Saturday, April 2, 2011

Ngetrip ke Borobudur


Dosa dong kalau tidak menempatkan candi ini di nomor satu dalam daftar jelajah candi kita. Nah, banyak yang salah kaprah dan menyebut Borobudur ini di Yogyakarta, padahal Borobudur aslinya berada di Magelang, Jawa Tengah. Jadi, Borobudur bahkan tidak masuk ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sekalipun. Tetapi karena lokasinya yang hanya 40 km dari Yogyakarta, dan Magelang kalah pamor dari kemasyuran nama Yogyakarta di jagad wisata, maka ikutlah nama Borobudur dalam setiap brosur-brosur wisata Yogyakarta hehehe. 
Candi Buddha ini disebut-sebut didirikan para penganut Buddha pada masa Wangsa Syailendra tahun 800-an Masehi. Syailendra adalah nama dinasti raja-raja Sriwijaya yang melakukan ekspandi ke Jawa pada abad ke-7 Masehi. Sebagian besar raja-rajanya adalah penganut Buddha Mahayana, yang kemudian berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno.  Penemuan Borobudur sendiri baru dilaporkan pada 1814, ketika Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stanford Raffles melakukan kunjungan ke Semarang, dan mendapatkan laporan ditemukan batu-batuan bergambar. Lalu diutuslah tim khusus untuk menelitinya. Pekerjaan besar pun dilakukan, pendokumentasian bangunan dan relief dilakukan selama empat tahun sejak tahun 1849. Sejarah menyebutkan, candi yang memiliki 1.460 relief ini dibangun oleh Raja Smaratungga, dari Wangsa Syailendra pada abad VIII. Dalam prasasti Sri Kahulunan (842 M), sebagaimana dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Magelang, Candi Borobudur dibangun untuk memuliakan agama Buddha Mahayana. Banyak versi dan teori tentang apa arti nama Candi Borobudur. Ada yang menyebutkan, berdasarkan prasasti Sri Kahulunan, menuliskan “Sang Kamulan I Bhumisambharabudara” yang berarti bangunan suci yang melambangkan kumpulan kebaikan Bodhisattva. Teori lainnya menyebut Borobudur dari kata “Bara” dari kata kompleks  dan “Beduhur” ialah tinggi.
Dilihat dari fisiknya, Candi Borobudur memiliki berundak, dengan bentuk bujur sangkar bertingkat dengan beberapa pelataran dengan stupa utama berada di puncaknya, serta banyak stupa tersebar mengelilingi stupa utama. Bagian pondasi atau kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, melambangkan nafsu yang paling rendah. Kemudian ada empat lantai yang berdinding penuh relief yang dinamakan Rupadhatu, lebih tinggi tingkatannya dari Kamadhatu, dengan makna filosofi melepaskan diri dari kekangan nafsu paling rendah. Masuk ke lantai ke lima hingga lantai ke tujuh batunya tidak bergambar, dan dinamakan Arupadhatu, yang berarti tidak berwujud. Filosofinya menggambarkan telah mencapi kemurnian dari segala bentuk nafsu, namun belum sempurna, belum mencapai surga. Tingkat paling tinggi adalah diwujudkan dalam stupa yang terbesar dan tertinggi. Digambarkan polos tanpa lubang-lubang, murni dengan ketiadaan wujud.
Menembus dimensi waktu yang tak sebentar, eksistensi Borobudur tak luput dari aksi-aksi yang tidak bertanggungjawab. Mulai dari pencurian patung, hingga aksi pemboman pada tahun 1985. Bisa dimaklumi warisan dunia yang diakui UNESCO pada tahun 1991 ini jadi incaran, karena nilainya tentu tinggi, seperti pada kasus-kasus pencurian arca di museum yang dijual ke luar negeri.
Tiket masuk:  Senin-Jumat Rp 20.000 (umum) dan Rp 10.000 (anak-anak). Sabtu-Minggu dan hari libur Rp 23.000 (umum) serta Rp 11.000 (anak-anak). Untuk wisatawan asing, US$12 per orang dan pelajar Rp 10.000 per orang.
Jam operasional: 06.00 – 17.30 WIB
Mitos
Hingga saat ini berkembang mitos, bagi pengunjung Borobudur yang bisa merogoh patung Kunto Bimo (patung yang berada di dalam stupa berongga), dan menyentuh bagian tertentu patung itu, maka akan dikabulkan keinginannya, mulai dari cepat kaya, naik pangkat, enteng jodoh, dan lain sebagainya. Tetapi sekali lagi ini cuma mitos.
Namun tahukah Anda, bila Anda melakukan itu maka Anda juga berperan dalam kerusakan Borobudur? Nah lho, kok bisa? Menurut pengelola setempat, aksi semacam ini selalu dilakukan pengunjung. Nah, tangan-tangan pengunjung ini sebenarnya sumber penyakit bagi patu. Tangan yang berkeringat karena terik matahari, belum lagi upaya anak-anak kecil yang ikut-ikutan merogoh namun dengan menaiki bagian stupa, akan dengan cepat merusak patung maupun stupa. Keringat yang mengandung garam dengan mudah menimbulkan penyakit pada batuan yang sudah sangat tua ini.
Bagaimana menuju Candi Borobudur? Cara paling mudah adalah dengan ikut travel dari beberapa hotel, homestay, maupun guesthouse, yang memiliki jasa travel ke Borobudur. Nah, bila menggunakan jasa travel dari penginapan, misalnya seperti yang dilakukan Delta Homestay, mereka menawarkan mengunjungi Borobudur dengan Rp 70.000 menggunakan minivan, sudah termasuk makan pagi, dan tiba di Borobudur pagi hari. Beberapa memang menawarkan melihat sunrise di Borobudur, tetapi sebenarnya bukan sebenar-benarnya sunrise karena sudah agak siang juga. Bila ingin benar-benar mendapatkan sunrise, Anda bisa menginap di Hotel Manohara, dengan tarif kamar mulai Rp 400.000/malam. Nah, bila ingin berpetualang seperti yang saya lakukan, naik bus kota dan bus antarkota akan sangat murah meriah. Bagaimana caranya? Anda bisa mulai dari titik halte Malioboro. Naiklah bus TransJogja 3A turun di halte PKU Muhammadiyah, kemudian ganti TransJogja 2B  menuju ke pemberhentian terakhir di Terminal Jombor. Lalu dari terminal ini naiklah ke bus tiga perempat (minibus) ke Borobudur. Ciri khasnya adalah busnya tua dan jelek hahahaa. Bisa pilih Bus Cemara Tunggal, Ragil Kuning, atau beberapa bus lain. Tiket mulai Rp 10.000 dengan jarak tempuh 1 jam. Pulangnya pakai jalur serupa lagi.
TIP
1.      Jarak antara terminal pemberhentian minibus ke lokasi candi tidak jauh, hanya sekitar 10-15 menit jalan kaki. Beberapa Andong (kereta berkuda) akan menawari Anda jasa ke Candi Borobudur dengan harga mulai Rp 10.000 – Rp 15.000. Saran saya, bila cuma ingin ke Borobudur, Anda cukup jalan kaki. Namun bila ingin menggunakan jasa Andong, sekalian minta diantar ke Candi Mendut dan Pawon yang lokasinya berada di kawasan Candi Borobudur.
2.      Terik matahari yang menyengat membuat jasa penyewaan payung tumbuh bak jamur di musim hujan. Harganya variatif, semakin mendekati kompleks candi semakin murah. Harga mulai Rp 5.000 di luar pintu masuk, hingga Rp 2.000 di kawasan candi.
3.      Mau beli souvenir? Siap-siap pasang muka jual mahal. Karena berdasarkan pengalaman saya, semakin agak keluar kawasan candi, maka harga semakin turun drastis. Satu souvenir yang dibuka di harga Rp 30.000 per buah misalnya, bisa kita dapatkan dengan harga Rp 10.000 pada pedagang lain di kawasan yang paling luar.
4.      Jangan pakai baju hitam atau pakaian yang tidak menyerap keringat. Karena sumpah, panasnya minta ampun. Sun glasses dan topi boleh juga tuh dipakai.

Wednesday, March 30, 2011

Dear All,

Terkait persoalan saya dengan penulis lain, dan kemudian muncul surat terbuka saya di blog ini, atas pertimbangan beberapa pihak dan kesadaran pribadi, dengan ini saya menyatakan saya menghapus surat terbuka yang sebelumnya saya posting di sini. Saya menyadari, dengan surat terbuka, maka saya juga bersikap sama dengan orang yang mendeskreditkan saya. Karena niat saya baik, untuk mengingatkan pentingnya toleransi dan saling menghargai, maka saya putuskan mendelete surat terbuka saya. Surat serupa sudah saya kirimkan secara personal kepada yang bersangkutan, sehingga menurut saya sudah cukup.
Terima kasih atas support yang diberikan kepada saya.

Ariyanto

Thursday, March 17, 2011

Kamus Bebas Backpacker [iseng-usil]

Nggak bisa tidur, iseng-iseng akhirnya saya mau berbagi informasi saja soal istilah-istilah, kata, yang kerap dipakai dalam dunia backpackeran hehehe. Siapa tahu berguna ya. Tetapi ini adalah terjemahan bebas dari apa yang saya serap dan pahami lho ya, dan saya tulis secara random tidak urut alfabet...kalau salah atau kurang tepat, ya maap...hehehe...pissss !!

backpacker: orang yang melakukan perjalanan traveling dengan tas punggung. Dalam perkembangannya, kemudian lebih luas lagi biasa disebut seseorang yang melakukan perjalanan dengan budget yang sangat minim.

backpack: adalah tas punggung.

baggage allowance: berat atau volume bagasi yang dibawa traveler atau calon penumpang tanpa biaya tambahan.

boarding pass: adalah dokumen/serupa tiket yang diberikan oleh maskapai penerbangan saat calon penumpang melakukan check in. Dokumen inilah yang digunakan untuk masuk ke dalam pesawat terbang.

cash deposit: prosuder yang diterapkan hotel atau penginapan bahwa setiap tamu harus memberikan jaminan uang cash yang bisa dikembalikan saat yang bersangkutan check out.

dry bag: adalah tas tahan air yang biasa digunakan untuk aktivitas outdoor termasuk untuk kegiatan petualangan atau backpacking.

dorm: adalah kamar di penginapan yang digunakan secara bersama-sama semacam asrama. Dalam satu kamar bisa terdapat tiga tempat tidur hingga puluhan. Dorm merupakan fasilitas yang disediakan penginapan bagi para traveler ber-budget rendah.

double room: kamar untuk dua orang dengan tempat tidur ganda.

flip-flops: sama artinya dengan sandal.

hard sleeper: adalah fasilitas tempat tidur di kereta api, dengan jenis tempat tidur yang keras.

hard seat: adalah fasilitas kursi di alat transportasi baik kereta api maupun bus.

hitchhiking: adalah salah satu cara murah untuk melakukan traveling, khususnya dalam hal transportasi. Hitchhiking biasanya dilakukan dengan cara menyetop kendaraan di jalan dengan mengacungkan jempol. Budaya hitchhiking cukup dikenal di negara-negara barat khususnya.

hostel: adalah penginapan bagi traveler ber-budget minim, bisa dengan fasilitas atau private room atau kamar bersama bersama (dorm). Harga kamar per malamnya biasanya sangat murah.

homestay: hampir sama dengan penginapan ber-budget rendah.
hotel budget: hotel yang memasang rate atau harga kamar cukup murah dan ramah di kantong traveler.

hiking: adalah kegiatan outdoor, berupa jalan kaki di lingkungan alam, selain bagian dari olahraga, hiking juga sangat berkaitan dengan kegiatan traveling.

itinerary: adalah konsep perjalanan, detail rute, mencakup semua hal yang akan dilakukan dalam sebuah perjalanan traveling misalnya destinasi, waktu menuju ke suatu tempat, dan detail lainnya yang mendukung kelancaran perjalanan tersebut.

go show: istilah yang digunakan untuk check in di hotel atau penginapan tanpa booking terlebih dahulu.

guide book: adalah buku panduan perjalanan bagi traveler yang mengupas tentang suatu destinasti dan detail bagaimana cara menuju ke sana dan informasi penting lainnya.

guesthouse: setara dengan arti dari hostel atau homestay.
ngeteng: nah yang satu ini dari bahasa Indonesia yang berkembang di masyarakat urban, khususnya anak muda. Artinya kurang lebih adalah melakukan perjalanan atau traveling dengan cara murah, misalnya dalam hal penggunaan alat transportasi.

left luggage: adalah fasilitas di terminal, bandara, stasiun kereta api, atau pun di penginapan dan hotel yang disediakan bagi tamu atau traveler agar mereka bisa menitipkan barang-barangnya atau tasnya. Fasilitas ini kadang berbayar kadang gratis.

lonely planet: adalah buku panduan yang sangat terkenal di kalangan traveler dunia yang muncul dari prakarsa Tony Wheeler dan Maureen Wheeler. Ini adalah buku how to yang membahas detail suatu daerah, negara, atau tujuan wisata dengan pengerjaan yang rumit dan sangat komprehensif.

low cost carrier/airline: biasa disebut juga sebagai diskon atau budget carrier atau airline, yang secara umum adalah jenis penerbangan yang menerapkan harga tiket murah dan kenyamanan yang sedikit berkurang. Sementara bandaranya kadang disebut sebagai low cost carrier terminal.

overland: perjalanan traveling dengan menggunakan alat transportasi darat.

Passport: adalah dokumen yang merupakan identitas seseorang sebagai warga negara di suatu negara. Dokumen ini mutlak diperlukan saat seseorang melakukan perjalanan ke luar negeri atau masuk ke negara lain.

travelogue: adalah film atau program televisi bergenre dokumenter dengan subyek traveling secara umum. Dalam perkembangannya, dokumentasi juga berkembang dalam bentuk buku.

travel wallet: ini adalah dompet untuk menyimpan uang cash. Modelnya seperti ikat pinggang dan melekat di bagian pinggang atau perut dengan bentuk pipih tipis tidak seperti tas pinggang. Dompet yang cara kerjanya mirip tas pinggang ini terkenal di kalangan traveler barat karena anticopet. Di Indonesia juga mulai banyak dijual bebas.

travelmate/travelbuddy/travel company: adalah teman dalam perjalanan traveling. Bisa dalam satu perjalanan utuh, atau hanya dalam beberapa penggal perjalanan saja.

twin room: satu kamar dengan dua tempat tidur untuk dua orang.

road trip: perjalanan traveling yang menggunakan kendaraan, kadang bukan sesuatu yang direncanakan sebelumnya atau dilakukan secara spontan.

refundable: adalah jaminan uang untuk keperluan tertentu, misalnya jaminan di hotel atau lainnya yang bisa diambil lagi setelah urusan selesai.

sharing bathroom: adalah fasilitas kamar mandi yang digunakan untuk secara bergantian. Biasanya terdapat di hostel/homestay/guesthouse.

single room: adalah kamar dengan satu tempat tidur untuk satu orang.

save deposit box: adalah fasilitas untuk menyimpan dokumen penting atau barang penting lainnya, baik berbayar atau bagian dari sebuah fasilitas tambahan misalnya di hotel.

soft sleeper: adalah fasilitas tempat tidur yang nyaman di dalam kereta api.

sleeper bus: adalah bus yang tidak memiliki fasilitas tempat duduk berupa kursi, namun diganti dengan tempat tempat bertingkat. Ini misalnya banyak ditemukan di China.

Visa: adalah dokumen, bisa berupa surat, stempel atau stiker yang melekat di passport yang sebagai izin masuk ke suatu negara yang dikeluarkan pemerintah setempat kepada seseorang dari negara lain untuk keperluan wisata atau kegiatan lainnya. Visa diurus sebelum yang bersangkutan tiba di negara tujuan.

Visa on Arrival: adalah visa atau izin yang harus dimiliki dan dengan membayar sejumlah uang saat masuk ke suatu negara yang menerapkan Visa on Arrival. Pengurusan dilakukan saat berada di pemeriksaan imigrasi begitu seseorang tiba di negara tujuan.

Visa Run: ini adalah visa yang didapatkan dengan cara menyeberangi perbatasan suatu negara dengan negara lain demi perpanjangan izin tinggal di suatu negara.


Bersambung yaaa...sambil nanti di update lebih lanjut. Atau ada yang mau nambahin? monggo :)

Monday, March 14, 2011

Road Trip - cara traveling super menyenangkan




Saya baru tiba sore ini dari Madura via Surabaya, berujung di tempat tidur saya di Solo. Menikmati apeknya bau bantal kesayangan yang bagi saya harumnya bak kue aroma cengkeh kesayangan.

It was awesome road trip !! dan saya ingin berbagi dengan Anda tentang bagaimana caranya menikmati sebuah perjalanan, traveling, dan menemukan soul dari perjalanan itu. Bukan perjalanan yang hanya satu dua bulan akan hilang dari ingatan kita. Road trip bagi saya ada cara kita menikmati sebuah perjalanan, menyesatkan diri, dengan kendaraan pribadi (bisa motor atau mobil), dan menikmati setiap waktunya dengan elemen-elemen luar biasa: good songs, good food, good conversation. Kalau Anda penikmat film, silakan bayangkan perjalanan luar biasa road trip movies seperti dalam Little Miss Sunshine atau film kekonyolan mahasiswa dalam Road Trip.

Ke Pulau Madura bukanlah road trip pertama saya. Pada sekitar tahun 2001-an, saya juga melakukan road trip bersama sahabat baik saya. Kami menggunakan motor Honda - Legenda yang baru saya beli kala itu. Berangkat malam dari Solo - Yogyakarta - menyusuri kabupaten di pesisir selatan hingga berujung di Pacitan, tujuan kami. Tersesat, kemalaman di satu kota, kehujanan, duit cekak untuk beli rokok membuat kami membeli tembakau untuk kami linting sendiri dan jadi rokok penghangat perjalanan, serta tidur di hotel jelek setengah mampus adalah bagian dari perjalanan mengesankan itu.

Berangkat tanggal 12 Maret pagi, saya dan seorang teman berangkat dari Surabaya menuju ke Sumenep dengan mobil teman saya itu. Rencana awal kami naik motor. Namun kemudian berubah menjadi naik mobil. Menyalakan radio, sederet lagu-lagu keren dari Queen sudah menemani kami, menyeberangi Jembatan Suramadu yang keren dan mahal itu (Rp 30.000 / mobil hehehe).

Saya tidak akan menceritakan soal jembatan ini. Yang saya tahu, perjalanan ini akan sangat mengesankan, dan saya sudah tidak sabar untuk menikmatinya.

Ini adalah perjalanan panjang, more less 4 jam dari Surabaya menuju ke Sumenep. Dan baru saja melintas Jembatan Suramadu, kami berdua sudah tersesat (tidak jauh), kami harusnya belok kanan, tetapi malah belok kiri arah Bangkalan.

"Ke timur, lurus, masih sangat jauuuh..." kata seorang bapak-bapak yang saya tanya.

Kami hanya butuh kata-kata "ke timur" itu, soal jauh, kami sudah yakin masih jauh. Perjalanan kami sangat rileks dan menyenangkan. Di banyak penggalan rute, kami menyusuri jalan di bibir pantai mulai dari Sampang hingga Pamekasan. Atau kami harus berdesakan dengan sapi-sapi, truk pengangkut puluhan orang di baknya, membelah pasar tumpah, dan lain sebagainya. Di penggalan lain, teman saya harus mengumpat karena terjebak di belakang truk yang melaju pelan, atau juga karena di belakang ada mobil yang berulang-ulang membunyikan klakson seakan kami dua orang tuli yang tengah mengendarai mobil.

Berhenti di salah satu spot, sekadar merokok, ambil foto, atau sibuk mencari signal untuk dapat online di internet adalah salah satu kegiatan kami. Saya memang sengaja tidak membawa peta, tidak membawa data-data informasi jalur atau destinasi kami.

"Aku pikir kamu sudah mempersiapkan informasi," tanya teman saya. Hmmm...saya tidak mempersiapkannya. Sengaja hehehe. Maka perjalanan kami akan lebih nikmat, dengan harus berhenti beberapa kali, menyapa orang, bertanya kanan kiri, demi tidak tersesat terlalu jauh.

Ini seperti perjalanan lurus tanpa ujung. Saat kami sudah mendapatkan gapura "Selamat Datang di Sumenep" maka bukan berarti kami sudah tiba di destinasi yang dituju. Kami ternyata baru tiba di Kabupaten Sumenep. Apakah menjemukan? No...kami menikmati perjalanan itu. Berbatang-batang rokok, playlist lagu-lagu, radio yang tak pernah berhenti menyiarkan siaran berita dan penyuluhan (dan kami merasa hidup di masa Orde Baru hihihi), hingga iklan-iklan lucu berbahasa Madura membuat kami terhibur. Sejujurnya, inilah salah satu traveling yang sangat menyenangkan bagi saya, tentu dengan tingkat tantangan yang berbeda daripada saya solo traveling.

Siang hari tanggal 12 Maret itu, kami tiba di ujung Pulau Madura, Kota Sumenep. Ini adalah baru awal. Kami sudah menyiapkan hati untuk kembali tersesat untuk mengeksplorasi pulau ini.

Sekali lagi, ini bukan soal destinasi. Ini lebih soal bagaimana saya menikmati perjalanan itu. Bagi saya, menjadi tersesat bersama teman baik adalah perasaan menyenangkan. Saya sudah berasa menjadi kontestan The Amazing Race saja rasanya hahahha. Pada tingkat berbeda, ini memiliki kenikmatan tersendiri dibanding kita traveling dengan menggunakan transportasi umum.

Apa yang saya dan teman saya bawa dalam road trip itu?:

1. Kendaraan pribadi tentu saja (bisa mobil atau motor). *sejujurnya saya tidak tahu, apakah definisi road trip hanya masuk pada konsep menggunakan kendaraan pribadi, dan apakah naik transportasi umum bukan termasuk road trip (your thought pls !).

2. Playlist songs: Ini wajiiiiiib yaaa. Bisa dari alat pemutar macam mp3, ipod, cd atau lainnya. Tapi pastikan, bisa didengarkan bareng dan volume full :) karena tanpa musik, road trip Anda akan sangat hambar. Sumpah saya serius soal ini. Playlist songs kami waktu itu adalah lagu-lagu dari Lighthouse Family, Extreme, Mr Big, lagu-lagu jadul tahun 70-an, dan nemu acara radio yang khusus menyiarkan lagu-lagu Queen, what a prefect choice !!

3. Makanan ringan dan minuman. Ini tentang bagaimana kita menikmati hidup dan merayakannya. Ada biskuit dan pocari sweat. Lalu kami berhenti di satu supermarket untuk membeli ice cream dan menikmati setiap jilatannya :). Bagaimana mungkin merayakan sesuatu tanpa makanan dan minuman?

4. Pakaian secukupnya: nggak mungkin gak bawa juga kan?

5. Laptop: kami membawanya, dan ternyata cukup membuat perjalanan kami menyenangkan. Update status facebook, download lagu pilihan di youtube, browsing lokasi wisata yang bisa jadi pilihan, browsing hotel tempat kami harus menginap. Laptop membuat kami melakukan perjalanan tanpa harus melakukan persiapan.

6. Uang secukupnya. Karena perjalanan ini akan berat di bensin yaa...

Dan saya mendapatkan teman yang enak untuk ngobrol, nyanyi bareng, berbagi makanan, dan tidak pernah mengeluh soal kesulitan yang kami hadapi selama perjalanan. Maka segala kelelahan itu tidak lagi berarti. Bagi saya, itu adalah waktu yang berkualitas dalam traveling saya.

Soal teman perjalanan ini, menurut saya adalah poin paling substansial. Anda ingin menikmati perjalanan dengan nyaman, aman, dan penuh tantangan? lakukan perjalanan dengan orang yang tepat. Orang yang sudah menjadi teman baik Anda, keluarga Anda, atau bisa saja pacar Anda. Bila Anda sudah mengenalnya, maka perjalanan Anda akan sangat berharga.

Poin penting lainnya adalah, jadilah orang yang sangat toleran, jangan egois, jangan mudah mengeluh, jangan komplain terus. Karena energi-energi negatif semacam ini, meskipun kecil, akan merusak mood dan akhirnya akan membuat road trip Anda dengan partner menjadi berantakan.

Tertarik? Persiapkan road trip Anda sendiri, dan pilih travel buddy terbaik bagi Anda.

regards,

A

Sunday, March 6, 2011

Memilih negara untuk backpacking pertama kali

Ini salah satu hal sederhana yang juga kerap jadi pertanyaan. Kita set-back sebentar ya, kali ini kita ngobrol soal negara mana sih yang bisa kita jelajahi sebagai test case dan belajar backpacking?

Nah, ternyata tidak bisa lho sembarangan kita memilih suatu negara untuk belajar backpacking. Tetapi ini juga tergantung Anda, kalau nyali Anda gede dan duit cukup ya hajar aja ke negara manapun. Cuma tentu ada beberapa hal yang mungkin bagi para newbie agak menyulitkan ya. Nah, sebagai orang yang juga belum lama belajar backpacking, saya mau berbagai pengalaman nih, siapa tahu juga berguna.

Saya suka jalan-jalan sebenarnya sejak lama. Sudah baca cerita jalan-jalannya Prof Dr H.O.K Tanzil di Majalah Intisari pas SMA, dan juga baca seri buku sakunya Pak Tanzil yang keren ini pas kuliah. Keinginan backpacking seperti beliau yang menjelajah negara-negara di dunia tentu ingin. Pak Tanzil aja yang sudah manula berani, kenapa saya enggak? Persoalannya kemudian adalah uang. Tapi seiring dengan udah bekerja dan bisa nabung, akhirnya pada tahun 2009 lalu, secara resmi saya memulai backpacking pertama saya ke luar negeri dengan modal nekat. Gimana enggak, saya cuma bawa duit Rp 4,5 juta, tapi udah pengen aja ke empat negara. Berhasilkah? alhamdulillah berhasil. Saya akhirnya menginjakkan kaki di Singapura, Malaysia, Thailand dan Myanmar. Hasilnya, saya terbitkan tulisan features empat seri di Harian Solopos pada bulan November 2009. Puas ? sangat puas. Apakah awalnya takut? iya, setengah mati hahahahaha.

Lalu saya menyadari ketakutan itu hanyalah ada di benak kita. Kalau sudah punya modal niat kuat dan duit sedikit, maka tak ada alasan untuk tidak melakukan perjalanan kita. Saya memang tidak muluk-muluk dengan negara tujuan. Saya pikir, dengan dua negara saja waktu itu sudah super bagus bagi saya yang newbie ini. Saya waktu itu hanya berpikir Singapura dan Malaysia saja. Lalu setelah dalam perjalanan, saya pikir kenapa tidak ke Thailand? lalu saat di Thailand, teman asal Thailand mengajak saya ke Myanmar, wah kenapa tidak? toh budget masih hehehehe.

Nah, bagi Anda yang belum pernah pergi-pergi ke luar negeri, takut ini itu, takut duit nggak cukup, dan lain sebagainya, sebenarnya itu perkara mudah. Modalnya hanya niat bulat, sedikit tabungan, dan melakukan survei terlebih dahulu. Saran saya, negara-negara Asia Tenggara dulu saja sebagai sarana belajar. Paling gampang adalah negara-negara tetangga dulu saja.

Jadi pilihan saya, negara yang gampang buat belajar backpacking adalah : Malaysia, Singapura dan Thailand.

Alasannya:

1. Masuk ke Malaysia, Singapura dan Thailand, tidak diperlukan visa. Jadi modalnya adalah paspor saja. Gampang murah dan cepat.

2. Banyak penerbangan murah ke ketiga negara ini, sehingga menghemat biaya.

3. Banyak penginapan murah, makanan murah dan hampir sama dengan selera orang Melayu, serta bakal banyak bertemu orang Indonesia juga.

4. Cuaca hampir sama dengan Indonesia.

5. Singapura memiliki posisi yang strategis sebagai salah satu kota besar dunia, dengan sistem transportasi yang sangat rapi dan memudahkan backpacker, banyak infrastruktur yang mendukung backpacking, seperti misalnya di sini tersedia banyak homestay murah. Malaysia, hampir sama, memiliki infrastruktur yang mendukung backpacker, dari segi bahasa akan mudah bagi newbie yang lemah bahasa inggrisnya. Jangan heran kalau tiba-tiba bertemu dengan orang yang mengajak kita berbahasa Jawa hehehe. Di Malaysia, juga banyak ditawarkan tiket penerbangan murah. Bagaimana dengan Thailand? Inilah salah satu kota backpacker dunia. Bangkok dalam kacamata saya sudah seperti kota international. Bule-bule bersliweran, penginapan murah ada, transportasi murah dan mudah juga ada. Thailand adalah satu tujuan wisata dunia yang memesona.

Nah, dengan modal paspor, tiket pesawat pulang-pergi, serta survei destinasi-destinasi mana yang akan kita kunjungi plus sedikit uang, maka ketiga negara itu pantas untuk dikunjungi. Kita tidak perlu ribet mengajukan permohonan visa dan lain sebagainya.

Bila ketiga negara itu sudah sukses Anda jelajahi, maka Anda bisa menaikkan levelnya, mengunjungi negara-negara dunia ketiga lain seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, Fillipina. Level berikutnya, silakan keluar dari wilayah Asia Tenggara, masuk ke wilayah China, India, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Bila ini sukses juga, silakan lari ke Australia, atau ke daratan Eropa yang tentu saja memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

Atau seperti yang saya bilang tadi, Anda memiliki nyali gede dan uang lebih, skip saja Asia, langsung hajar Eropa...hehehehe. Selamat backpacking !!

regards,

A

Tuesday, March 1, 2011

menikmati jadi solo traveler [ tips aman traveling solo]


Saya banyak sekali menerima pertanyaan dari pembaca buku-buku saya via email, serta dari temen-temen Facebook saya yang ingin traveling, tentang kekhawatiran mereka untuk melakukan traveling secara solo alias sendirian. Pertanyaan memang didominasi oleh perempuan, tetapi bukan berarti para laki-laki juga tidak khawatir melakukan perjalanan solo. Mereka ini, perempuan maupun laki-laki, selalu memikirkan soal keamanan.

Saking khawatirnya, ada lho pembaca buku saya yang perempuan, selalu mencoba keep contact dengan saya, meskipun yang bersangkutan sudah berada di negeri orang. Artinya, kalaupun terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sebagaimana yang ada di dalam benak dia, toh saya tidak bisa berbuat apa-apa, orang kami tidak traveling bareng.

Saat memulai merencanakan backpacking, tidak pernah saya berniat melakukan perjalanan dengan teman. Saya selalu memikirkan dan membuat rencana perjalanan secara mandiri, untuk diri saya sendiri. Tetapi dalam kenyataannya, setiap mendekati jadwal perjalanan, ada saja yang pengen ikut. Meskipun begitu, mayoritas backpacking yang saya lakukan adalah solo travel.

Apakah takut traveling solo? Sebenarnya tidak. Tetapi lebih kepada ada perasaan mengganjal, tidak nyaman dan lain sebagainya. Khawatir akan terjadi sesuatu. Ini perasaan normal, dan pasti akan kita alami ketika kita akan memulai perjalanan kita secara sendirian. Tetapi bagi saya, ini hanya ketakutan-ketakutan yang ada di benak kita.

"Saya dengar, traveling di Jawa itu berbahaya. Banyak orang yang suka menipu, curang terhadap traveler," ujar teman saya dari Thailand yang ingin datang ke Jawa.

Itu pertanyaan yang terlontar sejak beberapa bulan lalu, dan kembali diungkapkannya beberapa hari lalu. Saya menangkap kekhawatiran dia. Saya hanya jawab, "Di manapun, selalu ada kriminal. Di negara mana pun selalu ada pembunuh, perampok, pencuri, tukang curang dan lain sebagainya."

Bagi saya, tidak ada jaminan mana yang lebih aman ketika kita di rumah, atau traveling di Yogya atau traveling di Bangkok. Pengalaman saya cari bus di Terminal Pulo Gadung, Jakarta, turun dari taksi langsung disamperin calo kasar yang membentak saya dan menempelkan pisau di pinggang saya. Dia merangkul saya dan memaksa saya masuk ke bus jelek yang katanya jurusan ke Solo (dan saya ternyata diturunkan di Pekalongan, hebatt!!). Sementara di Chiang Mai, saya aman tentram dan sentausa mencari bus menuju ke perbatasan Myanmar. Tidak ada yang tahu kapan kita sial? dan tidak ada jaminan negeri kita lebih aman.

Moral ceritanya adalah, kalau Anda berkutat dengan kekhawatiran soal keamanan dalam traveling, maka Anda tidak akan kemana-mana. Masuklah kekamar Anda, kunci pintu kamar, tidur manis di kasur empuk Anda, dan Anda akan aman.

Apa yang harus kita lakukan adalah fokus pada antisipasi persoalan dan solusi. Misalnya, karena kita traveling solo, maka kita harus mandiri, mempelajari medan, mempelajari sosiologi masyarakat sekitar, budaya sekitar, karakter orang sekitar. Bagi saya, ketakutan itu bisa bersumber pada dua hal:

- Ketakutan karena alasan internal
- Ketakutan karena alasan eksternal

Internal, tentu alasan-alasan yang datang dari diri kita. Misalnya, secara psikologis kita adalah orang pemalu, nah bagaimana nih bila kita tersesat di jalan terus malu bertanya? atau misalnya alasan internal bahasa Inggris kita parah, gimana dong kalau di luar negeri sementara bahasa Inggris kita payah? Alasan internal lain misalnya terkait kondisi fisik kita, bagaimana misalnya nanti kalau kita sakit di jalan, siapa yang mau menolong? dan lain sebagainya.

Eksternal, ini adalah alasan yang datang dari luar diri kita. Bagaimana bila di jalan ketemu dengan orang jahat di negeri orang? dan lain sebagainya.

Nah, kalau sudah tahu sumbernya, saya kasih tips deh untuk Anda mengatasi persoalan-persoalan itu. Ini tentu subyektif versi saya, silakan mana yang sesuai dengan kondisi Anda.

Mengatasi persoalan internal:

1. Bikin itinerary atau rencana perjalanan sedetil mungkin. Bagi cowok atau cewek sekalipun yang suka tantangan, mungkin itinerary bisa dibikin garis besarnya. Tetapi kalau Anda tidak yakin, bikin saja sedetil mungkin. Misalnya mau naik transport dari satu destinasi ke destinasi lain dengan menggunakan apa, mau menginap di mana, dan lain sebagainya. Okelah kita bisa googling, tapi tetap ya antisipasi bila tiba-tiba Anda di suatu tempat tanpa koneksi internet.

2. Untuk perjalanan ke luar negeri, bila Anda merasa bahasa Inggris payah, jangan takut. Bahasa Inggris saya juga payah, tapi saya tak malu untuk belajar. Paling tidak, tahulah hal-hal yang basic. Bawa kamus juga nggak papa. Oya, saya banyak lho menemukan traveler dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, misalnya Jepang, China, atau Korea, dan mereka fun aja tuh jalan sendirian meskipun gak bisa bahasa Inggris. Toh kita bisa menggunakan bahasa tarzan kan? hehehehe.

3. Siapkan hal-hal terkait kesehatan kita. Saya selalu membawa obat-obatan dasar: obat sakit perut, obat sakit kepala/pereda nyeri, serta kadang juga bawa obat tetes mata. Obat sakit perut bagi saya penting, karena saya suka mencoba makanan baru, dan belum tentu itu cocok dengan pencernaan saya. Sementara obat sakit kepala, sangat membantu sekali. Oya, saya juga selalu membawa antiseptik cair untuk cuci tangan.

Mengatasi masalah eksternal:

1. Jangan takut bertanya bila kita tersesat dan kebingungan. Kebanyakan (dan menurut saya ini manusiawi banget) orang akan suka membantu orang asing dari negara berbeda. Seperti kita suka membantu bule gitu deh hehehe.

2. Jangan mudah percaya dengan orang. Hati-hati dengan orang yang tiba-tiba sangat baik dengan kita. Karena bisa jadi ada udang di balik batu. Ada satu cerita dari teman saya dari Amerika Serikat yang menginap di rumah saya. Saat berada di India, dia bertemu dengan pemuda setempat yang sangat baik dengannya (di awal). Pemuda itu kemudian mengundang teman saya makan malam di rumahnya dengan menu tradisional yang sangat ingin dicoba teman saya. Teman saya menganggap, undangan itu sebagai undangan dari teman baik. Namun, alangkah kagetnya saat selesai makan, pemuda itu meminta duit darinya untuk membayar makan...olala !! dan teman saya membalasnya dengan kalimat "Saya lebih suka bertemu penjahat daripada ketemu kamu. Seburuk-buruknya orang adalah orang jahat yang pura-pura menjadi orang baik, and you are the worst !!"

3. Jangan menerima pemberian makanan dan minuman secara sembarangan. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam makanan dan minuman itu.

4. Simpan uang cash dalam beberapa tempat terpisah. Satu ilang, setidaknya Anda masih memiliki yang lain.

5. Jangan pernah lepaskan identitas diri (paspor) dari tangan Anda. Jangan ditinggal di hotel. Hilang paspor adalah bencana.

6. Bagi traveler cewek, terapkan jam malam. Kalau sudah larut, mending cepat kembali ke penginapan/hotel deh. Beradalah di lingkungan yang banyak orang. Jangan berada di lingkungan sepi atau tidak ada traveler lain. Ini menutup peluang terjadinya tindak kejahatan.

7. Jangan lupa siapkan nomor-nomor telpon khusus polisi atau institusi terkait keamanan wisatawan.

8. Kadang-kadang kejahatan juga susah dideteksi. Ukurannya ada di kita. Kalau kita sudah merasa tidak nyaman terhadap lingkungan tertentu, orang tertentu, lebih baik segera tinggalkan dan tidak perlu menunggu hal-hal buruk yang mungkin bakal terjadi.

9. Making friends. Saya suka sekali berkenalan dengan traveler lain. Apalagi yang solo traveler. Bukan tidak mungkin bisa merencanakan jalan-jalan bareng. Karena bernasib sama, biasanya bisa saling menjaga. Meskipun begitu, jangan lantas cepat percaya juga ya...

10. Kalau di luar negeri, alangkah bijaknya kita menghubungi Kedutaan Besar RI di wilayah itu, atau setidaknya perwakilan negara kita sekadar memberitahu keberadaan kita. Bila Anda punya kenalan orang Indonesia di negera itu, tentu akan lebih baik.


Itulah sedikit tips yang mungkin berguna bagi Anda. Pertanyaannya kemudian, apakah traveling secara solo itu menyenangkan? Bagi saya ada plus dan minusnya. Plusnya, kita bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Gak ada beban atau perasaan tidak enak dengan teman misalnya. Mau pergi kemana juga asyik saja. Gak enaknya, gak ada tukang foto gratisan hahahaha. Tapi toh sekarang kan banyak kamera yang bisa disetel otomatis hehehe, tapi emang sih kurang sreg dibanding difoto orang.

Oya, menjadi solo traveler memang kadang suka kesepian gitu. Apalagi kalau perjalanan kita lama. Bagi saya, traveling solo tidak masalah dan cukup menikmatinya. Ada teman pun juga tidak masalah, asal jangan banyak-banyak ya. Jangan kayak study tour hehehe. Berdua saja bisa berantem dan merusak mood kita, apalagi berombongan hahahaha.

So, nikmati saja perjalanan solo Anda !

regards,

A

Sunday, January 30, 2011

Asyiknya tinggal di dorm hostel-tips nyaman & aman


Sejujurnya saya mengenal hostel juga baru saja setelah saya melakukan perjalanan ke luar negeri pertama saya. Saya pikir waktu itu teman saya salah ngomong, hotel menjadi hostel. Wajar saja, mungkin orang awam juga tidak terlalu mengenal istilah hostel ya.

Kita lebih mengenal hotel, penginapan, losmen, guesthouse, homestay, dan lain sebagainya. Hostel dalam terjemahan bebas saya adalah sama dengan penginapanlah. Namun lebih ramah di kantong, karena harga kamarnya biasanya murah juga. Hostel ada yang memiliki kamar private layaknya hotel, serta kamar bersama yang biasa disebut dorm. Kalau private room tidak perlu dijelaskan ya, karena sama dengan kamar hotel. Tetapi kamar dorm mungkin bagi banyak dari kita yang belum mengenalnya. Ini adalah satu kamar besar yang memiliki beberapa tempat tidur (biasanya tempat tidur tingkat). Nah, dalam satu kamar kita bisa tinggal dengan tamu lainnya. Terus berapa orang dalam satu kamar tuh?

Well, saya pernah tinggal di dorm yang dihuni empat orang, hingga dorm yang dihuni 22 orang dan tempat tidurnya terisi semua. Hah? iya serius. And it was more than fun ;)

Awalnya mencoba dorm, saya agak sedikit resah. Bagaimana ya nanti tidur dengan orang lain dalam satu kamar? bagaimana kalau saya ngorok dan teman saya terganggu ? atau sebaliknya bagaimana jika teman saya mengganggu istirahat saya? bagaimana kalau ada yang serem? apakah nanti barang-barang saya aman? dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Tetapi setelah mencoba, dan merasa nikmatnya dan murahnya, maka saya kemudian malah nyandu hahahaa.

Jadi harga dorm ini sangat murah. Di Singapore misalnya, saya mendapatkan harga 19 SGD sekitar Rp 133.000 per malam. Ini termasuk sangat murah lho, karena rata-rata kamar murah di sana bisa 25 SGD atau Rp 175.000 per malam ke atas untuk private room di hostel, sementara kalau kamar hotel semalam minimal sekitar 80 SGD atau sekitar Rp 560.000/malam. Tuh kan, apa saya bilang? murah kan? dan yang hebatnya lagi, saya boleh menawar lho. Waktu itu di Singapore, mereka awalnya pasang harga 22 SGD, sampai kemudian saya tawar jatuhnya 19 SGD. Dan yang menyenangkan lagi, saya mendapatkan gratis semalam, karena saya tinggal 4 malam di sana. Jadi hanya bayar 3 malam saja. :)

Meski kamar saya di Singapore untuk 22 orang, tetapi sangat nyaman menurut saya. Kasurnya bersih, bantalnya bersih, selimut, dan AC-nya dingin mampus :). Kamar mandinya shower dan lumayan kenceng lho, serta bersih tentunya. Selain itu, saya dapat breakfast gratis setiap pagi, roti, ada toaster juga, selai strawberry, mentega, dan yang penting tidak dibatasi berapa jumlahnya dan bisa ambil sendiri. Kadang saya bikin dua, satunya buat bekal jalan-jalan. Belum lagi internet gratis dan TV kabel, serta ada wifi.

Di Malaysia, harga kamar hostel yang dorm rata-rata 30 RM atau sekitar Rp 85.000. Ini misalnya di kawasan Bukit Bintang. Kamarnya memang tidak besar. Tapi kalau cuma untuk tidur dari petualangan kita ya sudah cukup bagus. Dapat breakfast juga, serta ada internet, top roof buat bersantai, dan lain sebagainya :).

Di Thailand, saya bisa mendapatkan kamar dorm mulai 100 Baht atau sekitar Rp 28.000 di kawasan Khao San Road. Gila, murah mampus kan? meski fasilitasnya lebih minim, tetapi saya selalu berprinsip, kita traveling kan bukan untuk pindah tidur. Kalau pun fasilitas pas-pasan juga gak papa. Yang penting bisa tidur pules.

Di China, saya mendapatkan kamar dorm untuk empat orang. Awalnya saya ambil private room, tapi di kota lain saya kemudian memilih dorm, selain hemat juga asyik bisa bergabung dengan traveler lain. Saya bisa dapat kamar dorm mulai 30 CNY atau sekitar Rp 40.000-an. Bahkan ada lho yang dorm yang cuma Rp 10.000 semalem. Haaah?? serius.

Kenapa saya suka dorm dan hostel:
1. Murah. Adalah alasan utama saya. Sebagai orang yang selalu traveling on budget, harga murah adalah prinsip utama.

2. Dapat teman traveler dari berbagai belahan dunia. It was fuuuuuuuun...so good!! Utamanya kalau Anda mengambil kamar dorm yang tidak terlalu besar, misalnya untuk empat atau enam orang dalam satu kamar, maka akan ada interaksi yang lebih intim dengan penghuni lain. Ini saya rasakan di China. Saya pernah satu kamar dengan Robin, cewek 23 tahun dari Amerika Serikat, satu cewek dari Jepang, serta satu cowok dari China. Di lain kota, saya juga satu kamar dengan traveler lain. Sebelum tidur, biasanya kami ngobrol, saling tukar pengalaman, cerita-cerita soal budaya masing-masing negara, tukar makanan, dan lain sebagainya. Dan bukan tidak mungkin kita juga bisa traveling bareng di negara itu. Di Singapore, pengalamannya agak berbeda, karena saya berada di kamar untuk 22 orang. Tetapi saya terlibat dengan obrolan asyik dan lama dengan seorang traveler dari Jerman serta dari Singapore.

3. Tinggal di hostel sangat nyaman, so homy !! seperti tinggal di rumah dengan keluarga besar. Saya merasakan sekali saat berada di Singapore, di mana saya tinggal dalam waktu lima hari. Mulai terjalin komunikasi bagus dengan para stafnya, dengan orang -orang yang tinggal di sana, dan pada akhirnya pas mau pulang merasa ada yang tertinggal....hmmm...

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan bila tinggal di dorm:

1. Kita harus siap dan menyadari bahwa kita akan berbagi kamar dengan orang lain. Tidak cuma satu, mungkin belasan bahkan puluhan. Jangan komplain kalau ada yang ngorok atau memiliki kebiasan tertentu yang mungkin mengganggu, misalnya jorok. Ini penting, karena bila tidak, anda akan terkaget-kaget. Apalagi jika anda adalah orang yang manja. Di Singapore, ada seorang traveler muda dari Jepang yang pada tengah malam memaki-maki seorang traveler bule gara-gara si bule ngoroknya kenceng banget. Si Jepang yang tidur satu bed dengan saya, dia di kasur bawah dan saya di atas, bukan orang yang tepat untuk tinggal di hostel dorm. Dia seharusnya menyadari, you got what you paid. Dia seharusnya lebih tepat tinggal di hotel dengan privasi. Saya kasihan dengan traveler bule itu, karena malam itu juga dia check out setelah berantem dengan si Jepang.

2. Jangan egois. Misalnya menggunakan kamar mandi, atau penggunaan lampu. Mayoritas biasanya lampu kamar dipadamkan. Beberapa hostel memiliki lampu baca di sisi kasurnya. Namun ada juga yang tidak. Nah, bila tidak ada lampu baca, sementara anda ingin membaca, ya anda harus mengalah, misalnya pergi ke lobby saja untuk membaca dulu.

3. Jangan pelit. Bila kita memiliki makanan, kita bisa tawarkan ke orang yang dekat dengan kita di kamar itu. Mendapat teman baru akan sangat menyenangkan.

4. Jangan menutup diri. Coba sering membuka percakapan dengan beberapa tamu lain. Siapa tahu mendapatkan teman untuk bisa diajak traveling bareng di negara itu. Pasti menyenangkan.

5. Jaga benar barang-barang bawaan Anda. Memang setiap tamu biasanya akan mendapatkan loker dan kuncinya. Tetapi kadang bila kita membawa backpack, biasanya tidak bisa masuk ke loker dan hanya ditaruh di kasur. Nah, pastikan barang-barang berharga sudah Anda pindah dari backpack ke loker, dan jangan meninggalkan kunci tergantung di loker. Bila masih merasa tidak aman, titipkan barang berharga di pengelola hostel. Biasanya mereka memiliki safety box.

6. Jangan tinggalkan paspor di hostel. Bawa kemana pun Anda pergi.

7. Satu lagi yang paling penting, bila Anda masuk kamar dorm yang buat cewek dan cowok, jaga benar-benar sikap Anda. Jangan sampai kena pasal sexual harrasment yaaaa :)

Menyenangkan bukan? makannya, jangan ragu untuk tinggal di hostel. Bagi cewek, tersedia kok dorm khusus cewek. Selain juga ada yang untuk campuran cowok cewek, atau hanya cowok saja. Oya, saya sempat mendapatkan pertanyaan, mungkinkah ada tempat ibadah di dorm bagi yang beragama Islam? Sejauh ini saya belum melihat dorm yang memiliki fasilitas itu. Hanya di China saya mendapatkan kamar dorm luas dan ada space untuk sholat. Biasanya memang kamarnya tidak terlalu lebar. Saran saya, cari hostel di dekat mesjid. Di Singapore banyak kok mesjid, apalagi di Malaysia. Bahkan di Bangkok, Anda bisa mendapatkan mesjid besar di kawasan backpacker Khao San Road. Di mesjid menjadi pilihan karena tentu saja memang tempat sembahyang dan kebersihannya terjaga.

Untuk booking kamar, paling mudah melalui www.hostelworld.com atau www.hostelbookers.com. Menggunakan kartu kredit dan kena charge untuk uang muka. Tetapi bila ingin yang tidak pakai uang muka dan kartu kredit, langsung saja ke situs resmi hostel yang bersangkutan, biasanya ada fasilitas untuk booking. Bila tidak, biasanya mereka memberikan alamat email yang bisa dihubungi. Kelemahan booking langsung ke situs resmi adalah, kadang nunggu konfirmasi atau email balasan lamaaaa banget. Bahkan bukan tidak mungkin kita tidak akan mendapatkan balasan.

Bila sudah tahu gimana rasanya menginap di dorm, maka bukan tidak mungkin Anda akan selalu melakukannya dalam traveling. Murah, nyaman & aman. Selamat berlibur !!

regards,

A

Thursday, January 20, 2011

Mari mengenal Jawa


Siapa bilang saya tidak nasionalis?
Hehehehe....langsung deh kalimat ini yang muncul di benak saya saat akan memposting tulisan ini. Yah, sedikit mengganggu saya saat ada yang menyebut buku-buku traveling dan backpacking keluar negeri disebut sebagai salah bentuk tipisnya nasionalisme. Hahahaha...way too much...

Sebenarnya, saya tidak berpikir soal nasionalisme sama sekali saat menulis buku traveling. Bagi saya, traveling ya traveling, nasionalisme adalah soal berbeda. Jangan dicampuradukkan, dan membuat yang sederhana menjadi complicated.
Maka, saya tidak peduli lagi soal mau dilabeli apa dengan tulisan saya. Bagi saya, nikmatilah semuanya secara sederhana, maka akan lebih nikmat. Kalau mau traveling ke China ya hayuuuk berangkat aja, kalau mau traveling ke Thailand hayuuuk hajar sajaaa....nah, kalau kemudian karena lagi pengen jalan-jalan di dalam negeri saja...ya hayuuuk aja, ini nggak kalah nikmatnya.

Saat ini, saya lagi deg-degan menunggu buku ketiga saya lahir. Tinggal masuk cetak saja. Dan buku ketiga ini nanti adalah buku tentang bagaimana nikmatnya menyatu dengan Jawa, yang direpresentasikan dengan dua kota, Jogja dan Solo. Setiap akan kelahiran buku baru, saya pasti akan selalu deg-degan. Tetapi buku ketiga ini lebih istimewa, karena saya menulis tentang kota kelahiran saya, yaitu Solo, serta kota yang membuat saya jatuh cinta (meski bukan pada pandangan pertama) yaitu Jogja.

Saya masih ingat sekali jalan-jalan saya dengan Aie dan Sha di Borobudur, yang merupakan kunjungan kedua saya. Dan saya kembali terkagum-kagum dengan kemegahan Borobudur ini, dan berpikir bagaimana pada jaman itu orang bisa membuat monumen semegah ini dan bisa bertahan melewati jaman? How come?

Atau saya harus menangis-menangis saat harus mencicipi Oseng-oseng Mercon yang pedasnya setengah mampus di salah satu sudut Jogja. Saya juga baru menyadari, bahwa ternyata kota saya, Solo, memiliki keragaman kuliner yang luar biasa. Selama ini saya hanya sekadar makan dan makan saja, tanpa terpikir bahwa "Oh...ternyata kalo dihitung-hitung, Solo kaya ya akan masakan tradisional lezat."

Jogja dan Solo seperti sudah melekat dalam sebagian besar hidup saya. Tetapi menulis buku ini, saya baru sadar, Jogja dan Solo ternyata memiliki potensi luar biasa di bidang pariwisata, jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Merangkumnya untuk Anda menjadi kehormatan bagi saya. Dengan kerendahan hati, buku ketiga saya Travelicious Jogja & Solo; Jalan Hemat, Jajan Nikmat akan segera hadir untuk Anda pecinta traveling.

regards,

A

Saturday, January 8, 2011

Orkestra Ludah di Stasiun Kereta


China, Februari 2010.

Memasuki Kota Guangzhou sebagai pintu pertama saya menuju China, saya tidak melihat sesuatu yang mencolok, khususnya dalam hal perbedaan kultur. Ini kota besar, dengan gedung-gedung pencakar langit, jembatan besar, bangunan megah, sistem transportasi cukup rapi, jalan-jalan yang lebarnya nggak ketulungan. Nggak ada keluhan soal Guangzhou, dan saya juga tidak terlalu menemukan banyak perbedaan, benturan kultur yang bisa menjadi oleh-oleh cerita saya.
Lalu berangkatlah saya menuju ke Nanning, kota kedua yang berada di Provinsi Guangxi. Saya naik kereta, kelas hard seat alias paling murah. Dan, hmmm...dan saya benar-benar menemukan suasana "hard" sebenar-benarnya hahaha...padahal seat-nya empuk lho.
Ini benar-benar padat. Sebagai gambaran, saat saya melakukan perjalanan itu, bertepatan dengan Chinese New Year. Silakan membayangkan suasana layaknya Lebaran di sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk 1,3 miliar jiwa. BBC menyebut, periode semacam ini adalah periode pergerakan jumlah manusia terbesar di bumi, di mana satu kali pergerakan terdapat 2 juta orang menggunakan transportasi darat. Dan tahun 2010, saya menjadi satu orang yang terlibat dalam "migrasi" besar-besaran itu.
Semuanya membawa semangat: pulang kampung, berkumpul bersama keluarga, menggelar makan malam mewah dan berdoa semoga semua berbahagia !!. Woww, saya harus bersaing dengan semangat itu untuk mendapatkan sedikit kenyamanan. Bagusnya, saya dapat satu kursi di kereta, di saat yang lain berdiri, atau meringkuk di kaki saya. :)
Lalu duduklah pemuda ini. Pemuda kurus, bermodel rambut kalau jaman dulu kita sering menyebut "mandarin kocak" hahaha. Dulu potongan model begini terkenal sekali. Belah tengah, depan agak panjang, dengan bagian belakang pendek. Tidak ada yang salah dengan pemuda ini, kecuali....dia meludah mungkin bisa lima menit sekali.

"Cuuuuh..." lalu, kakinya yang dibalut sepatu dengan lincah bergerak ke kanan dan kekiri seperti mematikan putung rokok.

Beberapa menit kemudian, setelah sesaat kereta berangkat, saya mulai sibuk menghitung berapa kali dia meludah. Hebatnya, posisi tempat duduk kami yang berada di ujung dekat toilet ini tergantung larangan "No Spitting"...Ougghh, saya pengin marah saja pada yang bikin larangan itu. Marah, karena kenapa larangan itu ditulis dalam bahasa Inggris? bukannya dengan karakter dan bahasa mandarin, sehingga pemuda sontoloyo ini tidak meludah terus di hadapan saya. Tahu sendiri, banyak orang China yang nggak paham bahasa Inggris, nekat aja kasih tulisan bahasa Inggris.

Saya bahkan berpikir, dia seperti meludah untuk alasan yang tidak jelas. Kalau ada bau busuk okelah, atau sedang pilek okelah. Tapi ini, haduuuuh. Saya berdoa kenceng, bila saya tidak memiliki keberanian menyerangnya, setidaknya kantuk yang harus menyerang dia...dshhhhh!!!

Oalah, ternyata oh ternyata, di tengah sesak kereta gerbong ekonomi kayak gini, bukan hanya pemuda sontoloyo itu saja yang meludah seenaknya. Di samping kanan saya, duduk di tengah lorong kereta, ibu-ibu dengan santainya juga meludah, menutupnya dengan koran, lalu dengan kalemnya duduk di atas koran itu. Hahahahhaa.

Pada perkembangannya, saya menemukan fakta, bahwa memang itu kultur mereka. Suka meludah. Entah untuk alasan apa. Saya menemukan kampanye besar-besaran di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, melarang meludah sembarangan. Kampanye ini dilakukan pemerintah daerah setempat dengan memasang neon box, papan reklame, dan lain sebagainya. Intinya memberikan edukasi kepada masyarakatnya untuk tidak meludah sembarangan karena berpotensi menyebarkan penyakit.

Lalu suatu malam, saya harus terjebak di Stasiun Kereta Api Kunming, Kota Kunming, Provinsi Yunnan. Saya baru saja tiba dengan bus malam dari Kota Tua Dali. Di Kunming, saya berusaha menelpon hostel yang pernah saya inapi. Namun, saya tidak mendapatkan kamar. Lalu saya mencari kamar di hotel di sekitar stasiun, karena saya berasumsi mungkin akan lebih mudah mendapatkannya. Tidak ada kamar. Dan nasib saya ternyata sama dengan ratusan calon penumpang kereta api yang akan menunggu kereta atau baru tiba. Tidak ada kamar sama sekali.

Cuaca dingin menusuk tulang. Malam itu suhu bahkan di bawah 10 derajat Celcius, dan saya teronggok di depan stasiun bersama ratusan penumpang. Tidur beralaskan kardus dan beberapa lembar koran. Berdesak-desakan. Meskipun menggigil, saya mencoba menikmatinya. dan sedang membayangkan suasana arus mudik Lebaran di Tanah Air hehehe Saat itu pun, suara "Caaah...Cuuuh..." kadang masih terdengar. Saya hanya bisa pasrah dengan situasi ini. Bahkan saat seseorang yang duduk tak lebih 1 meter dari saya mengeluarkan suara "Cuuuh..." saya pun hanya bisa pasrah. Yeaap, ludah itu gak sampai sepelemparan kolor dari saya...melas gak sih hahaha. Dan tidak ada yang menegur, bahkan tidak ada yang memberikan tatapan sinis kepada lelaki itu. Mungkin hanya saya yang melihat ke dia, supaya dia merasa bersalah saja.

Menjelang subuh, ratusan orang ini mulai bergerak, beberapa menghangat badan dengan berdiri jalan-jalan, lari-lari kecil. Beberapa meringkuk saja. Yang lain mengemasi koran atau alas yang mereka pakai. Lalu dimulailah simphoni indah itu.

"Hoeeekkkk...cuuuuuhh !!"
"Hkkkrrrkk....cuuuhhhh !!"
"Cuuuuuuuuh...................!!"
"Hoeeeeeeeeeeekkkkk....cuuuuuuuh !!"

Dan itu hampir dilakukan banyak orang di sana. Bak orkestra, suara mereka berlomba. Saya sudah prasangka buruk saja, habis ini pasti ada lomba siapa yang paling jauh meludah hahahaha. Ya Allah, maafkan mereka yang telah melakukan penistaan kepada lantai bersih di stasiun ini hahahaha...

regards,

A

foto: commons.wikimedia.org

Saturday, January 1, 2011

Shemale Toilet - Saat Waria Mendapatkan Ruangnya


Dulu sebelum saya jalan-jalan di Thailand, saya sudah banyak mendengar tentang banyaknya shemale, ladyboy, alias Waria di Thailand dan stigma yang melekat di diri mereka. Saya pikir, banyak dari kita sudah mendengar cerita-cerita tentang itu.
Seperti yang banyak terjadi di belahan bumi manapun, posisi Waria memang belum sepenuhnya diterima. Nah, bagaimana dengan di Thailand?

Dalam backpacking saya di Thailand, saya sempat mampir di Chiang Mai. Bertemu dengan teman saya yang asli Chiang Mai. Lalu suatu malam, saya diajak mampir ke temannya yang seorang penyanyi terkenal di Thailand. Dia memiliki sebuah restaurant yang cukup bagus, dengan arsitektur bergaya budaya Lanna. Lanna Kingdom adalah kerajaan yang memiliki pengaruh luar biasa dan pernah eksis di Thailand, khususnya wilayah utara.

Saat saya ingin ke toilet, saya kaget juga. Ternyata ada tiga ruangan toilet. Sisi kiri adalah toilet dengan tulisan male di pintu, kemudian female di sebelah kanan, dan di tengah ada pintu bertuliskan shemale. Saya tanya teman saya, apakah itu toilet khusus untuk waria? dia mengiyakan. Dan, mereka menjawab dengan kalem, seolah-olah bukan sesuatu yang aneh.

Baru kemudian saya tahu, bahwa hal semacam ini adalah hal yang biasa di Thailand. Saya memang pernah mendengar soal beberapa public school yang menyediakan toilet khusus bagi siswanya yang memiliki kecenderungan menjadi shemale. Tetapi saya belum pernah menemukannya sendiri.

Beberapa hari kemudian, saya naik bus malam dengan teman saya itu, dari Chiang Mai menuju Bangkok. Nah, di dalam bus doubledecker alias tingkat ini, mereka memiliki staf semacam pramugari yang akan bertugas melayani penumpang selama perjalanan. Nah, yang menjadi staf di bus saya ini adalah seorang perempuan yang anggun, lengkap dengan setelan seragam ala pramugari, dengan rok pendek dan sepatu hak tingginya. Ramah sekali orangnya, itu saya lihat saat saya mengamatinya. Wajahnya tidak cantik, dan mukanya berjerawat. Tetapi dia sangat ramah. Lalu kenapa saya mengamatinya? karena saya menemukan sesuatu. Suara dia ngebassss.....sekaleeeee. Hehehehe.

Bukan, saya bukan mau mengejek atau nyinyir. Saya tidak ada masalah dengan gender yang di Thailand disebut gender ketiga ini. Tetapi cuma bertanya-tanya saja. Saat saya tanyakan ke teman saya, dia menyatakan memang "perempuan" itu adalah shemale.

Lain waktu, saya dan beberapa teman makan siang di sebuah restaurant Jepang di Bangkok. Dan saat di depan kasir, teman saya bertanya ke saya, "Do you think she's pretty?" tanya dia sambil menunjuk ke kasir. Ohhh, tentu. Langsing, rambut sebahu, kulit kuning langsat, cantik. Iya dia cantik. Dan teman saya menimpali, bahwa kasir itu adalah shemale.

Masih di restaurant itu, di tengah kami makan, serombongan gadis-gadis cilik muncul dengan dandanan atraktif. Mereka adalah para shemale. Ouggh, dari banyak orang di restaurant itu, hanya mata saya yang terus jelalatan ke arah mereka. Yang lain, saya amati, tidak terlalu terusik dengan kedatangan mereka. Mereka masih sangat muda, saya bisa perkirakan, mungkin baru seusia SMP.

"Ini adalah efek buruk dari diterimanya secara luas kehadiran shemale di masyarakat. Tidak ada lagi diskusi pertentangan tentang eksistensi mereka. Kami memahami dan menerimanya. Tetapi imbasnya, dalam usia yang relatif sangat muda, mereka sudah berani menunjukkan eksistensinya."

Itu kata teman saya menanggapi keheranan saya. Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah salah satu hal menarik dari sebuah negara. Dalam kasus yang mungkin di Indonesia juga ada, ada perspektif berbeda dari masyarakat lain. Bahwa, kehadiran "gender ketiga" ini bisa diterima sebagai bagian dari masyarakat. Mau dihakimi juga buat apa, toh mereka ada juga.

Nah, bedanya Thailand dan Indonesia adalah, "gender ketiga" ini di Thailand masuk dalam segala aspek pekerjaan di sana, meskipun tak menutup mata bahwa banyak (mungkin sangat banyak) yang lari ke prostitusi. Tetapi persentase penerimaan kepada mereka lebih besar, di banding di Indonesia. Kita mungkin akan sangat jarang melihat waria, dengan identitasnya, masuk ke dunia kerja dan memiliki hak sama dengan laki-laki atau perempuan. Kita akan lebih banyak menemukan mereka di pinggir jalan, menaikkan sedikit ujung rok pendek ketatnya, sembari mengacungkan jempol ke arah sorot mobil yang mendekat di area remang-remang semacam Taman Lawang, sambil berteriak "Capcusss deh" saat mobil yang coba dihentikannya menjauh ;).

regards,

A

Friday, December 31, 2010

Toilet di China, yaikksss!!

Toilet bagi saya kerap menjadi persoalan dalam traveling. Mulai dari toilet di hotel, hostel, toilet umum, hingga di bandara. Anda tentu sepakat, fungsi toilet luar biasa penting bukan? Tetapi bagaimana bila Anda darurat harus menggunakannya, dan kondisi toilet tidak layak pakai?

Hmmm, saya punya pengalaman itu. Saya memang belum traveling ke banyak negara. Namun dari lima negara yang sudah saya kunjungi, saya sepakat China adalah negara yang memiliki toilet terbusuk. Hahaha, so sorry. Tapi kalau mengingat penderitaan saya yang dalam kondisi darurat ingin ke toilet dan tidak ada toilet layak pakai, maka saya tidak menyesal memberikan penilaian itu.

Bayangkan, bahkan di bandara international pun, beberapa toilet yang tersedia super kotor, tidak di sentor setelah dipakai, dengan kotoran kemana-mana. Kebetulan saja? well, saya mengalaminya di toilet Chengdu Shuangliu International Airport, di Provinsi Sichuan, serta di Kunming Wujiaba International Airport. Sekali lagi saya tegaskan ya, ini bandara internasional, yang notabene kita berharap kebersihannya standarlah.

Di China, mereka menggunakan toilet duduk (western) serta jongkok. Jadi ada dua jenis. Nah, waktu itu saya akan melakukan penerbangan dari Chengdu menuju ke Kuala Lumpur. Penerbangan pagi, biasanya memang akan sedikit terganggu dengan berontaknya pencernaan. Nah, cari-cari toilet, saya sudah bergumam, untung saya di bandara. Saya bisa memastikan akan mendapatkan toilet yang bagus. Hahaha, bukan hari keberuntungan saya. Karena beberapa toilet yang saya buka, berceceran kotoran (maaf). Udah, pusing saja rasanya kalau sudah begini.

Akhirnya saya pilih menahan, dan segera check in, saya pikir, nanti lebih baik di toilet ruang tunggu sebelum boarding pass. Asumsinya, di ruang tunggu hanya ada calon penumpang yang bisa menggunakan toiletnya, dan itu tidak banyak, sehingga kemungkinan dapat yang bersih. Dan benar juga, saya akhirnya "melahirkan" di sana.

Sebelum itu, saya juga menemukan kondisi serupa di Kunming Wujiaba, bandara internasional ini pun dilengkapi dengan beberapa toilet jorok yang berlepotan kotoran di mana-mana. Khususnya toilet jongkoknya. Maklum, meskipun ada toilet jongkok, tetapi tidak ada fasilitas air untuk sentor kotoran, misalnya kran, ember dan gayung. Jadi asal tinggal aja. Yaiiksss.

Bukan monopoli bandara saja lho. Pengalaman saya menginap di Cloudland Youth Hostel di Kunming juga demikian. Jadi saya tinggal di dorm lantai dua. Di sini ada sekitar lima kamar, satu kamarnya diisi 4 orang. Jadi ada sekitar 20 orang di satu lantai. Nah, ada tiga toilet: satu toilet jongkok (tanpa fasilitas sentor, teteup), serta dua toilet duduk. Pagi hari, saya berencana menggelar "ritual". Masuklah saya ke toilet jongkok yang memang terbuka, nah saya kembali menemukan barang yang tidak saya harapkan hahaha. Pindah ke toilet duduk satunya, closetnya tertutup. Saat saya buka, hahaahhaha...saya tidak akan menceritakan kepada Anda. Dan otomatis tinggal satu toilet. Saat saya masuk, pintunya ternyata tidak bisa ditutup. Ya sudah, saya capek, kesal, dan hasrat "ritual" tiba-tiba musnah sudah.

Saya sendiri tidak pernah menemukan hal-hal jorok di negara-negara lain yang pernah saya kunjungi. Entah kenapa di China saya kerap mendapatkan pengalaman ini. Untungnya, saya tidak menemukan toilet terbuka, seperti yang diceritakan teman saya dari Italia yang telah lama tinggal di Guangzhou.
"Di daerah-daerah pinggiran, kamu akan menemukan toilet-toilet terbuka. Di mana, orang dewasa bisa buang hajat seenaknya, dan terlihat orang lain."

"Apa mereka tidak malu ya?" tanya saya heran.

"Oh tidak, semua akan berlangsung kilat. Mereka akan menggunakan toilet itu dalam keadaan yang sangat darurat, benar-benar sudah tidak tahan, barulah lari ke toilet. Apalagi bila mereka makan makanan pedas, dapat dipastikan buang hajat hanya berlangsung tak lebih dari lima menit..." ujar teman saya itu kalem.

Yaikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkssssssssssssssss........!!!

Saturday, December 11, 2010

Cara jitu promosi wisata ala Thailand: Film!!

Well, sepanjang sebulan terakhir ini memang saya lagi seneng-senengnya berbicara tentang Thailand. Apalagi kalau bukan karena bersamaan dengan launching buku saya tentang perjalanan ke Thailand dari wilayah utara hingga selatan hehehehe.

Saya memang menggoda Anda untuk mengeksplorasi negara ini. Murah, eksotis, indah, serta didukung manajemen pariwisata yang top dari pemerintahnya, Thailand juga menawarkan kemudahan untuk para pemain industri perfilman dunia untuk shooting film di negara ini. Kita bisa melihat keindahan Thailand dari film-film Hollywood lho. Sejak awal pengampu pariwisata di sana sangat sadar sesadar-sadarnya bahwa menjadi lokasi film, apalagi film produksi Hollywood, apalagi filmnya meledak, pasti akan memberikan promosi gratis yang luar biasa.

Nah...stop, stop dulu. Pemikiran visioner semacam ini yang jarang dimiliki para pengampu wisata kita ataupun pembuat kebijakan di Indonesia. Yang ada justru mempersulit, birokrasi rangkap seribu dengan meja yang harus dilalui bisa sejuta. Hahaha...iya saya lebay. Jengkel soalnya bila melihat pemerintah tidak tanggap terhadap kesempatan-kesempatan emas yang muncul dari luar, demi promosi wisata kita yang tak kalah dari Thailand sebenarnya. Contoh kasus produksi film The Year of Living Dangerously, film Hollywood yang dibintangi aktor sekelas Mel Gibson, Sigourney Waver, Linda Hunt, dan meraih Oscar untuk pemeran pembantu terbaik yaitu Linda Hunt, ini berlatar situasi politik di Indonesia pada masa Soekarno dari kacamata jurnalis Australia yang diperankan Gibson. Menariknya, shooting-nya diadakan di Filipina, karena kesulitan ngurus izin di Indonesia hahahaha.

Baru sekarang aja beberapa pimpinan daerah melek. Ini bisa kita lihat dari film Eat, Pray, Love-nya Julia Robert yang katanya 30% ber-setting Bali. Hasilnya? semakin menjulangkan nama Bali bukan? Tapi telaaaat. Thailand sudah melakukannya bertahun-tahun lalu.


Thailand bahkan sudah memulainya sejak tahun 1920-an. Beberapa film Amerika diproduksi di sana. Hingga tahun 1970-an, beberapa film keren muncul dengan setting di Thailand. Beberapa yang mencuri perhatian misalnya adalah film Around The World in 80 Days, film garapan Michael Anderson pada tahun 1956, serta film The Man with The Golden Gun (1974), yang dibintangi Roger More sebagai James Bond. Mengambil shooting di Bangkok serta Phang Nga Bay, inilah mungkin salah satu film Hollywood yang bersetting di Thailand yang paling terkenal. Sampai-sampai salah satu pulau di Phang Nga Bay yang dulu jadi lokasi shooting, dinamakan James Bond Island dan saat ini menjadi pulau tujuan wisata yang terkenal. Kalau Anda melakukan perjalanan dari Bangkok-Surat Thani - Phuket, maka antara Surat Thani - Phuket, Anda akan melewati Phang Nga Bay. Indah? Tentunya.

Nah, di luar itu, masih ada sederet film-film keren lainnya. Untuk era kita, yang cukup terkenal misalnya, The Deer Hunter, film yang dibintangi aktor kelas Oscar, Robert De Niro, Christopher Walken dan John Cazale, yang antara lain mengambil setting di kawasan Patpong, Bangkok serta di Provinsi Kanchanaburi.


Belum lagi beberapa film yang bersetting Asia Tenggara namun mengambil shooting di Thailand. Misalnya film keren The Killing Fields (1984), yang seharusnya ber-setting Kamboja, namun mengambil shooting di Hua Hin dan Phuket.

Demikian juga film-film berlatar Vietnam seperti Rambo, First Blood Part II, Casualties of War, Good Morning Vietnam, Heaven and Earth, film komedi berlatar Vietnam Operation Dumbo Drop, hingga sekuel James Bond tahun 1997, Tomorrow Never Dies yang menjadikan Bangkok sebagai Kota Ho Chi Minh.

Masih belum kenal juga film-film itu saking lawasnya? Bagaimana kalau film keren Alexander karya Oliver Stone dengan bintang Colin Farrel? ini film mengambil lokasi shooting salah satunya di Ubon Ratchathani. Atau komedi Bridget Jones; The Edge of Reason yang mengambil lokasi di Bangkok dan Phuket. Selain itu masih ada American Gangster-nya Ridley Scott yang dibintangi Denzel Washington dan Russell Crowe, film tahun 2006 yang mengambil lokasi di Chiang Mai, atau lihatlah keindahan Provinsi Krabi di sekuel film Star Wars: Episode III Revenge of The Sith (2005). Dan yang sedikit lebih gres dalam ingatan saya adalah film tahun 2008 yang dibintangi Nicolas Cage, Bangkok Dangerous film laga yang menggambarkan keindahan Bangkok dengan hiruk pikuknya.

Dalam perjalanan dengan bus dari Surat Thani ke Phuket, saya barengan dengan banyak bule, dari yang solo traveler sampai yang berombongan. Beberapa turun di sudut jalan, katanya mau melanjutkan ke Krabi, ada seorang yang turun di sudut jalan lain, katanya mau ke Phang Nga Bay. Dalam hati saya kagum, daerah-daerah terpencil ini ternyata namanya sudah menelusup ke telinga para traveler dari belahan dunia yang lain.
Mungkin Indonesia sudah memulainya dengan Bali dan beberapa pulau besar lainnya. Tetapi semoga tidak berhenti di sini dan prosesnya tidak selamban ini. Bangga lho melihat Julia Robert naik sepeda onthel membelah pematang sawah di Bali. "Hey, itu shooting-nya di Bali lho, salah satu pulau tercantik di negara saya, Indonesia."

regards,

A

Friday, December 10, 2010

Bangkok Kota Paling Berbahaya, benarkah?

Radio Nederland Wereldomroep merilis 10 kota paling berbahaya di dunia. Dalam daftar tersebut, Bangkok Thailand menjadi satu-satunya kota di Asia yang masuk daftar. Berikut daftar lengkapnya:

1. Ciudad Juarez, Meksiko
2. San Pedro Sula, Honduras
3. Caracas, Venezuela
4. New Orleans, Amerika Serikat
5. Cape Town, Afrika Selatan
6. Moscow, Rusia
7. Port Moresby, Papua Nugini
8. Rio de Janeiro, Brasil
9. Bangkok, Thailand
10. Bagdad, Irak

Dalam daftar itu, tidak disebutkan secara spesifik kenapa Bangkok disebut berbahaya. Hanya disebutkan bahwa angka transaksi narkoba semakin besar. Asumsinya, biasanya kegiatan semacam ini akan diikuti dengan tindak kriminal lainnya.

Nah, apakah Bangkok seberbahaya itu? Saya sudah dua kali ke Bangkok, dan saya terbiasa jalan-jalan ke sudut kotanya sampai ke perkampungan, pindah dari satu MRT, Sky Train, bus kota super murah, hingga jalan kaki. Saya masuk ke wilayah-wilayah yang katanya disebut berbahaya pasca kerusuhan domestik terkait situasi politik di sana. Tetapi dalam pandangan saya, semua aman-aman saja.

Saya tidak terlalu banyak melihat polisi berlalu-lalang. Ada beberapa polisi di pos-pos polisi dan menurut saya jumlahnya tidak seberapa. Dalam pandangan saya, mungkin bukannya mereka tidak siaga, tetapi menyebarkan polisi di sudut kota secara berlebihan justru akan memberikan kesan kota itu tidak aman.

Paling telat, saya kembali ke penginapan jam 10 malam, dan saya merasakan semua aman-aman saja. Suatu malam, saya pernah menunggu bus kota dari kawasan Mo Chit, Bangkok, yang lumayan jauh dari penginapan. Malam itu hujan, dan saya berada di pinggir jalan yang sepi, ada beberapa orang yang menunggu juga. Namun, hingga malam, bus saya tidak tampak, akhirnya saya sendirian di sana karena semua sudah naik ke bus masing-masing. Sedikit agak waswas, tetapi saya akhirnya mendapatkan bus saya. Tidak ada masalah, dan semua sepertinya hanya perasaan saya saja. Di dalam bus, saya sendirian karena hari sudah malam. Karena tidak mau mengantar saya seorang, kondektur bus meminta saya turun di kawasan Chathucak, untuk mencari bus lain. Bukan dioper, karena mereka tidak mengembalikan uang saya atau mencarikan bus pengganti.

Apakah saya mengalami masalah? Tidak sama sekali. Saya hanya waswas, dan itu wajar. Kita memang harus waspada.

Justru pada siang hari, saya banyak melihat kriminal-kriminal kroco yang berkeliaran. Khususnya di kawasan-kawasan wisata. Mulai sopir tuktuk yang brengsek, penjual makanan yang brengsek, tukang tipu berkedok memberi makanan ke burung-burung di taman, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, menurut saya masih wajar. Hampir di semua tempat wisata pasti adalah orang curang semacam ini. Selebihnya, saya melihat Bangkok kota yang aman untuk berwisata, dengan catatan tentu saja ya. Catatanya apa? ya kalau dalam konteks kita traveling, tentu kita tidak traveling atau jalan-jalan pada dini hari bukan?

Kadang orang mencampur adukkan soal perasaan aman dengan perasaan nyaman. Saat kita berada di tempat sepi dan merasa takut (padahal kenyataannya tidak mengalami tindak kriminal sama sekali) maka kita berkesimpulan bahwa itu tidak aman. Menurut saya, ini perlu dibedakan ya. Saya jadi inget dengan apa kata Clifton Fadiman:

“When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.”

so, pack your backpack now ! selamat traveling.

regards,

A

Sunday, December 5, 2010

Waspada bila naik Tuk-Tuk di Bangkok


Di depan National Museum, Bangkok, Thailand, saya bertemu dengan orang yang pada akhirnya menipu saya.Awalnya, saya hanya ingin memotret bagian depan museum. Tiba tiba seorang laki-laki setengahbaya dengan bahasa Inggris bagus mendekati saya.

Dia memperkenalkan diri sebagai orang yang mengantar anak-anak sekolah ke museum ini. Dia lalu banyak bertanya tentang siapa saya dan dari mana. Bicaranya cepat tanpa sempat saya menjawab. Setelah itu, dia berbicara tentang suatu toko perhiasan yang dia sebut sangat murah. Dia menunjukkan cincin yang dia beli dan harganya separuh dari harga pasaran. Dia bercerita soal big sale yang hanya akan digelar hari itu saja.

Lalu, dia juga bercerita soal kuil Buddha yang tidak banyak turis datang, tetapi sangat indah. Dia menunjuk di peta tentang dua kuil ini. Sikap ramahnya membuat saya menyimak, meskipun dalam hati kecil saya merasa sedikit bertanya-tanya. Terus dia bercerita soal banyaknya Tuk-Tuk yang sering menipu. “Kalau pakai Tuk-Tuk, cari yang warna kuning hijau. Itu lebih murah,” kata dia dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia sudah menghentikan satu Tuk-Tuk yang entah muncul dari mana. Lalu dia sudah menawar begitu saja, dari harga penawaran ฿80 (Rp22.400,00) mereka tiba tiba saja sudah sepakat dengan harga ฿20 (Rp5.600,00) untuk mengantar saya ke lokasi-lokasi yang dia sebut. Saya seperti kerbau dicucuk hidungnya, dan mau saja masuk ke Tuk-Tuk.

Hanya dalam beberapa menit kemudian, saya baru sadar ada yang tidak beres. Namun, saya kemudian memutuskan akan meladeni duo-partner in crime ini. Hayooo aja, lagian pertaruhan saya cuma uang Rp5.600,00. Benar saja, di tujuan pertama saya diantar ke sebuah kuil (lebih tepat menyebutnya rumah), dan benar-benar tidak ada apa-apanya. Pun tak ada seorang turis.
Saya coba masuk sebentar, berbincang- bincang dengan seseorang di dalam yang juga ngoceh panjang-lebar soal toko perhiasan yang harus saya kunjungi (wah … ini juga kaki-tangan).

Tak lebih dari lima menit saya keluar menuju Tuk-Tuk. Dan saya meminta pengemudi Tuk-Tuk mengantar saya balik ke National Museum. Tetapi dia berkeras tidak mau, dan tetap akan mengantar saya ke toko perhiasan.

Lho? Siapa yang bayar siapa, coba? Ya, sudah, saya ladeni. Begitu sampai depan toko perhiasan, perasaan tidak enak saya terbukti. Saya diantar ke depan sebuah toko perhiasan kecil, sangat kecil, hanya serupa rumah toko, tetapi tidak bertingkat. Saya bilang ke sopir Tuk-Tuk, saya tidak akan masuk ke dalamnya dan meminta dia mengantar saya balik seperti kesepakatan.

Pengemudi itu tidak mau mengantar saya. Kami berdebat sengit, dan dia berkeras tidak mau mengantar dan meminta saya masuk ke dalam sekitar 5 menit saja, supaya dia bisa mendapatkan kupon bensin. Gotchaa!! Akhirnya dia mengaku juga hanya ingin mencari kupon bensin.

Saya beri dia uang ฿50 (Rp14.000,00) dan meminta kembalian. Dia hanya memberikan kembalian ฿20 saja (Rp5.600,00), lebih ฿10 daripada yang kami sepakati. Saya sudah tidak peduli lagi, saya tinggalkan dia.

Di hari berbeda setelah itu, saya bertemu dengan teman dari Guatemala, Lucia, dia menceritakan kasus yang sama. Dan Lucia ini sempat menurut masuk ke toko perhiasan itu. Dan di sana dia tidak membeli apa pun, lalu sang penjual memperolok Lucia, “Kamu datang ke toko ini hanya untuk melihat lihat? Kamu tidak punya uang, tetapi masuk ke toko perhiasan?” Ouughhhh … pengin sekali menghajar orang-orang seperti ini.

Jangan percaya begitu saja kepada orang yang tiba-tiba datang kepada Anda dengan kata-kata manis. Pola pola penipuan semacam ini sebenarnya sudah terendus polisi. Itulah mengapa di peta yang dibagi gratis kepada turis di tourist information center booth juga tertera peringatan semacam ini, termasuk ke mana Anda harus melaporkan bila ada yang menghadapi kasus semacam ini.