Sunday, March 2, 2014

Wisata Kuliner di Pasar Blauran Surabaya

Dear Journer,

Salah satu yang menarik dari traveling adalah saat saya berburu makanan khas atau makanan tradisional suatu daerah. Tempat saya berburu makanan khas macam-macam, mulai dari tempat mangkal resminya, food court, sampai blusukan di pasar tradisional.

Surabaya menjadi salah satu tempat yang menurut lidah saya, cocok buat kulineran. Teman saya yang asli Surabaya mengatakan, saya harus ke Pasar Blauran kalau ingin kulineran di Surabaya. Maka ke sanalah saya untuk berburu makanan nikmat. Pasar Blauran gampang dijangkau. Seingat saya, saya naik bus Damri dari Tunjungan Plaza terus langsung turun di Pasar Blauran (buat orang asli Surabaya, bantu benerin ya kalau keliru hihihi, soalnya lupa-lupa inget).

Di Pasar Blauran ini, Anda bisa mengeksplorasi makanan-makanan khas atau makanan tradisional yang mungkin tidak bisa Anda temukan di tempat lain. Jajan pasar banyak, termasuk kue-kue basah atau juga oleh-oleh khas. 

Lontong Cap Go Meh



Lokasi pusat kuliner Pasar Blauran ada di lantai bawah pasar. Karena laper berat, hari itu saya ingin makan yang mengenyangkan. Pilihan saya jatuh kepada Lontong Cap Go Meh. Kebetulan memang saya belum pernah mencobanya. Tetapi saat merasakannya, saya pikir saya pernah makan. Itu kayak lontong opor ayam yang biasa saya makan juga. Saya pribadi cocok.

Tetapi ternyata, porsi Lontong Cap Go Meh yang disajikan tidak membuat perut saya kenyang. Plus cuaca Surabaya yang panas, akhirnya saya memilih untuk menikmati jenang (bubur) campur. Sebenarnya ini di Solo, kota kelahiran saya pun banyak, tetapi emang biasanya hanya ada di pasar tradisional. Bedanya, kalau di Solo disajikan tidak pakai es (meskipun banyak juga yang sekarang berinisiatif menyajikannya dengan es). Jenang yang disajikan mulai dari jenang sumsum (putih), jenang grendul (cokelat), jenang mutiara (merah), jenang ketan hitam (hitam), dan disajikan dengan cendol, santan dan es.






Hari itu, semakin kenyang dan segar tentu saja. Sebenarnya masih ada aneka makanan khas lain, semua terpampang di papan menu yang tertera di tiap-tiap tempat jualan. Oya, sebenarnya untuk kulineran di Surabaya, selain di Pasar Blauran Anda juga bisa datang ke Pasar Genteng untuk berburu makanan berbahan dasar hasil laut, yang cocok buat oleh-oleh, seperti kerupuk udang. Kenikmatan lain berwisata kuliner di pasar tradisional adalah harga makanannya yang relatif terjangkau. Jadi kalau lagi di Surabaya, jangan lupa mampir ke Pasar Blauran.

Cheers,

Ariy

Saturday, March 1, 2014

Apakah Anda Tipe Traveler Tukang Komplain?

Dear Journer,

Tiba-tiba inget sama temen saya namanya Matt. Kalau yang udah baca buku saya Nomadic Heart, pasti sudah tahu ceritanya. Yeap, dia adalah teman saya dari Amrik yang menurut saya masuk kategori "Traveler Tukang Komplain". Saya bukan mau menjelek-jelekkan orang, karena apapun dan bagaimana pun dia, tetap dia adalah salah satu teman baik saya. Cuma dari sebuah situasi nggak asyik pun kita bisa ambil pelajaran. Jadi bagi saya, Matt adalah salah satu "pelajaran" lain yang saya dapatkan dari traveling :).


                                                  foto: www.techyville.com

Kenapa saya tertarik untuk mengangkat topik "Traveler Tukang Komplain" di sini? karena kebetulan saya mengamati di timeline beberapa orang cukup mewakili kategori ini. Saya tidak akan mengajari orang bagaimana menjadi traveler yang baik, tidak akan pernah. Saya hanya akan berbagi pikiran saya, siapa tahu ternyata cukup mewakili apa yang ada di pikiran Anda.

Saya ambil contoh Matt. Dia jauh-jauh dari Amrik untuk backpacking ke Asia Tenggara. Salah satu yang disinggahinya adalah Solo (untuk kemudian ke Jogja) dan lanjut ke Bali. Dia sempat menginap di rumah saya. Memang sih, di rumah saya dia tidak komplain, misalnya terkait perbedaan budaya, fasilitas rumah saya yang menggunakan toilet jongkok, dan hal-hal lain yang mewakili mayoritas penduduk negara berkembang seperti Indonesia. Menurut saya sih, dia agak sungkan, pakewuh, atau nggak enak kalau komplain soal keadaan rumah saya. Kok saya nuduh ? Iya, soalnya kalau sudah keluar dari rumah, jalan, dia sering banget komplain. 

Serius? Iya, mosok Borobudur dikomplain. Katanya tidak bikin dia merasa "wow". Dia juga bilang "Angkor Wat" di Kamboja juga nggak bikin dia merasa "wow". "Bahkan Taj Mahal di India juga nggak bikin aku wow" kata dia bersungut-sungut.

Giliran saya yang nganter jadi bete. Itu kayak orang kerjain tugas kantor, terus kerjaannya diserahin ke boss, dan boss bilang "Kerjaanmu jelek, nggak bikin saya terkesan". Bete kan? hihihi. 

Belum selesai, di halaman Candi Borobudur, dia pengen makan burger. Blaiiik....mana ada? eh ndilalah kok ya ada lho. Burger palsu yang pake booth bongkar pasang itu. Belilah dia. Dan lagi-lagi dia komplain, karena burger itu jauh sekali dibandingkan dengan burger yang ada di Amrik. Yeeee...yaiyalah. Sampai saya jengkel dan bilang kalau mau hal-hal yang seperti di Amrik, ngapain traveling ke luar Amrik? Dia diem, mak klakep. Dan sederet keluhan lainnya...

"MEMBANDINGKAN" adalah awal dari sebuah komplain. Setidaknya saya sering lihat itu dilakukan oleh para traveler. Saat traveling, entah sadar atau tidak, kita sering membandingkan:

"Ah Bali lebih keren dari Jogja"
"Ah Bangkok lebih keren dari Singapore"
"Ah ini lebih dari itu...itu lebih dari ini..."
"Bla...bla...blaa"

"Membandingkan" kerap muncul karena traveler yang bersangkutan mungkin tidak puas akan sesuatu atau destinasi. Ekspektasinya tinggi, sampai di tempat kejadian perkara kok "cuma segitu". Akhirnya muncullah komplain. Kenapa begini...kenapa begitu...mari tanya Galileo :p

"Membandingkan" ini bisa tentang keadaan destinasi, fasilitas akomodasi di area destinasi itu, bisa juga biaya hidup di destinasi tersebut. Kadang keluhan akan muncul secara otomatis, dan ini bagian yang tidak terhindarkan. Saya tentu pernah mengeluh juga saat traveling. Pas pasta gigi saya ketinggalan, saya mengumpat setengah mati saat beli di sebuah minimarket di Singapore harga sebuah pasta gigi sampai hampir Rp 30.000. "Aduh...kalau saja saya nggak kelupaan, pasti hemat Rp 30.000, secara di Indonesia Rp 3.000 perak juga dapat pasta gigi".

Keluhan semacam itu bisa terjadi, tetapi bisa juga diantisipasi. Kalau pengen murah ya jangan milih hotel mahal. Kalau perlu ya nginep di hostel, kalau perlu ngekos. Jangan makan di resto mahal, kalau perlu ngulik makanan kaki lima, atau beli mie cup aja buat beberapa hari. Itu misalnya.

Yang paling parah adalah kalau sudah mengeluh soal destinasi. "Aduh, bete...udah jauh-jauh ke sini, ternyata nggak ada apa-apanya gini. Tau gitu gue ke sono aja." Yaelah, kalau Anda ingin tahu siapa yang musti disalahkan dalam situasi itu, silakan ambil kaca. Yeap, itu salah Anda sendiri. Kok bisa? karena di era sekarang ini cari informasi mudah, mau liat gambar destinasi, testimoni orang yang pernah ke sana, sampai soal harga juga gampang: Googling it !! "Tapi kan belum tentu bener dan valid?" Yeap, itu tetap salah Anda sendiri. Kok saya ngeyel? Iya, karena menurut saya, setiap destinasi pasti nggak melulu soal jelek kan? pasti ada kelebihannya kan? Kalau Anda mengubah cara pandang dari sisi positif, saya yakin Anda akan tetap bisa menikmati perjalanan itu, meskipun mungkin destinasinya tidak seperti yang Anda bayangkan di awal.

Seperti yang saya bilang, saya juga pernah mengeluh saat traveling. Itu manusiawi. Tetapi sekarang saya mencoba mengakalinya dengan mengubah cara pandang saya terhadap sesuatu. "Kita tidak bisa mengubah sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu". Itu yang saya coba lakukan. Bukan hal mudah memang. Apalagi mengubah sesuatu negatif menjadi positif, duuh susahnyaa...

Yang saya lakukan, saya coba fokus pada kelebihan suatu destinasi daripada fokus pada kekurangan suatu destinasi. Come on, pastilah setiap destinasi memiliki keunikan sendiri, cerita yang beda, indah dengan caranya sendiri dibandingkan destinasi lain. Dengan fokus pada kelebihan suatu destinasi, saya akan enjoy traveling, dan tidak memiliki waktu lagi untuk mengeluh. Ini kata kuncinya:

Setiap tempat memiliki ceritanya sendiri. 

Begini lho, kita sudah bayar tiket pp mahal, repot ambil cuti atau menghabiskan jatah libur, repot beli ini itu untuk persiapan, mosok udah sampai di destinasi yang kita tuju cuma mau komplain melulu? Serius? kalau emang begitu kondisi Anda, ya saya cuma mau bilang...berat amat hidup Anda ya :)

Cheers,

Ariy

Friday, February 28, 2014

Inilah Para Penulis The Ho[S]tel 2

Dear Journer,

Banyak yang nanya-nanya, kapan The Ho[S]tel 2 bakal terbit? Iya sih, setelah kemarin kami gelar lomba untuk penulisan kisah perjalanan yang akan dimasukkan di The Ho[S]tel 2, dan kemudian menghasilkan 18 penulis terpilih, ada jeda cukup panjang sebelum akhirnya bisa terbit.
Pertama, soal teknis penulisan yang memang harus banyak pembenahan dari tulisan aslinya. Karena memang tidak semua adalah penulis, tetapi memang semua memiliki passion tinggi di traveling. Kedua, menyeragamkan 18 tulisan dan dua tulisan saya membutuhkan waktu. Hal ini dilakukan supaya semua tulisan nantinya "satu bahasa". Kalau pun ada perbedaan tema, akan dikelompokkan ke dalam "kompartemen-kompartemen". Ketiga, harus dibuatkan ilustrasi untuk masing-masing cerita. Keempat, nah ini yang bikin rada lama. Awalnya sudah mendapatkan cover, tetapi melalui evaluasi, akhirnya cover diganti. Kenapa? ya semata-mata supaya menghasilkan cover terbaik.

Rencana terbit Februari pun mundur. Tetapi ini semata-mata demi hasil yang semoga jauh lebih baik dibandingkan The Ho[S]tel seri satu ya. Insya Allah, Maret ini terbit dah. Nah, ini dia para penulis yang bergabung dalam The Ho[S]tel 2:


Cheersssss....

Ariy

Monday, February 10, 2014

Pencurian Tulisan

Dear Journer,

Semalem TL saya ribut soal adanya pencurian foto teman, yang dipakai oleh sebuah travel agent yang menurut saya amatiran, untuk mengisi blog travel agent itu. Teman saya mempersoalkan karena yang bersangkutan tidak izin sama sekali. "Padahal kalau mau izin make aja pasti dikasih. Tinggal masukin sumbernya di artikel itu," keluh teman saya.

Masih ingat juga dong kasus kompetisi foto-nya Samsung yang barusan heboh? Ada yang mendaftarkan foto hasil "nyolong" milik orang lain. Parahnya pencuri ini menang kompetisi !! Hadeuh....bagi pemilik aslinya, saya tahu gimana perasaannya. Pasti gondok, bete, dan merasa terdzolimi banget. Saya tahu perasaan orang itu? Tahu darimana ? Okay, saya juga pernah menjadi korban, meskipun bukan foto saya yang dicuri (karena kebetulan saya bukan orang yang pinter motret). Tapi problemnya sama sih, hak atas kekayaan intelektual kita dilanggar.

Sekitar tiga tahun lalu, seorang teman memberi kabar bahwa sebuah majalah terkenal menggunakan artikel di buku saya. Artikel itu persis banget, hanya diberi tambahan sedikit bagian paragraf awal dan penutup di bagian akhir. Tetapi body text-nya persis. Mungkin yang ngutip malas mengedit. Parahnya, artikel itu tidak dilengkapi sumber, yaitu buku saya. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung nyari majalah itu dan memang benar, itu artikel saya. Bagi saya sebagai penulis, saya merasa dicurangi, dan parahnya ini dilakukan oleh media besar. Saya tidak mempersoalkan bila ada orang yang ingin menggunakan tulisan saya, tetapi setidaknya disebutkan sumbernya. Nah, apalagi ini sebuah majalah yang menurut saya pasti orientasinya bisnis. Kecuali majalah itu majalah gratisan (meskipun tetap harus mencantumkan sumber). Tidak mau terus terbakar amarah, saya lalu melakukan ini:

1. Pastikan benar-benar bahwa tulisan yang ada di majalah adalah tulisan yang sama dengan tulisan saya. Hal ini supaya saya tidak hanya disebut nge-klaim tanpa bukti. Selain itu supaya mereka tidak ngeles.

2. Setelah yakin bahwa itu benar-benar tulisan saya yang mereka pakai tanpa izin atau menyebutkan sumber, maka saya mencari kontak redaksi. Surat resmi via pos mungkin bisa dilakukan, tetapi kecepatannya tentu akan kalah dengan surat elektronik (e-mail). Maka saya menggunakan e-mail untuk melayangkan protes. Sasaran saya adalah pemimpin redaksi (Pimred). Yeap, bagi saya yang pernah 6 tahun di media, menembak target pimpinan biasanya akan lebih cepat direspons, meskipun saya tahu tulisan itu muncul karena peran editornya.  Tetapi dalam e-mail itupun saya CC ke e-mail editornya.

3. Saya tulis e-mail dengan model merekonstruksi apa yang menjadi keberatan saya dengan pointer-pointer. Mulai dari kapan majalah yang saya persoalkan terbit, di halaman berapa, rubrik apa. Lalu akan saya kuliti lagi di bagian mana saya merasa tulisan saya digunakan. Detail di sini sangat penting, supaya mereka tahu kita tidak main-main. Contohnya:
"Pada rubrik...di halaman...paragraf....baris...tertulis...bla...bla...bla....tulisan tersebut sama dengan tulisan yang ada di buku saya yang berjudul....halaman...paragraf....baris...yang tertulis..bla...bla...blaa..."

4. Begitu seterusnya sampai semua hal yang saya merasa keberatan terakomodasi di surat keberatan itu. Oya, tulis dengan bahasa sopan dan tidak marah-marah. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya orang yang tau etika di saat saya sedang mempersoalkan etika mereka. Dalam surat semacam ini, saya harus mencantumkan di dalamnya, tentang tindakan apa yang saya inginkan. Saya dalam kasus ini hanya menuntut mereka meminta maaf dan membuat ralat dalam edisi berikutnya, mencantumkan sumber artikel itu yaitu buku saya.

5. Tulis subject e-mail dengan jelas, tegas, tapi sopan. Misalnya : SURAT KEBERATAN ATAS ARTIKEL...Setelah semua komplit, tinggal saya kirim.

Tidak butuh waktu lama, saya lupa, tapi tidak sampai dua hari, saya mendapatkan balasan dari Pemred-nya. Beliau meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Dan selanjutnya, editor akan menindaklanjutinya. Saya menerima permintaan maaf dari Pemred-nya secara legawa. Tetapi saya agak heran dengan e-mail dari editornya, yang masih saja ngeles dengan menyatakan bahwa memang mereka biasa mengutip berbagai sumber untuk artikel di majalah itu.

Come on....apakah dengan mencantumkan "Dirangkum dari berbagai sumber" lalu Anda merasa bebas mengambil materi apapun, milik siapapun, tanpa izin dan tanpa mencantumnya nama pemiliknya? Kalau saya mau protes, dalam artikel yang memakai tulisan saya itu bahkan tidak ada sumber sama sekali, seolah redaksi mereka yang menuliskannya. Tapi ahh....sudahlah, saya tidak mau memperpanjang. 

Akhirnya saya tunggu sampai bulan berikutnya di mana edisi mereka terbit. Dan memang benar, akhirnya ada ralat di halaman / rubrik sama, dengan mencantumkan sumber tulisan. Saya tidak minta ganti rugi? Tidak. Bagi saya, langkah yang saya lakukan hanyalah ingin memberikan pelajaran ETIKA kepada mereka saja. Apalagi mereka adalah pekerja media, yang dalam asumsi saya pasti memiliki pendidikan dan pengetahuan bagus terkait persoalan hak atas kekayaan intelektual seseorang. Mereka ini pelaku di industri kreatif masak tidak tahu sih?

Selain itu, saya tahu persis, meminta maaf atas kesalahan, bagi perusahaan besar apalagi media, mungkin levelnya lebih berat daripada mengeluarkan duit yang "tidak seberapa" untuk menyelesaikan persoalan. Kenapa ? Karena saat meminta "maaf", itu harus dilakukan secara terbuka di medianya, di mana publik akan tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Lebih berat lagi bila itu terkait soal "menggunakan tulisan orang lain tanpa izin", wah berat itu...akan mengganggu kredibilitas mereka sebagai sebuah media besar. Itu persoalan integritas SDM mereka, dan akhirnya integritas perusahaan juga. Makanya saat mereka sudah meminta maaf, saya bisa menerima hal itu dengan legawa. Karena saya tahu, pasti berat bagi mereka.

Saya juga tidak mau lebih dalam menyulitkan editornya, karena dengan e-mail saya itupun, pasti dia sudah kena masalah dari boss-nya. Saya pikir, e-mail saya akan membukakan mata bagi semua orang yang terlibat dalam persoalan ini, maupun bagi orang lain saat saya berbagi tulisan ini, bahwa penting untuk menghargai hak atas kekayaan intelektual seseorang.

regards,

Ariy

Saturday, February 1, 2014

Lub Sbuy Guesthouse ( Hotel Nyaman di Phuket, Thailand) - Review

Dear Journer,

Kali ini saya mau mengupas tentang Lub Sbuy Guesthouse. Dalam sejarah saya berpindah dari satu penginapan ke penginapan lain, Lub Sbuy Guesthouse, Phuket, Thailand paling the best-lah. 
Oke kita mulai ya...saya mendapatkan guesthouse ini dari hasil searching. Pilihan saya pada penginapan ini awalnya karena terpesona dengan gambar-gambarnya, di situs mereka www.lubsbuy.com yang cantik. Lalu saya mencoba cek di agen booking hostel online, dan melihat harga-harga yang mereka tawarkan reasonable. Memang sih, kalau soal harga, kamar-kamar di Phuket relatif sedikit lebih mahal dibanding Bangkok. Dan soal ini pun sebenarnya saya sudah diingatkan oleh teman saya yang asli Thailand. Tetapi semahal-mahalnya, masih murahlah.

                                                               foto: www.lubsbuy.com
Alasan lain kenapa saya mengambil guesthouse ini karena lokasinya dekat sekali dengan Phuket Bus Terminal (terminal ada di belakangnya doang, nggak tahu sekarang udah pindah belum terminalnya).

Dua kali ke Phuket, saya memang selalu memilih stay di Phuket Town, yang kalau udah habis maghrib cukup sepi. Saya menghindari kawasan dekat pantai macam Patong, karena saya memang tidak suka areal yang bising dengan banyak club atau hiburan dunia malam lainnya, tetapi kalau cuma jalan-jalan sekitar itu sih oke.

Nah, Lubsbuy ini berada di kawasan yang menurut saya tenang banget. Saking tenangnya, mungkin orang lain akan menganggap sepi. Tapi saya puas soal lokasi, karena memang saya bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman. 

Jadi untuk menuju ke guesthouse ini, saya menggunakan bus dari Surat Thani, karena saya memang melakukan perjalanan darat dengan kereta api dari Bangkok ke Surat Thani. Dari Surat Thani, saya naik bus menuju ke Phuket. Bus akan menurunkan kita langsung di Phuket Bus Terminal. Sebagai informasi, di Phuket Bus Terminal juga ada airport bus langsung. Jadi kalaupun datang menggunakan pesawat, langsung bisa naik bus khusus bandara ke terminal ini. Nah, keluar dari areal terminal, kita langsung akan menemukan Phang-Nga Road. Di sini dengan mudah kita akan langsung melihat Lub Sbuy Guesthouse. Apalagi tampilannya juga keren, dengan interior yang mencuri perhatian dibanding bangunan lain di sekitar. Yang lebih penting, gambar cantik di situsnya tidak berbeda dengan aslinya. Catet.
Japan Room                                             Foto: www.Lubsbuy.com




                                                       foto: www.lubsbuy.com

                                                      foto: www.lubsbuy.com

Ada beberapa jenis kamar yang ditawarkan, termasuk kamar dorm. Mereka juga menyediakan private room baik twin maupun double beds. Selain itu ada juga Japan Room, semacam familiy room dengan bed model lesehan. Yang saya suka, kamarnya super bersih, semua fasilitas berfungsi sempurna, ada lemari gede di dorm. Saya curiga, jangan-jangan ini guesthouse baru jadi saking bersihnya. 

Saya mengambil kamar mixed dorm, dengan satu kamar berisi tiga tempat tidur tingkat. Berada di lantai 4, dengan balkon menghadap Phuket Town. Harga yang harus saya bayar waktu itu per malamnya 250 Baht (kurs saat itu Rp 70.000). Bagi saya, harga segitu sangat sepadan dengan apa yang saya dapat. Meskipun saya mengambil kamar mixed dorm, tetapi saya seperti mendapatkan kamar private, karena saat itu hanya saya yang menempati kamar itu. Walau tanpa AC, tapi nggak gerah kok, ada kipas angin, dan yang paling saya suka ya soal bersihnya itu. Super clean !! Lihat ini kamar saya:

                                                                                 foto: www.lubsbuy.com

Hal penting lainnya, soal kamar mandi. Nah di sini, kamar mandi bersamanya banyak, ada sekitar lima dengan shower yang kenceng, air hangat, serta komplet dengan sabun dan samponya. Semuanya dalam kondisi bersih...bersih...bersih. Keren dah pokoknya.Stafnya juga helpful dan ramah. Oya, fasilitas lainnya, di sono ada internet, tapi berbayar meskipun nggak mahal. Nggak ada billing-nya, kita tinggal make aja, lalu nanti ngomong sama resepsionisnya tadi main sekitar berapa menit atau jam.

Jadi kalau ada rencana ke Phuket, terus maunya nginep di Phuket Town, pilih aja guesthouse ini. Nyaman buat keluarga dengan kantong agak longgar, atau traveler dengan kantong cekak. Dan ingat ya, saya bukan buzzer atau dibayar mereka buat promosi hehehehe. Selamat mencoba yak :)

Cheers,

Ariy

Wednesday, January 29, 2014

Serunya Jalan ke Amphawa Floating Market (Thailand)

Dear Journer,

Jalan-jalan kita kali ini ke Amphawa Floating Market. Bersama dengan sepuluh teman lain dari berbagai negara, saya menikmati keseruan sisi lain Thailand di Amphawa Floating Market. Oya, kebetulan teman-teman baru saya ini adalah anak-anak Couchsurfing dari berbagai negara. Kami nggak kenal satu sama lain, hanya waktu di Bangkok saya iseng buka postingan di group Bangkok, ada anak yang ngajak jalan bareng ke Amphawa Floating Market. Lalu akhirnya terkumpullah sebelas orang, mulai dari Amrik, Guatemala, Thailand, Taiwan, Spanyol, Belgia, Italia, Fillipina, dan saya perwakilan dari Indonesia :).
Meeting point-nya di seberang Hotel Asia, Bangkok. Amphawa menjadi pilihan kami karena kami pikir Amphawa tidak akan seramai Damnoen Saduak Floating Market yang memang lebih dulu terkenal (dan asumsi kami keliru).  Kami pikir juga, Amphawa lebih terjaga keasliannya, serta tak kalah menarik dibanding Damnoen Saduak.

Kami naik bus kota menuju Southern Bus Terminal dengan tarif 18 Bath, waktu itu sekitar Rp 5.000,-. Tiba di Southern Bus Terminal, kami menunggu beberapa saat sebelum masuk bus ke Amphawa dengan tiket 70 Baht (Rp 19.600). Ini adalah bus AC, meskipun kondisinya tidak mewah dengan AC tua. Tetapi lumayanlah, mengingat tiketnya juga tidak mahal. 

Amphawa Floating Market berada di Provinsi Samut Songkhram, sekitar satu hingga satu setengah jam perjalanan dari Bangkok. Sama dengan Damonoen Saduak, ini adalah floating market dengan banyak penjual makanan, warung apung, penjual buah, hingga penjual souvenir. Banyak atraksi menarik, selain kita juga bisa berkeliling ke spot-spot menarik di sepanjang tepi sungai dengan perahu sewaan.

Pasar ini istimewa karena ini adalah pasar yang telah ada sejak 50 tahun yang lalu, dan pernah menjadi salah satu pasar komersial utama di sepanjang Sungai Mae Klong. Amphawa adalah salah satu kabupaten yang kaya dan makmur daerahnya. Tempat ini adalah tempat kelahiran Raja Rama II.





Berbeda dengan Damnoen Saduak, pasar apung ini hanya buka tiga hari, yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Bila pagi masih relatif sepi dan geliat warga baru akan terasa setelah pukul 12.00. Jalan-jalan ke Amphawa akan makan waktu sehari penuh. Menarik sekali mengamati bagaimana penduduk setempat, dari laki-laki muda hingga perempuan tua, berdayung sampan sendirian dengan beberapa barang dagangannya. Banyak di antaranya yang terlihat memasak di atas perahunya. Memang inilah yang menjadi atraksi utama. Jadi di kedua sisi Sungai Mae Klong ini terdapat toko-toko souvenir hingga rumah makan. Beberapa kursi kayu ditata, di sinilah kita bisa duduk untuk makan. Kita order makanan kepada penjual yang ada di atas perahu. Lalu dengan tangkas mereka bergerak memasak, sedang di sisi lain selalu menjaga keseimbangan agar posisi perahu mereka stabil.

Lampu blitz berkilat dari berbagai sudut memotret aksi mereka. Seafood menjadi andalan para pedagang makanan ini. Sementara Thai Food macam pad thai dan  salad papaya  juga tersedia. Saya memesan nasi goreng udag seharga 25 Baht (Rp 7.000). Rasanya? Ya begitulah :).

Puas makan, kami jalan berkeliling ke sisi sungai satu menuju sisi lain yang dihubungkan dengan jembatan batu. Menarik melihat apa yang mereka jual. Dari jus aneka rasa buah seharga 10 Baht (Rp 2.800), hingga mainan anak-anak kuno dari kaleng. Dari aneka snack khas Thailand, hingga poster iklan jadul. Oh iya, jangan lupa membeli kaus-kaus bertuliskan Amphawa berbagai model. Saya beli satu kaos seharga 99 Baht (Rp 27.720). Di Amphawa kita juga bisa berkeliling dengan menggunakan perahu sewaan. 

Saat senja tiba, kami bersiap kembali ke Bangkok. Tetapi saya heran, justru semakin gelap, pengunjung semakin banyak. Usut punya usut, ternyata Amphawa memang sangat ramai kalau malam. Rahasianya? bila malam tiba, kunang-kunang berterbangan di sekitar sungai, menjadi pemandangan yang menarik perhatian para wisatawan. So, journer...kalau kamu ke Thailand dan pengen sesuatu yang beda, berkunjunglah ke Amphawa Floating Market. Murah meriah dan seru :)

Cheers,

Ariy

Monday, January 27, 2014

Berburu Batik Madura

Dear Journer, 

Berbicara tentang batik di Indonesia memang tidak ada habisnya. Bahkan bila benar-benar diteliti, setiap daerah di Indonesia nyaris memiliki batik lokalan, yang tak kalah dengan batik-batik terkenal dari Solo, Yogya, Pekalongan, maupun Cirebon. Sejak tren batik masuk ke kalangan generasi muda, dengan berbagai modifikasinya, termasuk kewajiban menggunakannya di institusi pendidikan, instansi pemerintahan maupun kantor swasta, orang mulai berburu aneka batik yang kira-kira bisa mewakili selera mereka maupun karakter mereka saat dipakai sebagai baju.

Nah, kali ini saya akan ajak Anda untuk berburu Batik Madura. Batik Madura terdapat secara merata baik di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, maupun Sumenep. Tetapi kali ini akan saya ajak Anda untuk menuju ke Pamekasan karena di sini relatif lebih bergairah industri batiknya. Pamekasan juga sudah berani mem-branding-kan dirinya sebagai Kota Batik. Memang belum bisa dibandingkan dengan "kemeriahan" industri batik di Solo atau Yogya misalnya. Tetapi saya pikir, mereka sudah mulai memiliki arah yang sama dengan dua kota ini, untuk memperkenalkan batik asli Madura. 





Bagi saya, Batik Madura lebih menarik daripada batik lain. Mungkin karena saya mewakili selera muda, dan Batik Madura tampil dengan berani main warna. Berbeda dengan batik asli Solo dan Yogya yang lebih suka main warna tanah dan kalem. Batik Madura tak takut bermain di warna kuning terang, biru, merah genjreng, sampai hijau mencolok. Ciri lainnya, motif dasarnya detail dan rapat, ditingkahi dengan motif lain yang besar misalnya motif bunga atau dedaunan. Saya suka dengan motif serat kayu dengan ornamen motif bunga-bunga yang besar di atasnya. Ada juga motif Sekar Jagad, Fajar Menyingsing, dan sebagainya.


Lalu di mana kita bisa mendapatkan batik-batik Madura dengan harga grosir?
  • Pasar 17 Agustus: ini adalah pusat grosir batik di Pamekasan. Batik di Pamekasan ada yang mulai dibuka dengan harga Rp 25.000 per lembar batik dengan panjang sekitar 2 meter, ratusan ribu, hingga jutaan. Semua tergantung dari jenis bahan kainnya serta apakah batik tulis atau batik cap. Batik tulis yang Rp 25.000 pun ada lho. 
  • Di luar Pasar 17 Agustus: Anda bisa menemukan beberapa show room di beberapa sudut jalan utama Pamekasan. Misalnya Batik Tulis Madura An-Nur yang berada di jalur utama Sampang ke Pamekasan. Menurut pemiliknya, memang dari sisi bisnis, batik Madura masih butuh promosi lebih. Jauh kalah dibanding kota lain di Jawa. Tetapi mereka optimistis akan kelangsungan industri Batik Madura. Oya, kalau mau berkunjung ke  show room An-Nur silakan meluncur ke Jl Raya Panglegur No 49, Pamekasan. Telponnya (semoga masih aktif) : 081803006794.
Oke, selamat berburu Batik Madura yak :)

Cheers,

Ariy

Sunday, January 26, 2014

Icip-icip Gudeg Pawon Yogya

Dear Journer,

Kalau nyebut Yogya (atau Jogja terserah) pasti keingetnya Gudeg, masakan berbahan utama buah nangka muda ini. Di kota ini emang banyak versi gudeg dan tentu saja kalau nanya orang Jogja akan mendapatkan jawaban tergantung selera. Seringnya saya ke Jogja membuat saya tertarik untuk mencoba beberapa "versi" gudeg. Salah satu yang sering disebut teman saya yang asli Jogja adalah Gudeg Pawon. Nah, kali ini saya akan ajak Anda mencicipi Gudeg Pawon.

Dianter Bayu (thanks Bay !) udah mau jam 12 malam saya menuju ke Jl Janturan No 36-38, di daerah Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Jangan tanya arah ke saya ya, karena saya nggak ngerti sama sekali dan pasrah sama Bayu :). 

Lokasinya agak masuk ke jalan (gak gede tapi bukan gang), lalu masuk ke gang dikit, di sebuah rumah. Konon kalau sudah sampai Janturan, kita nanya orang aja juga udah bakal tau di mana Gudeg Pawon berada. 

Nah, begitu sampai di depan sebuah rumah, kita langsung masuk ke dalam...lho kok saya langsung masuk ke dapur. Ternyata inilah keistimewaannya, jadi kita akan makan di dapur pemiliknya. Ada meja (gak banyak sih) yang bisa dipakai buat makan tepat di sebelah yang masak. Inilah kenapa kemudian gudeg ini terkenal sebagai Gudeg Pawon (=dapur). Waktu itu bukanya larut banget, jam 23.30 WIB. 

Saat saya sampai di sana udah penuh orang. Setelah memesan, baru ketahuan kalau daging ayamnya udah habis. Yaelah...baru buka saja sudah habis.Waktu itu saya dan Bayu hanya kebagian gudeg dengan jerohan ayam atau dengan telur. Akhirnya dua itu yang kami pesan.

Gudeg Pawon jenisnya bukan gudeg kering, ada kuahnya meski nggak banyak. Bicara enak atau tidak tentu sangat selera ya. Secara rasa, saya suka Gudeg Pawon ini, yang tidak terlalu manis. Tetapi secara umum, saya suka gudeg yang kering tanpa kuah. 







Sayangnya, gudeg yang kering biasanya terlalu manis buat lidah saya. Lalu bagaimana dengan harga? Kalau soal harga, menurut saya sih standar deh, nggak mahal banget, tapi juga nggak murah. Dengan uang Rp 20.000 cukuplah buat memesan nasi gudeng dengan lauknya (telur atau ayam). 

Nah, kalau Anda pecinta gudeg, setidaknya Anda harus memasukkan Gudeg Pawon dalam list Anda. Kalau pun bukan selera Anda, setidaknya kehadirannya membawa warna baru dalam kancah pergudegan di Jogja *aseeem...ane ngemeng apaan sih ini hihihi*

Selamat mencicipi yak :)

Ariy

Nikmatnya Selat (Kuliner Kota Solo)


Dear Journer,

Malam saya posting ini, lagi dingin-dinginnya. Dingin yang membuat perut saya tiba-tiba lapeerr...lalu keingetlah sama makanan yang satu ini. Yuks mari kita makan-makan.
Oke, kali ini kita akan menikmati Selat Solo. Udah pernah denger? atau malah udah pernah mencicipi? Kalau belum, yuk mari kita kupas tuntas....

Selat Solo konon adalah makanan hasil modifikasi lidah bule yang disesuaikan dengan lidah orang Jawa. Makanan ini terkesan mewah (dan emang jaman saya kecil dulu, Selat jadi salah satu makanan mewah karena harganya yang relatif mahal). Dari komposisi dulu, makanan ini bahannya adalah daun selada, acar mentimun, wortel, kacang buncis, tomat segar, kentang (baik rebus maupun goreng dipakai semua), daging sapi (atau kadang diganti galantin-yaitu daging cincang yang dicampur bahan roti). Kuahnya cokelat seperti semur, serta ditambah telur pindang dan mayones.

Rasa gurih manisnya didapat dari kuah kaldu yang pekat itu. Kemudian bercampur dengan rasa segar dari acar mentimun dan sayuran segarnya. Maka tak heran kalau banyak juga yang menyebut ini sebagai Selat Segar. Karbohidrat yang bikin kenyang bisa kita dapatkan dari kentang rebus yang dipotong dadu dan kenyang goreng yang diiris tipis-tipis memberikan efek crunchy. Tapi tidak semua versi ada kentang gorengnya sih (kayak digambar itu nggak ada). 

minumnya es gula asem :)
Kalau cerita Ibu saya, dulu Selat hanya dikonsumsi orang kaya atau setidaknya pas ada hajatan sebagai pengganti nasi. Priyayi-priyayi Jawa mengadopsi ini dari masakah Belanda saat pengaruh kolonial masuk ke Indonesia di masa penjajahan. Lalu dengan sedikit penyesuaian dimodifikasi dan disesuaikan lidah Jawa.

Di manakah kita bisa mendapatkan Selat di Solo? :

a. Selat Bambang: langganan saya sejak dulu. Berada di utara Taman Sriwedari. Barat Pengadilan Negeri Surakarta ada jalan, samping jalan ada gang, masuk aja. Ada tulisannya Selat Bambang (belakang Resto Obonk persis).

b. Selat Vien: ini termasuk pendatang baru yang cukup laris. Sebenarnya nggak baru-baru amat sih. Dulu sebelum terkenal, saya sering makan di sini, sebuah kios kecil dan sempit di Jl Hasanuddin. Lalu tiba-tiba sekarang menjadi besar dan menyewa lokasi bagus di sebelah barat kios lama, tepatnya di Jl Hasanuddin no 115. Cukup dekat dari Stasiun Balapan (ke arah barat, naik becak paling Rp 5000).

c. Selat di RM Kusuma Sari: ini rumah makan yang tergolong legend di Solo. Lokasinya di Jl Yos Sudarso, berada di sekitar perempatan Nonongan. Ada dua dan berdekatan.

d. Selat Mbak Lies : baru juga enggak, tapi lawas banget juga nggak. Berada di Jl Yudistira No 2, Serengan. Dekat rumah saya hihihi. Masuk gang, dan memang kalau bagi pendatang agak susah sih menemukannya. 

e. Selat RM Es Masuk: dulu berada di Jl Yos Sudarso, tetapi sekarang pindah di Kampung Gajahan (barat Alun-alun Kidul)

Nah, yang khusus menjual Selat semacam Selat Bambang, Vien, Mbak Lies, biasanya juga punya spesialisasi lain yaitu jual gado-gado. Kadang ada juga menu yang khas yaitu sup matahari, etc. Minumannya paling segar adalah es gula asem atau es beras kencur....wuiih....slrrppp. Harganya sih nggak mahal kok sekarang ini, more less  Rp 10.000, naik turunlah :). Udah ngiler? Mongggo mampir ke Solo :)

Cheers,

Ariy

Saturday, January 25, 2014

Melacak Jejak Hanzel & Gretel di Museum Batik Danar Hadi Solo

Dear Journer, 

Mungkin dari kalian pernah dengar cerita tentang Hanzel and Gretel? Dongeng asal Jerman ini sudah mendunia, selain buku, juga sudah divisualisasikan dalam film layar lebar. Terbit tahun 1812, Dongeng ini memikat hati anak-anak dunia karena kisah sedih dua saudara yang berakhir bahagia. 

Sedikit flashback, ini adalah kisah kakak adik yang ditinggal mati ibunya, lalu harus tinggal dengan ayahnya yang seorang tukang kayu serta ibu tirinya yang jahat. Saat kemarau panjang menerpa, kehidupan semakin berat. Untuk makan saja susah. Si ibu tiri berinisiatif membuang Hanzel and Gretel ke dalam hutan. Percobaan "membuang" anak ini baru berhasil pada aksi kedua. Cerita kemudian fokus pada petualangan dua anak itu di dalam hutan, hingga bertemu penyihir kanibal. Kisah berakhir bahagia, saat kedua anak itu berhasil melarikan diri dari penyihir kanibal, mendapatkan harta karun, yang kemudian dituntun oleh roh ibu kandung yang menyaru menjadi angsa untuk kembali ke rumah bertemu ayah tercinta.

Berkembang di Eropa, cerita ini tentu juga menyatu dalam kehidupan masyarakat Belanda yang sempat menjajah Indonesia. Lalu Belanda masuk ke Indonesia, tinggal bersama pribumi, bahkan banyak di antaranya belajar membatik. Dari sinilah kemudian cerita Hanzel and Gretel tertuang di dalam kain-kain batik. Saya menemukan kain-kain batik ini di Museum Batik Danar Hadi, Solo, masuk dalam koleksi batik periode 1840-1910, yang pembuatnya merupakan perempuan-perempuan Indo-Belanda. Warna-warna batiknya pun lebih cerah dengan berbagai variasi warna, mulai cokelat, biru, merah dan warna-warna lainnya. Motifnya mulai dari motif buketan (kembang-kembang), hingga motif tematik, termasuk cerita Hanzel & Gretel tadi. Kita bisa mengikuti alur cerita berdasarkan gambar yang tertuang dalam kain. Selain Hansel & Gretel, kita juga bisa menemukan batik dengan motif Snow White Sleeping Beauty, hingga cerita dari negeri China.


Bagi saya, Museum Batik Danar Hadi tidak membosankan. Berdiri indah di sebuah kompleks bangunan bergaya Jawa Kolonial berhalaman luas yaitu Dalem Wuryaningratan, museum ini dimiliki oleh pengusaha batik yaitu Santosa Doellah. Dialah pemilik brand batik Danar Hadi yang banyak memiliki cabang di kota-kota besar di Indonesia. Di museum ini kita juga bisa menemukan batik-batik dari Keraton Kasunanan Surakarta, Mangunegaran, Kasultanan Yogyakarta, Paku Alaman, dengan berbagai motif. Mulai batik mahal untuk kalangan raja-priyayi, hingga batik untuk abdi dalem. Mulai motif batik untuk melamar, pernikahan, hingga pemakaman. Termasuk di dalamnya terdapat koleksi batik yang terpengaruh budaya India dan China. Dari lokal, kita bisa menikmati batik Pekalongan, Madura, Lasem, Banyumas, Ciamis, Cirebon, Garut, Tulungagung, Kudus, selain tentu saja batik Surakarta dan Yogyakarta. 

Selain terdapat show room di bagian depan, Anda juga bisa melihat langsung proses produksi batik tulis di bagian belakang museum. Kita bisa melihat proses pembuatan batik, mulai harga Rp 300.000 hingga jutaaan. Kalau kemahalan, kita bisa beli souvenir berbahan batik, misalnya gantungan kunci, dengan hanya Rp 10.000-an saja. 

Menikmati Museum Batik Danar Hadi seakan waktu berjalan cepat. Karena dari setiap lembar kain ini seperti memiliki cerita unik untuk dikulik. Jangan khawatir, ada guide yang akan menjelaskan semua tentang koleksi-koleksi di sini. Harga tiket masuknya kalau dulu sih masih Rp 25.000, cek lagi mungkin sudah naik ya. Pokoknya, kalau ke Solo, rugi deh kalau nggak datang ke sini. Memang tiketnya bagi kalangan budget traveler rada mahal ya...tapi bagi saya sendiri, sangat worth it dengan pengetahuan yang saya dapatkan dari berkunjung ke sana.



Transportasi:
Dari Stasiun Purwosari silakan naik BST (busway) dari halte depan stasiun, lalu turun di halte Hotel Novotel (Ngapeman) persis di depan museum. Dari Stasiun Balapan naik becak aja, sekitar Rp 10.000-an ke Museum. 
PS: di bagian koleksi museum, dilarang memfoto. Jadi kamera hanya berguna saat di showroom dan rumah produksi batik di bagian belakang.
Selamat jalan-jalan :)

Ariy


Monday, January 13, 2014

Nonton Oyot Godhong Cabaret Show di Jogja

Dear Journer,

Kali ini saya akan ajak Anda untuk me-review pertunjukan cabaret di Mirota Batik, Malioboro, Jogja. Emang ada? Lho? belum tahu? Baiklah. Mungkin di antara Anda ada yang belum tahu kalau di Jogja ada pertunjukan cabaret. Macam di Thailand begitulah. Pertunjukan yang dilakukan di tengah musik keras, lampu warna-warni, spot light, di tengah atmosfir remang-remang, yang disajikan oleh mayoritas pemain laki-laki (karena saya curiga ada ceweknya satu), termasuk yang berperan menjadi perempuannya pun laki-laki. 

Gara-gara nonton ini, saya pun penasaran pengen mengulik sejarah cabaret itu sebenarnya seperti apa sih? Biar Anda tidak perlu membuka wikipedia, maka saya rangkumkan saja ya :). Jadi sebenarnya, cabaret adalah pertunjukan yang menyajikan musik, komedi, tari, drama dan aspek lainnya. Kata cabaret konon mulai muncul dan dipakai 1655, sementara tahun 1912 kata ini muncul sebagai representasi dari restaurant atau night club. Jadi memang penyajian cabaret biasanya dilakukan di sebuah panggung khusus di restaurant, pub, atau night club. Pengunjungnya menikmati pertunjukan dengan duduk sambil makan, minum dan bergaul. Sementara soal content cabaret sendiri berbeda-beda. Dalam rentang sejarah eksistensinya, cabaret muncul dengan beraneka muatan di berbagai negara. Misalnya di Belanda, Jerman, mereka memasukkan content political satire, kemudian di Amerika Serikat memasukkan juga format stand-up comedy, sedangkan di Perancis yang memiliki sejarah cabaret tertua biasanya melakukan penampilan dengan jumlah penari yang besar (jadi inget film-film India). Intinya semacam itu ya. Dan kebanyakan pertunjukan cabaret semacam ini juga memiliki plot cerita yang jelas. Contoh paling gampang adalah The Moulin Rouge. 

Tiket masuk model sticker
Bagaimana dengan cabaret di Jogja? Secara gampangnya saya menyebutnya sebagai pertunjukan nyanyi lip-sync aja sih, nggak ada plotnya juga. Sebelum ke content, saya mau cerita dulu lokasinya. Jadi cabaret show di Mirota Batik ini digelar di lantai 3 Mirota Batik, Malioboro, Jogja (seberang Pasar Beringharjo). Di lantai atas itu terdapat semacam restaurant yang bernama Oyot Godhong. Pertunjukan digelar setiap pukul 19.00 WIB, hari Jumat dan Sabtu, dengan durasi sekitar 1,5 jam. Harga tiket, untuk VIP Rp 30.000, sementara yang biasa Rp 20.000, termasuk ada juga tiket berdiri (karena tempatnya tidak begitu luas). Sementara soal makanan dan minuman, harganya berkisar antara Rp 15.000 - Rp 30.000. Tapi percaya deh, tidak akan nyaman buat order makan sambil menikmati pertunjukan cabaret-nya. Meski di VIP sekalipun? Iya. Jangan berpikir VIP itu adalah lokasi steril bagi orang selain Anda, karena bukan tidak mungkin akan ada beberapa penonton yang nimbrung di tempat duduk Anda. Ini mereka yang nggak dapat tempat, atau kalaupun dapat tempat, posisinya kurang enak buat nonton :).

Sekarang soal pertunjukannya. Seperti sempat saya singgung tadi, ini hanya semacam pertunjukan lip-sync.  Tokoh yang tampil hanya mensinkronkan antara bibir dengan lagu yang diputer, kemudian menari dengan gerakan erotis (tidak sepanjang pertunjukan, tapi mayoritas erotis). Ada juga pertunjukan tari Jawa nan lembut dan mendayu-dayu yang menjadi pembuka show, lalu di-twist dengan sebuah pertunjukan tunggal seorang penyanyi (atau dancer ?) dengan pakaian seronok (meski pakai stocking). Penyanyi cewek yang aslinya cowok ini muncul dengan tarian erotisnya. Memberikan perbedaan mencolok dari pertunjukan pembuka yang memang bikin ngantuk. Penonton pun bersorak, ngakak, tepuk tangan.

         Agnes Monica KW-dua                                          Foto: Yus Mei Sawitri

Secara bergantian mereka meniru penyanyi-penyanyi terkenal dengan gaya khasnya. Antara lain Agnes Monica, Anggun, Beyonce, sampai Trio Macan. Goyang oplosan yang lagi happening pun tak luput dari sajian mereka. Heboh, karena di sela nyanyi dan goyangan, mereka menyelipkan gerakan-gerakan erotis nan saru (meski sekali lagi mereka pakai stocking, iya warna kulit hihihi). 

Anggun KW-Super                       foto: Yus Mei Sawitri
 
Dance cowok-cowok super kemayu                      Foto: Yus Mei Sawitri
Setelah beberapa penampilan, agak mulai membosankan sih. Sampai kemudian mereka bikin gimmick-gimmick semacam masuk ke lokasi tempat duduk penonton, duduk di meja penonton, pethakilan memanjat balkon di tempat duduk penonton, yang disambut jejeritan para penonton. Lagu-lagu yang ditampilkan adalah lagu-lagu top 40, lagu dangdhut, sampai lagu melayu. Pertunjukan ditutup dengan penampilan semua pelakon.

Closing Performance                                                Foto: Yus Mei Sawitri
Jadi apa yang menarik dari cabaret show ini bagi saya? Well, bagi saya sekadar buat ber-haha-hihi sih oke ya. Lucu melihat tingkah para penampil malam itu yang hampir semuanya cowok kemayu-kemayu, yang beberapa di antaranya bahkan berotot. Selebihnya? saya hanya ingin mematikan rasa penasaran karena beberapa kali temen cerita tentang pertunjukan ini. Saya hanya tahu model begini di Thailand yang meniru cabaret asli di Perancis dengan konsep penampilan penari secara massal. Selebihnya, yang sama hanyalah para drag queen yang tampil. Secara konsep, pertujunjukan ini sederhana banget. Ya seperti yang sudah saya sebut tadi, hanya melihat orang lip-sync dan nari. Itu saja.

Tiket menurut saya juga relatif nggak mahal kok. Saya tahu mereka mempersiapkan penampilan dengan cukup matang, dengan lampu-lampu itu, kostum, efek-efek panggung, dan lain sebagainya. Dan itu bukanlah hal yang murah. Jadi soal tiket, saya tidak persoalkan. Tapi kalau untuk nonton lagi, sepertinya nggak deh. Hanya sekadar pernah nonton saja bolehlah. 

Point yang menurut saya menjadi menarik dari seluruh proyek milik Hamzah Hendro Sutikno yang merupakan pemilik Mirota Batik (correct me if I'm wrong), adalah pemberdayaan orang-orang muda. Saya agak kesulitan untuk memilih diksi pengganti "orang-orang muda" ini dengan misalnya "kaum gay" atau "para transgender" karena saya tidak tahu pasti apakah dalam kesehariannya mereka adalah gay dan transgender atau...mereka menjadi drag queen hanya saat berada di panggung. Tapi saya yakin mereka mencari uang dari pertunjukan ini. Di luar pertunjukan, dalam kesehariannya mereka memiliki status beragam. Ada yang bekerja biasa, ada juga yang mahasiswa (hasil nimbrung temen yang wawancara salah seorang penampil).

Jadi saran saya apa dong? Kalau ada kesempatan ke Jogja, tontonlah. Siapa tau memang Anda menyukai pertunjukan model cabaret ini. Kalau memang bukan selera Anda, setidaknya menambah wawasan Anda sebagai pejalan :).

Cheers,

Ariy

PS: Thanks to Yus Mei atas fotonya, dan Halim San udah dipinjem lengannya jadi model tiket :)

Friday, January 10, 2014

Travel Light (Tips Traveling Fun Minim Bawaan)

Dear Journer,

Barusan ada yang nanya di group FB : Backpacker Joglo Semar yang saya kelola. Inti pertanyaan adalah, kalau traveling dalam jangka waktu lama dan jauh, apa saja yang perlu dibawa, tentu biar enak travelingnya.

Ada istilah "Travel Light". Terjemahan bebasnya adalah to bring very few things with you when you go on a trip. Konsep ini yang perlu dipahami dulu, dan diputuskan apakah mau dijalankan atau tidak. Saya pribadi selalu mencoba seminim mungkin membawa barang-barang pas mau traveling. Keuntungannya, kalau ringan enak jalannya. Selain itu bisa menghemat tidak perlu bayar bagasi. 

Contoh foto di samping, saya ke China selama 18 hari hanya membawa tas segede itu. Dan saya tidak membutuhkan beli bagasi di pesawat, karena tas itu bisa masuk ke kabin. Kok bisa? Iya bisa. Karena memang saya meminimalkan apa-apa yang harus saya bawa. Padahal lagi, di sana lagi musim dingin lho, pasti kan butuh baju-baju tebal.

Nah di foto itu, saya menghemat ruang di tas dengan memakai kaos, sweater, dirangkap jaket. Jadi yang melekat di badan saya ada 5 lembar pakaian: satu celana dalem :), jeans, kaos, sweater dan jaket. Terus apa saja yang saya bawa sih?

Secara umum, biasanya kalau perjalanan lebih dari 10 hari, saya membawa beberapa barang ini:

1. Celana dalam lima. Kebanyakan enggak, terlalu sedikit juga enggak. Saya bukan tipikal orang yang pakai celana dalam set A-set B alias bolak-balik bhuahaha. Ngebayangin aja udah pengen garuk-garuk selangkangan karena gatal LOl. Jadi lima itu menurut saya cukup. Sekali ada kesempatan untuk nyuci di laundry, akan saya manfaatkan. Di lain waktu, kadang nggak nemu laundry atau memang nggak ada waktu nyuci, biasanya saya beli. Tetapi sebenarnya sudah ada solusinya sih, pakai aja disposable underwear. Di supermarket banyak kok, sekitar Rp 20.000 dapet beberapa gitu. Cuma saya belum pernah nyoba sih. Meskipun ngebayanginnya geli, tapi saya pikir itu solusi bagus, karena sekali pakai langsung buang. Jadi backpack tidak penuh celana dalam kotor.

2. Kaos lima biji. Biasanya saya bawa kaos lima, tergantung cuaca ya. Kalau lokasi traveling kita panas, saya biasa bawa kaos-kaos yang tipis dan katun yang menyerap keringat. Nggak usah banyak-banyak, asal cukup untuk ganti selama perjalanan. Biasanya juga, kalau traveling saya juga beli kaos khas...macam kaos "I Luv..." itu.

3. Celana pendek sebiji. Biasanya cuma buat di hotel atau penginapan doang. Pas mau tidur.

4. Celana panjang. Saya lebih sering jalan dengan celana jeans panjang daripada celana kargo yang tiga perempat. Cari aman saja, karena beberapa kali sempet salah kostum, pake celana kargo tiga perempat, eh ternyata nggak boleh masuk di lokasi tertentu.

5. Kemeja sebiji. Saya bawa kemeja juga lho. Sebiji doang sih. Ini sangat menolong saat di perjalanan ternyata kita harus masuk di sebuah acara yang formal.

6. Sandal jepit. Tidak pernah ketinggalan. Lihat saja foto di atas. Sudah jauh-jauh ke China, tetep aja pakai sendal jepit andalan.

7. Jaket. Tergantung cuaca ya. Kalau musim dingin bisa lebih dari satu. Tetapi kalau kondisi cuaca tropis normal saya pakai light jacket cuma untuk menahan angin malam saja. Biar nggak masuk angin di jalan.

8. Sepatu. Ini biasanya selang-seling penggunaanya dengan sendal. Jadi memang tidak terlalu memakan tempat di backpack.

9. Handuk kecil. Tidak semua hotel/penginapan menyediakan handuk. Apalagi hotel murah.


10. Perlengkapan pribadi/mandi.

11. Obat-obatan.

12. Dokumen pribadi.

Kalau dilihat, emang item-nya banyak ya, sampai 12. Tetapi kalau sudah di-packing akan sangat ringan. Bagaimana cara packing-nya? Soal pakaian dulu, saya biasanya setrika semua pakaian, biar kainnya kempes, alus, bisa dilipat ke dalam lipatan yang lebih kecil. Habis disetrika, celana dalam digulung aja. Celana dalam memang tidak terlalu memakan tempat. Berikutnya kaos juga digulung sampai kecil, rapi, setiap ujungnya dikareti dengan karet gelang biar gulungan tidak lepas. Hal sama juga bisa diterapkan untuk kemeja, celana pendek, dan baju lain. Ruang untuk baju di dalam backpack sudah jauh berkurang karena sepatu (sandal) kita pakai, jeans juga, demikian juga jaket.

Lalu untuk yang lain, kita bisa masukkan ke dalam beberapa folder bag. Apakah folder bag itu? ini
                               foto:www.jmdpacific.com
adalah tas kecil-kecil, semacam dompet sih, kayak gambar di samping ini. Beli aja di toko buku macam Gramedia atau Toga Mas. Harganya, yang murah antara Rp 5.000 - Rp 15.000. Nah, pilih beberapa warna berbeda untuk menyimpan: perlengkapan mandi, obat-obatan, yang terakhir dokumen pribadi (paspor/itinerary/copy id/dll).

Penggunaan folder bag ini selain membuat ringkas, rapi, juga memudahkan kita untuk mencarinya saat dibutuhkan. "Oh saya butuh obat-obatan, itu ada di bag merah" misalnya.

Nah, sesederhana itulah bawaan saya bila bepergian jauh dan lama. Barang-barang kebutuhan lain bisa saya dapatkan di lokasi tujuan. Oya, untuk traveler cewek, mungkin akan ada beberapa tambahan sesuai dengan kebutuhan cewek ya. Misalnya tambahan folder bag untuk tempat kosmetik :)).

Intinya sih gini: semakin banyak barang bawaan Anda selama traveling, semakin berat pula beban yang harus Anda sandang di punggung. Inget, hidup itu sudah berat, jangan lagi ditambahi backpack yang berat pulak :)

Semoga berguna, cheers...

Ariy

Thursday, January 9, 2014

Segarnya Ice Cream Uncle Singapore

Dear Journer,

Saya baru sadar banyak sekali materi perjalanan saya yang belum terdokumentasikan di blog ini. Saat muncul pertanyaan-pertanyaan dari pembaca, baru saya ngeh...ahh iya! Seperti misalnya saya sudah ke Singapore berkali-kali, ada mungkin lima kali, tetapi minim sekali cerita perjalanan ke Singapore di blog ini. Kebanyakan sih karena saya malas mencatat hal-hal detail penunjang tulisan, selain juga harus bongkar-bongkar file foto. Tetapi mulai 2014 ini, saya akan mulai nyicil satu persatu apa yang mungkin bisa saya bagi buat Anda.

satu-satunya foto...dan blur !! :)
Untuk kesempatan awal, saya akan cerita tentang es krim yang terkenal se-Singapore huehehe. Bukan es krim lezat di kedai keren, tapi es krim dari gerobak dorong yang tersebar di beberapa sudut kota di Singapore. Namanya "Ice Cream Uncle". Entah kenapa disebut es krim sang paman :), saya pun enggak pernah nanya meski punya teman orang asli Singapore, atau juga nggak mau repot-repot googling.

Tiga lokasi tempat saya beli Ice Cream Uncle ini adalah di sisi Singapore River dekat Cavenagh Bridge, salah satu jembatan tertua di tengah kota Singapore. Lokasi kedua adalah di belakang Bugis Street. Sedangkan lokasi ketiga adalah di area Merlion. Mungkin ada juga lokasi lain, tetapi saya belum nemu. Harganya standar, yaitu 1 SGD. Menurut saya tidak mahal, karena rasanya yummy dan seger banget.

Jadi potongan es krimnya dibelah dengan pisau, seukuran batu bata dibagi tiga, lalu dijepit dengan dua buah roti kering tipis (semacam biskuit). Ada aneka rasa, tinggal pilih saja, mulai durian, cokelat, strawberry, dan lain sebagainya.
Cara menyajikannya ya cuma dibungkus plastik dan langsung deh kita santap.Di tengah cuaca Singapore yang panas, es krim ini menjadi penambah semangat buat jalan-jalan karena kesegarannya (bahasanya lebay banget kayak iklan tipi hihii).

Sementara itu, penjualnya kebanyakan adalah orang jompo. Awalnya dulu saya pikir penjualnya setidaknya laki-laki meskipun sudah jompo. Tetapi kemudian saya menemukan juga penjual yang perempuan jompo. Lebih dari itu, baguslah mereka masih bisa produktif di usia yang sudah sepuh.


Soal rasa, saya tidak meragukan memang enak. Dengan bentuk batangan, teksturnya tetap lembut dengan rasa yang pas, tidak manis banget juga. Efek crunchy -nya kena pas kita menggigit lempeng biskuit penjepit es krimnya. Di gerobak-gerobak dorong ini, mereka juga menjual aneka minuman kaleng atau botol, baik dingin atau tidak. Jadi kalau ada kesempatan jalan ke Singapore, jangan lupa icip-icip "Ice Cream Uncle". Murah meriah, lezat, dan menyegarkan...criiiiing !!  :))

Cheers,

Ariy