Hoey Tiong, di Pengadilan Tipikor menyebutkan, seluruh anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004 yang berjumlah 52 orang, menerima kucuran dana BI dalam jumlah antara Rp 250 juta hingga Rp 1 miliar. Nyaris semua Parpol besar menuai aib dalam kasus ini, karena anggota fraksi mereka disebut ikut menikmati dana haram ini. Kasus ini juga menyeret nama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzetta yang disebut menerima Rp 1 miliar dan Menteri Kehutanan MS Kaban menerima Rp 300 juta, saat keduanya menjadi anggota DPR.
Kesaksian Hamka Yandhu ini semakin mengukuhkan stigma sosial terhadap institusi legislatif. Belum juga hilang keterkejutan masyarakat atas kasus Al Amin Nasution hingga Yusuf Emir Faisal, masyarakat kembali mendapatkan jackpot. Bedanya, kejutan kali ini bukan menyenangkan seperti kita memainkan mesin permainan di pusat hiburan, tetapi justru sangat memprihatinkan. Lalu kita bisa jadi teringat dengan isu utama semua media, yaitu Jagal Jombang, di mana polisi selalu mendapatkan jackpot, dibuat terkejut saat jumlah korban selalu bertambah. Hal yang sama bukan tidak mungkin terjadi di Gedung DPR. Kemarin satu, hari berikutnya tambah satu, lalu tambah 52, hingga kemudian masyarakat menunggu-nunggu sampai titik mana angka ini akan berhenti.
Terseretnya Paskah dan Kaban juga sangat memprihatinkan, terkait posisi mereka sebagai menteri. Meskipun kasus ini terjadi saat mereka masih menjabat anggota DPR, tetapi tingkat kepercayaan masyarakat sudah pasti akan jauh berkurang. Harus kepada siapa lagi masyarakat percaya?
Sayangnya, respons pemerintah maupun pimpinan Dewan relatif normatif, yaitu menunggu proses hukum yang berlaku selesai, baru akan melakukan langkah-langkah lebih lanjut. Berkaca pada kasus aliran dana BLBI, di mana Kejaksaan terpuruk dengan munculnya kasus suap oleh Pengawas Penyidik Pidana Khusus dalam kasus tersebut, langkah Jaksa Agung Hendarman Supandji yang menonaktifkan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman dan Direktur Penyidikan Pidana Khusus Muhammad Salim karena dinilai terkait kasus tersebut, patut ditiru. Langkah yang dilakukan untuk mengembalikan citra korps adalah penting, meskipun proses hukum belum selesai.
Sama halnya dengan Kemas dan Salim, penonaktifan Paskah dan Kaban dari jabatannya sebagai menteri perlu dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono. Kondisi Paskah dan Kaban yang disebut-sebut terkait kasus ini juga bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kinerjanya sebagai menteri. Hal itu juga akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kabinet. Imbas yang lebih luas, bila kinerja menteri terganggu, ada kerugian ganda yang dialami rakyat tentunya.
Turunnya tingkat kepercayaan masyarakat diprediksi sejumlah pengamat akan tercermin pada Pemilu 2009 mendatang. Bukan tidak mungkin angka Golput yang dalam beberapa pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun ini di kisaran angka 40% bahkan lebih, diperkirakan akan mengalami peningkatan. Saat masyarakat merasa dibohongi, kondisi ini bisa jadi akan memunculkan sikap apatis dalam Pemilu.

Wednesday, July 30, 2008

Air Banned, pil pahit semoga menyembuhkan


Akhir pekan lalu, Uni Eropa (UE) menyatakan tetap mempertahankan larangan terbang bagi maskapai penerbangan Indonesia ke wilayah Eropa. Menurut penilaian mereka, maskapai penerbangan Indonesia belum mematuhi standar International Civil Aviation Organtization (ICAO). Komisi Eropa memaparkan pantauannya, sejak awal 2007 terjadi 62 kecelakaan pesawat terbang. Selain itu tiga tahun terakhir juga terjadi kecelakaan serius dengan korban jiwa mencapai 200 orang. Audit ICAO dan US Federal Aviation Administration (US FAA) juga menempatkan Indonesia pada kategori 2, yang berarti standar keselamatan penerbangan tidak terpenuhi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, UE melarang maskapai Indonesia beroperasi ke wilayah Uni Eropa. Larangan ini sudah berlaku sejak 4 Juli 2007. Dan terus berlanjut hingga sekarang mengingat tak ada progres.
Pemerintah Indonesia mati-matian menyatakan telah melakukan perbaikan. Namun UE juga menyatakan implementasi perbaikan yang dilakukan Indonesia masih minim. Indonesia sebelumnya tercatat memiliki 121 temuan yang dinilai bermasalah dengan standar yang seharusnya diterapkan. Dari 121 temuan itu, 69 di antaranya terkait langsung dengan aturan-aturan Uni Eropa. Maskapai penerbangan nasional Garuda dijadwalkan melakukan 59 inspeksi, tapi baru terlaksana sembilan, Mandala Air baru melakukan dua dari 27 yang dijadwalkan, dan dua maskapai lainnya juga minim implementasi.
Sikap UE ini memang menyulut kekecewaan pemerintah dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pemerintah menyatakan tidak akan menandatangani perjanjian unilateral dengan UE dan SBY menyatakan tidak akan melakukan lawatan ke Eropa, selama larangan terbang tidak dicabut.
Dalam hal ini, pemerintah terlihat sangat reaktif dan tidak melihat pil pahit ini sebagai obat untuk menyembuhkan diri. Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal menyatakan bahwa standar internasional yang diminta UE untuk segera dipenuhi sebenarnya sudah masuk dalam draf RUU Penerbangan yang saat ini masih dibahas. Menurutnya, hal ini menunjukkan niat baik memperbaiki diri.
Sayangnya, persoalan semacam ini tidak ada jaminan akan selesai. Pengalaman menunjukkan aturan saja dilanggar. Dan niat baik belum tentu diimplementasikan secara baik pula.
Tak perlu menoleh ke belakang terlalu jauh, dalam pekan yang sama dengan dikeluarkannya larangan terbang oleh UE saja berturut-turut terjadi kecelakaan pesawat, meskipun bukan kejadian yang menimbulkan korban. Hanya sehari sebelum UE mengeluarkan larangan terbang, pesawat Garuda dan Batavia Air mengalami pecah ban, Rabu (23/7). Sangat memprihatinkan, khususnya saat Garuda menjadi benchmark keselamatan penerbangan di Indonesia. Sehari setelah larangan terbang dikeluarkan, giliran Riau Airlines dibekukan air operator certificate (AOC)-nya, akibat kisruh di manajemen operasional dan chief pilot-nya.
Tak soal apakah persoalan teknis atau manajerial, kedua hal ini akan sangat mempengaruhi penilaian maskapai penerbangan yang bersangkutan dalam menjamin keselamatan penumpangnya. Di luar prasangka pemerintah ada aroma politis dari sikap UE ini, komitmen untuk berbenah diri adalah hal mutlak.

Saturday, May 3, 2008

Peluang buat para penulis

Dari milis tetangga
Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini, DKJ berharap akan lahir novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum- Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.- Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.- Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa- Naskah dan judul ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik- Tema bebas

Ketentuan Khusus- Panjang naskah minimal 100 halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman 12- Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah- Lima salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2008Dewan Kesenian JakartaJl. Cikini Raya 73Jakarta 10330Telp. 021-3193 7639 / 316 2780- Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 2008 (cap pos atau diantar langsung)

Lain-lain- Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir Desember 2008- Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis- Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat- Pajak ditanggung pemenang- Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2006—2009.

Hadiah:
Juara I Rp 20.000.000
Juara II Rp 15.000.000
Juara III Rp 12.500.000

Wednesday, April 16, 2008

Kucingnya mati...

Belum enam bulan sejak kematian kucingnya yang pertama, yaitu sang induk, hari ini kucing punya adikku mati. Mochi namanya. Semalem sepulang dari kantor, aku melihat kucing itu muntah-muntah dengan muntahan agak berbusa. Sempat berpikir diracun orang. Tapi gak tau juga.
Pagi ini, bak menghadapi seseorang yang tengah sakaratul maut, adikku menemani kucing yang tengah sekarat itu. Masih terasa bergerak-gerak, matanya nanar berkedap kedip. Sampai kemudian dia akhirnya mati.
Sedih memang, sejak kematian kerap menjadi definisi dari perpisahan dengan orang atau sosok yang disayang. Lebih sedih lagi, karena biasanya setelah itu adikku gak mau makan dan menangis semalaman...
*Lagi berpikir untuk mencari kucing jantan lagi, untuk dipelihara dirumah*

Thursday, April 10, 2008

D'masiv-satu lagi mesin uang musica



Pada keikutsertaan final A Mild Live Wanted 2007 lalu, D'masiv, dulu menggunakan nama Massive, memang tidak terlihat terlalu menonjol. Saat final yang dilaksanakan di Pantai Ancol oleh kalangan terbatas, termasuk jurnalis dari seluruh Indonesia yang mewakili masing-masing pemenang regional, D'Masiv pun tampil biasa. Walaupun satu sisi, D'masiv relatif tampil lebih "bersih" dari segi musikalitas lengkap dengan japanese look yang terlihat menonjol dibanding peserta lain.

Saat temen-temen wartawan saling melemparkan opininya siapa yang bakal juara, mereka dengan bangganya menyatakan wakil daerah mereka yang akan juara. Demikian juga aku. Aku bilang, North dari Solo(dulu menggunakan nama Utara) punya kans. Tapi sebenarnya, North pun tak menunjukkan kemajuan yang berarti dari penampilan mereka selama ini. North tampil "lumayan". Tapi tak cukup hanya berbekal "lumayan" untuk bisa menjadi juara. Label yang bakal mengkontrak mereka pasti punya pertimbangan lain.

Yup, North yang digawangi Brian, adeknya Tia AFI, mungkin memiliki sejumlah personel dengan tampang yang lumayan menjual. Pertanyaan berikutnya, seberapa besar faktor tampang dipertimbangkan dalam sebuah penentuan kontrak oleh pihak label. Beberapa mesin uang Musica Studio, label yang bakal mengkontrak pemenang A Mild Live Wanted ini, toh tak memiliki tampang yang licin. Tengok saja Nidji, Giring sangat kumal. Jadi terlalu naif kalau mengatakan North punya kans karena tampang. Tapi benar iya, tampang memang menjadi pendukung.

Kembali ke D'Masiv. Kala itu masih lumayan culun. Mereka juga sangat kooperatif dengan wartawan. Ingat sekali saat mereka diminta foto2 dengan wartawan, mereka nyeletuk "Aduh serasa udah jadi terkenal". Gaya humble mereka juga menjadi poin yang bagus. Tak bisa dipungkiri, wah atmosfer bermusik Jakarta sangat-sangat membuat jarak yang sangat lebar antara finalis daerah dan dari Jakarta. Dan D'masiv beruntung mereka tinggal di sebuah kota dengan iklim kompetisi yang sangat tinggi, ketat, dan tidak memberikan kesempatan yang lemah menjadi menang karena beruntung.

Pun saat mereka menang, sebagian besar jurnalis menyatakan permaklumannya. Bahwa secara perhitungan bisnis di industri musik, D'masiv memiliki kekompletan yang tidak dimiliki finalis lain. Angka akumulatif pasti akan menentukan pemenang yang memiliki kekompletan itu.

Dan lihat sekarang, singlenya "Tak bisa hidup tanpamu" memang tak terlalu menggigit tapi cukup berbicara. Baru kemudian di album perdana mereka "Perubahan" dengan hitsnya "Cinta ini membunuhku", band ini mampu menunjukkan taringnya. Sudah dapat dipastikan, D'masiv akan mampu menjadi mesin uang berikutnya bagi label lokal yang tengah bersinar, Musica Studio.


Di kantor, beberapa hari ini winamp rekan kantor kerap memutar "Cinta ini membunuhku". Demikian juga beberapa ring back tone milik temen2 kantor. Dan aku juga lumayan suka.


regards



Wednesday, April 9, 2008

you make me feel...so...beautiful...


I have lost my illusions-I have drowned in your words-
I have left my confusion to a cynical world-I am throwing my self at things I dont understand-
Discover enlightenment holding your hand....

just happy to be found....*)



*So beautiful - Darren Hayes (Savage Garden "Greatest hits")


Monday, December 3, 2007

Le Grand Voyage


Reda : Why didn't you fly to Mecca? It's a lot simpler.


The Father: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...


Reda: What ?


The Father: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That's why it's better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane.


salah satu line terbaik di film Le Grand Voyage adalah film yang sederhana. Sesederhana percakapan antartetangga. Salah satu film model "road trip" yang keren yang pernah aku tonton, sejak aku terlalu kecewa dengan "road trip" -nya Riri Reza di "Tiga Hari untuk Selamanya".

Kelasnya tentu berbeda antara Riri dengan Ismael Ferroukhi, sutradara dan penulis film ini. Ini film lama sebenarnya, tahun 2004. Tetapi aku baru menemukannya sekarang. Film yang memotret hubungan antara bapak dan anak laki-lakinya yang beranjak dewasa. Film ini pernah di putar di Toronto dan Venice International Film Festivals. Dinominasikan sebagai film berbahasa asing terbaik selain bahasa Inggris di BAFTA Film Award, Film terbaik dalam Mar de Plata Film Festival, aktor terbaik untuk Mohamed Majd untuk festival yang sama, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya.


Film bercerita tentang perjalanan Reda mengantar ayahnya naik haji dari Perancis menuju Mekah dengan menggunakan mobil. Perjalanan jauh, gejolak jiwa muda Reda, perjalanan batin ayahnya, religiusitas, modernisme, humanity, semua bercampur aduk dalam percakapan-percakapan yang kadang jatuhnya sangat emosional.


Bagi yang tidak menyukai film dengan banyak dialog, tanpa kejutan, datar, lama, maka film ini akan terasa berat untuk dicerna. Tapi bagi yang sudah menemukan "ruh" film ini sejak awal, maka durasi 108 menit terasa kurang.


Film ini menuangkan banyak nilai-nilai moralitas. "The Father" (mohamed majd) adalah karakter moralitas itu yang berseberangan dengan "Reda" - the son - (Nicolas Cazale) sebagai perwujudan jiwa muda yang rebel, kental dengan egoisme dan moderenitas yang nilai-nilai kerap tak sejalan dengan prinsip Islam yang dipegang ayahnya.

Maka akan kita temukan scene di mana saat ayahnya sibuk beribadah, Reda sibuk mencari perempuan dan menemukan seorang penari perut untuk menemaninya. Atau saat sang ayah sibuk berdzikir, Reda sibuk bersms dengan Lisa - pacarnya yang berada di Perancis-.

Dalam satu perjalanan di mana mereka hanya bisa makan roti dan telur, sementara Reda ingin daging, marahnya luar biasa saat sang ayah justru memberikan uang kepada seorang janda tua dengan anak perempuannya. Ini salah satu scene menarik karena akan terkait dengan scene terakhir yang cukup menyentuh. Sang ayah mengajarkan bagaimana berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, sementara sang anak berpikir uang itu bisa digunakan untuk membeli daging.


Film ini ditutup dengan menyentuh, saat Reda mendapati ayahnya tak juga pulang dari Mekkah menuju tendanya. Pada akhirnya dia menemukan ayahnya sudah terbujur kaku menjadi mayat. Akting Nicolas Cazale sangat kuat di scene ini.


Reda pun pulang ke Perancis setelah sebelumnya menjual mobilnya. Scene terakhir, Reda memesan taksi. Membuka pintu taksi, dan melemparkan tasnya ke jok belakang taksi, kemudian berbalik menatap seorang pengemis tua berjilbab yang tengah berjongkok di pinggir jalan, dan memberinya uang untuk kemudian dia masuk ke dalam taksi. Reda telah belajar banyak dari ayahnya. Le Grand Voyage sangat sarat pesan. Tapi sumpah ini tak menggurui.


regards,



Thursday, November 29, 2007



LINTANG - The cure for my elusive and my disturbing feeling of numbness